My 22nd..

5 September 2009, genaplah sudah 365 hari dari usia 21ku. So, this is my day, welcome my 22nd!

Pergantian hari kulewatkan di jalan, melajukan mobil menuju rumah dengan kondisi muka, rambut, baju penuh noda black forest. Sambil PDA berdering menerima pesan singkat yang masuk, sambil tertawa kusetir mobilku, sambil kuinjak lebih dalam pedal gas agar sampai di rumah lebih cepat dan kuingin mandi!

Akhirnya tetap ada surprise di ulang tahun ke-22 ini!! Tetap ada ‘cake’ dan lilin untuk kutiup setelah make a wish. Sepulang dari buka puasa bersama, awalnya tak ada rencana lain. Teman-teman beranjak ke PISA Cafe dan aku pun ikut meski berarti lebih jauh dari rumah. Tapi masih jam 8 malam dan terlalu awal untuk pulang. Mengobrol beragam hal dan juga topik yang sangat menarik untuk dijadikan sebuah talk show. Murni tanpa skenario.

Ada Lia, Erlin, Sony, dan Ronny di mejaku. Sementara Ming dan Anam ada di meja sebelah dengan kegemaran mereka yang cukup mengerikan bagiku yang melihatnya haha.. Irwan, Iin, Edo, Erwin, dan Danny ada di meja lain. Pak Hin datang menyusul. Semua asyik mengobrol dan menikmati Jumat malam. Sambil menikmati chocolate fondue, topik panas mengalir sepanas cokelat yang dilelehkan di depan kami. Ketika jarum jam mengarah ke setengah 12 lebih 10 menit, teman-teman mulai beranjak keluar seperti hendak pulang.

Beberapa ‘sok sibuk’ di pelataran parkir malam itu. Tak lama, dari arah belakang terdengar Happy Birthday dinyanyikan. Muncullah Ming membawa black forest berlilin warna warni yang terpasang tidak rapi (hahaha..) dan black forest yang tampak tak karuan. Lembaran cokelat terjatuh di samping. Kemudian mereka berkumpul dan Iin menyanyikan Happy Birthday in Chinese version. Click here to watch the video. Ming memintaku make a wish. Kuteriakkan keinginanku dalam hati dan lilin kutiup. Huff..!!

 

Surprise 22nd

Lalu cake aneh itu berpindah ke Iin dan aku diminta mengambil cokelat dengan mulutku. Tak ada yang bisa kupercaya rasanya dari perintah itu haha.. Kubayangkan saat itu cake itu langsung ditimpukkan di wajahku hahaha.. Belum pernah bersurprise dengan olesan krim.  Iin memang tidak menimpukkan kue itu ke wajahku tapi Anam yang mengeksekusinya haha.. Setelah krim tertambat di sebagian wajah, foto bersama, dan here it comes!  Aku tak bisa lari lagi, black forest aneh itu mampir ke wajah sebelah kanan, ke arah telinga, rambut, dan bagian punggung! Hahaha.. Tak sempat kubalas karena Anam langsung kabur dan pulang.

Dibantu beberapa teman, dengan berlembar-lembar tissue, kubersihkan krim dan cokelat dari wajah, rambut, telinga, leher, dan tanganku. Kulepas blazer dan segera pulang. Kurendam blazer sebelum krim mengering. Mandi dan keramas sampai 3x tuk hilangkan lemak krim itu. Kemudian mengucap syukur dan kurasa tengah malam itu saat yang paling tepat untuk berdoa. Bersyukur dan menceritakan keinginan yang kuharapkan di usia 22 ku dapat terwujud. Itulah esensi terpenting dalam ulang tahunku. Setelah malam sebelumnya bersyukur untuk umur 21, giliran kuserahkan rencana di umur 22 kepada Tuhan.

Selebihnya tak ada yang luar biasa. Bahkan hanya menghabiskan waktu menikmati rumah karena tahun lalu aku di Jakarta. Kubuka FB yang berisi ratusan comment. Aku bertanya pada beberapa teman yang cukup dekat tentang persepsi mereka tentangku. Aku butuh mengevaluasi diri supaya dapat menjadi lebih baik lagi. Aku mengirimkan email kepada sahabatku. Menyanyi dan menghafalkan lagu di kamar. Menonton DVD. Dan terakhir menuliskan post ini sebelum berdoa dan tidur.

Aku merasakah satu tahun ini aku sudah berhasil menjadi orang yang lebih positive thinking. Benar-benar berhati-hati dalam menaruh hal di pikiranku. Say what you mean, mean what you say. Beberapa jawaban mengatakan demikian. Semoga aku akan terbiasa dengan kebiasaan baru yang baik ini.  Hal yang perlu kuperbaiki adalah emosiku yang masih sangat labil, mudah naik turun dan menyerah. Lalu kecenderungan untuk mencari excuse yang tanpa sadar membatasi kemampuanku. Setahun ke depan, 2 hal itu harus bisa kuperbaiki.

Dalam doaku semalam, kumaknai 22 tahunku ini sebagai tahun untuk bekerja keras. Ada banyak masa ketidakpastian untuk masa depanku tetapi pada saatnya nanti orang akan melihat bahwa God is BeBe’s victory. Keberhasilan demi keberhasilan dipersiapkan di sana olehNya buatku. Ketika keberhasilan itu hadir, semua bukan karena kuatku tapi hanya anugerah Tuhan dan diberikanNya buat mereka yang mengandalkanNya.

Usia ke-22 diawali dengan surprise dari teman-teman ‘penting’ di SYN. Kuyakini itu bahwa setahun ke depan, aku punya teman-teman hebat yang akan maju bersama denganku. Siap membantu dan mendukung di sekelilingku seperti ketika mereka memberikan surprise kecil itu untukku.

Aku pun akan terus berserah untuk masa hidup yang akan datang. Ke mana Tuhan akan membawaku. Apa lagi yang akan Dia bawa kepadaku. Siapa yang Tuhan sediakan untuk jadi warriors-ku. Langkah setelah kuliah ini selesai. Semua kuserahkan dengan iman bahwa God is my victory.

Selamat datang 22.. Angka cantik 22, seakan menunjukkan cantiknya perjalanan di tahun ke-22ku.. Because God is my victory!

The battle is not ours, the battle belongs to the Lord..

 

Surabaya – 050987

Advertisements

Merangkak, Berjalan, Lari!!

Surabaya – 010609 – 9:09 PM

Setiap kali mendengar kisah seorang ayah yang seumuran ayahku meninggal, pikiran dan hatiku seolah disentil. Meski sentilan itu tak meninggalkan luka tapi tetap saja ada hentakan kecil yang sedikit memerah di kulit. Berulang kali aku tersentil, tetapi kali ini aku tak ingin hanya biarkan bekas merah itu memudar begitu saja.

Teman baik ayah sejak kuliah yang kemudian bersama menjadi dosen di Teknik Sipil, baru saja meninggal. Tipe lelaki pekerja keras, yang kurang peduli akan kondisi tubuh. Ia meninggal karena penyakit lever yang diketahui 7 tahun silam. Bukan cara meninggalnya yang menyentilku, tetapi masa depan keluarganya. Anak tertua terlahir dengan fisik kurang sempurna. Anak kedua seumuranku dan masih berkuliah. Istrinya tak bekerja.

Kondisi itu selalu mengajakku berkaca akan kondisi keluargaku di cermin kehidupan. Ibuku seorang ibu rumah tangga yang baik. Kakak laki-lakiku baru saja lulus kuliah dan sedang mulai mencari pijakan yang pas untuk bekerja. Adik perempuanku masih memakai seragam putih abu-abu. Aku, seorang mahasiswi tahun terakhir yang tak pernah punya pengalaman mencari uang sendiri. Ayah bekerja sesuai dengan bidang kuliahnya dulu, di bidang jasa pembangunan, dan tak ada satupun dari kami yang mempelajari itu. Dengan kata lain, tak ada yang bisa melanjutkan, mungkin..

Tak pernah mau dan tak akan berharap kejadian seperti itu, tetapi harus ada sesuatu yang mulai dilakukan tanpa harus menunggu hal buruk menimpa. Aku harus mulai dari sekarang, mencari tahu apa yang bisa kulakukan. Selama ini tak pernah mencari uang sendiri bukan berarti tak kompeten, tetapi keadaan nyaman cukup membuat aman. Aku wanita dan bukan anak tertua. Ditambah dengan beban beri prestasi yang baik kepada ayah ibu.

Wafatnya teman baik ayah ini memberitahuku satu hal. Saat ini ada sebuah pilihan yang telah kupilih untuk mulai kucoba jalani. Aku harus bisa tekun menjalani pilihanku agar sedikit demi sedikit tabunganku mulai terisi. Aku harus mandiri meski ayah hanya memintaku menimba ilmu dengan baik. Prestasiku akan tetap kuberikan karena itu tanggung jawabku untuk membanggakannya.

Mungkin ini bisa menjadi motivasi, aku akan selalu berusaha merangkak, berjalan, hingga berlari bila sudah saatnya. Mandiri bukan hanya dari tindakanku selama ini, tetapi juga dari segi financial. Mensyukuri kehadiran ayah ibuku sampai sekarang bukan berarti cukup sampai di titik ini. Bukan di titik sekolah dan prestasi saja. Tetapi saat inilah belum terlambat bagiku untuk berusaha mandiri sedikit demi sedikit. Aku akan berusaha tanpa harus menunggu hidup menyatakan misterinya!

Tak masalah seberapa lambat kamu berjalan, asalkan kamu tidak berhenti..

www.widiantigunawan.wordpress.com