All Your Ways Are Not My Ways

Bab demi bab terus berlalu. Semuanya mengarah pada cerita akhir yang indah. Aku tokoh yang dikisahkan di sana, oleh Tuhanku sebagai penulis setiap bab dalam kehidupanku.

Jelas bukanlah sebuah kebetulan, saat itu aku seakan “dipaksa” dipulangkan dari Jakarta. Ia berikan waktu satu tahun untuk aku menikmati jawaban atas permintaanku saat itu, yaitu aku ingin kembali bekerja di Jakarta. Pada akhirnya Tuhan berikan yang kuminta. Meski dengan konsekuensi kutinggalkan semua pelayanan dan kenyamanan di rumahku sendiri.

Saat itu Tuhan hanya berkata, “Do what I want you to do, the rest is Mine. I’m the One who hold your heart, you’ll be okay.” Bab itu berlalu dan benar, berjalan dengan intrik di bagian akhir. Tetapi Ia tepati janjiNya padaku. I’m okay! Aku jatuh tapi Ia memegangku sebelum aku terluka, tepat pada waktunya. Manusia bisa menyakitiku but whom shall I fear when I have Him with me?

Entah dari mana saja datangnya pertolongan demi pertolongan itu Ia datangkan. Teman-teman yang luar biasa menangkapku kembali bukan sebatas mengasihani dan menemani dalam ratapan, but they’re comforting me, memberikan cara pikir dan tuntunan yang tepat. Semua itu seakan mengisiku yang tengah mati rasa dan penuh dengan krisis kepercayaan. Aku me-reset ulang semua yang pernah kuketahui tentang arti sebuah persahabatan.

Aku sudah memberikan akhir untuk semuanya termasuk dengan bibit kepahitan yang tidak perlu ada di hidupku. Terlebih justru aku tahu Tuhan menyelamatkanku dari orang-orang yang tidak tepat untuk mendampingi proses hidupku. Berbagai kesibukan dan pelayanan seakan sudah menantiku. Tidak perlu dan tidak mau lagi aku ditarik mundur oleh hal yang sudah kububuhkan “the end”. Sebab yang di depan lebih penting, jauh teramat penting.

Sangat menyenangkan, aku justru bisa turut membantu mempersiapkan pernikahan sepasang teman lamaku menjadi EO mereka. Bukan lagi mempercayai orang lain tetapi dipercaya oleh orang lain. Aku memberikan terbaik yang bisa kulakukan karena aku tahu benar arti sebuah kepercayaan. Sangat mahal dan berharga.

Mungkin aku yang paling muda di antara mereka, sehingga selama proses EO-ing ini, aku jadi belajar banyak tentang arti relationship dan cinta yang benar dari cerita cinta yang luar biasa menginspirasi. Semua konsep yang kuketahui tentang proses, waktu Tuhan, kriteria pasangan hidup, dan iman jadi diperbaharui.

Lalu kembali mulai terlibat di ministry YDP dan Kembang Kuning lagi. Melihat lebih dekat remaja-remaja yang hidup di area yang rawan dengan penemuan jati diri yang belum tentu tepat. Itu membuatku menilik kembali ke visi yang selama ini menjadi kerinduanku, yaitu melihat generasi selanjutnya harus menjadi lebih baik dariku. Aku mau berdampak dan jadi berkat.

Aku sedang berjalan menuju sebuah hal luar biasa yang Ia siapkan di bab selanjutnya. Mengapa aku sangat yakin? Sebab aku sedang menjalani visiku, belajar hal baru, dikelilingi banyak orang hebat yang menginspirasi, didoakan lebih banyak orang, pemahaman dan prinsipku terus disempurnakan. Jadi pasti tak lama lagi kisah-kisah besar akan terjadi di bab selanjutnya.

Tidak ada yang salah dengan kepulanganku dan intrik telah diijinkan terjadi. Sebab dari sana aku tahu sekarang, setumpuk hal lebih penting perlu untuk kulakukan di sini, bukan untukku tapi lebih banyak orang. Menghidupi visi dan bergantung erat pada Tuhan. Menggeser fokus kepada hal yang lebih bermanfaat.

All Your ways are not my ways. Ya, semua rancanganMu bukanlah rancanganku.

Special thanks to Carol Isbandi, Karen Campusuelo, Conny Erawati for being angels to me.

