Feeds:
Posts
Comments

Menerima

Surabaya -  170609 – 12:46AM

Menerima dalam bahasa inggris adalah accept, yang mempunyai persamaan: receive, agree, say yes, take on, believe, admit, tolerate, etc. Isn’t funny? Accept adalah verb atau kata kerja. Namun, arti kata menerima identik dengan setuju, sepaham, percaya, mengakui, dan kata-kata yang mengindikasikan pasrah pada keadaan. Akan tetapi, verb / kata kerja berarti subjeknya melakukan suatu usaha, do something. Kata benda apapun yang ditambahkan di belakangnya tetap membuatnya berperan sebagai verb. Jadi menerima / accept tetap membutuhkan usaha oleh subjeknya untuk dilakukan, sepasif dan sepasrah apapun kesan yang ditimbulkannya..

Kata ini bisa menimbulkan banyak masalah hidup bagi manusia. Seringkali banyak hal yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan atau kita harapkan. Tak ada yang salah bila manusia selalu mengatur, membuat rencana, mengharapkan sesuatu dalam menjalani hari-harinya. Justru harus mengatur demikian agar waktu tidak terbuang sia-sia. Harus membuat rencana supaya tahu apa yang akan dikerjakan hari ini. Harus mengharapkan sesuatu agar hidup jadi termotivasi karena berusaha mewujudkan harapan tersebut. Namun, bagaimana bila tak demikian keadaannya? Maka menerima bisa jadi masalah..

Tidak semua terjadi demikian rapi dan tepat sesuai keinginan. Kita hidup berhubungan dengan banyak orang. Setiap orang sama dengan kita, punya keinginan dan kepentingan masing-masing. Tak semuanya sama dan kata sebagian orang justru harus demikian. Karena tanpa perbedaan kita tak akan berkembang untuk belajar. Tapi bagi yang belum terbiasa ber-positive thinking, aku pun demikian, gesekan itu bisa memercik bunga api. Gesekan pendapat, keinginan, dan pola pikir bisa menjadi masalah. Dan itu bisa membuat kita kecewa, benar tidak? Menerima penolakan. Menerima kegagalan. Menerima bad feeling. Menerima perpisahan. Anak-anak menerima keinginan atau menurut mau orang tua. Ada kalanya orang tau harus menerima keinginan anak-anak yang mungkin berbeda dari yang mereka inginkan. Seringkali semua itu selalu mengecewakan.

Mengapa menerima keadaan tampak sangat sulit untuk dijalani?

Bolehkan aku berbagi.. Aku pun tidak mudah untuk bisa menerima bila keinginanku tidak terjadi seperti yang kukehendaki. Bila sudah seperti itu, aku perlu waktu untuk menenangkan diri dan meredakan emosi yang bisa jadi sudah naik, atau bahkan hilang mood. Kemudian mencari orang untuk berbagi itu juga tidak buruk. Itu perlu karena aku butuh instropeksi. Untuk itu butuh sudut pandang dari orang lain yang lebih netral, bisa menjadi pendengar yang baik, dan memberi masukan bila aku salah. Yang lebih penting, tak lelah memberiku semangat baru. Karena tak jarang, aku yang jadi emosi berlebihan alias lebay dari yang seharusnya. Emosi itu sangat menguras tenaga dan melelahkan. Jadi keberadaan orang lain bisa menetralkan emosi yang berlebihan itu. Lalu kemudian berusaha berpikir bahwa Tuhan punya rencana yang lebih baik dari rencanaku yang manusia ini. Karena tak jarang manusia suka sok tahu, merasa paling oke, paling benar atas hidupnya sendiri dan kadang merasa demikian juga atas hidup orang lain.

Itu yang terjadi denganku. Maka aku pun belajar memahami dan mencerna bahwa menerima itu tidak sulit tapi tidak mudah. Mudah diucap tak mudah dijalani. Tapi aku mau memaksa diri menjalani dan menerima meski kadang penolakan bisa menghadirkan air mata. Dalam hal ini menerima hal yang tidak sesuai harapan. Bila itu hal indah, tentu mudah menerimanya. Siapa yang tidak mau menerima, bila hidup tiba-tiba memberikanmu hal indah? Hanya orang bodoh mungkin yang menolaknya. Tapi sadarkah bahwa hidup itu adil? Tuhan itu adil. Ada + ada -. Justru karena ada – maka + jadi bernilai. Tak selamanya semua indah karena manusia akan terlena. Oleh karena itu, ada pula hal buruk, supaya belajar berjuang dan dapat lebih menghargai keindahan. Semuanya harus seimbang. Tapi manusia tidak mau yang buruk pasti, bila boleh memilih. Hanya hal indah yang mau diterima. Hey! Bukan itu cara memainkan perananmu sebagai mahkluk yang diciptakan oleh Tuhanmu..

Jadi dalam hidup, mau tidak mau harus bisa menerima. Kau mau atau tidak mau, hidup akan memaksamu untuk menerima. Detikan jarum jam tidak akan berhenti hanya karena kau tidak bisa menerima hal buruk yang hidup bawa padamu. Dunia ini tetap akan terus berotasi apapun yang terjadi oleh manusia yang mendiaminya. Angin akan tetap berhembus. Tunas daun berwarna hijau muda akan terus bercukulan ke arah datangnya sinar mentari, meski kau emosi dan tak mau menerima yang telah terjadi. Di sisi lain, manusia lain tetap tersenyum dan meraih mimpinya di kala kau berdiam diri marah pada keadaan yang tidak berpihak padamu.

Menerima keadaan buruk tidak sulit karena yang dibutuhkan adalah saling memahami semua aspek keadaan itu. Take a deep breathe. Untuk membantunya, dibutuhkan waktu. Seiring berjalannya waktu, emosi mereda, pikiran lebih jernih, maka memahami akan jadi lebih mudah, dan semangat akan kembali diperoleh. Menerima keadaan juga lebih mudah dengan mencari hal yang masih bisa disyukuri. Cara lain yang lagi, melihat orang-orang yang pernah mengalami hal yang sama tetapi telah berhasil melewatinya. Dan selalu ingat satu hal, hidup ini selalu berusaha mengajarkanmu sesuatu. Tak terkecuali pula, mengharapkanmu memetiknya dari keadaan buruk yang kau atau aku alami. Dan yakinlah, bahwa kau akan bisa melewati dan mengatasinya dengan baik. Menerima keadaan apapun itu, membuat dirimu semakin matang dan kuat menghadapi cobaan hidup yang akan datang.

God grant me the serenity to accept the things I cannot change; courage to change the things I can; and wisdom to know the difference.. (The Serenity Prayer – Reinhold Niebuhr)

Surabaya – 010609 – 9:09 PM

Setiap kali mendengar kisah seorang ayah yang seumuran ayahku meninggal, pikiran dan hatiku seolah disentil. Meski sentilan itu tak meninggalkan luka tapi tetap saja ada hentakan kecil yang sedikit memerah di kulit. Berulang kali aku tersentil, tetapi kali ini aku tak ingin hanya biarkan bekas merah itu memudar begitu saja.

Teman baik ayah sejak kuliah yang kemudian bersama menjadi dosen di Teknik Sipil, baru saja meninggal. Tipe lelaki pekerja keras, yang kurang peduli akan kondisi tubuh. Ia meninggal karena penyakit lever yang diketahui 7 tahun silam. Bukan cara meninggalnya yang menyentilku, tetapi masa depan keluarganya. Anak tertua terlahir dengan fisik kurang sempurna. Anak kedua seumuranku dan masih berkuliah. Istrinya tak bekerja.

Kondisi itu selalu mengajakku berkaca akan kondisi keluargaku di cermin kehidupan. Ibuku seorang ibu rumah tangga yang baik. Kakak laki-lakiku baru saja lulus kuliah dan sedang mulai mencari pijakan yang pas untuk bekerja. Adik perempuanku masih memakai seragam putih abu-abu. Aku, seorang mahasiswi tahun terakhir yang tak pernah punya pengalaman mencari uang sendiri. Ayah bekerja sesuai dengan bidang kuliahnya dulu, di bidang jasa pembangunan, dan tak ada satupun dari kami yang mempelajari itu. Dengan kata lain, tak ada yang bisa melanjutkan, mungkin..

Tak pernah mau dan tak akan berharap kejadian seperti itu, tetapi harus ada sesuatu yang mulai dilakukan tanpa harus menunggu hal buruk menimpa. Aku harus mulai dari sekarang, mencari tahu apa yang bisa kulakukan. Selama ini tak pernah mencari uang sendiri bukan berarti tak kompeten, tetapi keadaan nyaman cukup membuat aman. Aku wanita dan bukan anak tertua. Ditambah dengan beban beri prestasi yang baik kepada ayah ibu.

Wafatnya teman baik ayah ini memberitahuku satu hal. Saat ini ada sebuah pilihan yang telah kupilih untuk mulai kucoba jalani. Aku harus bisa tekun menjalani pilihanku agar sedikit demi sedikit tabunganku mulai terisi. Aku harus mandiri meski ayah hanya memintaku menimba ilmu dengan baik. Prestasiku akan tetap kuberikan karena itu tanggung jawabku untuk membanggakannya.

Mungkin ini bisa menjadi motivasi, aku akan selalu berusaha merangkak, berjalan, hingga berlari bila sudah saatnya. Mandiri bukan hanya dari tindakanku selama ini, tetapi juga dari segi financial. Mensyukuri kehadiran ayah ibuku sampai sekarang bukan berarti cukup sampai di titik ini. Bukan di titik sekolah dan prestasi saja. Tetapi saat inilah belum terlambat bagiku untuk berusaha mandiri sedikit demi sedikit. Aku akan berusaha tanpa harus menunggu hidup menyatakan misterinya!

Tak masalah seberapa lambat kamu berjalan, asalkan kamu tidak berhenti..

Surabaya – 210509 – 8:15PM

..based on true story..

Kemarin aku menemani mama melayat ayah dari teman papa yang telah meninggal. Tak hanya melayat tapi juga mengikuti prosesi pemakaman dengan kremasi. Jujur saja, aku tak begitu menyukai berkunjung ke tempat peristirahatan terakhir karena penuh dengan atmosfer kesedihan dan dukacita di sana. Tapi kali ini, aku mau menemani mama dan aku pun bilang pada diriku sendiri, mungkin ada sesuatu yang bisa kupelajari dari sana. Dan, cukup banyak pelajaran yang kulihat dan kutemukan di sana. Kakek yang meninggal ini meninggal dengan tenang dan mudah jalannya. Aku tak tahu bagaimana harus mengatakannya. Keluarganya tak pernah mengira, karena justru sang nenek lah yang sedang sakit. Tetapi kakek ini tak menderita penyakit yang mengharuskannya dirawat di rumah sakit atau menderita karena sakit sampai akhirnya meninggal. Ia tak membutuhkan sakit terlebih dulu, untuk kemudian beranjak ke kehidupan selanjutnya. Ia tak perlu terlibat dalam sebuah kecelakaan atau dicelakai siapapun untuk mengakhiri lembar hidupnya.

1. Aku semakin percaya bahwa ‘the power of love’ itu ada. Cinta bisa tetap ada dan akan terus ada bahkan sampai maut memisahkan. Ia meninggal saat ingin menemui istrinya yang sedang dirawat di rumah sakit. Ketika ia berjalan di koridor rumah sakit menuju ke kamar tempat istrinya dirawat, jantungnya berhenti berdetak, lalu ia terjatuh. Suster rumah sakit segera membopongnya ke kamar terdekat, mencoba memacu jantungnya, tapi ia telah pergi terlebih dulu. Namun, sehari sebelumnya, ia telah menjenguk istri kesayangannya, dan kata teman papa, mereka berdua tampak tak biasa. Bahkan anak mereka pun melihat kedua orang tua mereka sangat mesra. Sang nenek, yang biasa cerewet karena ia sedang sakit, kali ini bisa membelai mesra suami yang datang membesuknya. Mereka berpegangan tangan, dan sang istri mencium suami yang sudah tua tetapi tetap sehat itu, seakan telah mengetahui bahwa hal itu tak akan bisa lagi mereka lakukan. Keluarga yang menyaksikannya pasti mendapatkan teladan luar biasa. Setelah detak jantung kakek itu berhenti, istrinya tak diberitahu, karena keluarganya tak ingin memperburuk kondisi kesehatannya. Esoknya ketika di Adi Jasa dilakukan penutupan peti, di saat yang sama di rumah sakit, terjadi kejadian mengharukan tetapi nyata. Rekan sekamar nenek itu mengatakan, nenek seperti sedang berbicara dengan seseorang, mereka berpamitan, dan nenek itu melambaikan tangan sambil berucap, “Tunggu aku ya..” Matanya melihat ke arah depan lalu ke atas sambil terus melambaikan tangan. Tanpa sempat diberitahu oleh anak-anaknya, ia telah mengetahui sang suami yang tak sakit apa-apa itu telah pergi terlebih dahulu mendahuluinya.. Aku ingin tak percaya, tapi aku justru jadi makin percaya indahnya cinta yang terjalin antara dua manusia, yang saling setia seumur hidup menjaga dan memberikan cinta seutuhnya untuk pasangannya itu, mempunyai kekuatannya sendiri. Kekuatan untuk tetap abadi dan menginspirasi semua yang mempercayainya..

2. Ketika peti jenazah serta rombongan tiba di krematorium Eka Praya, Kembang Kuning, prosesi demi prosesi dilakukan dengan tata cara Taoisme. Itulah kepercayaan kakek ini dan anak laki-laki pertamanya. Di antara sanak famili yang hadir, aku melihat ada 4 orang kakek yang usianya sepantaran. Mereka berambut putih, berkeriput, ada yang memakai baju safari, ada pula memakai hem selayaknya kakek pada umumnya. Tapi persamaan mereka, mereka sama-sama hadir untuk memberikan penghormatan terakhir bagi salah seorang sahabat mereka yang telah mendahului mereka untuk berangkat dari dunia ini. Ada seorang yang menangis dan terus menangis sampai rekannya memeluknya dan mengambilkan air minum untukknya. Ternyata ia adalah sahabat terdekat dari kakek ini, bahkan beberapa hari sebelum kakek ini meninggal, mereka sempat pergi bersama ke Trawas. Dari cerita yang kudengar, mereka berlima adalah sahabat. Di kala masa tua datang, dan tubuh tak lagi kuat bekerja layaknya di masa muda, mereka melewatkan masa tua bersama. Justru mereka jadi tetap sehat dan tegap karena bersosialisasi bersama, bepergian bersama, tak hanya menyerah pada usia dan raga yang menua. Aku tersentuh oleh indahnya persahabatan para kakek ini. Betapa indahnya persahabatan yang tetap kukuh dan ditutup oleh hal yang bernama “kematian”. Kematian itu jadi tak menyeramkan ketika ada dalam konteks ini. Kematian itu jadi sebuah pengukuhan akan indahnya arti ‘persahabatan’. Mereka melewatkan kejadian indah dalam hidup ketika muda, bepergian bersama ketika masih sehat, berbagi kisah hidup ketika tua, dan meninggalkan satu dengan yang lain ketika kematian itu tiba..

