Hows Taiwan, Bei?

I am living in Taiwan now. I want to share some facts about my life in Taipei, Taiwan. Many are based on FAQ that friends asked me. So, if you wonder how am I doing here, now you know that God is really taking care of me.

1. Obey God is the only reason why I am studying Mandarin here.
2. I am Chinese in blood but can’t speak Chinese (before).
3. I had no Chinese lesson preparation before I came to Taiwan.
4. Taipei is one of the safest cities in the world.
5. Almost every Saturday or school break, I travel around Taipei and Taiwan. Check my FB album, maybe you need travel recommendation around Taiwan.
6. I don’t have any family lives in Taiwan.
7. Less than a month since I came here, I had travel alone from Taipei in the North of Taiwan,  to Pingtung County in the South Taiwan, by bus and it took 7 hours. Without any good skill in speaking Chinese.
8. I had experienced Taiwan’s transportation from High Speed Rail (jet train), city bus, domestic bus, TRA Train, local train, MRT, Ubike, crystal floor gondola, boat.
9. Taiwan best spots, so far are Guanyuan and Hehuanshan.
10. My school, MTC NTNU, is the best school to study Chinese in Taiwan, I knew it after being accepted as their student. God’s favor.
10. After 7 months, I move to new room and do part time job from 2 til 10PM.
11. I gained weight few kilos already.
12. Almost everyday I eat fruits,  that’s my promise to my mom.
13. Every morning I used to take bus to go to school, and go home by bus or bike. Now, I am just walking to school.
14. I used to be at school from 8am – 4pm.
15. I am cooking instead of buying food. No rice for dinner. Soy milk for breakfast.
16. I experienced the behind the scene and vote for the Indonesia President Election 2014 from outside Indonesia. Cool experience.
17. I don’t have TV, if I get bored I do YouTube, usually I follow Indonesian politics from Mata Najwa, Satu Indonesia, Aiman Dan, Kompas TV, Indonesia Bagus, Dog Whisper, and some movies.
18. I finally decided to go to ICA Taipei.
19. I am leading worship in ICA Taipei, found out later that they had been praying for months for new worship leader. God is awesome.
20. I joined one mission trip to Hsinchu, with POKI church.
21. Until now, I had only bought Starbucks 1 time and that was on the first day landed at the Taoyuan International Airport.
22. There’s a lot Indonesian students at school but I only have 2 Indonesian friends that I hang out with.
23. My favorite food are redbean, and matcha. My favorite drink are winter melon tea, and buble milk tea. Those are Taiwan specialties.
24. Stinky tofu is nice. The fried one and grill one are nice. But the steam, once is enough for me.
25. I got my hair cut in Taiwan. Pricey but different technique.
26. My nails was never “blank or no color” because I have Japanese and Vietnamese friends who work as nail artists and they manicure me for free, and change it when they think that’s no longer good. I learned their skill.
27. I can smile just by seeing Taiwanese dogs in the street. No fancier dogs then Taiwan dogs.
28. I learned to live with earthquakes and typhoons.
29. I drove car one time, without international driving license, and on the left side driving, contrary with Indonesia, out of town.
30. These past 6 months I had travel to Yehliu National Geopark, Wulai, Tamsui, Yangmingshan National Park, Taroko George National Park, Qixing Beach, Hehuanshan, Beitou, Pingtung, Kaohsiung, Hsinchu, Daxi, Touyuan, Keelung, Hualien, Qingjing Farm, Sun Moon Lake, and many night markets in Taiwan, and Taipei city for sure.
31. My father, mother, brother, and sister had visited me in Taiwan.
32. My dad’s principles is proven right: be skillful in Bahasa and then English, after that another language is allowed. Because of English, I had bunch of foreigner friends..
33. I ate fried cricket for the first time in Kaohsiung night market. Not bad.
34. I used to worship / singing while sitting in the park, or while cycling. That’s my me time.
35. I had 8 pairs of shoes with me now, simply because Taiwan flat shoes are nice, comfortable, and not pricey at all.
36. I do the encouraging-ministry and prayer-warrior ministry to my friends in Indonesia using my Android because I miss giving, share God’s love, do ministry.

37. I experienced 4 seasons in a year here.
38. Being far from my own country, makes me love Indonesia more than before.
39. I ever cried seeing my feet full of black dotes of Taiwan mosquitoes bites. For weeks I couldn’t wear short pants. Itchy for weeks and yes, “a tough Bebe” was defeated by Taiwanese mosquitoes.
40. My works in Indonesia are still on while I am studying here.
41. I admit I was afraid for a week to take MRT after the MRT tragedy happened few months ago but didn’t tell my family bout that tragedy.
42. Free refill drinking water is everywhere.
43. Studying Chinese is not difficult but interesting.
44. Studying Chinese in Taiwan and in mainland China is different. Taiwan use the traditional (original) Chinese character, while China use the simplified one. Which one do you think more difficult?
45. Taiwanese loves cycling, not only for leisure or sport but to work or go somewhere.
46. I miss doing much sports as I had in Indonesia, especially RPM, kranking, body balance, TRX.
47. One of my mission here is can pray for others using Chinese.
48. I feel like this time is a training stage from God.
49. My grandpa who passed away last year, few years ago called my mom from Semarang, and he said he had just had a dream in his sleep that I am studying Chinese abroad.
50. Studying abroad is one of the things I want to do while I am single, for there are times for everything under the sky.
Taipei 300914
Advertisements

A Goodbye to the Compass of My Life

Setiap kehidupan memiliki cerita. Cerita yang baik untuk diteladani, dan cerita yang buruk untuk dipelajari agar tak perlu terulang kembali dan dijauhi. Tergantung pola pikir manusia yang melihatnya. Aku memilih untuk menjadi seorang pembelajar, karena hal buruk hanya akan menjadi trauma bila tidak diterima dan dihadapi. Dan setiap cerita bersama dengan Tuhan, akan selesai dengan baik pada akhirnya.

com·pass [kúmpəss, kómpəss]

noun (plural com·pass·es)

1. direction finder: a device for finding directions, usually with a magnetized needle that automatically swings to magnetic north

2. personal direction: a sense of personal direction

3. scope: the scope of something such as a subject or area of study

4. hinged device for drawing circles: a device for drawing circles or measuring distances, e.g. on a map, that consists of two rods, one pointed, the other often holding a pencil, joined by an adjustable hinge (often used in the plural)

Microsoft® Encarta® 2006. © 1993-2005 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Ia seorang laki-laki yang suka kutemui saat kecil. Setiap liburan sekolah tiba, aku dan kakak selalu siap untuk packing lalu pergi ke Semarang. Bahkan kami yang masih SD pernah pergi berdua dengan travel karena papa dan mama sedang ada kesibukan lain. Saat mudanya, ia pernah belajar fotografi dan bertemu dengan sang istri karenanya. Kemudian ia menjadi seorang pengusaha kayu jati yang sukses. Menjelajah Jawa Tengah untuk mencari kayu yang terbaik, setidaknya itu yang diceritakan anak-anaknya.