Sby – 050312 – 1:01AM

Advertisements

Mengetik “10 Jari”

Mana yang lebih mudah, mengetik di keyboard komputer dengan “11 jari” atau “10 jari”?


Salah seorang mentorku membagikan filosofi yang ia ingin aku terus pegang dalam hidup.

Mengetik 11 jari adalah istilah yang dipakai untuk cara mengetik menggunakan telunjuk kiri dan kanan. Begitu banyak orang awam yang dengan mudah bisa langsung mengetik cepat. Kedua telunjuk berlarian di permukaan keyboard. Keduanya bergantian mencari tombol huruf sesuai perintah otak. Mengetikkan huruf demi huruf baik ketika mengarang maupun menyalin ulang.

Sementara mengetik 10 jari adalah istilah untuk cara mengetik dengan menggunakan sepuluh jari tangan yang kita miliki. Kelingking hingga ibu jari, kanan dan kiri, semua mendapatkan tugas yang sama menggarap berbagai tombol di keyboard. Jelas susah bagi orang awam yang baru bertemu keyboard. Setiap jari memiliki pembagian tugas untuk beberapa tombol. Kelingking yang kecil pun harus bergerak ke sana kemari, ke atas dan ke bawah. Setiap jari jadi harus membiasakan diri.


Mana yang lebih mudah, mengetik dengan “11 jari” atau “10 jari” ?

11 jari.

Dengan cara “11 jari”, saat pertama kali kau berkenalan dengan keyboard, sudah langsung bisa mengetik. Tak hanya itu, bahkan lebih cepat hasilnya daripada mengetik dengan “10 jari”.

Tapi, setelah beberapa waktu, mana yang lebih nyaman, mengetik dengan “10 jari” atau “11 jari”? Mana yang lebih efektif?

10 jari.

Tak perlu lagi bergantian melihat tombol keyboard dan layar atau buku yang harus disalin. Setiap jari sudah hafal letak jangkauan dan cakupannya. “11 jari” tidak berarti buruk karena akan tetap bisa mengetik seperti beberapa petugas kepolisian yang mengetik demikian dengan mesin ketik. Namun, bila kau sudah bisa “10 jari”, semua akan lebih mudah nyaman dan bisa lebih cepat.


Bertahanlah bila engkau sedang merasa sulit dan belum bisa seperti mereka yang bekerja dengan cara mengetik “11 jari”. Karena engkau harus menjadi orang yang mampu mengetik dengan “10 jari”. Sekarang mungkin kau merasa kalah cepat, tetapi bertahanlah, sabarlah, belajarlah karena akan tiba saatnya kau akan menyusul mereka, bahkan membuktikan bahwa lebih nyaman mengetik dengan “10 jari”.

 

 

Surabaya | 150112 | 01:02AM

24

Sebuah masa hidup yang masih belum kumengerti arti kelokannya tetapi telah kulalui, yaitu usiaku ke-23.

Aku menjadi dosen, dan aku memutuskan untuk mengakhirinya untuk saat ini. Aku pergi ke Jakarta yang sejak lama terus memanggilku, mencoba sesuatu yang baru. Beberapa bulan adaptasi dan pembelajaran akan dunia yang baru. Bertemu banyak orang-orang baru. Semua membuatku memilih lingkungan seperti apa yang aku mau masuki.

Tertantang untuk belajar tentang kepercayaan. Memulai merawat tempat tinggal yang dipercayakanNya untukku. Menuntutku menata mimpi yang ingin kuraih. Mempersiapkan diri untuk diperluas dengan tanggung jawab lebih besar.

Kesesakan itu membuatku berlari padaNya. Dalam kesendirian kudapati Ia berbicara padaku, dan hanya padaNya aku mampu ceritakan semua yang kulihat, kualami, dan kurasakan. Tak mau kutukar waktuku bersamaNya dengan hal lain. Kudengar seringkali Roh Kudus yang ada padaku berbicara melalui banyak cara. IntervensiNya bahkan nyata dalam badai kehidupanku.

Jauh dari keluarga dan teman baik membuatku banyak kembali melihat ke dalam diri. Pertemuan dengan orang-orang baru membuatku melihat pilihan hidup. Dari sanalah aku menjadi lebih mengenali diri, nilai, dan prinsip hidupku. Pergumulan tentang masa depan membuatku ingin menjadi A Better Lady in Waiting.

