A Goodbye to the Compass of My Life

Setiap kehidupan memiliki cerita. Cerita yang baik untuk diteladani, dan cerita yang buruk untuk dipelajari agar tak perlu terulang kembali dan dijauhi. Tergantung pola pikir manusia yang melihatnya. Aku memilih untuk menjadi seorang pembelajar, karena hal buruk hanya akan menjadi trauma bila tidak diterima dan dihadapi. Dan setiap cerita bersama dengan Tuhan, akan selesai dengan baik pada akhirnya.

com·pass [kúmpəss, kómpəss]

noun (plural com·pass·es)

1. direction finder: a device for finding directions, usually with a magnetized needle that automatically swings to magnetic north

2. personal direction: a sense of personal direction

3. scope: the scope of something such as a subject or area of study

4. hinged device for drawing circles: a device for drawing circles or measuring distances, e.g. on a map, that consists of two rods, one pointed, the other often holding a pencil, joined by an adjustable hinge (often used in the plural)

Microsoft® Encarta® 2006. © 1993-2005 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Ia seorang laki-laki yang suka kutemui saat kecil. Setiap liburan sekolah tiba, aku dan kakak selalu siap untuk packing lalu pergi ke Semarang. Bahkan kami yang masih SD pernah pergi berdua dengan travel karena papa dan mama sedang ada kesibukan lain. Saat mudanya, ia pernah belajar fotografi dan bertemu dengan sang istri karenanya. Kemudian ia menjadi seorang pengusaha kayu jati yang sukses. Menjelajah Jawa Tengah untuk mencari kayu yang terbaik, setidaknya itu yang diceritakan anak-anaknya.

Bila kami ada di Semarang, ia mengajak kami pergi bermain ke Sri Ratu, mengantar kami makan nasi ayam, loenpia gang Lombok, pergi menginap di Bandungan, pergi ke pabrik tahu favoritnya di Bandungan, membawa kami ke Museum Kereta Api Ambarawa, membelikan hadiah, mengijinkan kami memanjat pohon belimbing di halaman rumahnya, mengajariku kebiasaannya di pagi hari yaitu memetik daun yang sudah menguning di pohon di belakang kamarnya. Aku mencoba mengingat berbagai hal menyenangkan yang pernah kulalui bersamanya dulu.

Lalu ada satu masa di mana kepahitan itu muncul. Ia seorang pengusaha kayu jati dan suatu kali ia ditipu dalam jumlah besar oleh seorang pelanggan, yang tak lain adalah seorang pelayan di gereja. Sejak itu kepahitan muncul dan kekecewaan itu tidak terobati, hingga tak tersembuhkan. Ia menolak untuk kembali datang ke gereja sejak saat itu karena ia melihat kemunafikan di sana. Sampai puluhan tahun kemudian, Ia tak pernah mau kembali lagi ke gereja.

Kepahitan yang tak terobati itu menjadi sebuah kondisi hati yang tidak sehat. Pemberontakan menjadi pintu masuk untuk hal tidak baik lainnya. Kekecewaan membuatnya lari dari kebenaran. Sebuah batu sandungan membuatnya pergi menjauh dari Kasih yang sejati. Entah sadar atau khilaf, tapi aku percaya bahwa manusia selalu bisa memilih untuk tidak dikalahan dengan keadaan.

Ya, ia tidak menghiraukan pasangan sejatinya. Ia pernah memilih jalan yang lain. Melukai yang mencintainya. Berlari terlalu jauh hingga tak sanggup kembali. Menjauhi terang dan membiarkan kegelapan menguasai hidupnya. Keselamatan adalah anugerah, tetapi respon terhadap keselamatan itu adalah tugas dan tanggung jawabmu. Aku belajar darinya, untuk tidak akan pernah mau jauh dari Tuhan. Agar tidak ada kesempatan bagi dosa untuk menjauhkanku semakin jauh dan tersesat.

Selama bertahun-tahun, Bebe remaja pernah sangat marah dan tak mau lagi pergi ke Semarang untuk menemuinya. Aku malu. Aku membencinya. Bahkan tak mau menyebut namanya dalam doaku. Namun, wanita luar biasa itu yang tak lain adalah istrinya, justru berpesan: “Jangan membencinya, Be. Bantu aku untuk mendoakannya. Aku percaya Tuhan memanggilnya kembali pulang, dan ia akan kembali.” Masa yang sulit. Cinta nyata wanita ini, dan kasih Tuhan yang membuatku bisa memberikan pengampunan baginya. Ya, aku sudah memaafkan kakekku. Benar, laki-laki ini adalah kakekku.

Aku belajar untuk mendoakannya. Karena bila nenekku yang disakiti sedemikian dalam bisa mengampuninya, aku tak pantas membencinya. Aku berdoa agar Tuhan melembutkan hatinya dan mau menerima Tuhan kembali. Suatu hari Kong-Kong bisa menyadari cinta sejati Bobo untuknya. Aku ingin Bobo bisa berjumpa dengan Kong-Kong di Surga nanti. Aku minta Tuhan menyapanya lewat sinar matahari pagi yang masuk ke jendela kamarnya, melalui hijaunya dedaunan di halaman rumahnya, Tuhan menyapa di dalam mimpi-mimpinya. Bila kondisi ingatannya semakin menurun, biarlah hanya hal baik bersama Tuhan saat muda dulu yang tertinggal di sana.

Beberapa tahun ini, ketika kondisi kesehatannya menurun, setiap kali ke Semarang, aku selalu menyempatkan waktu untuk berdoa bersama denganNya. Aku sangat bersyukur, karena Ia mau berdoa. Aku masih ingat, saat itu sekitar Natal 3 tahun lalu, malam sebelum aku kembali ke Surabaya, aku memberanikan diri untuk bertanya, “Kong-Kong, apa yang mau Bebe doakan?”, di depan Bobo ia menjawab, “Doakan biar selamet.” Aku mengartikannya sebagai keselamatan. Bagaimanapun, ia tetap menginginkan keselamatan. Air mata pun tak tertahankan..

