The Legend of My Superwoman

This is a legend about Imanuel Herowaty Santoso..

Wanita ini bukan wanita biasa. Ia salah seorang wanita terhebat yang pernah kujumpai dalam hidupku.

Aku cukup jarang berjumpa dengannya, karena ia ada di belahan dunia yang berbeda denganku. Saat aku masih remaja, mungkin liburan sekolah adalah saat aku bisa berjumpa, bermain dan menghabiskan hari-hari di kediamannya.

Wanita ini lahir dengan nama, Imanuel Herowaty Santoso, lahir pada 12 November 1927. Ia cantik, pintar memasak, pintar menjahit, pintar merangkai bunga, dan menguasai English, Chinese, and Dutch. Di masa mudanya, ia membuka florist dan studio foto bernama VAVA di Jalan Pemuda, di kotanya. Berbagai-bagai tipe karangan bunga pernah dihasilkannya, hand bouquet, karangan bunga pernikahan, dukacita, dll, sayang aku belum lahir kala itu. Konon, pada zaman penjajahan Belanda itu, studio dan florist-nya cukup terkenal di kota itu. Bertemu dengan Lie Yauw Tjoen – Mulyono Budi Santoso yang belajar fotografi di studio foto milik ayahnya tersebut, hingga akhirnya menikah.

Aku masih ingat, ia sering memasakkanku sosis babi, berwana cokelat kehitaman, dengan manisnya kecap, ya aku menyukainya sejak kecil. Salah satu hal lain yang aku masih ingat betul ia suka memandikanku, menggaruk bagian punggungku dengan kukunya yg runcing rapi itu, aku selalu berteriak kegelian, tapi ia berkata dengan begitu mandi jadi benar-benar bersih.

Bila sampai hari ini aku jadi pecinta tanaman, itu adalah salah satu pengaruh besarnya. Bermacam jenis tanaman pasti hidup subur di pekarangannya. Beberapa bisa dipetiknya dan dimasak bersama masakan kami. Setiap sore aku diajaknya berbasah-basah menyiram tanaman. Bebe kecil juga diijinkan memanjat pohon belimbing yang berbuah banyak sekali kala itu. Teorinya tentang air seni yang bisa menyuburkan tanaman selalu kuketawakan, tapi akhirnya aku tau bahwa itu benar adanya.

Aku yang tak pernah merasa rajin tetapi Tuhan selalu beri hadiah rangking yang baik saat sekolah, membuatku selalu diberinya kado karena prestasi itu. Ia bangga aku pandai. Bebe kecil tak tahu apa arti semua itu, hanya kado yang kuterima, bermain di Sriratu, dan pergi ke Bandungan lah yang kutahu saat itu.

Saat aku beranjak lebih besar, aku melihat kenyataan akan kejamnya dunia. Begitu pula dengan dunia yang dihidupinya. Pertengkaran yang harus dihadapi setiap hari dengan orang yang paling dicintai. Rasa disakiti bertahun-tahun oleh orang yang paling dicintai. Diperlakukan tak adil dan tak semestinya oleh orang yang paling dicintai dalam hidup. Meski dengan lebam dan pengkhiatan ia tetap bertahan.

Aku yang kala itu sedang tumbuh secara emosi, melihat kenyataan itu dari kacamata seorang remaja. Sebagai wanita remaja aku ingin berteriak, ingin membantunya, tapi aku tak bisa lakukan apapun kala itu. Aku hanya bisa melihat dan mendengar dari jauh, dan menangis dalam hati. Aku tak henti terus bertanya pada Tuhan tentang ketidakadilan yang kulihat kala itu.