Aku selalu meyakini di balik lelaki yang hebat, selalu ada wanita hebat. Oleh sebab itu aku pun ingin menjadi wanita hebat supaya lelaki hebatku nanti dapat menjadi lebih hebat. Bukan menjadi wanita yang lebih yang hebat dari lelakiku kelak, tidak seperti itu yang orang tuaku ajarkan. Sehebat-hebatnya wanita, dia tetaplah wanita yang harus tunduk pada lelakinya. Takaran “hebat” pun berbeda-beda di pikiran setiap kepala. Buatku, “hebat” adalah jadi wanita yang siap mendampingi proses hidup lelakinya.

Untuk belajar menjadi wanita hebat ada harga yang harus dibayar. Untuk bertumbuh menjadi wanita hebat ada benih yang harus ditanam. Untuk benih yang baik itu dapat berbuah baik, ada proses yang membutuhkan waktu.

Sambil menantikan lelaki hebat itu muncul dan dengan keberaniannya mengajakku meraih mimpi bersamanya. Selagi ia sedang berperang melawan naga-naga di luar sana. Aku akan pakai waktu ini untuk menanam benih yang baik supaya kami bisa memanen buah yang baik pada saatnya nanti. Ini bukan soal romansa belaka tetapi realita yang esensial.

Bila Tuhan ciptakan aku sebagai wanita, maka aku harus menjadi wanita yang baik dan berkualitas. Wanita yang memiliki hubungan baik dengan Tuhan. Yang diberkati untuk menjadi berkat buat sesama. Mengerti panggilan hidup dan menggenapinya. Tahu apa itu menghargai orang lain. Sadar bagaimana dan kapan menempatkan diri dengan benar.

Menjadi wanita yang memiliki keahlian itu sebuah keharusan. Agar di tangannya nanti keseharian rumah tangga dapat berjalan baik. Selain keahlian, wanita dituntut untuk cerdas dan tidak dangkal berpikir. Agar anak yang diasuhnya kelak dapat bertumbuh dengan baik. Namun, cerdas masih bukan yang terpenting karena harus ada karakter yang baik. Agar dengan karakter baik itu dirinya dapat menjadi exceptional bagi lelakinya dan keluarga yang Tuhan percayakan.

Cukup sudah tersinggung ketika orang lain mengkritik ketidak-sempurnaanku. Tak ada lagi pembenaran diri saat menyadari kekurangan diri. Tak perlu merasa diri paling benar justru di saat harus merubah karakter dan sifat yang tidak baik.

Pohon untuk berbuah membutuhkan waktu sejak benih itu ditanam. Tak perlu waktu lebih lama terbuang untuk tidak segera kutanam benih baik itu. Waktu terus berjalan. Jika di musim ini ia tidak berbuah, masih ada musim selanjutnya untuk segera berbuah. Sampai kapan mau menunggu untuk tak segera menanam?

Aku mau biarkan diriku dipimpin dan diarahkan oleh Roh Kudus. Aku harus berlatih untuk bisa memiliki kecenderungan reaksi atau respon yang lebih bijak. Ada banyak hal dan aku masih amat jauh dari hebat. Tapi aku hanya ingin bergerak maju untuk menjadi seorang BeBe yang lebih baik. Seorang wanita yang menanti dengan bijak.

Harapanku ini bukan hal yang mudah untuk dijalani. Sebab bila kau belajar, pasti akan diuji. Kadangkala membayangkan ujian itu saja sudah cukup menegangkan. Namun, itulah proses untuk naik kelas bukan?

Terima kasih untuk semua teman, sahabat, dan keluarga yang mewarnai usia 23 tahunku. Dengan kerendahan hati aku mengharapkan doa dan bantuanmu untuk mewujudkan keinginan baik ini. Semoga setahun lagi, sudah ada buah baik yang bisa dipetik.

Happy birthday to me!

Excellent quality = Capability + Godly character

BeBe – Krwci – 040911 – 11:45PM

September Rollercoaster

Mungkin tak bisa terpahami betapa penasarannya aku akan September. Bulan yang sering kali memberi kejutan tak terduga. Aku suka kejutan tapi bila boleh memilih, ijinkanlah itu bukan kejutan yang tak menyenangkan.

Ada tawa keceriaan karena mendapat ucapan selamat dan doa. Penuh dengan instropeksi dan evaluasi tahun yang berlalu. Melihat visi dan mengandaikan langkah di tahun yang akan kulalui. Namun, pernah ada pula perpisahan mengejutkan di sana.

Sebenarnya setiap bulan adalah baik. Setiap hari pun begitu. Demikian pula dengan setiap detik yang aku punya. Semuanya baik adanya, setidaknya pada akhirnya.

Misteri kehidupan yang membuatnya bagai bianglala, yang bisa naik ke atas melihat indahnya dunia, lalu ada masanya untuk turun dan yang bisa kulihat hanya kerumunan manusia yang menyesakkan.

Atau seperti mengendarai rollercoaster, aku duduk tertahan oleh sabuk pengaman. Tanpa kutahu kelokan, hentakan, dan semua sudut curam yang akan dilalui. Aku hanya bisa memilih: membuka mata dan merekam semua keasyikan tersebut atau menutup mata dan menangis ketakutan. Aku pun bisa berteriak: memilih meneriakkan ketakutan yang tertahan atau meneriakkan keseruan yang tak tertahankan.

Keduanya objek yang selalu bisa ditemukan di taman hiburan. Bianglala yang besar dan tampak simetris ketika dipotret. Rollercoaster yang tinggi besar tampak rumit dengan lintasan yang meliuk-liuk dan mengeluarkan teriakan-teriakan pengunjung yang memainkannya.

Pada kenyataannya, aku selalu menantang diri mencoba berbagai rollercoaster di berbagai taman hiburan yang aku pernah datangi. Outdoor dan indoor, duduk dan gaya terbang layaknya Superman, di pantai dan di gunung, kemarau dan musim dingin. Namun tak demikian dengan bianglala, karena aku tak begitu menyukai permainan satu itu. Entah mengapa, mungkin aku memang bukan pengunjung untuk bianglala.

Baiklah, bila begitu seharusnya maka aku putuskan aku sedang berada di antrian rollercoaster bernama September, dan bukan bianglala September.

Ketakutan akan kelokan, perut yang terkocok, melihat dunia terbolak balik, mendengar jeritan ketakutan pengunjung lain, ketidakyakinan akan kekuatan pengaman, lalu bagaimana dengan perawatan setiap rel dan bautnya? Well, itu adalah bagian yang membuat mengendarai roller oaster jadi sangat seru dan lebih mengasyikkan. Bagaimana menyelam di antara puluhan alasan yang menakutiku dan tetap bisa rasakan keceriaan pada akhirnya setelah semua itu berakhir.

Toh perancang rollercoaster itu pasti sudah menghitung semuanya dengan baik. Tak mungkin diciptakan untuk membunuh mereka yang mengendarainya. Menakutkan tapi disiapkan pula alat pengaman agar mendarat dengan selamat. Begitu pula Penciptaku dan Pencipta semua hari, semua bulan dalam hidupku, termasuk September.

I am riding a rollercoaster named September, all I know is just: God had made it safe for me to ride..


Krwc – 310811 – 3:40PM

Suatu Pagi Bersama Sepatu Hijauku

Di tengah lelapnya tidurku semalam karena efek sekaleng cairan bening itu, tiba-tiba Ia menyapaku dengan lembut. Bahkan sebelum alarm pagiku berbunyi, aku terjaga dengan mata yang masih terpejam. Namun dengan jelas aku mendengar Bapa berkata, “Be, release that grace..”.

Me: “I’m not that strong to do that, Father. I choose to runaway, sorry..” Father: “No, I’ve told you before to stay. You can. Do not hold that grace.” Me: “If only You strengthen me to do that. But why should I?” Father: “…”.

Aku tertidur sebentar lalu kuputuskan menyingkapkan selimutku dan duduk berdoa. Hidupku ini bukanlah milikku, selamanya Ia yang empunya hidupku. Apapun yang Ia mau, aku tak dapat menolaknya, hanya bisa taat meski tak bisa kupahami sama sekali apa maksud dan di mana ujung dari ini semua. Bahkan aku tak mengerti apa yang sedang terjadi padaku.


Akhirnya aku memilih untuk lari pagi, toh Ia telah membangunkanku. Sejuk sekali udara di luar, angin dingin menerpaku, segar. Setelah pemanasan sebentar, mengenakan iPodku, aku mulai berlari perlahan. Indah. Pagi ini segalanya terasa jauh lebih baik dari kemarin, hari di mana bahkan satu kata pun tak bisa kutuliskan untuk pahami diriku.

