A Goodbye to the Compass of My Life

Setiap kehidupan memiliki cerita. Cerita yang baik untuk diteladani, dan cerita yang buruk untuk dipelajari agar tak perlu terulang kembali dan dijauhi. Tergantung pola pikir manusia yang melihatnya. Aku memilih untuk menjadi seorang pembelajar, karena hal buruk hanya akan menjadi trauma bila tidak diterima dan dihadapi. Dan setiap cerita bersama dengan Tuhan, akan selesai dengan baik pada akhirnya.

com·pass [kúmpəss, kómpəss]

noun (plural com·pass·es)

1. direction finder: a device for finding directions, usually with a magnetized needle that automatically swings to magnetic north

2. personal direction: a sense of personal direction

3. scope: the scope of something such as a subject or area of study

4. hinged device for drawing circles: a device for drawing circles or measuring distances, e.g. on a map, that consists of two rods, one pointed, the other often holding a pencil, joined by an adjustable hinge (often used in the plural)

Microsoft® Encarta® 2006. © 1993-2005 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Ia seorang laki-laki yang suka kutemui saat kecil. Setiap liburan sekolah tiba, aku dan kakak selalu siap untuk packing lalu pergi ke Semarang. Bahkan kami yang masih SD pernah pergi berdua dengan travel karena papa dan mama sedang ada kesibukan lain. Saat mudanya, ia pernah belajar fotografi dan bertemu dengan sang istri karenanya. Kemudian ia menjadi seorang pengusaha kayu jati yang sukses. Menjelajah Jawa Tengah untuk mencari kayu yang terbaik, setidaknya itu yang diceritakan anak-anaknya.

Bila kami ada di Semarang, ia mengajak kami pergi bermain ke Sri Ratu, mengantar kami makan nasi ayam, loenpia gang Lombok, pergi menginap di Bandungan, pergi ke pabrik tahu favoritnya di Bandungan, membawa kami ke Museum Kereta Api Ambarawa, membelikan hadiah, mengijinkan kami memanjat pohon belimbing di halaman rumahnya, mengajariku kebiasaannya di pagi hari yaitu memetik daun yang sudah menguning di pohon di belakang kamarnya. Aku mencoba mengingat berbagai hal menyenangkan yang pernah kulalui bersamanya dulu.

Lalu ada satu masa di mana kepahitan itu muncul. Ia seorang pengusaha kayu jati dan suatu kali ia ditipu dalam jumlah besar oleh seorang pelanggan, yang tak lain adalah seorang pelayan di gereja. Sejak itu kepahitan muncul dan kekecewaan itu tidak terobati, hingga tak tersembuhkan. Ia menolak untuk kembali datang ke gereja sejak saat itu karena ia melihat kemunafikan di sana. Sampai puluhan tahun kemudian, Ia tak pernah mau kembali lagi ke gereja.

Kepahitan yang tak terobati itu menjadi sebuah kondisi hati yang tidak sehat. Pemberontakan menjadi pintu masuk untuk hal tidak baik lainnya. Kekecewaan membuatnya lari dari kebenaran. Sebuah batu sandungan membuatnya pergi menjauh dari Kasih yang sejati. Entah sadar atau khilaf, tapi aku percaya bahwa manusia selalu bisa memilih untuk tidak dikalahan dengan keadaan.

Ya, ia tidak menghiraukan pasangan sejatinya. Ia pernah memilih jalan yang lain. Melukai yang mencintainya. Berlari terlalu jauh hingga tak sanggup kembali. Menjauhi terang dan membiarkan kegelapan menguasai hidupnya. Keselamatan adalah anugerah, tetapi respon terhadap keselamatan itu adalah tugas dan tanggung jawabmu. Aku belajar darinya, untuk tidak akan pernah mau jauh dari Tuhan. Agar tidak ada kesempatan bagi dosa untuk menjauhkanku semakin jauh dan tersesat.

Selama bertahun-tahun, Bebe remaja pernah sangat marah dan tak mau lagi pergi ke Semarang untuk menemuinya. Aku malu. Aku membencinya. Bahkan tak mau menyebut namanya dalam doaku. Namun, wanita luar biasa itu yang tak lain adalah istrinya, justru berpesan: “Jangan membencinya, Be. Bantu aku untuk mendoakannya. Aku percaya Tuhan memanggilnya kembali pulang, dan ia akan kembali.” Masa yang sulit. Cinta nyata wanita ini, dan kasih Tuhan yang membuatku bisa memberikan pengampunan baginya. Ya, aku sudah memaafkan kakekku. Benar, laki-laki ini adalah kakekku.