Pernah dalam satu masa, ia berpindah ke rumahku. Aku cukup senang seakan bisa mengasingkannya dari penjara dunia. Aku berusaha lakukan hal-hal apapun yang bisa menyenangkannya. Beri kejutan kecil di hari ulang tahunnya. Aku terus berusaha banggakan dirinya melalui prestasiku. Berharap itu bisa menjadi secuil penghiburan baginya. Aku masih ingat, saat itu aku menjuarai salah satu kompetisi menyanyi dan saat itu ia ada di sana, ia datang saat pengumuman pemenang. Masih terekam jelas gambar itu bagai film yang terputar di bayanganku, hampir semua orang yang datang di sana, menyalaminya karena aku juara 1. Dari jauh, aku mengamati dalam diam dan tersenyum puas, aku melihatnya tertawa dan tersenyum bangga saat orang-orang tau siapa dia bagi si juara 1 ini.

Ingin sekali tetap menahannya di Surabaya, aku tak rela hidup terus menerus jahat padanya. Tapi ia hanya bertahan beberapa minggu dan berujar bahwa dirinya tak bisa berada jauh dari orang yang ia cinta. Ia mau kembali ke tempatnya, meski itu berarti harus kembali kepada kenyataan yang menyakitkan. Namun, ia bilang ia rindu pada kekasih hatinya itu. Ia bilang padaku, “Saat menikah, aku sudah berjanji di hadapan Tuhan, bahwa apa yang telah disatukan Tuhan tidak boleh dipisahkan oleh manusia..”. Tak ada yang bisa menahannya, dan aku hanya bisa bertanya dalam hati pada diriku sendiri, di mana batasan antara setia dan bodoh? Beri tahu aku di manakah bedanya??!

Aku marah sekali pada sosok yang menyakitinya. Jujur saja, aku bahkan pernah membencinya karena terbutakan dunia sehingga tak melihat wanita luar biasa ini, mungkin sedetik pun tidak. Tapi wanita itu hanya berujar, “Jangan begitu Be, tapi kamu harus terus mendoakan dia. Bantu aku berdoa untuknya. Aku yakin Tuhan akan merubahnya suatu hari nanti. Kamu juga harus percaya. Aku tak apa-apa.”. Aku hanya tahu hidup dari kacamata anak remaja yang beranjak dewasa, tak sampai logika untuk berpikir demikian. Mungkin aku akan lari karena tak tahan dengan kejamnya dunia yang bahkan bisa mengancam keselamatanku. Namun, wanita hebat ini membuat pilihan untuk tetap ada di sana.

Baginya, semenyakitkan apapun, ia tak bisa jauh dari sosok itu. Ia ingin bisa selalu di dekatnya meski itu berarti harus siap disakiti. Cinta tulusnya membuatnya bertahan di neraka dunia. Cinta membuatnya tampak bodoh bagi manusia, tapi tidak demikian di mata Tuhan. Cintanya mampu kalahkan dendam dan kebencian. Cintanya mengajarkanku arti kesetiaan bukan kebodohan seorang wanita. Cintanya menjadi bukti bahwa setia dengan iman di dalam Tuhan tidak akan sia-sia. Cintanya membuatnya jadi wanita terhebat di mataku.

Semua itu membuatku bangga, di dalam hidupku, Tuhan beri aku kesempatan yang tak kan tergantikan. Aku boleh menjadi saksi hidup dari wanita yang luar biasa mengagumkan ini. Penderitaan yang ia alami mengubahnya jadi permata yang berkilau bagiku. Hidupnya mengajarkanku arti kesetiaan dan iman. Aku bangga bisa memanggil wanita ini Bobo. Indah sekali kalimat yang pernah disebutnya itu, “Bobo bangga punya cucu seperti Bebe..”.

Ya, dia nenekku, dia Boboku, Ibu dari Ibuku. Satu-satunya nenekku yang masih ada setelah Tuhan panggil nenek dari ayahku kala aku masih SMP. Kakekku pernah melakukan kesalahan fatal dalam hidupnya, yaitu tak bisa menyadari bahwa ia memiliki wanita luar biasa ini yang teramat sangat mencintainya. Namun, karena itu pula, Bobo jadi indah dan semakin indah seperti ini. Aku pun sudah bisa mengampuninya karena tanpa Kong-Kong ku, tak akan ada Bebe di hari ini. Yang terpenting, aku tahu Tuhan pasti mengampuninya.

Kini, masa tua menahan mereka berdua di rumah yang sama. Raga yang tak lagi cukup kuat menikmati indahnya dunia di luar sana. Mereka hanya bisa habiskan waktu berdua di rumah itu. Tak apa Bobo, nikmatilah masa-masa ini. Lakukan apa yang Bobo ingin lakukan, aku ingin Bobo bahagia, karena Bobo sangat layak mendapatkannya. Aku hanya ingin engkau tahu, aku bersyukur Tuhan beriku kakek nenek yang luar biasa. Mengajarkan padaku tentang ilmu kehidupan melalui lika-liku hidup kalian. Aku tahu, Bobo tak pernah berhenti berdoa untuk cucu-cucunya dan mengharapkan masa depan yang terbaik buatku dan yang lainnya. Terima kasih, Bo..

Maaf, hidup membawaku jauh di belahan dunia yang lain lagi sekarang. Hanya dalam doa setiap malam aku bisa menjumpai kalian. Namun, aku janji setiap kali kesempatan itu datang, aku akan menengok kalian di Semarang sana. Aku tak ingin ada penyesalan apapun nanti, jadi kukatakan yang harus kukatakan, kutuliskan yang harus diketahui anak cucuku nanti, kuucapkan yang harus kalian dengar sekarang, bahwa cucumu ini menyayangi dan selalu merindukan kalian. Aku akan terus menulis surat dan mengirimkannya, setiap kali ada waktu untuk itu. Seperti yang sering kulakukan saat aku kecil dulu, menulis surat untuk Bobo dan Kong-Kong. Semoga surat-suratku dapat menjadi sedikit penghiburan ketika Bobo dan Kong-Kong membacanya sambil berbaring di tempat tidur.

Terima kasih untuk ketangguhan yang kau tunjukkan, Bobo.. Aku tahu bahwa di balik lelaki hebat pasti ada wanita hebat di belakangnya. Bobo, kau tahu, hidupmu adalah inspirasi untukku. Aku ingin menjadi wanita hebat, agar aku bisa membuat pasanganku kelak jadi lelaki yang lebih hebat.

Ingin rasanya aku berlari ke sana sekarang, memeluk Bobo dan bisikkan, “Bebe sayang Bobo..”. Ingin masuk ke kamar Kong-Kong, berlutut di samping ranjangnya dan bisikkan, “Bebe sayang Kong-Kong dan ada Tuhan yang akan selalu menunggu Kong-Kong kembali..”. Ik hou van je, Ik hou van je..

Some people want diamond rings, some just want everything, but everything means nothing, if I ain’t got you.. (Alicia Keys – If I Ain’t Got You)


Bebe | Karawaci | 090411 | 12:59PM

7 Comments (+add yours?)

  1. Trackback: A Goodbye to the Compass of My Life | Lukisan Kata Tulisan Warna
  2. Timothy Lee
    Apr 11, 2011 @ 17:01:35

    *speecless*
    This is really one quality writing
    way to go
    The best is yet to come ^^

    Reply

  3. Ria
    Apr 09, 2011 @ 18:03:00

    Simply touching🙂

    Reply

  4. BeBe Gunawan
    Apr 09, 2011 @ 16:38:17

    Yap Go. Thanks..

    Reply

  5. Argo
    Apr 09, 2011 @ 16:26:05

    Wah, perlu diacungi jempol ini. Bener2 harus disyukuri isa jd saksi sebuah kehidupan sing luar biasa =) Moga2 mereka bahagia selalu menikmati masa tua e

    Reply

  6. BeBe Gunawan
    Apr 09, 2011 @ 15:32:59

    Everybody has their own superwoman, just some of them never realize it. If you realize it, sure you know what you have to do with yours.
    Menurutmu?? hahaha..

    Reply

  7. brm
    Apr 09, 2011 @ 14:27:10

    i do hv my own “superwoman” and i believe “there’s a ‘superwoman’ in everybodies live”..

    anyway apa pas nulis ato ngepost ni km nangis??=D..hahahahha

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

www.widiantigunawan.wordpress.com
%d bloggers like this: