Goodbye

Aku akan melangkah maju ke tempat yang baru, menemukan tempatku yang seharusnya. Mendengarkan jeritan yang telah kuabaikan. Maka, hari ini aku beranikan diri pamit meninggalkan tugas istimewaku.

Bagaimana tidak istimewa bila kau menjadi berkat bagi banyak orang, menjadi inspirasi, menambahkan hal baru bagi mereka yang mau belajar, serta belajar menghadapi berbagai tipe orang yang berbeda-beda. Menjadi dosen fulltime selama sekitar 6 bulan terakhir ini merupakan sebuah proses pembelajaran yang indah. Lengkap dengan suka dukanya. Salah satu hal yang kudapati, ternyata Tuhan beriku talenta untuk mengajar.

Beberapa pihak berpendapat, tidakkah terlalu dini bagiku mengambil keputusan ini. Terlalu terburu-buru mungkin ini masih masa adaptasi, sehingga gejolak itu biasa. Bagiku masa adaptasi sudah berlalu, ini adalah masa percobaan. Dalam satu tahun ini, statusku adalah dosen fulltime kontrak, di mana dalam masa itu kedua belah pihak dapat mencari kecocokan. Aku sudah mencoba dan aku menemukan jawaban untuk jujur pada diri sendiri.

Terlepas dari itu, tak pernah kuanggap ini sebagai permainan. Ini bukan pekerjaan mudah karena bukan hanya mengajar tetapi juga mendidik. Tak hanya teori tetapi juga mengajarkan attitude. Bagiku, dunia public relations tak bisa diremehkan. Kucurahkan waktuku untuk belajar lagi, menyesuaikan diri untuk mata kuliah Pengantar PR, International PR, Manajemen PR, Sosiologi Komunikasi, dan Teknik Presentasi di DKV, serta menjadi Koordinator Internship 1.

Mudahkah? Tidak! Tapi aku tak menyerah saat itu. Aku belajar lagi sebelum mengajarkan teori itu pada mahasiswaku. Mulai merencanakan topik penelitian. Bahkan sudah merencanakan studi lanjut, sampai dengan mulai menghubungi universitas yang menggodaku di luar sana.

Sempat kucari opsi lain sebelum berujung pada keputusan ini. Bekerja sambil mengajar? Sebut berapa tempat di Surabaya ini untuk aku bisa bekerja di dunia public relations atau corporate communication. Bila ada, jam kerjanya adalah office hour, bagaimana aku membaginya dengan dosen fulltime yang harus mengajar 36 jam seminggu?

Sekarang, ini sudah keputusan bukan lagi pergumulan. Pergumulan sudah terjadi sejak 3 bulan lalu. Chemistry itu tak kunjung muncul, hambar. Selama ini aku bertahan dengan memunculkan hal indah. Melihat senyuman mahasiswaku, gairah mereka mengikuti perkuliahan, tertantang menjawab pertanyaan mereka, ucapan terima kasih mereka, kejujuran mereka yang berujar telah terinspirasi, serunya membuat slide mengajar, sampai ketika mereka menungguku berbagi pengalaman. Terima kasih kalian telah membuatku bertahan satu semester ini.

Namun itu tak cukup kuat untuk menahanku sampai 6 atau 7 tahun ke depan. Tak cukup membuatku tuli untuk tidak mendengar jeritan hati. Tak cukup membutakanku yang ingin mempraktekkan ilmu yang pernah kudapat. Jujur, bukan hanya ingin melihat kalian berhasil di bidang yang kalian pelajari, aku pun ingin merasakannya. Ada bagian diri yang tak tersalurkan di sini, serasa hanya 2/3 diri yang kugunakan. 1/3 lain mungkin adalah keinginan untuk implementasi di lapangan dengan tantangan yang semuanya nyata, bukan awang-awang di teori saja.

Mahasiswaku, tak sedikit biaya yang orang tua kalian keluarkan karena ingin putra putrinya mendapat ilmu terbaik dan menjadi lulusan yang matang dan tahan uji. Dan aku tak merasa cukup baik untuk berikan itu, setidaknya belum. Ada rasa bersalah ketika aku hanya bisa tahu teori, dan kasus yang kubagikan hanya tentang kerang kuning itu. Tak kaya dan aku pun tak puas dengan hal tersebut, karena aku tak bisa maksimal bagikan diri untuk kalian. Maksimal secara kualitas bukan kuantitas. Terima kasih, kalian telah mengajarkanku banyak hal dengan keunikan. Lanjutkan perjuanganmu, buktikan kepercayaan dan harapan orang tua kalian.