Aku belajar untuk mendoakannya. Karena bila nenekku yang disakiti sedemikian dalam bisa mengampuninya, aku tak pantas membencinya. Aku berdoa agar Tuhan melembutkan hatinya dan mau menerima Tuhan kembali. Suatu hari Kong-Kong bisa menyadari cinta sejati Bobo untuknya. Aku ingin Bobo bisa berjumpa dengan Kong-Kong di Surga nanti. Aku minta Tuhan menyapanya lewat sinar matahari pagi yang masuk ke jendela kamarnya, melalui hijaunya dedaunan di halaman rumahnya, Tuhan menyapa di dalam mimpi-mimpinya. Bila kondisi ingatannya semakin menurun, biarlah hanya hal baik bersama Tuhan saat muda dulu yang tertinggal di sana.

Beberapa tahun ini, ketika kondisi kesehatannya menurun, setiap kali ke Semarang, aku selalu menyempatkan waktu untuk berdoa bersama denganNya. Aku sangat bersyukur, karena Ia mau berdoa. Aku masih ingat, saat itu sekitar Natal 3 tahun lalu, malam sebelum aku kembali ke Surabaya, aku memberanikan diri untuk bertanya, “Kong-Kong, apa yang mau Bebe doakan?”, di depan Bobo ia menjawab, “Doakan biar selamet.” Aku mengartikannya sebagai keselamatan. Bagaimanapun, ia tetap menginginkan keselamatan. Air mata pun tak tertahankan..

Satu hal yang aku selalu yakini, Tuhan mencatat semua doa yang tak pernah henti dinaikkan oleh Bobo dengan iman, bahwa suatu saat ia bisa berjumpa dengan suaminya di Surga. Tuhan melihat cinta dan kesetiaan luar biasa yang Bobo miliki. Tuhan pasti menjawab doa yang kami naikkan untuk keselamatan Kong-Kong.

Setelah saat itu, daya ingatnya semakin menurun. Suatu pagi, Bobo menelepon ke Surabaya dan berkata, Kong-Kong bermimpi bahwa aku bersekolah di luar negeri. Aku hanya kaget karena ia sudah mulai lupa akan cucu-cucunya. Namun, aku tersenyum dan mengamininya.

Ia sudah tidak lagi mengingatku saat bulan Juni lalu aku mengunjunginya di Semarang. Tak apa, karena saat itu aku menyaksikan sebuah pemandangan yang jauh lebih berarti. Saat itu Bobo sakit, di saat yang sama kondisi kesehatan Kong-Kong menurun. Meski ketika bersama selalu muncul pertengkaran, saat itu Kong-Kong berujar, “Aku mau lihat istriku di ICU!”. Sesulit apapun itu, aku dan adikku membawanya yang sudah tak lagi bisa berjalan, untuk bisa masuk ke ICU. Dengan perkataan yang terbata-bata, Ia masih bisa bilang, “Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit yang terbaik?”. Ya, cinta itu masih ada di sana. Dari tatapan itu aku tahu, cinta itu masih ada.


Lie Yauw Tjoen atau Mulyono Budi Santoso, adalah kakekku yang mengajarkan banyak hal penting untuk kehidupan ini. Bagiku, ia adalah kompas yang menunjukkan arah yang benar, dan juga arah yang tak perlu untuk kutuju. Seperti kompas yang mempunyai dua ujung jarum. Tepat 10 hari setelah ulang tahunku ke 26, Tuhan memanggilnya ke sisiNya. 15 September 2013, Minggu pagi, tepat saat aku dan adik harus melayani di tim musik di gereja.

Darinya aku belajar bahwa dengan bekerja keras, kesuksesan itu bisa diraih meski usia masih muda. Dari kisah hidupnya aku mengingatkan diri untuk tidak munafik, bahwa kekristenan itu bukan hanya agama atau di gereja semata, kekristenan itu seluruh aspek kehidupanmu yang disaksikan oleh dunia. Dari perjalanan hidupnya, aku jadi sangat membenci perselingkuhan dan menghargai benar arti kesetiaan. Aku membenci lelaki yang main tangan terhadap wanita. Aku harus mengunjungi berbagai tempat di belahan dunia lain selama aku punya kesempatan.

Aku belajar untuk memberikan pengampunan, karena bagaimanapun tanpa Kong-Kong, Bebe tidak akan ada di hari ini. Aku belajar untuk menyadari siapa yang patut dicintai, yaitu mereka yang mencintaimu dengan tulus, selalu menyebutkanmu dalam doanya, sanggup menerimamu apa adanya, dan selalu menantimu kembali. Cintailah mereka yang mencintaimu. Waktu hidup ini tak panjang, jangan ada penyesalan di sana.

Selamat jalan Kong-Kong. Tidak ada penyesalan yang tertinggal di hatiku, justru kedamaian karena sebelum menutup mata, Kong-Kong berujar: “Aku mau pulang ke Rumah Bapaku.” Itu meyakinkanku bahwa Tuhan melihat iman Bobo dan menjawab ribuan doa yang dinaikkan untuk suami tercintanya.

Tuhan memanggilmu kembali padaNya di Minggu pagi, bahkan kau tahu tepat kapan perjalanan hidupmu akan tiba di garis akhir pertandingan, jam 7 pagi. Semoga itu pagi yang paling indah buat Kong-Kong. Tuhan sangat sayang Kong-Kong. Terima kasih sudah menjadi sebuah kompas bagi hidupku. Aku akan meneruskan kisahmu ke anak cucuku. Sampai jumpa di Surga nanti. Mungkin bukan cerita yang luar biasa, namun yang pasti ini adalah akhir yang teramat baik. I love you, Kong-Kong.

Ecclesiastes 3:1-2 | To everything there is a season, and a time to every purpose under the heaven: A time to be born, and a time to die; a time to plant, and a time to pluck up that which is planted.

Surabaya, 150913, 21:15 PM.

This post is the sequel of The Legend of My Superwoman.

The Legend of My Superwoman

This is a legend about Imanuel Herowaty Santoso..

Wanita ini bukan wanita biasa. Ia salah seorang wanita terhebat yang pernah kujumpai dalam hidupku.

Aku cukup jarang berjumpa dengannya, karena ia ada di belahan dunia yang berbeda denganku. Saat aku masih remaja, mungkin liburan sekolah adalah saat aku bisa berjumpa, bermain dan menghabiskan hari-hari di kediamannya.

Wanita ini lahir dengan nama, Imanuel Herowaty Santoso, lahir pada 12 November 1927. Ia cantik, pintar memasak, pintar menjahit, pintar merangkai bunga, dan menguasai English, Chinese, and Dutch. Di masa mudanya, ia membuka florist dan studio foto bernama VAVA di Jalan Pemuda, di kotanya. Berbagai-bagai tipe karangan bunga pernah dihasilkannya, hand bouquet, karangan bunga pernikahan, dukacita, dll, sayang aku belum lahir kala itu. Konon, pada zaman penjajahan Belanda itu, studio dan florist-nya cukup terkenal di kota itu. Bertemu dengan Lie Yauw Tjoen – Mulyono Budi Santoso yang belajar fotografi di studio foto milik ayahnya tersebut, hingga akhirnya menikah.

Aku masih ingat, ia sering memasakkanku sosis babi, berwana cokelat kehitaman, dengan manisnya kecap, ya aku menyukainya sejak kecil. Salah satu hal lain yang aku masih ingat betul ia suka memandikanku, menggaruk bagian punggungku dengan kukunya yg runcing rapi itu, aku selalu berteriak kegelian, tapi ia berkata dengan begitu mandi jadi benar-benar bersih.

Bila sampai hari ini aku jadi pecinta tanaman, itu adalah salah satu pengaruh besarnya. Bermacam jenis tanaman pasti hidup subur di pekarangannya. Beberapa bisa dipetiknya dan dimasak bersama masakan kami. Setiap sore aku diajaknya berbasah-basah menyiram tanaman. Bebe kecil juga diijinkan memanjat pohon belimbing yang berbuah banyak sekali kala itu. Teorinya tentang air seni yang bisa menyuburkan tanaman selalu kuketawakan, tapi akhirnya aku tau bahwa itu benar adanya.

Aku yang tak pernah merasa rajin tetapi Tuhan selalu beri hadiah rangking yang baik saat sekolah, membuatku selalu diberinya kado karena prestasi itu. Ia bangga aku pandai. Bebe kecil tak tahu apa arti semua itu, hanya kado yang kuterima, bermain di Sriratu, dan pergi ke Bandungan lah yang kutahu saat itu.

Saat aku beranjak lebih besar, aku melihat kenyataan akan kejamnya dunia. Begitu pula dengan dunia yang dihidupinya. Pertengkaran yang harus dihadapi setiap hari dengan orang yang paling dicintai. Rasa disakiti bertahun-tahun oleh orang yang paling dicintai. Diperlakukan tak adil dan tak semestinya oleh orang yang paling dicintai dalam hidup. Meski dengan lebam dan pengkhiatan ia tetap bertahan.

Aku yang kala itu sedang tumbuh secara emosi, melihat kenyataan itu dari kacamata seorang remaja. Sebagai wanita remaja aku ingin berteriak, ingin membantunya, tapi aku tak bisa lakukan apapun kala itu. Aku hanya bisa melihat dan mendengar dari jauh, dan menangis dalam hati. Aku tak henti terus bertanya pada Tuhan tentang ketidakadilan yang kulihat kala itu.