Satu hal yang aku selalu yakini, Tuhan mencatat semua doa yang tak pernah henti dinaikkan oleh Bobo dengan iman, bahwa suatu saat ia bisa berjumpa dengan suaminya di Surga. Tuhan melihat cinta dan kesetiaan luar biasa yang Bobo miliki. Tuhan pasti menjawab doa yang kami naikkan untuk keselamatan Kong-Kong.

Setelah saat itu, daya ingatnya semakin menurun. Suatu pagi, Bobo menelepon ke Surabaya dan berkata, Kong-Kong bermimpi bahwa aku bersekolah di luar negeri. Aku hanya kaget karena ia sudah mulai lupa akan cucu-cucunya. Namun, aku tersenyum dan mengamininya.

Ia sudah tidak lagi mengingatku saat bulan Juni lalu aku mengunjunginya di Semarang. Tak apa, karena saat itu aku menyaksikan sebuah pemandangan yang jauh lebih berarti. Saat itu Bobo sakit, di saat yang sama kondisi kesehatan Kong-Kong menurun. Meski ketika bersama selalu muncul pertengkaran, saat itu Kong-Kong berujar, “Aku mau lihat istriku di ICU!”. Sesulit apapun itu, aku dan adikku membawanya yang sudah tak lagi bisa berjalan, untuk bisa masuk ke ICU. Dengan perkataan yang terbata-bata, Ia masih bisa bilang, “Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit yang terbaik?”. Ya, cinta itu masih ada di sana. Dari tatapan itu aku tahu, cinta itu masih ada.


Lie Yauw Tjoen atau Mulyono Budi Santoso, adalah kakekku yang mengajarkan banyak hal penting untuk kehidupan ini. Bagiku, ia adalah kompas yang menunjukkan arah yang benar, dan juga arah yang tak perlu untuk kutuju. Seperti kompas yang mempunyai dua ujung jarum. Tepat 10 hari setelah ulang tahunku ke 26, Tuhan memanggilnya ke sisiNya. 15 September 2013, Minggu pagi, tepat saat aku dan adik harus melayani di tim musik di gereja.

Darinya aku belajar bahwa dengan bekerja keras, kesuksesan itu bisa diraih meski usia masih muda. Dari kisah hidupnya aku mengingatkan diri untuk tidak munafik, bahwa kekristenan itu bukan hanya agama atau di gereja semata, kekristenan itu seluruh aspek kehidupanmu yang disaksikan oleh dunia. Dari perjalanan hidupnya, aku jadi sangat membenci perselingkuhan dan menghargai benar arti kesetiaan. Aku membenci lelaki yang main tangan terhadap wanita. Aku harus mengunjungi berbagai tempat di belahan dunia lain selama aku punya kesempatan.

Aku belajar untuk memberikan pengampunan, karena bagaimanapun tanpa Kong-Kong, Bebe tidak akan ada di hari ini. Aku belajar untuk menyadari siapa yang patut dicintai, yaitu mereka yang mencintaimu dengan tulus, selalu menyebutkanmu dalam doanya, sanggup menerimamu apa adanya, dan selalu menantimu kembali. Cintailah mereka yang mencintaimu. Waktu hidup ini tak panjang, jangan ada penyesalan di sana.

Selamat jalan Kong-Kong. Tidak ada penyesalan yang tertinggal di hatiku, justru kedamaian karena sebelum menutup mata, Kong-Kong berujar: “Aku mau pulang ke Rumah Bapaku.” Itu meyakinkanku bahwa Tuhan melihat iman Bobo dan menjawab ribuan doa yang dinaikkan untuk suami tercintanya.

Tuhan memanggilmu kembali padaNya di Minggu pagi, bahkan kau tahu tepat kapan perjalanan hidupmu akan tiba di garis akhir pertandingan, jam 7 pagi. Semoga itu pagi yang paling indah buat Kong-Kong. Tuhan sangat sayang Kong-Kong. Terima kasih sudah menjadi sebuah kompas bagi hidupku. Aku akan meneruskan kisahmu ke anak cucuku. Sampai jumpa di Surga nanti. Mungkin bukan cerita yang luar biasa, namun yang pasti ini adalah akhir yang teramat baik. I love you, Kong-Kong.

Ecclesiastes 3:1-2 | To everything there is a season, and a time to every purpose under the heaven: A time to be born, and a time to die; a time to plant, and a time to pluck up that which is planted.

Surabaya, 150913, 21:15 PM.

This post is the sequel of The Legend of My Superwoman.

Advertisements

25 – part 2

What you are going to read is something that not many people can understand. If you think that, at some point, there is something wrong with this story, maybe you should stop reading. No offense. I’m not naïve or arrogant, I just want to share a supernatural experience that I just had. It’s so beautiful to me, and I don’t want to ruin it with never-ending arguments. It is quite personal and I actually didn’t want to share it, but there are probably people out there who are facing the same situation as I did, so I decided to take a risk and hope this could be a blessing for those people.

..

I: “What if, as your 25th birthday present, you gave yourself to God through baptism?”

Me: “I’ve been baptized before and I don’t want to do it just because it’s my birthday.”

I: “Hey, pause for a moment here. Look back on these past few months. Where are you now in your spiritual life?”

Me: “Yeah, I’m flying with Him. A lot of times, my logic catches up, though. I don’t know what God is doing in me but yes, I see that I have been changed.”

I: “You said to me you had a feeling that this was just the beginning, right?”

Me: “Yes. It scares me sometimes, but I feel that He is leading me to a greater journey that lies ahead.”

I: “Then use this baptism as a milestone. Remember when you started flying with Him.”

Me: “But, are you sure? Is it allowed? I was baptized when I was 17, even though it was just the one where they sprinkled water on me. I don’t care the way they did it, it was still a baptism.”

I: “You didn’t live your life with me back then. You were baptized in the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit, but didn’t believe that I existed. But now, we are best friends! Come on.”

Me: “I am sorry about that, but I truly thank you for being alive in me, I’ve grown a lot.” (I started crying and feeling guilty for some reason.)

