Feeds:
Posts
Comments

Living Abroad

Akhir-akhir ini semakin terpikir untuk tinggal di luar negeri. Sebenarnya dari dulu aku selalu berimajinasi bagaimana rasanya tinggal di luar negeri. Namun karena banyak hal aku hanya menganggapnya khayalan asal lalu saja. Sesekali muncul gambaran diriku berkostum winter haha.. Tentu saja bukan di Indonesia kan bila berpakaian seperti itu? Tetapi imajinasi yang satu itu bisa benar-benar cukup jelas tergambarkan. Coat, boots, dan scarf menghangatkan leherku. Negara mana? Emm, sepertinya sesuatu berbau barat hihihi..

Mungkin semua muncul karena keinginanku. Akhir-akhir ini ketika semua orang bertanya hal yang sama, “Mau ngapain sekarang Be?”, pemikiran itu kembali muncul. What about living abroad? Sepertinya seru.. Hidup cuma sekali, jadi aku ingin dan (sepertinya) harus pernah merasakan tinggal di luar negeri. Pasti akan ada banyak sekali hal baru yang aku pelajari. Mencintai Indonesia bukan berarti tidak boleh membuka mata melihat dunia luar bukan? Mencari suasana baru. Lagipula untuk saat ini, tidak alasan yang menahanku untuk tetap bertahan di Surabaya. Tidak seseorang atau sesuatu..

Lalu kalau ingin living abroad, bisa dengan tinggal seterusnya suatu hari nanti di luar sana atau merasakan tinggal dalam waktu yang cukup lama lalu kembali lagi kemari. Kalau liburan tentu berbeda dengan tinggal. Karena liburan akan mengunjungi tempat-tempat ‘wisata’. Tak terlintas dan tak bisa kubayangkan kalau berpasangankan orang asing hahaha.. Jadi untuk living aboard, bagaimana kalau sekolah saja di luar?? Berarti scholarship. Wew..

Jujur saja pikiranku yang satu ini membuatku makin bingung untuk menjawab pertanyaan yang sedang trend dipertanyakan oleh semua orang ketika melihat wajahku muncul di hadapan mereka. Agak hiperbola memang, se-hiperbola aku yang bingung menjawabnya. But, hopefully oneday I could make it happen, living abroad! Lets see ya..

Sby – 081109 – 2:22AM

Pada hari ini Rabu, 21/10/2009, telah dilangsungkan ujian skripsi atas:
   Nama: Widianti Gunawan Wijaya
   NRP: 51405118
   Judul: Pemanfaatan Shell Wide Web sebagai Media Komunikasi Internal PT. Shell Indonesia
Para penguji memutuskan bahwa yang bersangkutan dinyatakan LULUS..

Itulah secuil bukti dari lulusnya seorang mahasiswi biasa yang menyerahkan setiap detik perjuangannya kepada Tuhan dan hanya menjalankan yang Tuhan minta, yaitu melakukan yang terbaik yang ia mampu berikan. Tuhan masih memberikan bonus, yaitu nilai A. Bukan karena kemampuannya karena kemampuan itupun Tuhan yang berikan. Bila ada kesempatan yang dimanfaatkan, itupun berasal dari Tuhan. Tuhan berikan yang terbaik untuk setiap hal yang dibutuhkan anakNya. Ia hanya minta agar mereka datang, mendahulukanNya, berharap, dan mengimaniNya..

Saat kaki melangkah masuk ke ruangan, aku berkata dalam hati “Tuhan, mari kita berperang..”. Grogi hilang seketika dan ruangan terasa hangat. Tuhan memilihkan Bpk Dekan Ido dan Bu Asye sebagai penguji. Bu Yuli dan Bu Inggrit ada di sana sebagai dosen pembimbing. Cukup unik karena materi bab 4 dan 5 sama sekali tidak dipertanyakan. Sidang berlangsung cukup cepat, tidak sampai satu jam. Pertanyaan lebih banyak berupa masukan. Setelah dinyatakan lulus, aku keluar dan sekali lagi berdoa bersama teman-teman yang sudah menungguiku. Kalimat pertama terucap, “Tuhan, terima kasih..” dan air mata mengalir seketika.. Itu kata terima kasih yang penuh arti dan penuh ucapan syukur. Seketika kelegaan terasa dan melihat Tuhan telah memimpinku menang dalam peperangan bernama skripsi ini. Bukan hanya selesai tetapi menang..

Sms support yang terus masuk itu membuat PDA bergetar dan senyum tersungging. Aku senang banyak sekali yang peduli padaku. Semakin banyak yang mendoakan makin baik. Itu pesan salah seorang temanku. Dan betapa luar biasanya kuasa doa itu. Ada banyak sekali orang-orang yang mendoakanku sebelum aku maju sidang bahkan pada saat aku masuk dan berjuang sidang. Mama tidak keluar kamar dan mendoakanku selama sidang (doa ibu memang besar kuasanya ^^). Mrs. Liz, my Pastor’s wife also pray for me. Dan tentu ada banyak doa lainnya, yang baru kuketahui setelah sidang selesai. Dan itulah yang membuat rasa percaya diriku muncul dan kupenuhi janjiku untuk beri yang terbaik yang aku bisa.

Sebenarnya sempat takut akan respon pembimbing-2 ku. Kami sempat ada beda pendapat. Beliau merasa aku terburu-buru memaksakan skripsi selesai di periode II ini. Ada hal yang membuatnya tidak puas dengan penelitianku tapi aku pun tak tahu di mana itu (Bu Inggrit, this is my confession hahaha..). Namun aku berhasil meyakinkan bahwa memang harus selesai di waktu ini hingga ACC kuperoleh, “tapi saya tidak tanggung akibatnya pas sidang nanti..”. Aku down dan sempat kusebutkan di Notes sebelumnya bahwa aku jadi tidak yakin dengan penelitianku sendiri (This is  the reason why). Takut bila pembimbingku sendiri tidak memihakku. Hal positifnya adalah aku tidak menjadi over confident (Bu, apakah ini bagian dari taktik? haha..) dan malam sebelum sidang, dalam doaku aku tetap mensyukuri kedua pembimbingku. Dengan kelebihan dan kekurangan mereka, aku yakin itulah yang terbaik yang Tuhan sediakan untuk membimbingku. Dan aku memohon agar Tuhan melunakkan hati Bu Inggrit (It’s true..). Dan kau tahu? Bu Inggrit memberi nilai tertinggi di antara 4 dosen yang ada di ruangan itu.. (Thanks Bu, it means a lot..) Isn’t it awesome? My biggest fear become the highest score..

Papa begitu senang saat kuberitahu hasil sidangku (Mom and Dad, this is for you..). Kalau hasilnya secara nilai dosen memberi nilai A, aku sendiri menilai A untuk prosesnya. Papa adalah dosen pembimbingku yang pertama dan pembimbing pribadi tentunya (dulu ia memang Dosen Sipil). Sejak awal pemilihan topik, aku brainstorming bersamanya di Jakarta. Kala itu aku punya beberapa ide, dan jujur topik yang kumajukan ini adalah yang paling sederhana. Itu karena papa yang sangat idealis berujar, “Be, kamu ini skripsi untuk S1, dosenmu pun tau kapasitas anak S1. Kalau mau meniliti yang rumit, nanti saja setelah kamu kerja. Lebih baik topik sederhana tapi kamu maksimal daripada topik mulia tetapi kamu biasa aja..”. Aku jadi tersadar! Papa sangat idealis tapi bisa berpesan seperti itu?

Lalu waktu Lebaran aku tetap harus ikut mengunjungi kakek nenek ke Semarang. Pagi berlibur, malam buka laptop. Papa bantu rapikan format penulisan. Adik memeriksa salah ketik dari transkrip interview. Saat dekat deadline, papa bantu mengeprint. Ia yang tetap menyuruhku tidak takut maju meski ada beda pendapat dengan pembimbing. Mama selalu membuatkan makanan minuman dengan campuran chinese herbal medicine agar aku tetap sehat meski begadang setiap malam (Beneran loh haha..). Mereka berdua mengantarkanku ke fotocopy di daerah Petra malam itu. Ketika koko datang dari Jakarta, ia bantu membawakan 7 bendel skripsi dari penjilidan ke TU jurusan. Hahaha.. Hal itu terakhir kali kualami waktu SD mungkin. Semua itu bisa kulakukan sendiri, tetapi kubiarkan mereka ‘ikut sibuk’. Lucu bukan? Inilah yang membuatku memberi nilai A untuk proses skripsiku. Karena aku membiarkan keluargaku membantu dan aku sangat menikmati setiap detail di dalamnya.

Dina Setianto, Sri Endah, Fathia Syarif, adalah para manager Communications Shell yang memberi semangat sebelum aku maju sidang. Begitu pula dengan 10 informan dari Shell. Wah wah wah.. Indah bukan? Itulah yang aku maksudkan bila kau cintai skripsimu, ambience positif itu bisa menarik semua yang positif mendekat padamu. Sehingga ada banyak hal baik yang memayungiku. Aku yakin itu bukan ‘hogi’ atau ‘luck’. Guys, I’m not a lucky lady. I’m just an ordinary lady. But I have faith and Awesome God! As I said, God is my victory! Sejak awal tahun, aku melihat diriku akan menyelesaikan skripsi tahun ini dengan hasil yang bagus. That’s my vision. Say what you mean and mean what you say!!

Tulisan ini kutujukan bagi mereka yang berpikiran POSITIF dan mau bersikap POSITIF untuk menyelesaikan perjuangan skripsimu atau apapun yang sedang dihadapi. Cari tahu apa yang kau mau. Bila memang ingin skripsimu selesai di periode selanjutnya maka kau sudah tau apa yang akan kau lakukan. Bagaimana kau harus bimbingan dan membagi waktu. Bagaimana kompromi dengan waktu main-mainmu. Dan sudah bisa membayangkan wisuda 20 Februari 2010 (liburan bareng ya guys..). Tapi bila kau sudah berjaga-jaga ambil pra perwalian dan hal lain, boleh memang untuk antisipasi tetapi juga terlihat mungkin kau pun tak yakin untuk MAU selesaikan skripsimu di semester ini. Oleh karena itu lebih banyak lakukan hal seperti itu alih-alih menekuni skripsi agar bisa selesai. Langkah iman. Sekali lagi, semua itu pilihan! Salahkah pilihan itu? Tidak. Hanya saja, be careful with what you wish for.. Tuhan selalu bisa mendengarnya dan berkata “So be it..”.

Bukannya aku menghakimi. Hanya saja dari apa yang kuamati dari teman yang sekarang sedang berjuang, aku makin bisa melihat skripsi adalah ujian mental. Menyaring mereka yang beriman dan bermental positif untuk bisa selesaikan pertarungan dengan baik. Ada perbedaan yang muncul dari perkataan dan perbuatan mereka terhadap pengerjaan skripsi masing-masing. Ada perbedaan respon yang muncul saat menanggapi masalah yang tiba-tiba menghambat. Yang satu memacu diri dan belajar dari yang berhasil, yang lain justru mencari excuse dan justifikasi mengapa dirinya tidak bisa menjadi berhasil. Yang satu mencari dosen dan menyelesaikan masalahnya, yang lain justru menyalahkan dosen. Hahaha.. Kan semua itu pilihan. Pilihan punya konsekuensinya dan juga ‘hadiah’ masing-masing hehehe.. Kalian di sebelah mana? =P

Aku sudah memilih mau hasil yang luar biasa sejak awal. Oleh karena itu aku mengimaninya dan berjuang lebih berat. Bahkan kuterima ancaman taruhan teman baikku agar aku bisa berlari lebih kencang. Kucari semua cara untuk memacu dan menjaga agar tetap POSITIF. Nilai itu hanya bonus. Seperti yang kubilang di Notes lalu, ujian sebenarnya adalah proses pembuatan skripsi itu dan Tuhan yang menilainya. Kalau ternyata Tuhan memberiku A, itu sebuah hadiah dariNya and let His name be honored as long as I live. Untuk Corporate Communication Fikom, kusumbangkan 1 lagi A ini untukmu. Semoga keinginanku untuk bisa membanggakan papa mama dan semua orang yang sayang padaku boleh terwujudkan sekali lagi.

Thanks to Cliff, Lili, Tans, Nita, Couz, Lele, Ella, Ryan yang menemani saat aku berjuang sidang. Tuhan yang sama yang akan buat kalian berhasil! Be positif guys! I’m here to help you ktika butuh semangat. Teman CC yang lain, pecahkan telur A untuk CC lebih banyak lagi. Harus ada yang pecahkan dan itu harus kalian! Semua yang masih berjuang, sekarang saatnya lari sekencang-kencangnya kalau tidak mau menyesal.. Tahukah kau Word bisa membuatkan Daftar Isi otomatis dari skripsimu?? Semua dosen Ilkom, kalian lah yang terbaik di posisi masing-masing..

God leAd me through bAtlles won becAuse He is my victory!
nb: Kalau kamu bertanya “Habis gini mo ngapain Be?”. Jawabannya “Thanks for your care and tunggu kabar baik selanjutnya dariku.. ^^”

Also published on Widianti’s Note on FB

Sby – 231009 – 2:16PM

I Love My Skripsi

Sidang mandiri adalah sebuah pra-sidang dari sidang skripsi yang sebenarnya. Harus dihadapi oleh setiap anak Ilmu Komunikasi UK Petra yang hendak maju berperang di sidang skripsi seminggu kemudian. Mempresentasikan hasil penelitian, di hadapan minimal 2 dosen dan lebih dari 10 mahasiswa, lalu menjawab semua pertanyaan yang tak terduga. Simulasi yang mempersiapkan mental sebelum turun ke medan perang. Saat menguji kemampuan Public Speaking yang pernah di-mata kuliah-kan. Mengukur rasa percaya diri dan mencoba mempertanggungjawabkan hasil jerih payah penelitian. Sebuah masa menguji mentalitas dan penguasaan diri terhadap materi skripsi. Sebuah titik dimulainya adrenalin bergejolak. Sebuah fase yang kemarin telah kunikmati setiap detiknya..

Sehari sebelum sidang mandiri, aku bagai kehilangan rasa percaya diri terhadap apa yang telah kuteliti sendiri selama beberapa bulan terakhir ini. Akan tetapi mungkin sisi positifnya adalah dengan demikian, aku jadi mempersiapkan diri dengan sebaik yang kubisa (I slept at 5AM!). Kemudian benar-benar berserah pada Tuhan yang sudah memimpinku sejak masa internship, brain storming topik, pemilihan topik, kolokium, pengumpulan data di Jakarta, bimbingan, begadang, pengumpulan skripsi, dan kuyakin Dia tetap menyertaiku sampai semua proses ini selesai dan aku akan masuk ke babak lain dalam hidupku.

Banyak orang menyebut ini cepat dan bahkan beberapa pihak menyebut ini terlalu cepat, untuk sebuah penelitian kualitatif. Sebenarnya, aku lebih suka bila lama waktu pembuatannya di-kualitatif-kan daripada di-kuantitatif-kan. Secara kuantitatif, pembuatan skripsi ini berjalan sejak lulusnya aku di sidang kolokium tahap 1 (semester lalu) atau sekitar April-Mei 2009 form bimbingan skripsiku baru terisi pertama kali. Dan skripsi kukumpulkan pada awal Oktober 2009. Namun secara kualitatif, selama 1 bulan kuhabiskan di Jakarta untuk mencari data, saja! tanpa bimbingan. Sepulang dari Jakarta, aku selalu begadang, tidur lebih dari jam 2 pagi setiap malamnya, tak ada bersantai sampai skripsi selesai.

Aku hanya ingin menyemangati teman-temanku yang sedang membuat skripsi dan akan maju di periode selanjutnya. Cepat atau lambat, sebentar atau lama, semua itu pilihanmu. Bila yang kau pikirkan positif, itulah yang akan terwujud. Bila kau ‘mencintai’ skripsimu, maka di sanalah hatimu berada. Bila skripsi jadi prioritasmu, maka kau rela curahkan waktu lebih untuk mengerjakannya. Bila kau yakin dan punya passion akan penelitianmu, pembimbingmu pasti akan memahami dengan caranya masing-masing dan akan membantumu. Bila memang semua hal baik akan skripsimu yang kau kuimani, kau akan menikmati masa-masa ini dengan senyum. Dan bila kau jalani semua ini bersama Tuhan, Ia pasti akan buka jalan..

Bukan berarti kulewati semua ini dengan mudah, tanpa masalah, tanpa keluhan, tanpa stress, dan tanpa melewati lembah yang gelap. Berkali-kali aku tak bisa kalahkan kemalasanku, godaan Facebook, beda pendapat dengan pembimbing, kesulitan di Jakarta ketika mencari data, dan berbagai hal teknis lain. Aku seringkali teriak di bawah bantal bahkan berdoa dengan tetesan air mata. Bila semua itu datang, aku seringkali kembali bertanya dan merasa bodoh, “Apa esensi di balik pembuatan skripsi yang serumit dan menguras semangatku ini?”. Karena ini suatu hal yang sangat melelahkan mental dan pikiran. Tapi aku yakin, skripsi pasti ada bukan hanya karena syarat untuk lulus dan menjadi sarjana. Skripsi ada untuk sesuatu yang jauh lebih besar dari semuanya itu, tunggulah waktu yang akan memberitahukannya nanti..

Aku ingin berterima kasih untuk semua nara sumber dari Shell yang sudah rela kuganggu waktu kerjanya dan menjawab puluhan pertanyaan dariku (Totally it has 269 pages, and 91 pages are the transcripts of our interviews!). Special thanks to Dina Setianto for your kindness (Sorry for sending you so many emails and asking too many things ^^). Communications CX Shell Indonesia (You are one of the reasons I took this thesis topic). Dosen penguji di sidang mandiriku kemarin (Miss Des dan Miss Tisya, thanks for the inputs). Dosen pembimbing, Bu Yuli yang sangat awesome dan Bu Inggrit (so sad, both of you don’t have FB account). Dosen lain yang memberi masukan dan support (Pak Nanang, Miss Fe, Miss Grace, Pak Joko). Mrs W a.k.a. Bu Wike yang memberikan ilmu Public Speaking (I really gave out all my skill yesterday, I truly realized how important that class in this thesis thing). Teman-teman terbaikku di Fikom yang kemarin datang ke sidang mandiriku (So glad could did it in front of you all guys).

Kemarin, ada beberapa kekurangan yang harus kuperbaiki. Seketika aku merubah plan dari shortcut version menjadi long dan the real one version. Alih-alih ingin membuat audience paham yang kuteliti, malah membuat mereka bosan. Lega, pertanyaan kemarin masih di dalam jangkauanku, kecuali pertanyaan terakhir =P. Respon dari dosen cukup positif dan menjadi tabungan untuk membuatku lebih yakin.

Sidang mandiriku akan menjadi sebuah penyemangatku untuk lebih percaya diri saat maju sidang nanti. Karena beberapa hal, aku belum benar-benar dapatkan percaya diriku. Oleh karena itu, melalui notes ini, selain berterima kasih untuk bantuan, support sentences, dan doa; kuharap semua pihak sekali lagi, berkenan mendukungku dalam doa untuk sidang yang sebenarnya minggu depan. Doa itulah yang akan menguatkanku. Apapun hasilnya, aku tak mau pusingkan itu sekarang tapi aku janji aku akan beri yang terbaik. Semua proses berat yang telah kujalani ini mungkin adalah ujian yang sebenarnya, Tuhan yang akan menilainya bukan? Dan aku bersyukur diijinkan lewati semua ini bersama dengan orang-orang seperti kalian yang hadir di sepanjang perjalanan pembuatan skripsiku..

Teman yang sama-sama berperang periode ini, enjoy the adrenalin.. =P Teman yang masih berjuang, you could and must do better than me!! Wish you learned something from mine. I’ll always here when you need support guys.. God doesn’t require us to be the best, but He wants us to do our best, and He will take care of the rest..

The battle is not ours, it belongs to the Lord, for God is our victory!

 

 

Sby – 171009 – 1.00AM

My 22nd..

5 September 2009, genaplah sudah 365 hari dari usia 21ku. So, this is my day, welcome my 22nd!

Pergantian hari kulewatkan di jalan, melajukan mobil menuju rumah dengan kondisi muka, rambut, baju penuh noda black forest. Sambil PDA berdering menerima pesan singkat yang masuk, sambil tertawa kusetir mobilku, sambil kuinjak lebih dalam pedal gas agar sampai di rumah lebih cepat dan kuingin mandi!

Akhirnya tetap ada surprise di ulang tahun ke-22 ini!! Tetap ada ‘cake’ dan lilin untuk kutiup setelah make a wish. Sepulang dari buka puasa bersama, awalnya tak ada rencana lain. Teman-teman beranjak ke PISA Cafe dan aku pun ikut meski berarti lebih jauh dari rumah. Tapi masih jam 8 malam dan terlalu awal untuk pulang. Mengobrol beragam hal dan juga topik yang sangat menarik untuk dijadikan sebuah talk show. Murni tanpa skenario.

Ada Lia, Erlin, Sony, dan Ronny di mejaku. Sementara Ming dan Anam ada di meja sebelah dengan kegemaran mereka yang cukup mengerikan bagiku yang melihatnya haha.. Irwan, Iin, Edo, Erwin, dan Danny ada di meja lain. Pak Hin datang menyusul. Semua asyik mengobrol dan menikmati Jumat malam. Sambil menikmati chocolate fondue, topik panas mengalir sepanas cokelat yang dilelehkan di depan kami. Ketika jarum jam mengarah ke setengah 12 lebih 10 menit, teman-teman mulai beranjak keluar seperti hendak pulang.

Beberapa ’sok sibuk’ di pelataran parkir malam itu. Tak lama, dari arah belakang terdengar Happy Birthday dinyanyikan. Muncullah Ming membawa black forest berlilin warna warni yang terpasang tidak rapi (hahaha..) dan black forest yang tampak tak karuan. Lembaran cokelat terjatuh di samping. Kemudian mereka berkumpul dan Iin menyanyikan Happy Birthday in Chinese version. Click here to watch the video. Ming memintaku make a wish. Kuteriakkan keinginanku dalam hati dan lilin kutiup. Huff..!!

 

Surprise 22nd

Lalu cake aneh itu berpindah ke Iin dan aku diminta mengambil cokelat dengan mulutku. Tak ada yang bisa kupercaya rasanya dari perintah itu haha.. Kubayangkan saat itu cake itu langsung ditimpukkan di wajahku hahaha.. Belum pernah bersurprise dengan olesan krim.  Iin memang tidak menimpukkan kue itu ke wajahku tapi Anam yang mengeksekusinya haha.. Setelah krim tertambat di sebagian wajah, foto bersama, dan here it comes!  Aku tak bisa lari lagi, black forest aneh itu mampir ke wajah sebelah kanan, ke arah telinga, rambut, dan bagian punggung! Hahaha.. Tak sempat kubalas karena Anam langsung kabur dan pulang.

Dibantu beberapa teman, dengan berlembar-lembar tissue, kubersihkan krim dan cokelat dari wajah, rambut, telinga, leher, dan tanganku. Kulepas blazer dan segera pulang. Kurendam blazer sebelum krim mengering. Mandi dan keramas sampai 3x tuk hilangkan lemak krim itu. Kemudian mengucap syukur dan kurasa tengah malam itu saat yang paling tepat untuk berdoa. Bersyukur dan menceritakan keinginan yang kuharapkan di usia 22 ku dapat terwujud. Itulah esensi terpenting dalam ulang tahunku. Setelah malam sebelumnya bersyukur untuk umur 21, giliran kuserahkan rencana di umur 22 kepada Tuhan.

Selebihnya tak ada yang luar biasa. Bahkan hanya menghabiskan waktu menikmati rumah karena tahun lalu aku di Jakarta. Kubuka FB yang berisi ratusan comment. Aku bertanya pada beberapa teman yang cukup dekat tentang persepsi mereka tentangku. Aku butuh mengevaluasi diri supaya dapat menjadi lebih baik lagi. Aku mengirimkan email kepada sahabatku. Menyanyi dan menghafalkan lagu di kamar. Menonton DVD. Dan terakhir menuliskan post ini sebelum berdoa dan tidur.

Aku merasakah satu tahun ini aku sudah berhasil menjadi orang yang lebih positive thinking. Benar-benar berhati-hati dalam menaruh hal di pikiranku. Say what you mean, mean what you say. Beberapa jawaban mengatakan demikian. Semoga aku akan terbiasa dengan kebiasaan baru yang baik ini.  Hal yang perlu kuperbaiki adalah emosiku yang masih sangat labil, mudah naik turun dan menyerah. Lalu kecenderungan untuk mencari excuse yang tanpa sadar membatasi kemampuanku. Setahun ke depan, 2 hal itu harus bisa kuperbaiki.

Dalam doaku semalam, kumaknai 22 tahunku ini sebagai tahun untuk bekerja keras. Ada banyak masa ketidakpastian untuk masa depanku tetapi pada saatnya nanti orang akan melihat bahwa God is BeBe’s victory. Keberhasilan demi keberhasilan dipersiapkan di sana olehNya buatku. Ketika keberhasilan itu hadir, semua bukan karena kuatku tapi hanya anugerah Tuhan dan diberikanNya buat mereka yang mengandalkanNya.

Usia ke-22 diawali dengan surprise dari teman-teman ‘penting’ di SYN. Kuyakini itu bahwa setahun ke depan, aku punya teman-teman hebat yang akan maju bersama denganku. Siap membantu dan mendukung di sekelilingku seperti ketika mereka memberikan surprise kecil itu untukku.

Aku pun akan terus berserah untuk masa hidup yang akan datang. Ke mana Tuhan akan membawaku. Apa lagi yang akan Dia bawa kepadaku. Siapa yang Tuhan sediakan untuk jadi warriors-ku. Langkah setelah kuliah ini selesai. Semua kuserahkan dengan iman bahwa God is my victory.

Selamat datang 22.. Angka cantik 22, seakan menunjukkan cantiknya perjalanan di tahun ke-22ku.. Because God is my victory!

The battle is not ours, the battle belongs to the Lord..

 

Surabaya – 050987

364 dari 21

Dalam hitungan jam, aku akan segera meninggalkan satu masa terindah dalam perjalanan hidupku, tahun ke-21 aku menghirup udara dan hidup di dunia ini.

Tak ingin membuang hari terakhir ini dengan sia-sia maka aku ingin melambat sejenak beberapa menit ini, tuk menoleh ke belakang dan mensyukuri semuanya. Itu tak sia-sia karena buatku bagaimana caraku bersyukur menentukan seberapa besar Tuhan akan berkarya di hari depanku. Kubuka kembali blogku, kucari tulisanku 364 hari yang lalu yang kuberi judul My 21st, senyum tersimpul di wajahku. Tak kusadari, air mata menggenang di pelupuk mataku..

5 September 2008, kulewati HUT di Jakarta tanpa keluarga dan tanpa teman terdekat. Namun, hari itu sangat unik dan tak tergantikan. 364 hari lalu kutuliskan kala itu, “Mungkin makna dari ulang tahun kali ini adalah belajar mandiri. Jauh dari orang yang kusayang bukan berarti rapuh tapi menjadi berkat buat orang lain. Tak hanya diberi tetapi memberi..”. Dan benar, semua hal itulah yang terjadi selama umurku ke-21. Kurasakan waktu berjalan lebih lambat dari seharusnya. Masa setahun serasa lebih dari setahun. Bukan seperti biasanya ketika waktu terasa cepat berjalan. Kucerna dan kusadari ternyata karena banyak sekali kejadian besar dan penting dalam hidupku yang Tuhan beri dalam satu tahun ini. Kuselalu menikmati dan menyimpan makna dari setiap kejadian yang terjadi dalam hidup karena semua tak akan bisa kuulang lagi.

Tahun ke-21ku adalah masa Tuhan menarikku kembali yang sudah terlalu jauh dariNya. Ia pulihkan dan menumbuhkanku perlahan. Mengajariku memiliki iman dan harapan. Mengajariku untuk selalu berserah ke mana Tuhan akan membawaku. Mengajariku untuk open minded dan menjadi a true worshipper. Membuatku mengerti makna dari ‘letting go’. Membuatku semakin yakin bahwa kemenangan demi kemenangan di depan sudah disediakannya buatku. Beberapa orang menyebutku lucky, tapi buatku semua keberhasilan dan keindahan ini kudapat karena aku punya Tuhan yang memberikan semuanya buat anak-anakNya yang mengandalkanNya.

Tahun ke-21ku adalah masa ‘keluar dari zona nyaman’. Hidup mandiri dan tak boleh mudah mengeluh. Mulai dari masa 6 bulan di Jakarta hidup menjelajah dan belajar menaklukkan Jakarta seorang diri. Merelakan masa kuliah akan berakhir lebih lambat dari jadwal demi masa magang 6 bulan di kerang kuning. Mengambil kolokium dan skripsi di satu semester yang sama, dengan iman kubisa selesaikan kolokium dalam satu tahap. Tuhan menjadikannya demikian dan kubisa langsung teruskan skripsi tanpa membuang waktu lebih banyak. Kembali ke Jakarta mencari data. Semuanya berjalan di dalam kurun waktu sedikit lebih panjang dari satu tahun. Magang, kolokium, dan skripsi.

Tahun ke-21ku adalah masa Tuhan mengembalikan aku ke dalam kehangatan sebuah keluarga. Kejadian demi kejadian dipakaiNya agar kami menjadi lebih dekat, berbicara heart to heart dengan papa dan mama yang selama ini tampak mustahil dilakukan. Semakin dekat dengan keluarga besar papa di Surabaya karena kuberanikan diri memulai mencoba beri kehangatan dan mereka pun merasakan hangat tetap lebih baik. Cukup sering berkunjung ke Semarang dalam tahun ini, tuk tunjukkan perhatian nyata kepada kakek dan nenek dari mama yang sedang sakit. Sebelum waktu mereka berhenti, sebisa mungkin aku berusaha pergi ke sana tuk tunjukkan sayang dan hormatku pada mereka. Tak hanya itu, aku lebih banyak berusaha memahami papa, mama, koko, dan adikku. Kuberusaha menunjukkan sayangku dengan tindakan nyata.

Tahun ke-21ku adalah masa mempersiapkan dan menata masa depan. Tak lagi jalani semuanya dengan asal have fun tetapi mulai bekerja keras. Kuputuskan jalani SYN yang memberanikanku untuk kembali berani bermimpi. Tak ada yang salah dengan mimpi karena bagiku itu sebuah visi yang akan membawaku maju dan melangkah. Mimpi itu pula yang mengawali karya Tuhan lebih luar biasa lagi di dalam hidupku nanti. Aku pun mulai melihat keinginan untuk bersekolah lagi di luar dengan beasiswa. Tahun ini satu per satu per satu petunjuk kulihat pada saat tak terduga. Tapi kusiap bila saatnya Tuhan ijinkanku untuk sekolah lagi suatu hari nanti. Aku ingin Tuhan pakaiku tuk membuat mimpi papa bisa terwujud, begitu pula dengan mimpiku.

Tahun ke-21ku tak mudah dan melelahkan untuk batinku tetapi Tuhan berikan orang-orang terbaik untuk ada di sekelilingku. Sering kali air mata ini mengalir jatuh, bukan rapuh namun lelah. Mereka membuatku kuat bertahan dan memiliki semangat untuk kembali bangkit. Sahabat-sahabat terbaikku. Kupunya banyak teman, dan beberapa teman baik yang muncul setelah diuji waktu dan tempat. Meski untuk bisa dimurnikan menjadi sahabat terbaik masih perlu banyak ujian tetapi sampai hari ini kusadari siapa saja mereka. Some people come, some people go. Ada yang baru kukenal di tahun ini, tetapi ada pula yang makin menjauh. Yang mampu bertahan dan selalu menyediakan diri ada buatku, bagiku merekalah sahabat yang amat berarti untukku..

Dalam hitungan jam tahun ke-21ku akan berlalu. Tak kan pernah bisa diputar kembali tetapi bisa kukenang nanti ketika kubaca kembali tulisan ini. Kubersyukur untuk setiap hal baik dan buruk, tawa dan air mata, keberhasilan dan yang masih tertunda, orang-orang yang datang dan pergi, keluarga dan teman. Inilah 364 hariku dari tahun ke-21ku. I love my 21st and won’t change it with anything else!

A Warrior of the Light celebrates yesterday’s victory in order to gain more strength for tomorrow’s battle..

 

Surabaya – 040909 – 3:13PM

ISBSV kita!

Surabaya – 120809 – 5:13PM

Decicated to all ISBSV..

Indonesia Sampoerna Best student Visit. Acara yang mempertemukanku dengan puluhan anak cerdas dari kota lain, setahun lalu. Anak cerdas yang diberi gelar ‘terbaik’ oleh Sampoerna. Yang bukan lagi hanya sekadar teman untuk menambah kolega di situs pertemanan. Namun, sudah menjadi teman terbaik tempat ku bergantung di satu masa. Kini, tiba-tiba bukan hanya teman seangkatan yang menjadi sebuah jaringan sosial. Tahun ini, empat angkatan lain yang juga ‘terbaik’ ditambahkan menjadi teman atau bahkan saudara dalam sebuah keluarga besar Indonesia Sampoerna Best Student Visit..

Seharusnya saat ini aku harus mengerjakan skripsiku, tapi seketika muncul keinginan menulis sesuatu tentang ISBSV. Minggu lalu, Sampoerna Best Student Visit 2009 diadakan kembali oleh Sampoerna. Perbedaannya kali ini alumni dari SBSV angkatan sebelumnya diundang untuk bergabung bersama. Tanpa tahu tujuan yang sebenarnya, aku berusaha meluangkan waktu. Paling tidak aku bisa bertemu dengan beberapa teman SBSV 2008, lagipula aku sudah kembali ke Surabaya jadi aku harus bisa menyediakan sedikit waktu. Jaringan/network/koneksi itu harus dijaga dan memeliharanya memang tidak pernah mudah.

I’m quite excited ketika mengetahui 2 teman dari Jakarta, dan 1 teman dari Bali rela untuk datang. Meski akhirnya tahu bahwa Sampoerna membantu keperluan akomodasi, tetapi aku salut akan motivasi mereka hingga benar-benar tinggalkan sejenak kesibukan untuk hadir ke Surabaya. Ternyata bukan hanya dari angkatanku, juga ada beberapa alumni dari angkatan lebih awal datang dari Jakarta dan Palembang. Kami pun berkenalan dan jadilah semua berteman.

Sebenarnya untuk teman seangkatan, aku bisa menyebut bahwa kami masih menjaga baik relasi dan ikatan di antara kami. Jujur, di antara beberapa komunitas yang aku punya, ISBSV ku termasuk yang masih hidup dan eksis. Apalagi ketika hidup 6 bulan, magang di Jakarta. Baru pertama kali ke Jakarta, seorang diri berusaha hidup mandiri menaklukkan hati ibukota yang lebih kejam dari ibu tiri. Entah apa jadinya bila tidak ada teman ISBSV Jakarta. 4 dari 5 mahasiswi UK Petra yang menjadi peserta SBSV 2008, memang memutuskan magang di Jakarta. Alhasil kami sering bertemu dengan rekan Jakarta. Mereka membantu mencarikan tempat tinggal di dekat lokasi kantor perusahaan kami. Padahal semua berbeda lokasi. Yang aku masih ingat betul, kami ke Dufan bersama! Ah.. Aku tak akan melupakan moment itu. Aku sangat ingin ke Dufan, maklum bisa dibilang kali pertama ke Jakarta hahaha.. Dan cukup banyak SBSV 2008 yang bergabung kala itu. Bahkan dari Bandung ada yang turun untuk have fun bersama.

Meski aku tak berpuasa, aku ikut ke acara buka puasa bersama di Plaza Semanggi bersama Mbak Fika. Weekend ke Fatahillah. Makan bersama dengan Mas Bima di Pasific Place. Berkumpul di resepsi Mas Bima di Dharmawangsa Hotel. Musicademia Sampoerna di Balai Kartini. Kami jalan ke Grand Indonesia ketika rekan dari Medan akan bermigrasi ke Jakarta, kami rapat mencari cara membantunya. Nonton di PIM. Dinner bersama di Senayan City. Dan sekali lagi, (Celebrating F*cklentine) Dufan menutup masa 6 bulanku tinggal di Jakarta, kali ini dengan personel SBSV 2008 berbeda dengan Dufan pertama. Berlanjut ke Grand Indonesia menyapa rekan dari Bali yang mampir di Jakarta. Semua dokumentasi foto masih tersimpan lengkap di folderku. Terakhir kita berjumpa di resepsi Dwi, yang mendahului kami semua. Bagaimana dengan SBSV 2008 di kota lain?

ISBSV.

Tidak semua peserta SBSV 2008 aktif, kuakui itu. Jujur saja, beberapa nama tak kuingat wajahnya, khususnya yang kurang proaktif atau kurang ‘mengeksiskan diri’. Sebuah relasi tidak bisa hanya diusahakan oleh satu pihak. Relasi itu antara dua pihak. Ide dan inisiatif yang dimunculkan untuk memelihara relasi itu tidak akan bermanfaat bila pihak yang lain tidak mengulurkan tangannya. Hanya mereka yang mau bersama menjaga relasi itu yang akan tetap bertahan dan merasakan manfaat dari relasi yang telah dipertemukan dalam ISBSV. Bukan berarti saling memanfaatkan dan berhenti di sana, tetapi bukan sebuah kebetulan terpilih dan bisa mengikuti SBSV. Oleh karena itu, aku sadari itu, dan ini harus bisa menjadikan sesuatu someday, buatku melangkah ke langkah yang lebih baik.

Jangan katakan relasi itu mantap karena mereka berada di Jakarta. Jakarta justru kota yang lebih besar dan kondisinya seharusnya tidak mudah untuk terus bertemu. Tetapi aku melihat orang-orang ini bisa tetap bertemu, karena ada kebutuhan dan komitmen yang sama. Bila memang tidak ada event, adakanlah event itu. Bukan sekedar berkumpul berfoya-foya hamburkan uang, tetapi esensi di baliknya yang harus disadari. Lebih baik tidak mencari pembenaran diri tetapi mulai bergerak memelihara network ini. Memulai itu mudah, tetapi memelihara itu sulit.

Tidak semua orang mendapatkan privilege ini. Jadi pilihanmu mau merasakan benefit atau membiarkan itu berlalu begitu saja. Mungkin hal seperti ini bukan hanya terjadi di angkatanku saja. Dan merupakan hal yang wajar dalam rimba kehidupan, di mana yang kuat yang akan bertahan. Kini ketika sekat antar angkatan itu dihancurkan, semua akan melebur dan membaur jadi satu. Kesempatan untuk menjadi aktif dibuka kembali, memperbaiki diri. Tetapi berarti semua juga harus mulai berusaha membuka diri untuk mengenal rekan angkatan lain sehingga benar-benar menjadi satu keluarga besar ISBSV.

Ah.. Senang sekali bisa bertemu kembali dengan rekan seangkatanku. Masih banyak dari kalian yang aku ingat meski tak pernah bertemu. Kegilaan 5 hari itu tampaknya cukup berdampak besar buatku haha.. Ijinkan aku kali ini, sekali lagi berterima kasih buat saudara-saudaraku yang sudah mewarnai dan bersedia kurepotkan selama aku di Jakarta. Rya, Endra, Asto, Khiko, Togel, Andit, Vina, Rudy, I can’t forget your support and our togetherness. Nita, Tansil, Vera, Elkana, I can’t imagine Jakarta without you all girls. Roro, Natalie, Arie, Rika, Dwi, MonJes yang masih sempat berjumpa di Jakarta. Kadek, Mimi, Arfa, Sukma, Diana, I’m so appreciate dengan usaha kalian untuk selalu mendekatkan diri menjaga relasi di antara SBSV 2008 selama ini. Mbak Fika, Mas Arif, Mas Bima, terima kasih banyak.

Sekarang aku akan punya beberapa teman baru dari angkatan yang lain, hi all! Beberapa rekan juga terbang ke luar negeri menempuh pendidikan, good luck guys! Kehidupanku pun akan segera beranjak ke jenjang yang lebih serius lagi, menyusul kalian yang sudah terjun lebih dulu. Tapi aku yakin, ke depan, aku masih bisa terbantu oleh ISBSV ini, entah dalam hal apapun nanti. Ini ISBSV kita! Sebelum berpikir terlalu jauh, jagalah apa yang ada sekarang. Kalau telur itu sudah pecah, sampai kapanpun tak akan ada induk ayam yang lahir darinya..

 

A Warrior knows that his best teachers are the people with whom he shares the battlefield..

Jakarta – 190709 – 11:52PM

Bom meledak lagi di Mega Kuningan! Bukan yang pertama terjadi di Indonesia, tetapi perasaan seperti ini baru pertama kali kurasakan. Ada yang berbeda ketika mengucapkan, “Hidup mati di tangan Tuhan, tenang saja. Kalau emang saatnya tiba ya sudah..”. Perbedaan itu ada pada: dulu aku menyebutkannya saat berada di Surabaya, dan kali ini aku harus menyebutkannya saat aku memang berada di Jakarta. Aku mengalaminya lebih dekat..

It Just So Close!

Pagi itu, siaran televisi tiba-tiba menayangkan berita adanya ledakan di Ritz Carlton dan JW Marriott. Gambar yang ditayangkan adalah seorang korban bersimbah darah, tengah ditandu ke sebuah mobil mewah. Lokasi penuh dengan asap. Orang berlarian ke lapangan. Beberapa panik shock, terduduk menangis di tepi jalan. Banyak yang menempelkan telepon di telinga. Ada police line kuning terpasang. Dedaunan gugur berantakan di jalan.