Pernah dalam satu masa, ia berpindah ke rumahku. Aku cukup senang seakan bisa mengasingkannya dari penjara dunia. Aku berusaha lakukan hal-hal apapun yang bisa menyenangkannya. Beri kejutan kecil di hari ulang tahunnya. Aku terus berusaha banggakan dirinya melalui prestasiku. Berharap itu bisa menjadi secuil penghiburan baginya. Aku masih ingat, saat itu aku menjuarai salah satu kompetisi menyanyi dan saat itu ia ada di sana, ia datang saat pengumuman pemenang. Masih terekam jelas gambar itu bagai film yang terputar di bayanganku, hampir semua orang yang datang di sana, menyalaminya karena aku juara 1. Dari jauh, aku mengamati dalam diam dan tersenyum puas, aku melihatnya tertawa dan tersenyum bangga saat orang-orang tau siapa dia bagi si juara 1 ini.

Ingin sekali tetap menahannya di Surabaya, aku tak rela hidup terus menerus jahat padanya. Tapi ia hanya bertahan beberapa minggu dan berujar bahwa dirinya tak bisa berada jauh dari orang yang ia cinta. Ia mau kembali ke tempatnya, meski itu berarti harus kembali kepada kenyataan yang menyakitkan. Namun, ia bilang ia rindu pada kekasih hatinya itu. Ia bilang padaku, “Saat menikah, aku sudah berjanji di hadapan Tuhan, bahwa apa yang telah disatukan Tuhan tidak boleh dipisahkan oleh manusia..”. Tak ada yang bisa menahannya, dan aku hanya bisa bertanya dalam hati pada diriku sendiri, di mana batasan antara setia dan bodoh? Beri tahu aku di manakah bedanya??!

Aku marah sekali pada sosok yang menyakitinya. Jujur saja, aku bahkan pernah membencinya karena terbutakan dunia sehingga tak melihat wanita luar biasa ini, mungkin sedetik pun tidak. Tapi wanita itu hanya berujar, “Jangan begitu Be, tapi kamu harus terus mendoakan dia. Bantu aku berdoa untuknya. Aku yakin Tuhan akan merubahnya suatu hari nanti. Kamu juga harus percaya. Aku tak apa-apa.”. Aku hanya tahu hidup dari kacamata anak remaja yang beranjak dewasa, tak sampai logika untuk berpikir demikian. Mungkin aku akan lari karena tak tahan dengan kejamnya dunia yang bahkan bisa mengancam keselamatanku. Namun, wanita hebat ini membuat pilihan untuk tetap ada di sana.

Baginya, semenyakitkan apapun, ia tak bisa jauh dari sosok itu. Ia ingin bisa selalu di dekatnya meski itu berarti harus siap disakiti. Cinta tulusnya membuatnya bertahan di neraka dunia. Cinta membuatnya tampak bodoh bagi manusia, tapi tidak demikian di mata Tuhan. Cintanya mampu kalahkan dendam dan kebencian. Cintanya mengajarkanku arti kesetiaan bukan kebodohan seorang wanita. Cintanya menjadi bukti bahwa setia dengan iman di dalam Tuhan tidak akan sia-sia. Cintanya membuatnya jadi wanita terhebat di mataku.

Semua itu membuatku bangga, di dalam hidupku, Tuhan beri aku kesempatan yang tak kan tergantikan. Aku boleh menjadi saksi hidup dari wanita yang luar biasa mengagumkan ini. Penderitaan yang ia alami mengubahnya jadi permata yang berkilau bagiku. Hidupnya mengajarkanku arti kesetiaan dan iman. Aku bangga bisa memanggil wanita ini Bobo. Indah sekali kalimat yang pernah disebutnya itu, “Bobo bangga punya cucu seperti Bebe..”.

Ya, dia nenekku, dia Boboku, Ibu dari Ibuku. Satu-satunya nenekku yang masih ada setelah Tuhan panggil nenek dari ayahku kala aku masih SMP. Kakekku pernah melakukan kesalahan fatal dalam hidupnya, yaitu tak bisa menyadari bahwa ia memiliki wanita luar biasa ini yang teramat sangat mencintainya. Namun, karena itu pula, Bobo jadi indah dan semakin indah seperti ini. Aku pun sudah bisa mengampuninya karena tanpa Kong-Kong ku, tak akan ada Bebe di hari ini. Yang terpenting, aku tahu Tuhan pasti mengampuninya.

Kini, masa tua menahan mereka berdua di rumah yang sama. Raga yang tak lagi cukup kuat menikmati indahnya dunia di luar sana. Mereka hanya bisa habiskan waktu berdua di rumah itu. Tak apa Bobo, nikmatilah masa-masa ini. Lakukan apa yang Bobo ingin lakukan, aku ingin Bobo bahagia, karena Bobo sangat layak mendapatkannya. Aku hanya ingin engkau tahu, aku bersyukur Tuhan beriku kakek nenek yang luar biasa. Mengajarkan padaku tentang ilmu kehidupan melalui lika-liku hidup kalian. Aku tahu, Bobo tak pernah berhenti berdoa untuk cucu-cucunya dan mengharapkan masa depan yang terbaik buatku dan yang lainnya. Terima kasih, Bo..

Maaf, hidup membawaku jauh di belahan dunia yang lain lagi sekarang. Hanya dalam doa setiap malam aku bisa menjumpai kalian. Namun, aku janji setiap kali kesempatan itu datang, aku akan menengok kalian di Semarang sana. Aku tak ingin ada penyesalan apapun nanti, jadi kukatakan yang harus kukatakan, kutuliskan yang harus diketahui anak cucuku nanti, kuucapkan yang harus kalian dengar sekarang, bahwa cucumu ini menyayangi dan selalu merindukan kalian. Aku akan terus menulis surat dan mengirimkannya, setiap kali ada waktu untuk itu. Seperti yang sering kulakukan saat aku kecil dulu, menulis surat untuk Bobo dan Kong-Kong. Semoga surat-suratku dapat menjadi sedikit penghiburan ketika Bobo dan Kong-Kong membacanya sambil berbaring di tempat tidur.

Terima kasih untuk ketangguhan yang kau tunjukkan, Bobo.. Aku tahu bahwa di balik lelaki hebat pasti ada wanita hebat di belakangnya. Bobo, kau tahu, hidupmu adalah inspirasi untukku. Aku ingin menjadi wanita hebat, agar aku bisa membuat pasanganku kelak jadi lelaki yang lebih hebat.

Ingin rasanya aku berlari ke sana sekarang, memeluk Bobo dan bisikkan, “Bebe sayang Bobo..”. Ingin masuk ke kamar Kong-Kong, berlutut di samping ranjangnya dan bisikkan, “Bebe sayang Kong-Kong dan ada Tuhan yang akan selalu menunggu Kong-Kong kembali..”. Ik hou van je, Ik hou van je..

Some people want diamond rings, some just want everything, but everything means nothing, if I ain’t got you.. (Alicia Keys – If I Ain’t Got You)


Bebe | Karawaci | 090411 | 12:59PM

Wisata Alam Umbul Sidomukti (2)

Di penghujung tahun 2010, aku kembali ke Bandungan, dan mengunjungi Wisata Alam Umbul Sidomukti. Setelah pertama kali datang di April 2009 lalu.

Ini kali keduaku bermain lagi di sana. Banyak hal sudah membaik, meski tetap perlu banyak perbaikan, setidaknya sudah ada progress baik dari tulisan terakhirku tentang tempat ini. We have to appreciate it, don’t we? Tetaplah datang agar semua bisa bersinergi untuk saling mendukung ke arah yang lebih baik.

Cuaca mendung, berawan, berangin. Semua wajar untuk Desember dan tempat setinggi ini. Panoramanya tetap menyejukkan hati. Cukup banyak wisatawan lokal yang berkunjung dan hampir semua berpotret di berbagai sudut yang dirasa indah untuk diabadikan.

Aku tetap tergoda untuk bermain lagi. Kali ini Flying Fox Adrenalin dan Marine Bridge yang jadi target. Sebenarnya Flying Fox Adrenalin tak lagi terlalu menggoda karena aku sudah pernah “menaklukkannya”. Tapi yang berbeda karena kali ini aku mengajak sepupuku untuk berani uji nyali.

Jessica, 11 tahun, tak pernah diijinkan orang tuanya untuk bermain dengan ketinggian. Tetapi hasrat memicunya untuk mencoba. Dan aku sangat mendukung hal itu. Tantangan ada untuk ditaklukkan. Jadi kubelikan tiket untuk Flying Fox dan Marine Bridge bersama-sama. Ia menikmati “terbang” melintasi jurang setinggi 70 meter, sepanjang 110 meter saat Flying Fox Adrenalin. Jadi Flying Fox dilakukan tandem berdua karena ini saat pertamanya uji nyali. Unik karena ternyata bisa berpelukan saat duduk meluncur.

Aku pun senang karena meski dengan wajah pucat dan ketakutan, ia berhasil menyelesaikan Marine Bridge yang harus kuakui, berat! Permainan ini lebih sulit dari yang kubayangkan. Bukan tingginya yang membuat berat, bukan goyangan jembatan jaring yang menakutkan, bukan hanya seutas tali yang jadi pengamannya, tapi besarnya angin lembah menggoyangkan keseimbangan, dan berat badanmu harus kau tarik sendiri sambil berjalan bergantung di seutas tali pengaman itu. Tantangan berbeda justru menarik bukan? Ada trik untuk membuatnya lebih mudah dilalui: jalanlah layaknya peragawati berjalan di simpulnya!

Sedikit info tambahan, beberapa permainan hanya dibuka pada Sabtu dan Minggu. Tetapi Flying Fox Adrenalin, Marine Bridge, ATV, berenang masih bisa dilakukan di hari biasa. Harga tarif juga masih sama dan belum berubah. Datanglah! Memang cukup jauh tetapi perlu pengorbanan untuk melihat hal-hal indah. Panorama Umbul Sidomukti menantimu kawan!

Enjoy the adrenalin!

Surabaya 020111 3:03PM

Candi Gedong Songo, Bandungan, Semarang

Bila kau menyukai berwisata dengan alam atau memiliki perhatian dengan warisan budaya, pergilah ke tempat ini, Candi Gedong Songo. Selain candi besar yang sudah dikenal secara internasional, Indonesia masih memiliki segudang candi untuk dijaga dan dikenal. Salah satunya Candi Gedong Songo yang berdiam di ketinggian hampir 1.300 meter di atas permukaan laut ini.

Letaknya ada di lereng Gunung Ungaran, Desa Sumowono, Bandungan, Semarang, Jawa Tengah. Kompleks candi ini berada 15 km dari Ambarawa menuju ke Desa Sumowono atau sekitar 40 menit perjalanan. Bila sedang berencana berlibur ke Bandungan, harus mampir ke kompleks candi yang satu ini.  Karena selain Wisata Alam Umbul Sidomukti, candi ini juga layak didatangi. Hanya 10 menit untuk mencapainya dari pasar Bandungan. Mobil harus menanjak cukup tajam di jalanan pegunungan. Jalannya bukan jalan besar tetapi sudah beraspal sehingga tetap nyaman dilalui. Panorama cantik akan kau temukan di sepanjang jalannya. Saranku, matikanlah pendingin mobil dan bukalah jendela. Bukalah mata dan tengok kanan kiri, perhatikanlah anugerah Tuhan di luar sana.

 

View on the way to Candi Gedong Songo

Udara di sana dingin, sejuk di kisaran 20o Celsius. Tek heran bila kabut sesekali menemani. Dan tak terasa bila matahari menyerang, yang tersisa adalah kulit yang terbakar di siang hari. Terdapat barisan rapi pepohonan pinus di sisi kanan kompleks candi. Hijaunya gunung sangat bersahabat dan menemtramkan hati.

Candi Hindu ini dinamakan Candi Gedong Songo karena terdapat 9 bangunan candi yang dibangun pada 927 masehi. 9 bangunan itu tersebar di lereng-lereng yang telah dibangunkan rute jalan setapak untuk mencapainya satu per satu sampai habis dengan membayar 6.000 IDR. Ada juga kuda-kuda yang siap disewa untuk mengelilingi kompleks candi.

Saat itu aku mengira terlalu mahal harga yang ditawarkan joki kuda, dan karena sudah terbiasa hash, kami pasti sanggup menghabiskan track candi ini. Ternyata kami salah dan menyesal di tengah jalan karena tak mau menyewa kuda. Jalannya sangat menanjak untuk beberapa rute dan jalur yang harus ditempuh pun panjang. Terlebih para joki kuda akan menjelaskan kisah di balik setiap candi dan memberikan waktu sejenak untuk berpotret. Namun, bila tetap ingin menantang diri untuk berjalan, saranku bawalah air minum.

Bagi para pemuja di masa lampau, gunung adalah tempat tinggalnya para dewa. Oleh karena itu mereka membangun deretan candi ini di puncak perbukitan. Bentuk ruangnya persegi dan persegi panjang. Setiap area bangunan candi di Gedong Songo cukup kecil, tak terlalu besar. Di setiap areal bangunan selalu ada hamparan lapang meski tak terlalu luas. Tak seperti Borobudur yang utuh tunggal dan sangat besar. Atau Prambanan yang beberapa tetapi besar. Walau kecil tetap unik karena setiap candi memiliki kisah sendiri. Beberapa candi tampak sudah runtuh sebagian.