3. Jenazah kakek ini dikremasi bukan dikuburkan. Aku sendiri tak berusaha mencari tahu apakah itu memang permintaannya atau karena alasan lain. Tapi kemudian aku tergelitik, apakah perbedaan jasad dikubur dengan dikremasi? Selain prosesnya, tentu saja. Kremasi ini pun memiliki prosesinya sendiri. Setelah penghormatan terakhir, peti dipindahkan ke pembaringan dan nantinya peti akan dimasukkan ke ruang pembakaran. Setelah peti ada di pembaringan, pintu ditutup sehingga keluarga dan semua orang tak bisa melihatnya. Kemudian setelah peti masuk ke ruang pembakaran, sanak keluarga diminta bersama menekan tombol yang menyalakan tungku pembakaran. Esoknya abu akan diberikan kepada keluarga untuk dilarungkan di laut. Saat nenek dari papaku meninggal, ia pernah berpesan tak mau dikremasi, karena takut membayangkan badannya dibakar. Tapi ada pula yang memilih dibakar agar tak merepotkan keluarga yang ditinggalkan. Ketika ada pilihan antara dikremasi atau dikuburkan, bagaimana memilihnya? Terkadang mungkin bagi yang meninggal sendiri, mereka tak kan lagi merasa apapun baik menjadi abu karena kremasi atau lapuk terurai karena dikuburkan. Namun bagi keluarga yang ditinggalkanlah beban pilihan itu ada. Banyak kutemukan mereka memilih keluarga yang meninggal dikuburkan saja karena tak tega membayangkan panasnya api membakar jasad dari orang tercinta. Tak ada maksud buruk dari tulisanku tentang topik ini. Aku hanya tergelitik, bagaimana orang yang meninggal itu dapat kuat berpesan agar ia dikremasikan bukan dikuburkan? Entah, tak perlu kuketahui lebih lanjut tetapi pasti ada pergolakan batin yang cukup besar untuk memutuskan tubuh duniawi ini akan kembali menjadi debu dengan cara yang mana..

Kematian selalu meninggalkan banyak hal, mengajarkan banyak hal, dan juga menyadarkan akan banyak hal. Namun, tak selalu hanya dipenuhi dengan kesedihan yang meninggalkan sejuta kisah kenangan dan tak akan bisa berjumpa lagi. Namun, kematian pun bisa menjadi bukti kokohnya kekuatan kesetiaan dan keabadian cinta, serta mengukuhkan indahnya arti sebuah persahabatan..

Immortality, I make the journey through eternity, keep the memory of you and me inside, and we don’t say good bye..

Surabaya – 180509 – 1:39PM
Pernahkah kamu punya rutinitas atau kebiasaan, yang mungkin tampak aneh bagi sebagian orang tapi unik dan menyenangkan untuk dilakukan bersama orang terdekat yang kamu sayang? Aku punya satu kebiasaan seperti itu. Berhubung belum ada seseorang yang kupilih untuk jadi tempatku bersandar, kebiasaan ini kubagi dengan adik yang juga merangkap teman baikku. Kebiasaan itu adalah bersantap delight berdua di Pizza Hut. Tanpa bermaksud mempromosikan gerai pizza tersebut, aku hanya ingin menceritakan kebiasaanku ini melalui post di blogku.
Setiap bulan, pasti ada satu kali di mana kami berdua pergi makan, berdua atau plus-plus, di tempat favorit kami untuk makan dan melarikan diri dari kepenatan. Dan selalu menu delight berdua yang kami pilih tanpa pikir panjang. Mengapa delight berdua? Karena ada menu-menu tertentu yang hanya bisa dipilih bila memesan menu delight dan tidak bisa dipesan reguler. Delight pun ada beberapa pilihan, tapi kami sudah memastikan, pasti – selalu – akan – dan tetap memilih, delight spagheti. Jadi akan disajikan satu pizza pan kecil, seporsi spagheti, roti bawang alias garlic bread, dan 2 gelas coke. Tampak tak mengenyangkan bukan? Rasakan saja sendiri.. Karena kami selalu tetap kekenyangan setelah berjuang menghabiskan semuanya.
Mengapa selalu delight yang itu yang menjadi pilihan? Karena spagheti krim tomat lah jawabannya. Rasa unik tapi sangat mantap di lidah kami berdua, apalagi disantap begitu disajikan. Garlic bread akan selalu seperti itu, tidak special hanya pelengkap saja. Pizza pun biasanya kami selalu memilih egg sunshine. Tapi sedih sekali, sepulang dari Jakarta, ketika aku kembali meneruskan kebiasaan ini, egg sunshine sudah tidak dimasukkan dalam daftar pilihan pizza delight. Ia sudah naik pangkat ke pilihan reguler rupanya. Jadi kami mencoba rasa pizza yang lain dan belum menemukan yang terfavorit untuk jadi pengganti egg sunshine. Terkadang bila sangat lapar, kami menambah seporsi salad dengan berusaha menata salad sebanyak-banyaknya menampung isi favorit kami berdua hahaha.. Entahlah, bisa saja tak perlu berlebihan, tetapi rasa seru karena menatanya bersama jadi kelucuan tersendiri. Akhirnya kami jadi lebih lama lagi nongkrong, untuk menghabiskan salad sebanyak itu haha..

Bagaimana kebiasaan ini muncul? Awalnya tidak sengaja, ketika berjalan berdua di sebuah mall, lapar menyerang, apalagi adikku suka sekali makan. Untung sekali dia tidak mudah gemuk, jadi tak pusing makan banyak. Pilihan pun jatuh di Pizza Hut. Wah, tampaknya delight tidak terlalu buruk untuk dicoba, apalagi budget sesuai kantong, sangat sesuai malah. Dan tanpa disadari itu jadi kebiasaan setiap bulan dan sudah berjalan lebih dari 1,5 tahun. Terkadang kami berdua juga suka mengajak mama atau kakak untuk keluar dan berpizza bersama. Tetapi tetap tidak mau melewatkan spagheti krim tomat itu, jadi delight tetap dipilih.

Salah satu yang aku paling ingat, ketika aku masih stay di Jakarta, adik menanyakan, “Kapan Ce pulang? Ngga ada yang ngajak aku delight berdua lagi lho sekarang..” Hahaha.. Kalimat polos yang lucu, namun bermakna dalam buatku. Ternyata kebiasaan itu telah menjadi hal yang simple tapi berkesan dan selalu dinanti olehnya. Ya, memang ketika kami pergi berdua itulah, ada banyak sekali cerita, keisengan, dan kekonyolan yang bisa kami bagi. Sebenarnya bisa cerita kapan saja tanpa harus delight berdua, tapi entahlah ini seakan menjadi kesempatan bagi adik untuk bisa keluar dari rumah. Tak ada tanggal khusus jadi kadang ketika aku stress ataupun adik jenuh dengan sekolahnya, siang itu akan muncul sms, “Nanti malam Pizza Hut!”. Jarak usia kami memang berbeda cukup jauh, 6,5 tahun. Tapi seiring dengan bertambahnya usia adikku, arah pembicaraan makin sama. Kadang kami menjadi sekutu di rumah. Terkadang aku sempat merasa takut, ia akan jadi dewasa sebelum waktunya, dalam artian pola pikirku mempengaruhinya. Tapi ternyata tidak, justru itu bisa jadi hal cukup positif, karakternya tak kekanakan dibanding teman-temannya, tapi masih gemar menonton kartun haha.. That’s why I call her ‘my best friend’.

 
 

 

Pizza Hut

Dan dari situ pun kami jadi menemukan tidak di semua cabang Pizza Hut bisa menyajikan spagheti sup krim tomat yang sangat lezat. Garlic bread Pizza Hut sekarang makin tak terasa garlic-nya. Salah satu kekonyolan yang masih sangat kuingat yang terjadi adalah ketika itu kami bersantap, selagi menunggu pesanan, kami berdua melihat pemandangan yang sama. Ada seorang waiter yang sangat gemulai. Jujur saja, aku dan adik sangat tidak menyukai gaya-gaya yang seperti itu. Alhasil, tanpa mengatakan satu patah kata pun, kami langsung tertawa geli sekeras-kerasnya. Setiap kali waiter itu bersliweran di depan kami, tawa itu meledak seketika. Sampai makan pun terganggu karena ingin terus tertawa. Sepertinya waiter itu pun merasa. Tak lama tampak pula seorang waiter lain yang gayanya tak kalah gemulai dengan waiter pertama tadi. Ya ampun, ada satu saja kami sudah tertawa kelewat batas, mengapa harus ada dua yang seperti itu? Hahaha.. Agak kurang sopan, tapi mungkin jadi keuntungan buat gerai pizza ini, jadi ada canda tawa bukan di sana? Hahaha..