Rekan dosen dan staff Ilmu Komunikasiku, terima kasih untuk kepercayaan yang kalian berikan. Di luar sana, banyak yang tak percaya aku telah menjadi dosen fulltime di usia semuda ini. Tapi tak pernah sekalipun kalian yang lebih senior meremehkanku. Hanya, aku tak cukup percaya diri untuk mengajar hanya berbekal teori, atau membaca literature, atau mempelajari kisah kasus yang dialami teman praktisi. Butuh praktek yang kujalani sendiri sehingga bisa kubagikan di kelas dengan percaya diri. Tak salah bagi dosen lain yang mampu, hanya, aku berbeda dengan mereka. Dunia public relations bukan hanya tentang teori tetapi perlu banyak contoh kasus tuk dibedah bersama. Dunia yang dinamis.

Percayalah, aku pamit bukan karena luka, penolakan, gesekan, atau anggapan miring tentangku. Tak ada luka itu karena semua kuanggap pembelajaran. Anggapan miring tak cukup kuat untuk membuatku pergi karena lebih banyak dari kalian yang bisa melihat maksud baikku. Kadangkala dalam hidup, kita tak bisa selalu menyenangkan semua orang dengan mengorbankan diri sendiri. Saatnya aku menata masa depanku.

Maaf bila aku meninggalkan kalian secepat ini. Bila aku jadi tunas yang tercabut dari tanah ketika akar halus itu mulai makin mencengkeram erat tanah di dalam sana. Mungkin lebih baik sebelum tunas itu menjadi pohon, yang akan mati bila dicabut nanti. Tunas masih bisa dipindahkan ke tempat lain. Aku janji, akan bertahan untuk terus bertumbuh, menjadi pohon yang berbuah, dan suatu hari kelak, buah itu bisa kubagikan dengan kalian.

Ku tak ingin Tuhan ambil kembali talenta mengajarku karena aku tak mengembalikannya untuk kemuliaan namaNya. Masih terus ada mimpi untuk studi lanjut. Kuperlu gali kenyataan di lapangan dan kugabungkan dengan teori yang pernah kupelajari. Pada saatnya nanti saat aku cukup percaya diri karena ranselku telah terisi, aku harap bisa mengajar lagi. Entah kapan dan di mana.

Aku yakin kalian akan tetap bertahan meski tanpaku. Sumber daya yang jadi berkurang ini pasti akan Tuhan cukupkan. Maafkan bila terdapat kesalahanku. Ketegasan prinsip yang mungkin tak setiap kalian dapat menerimanya. Cara mengajar yang mungkin terlalu keras. Senyuman yang masih kurang banyak bagi sebagian orang.

Aku pamit bukan sebagai orang yang kalah karena ini bukan pertandingan. Aku pergi untuk meraih mimpiku, menjadi diriku sendiri, meski itu berarti harus jadi pendekar yang mengembara. Terima kasih kuhaturkan sbab kalian telah dapat memahami alasan di balik semua ini dan mendukungku maju. Terima kasih untuk semuanya.

Tetaplah berintegritas sebab seharusnya itu lebih mudah dilakukan selagi berada di lingkungan yang berlandaskan dasar yang sama. Katakanlah merah bila itu merah, bukan merah muda atau jingga. Hidupilah panggilanmu dan bertahanlah bila kau telah menemukannya. Didik dan ajarlah mahasiswa yang Tuhan titipkan selayaknya di sebuah institusi pendidikan, bukan antara konsumen dan penjual. Jadilah teladan, bukan hanya teori yang dengan mudah dapat dilupakan orang, tetapi dengan sikap yang menginspirasi.

Aku pun telah siap meninggalkan titik amanku di tengah kalian, jurusan dan almamater yang mengantarkanku bermimpi. Kutau Tuhanku, Tuhan yang sama dengan Tuhanmu, tak hanya akan menjagamu, tetapi juga menjagaku. Ku tak tahu kelokan-kelokan rancanganNya, tapi kutau itu indah dan baik untukku.

Warm hug, big smile, and pray for each of you who had read my writing. If you miss me, find me on Lukisan Kata Tulisan Warna, I’ll keep writing about this journey of faith. I’m gonna miss Gedung C, C.104, TU Jurusan, I’m gonna miss you all..

Sometimes moving on with the rest of your life starts with goodbye..

So, goodbye!


Sby|310111|8:24PM


Advertisements

Well Done, Teknik Presentasi A – DKV

Sebuah kelas unik di masa pembelajaranku sebagai dosen baru. Kelas yang sangat amat banyak mahasiswa melebur menjadi satu kelas, yakni DKV – Teknik Presentasi kelas A. Lebih tepatnya 55 nama, dikurangi 1, yap 54 mahasiswa unik ada di kelas ini.

 

Kelas ini mengajarkanku banyak hal. Menengok dan mencoba memahami dunia anak-anak desain yang sosial tapi juga memiliki dunia mereka sendiri yang cukup sulit untuk dibagi dengan orang lain. Mereka memiliki pemikiran yang unik bahkan penuh dengan kejutan. Pada titik tertentu mereka bisa memberikan lebih yang kuharapkan. They’re great in their own way!

 

Kuceritakan secuil rahasia tentang kelas ini di. Sebenarnya bukan aku yang harusnya mengajar kelas ini. Di detik terakhir, aku yang kala itu dosen yang baru bergabung di Jurusan Komunikasi, sedang diaturkan load mengajar sesuai jatah jumlah SKS yang seharusnya. Dan berpindahtanganlah kelas ini ke dalam load mengajarku.

 

Aku ketakutan bukan main, karena dari 5 mata kuliah yang kuajar, hanya kelas ini yang aku sudah dilepas sendiri tanpa team teaching dengan dosen senior lain. Hello?? I’m a newbie here! This class is really fat! 55 names inside. DKV not IlKom. Seems like they drop me in the tiger’s cage. It’s only presentation, why it should be that long, a semester?? What should I teach to them in those 14 sessions?

 

Pertemuan pertamaku terjadi pada Jumat pukul 14.30. Aku baru tahu  pada pukul 13.30 kalau hari itu sudah harus mengajar dan aku sedang di rumah saat itu. Seorang dosen mencariku dan juga kaget karena aku masih di rumah. Maklum, posisiku belum menjadi dosen tetap saat itu. Jadi tak ada keharusan mengantor. Jadilah kuminta mereka presentasi singkat untuk introduce themselves sambil melihat kemampuan awal mereka.

 

During the early time, kulakukan banyak diskusi terkait materi dengan Miss Prima, yang juga mengajar Teknik Presentasi kelas B dan C. Diskusi yang lain dengan alumni DKV dan designer yang sudah presentasi berkali-kali. Brainstorming untuk mendapatkan pola yang pas. Kucoba telusuri alasan kebutuhan mereka akan kelas ini dan hanya itulah yang aku fokuskan. Ini kelasku, maka aku harus bisa membuat mereka mendapatkan yang mereka butuhkan. Mudah? No way, but that’s my responsibility.

 

Masa awal adalah adaptasi yang cukup berat untukku. Kekuranganku dalam menghafal nama cukup terbantu dengan perumpamaan diri mereka. Manusia yang kreatif dan dinamis harus dihadapi dengan dinamis pula. Aku tak mau banyak berceloteh di depan mereka yang berarti bunuh diri karena mereka bosan. Thanks God jarak usia yang tak terlalu jauh, membuatku masih bisa menempatkan diri di posisi mereka. Dan public speaking adalah salah satu materi yang aku suka.

 

Terima kasih 54 mahasiswa TekPres-ku. Terima kasih untuk tidak meledak di kelasku, layaknya LPG 3 kg. Tantangan yang kalian berikan sudah kujawab. Aku menghargai kalian karena kalian menghargaiku. As simple as that. Kalian membuka mataku bahwa ternyata tak semua orang bisa presentasi dengan mudah, jadi aku tak lagi meremehkan kelas yang bernama Teknik Presentasi. Karena itu memang dibutuhkan oleh sebagian orang. Terima kasih untuk kerja sama, terlebih untuk kalian yang sudah memberikan respect dan senyuman dalam sapaan tulus bila kita berjumpa di Jumat-Jumat yang lalu.

 

Dari lubuk terdalam, aku meminta maaf bila ada hal yang kurang berkenan yang pernah terucap atau kulakukan. Hal burukku jadikanlah contoh, tapi contoh yang tak perlu kalian tiru. Hal baik yang masih terlihat dariku jadikanlah itu contoh, ya, contoh yang boleh kalian tiru bila mau. Maaf, aku belum berani menantang kalian presentasi dalam bahasa inggris, bukan karena meng-under estimate, hanya kuingin kalian mempraktekkan tekniknya dahulu. So, asahlah English skill-mu guys sebelum terlambat, dunia nyata pasti menantangmu dengan hal itu, nanti!

 

Sudah kulakukan apa yang bisa kulakukan. Aku yakin, selama mereka mau belajar dan berubah, mereka pasti mendapatkan sesuatu dari kelas ini. Sekecil apapun itu. Presentasi itu tak mudah tapi juga tak sulit. Tak mudah karena musuh terbesarnya adalah diri kita sendiri yang grogi dan memiliki kekurangan masing-masing. Hanya kau sendiri yang tahu penangkalnya. Tetapi juga tak sulit karena ini bagian dari skill yang bisa dipelajari triknya serta hanya membutuhkan practice atau jam terbang lebih. Apa yang kau pikirkan itulah yang akan terjadi.