I: “Yes, but you haven’t only grown in faith. Who you are now is different from the 17-year-old Bebe; totally not the same. Thank you for inviting me and letting me work in and through you.”

Me: “But what will people think of my faith then?”

I: “Just focus on God. Ask Him if He really does want you to be baptized this time. I think this will be a nice gift that you can give to Him.”

Me: “Okay, I’ll ask Him.”

I: “And read the Bible, especially the passage about Jesus’ baptism.”

..

This conversation occurred after I’d seen the announcement for the September 2012 baptism class for the first time. The conversation above was between me and who, you ask? I think you know the answer. Since that day, I had been bringing this issue into my prayer. After a few weeks, I decided to find someone who could understand.

On Sunday, I found Mrs. Ruth at ICA East, delivering a sermon about a “new season.” After the service, I shared my struggle about baptism with her and, unexpectedly, she prayed over me. It was overwhelming. I had never known her before, but suddenly it felt like we were long lost friends who had just found each other again. A message that I got from her was “go and do what Jesus did.”

I continued to pray about it and met my awesome pastor, Pastor John Taylor. When I told him of my struggle, he said the same thing; that it was not about being baptized twice, but about being conscious of my decision and earnestly wanting it with all my heart. He also said he wanted to be the one to baptize me.

I decided to obey God. I was at the stage of learning to obey Him, so I didn’t care about what people might think because I should respect God more than them. So if they were going to judge me, then that would be their business with God. I was just obeying Him.

The baptism was going to be held in the same week as my birthday. I did not expect a surprise or a gift from anyone, but I expected the unexpected from God – something supernatural that is not for me, but for my soul. I can’t even describe it, but I hope you get what I mean. My soul rejoiced throughout the week, though not for September 5th, which was my birthday, but for September 8th, the day of the baptism. Weird, huh?

On my birthday, I could see how much people cared for me, and I was overwhelmed by their greetings and wishes. It meant one more year had passed, one less year from my time in this earthly body. But on the baptism day, it was something for my eternal life. I believe the baptism was a door that led me to other experiences with God.

My 25th birthday wish was to give myself to God by getting baptized. As I’ve said before, it was a “me and my God” moment and I wanted to use the opportunity to thank the Father, the Son, and the Holy Spirit. I thanked the Father for the fact that I had always been able to tell Him anything and everything about my life. I thanked the Son for being obedient and willing to go down to earth in order to die and redeem me, and I thanked the Holy Spirit for making me understand the beauty and sweetness of having a relationship with Him.

On September 8th, 2012, witnessed by my parents and my ICA family, I was baptized by immersion by ICA’s “John the Baptist.” It was a privilege to be baptized by him, by someone who had been watching out for me, mentoring me, and praying for me and my journey with God.

As I went into the pool, Pastor John suddenly gave a short testimony about me. After he was done, I asked him to pause for a minute because I wanted to savor the moment and remember the faces that were there. This baptism was one of the best moments of my life. Thank you to those who have prayed for me, encouraged me, and were there to support and officially welcome me to the body of Christ.

Before the baptism, I asked my sister to write “obedience” on my right hand to remind me that what had happened that day was a part of it – of being obedient to God. The T-shirt I wore when I got baptized was the same one in the picture of me with my birthday cake because, to me, both of these events are connected.

..

Here is the testimony that I read out loud from the pool just before getting baptized:

“I’ve been baptized before, but that was because I was told to. I didn’t feel anything. I was baptized in the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit, but I never gave the Holy Spirit the opportunity to work in my life.. You were the One who asked me to get baptized again today as my 25th birthday present from me to You. You are my everything. You’ve saved me and called me Your beloved. As a birthday present from my earthly body to my soul for eternity and as an act of obedience to You, I will remember this day.. This is a milestone in my love story with You; the beginning of a greater journey. I know You’re smiling at me now. I want to be a woman after Your own heart. I want people to see you in me and marvel at Your presence. Here I am. I love You, Lord!”

..

“Widianti Gunawan Wijaya, I baptize you in the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit…”

Surabaya | 110912 | written by BeBe | Edited by Sefanya Hiennadi

25 – part 1

Do you know my favourite quotes?

Permohonanku di ulang tahun ke-24 adalah menjadi “a better lady in waiting”. Tulisanku 24 menjadi pernyataan apa yang aku inginkan. Kutuliskan di sana:

“Aku mau biarkan diriku dipimpin dan diarahkan oleh Roh Kudus.. Bila Tuhan ciptakan aku sebagai wanita, maka aku harus menjadi wanita yang baik dan berkualitas. Wanita yang memiliki hubungan baik dengan Tuhan. Yang diberkati untuk menjadi berkat buat sesama..Harapanku ini bukan hal yang mudah untuk dijalani. Sebab bila kau belajar, pasti akan diuji.. Semoga setahun lagi, sudah ada buah baik yang bisa dipetik.”

Saat itu aku tak sepenuhnya tahu apa yang kutuliskan. Rasanya saat itu sudah lama sekali berlalu. Sebab terlampau banyak hal besar dan luar biasa memprosesku setahun ini. Kualitas proses itu melampaui kuantitas waktu dalam satu tahun. Mungkin sulit untuk dipahami olehmu, tapi telah kulalui dan mungkin bisa dimengerti oleh mereka yang menemani perjalananku.

Dimulai dengan proses yang menyakitkan di bagian awal. Tetapi Tuhan menunjukkan padaku, itu adalah titik awal bagaimana ia memproses karakter dan diriku. Dari lembah ke puncak gunung. Ia membalikkan semuanya dan mengabulkan permohonanku. Lembaran baru, bukan lebih baik tetapi jauh lebih baik.

Masa satu tahun di Jakarta bagaikan karantina buat karakterku. Saat pindah ke Jakarta, aku senang karena akhirnya keinginanku terwujud. Namun ternyata, aku dilatih, digesek, ditempa. Terasa berat, sakit, dan tak mudah. Namun Tuhan menemaniku dan memampukanku melewatinya. Hingga kemudian, akhirnya aku dipulangkan kembali ke Surabaya untuk mengerjakan hal yang lain lagi. Saat kembali, aku sempat merasa kecewa dan hampa. Namun kusadari, berada di kota ini berarti aku bisa menjadi berkat untuk lebih banyak orang. Aku dibawa ke keluarga dan teman-teman yang membuatku nyaman.