Bila kami ada di Semarang, ia mengajak kami pergi bermain ke Sri Ratu, mengantar kami makan nasi ayam, loenpia gang Lombok, pergi menginap di Bandungan, pergi ke pabrik tahu favoritnya di Bandungan, membawa kami ke Museum Kereta Api Ambarawa, membelikan hadiah, mengijinkan kami memanjat pohon belimbing di halaman rumahnya, mengajariku kebiasaannya di pagi hari yaitu memetik daun yang sudah menguning di pohon di belakang kamarnya. Aku mencoba mengingat berbagai hal menyenangkan yang pernah kulalui bersamanya dulu.

Lalu ada satu masa di mana kepahitan itu muncul. Ia seorang pengusaha kayu jati dan suatu kali ia ditipu dalam jumlah besar oleh seorang pelanggan, yang tak lain adalah seorang pelayan di gereja. Sejak itu kepahitan muncul dan kekecewaan itu tidak terobati, hingga tak tersembuhkan. Ia menolak untuk kembali datang ke gereja sejak saat itu karena ia melihat kemunafikan di sana. Sampai puluhan tahun kemudian, Ia tak pernah mau kembali lagi ke gereja.

Kepahitan yang tak terobati itu menjadi sebuah kondisi hati yang tidak sehat. Pemberontakan menjadi pintu masuk untuk hal tidak baik lainnya. Kekecewaan membuatnya lari dari kebenaran. Sebuah batu sandungan membuatnya pergi menjauh dari Kasih yang sejati. Entah sadar atau khilaf, tapi aku percaya bahwa manusia selalu bisa memilih untuk tidak dikalahan dengan keadaan.

Ya, ia tidak menghiraukan pasangan sejatinya. Ia pernah memilih jalan yang lain. Melukai yang mencintainya. Berlari terlalu jauh hingga tak sanggup kembali. Menjauhi terang dan membiarkan kegelapan menguasai hidupnya. Keselamatan adalah anugerah, tetapi respon terhadap keselamatan itu adalah tugas dan tanggung jawabmu. Aku belajar darinya, untuk tidak akan pernah mau jauh dari Tuhan. Agar tidak ada kesempatan bagi dosa untuk menjauhkanku semakin jauh dan tersesat.

Selama bertahun-tahun, Bebe remaja pernah sangat marah dan tak mau lagi pergi ke Semarang untuk menemuinya. Aku malu. Aku membencinya. Bahkan tak mau menyebut namanya dalam doaku. Namun, wanita luar biasa itu yang tak lain adalah istrinya, justru berpesan: “Jangan membencinya, Be. Bantu aku untuk mendoakannya. Aku percaya Tuhan memanggilnya kembali pulang, dan ia akan kembali.” Masa yang sulit. Cinta nyata wanita ini, dan kasih Tuhan yang membuatku bisa memberikan pengampunan baginya. Ya, aku sudah memaafkan kakekku. Benar, laki-laki ini adalah kakekku.

Aku belajar untuk mendoakannya. Karena bila nenekku yang disakiti sedemikian dalam bisa mengampuninya, aku tak pantas membencinya. Aku berdoa agar Tuhan melembutkan hatinya dan mau menerima Tuhan kembali. Suatu hari Kong-Kong bisa menyadari cinta sejati Bobo untuknya. Aku ingin Bobo bisa berjumpa dengan Kong-Kong di Surga nanti. Aku minta Tuhan menyapanya lewat sinar matahari pagi yang masuk ke jendela kamarnya, melalui hijaunya dedaunan di halaman rumahnya, Tuhan menyapa di dalam mimpi-mimpinya. Bila kondisi ingatannya semakin menurun, biarlah hanya hal baik bersama Tuhan saat muda dulu yang tertinggal di sana.

Beberapa tahun ini, ketika kondisi kesehatannya menurun, setiap kali ke Semarang, aku selalu menyempatkan waktu untuk berdoa bersama denganNya. Aku sangat bersyukur, karena Ia mau berdoa. Aku masih ingat, saat itu sekitar Natal 3 tahun lalu, malam sebelum aku kembali ke Surabaya, aku memberanikan diri untuk bertanya, “Kong-Kong, apa yang mau Bebe doakan?”, di depan Bobo ia menjawab, “Doakan biar selamet.” Aku mengartikannya sebagai keselamatan. Bagaimanapun, ia tetap menginginkan keselamatan. Air mata pun tak tertahankan..

Satu hal yang aku selalu yakini, Tuhan mencatat semua doa yang tak pernah henti dinaikkan oleh Bobo dengan iman, bahwa suatu saat ia bisa berjumpa dengan suaminya di Surga. Tuhan melihat cinta dan kesetiaan luar biasa yang Bobo miliki. Tuhan pasti menjawab doa yang kami naikkan untuk keselamatan Kong-Kong.

Setelah saat itu, daya ingatnya semakin menurun. Suatu pagi, Bobo menelepon ke Surabaya dan berkata, Kong-Kong bermimpi bahwa aku bersekolah di luar negeri. Aku hanya kaget karena ia sudah mulai lupa akan cucu-cucunya. Namun, aku tersenyum dan mengamininya.

Ia sudah tidak lagi mengingatku saat bulan Juni lalu aku mengunjunginya di Semarang. Tak apa, karena saat itu aku menyaksikan sebuah pemandangan yang jauh lebih berarti. Saat itu Bobo sakit, di saat yang sama kondisi kesehatan Kong-Kong menurun. Meski ketika bersama selalu muncul pertengkaran, saat itu Kong-Kong berujar, “Aku mau lihat istriku di ICU!”. Sesulit apapun itu, aku dan adikku membawanya yang sudah tak lagi bisa berjalan, untuk bisa masuk ke ICU. Dengan perkataan yang terbata-bata, Ia masih bisa bilang, “Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit yang terbaik?”. Ya, cinta itu masih ada di sana. Dari tatapan itu aku tahu, cinta itu masih ada.


Lie Yauw Tjoen atau Mulyono Budi Santoso, adalah kakekku yang mengajarkan banyak hal penting untuk kehidupan ini. Bagiku, ia adalah kompas yang menunjukkan arah yang benar, dan juga arah yang tak perlu untuk kutuju. Seperti kompas yang mempunyai dua ujung jarum. Tepat 10 hari setelah ulang tahunku ke 26, Tuhan memanggilnya ke sisiNya. 15 September 2013, Minggu pagi, tepat saat aku dan adik harus melayani di tim musik di gereja.

Darinya aku belajar bahwa dengan bekerja keras, kesuksesan itu bisa diraih meski usia masih muda. Dari kisah hidupnya aku mengingatkan diri untuk tidak munafik, bahwa kekristenan itu bukan hanya agama atau di gereja semata, kekristenan itu seluruh aspek kehidupanmu yang disaksikan oleh dunia. Dari perjalanan hidupnya, aku jadi sangat membenci perselingkuhan dan menghargai benar arti kesetiaan. Aku membenci lelaki yang main tangan terhadap wanita. Aku harus mengunjungi berbagai tempat di belahan dunia lain selama aku punya kesempatan.

Aku belajar untuk memberikan pengampunan, karena bagaimanapun tanpa Kong-Kong, Bebe tidak akan ada di hari ini. Aku belajar untuk menyadari siapa yang patut dicintai, yaitu mereka yang mencintaimu dengan tulus, selalu menyebutkanmu dalam doanya, sanggup menerimamu apa adanya, dan selalu menantimu kembali. Cintailah mereka yang mencintaimu. Waktu hidup ini tak panjang, jangan ada penyesalan di sana.

Selamat jalan Kong-Kong. Tidak ada penyesalan yang tertinggal di hatiku, justru kedamaian karena sebelum menutup mata, Kong-Kong berujar: “Aku mau pulang ke Rumah Bapaku.” Itu meyakinkanku bahwa Tuhan melihat iman Bobo dan menjawab ribuan doa yang dinaikkan untuk suami tercintanya.

Tuhan memanggilmu kembali padaNya di Minggu pagi, bahkan kau tahu tepat kapan perjalanan hidupmu akan tiba di garis akhir pertandingan, jam 7 pagi. Semoga itu pagi yang paling indah buat Kong-Kong. Tuhan sangat sayang Kong-Kong. Terima kasih sudah menjadi sebuah kompas bagi hidupku. Aku akan meneruskan kisahmu ke anak cucuku. Sampai jumpa di Surga nanti. Mungkin bukan cerita yang luar biasa, namun yang pasti ini adalah akhir yang teramat baik. I love you, Kong-Kong.

Ecclesiastes 3:1-2 | To everything there is a season, and a time to every purpose under the heaven: A time to be born, and a time to die; a time to plant, and a time to pluck up that which is planted.

Surabaya, 150913, 21:15 PM.

This post is the sequel of The Legend of My Superwoman.

25 – part 1

Do you know my favourite quotes?

Permohonanku di ulang tahun ke-24 adalah menjadi “a better lady in waiting”. Tulisanku 24 menjadi pernyataan apa yang aku inginkan. Kutuliskan di sana:

“Aku mau biarkan diriku dipimpin dan diarahkan oleh Roh Kudus.. Bila Tuhan ciptakan aku sebagai wanita, maka aku harus menjadi wanita yang baik dan berkualitas. Wanita yang memiliki hubungan baik dengan Tuhan. Yang diberkati untuk menjadi berkat buat sesama..Harapanku ini bukan hal yang mudah untuk dijalani. Sebab bila kau belajar, pasti akan diuji.. Semoga setahun lagi, sudah ada buah baik yang bisa dipetik.”

Saat itu aku tak sepenuhnya tahu apa yang kutuliskan. Rasanya saat itu sudah lama sekali berlalu. Sebab terlampau banyak hal besar dan luar biasa memprosesku setahun ini. Kualitas proses itu melampaui kuantitas waktu dalam satu tahun. Mungkin sulit untuk dipahami olehmu, tapi telah kulalui dan mungkin bisa dimengerti oleh mereka yang menemani perjalananku.

Dimulai dengan proses yang menyakitkan di bagian awal. Tetapi Tuhan menunjukkan padaku, itu adalah titik awal bagaimana ia memproses karakter dan diriku. Dari lembah ke puncak gunung. Ia membalikkan semuanya dan mengabulkan permohonanku. Lembaran baru, bukan lebih baik tetapi jauh lebih baik.

Masa satu tahun di Jakarta bagaikan karantina buat karakterku. Saat pindah ke Jakarta, aku senang karena akhirnya keinginanku terwujud. Namun ternyata, aku dilatih, digesek, ditempa. Terasa berat, sakit, dan tak mudah. Namun Tuhan menemaniku dan memampukanku melewatinya. Hingga kemudian, akhirnya aku dipulangkan kembali ke Surabaya untuk mengerjakan hal yang lain lagi. Saat kembali, aku sempat merasa kecewa dan hampa. Namun kusadari, berada di kota ini berarti aku bisa menjadi berkat untuk lebih banyak orang. Aku dibawa ke keluarga dan teman-teman yang membuatku nyaman.

Ya, aku yang sudah selesai masa karantina, seakan dilepaskan di medan perang untuk mempraktekkan dan menggunakan ilmu yang sudah kupelajari. Aku masih ingat, cukup banyak teman yang kaget melihatku kembali dan berujar aku seperti orang berbeda. Mereka bilang aku berubah, ada yang berbeda di dalamku dan itu terpancarkan keluar sehingga aku sangat berbeda dengan setahun sebelumnya. Aku tak mengerti karena menurutku aku bebe yang sama. Setidaknya hal yang membuatku tenang, mereka bilang perubahan itu positif, bukan semakin buruk.

24 ku diisi dengan banyak momen. Salah satu momen terindah adalah aku berhasil mewujudkan keinginan untuk keluar negeri hanya berdua dengan sahabat terbaikku, yaitu adikku. Masih saja ada yang tak kumengerti, mengapa Tuhan membawaku belajar tentang ilmu finance. Aku terus bertanya tentang tujuan hidupku, bidang mana yang Ia mau aku hidupi, bahkan kehendak bebasku ku seakan buta arah. Sungguh tak mengenakkan menjalani sesuatu dengan hati mati rasa atau mungkin karena itu bukanlah panggilan hidupmu.

Tetapi ada musim untuk segala sesuatunya. Kemudian kurasakan, ada sesuatu yang lebih besar dariku yang membawaku ke jalan yang lain. Aku diluputkan dari tekanan yang menyesakkan. Badai itu seketika tenang dan aku mulai bisa bernapas lega, dan melihat lebih jelas. Keluarga menyambutku, ladang pekerjaan baru menanti dikembangkan. Pandanganku ke depan. Tak ada penyesalan atau sakit hati. Sukacita yang luar biasa bisa kurasakan lagi.

Ketika logikaku mempertanyakan, Ia mengirimkan buku demi buku yang bisa menjelaskan semua pertanyaan itu. Buku-buku yang sampai ke tanganku karena diberi pinjam, atau kubeli tanpa kutahu buku apakah itu, atau pemberian orang lain.

Ini adalah buku yang kubaca beberapa bulan terakhir ini: Lady in Waiting by Kendall & Jones, Lineage of Grace by Francine Rivers, The Battle Belongs to the Lord by Joyce Meyer, Understanding the Purpose and Power of a Woman by Myles Munroe, A Woman After God’s Own Heart
– daily devotional by Elizabeth George, Living Beyond Your Feelings by Joyce Meyer, dan Becoming the Woman God Want Me to Be by Donna Partow. Aku baru sadari bahwa semuanya bertema sama dan seakan menjawab permohonanku untuk menjadi “a better lady in waiting”! Bagaimana mungkin??

Bukan hanya buku, tetapi ada banyak orang menginspirasiku banyak karena hubungan mereka dengan Tuhan. Bila aku minta dituntun, aku harus mau taat. Ya tuntunan itu baik untukku. Tak mudah tetapi aku hanya mau taat, selangkah demi selangkah.

Itu pula yang membawaku bisa berangkat mission trip ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Di awal tahun ICA mengumumkan seluruh rangkaian mission trip di tahun 2012. Aku berdoa supaya bisa berangkat ke Youth Camp di Palangkaraya. Sejak itu poster peta mission trip 7-12-1 Central Kalimantan kutempel di dinding kamar tepat di depan tempat tidurku. Dan benar, aku dibawanya berangkat ke Palangka Raya awal Juli 2012. Selain itu aku membagikan diri menjadi leader youth camp Kembang Kuning dan juga youth camp ICA.

Begitu pula dengan talenta yang dititipkannya padaku. Setelah bergumul beberapa bulan, akhirnya aku menyerah dari mencari-cari alasan. Aku berhenti berpura-pura tidak mendengar. Dan akhirnya aku bersedia menjadi worship leader. Aku hanya melakukan kewajibanku, mengembangkan talenta yang Ia berikan, dan mengembalikannya. Aku bukan hebat, justru aku seringkali takut, tetapi tetap taat dan melakukannya. Setiap orang yang kepadanya diberi banyak, dari padanya akan dituntut banyak.

Bersyukur dan hanya bisa bersyukur. Penyertaan Tuhan sungguh luar biasa. Dan aku sangat mau untuk terus diisi dan diperlengkapi menjadi wanita yang lebih baik. Bukan hanya untuk diri sendiri tetapi untuk orang lain, untuk orang banyak, dan memuliakan Tuhan.

Jujur ada kalanya merasa tidak nyaman, melihat teman-teman baikku saat SMP, SMA, dan kuliah, mereka sudah menikah dan menjadi mama atau sedang mengandung. Bila aku mau membandingkan, mungkin secara kasat mata aku tertinggal jauh di belakang. Namun, aku tahu “membandingkan diri” hampir tidak pernah membawaku merasa lebih baik, justru menjatuhkanku. Begitu pula “mengeluh” tidak akan pernah membuat hidup menjadi lebih baik. Aku memilih untuk diam dan tegar, sambil terus melakukan apa yang bisa kulakukan untukNya. Tuhan tahu keinginan hatiku, dan aku memilih bertahan dalam rencana indahNya.

Beberapa hari yang lalu aku bertanya apa yang harus aku mohonkan di tahunku ke 25? Aku menemukan di renunganku: “Even you are far from perfect; continue on the path of being a woman after God’s own heart. And you’ll find a lot of joy along the way.” Ya, semoga aku bisa menjadi seorang wanita yang berkenan di hati Tuhan. Wanita yang bisa berucap “iya” ketika dihadapkan dengan pilihan untuk menaatiNya. Wanita yang menginspirasi dunia sekitarnya. Wanita yang bisa memancarkan sinar yang terang sehingga orang dapat melihat kasih dan kuasa Tuhan. Bagaimanapun waktuku akan tiba untuk ditemukan. Jadi aku akan mempersiapkan diri sebaik mungkin dan menghabiskan lebih banyak waktu bersamaNya.

  1. No eye has seen, no ear has heard, no mind has imagined, what God has prepared for those who love Him. ~ 2 Corinthians 1:9
  2. I will guide you along the best pathway of your life. I will advise you and watch over you. ~ Psalm 32:8

to be continued..

Surabaya | 060912 | 02:09 AM

First Week in a Whole New World

Seminggu sudah aku berada di sini. Berat tapi tetap bisa kulalui dengan baik, karena aku punya Tuhan yang sangat amat baik padaku. Aku ditempaNya dengan berat tapi tetap diberiNya hal-hal baik untuk kusyukuri.

Hari pertama, aku mendarat di sore hari, beberapa jam kemudian aku langsung ikut Date Karawaci; persekutuan gereja JPCC yang kebetulan diadakan di kantor kakakku hari itu. Tidak ada yang kebetulan, dan menurutku kumulai semua ini dengan sesuatu yang baik dan benar adanya. Date sekaligus menjadi penanda sudah berapa lama aku di sini.

Seminggu ini adalah masa adaptasi untukku. Adaptasi dengan tempat tinggalku: kasur, tatanan kamar, kamar mandi, mbak penjaga kost, pola cuci baju, dsb. Adaptasi dengan pekerjaanku: dunia finance, jam kerja, pembagian tugas, rekan kerja, pihak yang terkait, istilah baru, dsb. Adaptasi dengan transportasi umum: angkot putih Karawaci, bus lippo, bus umum 34, busway, taxi, jalan kaki, dsb. Adaptasi dengan keseharian: memasak, belanja, beberes kamar, ke gereja, supermall karawaci, dsb.

Oleh karena aku menyebut ini the journey of faith, proses ini akhirnya juga menjadi the journey of opportunity.

Ketakutan ini membuatku jauh lebih bergantung padaNya, yang kuyakin Ia punya rencana yang sedang digenapiNya untukku. Perlahan-lahan aku pun melihat ada banyak kesempatan baru yang disediakanNya untukku. If our God is for us, then who could ever stop us?

Tiga hari ini aku belajar dasar-dasar Finance, privat dari beberapa rekan yang capable, dan sudah sering mengajar di kelas resmi. Aku harus tahu karena aku merasa layaknya manusia paling bodoh di sana, bahkan OB kantor pun lebih pandai mungkin. Sulit karena banyak sekali istilah yang bahkan belum pernah kudengar sebagai lulusan Komunikasi. Menghitung angka pun membutuhkan waktu lebih lama. Payah, aku sudah terlalu membiarkan otakku terlalu santai rupanya.

Benar adanya: Jakarta bisa membawamu lebih dekat dengan kenyataan dan kesuksesan. Namun, hati-hati, tak semena-mena ibukota bisa membawamu lebih tinggi. Aku mengakui sekarang, siapa yang ada di sekitarmu lah yang bisa membawamu menapak lebih tinggi. Siapa di sekitarku ketika aku di Jakarta? Tak kusangka, kakak dan partnernya berelasi baik dengan beberapa tokoh dari berbagai macam latar belakang yang sukses. Siapa pula teman-teman mereka? Umpama tangan-tangan tersambung, dari sanalah semua bermula.

Inilah duniaku yang baru, aku sedang berusaha keras mendalami Finance. Otomatis juga berkenalan dengan banyak tokoh hebat di dunia Finance. Aku merasa sangat tak berisi, sebab itulah kepala ini berat karena sedang memaksa diri belajar lagi dan lagi. Mungkin beberapa akan beranggapan aku mengkhianati dunia PR. Pendek sekali cara pikir itu. Sebab bagiku, aku bukan berpindah dunia, tapi sedang memperluas duniaku! Let me create my own world.

Lagipula siapa bilang aku berpindah hati, hari ini Tuhan beri aku hadiah di seminggu pertamaku, meski kecil but I’m so grateful! Aku diajak ikut salah satu sesi di workshop PR Society, tentang Investor Relations. Bertemu kembali lah aku dengan President of PR Society. Di sana ada beberapa PR perusahaan lain, termasuk salah satu sosok PR yang namanya sering digunjingkan beberapa kalangan di Surabaya.

Beberapa kali di Surabaya aku penasaran sekali melihat sosoknya tapi tak pernah berhasil bertemu. Hari ini bukan hanya melihat, tetapi berkenalan, dan duduk bersebelahan di satu taxi yang sama dengannya. Wow, kami bercerita banyak hal tentang PR. Aku ingin pandanganku tentangnya terpatri bukan karena desas desus gossip, tetapi karena aku menilainya langsung. Dia tak seburuk itu. Setiap orang boleh punya kekurangan, tapi aku percaya akan tetap ada pihak-pihak yang menyukainya, dengan cara dan gayanya. I respect her anyway.

Kurang lebih itulah seminggu di duniaku yang baru. Bahkan tema Maret di gerejaku di Jakarta ini adalah Finance! Is it a coincidence? Aku sedang memperluas duniaku, kusadar betul yang kulakukan, aku hanya ikuti ke mana Ia membawaku. MembiarkanNya membuka jalan dan aku hanya lakukan yang terbaik yang kubisa lakukan di setiap jalan-jalan itu.

Exodus 23:20, “See, I am sending an angel before you to protect you on your journey and lead you safely to the place I have prepared for you.”


Yesterday has come and gone and I’ve learn how to leave it where it is

I see that I was wrong, for ever doubting I could win

Just like all the seasons never stay the same, all around me I can feel a change

I will break these chains that bind me, happiness will find me

Leave the past behind me, today my life begins

A whole new world is waiting, it’s mine for the taking

I know I can make it, today my life begins..

(Bruno Mars – Today My Life Begins)

 

Karawaci | 250311 | 12:22AM

The Journey of Faith

Between the roses and the thorns..


Aku tak tahu mengapa kau belokkan aku kemari? Yang kutahu aku menurut saja. Dunia berpikir aku hilang akal, aku tahan semua anggapan itu. Aku tak tahu jalanan seperti apa dan bagaimana yang harus kujalani? Yang kutahu aku telah di tempat ini. Dunia terasa seperti kebun mawar di sini, penuh dengan duri tajam, aku mencoba bertahan meski tahu akan tergores.

Tak kuharapkan segala sesuatu yang serba indah, hanya saja tak terbayangkan sekeruh ini kadarnya. Tak! Aku bukan pengeluh, kau tahu itu. Tapi benar adanya, ini lebih berat. Antara ingin menghembuskan nafas panjang dan menutup mulut lalu menjalani hari demi hari. Mungkin bukan mengeluh tetapi menyadari kenyataan yang tak mudah lalu berusaha mencari sisi baik yang ada, itu lebih baik.

Cukup menggelikan, ketika kau akan melangkah dan kau dengan sadar perlahan mengangkat kakimu ke jalan berduri. Tapi seharusnya ada mawar-mawar indah yang akan menguncup lalu merekah, memamerkan merahnya. Menggelikan karena kau bagaikan orang tak waras yang masih mau melangkah ke dalam semak duri itu.

Kini duri ini tampak lebih jelas, siap menyambutmu. Manakala belum tahu berapa lama lagi mawar-mawarmu akan merekah.

Dunia finance belum pernah kutahui sebelumnya. Lingkungan tempatku hidup pun belum kujelajahi sebelumnya. Sistem kerja yang tak menentu. Pihak yang tak menyukaimu dan mencoba menghuyungkanmu. Mau tak mau, aku paksa diri berubah menjadi manusia yang bisa berkompromi sambil belajar menggeliat dari kenaifanku.

Semua berbeda dan tak bisa dibandingkan dengan pada saat aku sempat tinggal setengah tahun di kota ini. Tak ada kendaraan pribadi ternyata kini bisa menjadi seberat ini, meski aku pernah bisa bertahan. Aku berteriak padamu, menunggumu, dan kutahu kau yang akan menentukan jawabnya.

Tinggal di tempat kos yang bertetanggakan pria, pria, dan pria. Bekerja di antara pria-pria. Aku jadi yang tercantik di sini. Namun, aku tak ingin itu, lebih baik bukan tercantik tetapi ada wanita lain. Mandiri tapi bukan sendiri.

Di kala pundiku bisa mulai terisi kini serasa kembali dari nol. Mau tidak mau harus kubiarkan orang tua dan kakak yang mencukupkan kebutuhanku. Di sinilah realita dan idealisme harus beradu, dan kubiarkan realita menang saat ini.

Semua serba baru, baru yang cukup mengejutkan. Hal baiknya berarti aku pun belajar hal baru dan itu yang akan memperkayaku. Kau sedang mambawaku untuk naik kelas tampaknya. Aku jadi bergantung padamu. Lebih dari sebelumnya karena kau yang bawaku kemari, maka kau yang bertanggung jawab membereskan satu demi satu, hari demi hari.

Yang kutahu mawar itu pasti akan merekah pada saatnya. Bila ia berduri berarti ia tumbuh. Ia tumbuh berarti akan ada masanya ia berbunga! Namun, aku harus tetap ada di sana untuk memastikan ia akan tumbuh, hingga nantinya berbunga. Tiap kali tahu akan tergores dan tergores, aku akan berteriak padamu sekuat-kuatnya, agar kubisa tahan rasa sakit itu. Toh nantinya kau yang mengobatiku.

Tak kutahu kapan bunga itu akan muncul, tapi aku akan bertahan di tengah duri-duri tajam ini hanya karena aku yakin mawarku akan mekar. Kau sudah janjikan itu. Aku belum melihatnya tapi aku sudah bisa membayangkan wujudnya, merahnya, wanginya, banyaknya, dan itu indah!

The world says: seeing is believing, but The Word says: believing is seeing! That’s why I call this as “The Journey of Faith“..


Karawaci | 190311 | 1:11AM

Sincere Prayer for My Beloved

I am praying for you..

You, the one that gonna be my only one,

Whoever you are, I know you love God.

Wherever you are, I know you’re real somewhere out there.

Because when God created you, He must have been thinking about me.

Whenever its right, God will send you out of nowhere into my life..


Life of me, the one that always send Him a prayer

Not just a prayer that our love will find the way soon,

More of it, I’m praying for you and your life, dear..

That God will keep you safe wherever you are,

God will bless all the things you do, whether working or studying,

Everything you do with your hands will be a blessing for others,

God will provide the way out for all your problems you may faced,

You’ll be strong and being an inspiration for people around you,

God will keep you healthy,

Because I’m not beside you yet so He’s the one that taking care of you now,

And I pray for your future that’s gonna be ours,

That God will help you to clearly see the vision He had prepared for you to achieved..


I do praying for your family, father, mother, brothers, or sisters

Because they’re going to be mine too..

God will make them see that He loves them so much,

And when you meet me later, they already have that chemistry for me..

I do praying for my family, my dad, mom, brother, and sister,

Because they’re going to be yours too, dear..

God will make them love you just like I do.

And one day, you together with me and also your family and mine,

We will be a great team to show God’s love in this world.


And I’m praying for myself,

I’m asking God to prepare me well, so that I could be the best for you.

I wish I could make you proud having me beside you.

And God will keep me to be faithful in waiting for you.

Dear, I admit: I miss you, I’m waiting for you, and I deeply do..

So, every time I feel this, I whisper this prayer to God

Because God knows me well and I believe He knows you better than I do,

It’s great that we have the same God,

I may not meet you yet, but I can meet my God, and God had met you already..


In the name of Jesus I sincerely pray for my beloved, Amen!


©BeBe|Surabaya|260211|12:04 AM

Goodbye

Aku akan melangkah maju ke tempat yang baru, menemukan tempatku yang seharusnya. Mendengarkan jeritan yang telah kuabaikan. Maka, hari ini aku beranikan diri pamit meninggalkan tugas istimewaku.

Bagaimana tidak istimewa bila kau menjadi berkat bagi banyak orang, menjadi inspirasi, menambahkan hal baru bagi mereka yang mau belajar, serta belajar menghadapi berbagai tipe orang yang berbeda-beda. Menjadi dosen fulltime selama sekitar 6 bulan terakhir ini merupakan sebuah proses pembelajaran yang indah. Lengkap dengan suka dukanya. Salah satu hal yang kudapati, ternyata Tuhan beriku talenta untuk mengajar.

Beberapa pihak berpendapat, tidakkah terlalu dini bagiku mengambil keputusan ini. Terlalu terburu-buru mungkin ini masih masa adaptasi, sehingga gejolak itu biasa. Bagiku masa adaptasi sudah berlalu, ini adalah masa percobaan. Dalam satu tahun ini, statusku adalah dosen fulltime kontrak, di mana dalam masa itu kedua belah pihak dapat mencari kecocokan. Aku sudah mencoba dan aku menemukan jawaban untuk jujur pada diri sendiri.

Terlepas dari itu, tak pernah kuanggap ini sebagai permainan. Ini bukan pekerjaan mudah karena bukan hanya mengajar tetapi juga mendidik. Tak hanya teori tetapi juga mengajarkan attitude. Bagiku, dunia public relations tak bisa diremehkan. Kucurahkan waktuku untuk belajar lagi, menyesuaikan diri untuk mata kuliah Pengantar PR, International PR, Manajemen PR, Sosiologi Komunikasi, dan Teknik Presentasi di DKV, serta menjadi Koordinator Internship 1.

Mudahkah? Tidak! Tapi aku tak menyerah saat itu. Aku belajar lagi sebelum mengajarkan teori itu pada mahasiswaku. Mulai merencanakan topik penelitian. Bahkan sudah merencanakan studi lanjut, sampai dengan mulai menghubungi universitas yang menggodaku di luar sana.

Sempat kucari opsi lain sebelum berujung pada keputusan ini. Bekerja sambil mengajar? Sebut berapa tempat di Surabaya ini untuk aku bisa bekerja di dunia public relations atau corporate communication. Bila ada, jam kerjanya adalah office hour, bagaimana aku membaginya dengan dosen fulltime yang harus mengajar 36 jam seminggu?

Sekarang, ini sudah keputusan bukan lagi pergumulan. Pergumulan sudah terjadi sejak 3 bulan lalu. Chemistry itu tak kunjung muncul, hambar. Selama ini aku bertahan dengan memunculkan hal indah. Melihat senyuman mahasiswaku, gairah mereka mengikuti perkuliahan, tertantang menjawab pertanyaan mereka, ucapan terima kasih mereka, kejujuran mereka yang berujar telah terinspirasi, serunya membuat slide mengajar, sampai ketika mereka menungguku berbagi pengalaman. Terima kasih kalian telah membuatku bertahan satu semester ini.

Namun itu tak cukup kuat untuk menahanku sampai 6 atau 7 tahun ke depan. Tak cukup membuatku tuli untuk tidak mendengar jeritan hati. Tak cukup membutakanku yang ingin mempraktekkan ilmu yang pernah kudapat. Jujur, bukan hanya ingin melihat kalian berhasil di bidang yang kalian pelajari, aku pun ingin merasakannya. Ada bagian diri yang tak tersalurkan di sini, serasa hanya 2/3 diri yang kugunakan. 1/3 lain mungkin adalah keinginan untuk implementasi di lapangan dengan tantangan yang semuanya nyata, bukan awang-awang di teori saja.

Mahasiswaku, tak sedikit biaya yang orang tua kalian keluarkan karena ingin putra putrinya mendapat ilmu terbaik dan menjadi lulusan yang matang dan tahan uji. Dan aku tak merasa cukup baik untuk berikan itu, setidaknya belum. Ada rasa bersalah ketika aku hanya bisa tahu teori, dan kasus yang kubagikan hanya tentang kerang kuning itu. Tak kaya dan aku pun tak puas dengan hal tersebut, karena aku tak bisa maksimal bagikan diri untuk kalian. Maksimal secara kualitas bukan kuantitas. Terima kasih, kalian telah mengajarkanku banyak hal dengan keunikan. Lanjutkan perjuanganmu, buktikan kepercayaan dan harapan orang tua kalian.

Rekan dosen dan staff Ilmu Komunikasiku, terima kasih untuk kepercayaan yang kalian berikan. Di luar sana, banyak yang tak percaya aku telah menjadi dosen fulltime di usia semuda ini. Tapi tak pernah sekalipun kalian yang lebih senior meremehkanku. Hanya, aku tak cukup percaya diri untuk mengajar hanya berbekal teori, atau membaca literature, atau mempelajari kisah kasus yang dialami teman praktisi. Butuh praktek yang kujalani sendiri sehingga bisa kubagikan di kelas dengan percaya diri. Tak salah bagi dosen lain yang mampu, hanya, aku berbeda dengan mereka. Dunia public relations bukan hanya tentang teori tetapi perlu banyak contoh kasus tuk dibedah bersama. Dunia yang dinamis.

Percayalah, aku pamit bukan karena luka, penolakan, gesekan, atau anggapan miring tentangku. Tak ada luka itu karena semua kuanggap pembelajaran. Anggapan miring tak cukup kuat untuk membuatku pergi karena lebih banyak dari kalian yang bisa melihat maksud baikku. Kadangkala dalam hidup, kita tak bisa selalu menyenangkan semua orang dengan mengorbankan diri sendiri. Saatnya aku menata masa depanku.

Maaf bila aku meninggalkan kalian secepat ini. Bila aku jadi tunas yang tercabut dari tanah ketika akar halus itu mulai makin mencengkeram erat tanah di dalam sana. Mungkin lebih baik sebelum tunas itu menjadi pohon, yang akan mati bila dicabut nanti. Tunas masih bisa dipindahkan ke tempat lain. Aku janji, akan bertahan untuk terus bertumbuh, menjadi pohon yang berbuah, dan suatu hari kelak, buah itu bisa kubagikan dengan kalian.

Ku tak ingin Tuhan ambil kembali talenta mengajarku karena aku tak mengembalikannya untuk kemuliaan namaNya. Masih terus ada mimpi untuk studi lanjut. Kuperlu gali kenyataan di lapangan dan kugabungkan dengan teori yang pernah kupelajari. Pada saatnya nanti saat aku cukup percaya diri karena ranselku telah terisi, aku harap bisa mengajar lagi. Entah kapan dan di mana.

Aku yakin kalian akan tetap bertahan meski tanpaku. Sumber daya yang jadi berkurang ini pasti akan Tuhan cukupkan. Maafkan bila terdapat kesalahanku. Ketegasan prinsip yang mungkin tak setiap kalian dapat menerimanya. Cara mengajar yang mungkin terlalu keras. Senyuman yang masih kurang banyak bagi sebagian orang.

Aku pamit bukan sebagai orang yang kalah karena ini bukan pertandingan. Aku pergi untuk meraih mimpiku, menjadi diriku sendiri, meski itu berarti harus jadi pendekar yang mengembara. Terima kasih kuhaturkan sbab kalian telah dapat memahami alasan di balik semua ini dan mendukungku maju. Terima kasih untuk semuanya.

Tetaplah berintegritas sebab seharusnya itu lebih mudah dilakukan selagi berada di lingkungan yang berlandaskan dasar yang sama. Katakanlah merah bila itu merah, bukan merah muda atau jingga. Hidupilah panggilanmu dan bertahanlah bila kau telah menemukannya. Didik dan ajarlah mahasiswa yang Tuhan titipkan selayaknya di sebuah institusi pendidikan, bukan antara konsumen dan penjual. Jadilah teladan, bukan hanya teori yang dengan mudah dapat dilupakan orang, tetapi dengan sikap yang menginspirasi.

Aku pun telah siap meninggalkan titik amanku di tengah kalian, jurusan dan almamater yang mengantarkanku bermimpi. Kutau Tuhanku, Tuhan yang sama dengan Tuhanmu, tak hanya akan menjagamu, tetapi juga menjagaku. Ku tak tahu kelokan-kelokan rancanganNya, tapi kutau itu indah dan baik untukku.

Warm hug, big smile, and pray for each of you who had read my writing. If you miss me, find me on Lukisan Kata Tulisan Warna, I’ll keep writing about this journey of faith. I’m gonna miss Gedung C, C.104, TU Jurusan, I’m gonna miss you all..

Sometimes moving on with the rest of your life starts with goodbye..

So, goodbye!


Sby|310111|8:24PM


Who Am I

Aku bukan tidak mengenal diriku, tetapi aku tidak pernah menyadari siapakah aku sebenarnya. Selama ini jiwaku hidup dalam tubuh ini. Bergerak, bernafas, dan menghabiskan detik demi detik dalam kehidupan yang sementara ini. Karakter yang dibangun oleh sifat dasar maupun dibentuk oleh lingkungan dan keadaan menjadi terburamkan. Talenta yang dibawakanNya padaku kugunakan atau kusia-siakan tanpa kusadari apa sajakah itu. Begitu pula dengan mimpi, yang bahkan tak berani kugambarkan.

Cukup. Ada hal baik yang harus kusadari dari diriku. Ada talenta yang berpotensi dari seorang BeBe. Ada karakter dan sifat yang harus diasah dan dirubah untuk menjadi lebih baik. Dan ada mimpi yang harus kugambarkan sehingga dapat bergerak mewujudkannya ketika bangun dari tidurku. Butuh keseriusan untuk mengenalinya karena semua itu penting. Entah kapan terakhir kali aku melakukan komunikasi intrapersonal pada diriku sendiri. Namun, sekarang akan kuberitahu kau siapa aku.

Seorang wanita muda yang tangguh meski rapuh selayaknya manusia lain. Seorang yang dirasa punya rasa percaya diri tinggi meski bagiku itu hanya penilaian orang lain. Aku menikmati berpikir terstruktur dan membuat semua terorganisir. Terkadang aku suka berimajinasi dan melakukan pengandaian, meski bukan mimpi untukku, tapi membayangkan sesuatu yang ideal dan seharusnya. Kunikmati bercerita dengan orang lain, bertemu dengan beragam manusia sehingga aku bisa belajar sesuatu dari mereka. Sambil berharap aku pun bisa menginspirasi mereka. Selain itu, cukup mandiri untuk tidak mau membuat orang lain direpotkan karenaku, jadi akan kulakukan sendiri semampuku.

Aku suka berpikir sampai tidak beraksi karena terlalu banyak yang menari di pikiranku. Aku tegas dan tak nyaman dengan kelambanan. Aku suka sekali mencari tahu sesuatu hal baru sampai terkadang terlalu banyak pertanyaan yang kusebut, terlalu kritis. Memperhatikan hal yang detail, entahlah terkadang aku jeli dan menikmati berurusan dengan hal detail. Hingga terkadang aku menjadi perfeksionis yang baik dalam satu sisi, yakni aku menjadi lebih teliti tetapi buruknya jadi sulit mempercayai orang lain. Aku cukup keras pendirian tetapi aku bisa merelakan diri tunduk pada orang yang kurasa pantas untuk menundukkanku dan akan kupecahkan kerasku itu untuknya.

Keraguan sering hinggap di rantingku. Terlebih ketika perempatan jalan memaksaku untuk membuat pilihan. Terkadang berani mengambil resiko tetapi sering pula takut untuk hal tertentu. Berani untuk keluar dari zona nyaman dengan kabut ketakutan yang melingkupi. Selalu belajar fokus pada solusi daripada masalah. Sedari kecil aku bisa menerima apapun yang diberi tanpa meminta yang terbaik buat diriku. Sayangnya, itu membuatku tak berani ungkapkan perasaan dan keinginanku. Melainkan menikmati dan enjoy dengan apa yang kupunya. Sejujurnya, aku tak menyukai sifatku itu.

Aku tak melihat hidup sebagai sebuah kompetisi, hanya berusaha melakukan yang terbaik yang kubisa, mengeluarkan kemampuan terbaik BeBe, sebab aku pantang menyesal. Penyesalan akan membuat masa lalu terus menarik kakiku yang melangkah maju. Aku hidup hari ini dengan bayang-bayang masa lalu, bukan impian masa depan. Ku tak suka itu, jadi aku sedang berusaha melihat masa depan yang penuh kejutan sebagai hal yang lebih menarik dibanding menyeret masa lalu bersamaku.

Itulah sifat dan karakterku yang baik dan buruk. Kelebihan ada untuk kubiarkan ada dan kukenali sebagai kekuatanku, serta kata “lebih” berarti harus kubagikan pada ruang kosong manusia lain. Kekurangan tak selalu berarti buruk. Ya, memang berarti ada ruang untuk kuisi atau perlu orang lain yang untuk melengkapi celah itu agar tak lagi kurang. Keduanya menjadi campuran kimia yang bereaksi pada pola pikir hidupku, anehnya aku menjadi tak berani bermimpi untuk diriku. Mimpi yang setiap manusia harus punya untuk membuatnya bermasa depan.

Masa depan adalah perwujudan atau gambaran nyata dari mimpi. Gambaran mimpi diwarnai oleh potensi diri yang sudah tergali. Dan mimpi digambar oleh coretan-coretan talenta. Oleh karenanya aku kembali harus menyadari talenta yang dititipkan padaku pada hari aku diciptakan. Lalu ditambahkan ketika satu per satu talenta kukembangkan. Talentaku adalah senjataku.

Beberapa orang menyebut aku memiliki bakat kepemimpinan, tapi buatku itu bukan memimpin tetapi mengkoordinasi. Menyanyi sepertinya adalah talenta pertama yang aku sadari sedari kecil. Bercerita adalah bahasa sederhana untuk talentaku selanjutnya, sharing knowledge and experience. Lambat laun aku menyadari, tak hanya verbal tetapi aku juga mampu menuliskan untaian cerita itu dalam bentuk kata kalimat dan tulisan, serasa menemukan dunia sendiri untuk jiwaku. Mama yang mengenalku menyebut sedari kecil aku senang mendengar keluh kesah orang lain dan memberikan jawaban solusi yang cukup baik, problem solver katanya. Well, aku tak terlalu menyadarinya tetapi itu benar adanya, analisa sederhana mungkin.

Ada kelegaan lain ketika aku bisa berbagi waktu, tenaga, maupun materi dengan orang lain yang membutuhkan. Bukankah hal itu wajar? Setiap orang harus hidup seimbang bukan? Ada yang membutuhkan sementara aku bisa mengulurkan tangan. Hanya dengan mengulurkan tangan, bisa menghadirkan senyum untuk mereka, bukankah itu indah? Tersenyum bersama seakan menghancurkan tembok perbedaan dan kembali ke esensi manusia yang sama. Kehidupan sosial cukup sering kulakukan, bukan menyumbang, tapi terlibat langsung di dalamnya.

Itu beberapa talenta yang kusadari. Dari sana kumulai sadari potensi yang dapat kukembangkan. Dunia komunikasi, khususnya public relations tampak mampu mewakili penggabungan beberapa talenta itu. Meski banyak yang harus dipelajari karena tak ada talentaku untuk bidang tertentu.

Lalu kemudian apakah mimpiku?


Selama ini mungkin aku tak berani bermimpi tapi bukan berarti aku tak pernah menggambarnya. Aku pernah mencoba menggambar sketsa mimpiku tapi kemudian buku gambar itu kusembunyikan saja tanpa orang lain perlu melihatnya. Gambaran orang lain tampak lebih baik, sehingga aku malu akan gambaranku sendiri. Bukannya aku tidak iri secara positif tetapi justru kalah sebelum bertanding. Bodoh! Saatnya hentikan cara pikir itu. Akan kulanjutkan gambarkan mimpiku.

Aku ingin tetap ada di dunia ini, dunia public relations dan komunikasi. Pernah kugambarkan memiliki public relations consultant sendiri di mana perusahaan yang membutuhkan solusi terkait citra baik bisa mendapatkannya di sana. Saat itu aku tak cukup berani menyebutnya karena tak merasa hebat untuk itu. Tetapi kini, aku akan bisa bila aku mau berjuang. Long way to go. Memiliki consultant yang dikenal karena kreatifitas ide baru dengan cara unik untuk mengkomunikasikan image, serta peduli akan sekitarnya. Berisi warga Negara Indonesia yang bermutu dan akan membuktikan pada masyarakat skeptis ini. Aku harus melanjutkan studi lagi, mungkin lebih mengenai Corporate Communications atau CSR. Aku ingin bekerja di corporate agar tahu communication macam apa yang mereka butuhkan. Aku harus memiliki banyak koneksi karena consultant tak berarti tanpa klien. Punya modal materi. Memiliki pengetahuan cukup tentang media yang beragam. Mengenal banyak orang hebat yang berpotensi untuk bekerja bersama di sana. Designer yang baik, penulis hebat, fotografer sejati, komunikator handal, dan tentu yang bermisi sama. Untuk membuat dunia ini melihat kepada hal positive rather than negativity. Dunia public relations mengajarkanku itu, untuk memunculkan sisi baik perusahaan dan diperbincangkan karenanya. Bukan fokus mencari kekurangan untuk disebarluaskan. Salah satu wujud nyata dari mencapai mimpi itu adalah pergi ke Jakarta, tempat aku bisa lebih dekat dengan semua itu. Sambil belajar kemampuan koordinasi lebih banyak lagi.

Aku juga masih punya keinginan untuk tinggal di luar negeri, merasakan tinggal di luar negeri. Maka aku perlu belajar bahasa yang lebih baik. Aku ingin travelling around the world bersama pasanganku nanti, membuka wawasan dan belajar hal baru. Aku ingin punya keluarga yang mendukung karirku, di mana aku bisa membesarkan anakku sendiri dan bukan anak suster. Dan bisa menyekolahkan putra putriku ke luar negeri pada saatnya nanti. Mimpi lain, memiliki sebuah lembaga atau yayasan ber-value Christian untuk mewujudkan permintaan terakhir dari orang yang divonis dokter memiliki hidup yang tak lama lagi. Untuk itu butuh jaringan pendonor yang banyak, sehingga makin banyak wishes yang bisa diwujudkan, dan makin banyak senyuman priceless yang muncul dari dunia yang keras ini. So that those unbelievers will see and lift up Your name.

Ke depan bisa saja kububuhkan hiasan lain dalam gambarku itu atau kurubah sedikit di sana sini. Bisakah? Bisa, karena ini gambaranku sendiri. Aku tidak mau lagi membiarkan orang lain menciptakan duniaku, karena mereka akan membuatnya kekecilan untukku. Tuhan, bantu aku memperbaiki dan menyempurnakan gambaranku. Sebab dari sanalah langkah kecil kakiku ini akan ditarik berjalan. Tak lagi bingung dan diam terlena diombang ambing dunia. Tapi bukakan pintu yang harus kulalui. Dan jangan biarkan gambaran itu luntur agar jelas masa depanku.

Don’t allow society to transform you into someone you are not. If you are not following your dream, STOP! – Paulo Coelho

Surabaya | 050111 | 11:48 PM

Previous Older Entries

www.widiantigunawan.wordpress.com