A Goodbye to the Compass of My Life

Setiap kehidupan memiliki cerita. Cerita yang baik untuk diteladani, dan cerita yang buruk untuk dipelajari agar tak perlu terulang kembali dan dijauhi. Tergantung pola pikir manusia yang melihatnya. Aku memilih untuk menjadi seorang pembelajar, karena hal buruk hanya akan menjadi trauma bila tidak diterima dan dihadapi. Dan setiap cerita bersama dengan Tuhan, akan selesai dengan baik pada akhirnya.

com·pass [kúmpəss, kómpəss]

noun (plural com·pass·es)

1. direction finder: a device for finding directions, usually with a magnetized needle that automatically swings to magnetic north

2. personal direction: a sense of personal direction

3. scope: the scope of something such as a subject or area of study

4. hinged device for drawing circles: a device for drawing circles or measuring distances, e.g. on a map, that consists of two rods, one pointed, the other often holding a pencil, joined by an adjustable hinge (often used in the plural)

Microsoft® Encarta® 2006. © 1993-2005 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Ia seorang laki-laki yang suka kutemui saat kecil. Setiap liburan sekolah tiba, aku dan kakak selalu siap untuk packing lalu pergi ke Semarang. Bahkan kami yang masih SD pernah pergi berdua dengan travel karena papa dan mama sedang ada kesibukan lain. Saat mudanya, ia pernah belajar fotografi dan bertemu dengan sang istri karenanya. Kemudian ia menjadi seorang pengusaha kayu jati yang sukses. Menjelajah Jawa Tengah untuk mencari kayu yang terbaik, setidaknya itu yang diceritakan anak-anaknya.

Bila kami ada di Semarang, ia mengajak kami pergi bermain ke Sri Ratu, mengantar kami makan nasi ayam, loenpia gang Lombok, pergi menginap di Bandungan, pergi ke pabrik tahu favoritnya di Bandungan, membawa kami ke Museum Kereta Api Ambarawa, membelikan hadiah, mengijinkan kami memanjat pohon belimbing di halaman rumahnya, mengajariku kebiasaannya di pagi hari yaitu memetik daun yang sudah menguning di pohon di belakang kamarnya. Aku mencoba mengingat berbagai hal menyenangkan yang pernah kulalui bersamanya dulu.

Lalu ada satu masa di mana kepahitan itu muncul. Ia seorang pengusaha kayu jati dan suatu kali ia ditipu dalam jumlah besar oleh seorang pelanggan, yang tak lain adalah seorang pelayan di gereja. Sejak itu kepahitan muncul dan kekecewaan itu tidak terobati, hingga tak tersembuhkan. Ia menolak untuk kembali datang ke gereja sejak saat itu karena ia melihat kemunafikan di sana. Sampai puluhan tahun kemudian, Ia tak pernah mau kembali lagi ke gereja.

Kepahitan yang tak terobati itu menjadi sebuah kondisi hati yang tidak sehat. Pemberontakan menjadi pintu masuk untuk hal tidak baik lainnya. Kekecewaan membuatnya lari dari kebenaran. Sebuah batu sandungan membuatnya pergi menjauh dari Kasih yang sejati. Entah sadar atau khilaf, tapi aku percaya bahwa manusia selalu bisa memilih untuk tidak dikalahan dengan keadaan.

Ya, ia tidak menghiraukan pasangan sejatinya. Ia pernah memilih jalan yang lain. Melukai yang mencintainya. Berlari terlalu jauh hingga tak sanggup kembali. Menjauhi terang dan membiarkan kegelapan menguasai hidupnya. Keselamatan adalah anugerah, tetapi respon terhadap keselamatan itu adalah tugas dan tanggung jawabmu. Aku belajar darinya, untuk tidak akan pernah mau jauh dari Tuhan. Agar tidak ada kesempatan bagi dosa untuk menjauhkanku semakin jauh dan tersesat.

Selama bertahun-tahun, Bebe remaja pernah sangat marah dan tak mau lagi pergi ke Semarang untuk menemuinya. Aku malu. Aku membencinya. Bahkan tak mau menyebut namanya dalam doaku. Namun, wanita luar biasa itu yang tak lain adalah istrinya, justru berpesan: “Jangan membencinya, Be. Bantu aku untuk mendoakannya. Aku percaya Tuhan memanggilnya kembali pulang, dan ia akan kembali.” Masa yang sulit. Cinta nyata wanita ini, dan kasih Tuhan yang membuatku bisa memberikan pengampunan baginya. Ya, aku sudah memaafkan kakekku. Benar, laki-laki ini adalah kakekku.

Aku belajar untuk mendoakannya. Karena bila nenekku yang disakiti sedemikian dalam bisa mengampuninya, aku tak pantas membencinya. Aku berdoa agar Tuhan melembutkan hatinya dan mau menerima Tuhan kembali. Suatu hari Kong-Kong bisa menyadari cinta sejati Bobo untuknya. Aku ingin Bobo bisa berjumpa dengan Kong-Kong di Surga nanti. Aku minta Tuhan menyapanya lewat sinar matahari pagi yang masuk ke jendela kamarnya, melalui hijaunya dedaunan di halaman rumahnya, Tuhan menyapa di dalam mimpi-mimpinya. Bila kondisi ingatannya semakin menurun, biarlah hanya hal baik bersama Tuhan saat muda dulu yang tertinggal di sana.

Beberapa tahun ini, ketika kondisi kesehatannya menurun, setiap kali ke Semarang, aku selalu menyempatkan waktu untuk berdoa bersama denganNya. Aku sangat bersyukur, karena Ia mau berdoa. Aku masih ingat, saat itu sekitar Natal 3 tahun lalu, malam sebelum aku kembali ke Surabaya, aku memberanikan diri untuk bertanya, “Kong-Kong, apa yang mau Bebe doakan?”, di depan Bobo ia menjawab, “Doakan biar selamet.” Aku mengartikannya sebagai keselamatan. Bagaimanapun, ia tetap menginginkan keselamatan. Air mata pun tak tertahankan..

Satu hal yang aku selalu yakini, Tuhan mencatat semua doa yang tak pernah henti dinaikkan oleh Bobo dengan iman, bahwa suatu saat ia bisa berjumpa dengan suaminya di Surga. Tuhan melihat cinta dan kesetiaan luar biasa yang Bobo miliki. Tuhan pasti menjawab doa yang kami naikkan untuk keselamatan Kong-Kong.

Setelah saat itu, daya ingatnya semakin menurun. Suatu pagi, Bobo menelepon ke Surabaya dan berkata, Kong-Kong bermimpi bahwa aku bersekolah di luar negeri. Aku hanya kaget karena ia sudah mulai lupa akan cucu-cucunya. Namun, aku tersenyum dan mengamininya.

Ia sudah tidak lagi mengingatku saat bulan Juni lalu aku mengunjunginya di Semarang. Tak apa, karena saat itu aku menyaksikan sebuah pemandangan yang jauh lebih berarti. Saat itu Bobo sakit, di saat yang sama kondisi kesehatan Kong-Kong menurun. Meski ketika bersama selalu muncul pertengkaran, saat itu Kong-Kong berujar, “Aku mau lihat istriku di ICU!”. Sesulit apapun itu, aku dan adikku membawanya yang sudah tak lagi bisa berjalan, untuk bisa masuk ke ICU. Dengan perkataan yang terbata-bata, Ia masih bisa bilang, “Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit yang terbaik?”. Ya, cinta itu masih ada di sana. Dari tatapan itu aku tahu, cinta itu masih ada.


Lie Yauw Tjoen atau Mulyono Budi Santoso, adalah kakekku yang mengajarkan banyak hal penting untuk kehidupan ini. Bagiku, ia adalah kompas yang menunjukkan arah yang benar, dan juga arah yang tak perlu untuk kutuju. Seperti kompas yang mempunyai dua ujung jarum. Tepat 10 hari setelah ulang tahunku ke 26, Tuhan memanggilnya ke sisiNya. 15 September 2013, Minggu pagi, tepat saat aku dan adik harus melayani di tim musik di gereja.

Darinya aku belajar bahwa dengan bekerja keras, kesuksesan itu bisa diraih meski usia masih muda. Dari kisah hidupnya aku mengingatkan diri untuk tidak munafik, bahwa kekristenan itu bukan hanya agama atau di gereja semata, kekristenan itu seluruh aspek kehidupanmu yang disaksikan oleh dunia. Dari perjalanan hidupnya, aku jadi sangat membenci perselingkuhan dan menghargai benar arti kesetiaan. Aku membenci lelaki yang main tangan terhadap wanita. Aku harus mengunjungi berbagai tempat di belahan dunia lain selama aku punya kesempatan.

Aku belajar untuk memberikan pengampunan, karena bagaimanapun tanpa Kong-Kong, Bebe tidak akan ada di hari ini. Aku belajar untuk menyadari siapa yang patut dicintai, yaitu mereka yang mencintaimu dengan tulus, selalu menyebutkanmu dalam doanya, sanggup menerimamu apa adanya, dan selalu menantimu kembali. Cintailah mereka yang mencintaimu. Waktu hidup ini tak panjang, jangan ada penyesalan di sana.

Selamat jalan Kong-Kong. Tidak ada penyesalan yang tertinggal di hatiku, justru kedamaian karena sebelum menutup mata, Kong-Kong berujar: “Aku mau pulang ke Rumah Bapaku.” Itu meyakinkanku bahwa Tuhan melihat iman Bobo dan menjawab ribuan doa yang dinaikkan untuk suami tercintanya.

Tuhan memanggilmu kembali padaNya di Minggu pagi, bahkan kau tahu tepat kapan perjalanan hidupmu akan tiba di garis akhir pertandingan, jam 7 pagi. Semoga itu pagi yang paling indah buat Kong-Kong. Tuhan sangat sayang Kong-Kong. Terima kasih sudah menjadi sebuah kompas bagi hidupku. Aku akan meneruskan kisahmu ke anak cucuku. Sampai jumpa di Surga nanti. Mungkin bukan cerita yang luar biasa, namun yang pasti ini adalah akhir yang teramat baik. I love you, Kong-Kong.

Ecclesiastes 3:1-2 | To everything there is a season, and a time to every purpose under the heaven: A time to be born, and a time to die; a time to plant, and a time to pluck up that which is planted.

Surabaya, 150913, 21:15 PM.

This post is the sequel of The Legend of My Superwoman.

3 Comments (+add yours?)

  1. gina
    Jun 07, 2014 @ 20:44:13

    Kisah yang sangat mengesankan, memberi banyak pelajaran hidup yang berharga.

    Reply

  2. Merlin
    Sep 16, 2013 @ 09:30:23

    My condolonce Bebe. You are indeed blessed to have been able to witness the live of your grandpa (I never did), and to have learned so much from him. Your bahasa Indo is so beautiful btw, what a great writer you are!

    Reply

    • BeBe Gunawan
      Sep 16, 2013 @ 12:31:42

      Hey Merlin, thank you for spend some time to read this. This is the best thing I could do for now, to grab all the good things from him and move on. I thank God for this talent to write in Bahasa, have to learn more though. Hope I could inspire my readers.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

www.widiantigunawan.wordpress.com
%d bloggers like this: