Hows Taiwan, Bei?

I am living in Taiwan now. I want to share some facts about my life in Taipei, Taiwan. Many are based on FAQ that friends asked me. So, if you wonder how am I doing here, now you know that God is really taking care of me.

1. Obey God is the only reason why I am studying Mandarin here.
2. I am Chinese in blood but can’t speak Chinese (before).
3. I had no Chinese lesson preparation before I came to Taiwan.
4. Taipei is one of the safest cities in the world.
5. Almost every Saturday or school break, I travel around Taipei and Taiwan. Check my FB album, maybe you need travel recommendation around Taiwan.
6. I don’t have any family lives in Taiwan.
7. Less than a month since I came here, I had travel alone from Taipei in the North of Taiwan,  to Pingtung County in the South Taiwan, by bus and it took 7 hours. Without any good skill in speaking Chinese.
8. I had experienced Taiwan’s transportation from High Speed Rail (jet train), city bus, domestic bus, TRA Train, local train, MRT, Ubike, crystal floor gondola, boat.
9. Taiwan best spots, so far are Guanyuan and Hehuanshan.
10. My school, MTC NTNU, is the best school to study Chinese in Taiwan, I knew it after being accepted as their student. God’s favor.
10. After 7 months, I move to new room and do part time job from 2 til 10PM.
11. I gained weight few kilos already.
12. Almost everyday I eat fruits,  that’s my promise to my mom.
13. Every morning I used to take bus to go to school, and go home by bus or bike. Now, I am just walking to school.
14. I used to be at school from 8am – 4pm.
15. I am cooking instead of buying food. No rice for dinner. Soy milk for breakfast.
16. I experienced the behind the scene and vote for the Indonesia President Election 2014 from outside Indonesia. Cool experience.
17. I don’t have TV, if I get bored I do YouTube, usually I follow Indonesian politics from Mata Najwa, Satu Indonesia, Aiman Dan, Kompas TV, Indonesia Bagus, Dog Whisper, and some movies.
18. I finally decided to go to ICA Taipei.
19. I am leading worship in ICA Taipei, found out later that they had been praying for months for new worship leader. God is awesome.
20. I joined one mission trip to Hsinchu, with POKI church.
21. Until now, I had only bought Starbucks 1 time and that was on the first day landed at the Taoyuan International Airport.
22. There’s a lot Indonesian students at school but I only have 2 Indonesian friends that I hang out with.
23. My favorite food are redbean, and matcha. My favorite drink are winter melon tea, and buble milk tea. Those are Taiwan specialties.
24. Stinky tofu is nice. The fried one and grill one are nice. But the steam, once is enough for me.
25. I got my hair cut in Taiwan. Pricey but different technique.
26. My nails was never “blank or no color” because I have Japanese and Vietnamese friends who work as nail artists and they manicure me for free, and change it when they think that’s no longer good. I learned their skill.
27. I can smile just by seeing Taiwanese dogs in the street. No fancier dogs then Taiwan dogs.
28. I learned to live with earthquakes and typhoons.
29. I drove car one time, without international driving license, and on the left side driving, contrary with Indonesia, out of town.
30. These past 6 months I had travel to Yehliu National Geopark, Wulai, Tamsui, Yangmingshan National Park, Taroko George National Park, Qixing Beach, Hehuanshan, Beitou, Pingtung, Kaohsiung, Hsinchu, Daxi, Touyuan, Keelung, Hualien, Qingjing Farm, Sun Moon Lake, and many night markets in Taiwan, and Taipei city for sure.
31. My father, mother, brother, and sister had visited me in Taiwan.
32. My dad’s principles is proven right: be skillful in Bahasa and then English, after that another language is allowed. Because of English, I had bunch of foreigner friends..
33. I ate fried cricket for the first time in Kaohsiung night market. Not bad.
34. I used to worship / singing while sitting in the park, or while cycling. That’s my me time.
35. I had 8 pairs of shoes with me now, simply because Taiwan flat shoes are nice, comfortable, and not pricey at all.
36. I do the encouraging-ministry and prayer-warrior ministry to my friends in Indonesia using my Android because I miss giving, share God’s love, do ministry.

37. I experienced 4 seasons in a year here.
38. Being far from my own country, makes me love Indonesia more than before.
39. I ever cried seeing my feet full of black dotes of Taiwan mosquitoes bites. For weeks I couldn’t wear short pants. Itchy for weeks and yes, “a tough Bebe” was defeated by Taiwanese mosquitoes.
40. My works in Indonesia are still on while I am studying here.
41. I admit I was afraid for a week to take MRT after the MRT tragedy happened few months ago but didn’t tell my family bout that tragedy.
42. Free refill drinking water is everywhere.
43. Studying Chinese is not difficult but interesting.
44. Studying Chinese in Taiwan and in mainland China is different. Taiwan use the traditional (original) Chinese character, while China use the simplified one. Which one do you think more difficult?
45. Taiwanese loves cycling, not only for leisure or sport but to work or go somewhere.
46. I miss doing much sports as I had in Indonesia, especially RPM, kranking, body balance, TRX.
47. One of my mission here is can pray for others using Chinese.
48. I feel like this time is a training stage from God.
49. My grandpa who passed away last year, few years ago called my mom from Semarang, and he said he had just had a dream in his sleep that I am studying Chinese abroad.
50. Studying abroad is one of the things I want to do while I am single, for there are times for everything under the sky.
Taipei 300914
Advertisements

Mengetik “10 Jari”

Mana yang lebih mudah, mengetik di keyboard komputer dengan “11 jari” atau “10 jari”?


Salah seorang mentorku membagikan filosofi yang ia ingin aku terus pegang dalam hidup.

Mengetik 11 jari adalah istilah yang dipakai untuk cara mengetik menggunakan telunjuk kiri dan kanan. Begitu banyak orang awam yang dengan mudah bisa langsung mengetik cepat. Kedua telunjuk berlarian di permukaan keyboard. Keduanya bergantian mencari tombol huruf sesuai perintah otak. Mengetikkan huruf demi huruf baik ketika mengarang maupun menyalin ulang.

Sementara mengetik 10 jari adalah istilah untuk cara mengetik dengan menggunakan sepuluh jari tangan yang kita miliki. Kelingking hingga ibu jari, kanan dan kiri, semua mendapatkan tugas yang sama menggarap berbagai tombol di keyboard. Jelas susah bagi orang awam yang baru bertemu keyboard. Setiap jari memiliki pembagian tugas untuk beberapa tombol. Kelingking yang kecil pun harus bergerak ke sana kemari, ke atas dan ke bawah. Setiap jari jadi harus membiasakan diri.


Mana yang lebih mudah, mengetik dengan “11 jari” atau “10 jari” ?

11 jari.

Dengan cara “11 jari”, saat pertama kali kau berkenalan dengan keyboard, sudah langsung bisa mengetik. Tak hanya itu, bahkan lebih cepat hasilnya daripada mengetik dengan “10 jari”.

Tapi, setelah beberapa waktu, mana yang lebih nyaman, mengetik dengan “10 jari” atau “11 jari”? Mana yang lebih efektif?

10 jari.

Tak perlu lagi bergantian melihat tombol keyboard dan layar atau buku yang harus disalin. Setiap jari sudah hafal letak jangkauan dan cakupannya. “11 jari” tidak berarti buruk karena akan tetap bisa mengetik seperti beberapa petugas kepolisian yang mengetik demikian dengan mesin ketik. Namun, bila kau sudah bisa “10 jari”, semua akan lebih mudah nyaman dan bisa lebih cepat.


Bertahanlah bila engkau sedang merasa sulit dan belum bisa seperti mereka yang bekerja dengan cara mengetik “11 jari”. Karena engkau harus menjadi orang yang mampu mengetik dengan “10 jari”. Sekarang mungkin kau merasa kalah cepat, tetapi bertahanlah, sabarlah, belajarlah karena akan tiba saatnya kau akan menyusul mereka, bahkan membuktikan bahwa lebih nyaman mengetik dengan “10 jari”.

 

 

Surabaya | 150112 | 01:02AM

Reruntuhan Gereja Tua Menemukan Bahasa yang Hilang

Sebuah bahasa baru yang lampau, ditemukan di Peru. Di balik kertas usang berusia 400 tahun, tercatat kata-kata yang belum pernah diketahui sebelumnya. Penemuan ini melengkapi kepingan teka-teki sejarah kebudayaan Peru.

Salah satu gereja kuno di bagian Utara negara yang pernah dijajah Spanyol ini runtuh. Akan tetapi hal itu justru menjadi sebuah keuntungan tersendiri bagi sejarah dan budaya. Reruntuhan gereja Magdalena de Cao Viejo menjadi lokasi penemuan penting ini.

