Feeds:
Posts
Comments

Kembali Kemari (2)

Ini bukan tentang menang atau kalah. Bukan juga tentang siapa yang lebih hebat atau lemah. Tapi masih tentang siapa yang berjuang atau menyerah.

Entah belum saatnya atau mungkin tidak untuk kembali kemari. Tidak bisa dengan mudah untuk mengucap pilihan kedua tentunya. Memang ada banyak sekali tawaran hidup yang mengharuskanku memilih dan bersikap menghadapinya. Aku merasa ada yang juga membutuhkanku.

Kuperlu pertimbangan yang lebih matang. Meski bagaimanapun, semua akan dijadikanNya indah pada akhirnya, pasti! Pun, kubisa jalaninya dengan senang tanpa paksaan. Tapi aku tak bisa biarkan semua mengalir dan menerimanya saja. Hatiku punya hak untuk didengar. Dan aku punya kewajiban mendengarkan dan mempertimbangkannya.

Aku belum berjuang apapun, hanya baru menapakkan langkah pertama di pasir pantai ini. Merasakan kehangatan yang masih terasa panas karena indra perabaku belum terbiasa. Tapi tubuh dan otakku juga tahu bahwa aku masih baik-baik saja. Di pantai itu terhampar luas pasir yang hangat tetapi terasa panas yang menanti pijakan kakiku. Kuhanya harus mencari tahu di sebelah mana sebenarnya aku mau dan bisa berdiri serta menyesuaikan diri. Tapi aku tak akan berdiri selamanya di sana. Aku mau berdiri di pantaiku sendiri, suatu saat nanti..

Bila bicara membuka pintu, masih ada banyak sekali deretan pintu yang akan terbuka dan tertutup serta membuka dan menutup. Aku belum melakukan apapun maka tentu tak bisa bicara lelah karena ini belum masuk ke perjuangan membuka dan menutup pintu-pintu itu. Perjuangan itu akan terjadi bila nantinya kupilih kembali kemari. Akankah?

This is about being the right man, on the right place, at the right time..

© BeBe – sub – 190110 – 01:37AM

Everybody knows that drinking a lot of water is necessary. But I never know the specific benefit before I read this forwarded info from my dad. More of it, drinking it in the certain times, will maximize its effectiveness to human body. Better pay attention on this.. ;)

2 glasses | after waking up | helps activate internal organs

1 glass | 30 minutes before meal | help digestion

1 glass | before taking a bath | helps lower blood pressure

1 glass | before sleep | to avoid stroke or heart attack

Bring your own bottle always..

©BeBe – Jkt – 140110

Kembali Kemari (1)

Aku kembali ke sebuah tempat yang serasa selalu memberi harapan baru. Sebuah tempat yang membawaku menjauh dari masa lalu. Ada banyak hal baru yang memang tak selalu nyaman tetapi aku mulai belajar terbiasa. Dan rasa itu jauh lebih baik karena aku tak mau terpuruk di kubangan memori lama.

Rasanya belum sampai dua minggu yang lalu aku masih menerka entah kapan aku dapat kembali lagi kemari. Namun, selalu ada yang membuatku kembali. Memanggil-manggil hati kecilku ini. Aku hanya mencoba memenuhi panggilan itu dan menembus awan untuk menggapai cakrawala di ujung sana.

Kali ini panggilan itu datang di saat baru dua hari aku meninggalkannya. Ada keraguan yang cukup lama bertahan di sana. Haruskan aku kembali? Separuh bertaruh akhirnya kuputuskan untuk berangkat. Aku berangkat untuk sesuatu yang aku pun belum tahu jawabnya. Tapi toh tak ada yang berhak menahanku tak kembali kemari.

Aku berpikir, setidaknya ada sebuah perbedaan antara orang yang menyerah dan orang yang berjuang. Orang yang menyerah hanya punya satu pilihan untuk hidupnya, yaitu gagal. Sementara orang yang berjuang akan memiliki dua pilihan untuknya sendiri, yaitu berhasil atau gagal.

Aku ingin melangkah tapi tak tahu pintu mana yang harus kumasuki. Semuanya masih tertutup. Ada sebuah pintu yang ingin sekali kumasuki tetapi tak dibuka untukku, mungkin belum saatnya. Lalu tiba-tiba tanpa terduga sebuah pintu lain terbuka untukku! Kuberanikan untuk mencoba melangkah.. Sebab aku tak bisa diam di tempat dan membiarkan waktu serta hidup menghantamku telak.

Kusadari sejak awal aku kembali untuk sesuatu yang tak pasti. Satu hal yang kutahu, ketika aku kembali kemari, berarti ada harapan untukku berhasil dan bukan hanya gagal. Aku kembali karena aku harus melangkah maju bukan diam di tempat apalagi mundur. Aku kembali sebagai wujud syukurku untuk pintu yang dibuka itu. Aku kembali kemari untuk mencari tahu kemana Tuhan ingin membawaku..

Taking no risk is the greatest risk of all..




090110 – 23:38PM

Putih tinggi menjulang di tengah lapangan rumput hijau. Bagaikan sebatang pensil putih raksasa berdiri di sana. Ukiran emas menghiasi lingkar bawah dan sekitaran ujung runcingnya. Itulah Tugu Pahlawan, monumen yang sangat penting bagi perjalanan sejarah Kota Surabayaku..

Tahukah kau dahulu di kawasan ini berdiri markas polisi Jepang? Arek-arek Suroboyo kala itu menghancurkan dan mengambil alihnya. Kemudian dijadikanlah Monumen Tugu Pahlawan ini untuk melambangkan kebanggaan arek Suroboyo menang pada pertempuran 10 November 1945. Hero Monument & Tenth November Museum buka mulai puku 08.00 sampai sekitar pukul 14.00. Pada hari Senin dan hari libur nasional, tujuan wisata ini ditutup untuk pemeliharaan.

Masuk pelataran parkir dari sisi jalan Tembaan. Bila dari arah Pasar Turi, harus mengitari kawasan Tugu Pahlawan dan Bank Indonesia lalu mengambil lajur paling kanan untuk berbelok masuk. Seturun dari kendaraan masuk melalui pintu gerbang di sisi samping depan patung Soekarno Hatta. Lapangan rumput hijau luas dikelilingi jalan taman dengan bunga alamanda kuning menjadi kanopinya. Bersih dan tampak terawat. Terdapat patung beberapa pejuang berdiri di dalam kawasan taman.

Di bagian ujung kiri, tampak loket masuk ke dalam Museum Sepuluh Nopember. Hanya 2.000 IDR yang harus dibayar setiap orang. Museum ada di bawah, bertingkat 2 lantai. Beberapa koleksi yang dianggap bernilai sejarah bagi kota kelahiranku bisa dilihat. Beberapa batang bambu runcing. Senapan-senapan kuno hasil rampasan dari para penjajah Belanda, Jepang, maupun Inggris. Foto suasana dan bangunan lawas Surabaya. Diorama sederhana tentang masa penjajahan di Surabaya. Pemutaran film sederhana juga ada di ruangan tersendiri.

Selama 22 tahun lebih dilahirkan dan tinggal di Surabaya, baru kali ini aku masuk ke dalam kawasan Monumen Tugu Pahlawan. Malu? Lumayan. Rumahku memang tak begitu jauh dari sana sehingga hampir selalu melewatinya sebelum mencapai tempat tujuan di tengah kota. Sekitaran 2 tahun lalu, di tengah malam juga sempat mengantarkan rombongan jurnalis kampus berfoto di depan monumen itu. Namun tetap saja bukan masuk ke dalam tembok hijau apalagi museum yang ada di lantai basement. Tanpa pikir panjang, ajakan sepupuku ke Tugu Pahlawan ku-iya-kan. Bersama dengan keempat keponakan, aku membayar rasa ingin tahuku. Mendung dan hujan gerimis menemani wisata singkat kami.

Bila kau warga Surabaya, sudah sepantasnya sekali dalam hidupmu pernah mengunjunginya. Kuakui tidak sebagus yang kubayangkan karena aku membandingkannya dengan Monas yang memiliki diorama sangat banyak dan bagus (read also: Monas). Tetapi, kawasan Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh Nopember yang resmi didirikan di tahun 2000 ini lebih bersih dan terawat dari yang kuduga. Setidaknya ketika bertemu warga dari kota lain yang bertanya tentang si pensil raksasa itu, dengan bangga kau bisa menceritakannya. Sederhana dan apa adanya tetapi harus tetap dijaga bersama sebagai saksi sejarah. Wisata Surabaya bukan hanya mall yang makin bertambah saja jumlahnya, tetapi wisata sejarah sangat kental mewarnai kota ini. Inilah salah satunya.

Rawe-rawe rantas, malang-malang putung..!

Sby – 301209 – 5:55PM

 

Here are some photos that I took while visiting Hero Monument & Tenth November Museum.. Back to my old hobby, there you go..

 

   

   

 

Deretan pohon cemara udang hijau tua di sepanjang bibir pantai, butiran pasir putih kekuningan terhampar luas bermain di sela jemari kakimu, suara desiran ombak menjadi alunan musik alam yang langka terdengar, kilauan riak ombak membaur dengan biru kehijauan laut, sinar matahari menghangatkan kulitmu dan mulai menggelitiknya, dinaungi biru cerahnya langit disapu helaian awan putih tipis. Welcome to Pantai Lombang..


Sambutan pemandangan alam yang masih sangat alami dan tampak jelas belum tersentuh banyak tangan jahil manusia yang tak mensyukuri alam. Semua masih bisa tertangkap apa adanya di sana, ujung Sumenep, Madura. Keunikan tumbuhnya vegetasi cemara udang di tepian pantai dan bukan pohon kelapa seperti pantai pada umumnya menjadikan pasir pantai masih terhampar luas bahkan sangat luas di sana. Angin laut yang bisa menerbangkan sedikit demi sedikit butiran halus pasir tertahan dan teruraikan oleh pasukan cemara udang.

Indah, bebas, seakan lupa waktu dan beban hidup ketika menikmati pantai yang serasa milik sendiri itu. Bagiku, gunung memberikan rasa damai sementara pantai memberikan kebebasan. Saat itu, kebebasan itulah yang ingin kucurahkan sekaligus kudapatkan kembali. Maka Lombang (baca: Lombéng / Lombhéng) yang sudah lama kuincar akhirnya berhasil kudatangi bersama teman-temanku. Tercurahlah semua ekspresi kebebasan dari skripsi itu.

Demi mencapainya, dibutuhkan sekitar 4 jam dengan pengemudi yang handal, sabar, terbiasa mengemudi jalur antar kota, serta kondisi kendaraan yang optimal. Selepas Jembatan Suramadu, jalur yang harus ditaklukkan cukup menantang. Permukaan jalan berombak, hanya ada satu lajur untuk masing-masing arah, dan pengendara motor yang bisa tiba-tiba muncul dari perkampungan sekitar. Bukit kapur, bebatuan, tanah merah, pohon siwalan, pantai, nisan di pemakaman kecil, bata putih, puluhan warga berjejalan dalam satu bak pick up, bergantian muncul mewarnai perjalanan di Pulau Garam. Sesampai di Sumenep, perhatikan setiap petunjuk arah berwarna hijau itu. ‘Pantai Wisata Lombang’ begitulah yang tertera. Jalan menuju kawasan pantai juga tetap jalan kecil sehingga kewaspadaan tetap diperlukan.

Wisata alam ini berpotensi untuk digarap lebih baik dan lebih serius lagi. Kompleks memang, karena melibatkan banyak hal berkaitan. Bila turis melihat sarana prasarana di Lombang baik adanya pasti dengan sendirinya 4 jam perjalanan pun rela ditempuh. Sementara bila banyak turis yang datang, pendapatan pengelola bertambah, maka kondisi jalan bisa diperbaiki dan dengan sendirinya menarik pihak lain untuk membangun fasilitas. Namun, tetap saja semua membutuhkan kedewasaan dan dukungan warga lokal untuk membuka diri terhadap hal baik untuk kemajuan bersama.

Rugi rasanya bila pantai yang begitu indah hanya disimpan sendiri. Bukankah seharusnya cara manusia bersyukur adalah memanfaatkannya dengan benar dan melestarikannya? Lagipula saatnya tunjukkan pada dunia pantai-pantai Indonesia yang eksotis. Agar jangan hanya menyalahkan pihak luar ketika satu per satu bagian kekayaan negera kepulauan ini diakui mereka, tetapi justru kitalah yang harus mengakuinya terlebih dulu.

Saranku, datanglah beramai-ramai karena pantai ini begitu sepi. Bukan hanya demi kenyamanan dan keamanan, pantai ini masih sangat sederhana tanpa ada persewaan alat snorkeling atau lebih dari itu. Bawalah penganan karena jaraknya masih sekitar 45 menit dari Kota Sumenep. Bila mempunyai teman yang menguasai dialek madura, itu akan lebih baik lagi.

Lombang, pantai yang memadukan hadiah alam, kesederhanaan, dan wujud sifat dasar masyarakat setempat..

See more photos of Lombang Beach

Jakarta – 211209 – 22:12

Skripsi Rasa Mangga

Buah tropis itu berkulit hijau. Daging buahnya kuning kejinggaan. Biji buah besar di tengah. Rasanya manis, legit, dan sedikit asam. Ya, rasa itu tentu terasa kuat melekat untukku. Mangga! Memberi warna jingga cerah di perjalanan skripsiku. Seluruh rangkaian skripsiku berakhir pada saat musim mangga dimulai di akhir 2009.

Begadang di bulan-bulan terakhir untuk menganalisa seringkali dimulai dengan sepiring kecil mangga. Maklum, sel-sel saraf yang terjalin di otakku baru bekerja maksimal justru di malam hari, di kala semua orang di rumah mulai terlelap. Meninggalkan aku sendirian terjaga di depan laptop. Itu berarti beberapa jam setelah makan malam usai. Sebuah kebiasaan di rumahku, selalu mencuci mulut dengan buah atau ice cream setelah makan.

Tahun ini mangga mulai banyak ditemui sejak September. Sampai dengan November ini makin melimpah ruah hingga harganya jatuh di pasaran. Di satu sisi aku senang, di Indonesia bisa dengan mudah dan murah mendapatkannya. Di sisi lain, sayang sekali buah seenak itu hanya dihargai rendah.

Mangga berasal dari India. Kemudian banyak tumbuh di Asia Tenggara. Kaya serat dan antioksidan. Mango mengandung sekitar 20 macam vitamin dan mineral. Itu membuatnya menjadi salah satu buah yang paling kaya nutrisi.

Musim ini, mangga selalu saja ada di rumahku. Memang bukan lagi dari pohon mangga di pekarangan yang sudah ditebang ketika awal renovasi rumah setahun ini. Dulu, mangga manalagi itu selalu berbuah bahkan 2-3 kali setahun. Enak sekali tinggal memetik di depan rumah. Kini masih ada satu pohon mangga arum manis tetapi jarang berbuah dan lebih banyak dipetik tetangga lain sebelum sempat menikmati.

Tetapi tetap saja mangga selalu bisa dinikmati. Entah karena diberi, pernah juga mama membeli hasil kebun pekerja yang sedang merenovasi rumah, atau tentu saja membeli di pasar. Semuanya lezat! Terlebih menjadi makanan pembuka untuk begadang skripsi. Dan skripsi berakhir saat musim mangga semakin mencapai puncaknya.

Tak heran bila setelah selesai, berat badan sedikit bertambah. Ternyata manisnya mangga mengandung karbohidrat yang akan mengendap bila tak banyak bergerak. Mangga tahun ini enak dan manis. Sebab banyak yang kami nikmati adalah mangga yang masang di pohon atau suluhan. Matang alami yang cukup dikupas dan dinikmati. Semanis hasil akhir tugas akhirku.

Tugas akhir S-1 kulalui dengan proses yang manis, legit, dan sedikit asam seperti rasa mangga. Berakhir dengan hasil cerah seperti warna daging buah mangga yang kuning jingga cerah. Selesainya seluruh rangkaian ini seiring dengan musim mangga yang sampai mencapai puncaknya. Tampak sepele tetapi musim mangga kali ini cukup berkesan buatku.

Mango are an excellent source of vitamins A and C, and for those who are physically active, whether working out or constantly on the go, mangos are a great way to replenish that lost potassium.

 

Sby – 17/11/09 – 6:05PM

Minggu 08/11/09, akhirnya aku mampir ke Batu setelah sekian tahun. Aku malu belum pernah benar-benar berwisata dan menjelajah habis kota apel ini. Hari ini aku dibuat ‘mupeng’ oleh pesonanya dan aku berencana segera kembali dengan seabrek target haha.. Paralayang, BNS, peternakan kelinci, penangkaran lebah madu, dan gule kambing! Who’s with me?

 

Tadi aku tak sempat berlama-lama. Bersama keluargaku kami melihat-lihat beberapa kebun pisang di daerah Pujon. Memanjakan mata menatap hijaunya alam. Menikmati dinginnya Batu yang diguyur hujan di sore hari. Membeli berkilo-kilo wortel segar di pasar induk. Dan tentu saja, mencicipi kuliner Batu! I recommended you to try this one and I bet you’re gonna like it!

 

Sate Kelinci! Itulah nama rumah makan lesehan di Jalan Patimura yang menjadikan sate kelinci sebagai menu andalannya. Tusukan daging yang besar, empuk, merasuk, dan disajikan di atas hot plate bersama bumbu kacang dengan topping irisan bawang merah plus rawit! Harganya 20.000 IDR untuk 10 tusuk.

Sate Kelinci

Selain itu menu unik yang juga kucoba adalah kelinci goreng! Penasaran dengan wujudnya dan ternyata memang tersaji setengah ekor kelinci seperti ayam goreng lengkap dengan lalapan. Aku memang penyuka kelinci termasuk hasil olahannya. Tak hanya lucu bila dipelihara tapi tekstur dagingnya mirip dengan ayam dan bebas kolesterol. Beberapa kali di beberapa tempat mencoba sate kelinci tetapi biasa saja. Malah seringkali tidak lezat karena dagingnya jadi terlalu alot karena salah olah.

Kelinci Goreng

Resto unik yang berdiri sejak 1997 ini meyakinkanku bahwa kelinci memang bisa diolah dengan lezat! More than my expectation. Harga pun terjangkau dan reasonable. Sepertinya bagi yang belum pernah makan daging kelinci, kau takkan kecewa untuk pengalaman pertama bahkan will give you a nice first impression. Bagi yang gemar, maka patut di-rating apakah selera lidah kita sama hihihi.. Kuberi nilai 8.5 untuk lezatnya dan 1.5 lain karena nuansanya terlalu gelap.

 

Letaknya mudah ditemukan. Ada di sisi kanan dari arah Surabaya menuju Batu. Cukup jauh sebelum berbelok kiri untuk ke BNS, Jatim Park, dll. Bernuansa kayu dan berpalangkan tulisan Sate Kelinci berwarna kuning. Lagipula pasti semua warga Batu mengetahuinya. Begitu pula denganku yang tahu bila aku pasti akan kembali wisata kuliner ke sana while having my vacation to Batu, soon!

 

..badanku bulat tak bisa tinggi, persis kaya anak kelinci.. (Gang Kelinci)

 

 

Sby – 09/11/09 – 00.44AM

Living Abroad

Akhir-akhir ini semakin terpikir untuk tinggal di luar negeri. Sebenarnya dari dulu aku selalu berimajinasi bagaimana rasanya tinggal di luar negeri. Namun karena banyak hal aku hanya menganggapnya khayalan asal lalu saja. Sesekali muncul gambaran diriku berkostum winter haha.. Tentu saja bukan di Indonesia kan bila berpakaian seperti itu? Tetapi imajinasi yang satu itu bisa benar-benar cukup jelas tergambarkan. Coat, boots, dan scarf menghangatkan leherku. Negara mana? Emm, sepertinya sesuatu berbau barat hihihi..

Mungkin semua muncul karena keinginanku. Akhir-akhir ini ketika semua orang bertanya hal yang sama, “Mau ngapain sekarang Be?”, pemikiran itu kembali muncul. What about living abroad? Sepertinya seru.. Hidup cuma sekali, jadi aku ingin dan (sepertinya) harus pernah merasakan tinggal di luar negeri. Pasti akan ada banyak sekali hal baru yang aku pelajari. Mencintai Indonesia bukan berarti tidak boleh membuka mata melihat dunia luar bukan? Mencari suasana baru. Lagipula untuk saat ini, tidak alasan yang menahanku untuk tetap bertahan di Surabaya. Tidak seseorang atau sesuatu..

Lalu kalau ingin living abroad, bisa dengan tinggal seterusnya suatu hari nanti di luar sana atau merasakan tinggal dalam waktu yang cukup lama lalu kembali lagi kemari. Kalau liburan tentu berbeda dengan tinggal. Karena liburan akan mengunjungi tempat-tempat ‘wisata’. Tak terlintas dan tak bisa kubayangkan kalau berpasangankan orang asing hahaha.. Jadi untuk living aboard, bagaimana kalau sekolah saja di luar?? Berarti scholarship. Wew..

Jujur saja pikiranku yang satu ini membuatku makin bingung untuk menjawab pertanyaan yang sedang trend dipertanyakan oleh semua orang ketika melihat wajahku muncul di hadapan mereka. Agak hiperbola memang, se-hiperbola aku yang bingung menjawabnya. But, hopefully oneday I could make it happen, living abroad! Lets see ya..

Sby – 081109 – 2:22AM

Pada hari ini Rabu, 21/10/2009, telah dilangsungkan ujian skripsi atas:
   Nama: Widianti Gunawan Wijaya
   NRP: 51405118
   Judul: Pemanfaatan Shell Wide Web sebagai Media Komunikasi Internal PT. Shell Indonesia
Para penguji memutuskan bahwa yang bersangkutan dinyatakan LULUS..

Itulah secuil bukti dari lulusnya seorang mahasiswi biasa yang menyerahkan setiap detik perjuangannya kepada Tuhan dan hanya menjalankan yang Tuhan minta, yaitu melakukan yang terbaik yang ia mampu berikan. Tuhan masih memberikan bonus, yaitu nilai A. Bukan karena kemampuannya karena kemampuan itupun Tuhan yang berikan. Bila ada kesempatan yang dimanfaatkan, itupun berasal dari Tuhan. Tuhan berikan yang terbaik untuk setiap hal yang dibutuhkan anakNya. Ia hanya minta agar mereka datang, mendahulukanNya, berharap, dan mengimaniNya..

Saat kaki melangkah masuk ke ruangan, aku berkata dalam hati “Tuhan, mari kita berperang..”. Grogi hilang seketika dan ruangan terasa hangat. Tuhan memilihkan Bpk Dekan Ido dan Bu Asye sebagai penguji. Bu Yuli dan Bu Inggrit ada di sana sebagai dosen pembimbing. Cukup unik karena materi bab 4 dan 5 sama sekali tidak dipertanyakan. Sidang berlangsung cukup cepat, tidak sampai satu jam. Pertanyaan lebih banyak berupa masukan. Setelah dinyatakan lulus, aku keluar dan sekali lagi berdoa bersama teman-teman yang sudah menungguiku. Kalimat pertama terucap, “Tuhan, terima kasih..” dan air mata mengalir seketika.. Itu kata terima kasih yang penuh arti dan penuh ucapan syukur. Seketika kelegaan terasa dan melihat Tuhan telah memimpinku menang dalam peperangan bernama skripsi ini. Bukan hanya selesai tetapi menang..

Sms support yang terus masuk itu membuat PDA bergetar dan senyum tersungging. Aku senang banyak sekali yang peduli padaku. Semakin banyak yang mendoakan makin baik. Itu pesan salah seorang temanku. Dan betapa luar biasanya kuasa doa itu. Ada banyak sekali orang-orang yang mendoakanku sebelum aku maju sidang bahkan pada saat aku masuk dan berjuang sidang. Mama tidak keluar kamar dan mendoakanku selama sidang (doa ibu memang besar kuasanya ^^). Mrs. Liz, my Pastor’s wife also pray for me. Dan tentu ada banyak doa lainnya, yang baru kuketahui setelah sidang selesai. Dan itulah yang membuat rasa percaya diriku muncul dan kupenuhi janjiku untuk beri yang terbaik yang aku bisa.

Sebenarnya sempat takut akan respon pembimbing-2 ku. Kami sempat ada beda pendapat. Beliau merasa aku terburu-buru memaksakan skripsi selesai di periode II ini. Ada hal yang membuatnya tidak puas dengan penelitianku tapi aku pun tak tahu di mana itu (Bu Inggrit, this is my confession hahaha..). Namun aku berhasil meyakinkan bahwa memang harus selesai di waktu ini hingga ACC kuperoleh, “tapi saya tidak tanggung akibatnya pas sidang nanti..”. Aku down dan sempat kusebutkan di Notes sebelumnya bahwa aku jadi tidak yakin dengan penelitianku sendiri (This is  the reason why). Takut bila pembimbingku sendiri tidak memihakku. Hal positifnya adalah aku tidak menjadi over confident (Bu, apakah ini bagian dari taktik? haha..) dan malam sebelum sidang, dalam doaku aku tetap mensyukuri kedua pembimbingku. Dengan kelebihan dan kekurangan mereka, aku yakin itulah yang terbaik yang Tuhan sediakan untuk membimbingku. Dan aku memohon agar Tuhan melunakkan hati Bu Inggrit (It’s true..). Dan kau tahu? Bu Inggrit memberi nilai tertinggi di antara 4 dosen yang ada di ruangan itu.. (Thanks Bu, it means a lot..) Isn’t it awesome? My biggest fear become the highest score..

Papa begitu senang saat kuberitahu hasil sidangku (Mom and Dad, this is for you..). Kalau hasilnya secara nilai dosen memberi nilai A, aku sendiri menilai A untuk prosesnya. Papa adalah dosen pembimbingku yang pertama dan pembimbing pribadi tentunya (dulu ia memang Dosen Sipil). Sejak awal pemilihan topik, aku brainstorming bersamanya di Jakarta. Kala itu aku punya beberapa ide, dan jujur topik yang kumajukan ini adalah yang paling sederhana. Itu karena papa yang sangat idealis berujar, “Be, kamu ini skripsi untuk S1, dosenmu pun tau kapasitas anak S1. Kalau mau meniliti yang rumit, nanti saja setelah kamu kerja. Lebih baik topik sederhana tapi kamu maksimal daripada topik mulia tetapi kamu biasa aja..”. Aku jadi tersadar! Papa sangat idealis tapi bisa berpesan seperti itu?

Lalu waktu Lebaran aku tetap harus ikut mengunjungi kakek nenek ke Semarang. Pagi berlibur, malam buka laptop. Papa bantu rapikan format penulisan. Adik memeriksa salah ketik dari transkrip interview. Saat dekat deadline, papa bantu mengeprint. Ia yang tetap menyuruhku tidak takut maju meski ada beda pendapat dengan pembimbing. Mama selalu membuatkan makanan minuman dengan campuran chinese herbal medicine agar aku tetap sehat meski begadang setiap malam (Beneran loh haha..). Mereka berdua mengantarkanku ke fotocopy di daerah Petra malam itu. Ketika koko datang dari Jakarta, ia bantu membawakan 7 bendel skripsi dari penjilidan ke TU jurusan. Hahaha.. Hal itu terakhir kali kualami waktu SD mungkin. Semua itu bisa kulakukan sendiri, tetapi kubiarkan mereka ‘ikut sibuk’. Lucu bukan? Inilah yang membuatku memberi nilai A untuk proses skripsiku. Karena aku membiarkan keluargaku membantu dan aku sangat menikmati setiap detail di dalamnya.

Dina Setianto, Sri Endah, Fathia Syarif, adalah para manager Communications Shell yang memberi semangat sebelum aku maju sidang. Begitu pula dengan 10 informan dari Shell. Wah wah wah.. Indah bukan? Itulah yang aku maksudkan bila kau cintai skripsimu, ambience positif itu bisa menarik semua yang positif mendekat padamu. Sehingga ada banyak hal baik yang memayungiku. Aku yakin itu bukan ‘hogi’ atau ‘luck’. Guys, I’m not a lucky lady. I’m just an ordinary lady. But I have faith and Awesome God! As I said, God is my victory! Sejak awal tahun, aku melihat diriku akan menyelesaikan skripsi tahun ini dengan hasil yang bagus. That’s my vision. Say what you mean and mean what you say!!

Tulisan ini kutujukan bagi mereka yang berpikiran POSITIF dan mau bersikap POSITIF untuk menyelesaikan perjuangan skripsimu atau apapun yang sedang dihadapi. Cari tahu apa yang kau mau. Bila memang ingin skripsimu selesai di periode selanjutnya maka kau sudah tau apa yang akan kau lakukan. Bagaimana kau harus bimbingan dan membagi waktu. Bagaimana kompromi dengan waktu main-mainmu. Dan sudah bisa membayangkan wisuda 20 Februari 2010 (liburan bareng ya guys..). Tapi bila kau sudah berjaga-jaga ambil pra perwalian dan hal lain, boleh memang untuk antisipasi tetapi juga terlihat mungkin kau pun tak yakin untuk MAU selesaikan skripsimu di semester ini. Oleh karena itu lebih banyak lakukan hal seperti itu alih-alih menekuni skripsi agar bisa selesai. Langkah iman. Sekali lagi, semua itu pilihan! Salahkah pilihan itu? Tidak. Hanya saja, be careful with what you wish for.. Tuhan selalu bisa mendengarnya dan berkata “So be it..”.

Bukannya aku menghakimi. Hanya saja dari apa yang kuamati dari teman yang sekarang sedang berjuang, aku makin bisa melihat skripsi adalah ujian mental. Menyaring mereka yang beriman dan bermental positif untuk bisa selesaikan pertarungan dengan baik. Ada perbedaan yang muncul dari perkataan dan perbuatan mereka terhadap pengerjaan skripsi masing-masing. Ada perbedaan respon yang muncul saat menanggapi masalah yang tiba-tiba menghambat. Yang satu memacu diri dan belajar dari yang berhasil, yang lain justru mencari excuse dan justifikasi mengapa dirinya tidak bisa menjadi berhasil. Yang satu mencari dosen dan menyelesaikan masalahnya, yang lain justru menyalahkan dosen. Hahaha.. Kan semua itu pilihan. Pilihan punya konsekuensinya dan juga ‘hadiah’ masing-masing hehehe.. Kalian di sebelah mana? =P

Aku sudah memilih mau hasil yang luar biasa sejak awal. Oleh karena itu aku mengimaninya dan berjuang lebih berat. Bahkan kuterima ancaman taruhan teman baikku agar aku bisa berlari lebih kencang. Kucari semua cara untuk memacu dan menjaga agar tetap POSITIF. Nilai itu hanya bonus. Seperti yang kubilang di Notes lalu, ujian sebenarnya adalah proses pembuatan skripsi itu dan Tuhan yang menilainya. Kalau ternyata Tuhan memberiku A, itu sebuah hadiah dariNya and let His name be honored as long as I live. Untuk Corporate Communication Fikom, kusumbangkan 1 lagi A ini untukmu. Semoga keinginanku untuk bisa membanggakan papa mama dan semua orang yang sayang padaku boleh terwujudkan sekali lagi.

Thanks to Cliff, Lili, Tans, Nita, Couz, Lele, Ella, Ryan yang menemani saat aku berjuang sidang. Tuhan yang sama yang akan buat kalian berhasil! Be positif guys! I’m here to help you ktika butuh semangat. Teman CC yang lain, pecahkan telur A untuk CC lebih banyak lagi. Harus ada yang pecahkan dan itu harus kalian! Semua yang masih berjuang, sekarang saatnya lari sekencang-kencangnya kalau tidak mau menyesal.. Tahukah kau Word bisa membuatkan Daftar Isi otomatis dari skripsimu?? Semua dosen Ilkom, kalian lah yang terbaik di posisi masing-masing..

God leAd me through bAtlles won becAuse He is my victory!
nb: Kalau kamu bertanya “Habis gini mo ngapain Be?”. Jawabannya “Thanks for your care and tunggu kabar baik selanjutnya dariku.. ^^”

Also published on Widianti’s Note on FB

Sby – 231009 – 2:16PM

I Love My Skripsi

Sidang mandiri adalah sebuah pra-sidang dari sidang skripsi yang sebenarnya. Harus dihadapi oleh setiap anak Ilmu Komunikasi UK Petra yang hendak maju berperang di sidang skripsi seminggu kemudian. Mempresentasikan hasil penelitian, di hadapan minimal 2 dosen dan lebih dari 10 mahasiswa, lalu menjawab semua pertanyaan yang tak terduga. Simulasi yang mempersiapkan mental sebelum turun ke medan perang. Saat menguji kemampuan Public Speaking yang pernah di-mata kuliah-kan. Mengukur rasa percaya diri dan mencoba mempertanggungjawabkan hasil jerih payah penelitian. Sebuah masa menguji mentalitas dan penguasaan diri terhadap materi skripsi. Sebuah titik dimulainya adrenalin bergejolak. Sebuah fase yang kemarin telah kunikmati setiap detiknya..

Sehari sebelum sidang mandiri, aku bagai kehilangan rasa percaya diri terhadap apa yang telah kuteliti sendiri selama beberapa bulan terakhir ini. Akan tetapi mungkin sisi positifnya adalah dengan demikian, aku jadi mempersiapkan diri dengan sebaik yang kubisa (I slept at 5AM!). Kemudian benar-benar berserah pada Tuhan yang sudah memimpinku sejak masa internship, brain storming topik, pemilihan topik, kolokium, pengumpulan data di Jakarta, bimbingan, begadang, pengumpulan skripsi, dan kuyakin Dia tetap menyertaiku sampai semua proses ini selesai dan aku akan masuk ke babak lain dalam hidupku.

Banyak orang menyebut ini cepat dan bahkan beberapa pihak menyebut ini terlalu cepat, untuk sebuah penelitian kualitatif. Sebenarnya, aku lebih suka bila lama waktu pembuatannya di-kualitatif-kan daripada di-kuantitatif-kan. Secara kuantitatif, pembuatan skripsi ini berjalan sejak lulusnya aku di sidang kolokium tahap 1 (semester lalu) atau sekitar April-Mei 2009 form bimbingan skripsiku baru terisi pertama kali. Dan skripsi kukumpulkan pada awal Oktober 2009. Namun secara kualitatif, selama 1 bulan kuhabiskan di Jakarta untuk mencari data, saja! tanpa bimbingan. Sepulang dari Jakarta, aku selalu begadang, tidur lebih dari jam 2 pagi setiap malamnya, tak ada bersantai sampai skripsi selesai.