Ya, aku yang sudah selesai masa karantina, seakan dilepaskan di medan perang untuk mempraktekkan dan menggunakan ilmu yang sudah kupelajari. Aku masih ingat, cukup banyak teman yang kaget melihatku kembali dan berujar aku seperti orang berbeda. Mereka bilang aku berubah, ada yang berbeda di dalamku dan itu terpancarkan keluar sehingga aku sangat berbeda dengan setahun sebelumnya. Aku tak mengerti karena menurutku aku bebe yang sama. Setidaknya hal yang membuatku tenang, mereka bilang perubahan itu positif, bukan semakin buruk.

24 ku diisi dengan banyak momen. Salah satu momen terindah adalah aku berhasil mewujudkan keinginan untuk keluar negeri hanya berdua dengan sahabat terbaikku, yaitu adikku. Masih saja ada yang tak kumengerti, mengapa Tuhan membawaku belajar tentang ilmu finance. Aku terus bertanya tentang tujuan hidupku, bidang mana yang Ia mau aku hidupi, bahkan kehendak bebasku ku seakan buta arah. Sungguh tak mengenakkan menjalani sesuatu dengan hati mati rasa atau mungkin karena itu bukanlah panggilan hidupmu.

Tetapi ada musim untuk segala sesuatunya. Kemudian kurasakan, ada sesuatu yang lebih besar dariku yang membawaku ke jalan yang lain. Aku diluputkan dari tekanan yang menyesakkan. Badai itu seketika tenang dan aku mulai bisa bernapas lega, dan melihat lebih jelas. Keluarga menyambutku, ladang pekerjaan baru menanti dikembangkan. Pandanganku ke depan. Tak ada penyesalan atau sakit hati. Sukacita yang luar biasa bisa kurasakan lagi.

Ketika logikaku mempertanyakan, Ia mengirimkan buku demi buku yang bisa menjelaskan semua pertanyaan itu. Buku-buku yang sampai ke tanganku karena diberi pinjam, atau kubeli tanpa kutahu buku apakah itu, atau pemberian orang lain.

Ini adalah buku yang kubaca beberapa bulan terakhir ini: Lady in Waiting by Kendall & Jones, Lineage of Grace by Francine Rivers, The Battle Belongs to the Lord by Joyce Meyer, Understanding the Purpose and Power of a Woman by Myles Munroe, A Woman After God’s Own Heart
– daily devotional by Elizabeth George, Living Beyond Your Feelings by Joyce Meyer, dan Becoming the Woman God Want Me to Be by Donna Partow. Aku baru sadari bahwa semuanya bertema sama dan seakan menjawab permohonanku untuk menjadi “a better lady in waiting”! Bagaimana mungkin??

Bukan hanya buku, tetapi ada banyak orang menginspirasiku banyak karena hubungan mereka dengan Tuhan. Bila aku minta dituntun, aku harus mau taat. Ya tuntunan itu baik untukku. Tak mudah tetapi aku hanya mau taat, selangkah demi selangkah.

Itu pula yang membawaku bisa berangkat mission trip ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Di awal tahun ICA mengumumkan seluruh rangkaian mission trip di tahun 2012. Aku berdoa supaya bisa berangkat ke Youth Camp di Palangkaraya. Sejak itu poster peta mission trip 7-12-1 Central Kalimantan kutempel di dinding kamar tepat di depan tempat tidurku. Dan benar, aku dibawanya berangkat ke Palangka Raya awal Juli 2012. Selain itu aku membagikan diri menjadi leader youth camp Kembang Kuning dan juga youth camp ICA.

Begitu pula dengan talenta yang dititipkannya padaku. Setelah bergumul beberapa bulan, akhirnya aku menyerah dari mencari-cari alasan. Aku berhenti berpura-pura tidak mendengar. Dan akhirnya aku bersedia menjadi worship leader. Aku hanya melakukan kewajibanku, mengembangkan talenta yang Ia berikan, dan mengembalikannya. Aku bukan hebat, justru aku seringkali takut, tetapi tetap taat dan melakukannya. Setiap orang yang kepadanya diberi banyak, dari padanya akan dituntut banyak.

Bersyukur dan hanya bisa bersyukur. Penyertaan Tuhan sungguh luar biasa. Dan aku sangat mau untuk terus diisi dan diperlengkapi menjadi wanita yang lebih baik. Bukan hanya untuk diri sendiri tetapi untuk orang lain, untuk orang banyak, dan memuliakan Tuhan.

Jujur ada kalanya merasa tidak nyaman, melihat teman-teman baikku saat SMP, SMA, dan kuliah, mereka sudah menikah dan menjadi mama atau sedang mengandung. Bila aku mau membandingkan, mungkin secara kasat mata aku tertinggal jauh di belakang. Namun, aku tahu “membandingkan diri” hampir tidak pernah membawaku merasa lebih baik, justru menjatuhkanku. Begitu pula “mengeluh” tidak akan pernah membuat hidup menjadi lebih baik. Aku memilih untuk diam dan tegar, sambil terus melakukan apa yang bisa kulakukan untukNya. Tuhan tahu keinginan hatiku, dan aku memilih bertahan dalam rencana indahNya.

Beberapa hari yang lalu aku bertanya apa yang harus aku mohonkan di tahunku ke 25? Aku menemukan di renunganku: “Even you are far from perfect; continue on the path of being a woman after God’s own heart. And you’ll find a lot of joy along the way.” Ya, semoga aku bisa menjadi seorang wanita yang berkenan di hati Tuhan. Wanita yang bisa berucap “iya” ketika dihadapkan dengan pilihan untuk menaatiNya. Wanita yang menginspirasi dunia sekitarnya. Wanita yang bisa memancarkan sinar yang terang sehingga orang dapat melihat kasih dan kuasa Tuhan. Bagaimanapun waktuku akan tiba untuk ditemukan. Jadi aku akan mempersiapkan diri sebaik mungkin dan menghabiskan lebih banyak waktu bersamaNya.

  1. No eye has seen, no ear has heard, no mind has imagined, what God has prepared for those who love Him. ~ 2 Corinthians 1:9
  2. I will guide you along the best pathway of your life. I will advise you and watch over you. ~ Psalm 32:8

to be continued..

Surabaya | 060912 | 02:09 AM

All Your Ways Are Not My Ways

Bab demi bab terus berlalu. Semuanya mengarah pada cerita akhir yang indah. Aku tokoh yang dikisahkan di sana, oleh Tuhanku sebagai penulis setiap bab dalam kehidupanku.

Jelas bukanlah sebuah kebetulan, saat itu aku seakan “dipaksa” dipulangkan dari Jakarta. Ia berikan waktu satu tahun untuk aku menikmati jawaban atas permintaanku saat itu, yaitu aku ingin kembali bekerja di Jakarta. Pada akhirnya Tuhan berikan yang kuminta. Meski dengan konsekuensi kutinggalkan semua pelayanan dan kenyamanan di rumahku sendiri.

Saat itu Tuhan hanya berkata, “Do what I want you to do, the rest is Mine. I’m the One who hold your heart, you’ll be okay.” Bab itu berlalu dan benar, berjalan dengan intrik di bagian akhir. Tetapi Ia tepati janjiNya padaku. I’m okay! Aku jatuh tapi Ia memegangku sebelum aku terluka, tepat pada waktunya. Manusia bisa menyakitiku but whom shall I fear when I have Him with me?

Entah dari mana saja datangnya pertolongan demi pertolongan itu Ia datangkan. Teman-teman yang luar biasa menangkapku kembali bukan sebatas mengasihani dan menemani dalam ratapan, but they’re comforting me, memberikan cara pikir dan tuntunan yang tepat. Semua itu seakan mengisiku yang tengah mati rasa dan penuh dengan krisis kepercayaan. Aku me-reset ulang semua yang pernah kuketahui tentang arti sebuah persahabatan.

Aku sudah memberikan akhir untuk semuanya termasuk dengan bibit kepahitan yang tidak perlu ada di hidupku. Terlebih justru aku tahu Tuhan menyelamatkanku dari orang-orang yang tidak tepat untuk mendampingi proses hidupku. Berbagai kesibukan dan pelayanan seakan sudah menantiku. Tidak perlu dan tidak mau lagi aku ditarik mundur oleh hal yang sudah kububuhkan “the end”. Sebab yang di depan lebih penting, jauh teramat penting.

Sangat menyenangkan, aku justru bisa turut membantu mempersiapkan pernikahan sepasang teman lamaku menjadi EO mereka. Bukan lagi mempercayai orang lain tetapi dipercaya oleh orang lain. Aku memberikan terbaik yang bisa kulakukan karena aku tahu benar arti sebuah kepercayaan. Sangat mahal dan berharga.

Mungkin aku yang paling muda di antara mereka, sehingga selama proses EO-ing ini, aku jadi belajar banyak tentang arti relationship dan cinta yang benar dari cerita cinta yang luar biasa menginspirasi. Semua konsep yang kuketahui tentang proses, waktu Tuhan, kriteria pasangan hidup, dan iman jadi diperbaharui.

Lalu kembali mulai terlibat di ministry YDP dan Kembang Kuning lagi. Melihat lebih dekat remaja-remaja yang hidup di area yang rawan dengan penemuan jati diri yang belum tentu tepat. Itu membuatku menilik kembali ke visi yang selama ini menjadi kerinduanku, yaitu melihat generasi selanjutnya harus menjadi lebih baik dariku. Aku mau berdampak dan jadi berkat.

Aku sedang berjalan menuju sebuah hal luar biasa yang Ia siapkan di bab selanjutnya. Mengapa aku sangat yakin? Sebab aku sedang menjalani visiku, belajar hal baru, dikelilingi banyak orang hebat yang menginspirasi, didoakan lebih banyak orang, pemahaman dan prinsipku terus disempurnakan. Jadi pasti tak lama lagi kisah-kisah besar akan terjadi di bab selanjutnya.

Tidak ada yang salah dengan kepulanganku dan intrik telah diijinkan terjadi. Sebab dari sana aku tahu sekarang, setumpuk hal lebih penting perlu untuk kulakukan di sini, bukan untukku tapi lebih banyak orang. Menghidupi visi dan bergantung erat pada Tuhan. Menggeser fokus kepada hal yang lebih bermanfaat.

All Your ways are not my ways. Ya, semua rancanganMu bukanlah rancanganku.

Special thanks to Carol Isbandi, Karen Campusuelo, Conny Erawati for being angels to me.

Sby – 050312 – 1:01AM

24

Sebuah masa hidup yang masih belum kumengerti arti kelokannya tetapi telah kulalui, yaitu usiaku ke-23.

Aku menjadi dosen, dan aku memutuskan untuk mengakhirinya untuk saat ini. Aku pergi ke Jakarta yang sejak lama terus memanggilku, mencoba sesuatu yang baru. Beberapa bulan adaptasi dan pembelajaran akan dunia yang baru. Bertemu banyak orang-orang baru. Semua membuatku memilih lingkungan seperti apa yang aku mau masuki.

Tertantang untuk belajar tentang kepercayaan. Memulai merawat tempat tinggal yang dipercayakanNya untukku. Menuntutku menata mimpi yang ingin kuraih. Mempersiapkan diri untuk diperluas dengan tanggung jawab lebih besar.

Kesesakan itu membuatku berlari padaNya. Dalam kesendirian kudapati Ia berbicara padaku, dan hanya padaNya aku mampu ceritakan semua yang kulihat, kualami, dan kurasakan. Tak mau kutukar waktuku bersamaNya dengan hal lain. Kudengar seringkali Roh Kudus yang ada padaku berbicara melalui banyak cara. IntervensiNya bahkan nyata dalam badai kehidupanku.

Jauh dari keluarga dan teman baik membuatku banyak kembali melihat ke dalam diri. Pertemuan dengan orang-orang baru membuatku melihat pilihan hidup. Dari sanalah aku menjadi lebih mengenali diri, nilai, dan prinsip hidupku. Pergumulan tentang masa depan membuatku ingin menjadi A Better Lady in Waiting.

Aku selalu meyakini di balik lelaki yang hebat, selalu ada wanita hebat. Oleh sebab itu aku pun ingin menjadi wanita hebat supaya lelaki hebatku nanti dapat menjadi lebih hebat. Bukan menjadi wanita yang lebih yang hebat dari lelakiku kelak, tidak seperti itu yang orang tuaku ajarkan. Sehebat-hebatnya wanita, dia tetaplah wanita yang harus tunduk pada lelakinya. Takaran “hebat” pun berbeda-beda di pikiran setiap kepala. Buatku, “hebat” adalah jadi wanita yang siap mendampingi proses hidup lelakinya.

Untuk belajar menjadi wanita hebat ada harga yang harus dibayar. Untuk bertumbuh menjadi wanita hebat ada benih yang harus ditanam. Untuk benih yang baik itu dapat berbuah baik, ada proses yang membutuhkan waktu.

Sambil menantikan lelaki hebat itu muncul dan dengan keberaniannya mengajakku meraih mimpi bersamanya. Selagi ia sedang berperang melawan naga-naga di luar sana. Aku akan pakai waktu ini untuk menanam benih yang baik supaya kami bisa memanen buah yang baik pada saatnya nanti. Ini bukan soal romansa belaka tetapi realita yang esensial.

Bila Tuhan ciptakan aku sebagai wanita, maka aku harus menjadi wanita yang baik dan berkualitas. Wanita yang memiliki hubungan baik dengan Tuhan. Yang diberkati untuk menjadi berkat buat sesama. Mengerti panggilan hidup dan menggenapinya. Tahu apa itu menghargai orang lain. Sadar bagaimana dan kapan menempatkan diri dengan benar.

Menjadi wanita yang memiliki keahlian itu sebuah keharusan. Agar di tangannya nanti keseharian rumah tangga dapat berjalan baik. Selain keahlian, wanita dituntut untuk cerdas dan tidak dangkal berpikir. Agar anak yang diasuhnya kelak dapat bertumbuh dengan baik. Namun, cerdas masih bukan yang terpenting karena harus ada karakter yang baik. Agar dengan karakter baik itu dirinya dapat menjadi exceptional bagi lelakinya dan keluarga yang Tuhan percayakan.

Cukup sudah tersinggung ketika orang lain mengkritik ketidak-sempurnaanku. Tak ada lagi pembenaran diri saat menyadari kekurangan diri. Tak perlu merasa diri paling benar justru di saat harus merubah karakter dan sifat yang tidak baik.

Pohon untuk berbuah membutuhkan waktu sejak benih itu ditanam. Tak perlu waktu lebih lama terbuang untuk tidak segera kutanam benih baik itu. Waktu terus berjalan. Jika di musim ini ia tidak berbuah, masih ada musim selanjutnya untuk segera berbuah. Sampai kapan mau menunggu untuk tak segera menanam?

Aku mau biarkan diriku dipimpin dan diarahkan oleh Roh Kudus. Aku harus berlatih untuk bisa memiliki kecenderungan reaksi atau respon yang lebih bijak. Ada banyak hal dan aku masih amat jauh dari hebat. Tapi aku hanya ingin bergerak maju untuk menjadi seorang BeBe yang lebih baik. Seorang wanita yang menanti dengan bijak.

Harapanku ini bukan hal yang mudah untuk dijalani. Sebab bila kau belajar, pasti akan diuji. Kadangkala membayangkan ujian itu saja sudah cukup menegangkan. Namun, itulah proses untuk naik kelas bukan?

Terima kasih untuk semua teman, sahabat, dan keluarga yang mewarnai usia 23 tahunku. Dengan kerendahan hati aku mengharapkan doa dan bantuanmu untuk mewujudkan keinginan baik ini. Semoga setahun lagi, sudah ada buah baik yang bisa dipetik.

Happy birthday to me!

Excellent quality = Capability + Godly character

BeBe – Krwci – 040911 – 11:45PM

September Rollercoaster

Mungkin tak bisa terpahami betapa penasarannya aku akan September. Bulan yang sering kali memberi kejutan tak terduga. Aku suka kejutan tapi bila boleh memilih, ijinkanlah itu bukan kejutan yang tak menyenangkan.

Ada tawa keceriaan karena mendapat ucapan selamat dan doa. Penuh dengan instropeksi dan evaluasi tahun yang berlalu. Melihat visi dan mengandaikan langkah di tahun yang akan kulalui. Namun, pernah ada pula perpisahan mengejutkan di sana.

Sebenarnya setiap bulan adalah baik. Setiap hari pun begitu. Demikian pula dengan setiap detik yang aku punya. Semuanya baik adanya, setidaknya pada akhirnya.

Misteri kehidupan yang membuatnya bagai bianglala, yang bisa naik ke atas melihat indahnya dunia, lalu ada masanya untuk turun dan yang bisa kulihat hanya kerumunan manusia yang menyesakkan.

Atau seperti mengendarai rollercoaster, aku duduk tertahan oleh sabuk pengaman. Tanpa kutahu kelokan, hentakan, dan semua sudut curam yang akan dilalui. Aku hanya bisa memilih: membuka mata dan merekam semua keasyikan tersebut atau menutup mata dan menangis ketakutan. Aku pun bisa berteriak: memilih meneriakkan ketakutan yang tertahan atau meneriakkan keseruan yang tak tertahankan.

Keduanya objek yang selalu bisa ditemukan di taman hiburan. Bianglala yang besar dan tampak simetris ketika dipotret. Rollercoaster yang tinggi besar tampak rumit dengan lintasan yang meliuk-liuk dan mengeluarkan teriakan-teriakan pengunjung yang memainkannya.