Keunikan lain, di tengah rute terdapat sumber air panas. Pemandiannya tak terlalu besar karena terdapat di lembah. Asap yang terus mengepul menyebarkan aroma belerang yang khas. Beberapa bebatuan besar menjadi spot untuk berpose “gila” yang jarang sekali akan dilakukan ayah ibuku. Sebuah memori unik buat keluargaku.

Sedikit berbagi, awalnya alasanku ke sana karena ayah dan ibu ingin bernostalgia mengenang masa pacaran mereka dulu. Kini setelah anak-anak besar, mereka mau menempuh kembali rute dari candi pertama sampai habis bersama-sama. Sepanjang rute pun kami menggoda ayah ibu dan beberapa kali meminta mereka berpose bersama. Pada akhirnya, kami sukses menyikat habis rute dari candi pertama sampai selesai dengan berjalan kaki. Lelah karena tanjakan. Lama karena banyak berfoto. Tetapi puas menemani ayah ibu bernostalgia dan menikmati indahnya pemandangan dan candi ini.

A recommended tourism attraction to visit..

Another post about Candi Gedong Songo link1 and link2.

BeBe | 290710 | Sby

Wisata Alam Umbul Sidomukti (1)

Surabaya – 220409 – 10:23PM

 

Beberapa kali tempat wisata Taman Renang Alam Umbul Sidomukti ini diliput dan ditayangkan oleh beberapa program acara. Kemudian, bertepatan dengan rencana mengunjungi kakek dan nenek di Semarang, pada 20 April 2009, aku pun mengunjungi tempat ini. Dan ternyata memang tak jauh dari penginapan yang dikelola saudaraku di Bandungan, Star Prima. Dengan sedikit memaksa, akhirnya tiba juga aku di sana.

 

US 4

Tampaknya tak banyak warga Semarang yang pernah mendatanginya. Beberapa orang di daerah setempat menyebutkan tempat tersebut menjadi ‘agak’ populer tak lain karena mantan Pak Menteri yang memiliki lahan tersebut. Terlepas dari itu, tempat ini memiliki panorama alam yang sangat indah. Pemandangannya membuatku berdecak kagum, mensyukuri karya Tuhan yang luar biasa. Bila tak sedang berkabut, desa, hutan pinus, aliran sungai, dan terasering sawah yang berundak rapi di bawah sana dapat terlihat dengan jelas. Letaknya yang persis di tepi jurang dan lembah Ungup yang cukup dalam membuat awan-awan pun terasa dekat. Gunung Ungaran, Gunung Merbabu, dan Bukit Kembar Cimanggal menemani pengunjung berwisata di sini.

Panorama Umbul Sidomukti
Panorama Umbul Sidomukti

Umbul Sidomukti menawarkan kolam renang dari sumber mata air alami yang menyembur ke atas kolam yang disusun rapi dari bebatuan alam. Ada empat buah kolam yang bertingkat dan dapat dipilih sesuai kedalaman yang diinginkan. Airnya sangat dingin, jernih dan menyegarkan. Selain itu ditambah pula dengan beberapa sarana olahraga menantang keberanian di sisi kolam. Terdapat lintasan flying fox dengan dua pilihan track, marine bridge di lembah, rapeling menuruni lembah sisi kolam, dan ATV. Bagi mereka yang tak menyukai wisata alam dan tak gemar menguji adrenalin, mungkin saja akan kurang menyukai tempat wisata satu ini. Tapi bagi mereka yang sepertiku, pasti dapat memaklumi kekurangan yang ada dan menikmati wisata yang ada.

US 2

Sejak mengetahui informasi lokasi ini, aku hanya ingin mencoba flying fox yang katanya berpanjang lintasan 110 meter, dengan jarak ketinggian dari titik terendah lembah sekitar 70 meter. Flying fox ini menyeberangi lembah, jadi seakan berpindah dari lereng bukit ke bukit di seberang dengan bergantung pada dua utas tali dan pengaman serta helm. Seperti biasa, flying fox dapat dilakukan dengan memilih gaya terlungkup seperti superman sedang terbang, atau gaya duduk biasanya. Tarif karcis flying fox lembah ini hanya 10.000 IDR, tak mahal untuk sekedar menguji keberanian. Ketika berangkat, hujan sedang melanda Bandungan, sehingga aku harus menunggu beberapa saat di mobil sampai hujan reda. Kemudian ketika hujan telah berubah menjadi gerimis, aku meninggalkan lokasi parkir dengan berjalan kaki mengikuti jalan yang telah disediakan menuju loket dan kawasan bermain. Bagi mereka yang belum pernah ber-flying fox, mungkin ada rasa takut menghinggapi. Buatku, ini adalah flying fox keduaku. Tak semenakutkan yang pertama, kala itu kulakukan di kawasan outbond di Jombang, Jawa Timur (pernah kutulis di post lain di blog ini). Tapi keunikannya terletak pada medannya yang menyeberangi lembah.