Bagaimana denganmu? Kebiasaan apa yang biasa kau lakukan dengan orang terdekat yang kau sayang? Apapun itu, semoga itu kebiasaan baik, dan memiliki arti dalam relations kalian. Orang lain tak perlu mengerti meaning atau maknanya, tapi selama kalian dan orang-orang terkasih tetap merasakan kehangatan dari aktivitas itu, then teruskanlah.. Semoga menginspirasi untuk memunculkan kebiasaan-kebiasaan unik yang berarti..

Terkadang yang terpenting bukan apa, di mana, kapan, atau bagaimana tetapi yang lebih penting bagi siapa yang terlibat dalam kegiatan itu adalah mengapa.. 

 

 

nb: Cing, dengan dipostingkannya artikel ini, maka janji nulis topik ini di blogku lunas.. =D

Firasat Hati

Surabaya – 280409 – 10:17PM

 

Sejak lama aku menyimpan tanya di benak tapi selalu terhenti tanpa tahu jawabnya. Sampai malam ini aku membaca Rectoverso milik Dee dan kutemukan jawaban pertanyaan itu. Buku sastra yang menunjukkan keindahan dan kreatifitas Dewi Lestari (thaks to Dee) menjawab penasaranku akan pertanyaan, “Untuk apa aku punya feeling (hunch) kalau ternyata aku tidak bisa apa-apa, apalagi merubahnya?”

 

Mungkin padanan kata yang paling tepat untuk ‘hunch’ atau ‘feeling’ menurut persepsiku selama ini adalah ‘firasat’. Berdasar Encarta Dictionary: hunch disinonimkan sebagai feeling: an intuitive feeling about something, gut feeling, sixth sense, premonition, intuition, instinct, idea. Untuk bisa membedakan apakah itu pertanda atau bukan, periksalah ke dalam dan ke luar karena pesan yang sama biasa datang berulang. Tak bisa disangkal. Ada orang-orang tertentu yang merasa feeling atau firasatnya seringkali tepat. Namun, ada pula yang menyatakan tidak pernah ‘mendapatkan’ feeling atau apapun itu namanya. Tak jarang pula itu dikaitkan dengan kemampuan indera keenam manusia. Tapi menurutku yang lebih tepat adalah mereka kurang peka menangkap sign yang diberikan oleh hati, lewat alam dan apapun yang ada di sekitar kita. Karena setiap orang punya hati dan hatimu selalu berbicara padamu. Hanya saja hati dapat didengar pada waktu teduh dan ketika kamu membiarkannya bicara dan mau mendengarnya berbicara.

 

Sejak beberapa tahun terakhir ini, aku sering merasa punya feeling atau firasat terutama saat ada hal buruk yang akan tiba. I’ve got a hunch! Salah satu yang paling aku ingat sampai sekarang adalah kejadian tiga tahun lalu. Ketika kakakku mengalami kecelakaan mobil yang amat parah karena diterjang truk tronton. Seharian tiba-tiba aku merasa tidak enak badan. Tapi bukan, itu berbeda dengan rasa yang kualami saat masuk angin. Tak bisa dijelaskan tapi aku tahu ada sesuatu aneh di tubuhku. Seakan ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam. Sepanjang hari aku gelisah. Di dalam dada ini terasa berat dan seakan ada yang menekan. Saat itu aku tak menyadari bahwa itu adalah tanda yang diberikan tubuhku bahwa kakakku akan mengalami kecelakaan. Dan sore hari, terjadilah kecelakaan itu dan seketika itu juga semua rasa aneh itu hilang. Syukurlah kakakku tidak apa-apa, bahkan tanpa secuil goresan luka pun, meski kondisi mobil begitu mengerikan.

 

accident-1

 

Kejadian lain sekitar setahun lalu, kali ini terjadi kecelakaan ketika kakak mengendarai mobil yang biasa aku gunakan. Saat ia mengantarkanku ke kampus untuk pergi semalam ke acara outbond dengan rekan paduan suara universitas, entah mengapa dengan sadar tapi tanpa kusengaja aku berpesan, “Kamu jangan pakai mobil ini selama aku ngga ada di Surabaya.”  Sempat kurasakan ada sesuatu aneh tapi kuanggap angin lalu dan kuyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. Malamnya adik menelpon dan mengatakan kakak kecelakaan dan mobil biasa menemaniku beraktivitas itu remuk. Pada saat itu juga aku baru menyadari bahwa aku sudah diberi tanda di pagi hari.

 

Hal lainnya biasa muncul dalam takaran kejadian yang tak begitu dahsyat. Tiba-tiba saja aku merasakan ada yang aneh pada tubuhku, rasa seperti mual dan dada yang sesak serta gelisah menjalar seketika. Atau jari tergores luka, jam tangan yang kukenakan jatuh, kalungku putus, dan semuanya tiba-tiba. Tapi aku yang bisa kulakukan? Aku tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Alhasil yang bisa kulakukan adalah berdoa pada Tuhan. Lalu mencoba menghubungi orang terdekat dan menanyakan apa ada sesuatu yang mereka alami. Kadang mereka jadi heran dan ikut takut bila menerima smsku, “Apa kamu nggak apa-apa? Hati-Hati ya..” Bukannya aku mau menakuti, tapi aku pun gemas karena aku diberi tanda tanpa tahu pada siapa dan apa yang akan terjadi. Maka waspada yang bisa kusarankan, lagipula tak ada salahnya berjaga-jaga bukan? Terkadang rasa aneh itu hilang saat ada teman di luar negeri yang mengabarkan ia tiba-tiba sakit pagi ini, atau mama sakit, dan sebagainya.

 

Tak semua orang yang kukenal kutakutkan sedang atau akan tertimpa sesuatu. Kudapat firasat itu saat ada hal yang akan terjadi pada mereka yang punya ikatan lebih kuat denganku. Keluarga, sahabat, atau mereka yang namanya sering kusebut dalam doa sehingga tanpa sadar terjalin koneksi yang tak kasat mata. Entahlah, itu menurutku. Aku sempat jengkel pada keadaan ini. Karena aku merasa tak tahu dan tak bisa mengartikan tanda itu. Aku jadi tak bisa memperingatkan orang yang tepat. Aku pun tak bisa merubah yang akan terjadi. Lalu untuk apa aku bisa merasakan firasat atau bad feeling itu? Karena rasanya sangat tidak mengenakkan. Hati ini berat dan seharian gelisah uring-uringan tak jelas. Aku muak karena tak ada yang bisa kulakukan sekalipun aku mendapat tanda, justru tidak nyaman lebih dulu mengetahui sesuatu buruk akan terjadi sebelum yang lain menyadarinya.

 

hunch

 

Hari ini aku dapatkan rangkuman penjelasannya. Bukannya firasat itu tak bisa diartikan, tapi bila memang perlu diartikan, kau akan dimampukan untuk itu. Memang tak mudah menerima kempuan mampu membaca pertanda. Sekalipun firasat itu bisa kaurasakan, apa yang harus terjadi pasti akan tetap terjadi. Sekuat apapun berusaha menyangkal atau menolak, semua hanya sia-sia. Tak ada yang bisa mengubah apa yang telah Tuhan rencanakan. Tak ada yang pernah tahu itu sampai waktu lah yang akan menjawabnya. Lalu untuk apa tahu pertanda sebelum waktunya? Toh firasat tak bisa membuatku jadi lebih pandai tapi justru menyiksaku.. Jawabnya adalah, firasat ada agar kita bisa belajar menerima. Menerima firasat ketika itu belum terjadi. Menerima kejadiannya ketika itu sudah terjadi. Menerima segala sesuatu, baik atau buruk, yang terjadi dalam hidup ini. Dan akhirnya untuk berdamai dengan hidup yang tak selalu indah.

 

Pada akhirnya, firasat yang kuterima membuatku lebih dekat dan bergantung pada Tuhan. Ketika firasat itu datang mengetuk, aku segera berdoa untuk menenangkan batin dan berharap apapun yang terjadi, masih dapat diatasi, semua orang yang kusayang tetap dalam perlindungan Tuhan. Dan benar, belajar menerima hidup. Rentang waktu antara datangnya firasat hingga terjawabnya adalah waktu yang tak mengenakkan karena terjadi peperangan batin. Tapi justru di sanalah aku berbicara pada hatiku, mengimani bahwa rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan. Aku memang tak mampu menyelaminya seutuhnya saat itu juga, tapi aku dapat mempersiapkan diri dengan yakin bahwa Tuhanku ada bahkan di saat terburuk sekalipun.

 

Firasat adalah bahasa hati yang terlupakan..

 

Surabaya – 220409 – 10:23PM

 

Beberapa kali tempat wisata Taman Renang Alam Umbul Sidomukti ini diliput dan ditayangkan oleh beberapa program acara. Kemudian, bertepatan dengan rencana mengunjungi kakek dan nenek di Semarang, pada 20 April 2009, aku pun mengunjungi tempat ini. Dan ternyata memang tak jauh dari penginapan yang dikelola saudaraku di Bandungan. Dengan sedikit memaksa, akhirnya tiba juga aku di sana.

 

US 4

Tampaknya tak banyak warga Semarang yang pernah mendatanginya. Beberapa orang di daerah setempat menyebutkan tempat tersebut menjadi ‘agak’ populer tak lain karena mantan Pak Menteri yang memiliki lahan tersebut. Terlepas dari itu, tempat ini memiliki panorama alam yang sangat indah. Pemandangannya membuatku berdecak kagum, mensyukuri karya Tuhan yang luar biasa. Bila tak sedang berkabut, desa, hutan pinus, aliran sungai, dan terasering sawah yang berundak rapi di bawah sana dapat terlihat dengan jelas. Letaknya yang persis di tepi jurang dan lembah Ungup yang cukup dalam membuat awan-awan pun terasa dekat. Gunung Ungaran, Gunung Merbabu, dan Bukit Kembar Cimanggal menemani pengunjung berwisata di sini.

Panorama Umbul Sidomukti
Panorama Umbul Sidomukti

Umbul Sidomukti menawarkan kolam renang dari sumber mata air alami yang menyembur ke atas kolam yang disusun rapi dari bebatuan alam. Ada empat buah kolam yang bertingkat dan dapat dipilih sesuai kedalaman yang diinginkan. Airnya sangat dingin, jernih dan menyegarkan. Selain itu ditambah pula dengan beberapa sarana olahraga menantang keberanian di sisi kolam. Terdapat lintasan flying fox dengan dua pilihan track, marine bridge di lembah, rapeling menuruni lembah sisi kolam, dan ATV. Bagi mereka yang tak menyukai wisata alam dan tak gemar menguji adrenalin, mungkin saja akan kurang menyukai tempat wisata satu ini. Tapi bagi mereka yang sepertiku, pasti dapat memaklumi kekurangan yang ada dan menikmati wisata yang ada.

US 2 

Sejak mengetahui informasi lokasi ini, aku hanya ingin mencoba flying fox yang katanya berpanjang lintasan 110 meter, dengan jarak ketinggian dari titik terendah lembah sekitar 70 meter. Flying fox ini menyeberangi lembah, jadi seakan berpindah dari lereng bukit ke bukit di seberang dengan bergantung pada dua utas tali dan pengaman serta helm. Seperti biasa, flying fox dapat dilakukan dengan memilih gaya terlungkup seperti superman sedang terbang, atau gaya duduk biasanya. Tarif karcis flying fox lembah ini hanya 10.000 IDR, tak mahal untuk sekedar menguji keberanian. Ketika berangkat, hujan sedang melanda Bandungan, sehingga aku harus menunggu beberapa saat di mobil sampai hujan reda. Kemudian ketika hujan telah berubah menjadi gerimis, aku meninggalkan lokasi parkir dengan berjalan kaki mengikuti jalan yang telah disediakan menuju loket dan kawasan bermain. Bagi mereka yang belum pernah ber-flying fox, mungkin ada rasa takut menghinggapi. Buatku, ini adalah flying fox keduaku. Tak semenakutkan yang pertama, kala itu kulakukan di kawasan outbond di Jombang, Jawa Timur (pernah kutulis di post lain di blog ini). Tapi keunikannya terletak pada medannya yang menyeberangi lembah.

Flying Fox Lembah
Flying Fox Lembah

Informasi lain yang dapat kubagikan adalah harga tarif yang dipatok pengelola, agar pembaca dapat memperkirakan budget yang perlu disiapkan. Tiket parkir mobil 2.000 IDR. Tiket masuk untuk hari biasa 4.000 IDR/person dan 5.000 IDR pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur. Ingin mencoba marine bridge? Siapkan 7.000 IDR untuk tiketnya. 6.000 IDR untuk rapeling, dan 15.000 – 20.000 IDR untuk 3x putaran ATV. Selain tiket reguler, pengelola juga menawarkan paket untuk kelompok berisi minimum 30 orang.

Umbul Sidomukti dapat ditempuh dari arah Semarang menuju Solo, sampai menemukan pom bensin Lemahabang di sisi kiri jalan, berbeloklah ke jalan di kanan menuju ke arah Bandungan. Sampai di Pasar Jimbaran di sisi kiri, akan ada seperti 2-3 buah ‘gang’ jalan kampung di sisi kanan. Pilih salah satunya yang paling meyakinkan untuk ditempuh ke atas. Semuanya menuju ke arah yang sama. Tempuh jalan kecil itu untuk sampai ke Taman Renang Alam Umbul Sidomukti, Desa Sidomukti, Bandungan, Semarang. Sambil jalan, dapat ditemukan beberapa penunjuk arah berwarna biru di pertigaan jalan kampung.

Namun sayangnya, kondisi jalan untuk menuju ke tempat wisata di lereng Gunung Ungaran ini dapat kuberi nilai buruk. Publikasi petunjuk jalan di sekitar Bandungan tak banyak ditemukan dan masih sangat jauh dari cukup, untuk memberitahu masyarakat bahwa ada tempat yang dapat dikunjungi di atas sana. Bagi mereka yang memiliki jiwa petualang justru menjadi tantangan tersendiri. Selama sekitar 20 menit pada hari kerja biasa yang sepi pengunjung, harus menempuh medan jalan yang rusak dan berlubang, sempit karena hanya cukup lebar untuk satu mobil. Apabila berpapasan dengan kendaraan lain dari arah berlawanan akan sangat merepotkan, dan terus menanjak sampai tiba di lokasi. Bagiku itu bukan masalah, tetapi bagi yang mengemudikan mobil mungkin akan cukup mengesalkan. Jalan itu sempit dan rusak mungkin memang wajar sebagai jalan kampung, di mana para penduduk yang umumnya petani biasa berjalan kaki membawa hasil ladang untuk dijual di pasar. Lalu, tiba-tiba di puncak gunungnya terdapat lokasi yang dijadikan tempat wisata, dikunjungi oleh banyak kendaraan. Wajar bila infrastuktur jalan kampung yang seadanya itu belum siap. Tapi, aku pun yakin perlahan tapi pasti infrastuktur tersebut pasti akan diperbaiki seiring dengan berkembangnya tempat wisata ini.

Satu hal yang juga ingin kubagikan, Indonesia memiliki banyak potensi wisata alam. Namun, banyak pihak yang terkadang tak lain adalah masyarakat Indonesia sendiri, justru mencela kesederhanaan dan mengkritik kekurangan wisata seperti ini. Syukurilah bila ada pihak yang cermat menangkap potensinya dan membagikannya kepada masyarakat untuk menikmati alam bersama-sama. Wisata menikmati panorama alam, sejuk dan segarnya hawa pegunungan, melihat pohon masih tegap berdiri tanpa penebangan liar, sawah yang berundak, dan dihiasi sedikit kabut sangatlah mempesona. Dan buatku, hal tersebut justru jauh lebih baik daripada menikmati tayangan-tayangan televisi yang tampak menghibur tapi tak mengedukasi masyarakat. Tugas kita adalah mendukungnya bersama-sama. Bukan hanya mencerca kekurangan, tapi mendukung pembangunannya dengan berkunjung dan menikmatinya. Alam mengajarkan banyak hal kepada mereka yang mau rendah hati dan jeli menangkap pelajaran yang diberikan. Paling tidak, belajar untuk bersyukur dan melestarikannya.

 

The fool who loves giving advice on our garden never tends his own plants at all..

05 April 2009!! Itulah tanggal yang telah disepakati bersama oleh aku dan teman-teman seperjuanganku di kampus, untuk berfoto bersama. Sebenarnya kami sudah punya banyak sekali foto bersama di bermacam kesempatan, maklum kamera mungkin salah satu teman baik semua orang sekarang ini, dan termasuk kami.. Tapi, kali ini kami ingin sesuatu yang berbeda! Foto outdoor!!

Pengalaman seru ini kutulis di post, karena aku ingin merekamnya selalu sebagai salah satu bagian pengalaman unik dari sebuah persahabatan. Semoga kamu yang membacanya pun jadi teringat sejenak akan persahabatanmu, merindukannya, mensyukurinya, dan akan terus menjaganya. Persahabatan sebuah hal yang indah dalam hidup manusia. Hampalah hidup bila tak ada sahabat-sahabat yang mengitarimu. Waktu yang kau lalui bersama mereka bisa menjadi kenangan terindah yang menghadirkan senyuman dan menjadi cerita tersendiri yang hanya dapat dimaknai olehmu dan sahabat-sahabatmu, serta mereka yang menghargai sebuah persahabatan..

 

 

behind-the-scene-3

Lets start.. Nita, Tanz, Lele, Lili, Couz, aku, Ipon, dan Ella.. Seharusnya ada Elka di sana, tetapi karena ada kesibukan lain mendadak, ia hanya bisa ‘mupeng’ melihat setiap jepretan foto ini nanti. Entah sejak kapan muncul ide itu tetapi yang pasti kami menyetujui dan telah merealisasikannya! Yang pasti hampir semua dari kami melaksanakan Internship II di Jakarta. Kami seringkali terlibat kepanitiaan bersama, ya, mereka adalah wanita-wanita hebat di jurusanku.. Kami saling menunggu ketika sidang Internship II dilakukan. Sementara itu, hidup yang terus berjalan ini, perlahan memaksa kami untuk mulai menata hidup ke depan. Tak dapat dihindari lagi, kebersamaan wanita-wanita hebat ini pun akan jarang ditemukan nanti. Sebuah kenyataan yang nantinya tak mungkin dihindari.

Ella memang membuka usaha jasa pemotretan, dan kami pun menabung, mengumpulkan uang untuk merealisasikan ide gila ini. Termasuk gila karena setelah tanggal disepakati, ternyata tepat esoknya, Couz dan aku mendapatkan giliran untuk maju sidang kolokium. What a jackpot! Namun bagaimanapun kesepakatan sudah dibuat, janji harus ditepati. Maka foto outdoor itupun tetap dilaksanakan hari Minggu lalu, full day, tepat sehari sebelum sidang kolokiumku dan Couz, dan sebelum masa sidang kolokium tahap pertama ini dimulai bagi yang lain. Ya.. Serasa menjadi ajang merelax-kan diri sebelum sidang. Dan percaya atau tidak, taktik itu seringkali jitu untukku. Begitu pula dgn kolokiumku kali ini.. =)

Kami berkumpul di Rumah Aan pukul 10 pagi untuk di-make up dan mempersiapkan kostum dan acsesories yang akan dipakai. Aan dibantu oleh teman ‘dkk’ nya, ada Liong dan Nico. Kemudian dua mobil pun berangkat ke lokasi pertama, di Gr*media Expo. Kami kaget karena ternyata Aan akan memotret kami di tepi Jalan Basuki Rahmat, di trotoar Gr*media Expo, sementara mobil-mobil berlalu lalang di minggu siang itu. Kami pun serasa menjadi tontonan karena ide Aan ini. Lagipula difoto ’studio’ ataupun outdoor seperti ini adalah pengalaman pertama bagi beberapa di antara kami. Maklum, aku pernah berpendapat bahwa foto seperti ini hanya menunjukkan identitas yang ‘bukan’ sebenarnya karena make-up dan gaya yang diarahkan dan tidak natural. That’s why aku tak rela mengeluarkan uang untuk berfoto seperti ini. Tapi ini berbeda, bukan dari sudut itu aku melihatnya.. Oleh karena itu aku menyetujuinya.

Kegilaan yang lain, Aan meminta kami menyeberang jalan di zebra cross yang ada tepat di depan gedung itu. Dan ia akan memotretnya. What??! Dengan pakaian serba hitam putih dan riasan seperti ini?! Alhasil, kami benar-benar jadi tontonan. Takut + excited-nya serasa menguji mental lebih parah daripada sidang kolokium hahaha.. Sempat didatangi petugas beberapa kali pula haha..

 

behind-the-scene-1

Mengejar waktu, setelah iseng minta difoto di parkiran, kami segera beralih ke lokasi kedua, yaitu lahan di daerah Surabaya Barat. Tantangannya berbeda, semak duri jadi cukup merepotkan. Di lahan kosong, penuh semak dan ilalang, serta jalan setapak berbatu ini para wanita hebat dengan high heels masing-masing, akan dipotret lagi. Sampai senja tiba dan langit kemerahan sempat terekam di potret kami, kami pun beranjak ke lokasi terakhir. Dl*ops! Berganti kostum kedua dengan tema ‘keceriaan’. Perut keroncongan karena belum terisi makanan sejak pagi. Itu termasuk kegilaan yang lain. Mengejar suasana foto sampai tak sempat makan haha..

behind-the-scene-2

Setelah makan di salah satu stand yang ada, dimulailah kegilaan yang semakin malam semakin menggila itu. Ada banyak foto baik yang individu maupun bersama-sama dibuat di sini. So fun and all out!! Untuk Couz dan aku, tak biasa kami berpakaian seperti ini, tapi tak apa, demi.. hahaha.. Bahkan sempat difoto loncat bersama di tengah area tempat hangout yang sangat ramai di minggu malam ini. Cuek saja dengan keheranan pengunjung lain dan akhirnya selesailah sudah. Ohya kegilaan lain adalah kegilaan ini baru berakhir sekitar pukul setengah 9 malam.

Aku, secara pribadi menikmati semua yang terjadi di hari itu. Sebagai pengalaman pertama di foto outdoor dan bersama sahabat di jurusanku sebelum kami akan semakin jarang berkumpul dan menggila bersama. Hasil jepretan sedang diolah dan nantikan saja di Facebo*k.. Semoga ini akan selalu diingat oleh Nita Triwahyuningsih, Tansilia Diliani, Gloria Lady Leony, Liliana Anggreani Lestari, Veravinna Handoko, Yohana Ivone, Ella Pamela, Elkana Lewerissa (meski tak ikut serta tapi ia turut ada di rencana kegilaan ini), dan Widianti Gunawan Wijaya. Special thanks to Andreas Pratama and Elreas. I’ll miss this moment..

 

I went out to find a friend but couldn’t find one there, I went out to be a friend and friends we’re everywhere!!

 

Surabaya – 080409 – 10:16AM

Ia bisa saja tak bekerja tetapi ia memilih bekerja agar ada kesibukan yang dilakukan di hari tuanya. Tak sekedar diam di rumah dan melihat cucu-cucunya berlarian, dan membiarkan usia dan masa renta menggerogotinya. Ia memilih untuk tetap menggenjot sepeda tuanya dan membawa buah-buahan bersamanya..

 

Siang ini, di tengah kesibukan mengerjakan proposal kolokium, tiba-tiba kakak berteriak, “Pak Sis dateng..!”. Pak Sis, begitu keluargaku biasa memanggilnya, adalah seorang kakek yang menjual buah-buahan dengan berkeliling memakai sepedanya. Aku kaget dan sontak segera ke depan rumah dan melihatnya. Karena jujur saja aku tak menyangka ia masih hidup bahkan eksis dengan sepeda angin khasnya itu. Mungkin reaksi di benakku terdengar tak sopan tetapi sudah lama sekali aku tak melihat beliau.

 

Ketika aku keluar dan ikut bergabung dengan mama, kakak, serta pembantuku, aku menyapanya dengan riang. Dan Pak Sis membalas, “Walah, cucuku wes gede-gede rek saiki..” (Wah, cucu asaya sudah besar sekarang..) Yah, beliau mengganggap kakak, aku, dan adikku selayaknya cucunya. Maklum saja, karena ia telah menjajakan buah-buahan ke rumah kami ini sejak kakak masih baru lahir. Jadi terang saja ia mengetahui benar waktu demi waktu kami beranjak besar dan berusia 20-an sekarang. Guratan keriput di wajah tuanya terlihat jelas. Kulitnya hitam gelap karena terbakar terik mentari. Dengan topi yang dikenakannya, ia bercerita dan memamerkan deretan giginya yang menyisakan 4 buah gigi ketika ia tertawa.

 

Di jaman yang sudah semakin maju seperti sekarang ini, makin sulit ditemukan para penjual buah yang dengan mengendarai sepedanya berkeliling dan menghampiri rumah demi rumah langganannya. Ada begitu banyak hypermarket dan swalayan besar bertambah di Surabaya. Makin beragam pula jenis buah-buahan yang dijual, tak hanya buah lokal tetapi juga buah impor yang tak bisa ditumbuhkan di Indonesia. Semua makin memberikan banyak pilihan alternatif bagi konsumen. Di sisi lain, semua itu juga makin mendesak keberadaan para penjual buah seperti Pak Sis ini.

 

Mungkin di beberapa pemukiman masih bisa ditemukan teman-teman Pak Sis, tapi aku sangat angkat topi untuk ketekunan Pak Sis. Di usianya yang telah menginjak 71 tahun pada tahun ini, ia tetap konsisten menjual buah-buahan. “Aku ket umur 38 dodolan ngene kok Nik..” (Saya berjualan seperti ini sejak berusia 38 tahun..”. Itu jawaban yang diberikannya saat aku menanyakan kisah hidupnya. Sudah lebih dari setahun tak berjumpa dengannya tapi aku sudah mengenalnya sejak masih kecil. Biasanya ia mengijinkan kami bermain-main dengan sepeda tuanya itu.

 

Ia tetap kakek yang ramah, murah senyum, dan tak pernah memaksa. Kebaikan itu yang membuat keluargaku selalu membeli apapun yang sedang ia bawa di keranjang besar di boncengan sepeda anginnya itu. Hari ini ia datang membawa bentoel. Terkadang ia bergiliran membawa jeruk peras, rambutan, pepaya, melon, dan aneka buah tropis Indonesia lainnya. Satu jenis buah setiap kali datang. Buah yang dibawanya selalu memiliki kualitas bagus sehingga mengapa tak membelinya?

 Pak Sis

Memang tak bisa dijagakan untuk membeli buah hanya dari dagangan Pak Sis. Sebab ayah 8 orang anak dan kakek 10 orang cucu ini datang tak menentu. Terkadang menyapa kami sebulan sekali dan tak jarang pula lebih lama dari itu. Harinya pun tak menentu dan biasanya tiba di rumahku siang hari, seperti siang ini sekitar pukul 1 siang. Karena itu pula, aku sudah lama tak bertemu dengannya karena di siang hari biasanya aku ada di kampus. Sambil meminum sirup markisa yang kami berikan, ia bercanda dan melepas lelah di depan rumah kami.

 

Kali ini ketika ia datang, terbersit ide untuk menulisnya di blogku. Keluargaku selalu kagum akan usahanya. Kami seringkali berkata pada beliau, “Pak Sis udah tua kok ngga di rumah saja toh?”. Bukan bermaksud menyuruhnya diam saja tetapi lalu lintas juga semakin berbahaya sekarang dengan jumlah kendaraan yang makin tak terhitung. Tapi ia selalu berprinsip, “Kalau aku nggak kerjo, malah iso pikun, stress nang omah..” (Kalau saya tidak bekerja, justru bisa pikun dan stress di rumah saja..). Aku pun percaya bukan karena tuntutan ekonomi ia melakoni semua ini, karena anak-anaknya sudah menjadi orang yang berhasil dan bisa membiayai Pak Sis. Namun, mereka pun tak kuasa menahan semangat Pak Sis untuk tetap bergerak dan melakukan sesuatu di usia senjanya.

 

Mungkin kegiatan seperti ini justru baik untuknya. Karena dengan terus menggenjot sepedanya, ia jadi berolahraga. Dengan berjualan keliling, ia jadi tahu perubahan dan perggerakkan kota ini, tak ketinggalan “jaman”. Dengan menemui para pelanggannya, ia jadi seakan bertemu dengan teman-temannya. Dengan berinteraksi dengan pembelinya, ia dapat berbagi cerita dan keceriaan. Dengan terus bekerja, ia jadi mensyukuri hidup dan kesehatan yang masih ia miliki sekarang. Dan dengan senyumannya, ia jadi inspirasi buat sesamanya termasuk untukku..

 

Terima kasih yo.. Semoga Tuhan yang bales kebaikan e. Kapan dolan nang omahku yo, takkenalno keluargaku kabeh..” (Terima kasih, semoga Tuhan membalas kebaikan kalian. Lain kali berkunjung ke rumah saya, dan saya kenalkan dengan keluarga besar saya..), itulah salam dari Pak Sis sambil menggenjot sepedanya dan melambaikan tangan, beranjak dari rumah kami ke rumah-rumah lainnya, menjual buah dan menebarkan semangatnya bagi setiap mereka yang mau meneledaninya..

 

Surabaya – 310309

© Surabaya – 230309 – 11:43PM

 

Hari minggu yang lalu, keluarga besar dari ayah, pergi ke makam kakek nenek dan sanak keluarga yang lain di Gunung Gangsir, Pasuruan. Kegiatan itu merupakan sebuah bentuk usaha menjaga tradisi Tionghoa yang dinamakan Qing Ming (baca: Cèng Bèng), di mana setiap tahun terdapat saat untuk nyekar bersama. Aku ikut serta sejak masih menjadi yang paling kecil, kini sudah digantukan oleh para keponakan yang menyandang gelar tersebut. Ada yang berpendapat ini merupakan tradisi dari satu kepercayaan tertentu dan agak bertentangan dengan ajaran agama lain. Tapi aku melihatnya sebagai tradisi keluarga, tidak lebih.

 

Pada kenyataannya memang sesampai di makam, sanak keluarga yang memegang kepercayaan Kong Hu Cu, langsung mengeluarkan berbagai macam makanan dan buah, mengeluarkan yoshua, membakar lilin berwarna merah dan diletakkan di tempat semacam meja yang memang dibuat untuk menata semua itu. Secara bergantian mereka berdoa sambil memegang yoshua yang dibakar lalu setelah selesai ditancapkan ke tanah. Tapi keluargaku tidak melakukannya, karena agaknya tak sejalan dengan pola ajaran Kristen Protestan yang kami anut. Tapi kemudian kami bersama-sama menebarkan bunga di atas makam tinggi besar itu. Menata mawar dan kenanga agar terlihat indah dipandang. Tahap selanjutnya adalah membakar beberapa macam kertas. Aku tak paham betul tapi yang aku tahu, aku membantu sepupuku yang membakarnya agar tak sendirian di dekat lidah api yang panas itu. Tanpa motivasi lain.

 

Setiap orang boleh berpendapat, begitu pula dengan para pembaca dan juga denganku. Ketika aku baru memasuki masa remaja, tanpa pengertian yang cukup, aku jelas menolak semua kegiatan itu karena yang aku tahu itu bertentangan dengan apa yang diajarkan padaku. Menyembah mereka seakan allah padahal aku punya Allahku sendiri. Lagipula secara logika juga mereka sudah meninggal dan tidak perlu harus dikirimkan makanan toh yang memakan nantinya kita juga. Itu sebelum aku berpikiran lebih luas dan menjadi lebih dewasa. Sampai selalu bertengkar dengan tante dan sepupuku ketika Qing Ming tiba. Itu pengertian dangkalku dulu.

 

Sekarang aku paham bahwa Allah melihat hati. Motivasi apa yang mendorongku melakukan hal-hal tersebut. Aku melihatnya sebagai sebuah tradisi keluarga. Jujur kuakui, Qing Ming menjadi satu acara di mana bisa berkumpul dengan keluarga besar. Saat di mana mau tidak mau, semua “harus” meninggalkan sejenak rutinitas untuk menghormati keluarga yang sudah dipangil terlebih dulu. Alhasil semua bisa berkumpul. Makam Tionghoa tidak tampak menyeramkan, paling tidak di kala langit terang. Kami bisa berkumpul beberapa saat dan bercerita menanyakan keadaan keluarga yang lain di sana, minimal sampai lilin dan yoshua yang dibakar itu habis. Dengan kesibukan dan kehidupan masing-masing, berkumpul dengan keluarga besar seakan baru dapat terlaksana bila ada acara seperti ini.

 

Keluargaku tetap tidak membakar yoshua dan tidak menyembanyangi kakek nenek, tapi kami juga tak lagi menyebutkan itu sebagai kesalahan yang dilakukan oleh keluarga lain dan sepupuku. Tidak juga memakan makanan yang telah mereka persembahkan di meja penyembahan. Kami menghargai apa yang mereka percayai karena setiap agama punya caranya sendiri dalam menyembah Allah dan aplikasinya dalam kehidupan. Begitu pula dengan mereka, tak memaksa kami harus melakukan karena mereka menghargai apa yang kami pegang. Mereka juga membawakan makanan yang sama yang tidak dipersembahkan agar kami sama-sama bisa makan. Semua bisa saling membantu melakukan detail prosesi nyekar yang dilakukan setahun sekali ini.

 

Sebenarnya aku sempat takut untuk menuliskan topik ini di post, karena termasuk topik dengan kategori sensitif. Namun, ini adalah tempatku mengeluarkan buah pikiranku dan pendapatku jadi lihatlah dengan sudut pandang itu. Aku belajar bahwa saling menghargai itu penting, tanpa perlu saling menyalahkan apa yang dianut. Dengan menghargai batasan masing-masing dan toleransi, justru konflik itu terhindarkan dari keluarga besarku. Sama saja bohong bila aku tidak mau terlibat dengan apa yang mereka lakukan tapi aku juga tidak bisa memberikan contoh baik dalam keseharian. Sama saja bohong bila merasa paling benar dan menyalahkan yang lain tapi itu justru jadi batu sandungan untuk agamaku. Namun, ketika semua pihak bisa saling bertoleransi dan memandangnya tidak dengan dangkal, kekeluargaan justru bisa makin erat terbangun.

 

Kini banyak keluarga Tionghoa yang sudah tidak melaksanakan tradisi Qing Ming. Memang, nyekar tidak harus menunggu Qing Ming, oleh karena itu aku menganggap ini sebagai sebuah tradisi. Bukan kegiatan kepercayaan atau agama tertentu. Tidak ada yang salah atau benar, hanya bila tidak lagi dilakukan maka tradisi yang jadi semacam identitas akan luntur dan hilang dimakan jaman. Bukan pula karena itu bagian dari identitas, jadi menampakkan etnis Tionghoa eksklusif. Bukan dengan sudut itu memandangnya! Setiap suku dan etnis pasti memiliki tradisi dan adat istiadat masing-masing yang menjadi bagian dari identitas sebuah suku. Begitu pula yang kumaksud, selama tradisi ini tidak merugikan orang lain, justru bisa menjadi ajang kekeluargaan, tidak apa bukan bila tradisi ini tetap dilakukan? Tak dilakukan pun tak apa, semuanya kan pilihan.. Kalau tak mau melakukan maka juga tidak perlu menyalahkan.

 

Tradisi Qing Ming sempat menjadi kontroversi di keluargaku dulu. Keberadaannya dikaitkan dengan penyembahan ajaran agama tertentu, tetapi juga merupakan bagian dari tradisi etnis Tionghoa. Namun, tradisi ini juga menyisakan sebuah kesan, tradisi yang sarat dengan mempererat tali kekeluargaan. Semoga tidak ada lagi yang saling menyalahkan tetapi coba untuk toleransi dan menghargai. Bukan hanya butuh dimengerti tetapi mau berusaha mengerti..

9 Maret 2009 lalu, karena libur, aku sempatkan pergi ke Kediri, ke rumah salah seorang sepupuku. Tak begitu jauh dan tak melelahkan. Aku hanya ingin melihat pemandangan lain selain gambaran Surabaya setiap hari. Siang itu, setelah makan di sebuah kedai sate yang terkenal di sana, tentunya kami menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh khas Kediri. Sebelum tiba di lokasi, kami melewati sebuah Klenteng, rumah ibadah orang-orang penganut kepercayaan Kong Hu Cu. Klenteng itu ada di tikungan dan dinamakan dalam Bahasa Indonesia sebagai Klenteng Mitra Graha. Tampaknya klenteng itu merupakan salah satu klenteng yang terkenal di Kediri. Tepat di belakangnya, terbentang Sungai Brantas yang besar itu melintasi kota tahu ini.

Aku tertarik untuk mampir dan melihat-lihat, namun mobil terlanjur melaju maka pusat oleh-oleh pun dikunjungi terlebih dulu. Toko oleh-oleh sekaligus pusat dari tahu Poo itu sangat ramai di hari itu, maklum karena libur. Selepas dari sana, kami pun kembali berputar ke Klenteng Mitra Graha.

Aku cukup kagum dan tak menduga, bahwa ternyata papa punya andil dalam pembangunan klenteng itu. Sebelum lulus kuliah, di tahun terakhirnya, ia bersama dengan 3 teman baiknya di Jurusan Sipil UK Petra mengerjakan proyek pembangunan klenteng tersebut. Bahkan kakek, yang sudah meninggal beberapa tahun lalu, sempat tinggal sebulan di Kediri kala itu. Kakek yang mudanya adalah seorang tukang kayu, turut membuat kebutuhan klenteng tersebut yang terbuat dari kayu, seperti jendela bulat dan pintu utamanya. Wah, aku tak pernah menyangka, ternyata ada secuil riwayat keluargaku di sana. Pantas saja, papa tampak bernostalgia dengan setiap detail bangunan tersebut.

Sekalipun keluargaku bukan penganut kepercayaan Kong Hu Cu, tapi kami menghargai rumah ibadah tersebut. Rumah ibadah yang disakralkan oleh penganutnya ini sangat kaya akan warna dan menarik. Meski tak sampai 10 menit aku di sana, aku sempatkan mengabadikan beberapa foto salah satu klenteng terbesar di Kediri ini.

Surabaya – 120309

 

Older Posts »