Mulai kulihat sekelilingku, ada banyak hal yang tertangkap mataku. Mentari di sisi Barat Laut bersinar malu-malu. Langit biru muda berbaur dengan jingga membuatnya bersemu manis. Warna hijau deretan pohon dan rerumputan diselimuti kabut tipis. Kendaraan mulai berlalu lalang di sisi luar ruko ini. Aku terus berlari.

Tak ada yang bisa kupikirkan, yang kutahu aku hanya ingin terus berlari. Aku berpapasan dengan seorang Om dengan rambut yang telah memutih. Ia jalan lalu berlari kecil di deretan ujung ruko sebelah sana. Ketika lariku sampai di depannya, kami sama-sama tersenyum. Tulus sekali senyumnya. Lintasanku jauh lebih panjang darinya. Ketika kembali berpapasan kedua kalinya, tiba-tiba ia mengacungkan jempol ke arahku sambil tersenyum dan kepala menganguk padaku. Om itu membuatku semakin bersemangat untuk terus berlari.

Aku berlari lebih banyak dari sebelumnya. Sampai benar-benar lelah, aku berlari lebih pelan sampai kemudian berjalan. Aneh, kakiku tak mau berhenti. Aku sudah lelah, batinku. Seakan sepatu hijau muda ini ingin terus kukenakan meski hanya berjalan. Aku tak bisa berhenti berjalan. Sampai berapa banyak lagu terlewatkan. Namun kubiarkan saja kaki dan sepatu running “just do it” ini berulah, aku menikmati kesendirian di antara keramaian Karawaci Barat yang mulai bangun perlahan.

Dinginnya udara pagi mulai berkurang. Kendaraan semakin banyak. Jalanan makin ramai. Orang-orang berangkat bekerja. Toko demi toko mulai berbenah. Kulihat dari kejauhan Om yang tadi kutemui berbelok masuk ke kompleks rumahnya. Mentari makin meninggi, mungkin membentuk sudut 30 derajat di atas sana. Sinarnya menyinari dan kumulai rasakan panas. Semakin banyak lagu terlewatkan hingga langkahku benar-benar terhenti.


Kembali ke rumah sementaraku di lantai atas, kutemukan sebuah sudut di ujung belakang sana. Jendela kaca itu kugeser penuh, kulihat pemandangan yang cukup indah, perumahan lain yang belum sesak dengan rumah, masih sepi tanpa banyak aktivitas penduduknya di pagi ini, lapangan kosong berumput tampak jelas dari atas sini. Angin dingin kembali berhembus perlahan. Aku duduk dan meneduhkan diri.

Mencoba meresapi pagi ini. Mengendapkan semua yang kudengar dan kulihat serta kualami. Mungkin itulah grace, kasih karunia. Ada kasih karunia yang terus menyertaiku, ia ada di ujung akhir perjalanan pengharapan dan iman. Aku tak tahu mengapa sepatu hijauku itu terus membuat kakiku melangkah, mungkin karena memang aku harus terus melangkah. Bila belum habis dayaku untuk melangkah, mengapa aku harus berhenti? Ternyata aku masih kuat untuk terus berjalan meski tidak lagi berlari.

Aku tahu dengan pasti, grace menyertaiku ke mana pun aku pergi. Tetapi di saat yang sama grace tak boleh terhenti untukku saja, grace harus terus mengalir. Meski aku tak tahu bentuk nyata grace yang harus kusalurkan padanya, meski aku tak tahu mengapa harus aku, meski aku tak tahu apa gunanya semua ini, yang kutahu aku telah putuskan bila aku mau mencoba melihat semua ini dengan cara berbeda. Karena tak ada yang salah, yang ada hanya manusia yang sedang bermasalah.

Apakah aku sanggup bertahan? Entahlah, yang pasti sepatu hijauku telah menunjukkan padaku bahwa ia sanggup bawa kakiku melangkah jauh lebih jauh dari kuduga. Apalagi Bapaku, Ia pasti sanggup bawa diri, hati, dan pikiranku untuk terus melangkah lebih jauh dari yang kupahami saat ini.


Take my heart, take my soul, I surrender everything to Your control. And let all that is within me, lift up to You and say, I am Yours and Yours alone, completely..

Be Still

Hide me now under Your wings..

Cover me within Your mighty hands..

 

When the oceans rise and thunders roar

I will soar with You above the storm

Father You are king over the flood

I will be still and know You are God..

 

Find rest my soul in Christ alone..

Know His power in quietness and trust..

 

When the oceans rise and thunders roar

I will soar with You above the storm

Father You are king over the flood

I will be still and know You are God..

 

Hillsong – Still

Krwc|050611|12:12AM

Gratitude Is the Key

Aku bersyukur untuk hari ini, hari di mana tiba-tiba masalah menyambar bagai petir, caci maki menghujaniku dengan deras, reputasi yang sedang diusahakan seketika runtuh, darah meninggi sampai ke ubun-ubun, hampir seluruh akal manusiaku marah karena aku tak bersalah, seakan-akan apa kulakukan dengan niat baik justru memperburuk nama baik perusahaan dan memperunyam benang kusut ini, namun tak ada satupun yang bisa kulakukan untuk sedikit saja membela diri. Karena di hari ini, aku akan belajar untuk bersyukur pada Tuhanku, bersyukur, dan bersyukur dengan nyata.

Aku bersyukur untuk caci maki dari pihak lain dalam pekerjaanku. Karena itu aku jadi tahu ladangku sekarang dan lebih mengenal siapa saja orang-orang yang harus kuhadapi di sini.

Aku bersyukur untuk beban berat yang harus kutanggung sekarang, yang sebenarnya adalah konsekuensi kesalahan orang lain. Karena berarti aku lebih kuat untuk menanggung ini daripada dia.

Aku bersyukur untuk bila cara-cara yang kusangka baik yang telah berhasil kulakukan di perusahaan lain, ternyata berbalik kacau bila diterapkan di sini. Karena berarti aku diberi kesempatan untuk melihat sistem yang baru.

Aku bersyukur ketika rekan kerjaku tak sempurna seperti yang kuharapkan. Karena berarti ia punya ruang untuk memperbaiki dirinya.

Aku bersyukur bila terkadang aku harus beradu argumen dengan kakakku. Karena berarti aku punya kesempatan mencari cara komunikasi yang lebih baik dengannya dan belajar menghargainya sebagai kakak dan atasanku.

Aku bersyukur atasanku adalah kakakku sendiri walau itu tak berarti lebih mudah. Karena aku tahu ia menyayangiku dan ingin aku pun bisa berhasil sepertinya.

Aku bersyukur bila ketika aku berbicara dengan kakakku seringkali tak didengar dengan baik. Karena aku jadi lebih memahami pria yang sedang ada dalam dunianya ternyata tak bisa diganggu oleh hal apapun.

Aku bersyukur bila ketika amarah itu dilemparkan padaku tetapi tak diberi kesempatan untuk memberi penjelasan. Karena berarti aku punya pilihan untuk berlatih menahan emosiku dan belajar diam.

Aku bersyukur bila keadilan tak terlihat jelas di sini. Karena dengan begitu keadilanMu yang akan terlihat suatu hari nanti.

Aku bersyukur bila semua rencana dan jadwal yang kuharapkan bisa memaksimalkan waktu yang ada, tak bisa berjalan. Karena aku bisa belajar lebih santai dalam hidup, menjadi orang yang lebih fleksibel dengan perubahan.

Aku bersyukur ketika kesulitan dan penat itu mengcengkeram hariku. Karena aku tahu aku punya sahabat yang bisa membantuku dan menunjukkan aku tak sendiri.

Aku bersyukur ketika tiga bulan ini ku ditempa dengan keras, hati seakan terus digesek, sakit dan melelahkan. Karena berarti aku sedang diminta belajar untuk berubah jadi pribadi dengan karakter yang lebih kuat.

Aku bersyukur untuk ujian demi ujian yang terus datang tanpa henti. Karena aku jadi tahu, Engkau sedang mengujiku.

Aku bersyukur untuk tekanan demi tekanan yang hadir tiba-tiba bagai kembang api meletup-letup di siang bolong. Karena aku jadi bisa lari padaMu di malam hari untuk curahkan semuanya.

Aku bersyukur untuk semua hal yang secara manusia ini tampak sangat berat untuk kupikul. Karena dengan aku lemah, Engkau yang kuat dalamku.

Aku bersyukur Engkau terus mengujiku Tuhan. Karena berarti Kau masih menyayangiku dan tak menyerah denganku.

Aku bersyukur di tengah air mata terlampau sering meluap karena hati yang lelah. Karena bagaimanapun Engkau sudah bawaku kemari dan aku sudah ada di Jakarta sekarang.

Akan kutepati janjiku, aku tak akan berbalik lalu menyesali keputusanku dan menyerah, sebab aku tak apa-apa di sini, semua masih baik adanya. Andaikan kulelah berjalan maju, aku akan terus berdiri dan berhenti sejenak untuk berteriak dan bersyukur padaMu. Itulah kunci yang membuka pintu pertahananku, ya, hanya itu, mengucap syukur senantiasa..

YOU are MORE THAN ENOUGH for me..

Krwci | 170611 | 4:45PM

Bertahan

Inilah bagian dari runtunan peristiwa dalam suatu perkembangan yang disebut proses..


Di kala malam datang, kesunyian menyerbak, pertanyaan itu serasa melayang-layang di antara aku yang terbaring di ranjang dengan langit-langit yang tampak gelap itu, di mana proses ini akan berujung?

Di kala pagi dan siang hari, skill-ku seakan sedang cuti untuk waktu yang cukup panjang, digantikan dengan emosi yang harus bekerja keras. Emosi yang berpacu naik dan turun, labil. Mengasah karakter yang ada di dalam sini, yang mungkin tak akan dapat kau mengerti. Kutahu ini memang akan terjadi, sebuah harga yang harus kubayar. Meski peluh tak mengalir namun tak akan kubolehkan ada air mata yang terteteskan di sini.

Terkadang kubisa lihat dengan jelas semua ini sebagai kesempatan baik untukku menjadi wanita yang lebih matang secara emosi dan kepribadian. Kupunya kesempatan untuk menjadi lebih fleksibel dengan perubahan. Lalu menjadi lulusan komunikasi yang tak hanya handal komunikasi kala mewakili perusahaan, tetapi yang tersulit, berkomunikasi dengan diri dan orang terdekatku. Hanya, gambar itu dengan segera terhapus oleh emosi.

Kuingin bisa mengerti bagaimana cara keluar dari lingkaran tak berujung ini. Masalah kecil menjadi besar dan merusak hari karena nada bicara yang naik terlampau cepat. Betapa sulitnya berkomunikasi dan memahami orang yang dilahirkan sangat dekat denganku. Mengapa menghargai itu sebegitu susahnya? Mengapa menahan emosi itu sesulit ini? Mengapa toleransi itu tak mudah untuk muncul dariku untuknya?

Kuingin bisa salurkan “grace” kepadanya. Hentikan gesekan yang terus menerus melelahkan batinku. Tak akan kubenci dirinya meski ia tak mau berubah, hanya saja kubenci sifat-sifat itu. Tak ada cara lain selain menerima. Menerimanya sebagai keluargaku, menerimanya beserta perannya dalam hidupku, menerimanya apa adanya, termasuk menerima keadaan demi keadaan ini.

Aku mengaku kalah dan aku tak berbangga untuk itu. Aku kalah oleh ego-ku yang terlalu cepat tersulut emosi. Mulut yang tak mau kalah untuk membela diri yang mungkin tidak bersalah tapi ingin membenarkan cara pikirnya jelas salah. Tak ingin aku terus begini. Sebab bila terus menerus seperti ini, aku tak juga bertumbuh secara kedewasaan emosi. Aku tak kan menjadi orang yang lebih baik dari hari kemarin.

Ku bukan malaikat. Bila kau tak mau berubah, ya sudahlah. Namun, aku harus bisa memahamimu dan memahami semua ini. Anggap saja, kau harus ada di sana, menyebalkan buatku, bagi proses ini. Tunggulah, kuakan segera temukan cara untuk beranjak dari lumpur hisap yang tak menguntungkan kita berdua ini. Kuakan tepati janjiku, tujuan awalku kembali kemari. Kusyukuri hadirmu untuk proses ini, kuakan sanggup bertahan dan ditempa demi proses ini, prosesku..

If you want the rainbow, you must to put up with the rain.


Krwci | 140611 | 5:50PM

Previous Older Entries Next Newer Entries

www.widiantigunawan.wordpress.com