 

Setelah masa kelas ini berakhir, aku bukan lagi Miss Widi dalam keseharian kalian. Tapi di luar jam belajar mengajar, aku mau menjadi teman diskusi untuk membantu kalian menjadi penyaji presentasi yang lebih handal. Aku tak hebat tapi aku mau berbagi. Tak lain karena aku pernah menjadi Miss Widi kalian di kelas Teknik Presentasi A. Welcome to the jungle, just believe in yourself as I already believed in each of you, you could be a good presenter not just a designer. Keep learning and never stop practicing it!

 

No mountains too high for you to climb. All you have to do is have some climbing faith.. *Celine Dion – I’m Your Angel

So does a presentation!

 

Wd – 111210 – 11:58PM

 

My 23rd: Miss Widi

Tak ada bayi yang bisa memilih namanya sendiri ketika dilahirkan di dunia. 23 tahun lalu, saat bayi mungil itu lahir ke dunia, mungkin yang ia tahu hanya terang dan menangis. Tanpa tahu siapa nama yang dipilihkan untuknya. Seiring usia yang bertambah, nama menjadi sesuatu yang lebih berarti. Lebih dari sekedar rangkaian huruf dan spasi. Membedakan dirinya dengan manusia lainnya. Mendengar kata itu disebut berarti dirinya sedang dipanggil oleh seseorang. Menuliskannya di setiap pojok kanan atas kertas ulangan sepanjang tahun. Namun tetap tak lebih berarti lebih dari itu.

Saat ini, 23 tahun sudah ia ada, hidup, dan memaknai dunia ini. Waktu demi waktu dirinya berusaha mencari dan mengungkap hal yang mungkin belum diketahuinya. Termasuk dengan memaknai arti nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Ya, tentu saja, dia adalah aku! Aku memaknai arti namaku dan bangga atasnya.

Aku keturunan Cina yang tinggal dan lahir di Indonesia. Namun, ayahku cukup nasionalis. Sebagai orang Indonesia, lebih baik menggunakan nama Indonesia sebagai identitas. Tak seperti lainnya yang kebarat-baratan. Begitulah ujarnya kala itu. Nama resmiku sangat kental dengan nuansa Indonesia, tetapi aku juga masih mempunyai nama Cina untuk meneruskan historis alur keluarga.

Lalu, apakah nama itu nubuat? Mengapa saat itu orang tuaku memilihkan nama itu untukku?

Widianti Gunawan Wijaya

Widianti merupakan gabungan dari “widya” dan “yanti”. “widya” diambil dari bahasa Sansekerta yang artinya ilmu atau pengetahuan. “Yanti” artinya perempuan. Jadi Widianti dapat berarti perempuan yang berilmu atau berpengetahuan. Gunawan diambil dari nama tengah ayah yang berarti orang yang berguna. Wijaya adalah nama keluarga ayah yang berarti unggul atau kemenangan.

Nama Cinaku:

Teng Xian Bei

Teng adalah nama marga. Xian nama keluarga. Bei berarti membanggakan.

Jadi bila arti itu digabungkan akan menjadi sebuah arti yang lengkap: Perempuan berilmu yang membanggakan dan berguna serta berkemenangan. Mungkin kurang lebih seperti itulah arti yang lahir dari perkawinan nama-namaku.

23 tahun yang lalu nama itu dirangkai tanpa tahu apa yang akan terjadi di hari depan. 23 tahun setelah nama itu dirangkai, seakan maknanya tergenapi. Di usiaku yang ke-23 ini, tepat di bulan September 2010, aku resmi menjadi dosen dan belajar tak henti membagikan ilmuku. Semoga bisa selalu membanggakan mereka yang menyayangiku. Bila berbicara tentang kemenangan, itu sudah dan selalu disediakan di sana oleh Tuhanku. Tak perlu kuragu untuk itu.

Apakah nama itu nubuat? Entahlah tapi tampaknya aku makin meyakini bahwa namaku tak sekedar rangkaian kata belaka, melainkan sangat bermakna dan kini aku menghidupinya.. Bagaimana denganmu?

Terima kasih untuk nama yang Papi Mami pilihkan untukku, I’m gratefull and so proud of it..

PS: Now you will understand why I want to be called with Miss Widi instead of Miss BeBe

Sby|080910|11:43PM

www.widiantigunawan.wordpress.com