Pada kenyataannya, aku selalu menantang diri mencoba berbagai rollercoaster di berbagai taman hiburan yang aku pernah datangi. Outdoor dan indoor, duduk dan gaya terbang layaknya Superman, di pantai dan di gunung, kemarau dan musim dingin. Namun tak demikian dengan bianglala, karena aku tak begitu menyukai permainan satu itu. Entah mengapa, mungkin aku memang bukan pengunjung untuk bianglala.

Baiklah, bila begitu seharusnya maka aku putuskan aku sedang berada di antrian rollercoaster bernama September, dan bukan bianglala September.

Ketakutan akan kelokan, perut yang terkocok, melihat dunia terbolak balik, mendengar jeritan ketakutan pengunjung lain, ketidakyakinan akan kekuatan pengaman, lalu bagaimana dengan perawatan setiap rel dan bautnya? Well, itu adalah bagian yang membuat mengendarai roller oaster jadi sangat seru dan lebih mengasyikkan. Bagaimana menyelam di antara puluhan alasan yang menakutiku dan tetap bisa rasakan keceriaan pada akhirnya setelah semua itu berakhir.

Toh perancang rollercoaster itu pasti sudah menghitung semuanya dengan baik. Tak mungkin diciptakan untuk membunuh mereka yang mengendarainya. Menakutkan tapi disiapkan pula alat pengaman agar mendarat dengan selamat. Begitu pula Penciptaku dan Pencipta semua hari, semua bulan dalam hidupku, termasuk September.

I am riding a rollercoaster named September, all I know is just: God had made it safe for me to ride..


Krwc – 310811 – 3:40PM

Suatu Pagi Bersama Sepatu Hijauku

Di tengah lelapnya tidurku semalam karena efek sekaleng cairan bening itu, tiba-tiba Ia menyapaku dengan lembut. Bahkan sebelum alarm pagiku berbunyi, aku terjaga dengan mata yang masih terpejam. Namun dengan jelas aku mendengar Bapa berkata, “Be, release that grace..”.

Me: “I’m not that strong to do that, Father. I choose to runaway, sorry..” Father: “No, I’ve told you before to stay. You can. Do not hold that grace.” Me: “If only You strengthen me to do that. But why should I?” Father: “…”.

Aku tertidur sebentar lalu kuputuskan menyingkapkan selimutku dan duduk berdoa. Hidupku ini bukanlah milikku, selamanya Ia yang empunya hidupku. Apapun yang Ia mau, aku tak dapat menolaknya, hanya bisa taat meski tak bisa kupahami sama sekali apa maksud dan di mana ujung dari ini semua. Bahkan aku tak mengerti apa yang sedang terjadi padaku.


Akhirnya aku memilih untuk lari pagi, toh Ia telah membangunkanku. Sejuk sekali udara di luar, angin dingin menerpaku, segar. Setelah pemanasan sebentar, mengenakan iPodku, aku mulai berlari perlahan. Indah. Pagi ini segalanya terasa jauh lebih baik dari kemarin, hari di mana bahkan satu kata pun tak bisa kutuliskan untuk pahami diriku.

Mulai kulihat sekelilingku, ada banyak hal yang tertangkap mataku. Mentari di sisi Barat Laut bersinar malu-malu. Langit biru muda berbaur dengan jingga membuatnya bersemu manis. Warna hijau deretan pohon dan rerumputan diselimuti kabut tipis. Kendaraan mulai berlalu lalang di sisi luar ruko ini. Aku terus berlari.

Tak ada yang bisa kupikirkan, yang kutahu aku hanya ingin terus berlari. Aku berpapasan dengan seorang Om dengan rambut yang telah memutih. Ia jalan lalu berlari kecil di deretan ujung ruko sebelah sana. Ketika lariku sampai di depannya, kami sama-sama tersenyum. Tulus sekali senyumnya. Lintasanku jauh lebih panjang darinya. Ketika kembali berpapasan kedua kalinya, tiba-tiba ia mengacungkan jempol ke arahku sambil tersenyum dan kepala menganguk padaku. Om itu membuatku semakin bersemangat untuk terus berlari.

Aku berlari lebih banyak dari sebelumnya. Sampai benar-benar lelah, aku berlari lebih pelan sampai kemudian berjalan. Aneh, kakiku tak mau berhenti. Aku sudah lelah, batinku. Seakan sepatu hijau muda ini ingin terus kukenakan meski hanya berjalan. Aku tak bisa berhenti berjalan. Sampai berapa banyak lagu terlewatkan. Namun kubiarkan saja kaki dan sepatu running “just do it” ini berulah, aku menikmati kesendirian di antara keramaian Karawaci Barat yang mulai bangun perlahan.

Dinginnya udara pagi mulai berkurang. Kendaraan semakin banyak. Jalanan makin ramai. Orang-orang berangkat bekerja. Toko demi toko mulai berbenah. Kulihat dari kejauhan Om yang tadi kutemui berbelok masuk ke kompleks rumahnya. Mentari makin meninggi, mungkin membentuk sudut 30 derajat di atas sana. Sinarnya menyinari dan kumulai rasakan panas. Semakin banyak lagu terlewatkan hingga langkahku benar-benar terhenti.


Kembali ke rumah sementaraku di lantai atas, kutemukan sebuah sudut di ujung belakang sana. Jendela kaca itu kugeser penuh, kulihat pemandangan yang cukup indah, perumahan lain yang belum sesak dengan rumah, masih sepi tanpa banyak aktivitas penduduknya di pagi ini, lapangan kosong berumput tampak jelas dari atas sini. Angin dingin kembali berhembus perlahan. Aku duduk dan meneduhkan diri.

Mencoba meresapi pagi ini. Mengendapkan semua yang kudengar dan kulihat serta kualami. Mungkin itulah grace, kasih karunia. Ada kasih karunia yang terus menyertaiku, ia ada di ujung akhir perjalanan pengharapan dan iman. Aku tak tahu mengapa sepatu hijauku itu terus membuat kakiku melangkah, mungkin karena memang aku harus terus melangkah. Bila belum habis dayaku untuk melangkah, mengapa aku harus berhenti? Ternyata aku masih kuat untuk terus berjalan meski tidak lagi berlari.