Aku hanya ingin menyemangati teman-temanku yang sedang membuat skripsi dan akan maju di periode selanjutnya. Cepat atau lambat, sebentar atau lama, semua itu pilihanmu. Bila yang kau pikirkan positif, itulah yang akan terwujud. Bila kau ‘mencintai’ skripsimu, maka di sanalah hatimu berada. Bila skripsi jadi prioritasmu, maka kau rela curahkan waktu lebih untuk mengerjakannya. Bila kau yakin dan punya passion akan penelitianmu, pembimbingmu pasti akan memahami dengan caranya masing-masing dan akan membantumu. Bila memang semua hal baik akan skripsimu yang kau kuimani, kau akan menikmati masa-masa ini dengan senyum. Dan bila kau jalani semua ini bersama Tuhan, Ia pasti akan buka jalan..

Bukan berarti kulewati semua ini dengan mudah, tanpa masalah, tanpa keluhan, tanpa stress, dan tanpa melewati lembah yang gelap. Berkali-kali aku tak bisa kalahkan kemalasanku, godaan Facebook, beda pendapat dengan pembimbing, kesulitan di Jakarta ketika mencari data, dan berbagai hal teknis lain. Aku seringkali teriak di bawah bantal bahkan berdoa dengan tetesan air mata. Bila semua itu datang, aku seringkali kembali bertanya dan merasa bodoh, “Apa esensi di balik pembuatan skripsi yang serumit dan menguras semangatku ini?”. Karena ini suatu hal yang sangat melelahkan mental dan pikiran. Tapi aku yakin, skripsi pasti ada bukan hanya karena syarat untuk lulus dan menjadi sarjana. Skripsi ada untuk sesuatu yang jauh lebih besar dari semuanya itu, tunggulah waktu yang akan memberitahukannya nanti..

Aku ingin berterima kasih untuk semua nara sumber dari Shell yang sudah rela kuganggu waktu kerjanya dan menjawab puluhan pertanyaan dariku (Totally it has 269 pages, and 91 pages are the transcripts of our interviews!). Special thanks to Dina Setianto for your kindness (Sorry for sending you so many emails and asking too many things ^^). Communications CX Shell Indonesia (You are one of the reasons I took this thesis topic). Dosen penguji di sidang mandiriku kemarin (Miss Des dan Miss Tisya, thanks for the inputs). Dosen pembimbing, Bu Yuli yang sangat awesome dan Bu Inggrit (so sad, both of you don’t have FB account). Dosen lain yang memberi masukan dan support (Pak Nanang, Miss Fe, Miss Grace, Pak Joko). Mrs W a.k.a. Bu Wike yang memberikan ilmu Public Speaking (I really gave out all my skill yesterday, I truly realized how important that class in this thesis thing). Teman-teman terbaikku di Fikom yang kemarin datang ke sidang mandiriku (So glad could did it in front of you all guys).

Kemarin, ada beberapa kekurangan yang harus kuperbaiki. Seketika aku merubah plan dari shortcut version menjadi long dan the real one version. Alih-alih ingin membuat audience paham yang kuteliti, malah membuat mereka bosan. Lega, pertanyaan kemarin masih di dalam jangkauanku, kecuali pertanyaan terakhir =P. Respon dari dosen cukup positif dan menjadi tabungan untuk membuatku lebih yakin.

Sidang mandiriku akan menjadi sebuah penyemangatku untuk lebih percaya diri saat maju sidang nanti. Karena beberapa hal, aku belum benar-benar dapatkan percaya diriku. Oleh karena itu, melalui notes ini, selain berterima kasih untuk bantuan, support sentences, dan doa; kuharap semua pihak sekali lagi, berkenan mendukungku dalam doa untuk sidang yang sebenarnya minggu depan. Doa itulah yang akan menguatkanku. Apapun hasilnya, aku tak mau pusingkan itu sekarang tapi aku janji aku akan beri yang terbaik. Semua proses berat yang telah kujalani ini mungkin adalah ujian yang sebenarnya, Tuhan yang akan menilainya bukan? Dan aku bersyukur diijinkan lewati semua ini bersama dengan orang-orang seperti kalian yang hadir di sepanjang perjalanan pembuatan skripsiku..

Teman yang sama-sama berperang periode ini, enjoy the adrenalin.. =P Teman yang masih berjuang, you could and must do better than me!! Wish you learned something from mine. I’ll always here when you need support guys.. God doesn’t require us to be the best, but He wants us to do our best, and He will take care of the rest..

The battle is not ours, it belongs to the Lord, for God is our victory!

 

 

Sby – 171009 – 1.00AM

Older Posts »