Flying Fox Lembah
Flying Fox Lembah

Informasi lain yang dapat kubagikan adalah harga tarif yang dipatok pengelola, agar pembaca dapat memperkirakan budget yang perlu disiapkan. Tiket parkir mobil 2.000 IDR. Tiket masuk untuk hari biasa 4.000 IDR/person dan 5.000 IDR pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur. Ingin mencoba marine bridge? Siapkan 7.000 IDR untuk tiketnya. 6.000 IDR untuk rapeling, dan 15.000 – 20.000 IDR untuk 3x putaran ATV. Selain tiket reguler, pengelola juga menawarkan paket untuk kelompok berisi minimum 30 orang.

Umbul Sidomukti dapat ditempuh dari arah Semarang menuju Solo, sampai menemukan pom bensin Lemahabang di sisi kiri jalan, berbeloklah ke jalan di kanan menuju ke arah Bandungan. Sampai di Pasar Jimbaran di sisi kiri, akan ada seperti 2-3 buah ‘gang’ jalan kampung di sisi kanan. Pilih yang bergardu tulisan Umbul Sidomukti untuk ditempuh ke atas. Tempuh jalan kecil itu untuk sampai ke Taman Renang Alam Umbul Sidomukti, Desa Sidomukti, Bandungan, Semarang. Sambil jalan, dapat ditemukan beberapa penunjuk arah berwarna biru di pertigaan jalan kampung.

Namun sayangnya, kondisi jalan untuk menuju ke tempat wisata di lereng Gunung Ungaran ini dapat kuberi nilai buruk. Publikasi petunjuk jalan di sekitar Bandungan tak banyak ditemukan dan masih sangat jauh dari cukup, untuk memberitahu masyarakat bahwa ada tempat yang dapat dikunjungi di atas sana. Bagi mereka yang memiliki jiwa petualang justru menjadi tantangan tersendiri. Selama sekitar 20 menit pada hari kerja biasa yang sepi pengunjung, harus menempuh medan jalan yang rusak dan berlubang, sempit karena hanya cukup lebar untuk satu mobil. Apabila berpapasan dengan kendaraan lain dari arah berlawanan akan sangat merepotkan, dan terus menanjak sampai tiba di lokasi. Bagiku itu bukan masalah, tetapi bagi yang mengemudikan mobil mungkin akan cukup mengesalkan. Jalan itu sempit dan rusak mungkin memang wajar sebagai jalan kampung, di mana para penduduk yang umumnya petani biasa berjalan kaki membawa hasil ladang untuk dijual di pasar. Lalu, tiba-tiba di puncak gunungnya terdapat lokasi yang dijadikan tempat wisata, dikunjungi oleh banyak kendaraan. Wajar bila infrastuktur jalan kampung yang seadanya itu belum siap. Tapi, aku pun yakin perlahan tapi pasti infrastuktur tersebut pasti akan diperbaiki seiring dengan berkembangnya tempat wisata ini.

Satu hal yang juga ingin kubagikan, Indonesia memiliki banyak potensi wisata alam. Namun, banyak pihak yang terkadang tak lain adalah masyarakat Indonesia sendiri, justru mencela kesederhanaan dan mengkritik kekurangan wisata seperti ini. Syukurilah bila ada pihak yang cermat menangkap potensinya dan membagikannya kepada masyarakat untuk menikmati alam bersama-sama. Wisata menikmati panorama alam, sejuk dan segarnya hawa pegunungan, melihat pohon masih tegap berdiri tanpa penebangan liar, sawah yang berundak, dan dihiasi sedikit kabut sangatlah mempesona. Dan buatku, hal tersebut justru jauh lebih baik daripada menikmati tayangan-tayangan televisi yang tampak menghibur tapi tak mengedukasi masyarakat. Tugas kita adalah mendukungnya bersama-sama. Bukan hanya mencerca kekurangan, tapi mendukung pembangunannya dengan berkunjung dan menikmatinya. Alam mengajarkan banyak hal kepada mereka yang mau rendah hati dan jeli menangkap pelajaran yang diberikan. Paling tidak, belajar untuk bersyukur dan melestarikannya.

Read also Wisata Alam Umbul Sidomukti (2) – update objek wisata ini di tahun 2010

Note: Di Bandungan, selain Wisata Alam Umbul Sidomukti, masih ada Candi Gedong Songo yang juga layak untuk didatangi.

The fool who loves giving advice on our garden never tends his own plants at all..

 

 

www.widiantigunawan.wordpress.com