Pada tahun 2008, ratusan kertas kuno bersejarah terawetkan oleh iklim yang kering ditemukan di area tersebut. Namun, justru di balik salah satu lembaran kertas itulah terdapat coretan tulisan yang baru-baru ini diyakini arkeolog sebagai bahasa yang baru diketahui dan diduga digunakan penduduk setempat di masa silam.

Coretan penting tersebut berisi tulisan angka Spanyol, seperti uno, dos, dan tres; dan angka-angka Arab yaitu 4-10, 21, 30, 100, dan 200; yang diterjemahkan ke dalam bahasa yang belum pernah diketahui. Beberapa kata dikenali sebagai bahasa Quechua, namun selebihnya tidak diketahui sebelumnya.

Coretan di balik kertas memuat kata-kata yang belum dikenal sebelumnya.

Courtesy: Jeffrey Quilter

Masyarakat Peru menggunakan bahasa Spanyol dan sebagian penduduk masih memakai Quechua dalam berkomunikasi. Namun dalam masa lampau, terdapat pula bahasa Quingnam dan Pescadora yang disebut sebagai bahasa para nelayan setempat.

Dr. Jeffrey Quilter, pemimpin proyek sekaligus arkeolog Peabody Museum of Archaeology and Ethnology milik Harvard menyatakan meski belum banyak informasi yang dapat diambil tetapi catatan lampau tersebut penting dan menarik. Quilter menyebutkan, “Ini adalah petunjuk pertama akan adanya penggunaan sistem angka desimal dalam bahasa yang sebelumnya tidak dikenal.”

Penemuan di kompleks El Brujo Archaeological di Chicama Valley meyakinkan Quilter bahwa bahasa adalah petunjuk keragaman warisan budaya. Interaksi antara penduduk pribumi dengan penjajah jauh lebih kompleks dari yang pernah dipikirkan. “Semua ini menunjukkan betapa kaya dan beragamnya dunia,” ujarnya.

©BG – Sby – 031010

Hello World!

Hey, everyone!

Lukiskan kata, tuliskan warna..

Ini adalah tulisan pertama yang saya posting melalui WordPress.

Blog ini akan menjadi sebuah wadah untuk menyalurkan berbagi macam tulisan dan hasil pembelajaran diri saya. Semua hal yang menjadi pengalaman, refleksi, kenangan, perasaan, mimpi, analisa, dan sebagainya. Karena bagi seorang Widianti Gunawan, hidup harus terus belajar. Belajar dapat dilakukan di manapun selama ada keinginan untuk maju dan membuka diri. Belajar dapat dilakukan melalui apapun selama ada kerendahan hati dan kemauan. Dan tidak ada kata terlambat untuk belajar.

Tulisan-tulisan di blog ini hanyalah untaian kata yang tak sempurna. Untaian kata yang melukiskan berbagai warna warni kehidupan. Namun, untaian kata yang sederhana kadang mampu menjadi pembelajaran untuk hidup orang lain. Semoga blog yang terwujud dari keinginan untuk mengasah kemampuan menulis yang lebih baik ini pun, dapat bermanfaat bagi mereka yang membacanya. Belajar melalui lukisan kata dan tulisan warna kehidupan yang tertuang dalam blog ini..

Hidup itu penuh dengan warna. Tuhan berikan berbagai warna untuk mewarnai hidup ini. Oranye adalah warna yang paling saya sukai karena keceriaannya. Merah penuh dengan cinta dan mengingatkan saya akan nuansa Natal. Hijau mencitrakan alam yang harus terus diperhatikan. Kuning tak begitu saya suka tapi mengingatkan pada matahari yang selalu membawa harapan. Biru melukiskan langit yang cerah. Ungu warna kebangsawanan dan terkadang kesenduan hati. Abu-abu mudah ditangkap oleh mata. Putih cermin ketulusan, kebersihan, dan elegan menurut saya. Hitam yang gelap pun tak selalu buruk, karena hitam akan membuat lukisan semakin penuh dengan warna. Terkadang hidup pun diwarnai oleh warna hitam, tetapi dengan begitu hidup jadi makin lengkap, kaya warna, dan sempurna..

Teruslah menulis, teruslah membaca, teruslah belajar, teruslah berharap, teruslah bersyukur, dan teruslah tersenyum..

God bless you..

070708

www.widiantigunawan.wordpress.com