Aku tahu dengan pasti, grace menyertaiku ke mana pun aku pergi. Tetapi di saat yang sama grace tak boleh terhenti untukku saja, grace harus terus mengalir. Meski aku tak tahu bentuk nyata grace yang harus kusalurkan padanya, meski aku tak tahu mengapa harus aku, meski aku tak tahu apa gunanya semua ini, yang kutahu aku telah putuskan bila aku mau mencoba melihat semua ini dengan cara berbeda. Karena tak ada yang salah, yang ada hanya manusia yang sedang bermasalah.

Apakah aku sanggup bertahan? Entahlah, yang pasti sepatu hijauku telah menunjukkan padaku bahwa ia sanggup bawa kakiku melangkah jauh lebih jauh dari kuduga. Apalagi Bapaku, Ia pasti sanggup bawa diri, hati, dan pikiranku untuk terus melangkah lebih jauh dari yang kupahami saat ini.


Take my heart, take my soul, I surrender everything to Your control. And let all that is within me, lift up to You and say, I am Yours and Yours alone, completely..

Gratitude Is the Key

Aku bersyukur untuk hari ini, hari di mana tiba-tiba masalah menyambar bagai petir, caci maki menghujaniku dengan deras, reputasi yang sedang diusahakan seketika runtuh, darah meninggi sampai ke ubun-ubun, hampir seluruh akal manusiaku marah karena aku tak bersalah, seakan-akan apa kulakukan dengan niat baik justru memperburuk nama baik perusahaan dan memperunyam benang kusut ini, namun tak ada satupun yang bisa kulakukan untuk sedikit saja membela diri. Karena di hari ini, aku akan belajar untuk bersyukur pada Tuhanku, bersyukur, dan bersyukur dengan nyata.

Aku bersyukur untuk caci maki dari pihak lain dalam pekerjaanku. Karena itu aku jadi tahu ladangku sekarang dan lebih mengenal siapa saja orang-orang yang harus kuhadapi di sini.

Aku bersyukur untuk beban berat yang harus kutanggung sekarang, yang sebenarnya adalah konsekuensi kesalahan orang lain. Karena berarti aku lebih kuat untuk menanggung ini daripada dia.

Aku bersyukur untuk bila cara-cara yang kusangka baik yang telah berhasil kulakukan di perusahaan lain, ternyata berbalik kacau bila diterapkan di sini. Karena berarti aku diberi kesempatan untuk melihat sistem yang baru.

Aku bersyukur ketika rekan kerjaku tak sempurna seperti yang kuharapkan. Karena berarti ia punya ruang untuk memperbaiki dirinya.

Aku bersyukur bila terkadang aku harus beradu argumen dengan kakakku. Karena berarti aku punya kesempatan mencari cara komunikasi yang lebih baik dengannya dan belajar menghargainya sebagai kakak dan atasanku.

Aku bersyukur atasanku adalah kakakku sendiri walau itu tak berarti lebih mudah. Karena aku tahu ia menyayangiku dan ingin aku pun bisa berhasil sepertinya.

Aku bersyukur bila ketika aku berbicara dengan kakakku seringkali tak didengar dengan baik. Karena aku jadi lebih memahami pria yang sedang ada dalam dunianya ternyata tak bisa diganggu oleh hal apapun.

Aku bersyukur bila ketika amarah itu dilemparkan padaku tetapi tak diberi kesempatan untuk memberi penjelasan. Karena berarti aku punya pilihan untuk berlatih menahan emosiku dan belajar diam.

Aku bersyukur bila keadilan tak terlihat jelas di sini. Karena dengan begitu keadilanMu yang akan terlihat suatu hari nanti.

Aku bersyukur bila semua rencana dan jadwal yang kuharapkan bisa memaksimalkan waktu yang ada, tak bisa berjalan. Karena aku bisa belajar lebih santai dalam hidup, menjadi orang yang lebih fleksibel dengan perubahan.

Aku bersyukur ketika kesulitan dan penat itu mengcengkeram hariku. Karena aku tahu aku punya sahabat yang bisa membantuku dan menunjukkan aku tak sendiri.

Aku bersyukur ketika tiga bulan ini ku ditempa dengan keras, hati seakan terus digesek, sakit dan melelahkan. Karena berarti aku sedang diminta belajar untuk berubah jadi pribadi dengan karakter yang lebih kuat.

Aku bersyukur untuk ujian demi ujian yang terus datang tanpa henti. Karena aku jadi tahu, Engkau sedang mengujiku.

Aku bersyukur untuk tekanan demi tekanan yang hadir tiba-tiba bagai kembang api meletup-letup di siang bolong. Karena aku jadi bisa lari padaMu di malam hari untuk curahkan semuanya.

Aku bersyukur untuk semua hal yang secara manusia ini tampak sangat berat untuk kupikul. Karena dengan aku lemah, Engkau yang kuat dalamku.

Aku bersyukur Engkau terus mengujiku Tuhan. Karena berarti Kau masih menyayangiku dan tak menyerah denganku.

Aku bersyukur di tengah air mata terlampau sering meluap karena hati yang lelah. Karena bagaimanapun Engkau sudah bawaku kemari dan aku sudah ada di Jakarta sekarang.

Akan kutepati janjiku, aku tak akan berbalik lalu menyesali keputusanku dan menyerah, sebab aku tak apa-apa di sini, semua masih baik adanya. Andaikan kulelah berjalan maju, aku akan terus berdiri dan berhenti sejenak untuk berteriak dan bersyukur padaMu. Itulah kunci yang membuka pintu pertahananku, ya, hanya itu, mengucap syukur senantiasa..

YOU are MORE THAN ENOUGH for me..

Krwci | 170611 | 4:45PM

Previous Older Entries

www.widiantigunawan.wordpress.com