Surabaya - 170609 – 12:46AM
Menerima dalam bahasa inggris adalah accept, yang mempunyai persamaan: receive, agree, say yes, take on, believe, admit, tolerate, etc. Isn’t funny? Accept adalah verb atau kata kerja. Namun, arti kata menerima identik dengan setuju, sepaham, percaya, mengakui, dan kata-kata yang mengindikasikan pasrah pada keadaan. Akan tetapi, verb / kata kerja berarti subjeknya melakukan suatu usaha, do something. Kata benda apapun yang ditambahkan di belakangnya tetap membuatnya berperan sebagai verb. Jadi menerima / accept tetap membutuhkan usaha oleh subjeknya untuk dilakukan, sepasif dan sepasrah apapun kesan yang ditimbulkannya..
Kata ini bisa menimbulkan banyak masalah hidup bagi manusia. Seringkali banyak hal yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan atau kita harapkan. Tak ada yang salah bila manusia selalu mengatur, membuat rencana, mengharapkan sesuatu dalam menjalani hari-harinya. Justru harus mengatur demikian agar waktu tidak terbuang sia-sia. Harus membuat rencana supaya tahu apa yang akan dikerjakan hari ini. Harus mengharapkan sesuatu agar hidup jadi termotivasi karena berusaha mewujudkan harapan tersebut. Namun, bagaimana bila tak demikian keadaannya? Maka menerima bisa jadi masalah..
Tidak semua terjadi demikian rapi dan tepat sesuai keinginan. Kita hidup berhubungan dengan banyak orang. Setiap orang sama dengan kita, punya keinginan dan kepentingan masing-masing. Tak semuanya sama dan kata sebagian orang justru harus demikian. Karena tanpa perbedaan kita tak akan berkembang untuk belajar. Tapi bagi yang belum terbiasa ber-positive thinking, aku pun demikian, gesekan itu bisa memercik bunga api. Gesekan pendapat, keinginan, dan pola pikir bisa menjadi masalah. Dan itu bisa membuat kita kecewa, benar tidak? Menerima penolakan. Menerima kegagalan. Menerima bad feeling. Menerima perpisahan. Anak-anak menerima keinginan atau menurut mau orang tua. Ada kalanya orang tau harus menerima keinginan anak-anak yang mungkin berbeda dari yang mereka inginkan. Seringkali semua itu selalu mengecewakan.
Mengapa menerima keadaan tampak sangat sulit untuk dijalani?
Bolehkan aku berbagi.. Aku pun tidak mudah untuk bisa menerima bila keinginanku tidak terjadi seperti yang kukehendaki. Bila sudah seperti itu, aku perlu waktu untuk menenangkan diri dan meredakan emosi yang bisa jadi sudah naik, atau bahkan hilang mood. Kemudian mencari orang untuk berbagi itu juga tidak buruk. Itu perlu karena aku butuh instropeksi. Untuk itu butuh sudut pandang dari orang lain yang lebih netral, bisa menjadi pendengar yang baik, dan memberi masukan bila aku salah. Yang lebih penting, tak lelah memberiku semangat baru. Karena tak jarang, aku yang jadi emosi berlebihan alias lebay dari yang seharusnya. Emosi itu sangat menguras tenaga dan melelahkan. Jadi keberadaan orang lain bisa menetralkan emosi yang berlebihan itu. Lalu kemudian berusaha berpikir bahwa Tuhan punya rencana yang lebih baik dari rencanaku yang manusia ini. Karena tak jarang manusia suka sok tahu, merasa paling oke, paling benar atas hidupnya sendiri dan kadang merasa demikian juga atas hidup orang lain.
Itu yang terjadi denganku. Maka aku pun belajar memahami dan mencerna bahwa menerima itu tidak sulit tapi tidak mudah. Mudah diucap tak mudah dijalani. Tapi aku mau memaksa diri menjalani dan menerima meski kadang penolakan bisa menghadirkan air mata. Dalam hal ini menerima hal yang tidak sesuai harapan. Bila itu hal indah, tentu mudah menerimanya. Siapa yang tidak mau menerima, bila hidup tiba-tiba memberikanmu hal indah? Hanya orang bodoh mungkin yang menolaknya. Tapi sadarkah bahwa hidup itu adil? Tuhan itu adil. Ada + ada -. Justru karena ada – maka + jadi bernilai. Tak selamanya semua indah karena manusia akan terlena. Oleh karena itu, ada pula hal buruk, supaya belajar berjuang dan dapat lebih menghargai keindahan. Semuanya harus seimbang. Tapi manusia tidak mau yang buruk pasti, bila boleh memilih. Hanya hal indah yang mau diterima. Hey! Bukan itu cara memainkan perananmu sebagai mahkluk yang diciptakan oleh Tuhanmu..
Jadi dalam hidup, mau tidak mau harus bisa menerima. Kau mau atau tidak mau, hidup akan memaksamu untuk menerima. Detikan jarum jam tidak akan berhenti hanya karena kau tidak bisa menerima hal buruk yang hidup bawa padamu. Dunia ini tetap akan terus berotasi apapun yang terjadi oleh manusia yang mendiaminya. Angin akan tetap berhembus. Tunas daun berwarna hijau muda akan terus bercukulan ke arah datangnya sinar mentari, meski kau emosi dan tak mau menerima yang telah terjadi. Di sisi lain, manusia lain tetap tersenyum dan meraih mimpinya di kala kau berdiam diri marah pada keadaan yang tidak berpihak padamu.
Menerima keadaan buruk tidak sulit karena yang dibutuhkan adalah saling memahami semua aspek keadaan itu. Take a deep breathe. Untuk membantunya, dibutuhkan waktu. Seiring berjalannya waktu, emosi mereda, pikiran lebih jernih, maka memahami akan jadi lebih mudah, dan semangat akan kembali diperoleh. Menerima keadaan juga lebih mudah dengan mencari hal yang masih bisa disyukuri. Cara lain yang lagi, melihat orang-orang yang pernah mengalami hal yang sama tetapi telah berhasil melewatinya. Dan selalu ingat satu hal, hidup ini selalu berusaha mengajarkanmu sesuatu. Tak terkecuali pula, mengharapkanmu memetiknya dari keadaan buruk yang kau atau aku alami. Dan yakinlah, bahwa kau akan bisa melewati dan mengatasinya dengan baik. Menerima keadaan apapun itu, membuat dirimu semakin matang dan kuat menghadapi cobaan hidup yang akan datang.
God grant me the serenity to accept the things I cannot change; courage to change the things I can; and wisdom to know the difference.. (The Serenity Prayer – Reinhold Niebuhr)