Seperti biasanya bila ada kejadian besar menggemparkan, aku terpaku menyaksikannya. Sampai cukup terlambat berangkat mencari data skripsi. Hm, malamnya aku sempat mencari berita tentang kedatangan MU ke Jakarta. Ada teman baikku penggemar MU yang rela akan datang bahkan sudah membeli tiket VIP dan tiket pesawat dari Surabaya. Karena penasaran, maka kucari tahu beritanya. Dan baru kutahu kalau pemain MU akan masuk ke Ritz Sabtu malam. Kupikir kala itu, wajar, Ritz punya kredibilitas bagus dan penjagaan ketat.

Jumat lalu aku baru merasakan ‘seandainya ditempatkan dalam keadaan emergency’ dan kepanikan itu tetap muncul meski ternyata hanya simulasi. Jumat ini, kepanikan benar-benar dialami oleh mereka yang ada di kedua hotel berbintang itu. Teman, sedikit banyak, simulasi itu penting!

Sabtu sebelumnya, aku bersama temanku pergi ke Ambassador. Ia belum lama datang dari Surabaya dan belum tahu banyak tentang Jakarta. Kami makan siang di foodcourt. Ia mengambil duduk di samping jendela kaca. Aku pun menunjukkan kawasan Mega Kuningan yang tampak jelas di depan kami, apalagi dari ketinggian seperti ini. “Itu JW Marriott yang 2003 lalu dibom. Trus tinggi di belakangnya, itu Ritz Carlton..” Kurang lebih seperti itulah pembicaraan kami. Ia bahkan sempat ber-GPS melacak lokasi Mega Kuningan dari handphone barunya. Mengapa topik itu muncul dalam pembicaraan kami saat itu ya?

Beberapa keluarga di Surabaya menelpon menanyakan situasi di Jakarta. Maklum, kali ini 3 anggota keluargaku sedang beraktivitas di Jakarta. Wajar bila mereka cemas karena amat gempar semua media menayangkan berita panas ini. Bila dilihat dan ditarik lurus dari peta Jakarta, tempat tinggalku tak begitu jauh dari Mega Kuningan. Tetapi cukup jauh untuk ditempuh dengan kemacetan Jakarta. Aku berangkat dengan perasaan tak nyaman, bukan tak aman. Karena aku makin menjauhi lokasi kejadian. Hanya saja, bila menu sarapan pagimu adalah berita buruk, bukan kah itu awal yang kurang baik untuk semangat beraktivitas?

Sesampai di kantor, semua wajah tegang, tak ceria seperti biasa. Flat TV yang tergantung di sudut dinyalakan. Aku mengakses d*tik.com dan spontan membaca dengan keras, “Presdir Holc*m tewas jadi korban!”. Kontan, semua mendatangi mejaku dan bereaksi kaget luar biasa. Bagaimana tidak, ternyata Holc*m adalah klien perusahaan ini. CEO tersebut dikenal dekat oleh petinggi di sini. Pantas saja, departemen komunikasi ini terkejut. Tak lama makin banyak karyawan yang mengerumuni TV, bersama ingin melihat daftar nama korban. Ada 2 nama lain yang dikenal oleh Manager External Communicationku. Kebetulan mereka juga rekanan dan benar, turut menjadi korban.

Aku dan beberapa staff miris dan bergidik. Kejadian itu begitu dekat. Proximity itu tercipta bukan hanya karena geografis, tetapi korban itu kami kenal. Bahkan sempat hadir kala perusahaan mengadakan event besar bulan lalu, di Ritz Carlton pula. Minggu depan pun, serangkaian kegiatan penting direncanakan akan diadakan oleh departemen komunikasi ini. Selama beberapa hari dan bertempat di Ritz Carlton. Ruangan yang telah dipesan adalah resto Airlangga yang meledak itu. Di mana ada banyak orang penting, termasuk pers akan hadir. Seketika merinding membayangkannya, akibat campuran rasa syukur dan kengerian.

Ada pula 2 foreign staff yang hampir saja bersinggungan dengan ledakan. Mereka menginap di Ritz, menunggu taxi di lobby untuk ke kantor. Mereka sempat melihat Marriott meledak dan seketika taxi datang mereka segera masuk ke dalam taxi. Ketika taxi beranjak menjauh, BLAR!! Mereka menoleh ke belakang dan melihat tempat mereka berdiri penuh dengan asap. So close!!!

Don't cry

Proximity

Terlepas dari kegeramanku dan kebanyakan orang normal lainnya, aku hanya menyadari proximity bisa memberikan feel berbeda. Ketika isu ledakan di Muara Angke adalah bom, semakin membuat semua rekan di kantor takut. Semua menghubungi keluarga masing-masing, memastikan keberadaannya. Siangnya ditemukan sebuah bom lagi di 1808 Marriott. Biasanya aku orang yang cukup cuek dan yakin saja bahwa jalan hidup setiap orang sudah ditentukan Tuhan. Tapi suasana di sekitar dan di sekelilingmu bisa membuat kalimat itu terbayangkan dengan berbeda. Orang Jakarta yang kukira sudah kebal dengan hal seperti ini pun ternyata tetap takut. Banyak yang membatalkan acara Jumat sore dan memilih pulang.

Salah seorang rekan lain berkata, hidup mati manusia memang sudah di tangan Tuhan. Inilah Jakarta, kalau kamu takut ya jangan hidup di Jakarta. Inilah resiko yang memang harus dihadapi. Kalau tidak berani, mana bisa lakukan aktivitas yang seharusnya kau lakukan..

Hari Jumat kelabu itu, mulai sarapan, lunch, hingga makan malam, bermenukan “bomb Mega Kuningan”. Suasana duka yang tidak mengenakkan seharian penuh. Kegeraman masih berdiam di ujung hati. Sedikit keraguan untuk bepergian, jujur kuakui ada. Namun, saat teduh malam itu justru berkata sedikit berbeda kepadaku.

Belajar dari Rumah Duka

Judulnya ‘Rumah Duka’. Pergi ke rumah duka lebih baik daripada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia (Pengk 7:2). Ya.. Kusadari aku termasuk orang yang memilih menghindari rumah duka karena enggan berhadapan dengan kematian. Tapi justru keadaan itu menyadarkan bahwa hidup itu singkat. Rasa kehilangan mendorongmu lebih bergantung pada Tuhan. Pergunakan kesempatan yang ada selagi bisa. Jadi, di sanalah kau belajar bijak. Bukan di rumah pesta kau bisa belajar hal seperti itu. Yah, tak ada gunanya menghindari kemalangan, karena dari itu imanmu justru terbangun.

Tragedi Mega Kuningan ini mendukakan Indonesia, penggemar MU, perusahaan tertentu, keluarga korban, dan semua masyarakat. Akan tetapi, belajarlah dari kedukaan ini. Belajarlah sesuatu agar kau lebih bijak. Dan aku yakin kali ini, Indonesia akan bangkit. Bangsa ini sudah mengalami kedukaan bertubi-tubi, apalagi yang bisa menjatuhkannya? Bersama tunjukkan pada dunia, Indonesia tak seburuk citra yang berusaha dijatuhkan seperti ini. Tuhan bisa memutarbalikkan kemalangan jadi hal yang indah suatu hari nanti, untuk Indonesia. Tegarlah Indonesiaku!

 

Tuhan membuat hidup kita kaya dengan mengajar kita mencampur canda dan air mata..

Alarm tanda bahaya berbunyi! Bunyi sirine itu memekakkan telingaku! Kusadari aku berada di ketinggian, di lantai 26!! Lift gedung otomatis pasti berhenti! Kepanikan mulai menjalar.. Tangga darurat, hanya itu! Semua orang bangkit dari kursinya dan beranjak cepat ke tulisan EXIT! Berlombalah menuruni gedung setinggi itu dengan ketakutan yang mengejar di belakangmu!

Akhirnya aku kembali ke Jakarta! Kamis lalu aku tiba di Ibukota dan kembali berurusan dengan Shell sejenak. Senin lalu mulai rutin datang ke Talavera Office Park. Dan lucu sekali, aku seperti temu kangen, bernostalgia dengan banyak staff Shell. Mereka kaget melihatku setelah tak nampak sejak Februari. Ternyata banyak yang masih mengingatku, rupanya magang 6 bulan kala itu telah menciptakan relasi yang cukup kuat. Mereka mengira aku telah lulus dan akhirnya bekerja di CX hahaha.. Tidak atau belum! Kali ini aku mengumpulkan data skripsi.

Banyak yang bertanya untuk apa kembali ke Jakarta hanya untuk skripsi? Rela banget sih untuk skripsi doank? Hey, Jakarta tidak begitu jauh dan aku menyukai kota ini beberapa sisi. Mungkin karena aku pernah tinggal cukup lama hingga tak berat untukku sebulan kembali ke Shell dan mengerjakan penelitianku. Bisa saja mengambil judul lain tentang perusahaan di Surabaya, tapi 6 bulan yang kuhabiskan di Shell menunjukkanku banyak hal. Sedikit banyak aku punya pengetahuan tentang perusahaan ini. Selagi kesempatan masih diberikan, aku ambil saja, at least untuk membina relasi yang pernah ada. Selain itu untuk belajar lebih dalam tentang aktivitas Communication. Aku mengambil penelitian di bawah Divisi Media Relations, selama 4 bulan dibimbing oleh Manager Divisi CSR, kini skripsi di bawah Divisi Internal Communication. Lengkap sudah semua bagian dari PR Shell kujelajahi.

Yang mengesankan adalah kejadian hari ini, Jumat, 10 July 2009. Pagi ini, sekitar pukul 9.50AM, aku sedang mengerjakan skripsi di depan laptop sambil ber-ear phone karena mentranskrip hasil interview. Sayup kudengar Emergency Annoucement. Seketika aku dengar sirine berbunyi keras. Pengeras suara di setiap lantai Talavera Office Park ini menyerukan bahwa hari ini tidak ada latihan simulasi kebakaran atau uji coba. Alias, sirine itu berbunyi bukan karena buatan! Suara itu menyuruh kami segera meninggalkan gedung melalui Emergency Exit atau tangga darurat.

 Pic Source : Tata Mulia

Otomatis semua karyawan yang sedang bekerja di meja masing-masing, berdiri, riuh keheranan, dan mulai beranjak meninggalkan meja ke pintu darurat. Aku cukup panik karena berusaha mencerna ini simulasi atau benar ada sesuatu di gedung ini, apapun itu aku harus tetap segera beranjak. Kuambil ranselku dengan laptop di dalamnya, plus dompet dan PDA inside. Aku bersama rekan CX segera keluar lewat Exit Door yang lantai kami, lantai 26! Berdesakan, bergabung dengan orang lain dari lantai atas, kami menuruni anak tangga.

Ini kali pertama aku berada di situasi seperti itu. Melihat orang berbondong menuruni anak tangga darurat. Ketika bergabung dengan rombongan dari lantai bawah, aku terpisah dari temanku. Ada yang hanya bawa badan saja, ada yang membawa tas atau laptop. Kuperhatikan lagi, ada yang tampak panic, ada pula yang santai bercerita dengan rekannya. Saat itulah aku sadar, ini hanya simulasi! Evacuation Drill! Aku ada di perasaan antara merasa sangat bodoh, dengan berusaha mempelajari andai itu bukan simulasi. Anak tangga kuturuni terus, kulihat 25, 22, 19, 15, … Tanpa sengaja aku bertemu dengan staff Shell dari lantai lain, sambil mengobrol kami mengalihkan pikiran dari situasi tidak enak itu. Sampai tak terasa kulihat 11, 9, 6, 2 dan akhirnya, sinar matahari!!

Keluarlah kami dari untaian ribuan anak tangga. Kulihat mobil ambulance. Di beberapa area orang-orang berkumpul. Ada yang ber-safety vest sambil membawa sign bertulis nomor tiap lantai. Petugas keamanan mengarahkan rombongan yang baru keluar ke area lain di belakang gedung, yang disebut dengan Assembly Area. Di sana beberapa staff yang menjadi vocal point HSSE telah mengenakan safety vest. Mereka mengangkat tinggi sign lantai masing-masing. Aku mencari 26 dan berkumpullah dengan rekanku lain. Kaki gemetar! Semua berceloteh dan berkeringat, mengeluhkan kaki gemetar karena jarang berolahraga sehingga ‘kaget’.

Sebenarnya di setiap lantai selalu tersebar denah gedung untuk situasi darurat. Shell memiliki standar safety yang sangat luar biasa baik. Oleh karena itu segala hal yang related dengan safety, sudah menjadi budaya. Staff mengetahui langkah yang harus dilakukan dan tempat yang harus dituju dalam keadaan darurat di dalam gedung. Setelah berkumpul di Assembly Area, tentunya ruang terbuka, kami didata. Dengan jelas disebutkan ini simulasi. Kemudian teriknya matahari ditambah kaki gemetar dengan cepat membubarkan kerumunan massa penghuni Talavera.

Terlepas dari kehebohan, merasa bodoh, kaki gemetar, merasa sial, aku pun belajar dari latihan ini:

  • Bunyi sirine pasti mendatangkan kepanikan! Dan berusahalah focus agar kau tahu apa yang penting untuk kau bawa bila memungkinkan. Tidak mungkin kau bisa membawa semua hartamu di kantor karena kau akan berdesakan di dalam tangga darurat.
  • Selamatkan nyawa, itu yang terpenting. Jangan pusingkan harta, tak kan ada arti bila nyawa tak terselamatkan.
  • Tangga darurat itu sangat pengap. Ditambah dengan banyaknya manusia yang berebut oksigen dalam kepanikan. Jadi, kendalikan diri agar tidak panic.
  • Semakin tinggi lantai, semakin tidak menguntungkan. Bukan hanya karena jumlah anak tangga yang lebih banyak untuk dituruni sampai bawah, tetapi jumlah massa. Turun selantai, kau bertemu puluhan orang yang keluar dari lantai itu, semua berebut menuruni tangga lebih dulu. Turun selantai lagi, berarti jumlah berlipat. Begitu seterusnya. Do you get my point?
  • Alihkan perhatian tetapi tetap focus, agar tidak makin panic.
  • Menuruni banyak anak tangga yang berpola sama, bisa membuatmu pusing.
  • Ikuti arahan dan petunjuk dari petugas.
  • Pelajari dan baca semua peringatan yang telah diberikan sebelum keadaan darurat benar-benar terjadi. So that you’ll have a field of reference before you experience it.
  • Jangan remehkan simulasi, it’s a must and good for us, oneday!

Saat magang, dua kali aku absen dari kegiatan mengepak barang untuk pindah gedung, karena menyelesaikan urusan di Surabaya. Kali ini, hari ke-5 di Shell, aku harus menuruni 26 lantai Talavera. Terbayar sudah rasa tidak puas teman-teman karena dulu aku tak ikut berlelah hahaha.. Andai di Surabaya, mungkin tidak bisa bersimulasi seperti ini. Selain banyak pihak belum aware pentingnya simulasi keadaan darurat, gedung setinggi ini masih langka ditemukan. Sampai beberapa hari ke depan, kakiku pasti sangat sakit dan pegal. Tapi kelelahan ini untuk berjaga-jaga karena bila situasi seperti itu terjadi, mau tidak mau, semua harus siap!

The future has become the present. Anything of importance will remain, while anything useless will disappear..

 

Jakarta/100907/10:57PM                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      

Menerima

Surabaya -  170609 – 12:46AM

Menerima dalam bahasa inggris adalah accept, yang mempunyai persamaan: receive, agree, say yes, take on, believe, admit, tolerate, etc. Isn’t funny? Accept adalah verb atau kata kerja. Namun, arti kata menerima identik dengan setuju, sepaham, percaya, mengakui, dan kata-kata yang mengindikasikan pasrah pada keadaan. Akan tetapi, verb / kata kerja berarti subjeknya melakukan suatu usaha, do something. Kata benda apapun yang ditambahkan di belakangnya tetap membuatnya berperan sebagai verb. Jadi menerima / accept tetap membutuhkan usaha oleh subjeknya untuk dilakukan, sepasif dan sepasrah apapun kesan yang ditimbulkannya..

Kata ini bisa menimbulkan banyak masalah hidup bagi manusia. Seringkali banyak hal yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan atau kita harapkan. Tak ada yang salah bila manusia selalu mengatur, membuat rencana, mengharapkan sesuatu dalam menjalani hari-harinya. Justru harus mengatur demikian agar waktu tidak terbuang sia-sia. Harus membuat rencana supaya tahu apa yang akan dikerjakan hari ini. Harus mengharapkan sesuatu agar hidup jadi termotivasi karena berusaha mewujudkan harapan tersebut. Namun, bagaimana bila tak demikian keadaannya? Maka menerima bisa jadi masalah..

Tidak semua terjadi demikian rapi dan tepat sesuai keinginan. Kita hidup berhubungan dengan banyak orang. Setiap orang sama dengan kita, punya keinginan dan kepentingan masing-masing. Tak semuanya sama dan kata sebagian orang justru harus demikian. Karena tanpa perbedaan kita tak akan berkembang untuk belajar. Tapi bagi yang belum terbiasa ber-positive thinking, aku pun demikian, gesekan itu bisa memercik bunga api. Gesekan pendapat, keinginan, dan pola pikir bisa menjadi masalah. Dan itu bisa membuat kita kecewa, benar tidak? Menerima penolakan. Menerima kegagalan. Menerima bad feeling. Menerima perpisahan. Anak-anak menerima keinginan atau menurut mau orang tua. Ada kalanya orang tau harus menerima keinginan anak-anak yang mungkin berbeda dari yang mereka inginkan. Seringkali semua itu selalu mengecewakan.

Mengapa menerima keadaan tampak sangat sulit untuk dijalani?

Bolehkan aku berbagi.. Aku pun tidak mudah untuk bisa menerima bila keinginanku tidak terjadi seperti yang kukehendaki. Bila sudah seperti itu, aku perlu waktu untuk menenangkan diri dan meredakan emosi yang bisa jadi sudah naik, atau bahkan hilang mood. Kemudian mencari orang untuk berbagi itu juga tidak buruk. Itu perlu karena aku butuh instropeksi. Untuk itu butuh sudut pandang dari orang lain yang lebih netral, bisa menjadi pendengar yang baik, dan memberi masukan bila aku salah. Yang lebih penting, tak lelah memberiku semangat baru. Karena tak jarang, aku yang jadi emosi berlebihan alias lebay dari yang seharusnya. Emosi itu sangat menguras tenaga dan melelahkan. Jadi keberadaan orang lain bisa menetralkan emosi yang berlebihan itu. Lalu kemudian berusaha berpikir bahwa Tuhan punya rencana yang lebih baik dari rencanaku yang manusia ini. Karena tak jarang manusia suka sok tahu, merasa paling oke, paling benar atas hidupnya sendiri dan kadang merasa demikian juga atas hidup orang lain.

Itu yang terjadi denganku. Maka aku pun belajar memahami dan mencerna bahwa menerima itu tidak sulit tapi tidak mudah. Mudah diucap tak mudah dijalani. Tapi aku mau memaksa diri menjalani dan menerima meski kadang penolakan bisa menghadirkan air mata. Dalam hal ini menerima hal yang tidak sesuai harapan. Bila itu hal indah, tentu mudah menerimanya. Siapa yang tidak mau menerima, bila hidup tiba-tiba memberikanmu hal indah? Hanya orang bodoh mungkin yang menolaknya. Tapi sadarkah bahwa hidup itu adil? Tuhan itu adil. Ada + ada -. Justru karena ada – maka + jadi bernilai. Tak selamanya semua indah karena manusia akan terlena. Oleh karena itu, ada pula hal buruk, supaya belajar berjuang dan dapat lebih menghargai keindahan. Semuanya harus seimbang. Tapi manusia tidak mau yang buruk pasti, bila boleh memilih. Hanya hal indah yang mau diterima. Hey! Bukan itu cara memainkan perananmu sebagai mahkluk yang diciptakan oleh Tuhanmu..

Jadi dalam hidup, mau tidak mau harus bisa menerima. Kau mau atau tidak mau, hidup akan memaksamu untuk menerima. Detikan jarum jam tidak akan berhenti hanya karena kau tidak bisa menerima hal buruk yang hidup bawa padamu. Dunia ini tetap akan terus berotasi apapun yang terjadi oleh manusia yang mendiaminya. Angin akan tetap berhembus. Tunas daun berwarna hijau muda akan terus bercukulan ke arah datangnya sinar mentari, meski kau emosi dan tak mau menerima yang telah terjadi. Di sisi lain, manusia lain tetap tersenyum dan meraih mimpinya di kala kau berdiam diri marah pada keadaan yang tidak berpihak padamu.

Menerima keadaan buruk tidak sulit karena yang dibutuhkan adalah saling memahami semua aspek keadaan itu. Take a deep breathe. Untuk membantunya, dibutuhkan waktu. Seiring berjalannya waktu, emosi mereda, pikiran lebih jernih, maka memahami akan jadi lebih mudah, dan semangat akan kembali diperoleh. Menerima keadaan juga lebih mudah dengan mencari hal yang masih bisa disyukuri. Cara lain yang lagi, melihat orang-orang yang pernah mengalami hal yang sama tetapi telah berhasil melewatinya. Dan selalu ingat satu hal, hidup ini selalu berusaha mengajarkanmu sesuatu. Tak terkecuali pula, mengharapkanmu memetiknya dari keadaan buruk yang kau atau aku alami. Dan yakinlah, bahwa kau akan bisa melewati dan mengatasinya dengan baik. Menerima keadaan apapun itu, membuat dirimu semakin matang dan kuat menghadapi cobaan hidup yang akan datang.

God grant me the serenity to accept the things I cannot change; courage to change the things I can; and wisdom to know the difference.. (The Serenity Prayer – Reinhold Niebuhr)

Surabaya – 010609 – 9:09 PM

Setiap kali mendengar kisah seorang ayah yang seumuran ayahku meninggal, pikiran dan hatiku seolah disentil. Meski sentilan itu tak meninggalkan luka tapi tetap saja ada hentakan kecil yang sedikit memerah di kulit. Berulang kali aku tersentil, tetapi kali ini aku tak ingin hanya biarkan bekas merah itu memudar begitu saja.

Teman baik ayah sejak kuliah yang kemudian bersama menjadi dosen di Teknik Sipil, baru saja meninggal. Tipe lelaki pekerja keras, yang kurang peduli akan kondisi tubuh. Ia meninggal karena penyakit lever yang diketahui 7 tahun silam. Bukan cara meninggalnya yang menyentilku, tetapi masa depan keluarganya. Anak tertua terlahir dengan fisik kurang sempurna. Anak kedua seumuranku dan masih berkuliah. Istrinya tak bekerja.

Kondisi itu selalu mengajakku berkaca akan kondisi keluargaku di cermin kehidupan. Ibuku seorang ibu rumah tangga yang baik. Kakak laki-lakiku baru saja lulus kuliah dan sedang mulai mencari pijakan yang pas untuk bekerja. Adik perempuanku masih memakai seragam putih abu-abu. Aku, seorang mahasiswi tahun terakhir yang tak pernah punya pengalaman mencari uang sendiri. Ayah bekerja sesuai dengan bidang kuliahnya dulu, di bidang jasa pembangunan, dan tak ada satupun dari kami yang mempelajari itu. Dengan kata lain, tak ada yang bisa melanjutkan, mungkin..

Tak pernah mau dan tak akan berharap kejadian seperti itu, tetapi harus ada sesuatu yang mulai dilakukan tanpa harus menunggu hal buruk menimpa. Aku harus mulai dari sekarang, mencari tahu apa yang bisa kulakukan. Selama ini tak pernah mencari uang sendiri bukan berarti tak kompeten, tetapi keadaan nyaman cukup membuat aman. Aku wanita dan bukan anak tertua. Ditambah dengan beban beri prestasi yang baik kepada ayah ibu.

Wafatnya teman baik ayah ini memberitahuku satu hal. Saat ini ada sebuah pilihan yang telah kupilih untuk mulai kucoba jalani. Aku harus bisa tekun menjalani pilihanku agar sedikit demi sedikit tabunganku mulai terisi. Aku harus mandiri meski ayah hanya memintaku menimba ilmu dengan baik. Prestasiku akan tetap kuberikan karena itu tanggung jawabku untuk membanggakannya.

Mungkin ini bisa menjadi motivasi, aku akan selalu berusaha merangkak, berjalan, hingga berlari bila sudah saatnya. Mandiri bukan hanya dari tindakanku selama ini, tetapi juga dari segi financial. Mensyukuri kehadiran ayah ibuku sampai sekarang bukan berarti cukup sampai di titik ini. Bukan di titik sekolah dan prestasi saja. Tetapi saat inilah belum terlambat bagiku untuk berusaha mandiri sedikit demi sedikit. Aku akan berusaha tanpa harus menunggu hidup menyatakan misterinya!

Tak masalah seberapa lambat kamu berjalan, asalkan kamu tidak berhenti..

Older Posts »