Goodbye

Aku akan melangkah maju ke tempat yang baru, menemukan tempatku yang seharusnya. Mendengarkan jeritan yang telah kuabaikan. Maka, hari ini aku beranikan diri pamit meninggalkan tugas istimewaku.

Bagaimana tidak istimewa bila kau menjadi berkat bagi banyak orang, menjadi inspirasi, menambahkan hal baru bagi mereka yang mau belajar, serta belajar menghadapi berbagai tipe orang yang berbeda-beda. Menjadi dosen fulltime selama sekitar 6 bulan terakhir ini merupakan sebuah proses pembelajaran yang indah. Lengkap dengan suka dukanya. Salah satu hal yang kudapati, ternyata Tuhan beriku talenta untuk mengajar.

Beberapa pihak berpendapat, tidakkah terlalu dini bagiku mengambil keputusan ini. Terlalu terburu-buru mungkin ini masih masa adaptasi, sehingga gejolak itu biasa. Bagiku masa adaptasi sudah berlalu, ini adalah masa percobaan. Dalam satu tahun ini, statusku adalah dosen fulltime kontrak, di mana dalam masa itu kedua belah pihak dapat mencari kecocokan. Aku sudah mencoba dan aku menemukan jawaban untuk jujur pada diri sendiri.

Terlepas dari itu, tak pernah kuanggap ini sebagai permainan. Ini bukan pekerjaan mudah karena bukan hanya mengajar tetapi juga mendidik. Tak hanya teori tetapi juga mengajarkan attitude. Bagiku, dunia public relations tak bisa diremehkan. Kucurahkan waktuku untuk belajar lagi, menyesuaikan diri untuk mata kuliah Pengantar PR, International PR, Manajemen PR, Sosiologi Komunikasi, dan Teknik Presentasi di DKV, serta menjadi Koordinator Internship 1.

Mudahkah? Tidak! Tapi aku tak menyerah saat itu. Aku belajar lagi sebelum mengajarkan teori itu pada mahasiswaku. Mulai merencanakan topik penelitian. Bahkan sudah merencanakan studi lanjut, sampai dengan mulai menghubungi universitas yang menggodaku di luar sana.

Sempat kucari opsi lain sebelum berujung pada keputusan ini. Bekerja sambil mengajar? Sebut berapa tempat di Surabaya ini untuk aku bisa bekerja di dunia public relations atau corporate communication. Bila ada, jam kerjanya adalah office hour, bagaimana aku membaginya dengan dosen fulltime yang harus mengajar 36 jam seminggu?

Sekarang, ini sudah keputusan bukan lagi pergumulan. Pergumulan sudah terjadi sejak 3 bulan lalu. Chemistry itu tak kunjung muncul, hambar. Selama ini aku bertahan dengan memunculkan hal indah. Melihat senyuman mahasiswaku, gairah mereka mengikuti perkuliahan, tertantang menjawab pertanyaan mereka, ucapan terima kasih mereka, kejujuran mereka yang berujar telah terinspirasi, serunya membuat slide mengajar, sampai ketika mereka menungguku berbagi pengalaman. Terima kasih kalian telah membuatku bertahan satu semester ini.

Namun itu tak cukup kuat untuk menahanku sampai 6 atau 7 tahun ke depan. Tak cukup membuatku tuli untuk tidak mendengar jeritan hati. Tak cukup membutakanku yang ingin mempraktekkan ilmu yang pernah kudapat. Jujur, bukan hanya ingin melihat kalian berhasil di bidang yang kalian pelajari, aku pun ingin merasakannya. Ada bagian diri yang tak tersalurkan di sini, serasa hanya 2/3 diri yang kugunakan. 1/3 lain mungkin adalah keinginan untuk implementasi di lapangan dengan tantangan yang semuanya nyata, bukan awang-awang di teori saja.

Mahasiswaku, tak sedikit biaya yang orang tua kalian keluarkan karena ingin putra putrinya mendapat ilmu terbaik dan menjadi lulusan yang matang dan tahan uji. Dan aku tak merasa cukup baik untuk berikan itu, setidaknya belum. Ada rasa bersalah ketika aku hanya bisa tahu teori, dan kasus yang kubagikan hanya tentang kerang kuning itu. Tak kaya dan aku pun tak puas dengan hal tersebut, karena aku tak bisa maksimal bagikan diri untuk kalian. Maksimal secara kualitas bukan kuantitas. Terima kasih, kalian telah mengajarkanku banyak hal dengan keunikan. Lanjutkan perjuanganmu, buktikan kepercayaan dan harapan orang tua kalian.

Rekan dosen dan staff Ilmu Komunikasiku, terima kasih untuk kepercayaan yang kalian berikan. Di luar sana, banyak yang tak percaya aku telah menjadi dosen fulltime di usia semuda ini. Tapi tak pernah sekalipun kalian yang lebih senior meremehkanku. Hanya, aku tak cukup percaya diri untuk mengajar hanya berbekal teori, atau membaca literature, atau mempelajari kisah kasus yang dialami teman praktisi. Butuh praktek yang kujalani sendiri sehingga bisa kubagikan di kelas dengan percaya diri. Tak salah bagi dosen lain yang mampu, hanya, aku berbeda dengan mereka. Dunia public relations bukan hanya tentang teori tetapi perlu banyak contoh kasus tuk dibedah bersama. Dunia yang dinamis.

Percayalah, aku pamit bukan karena luka, penolakan, gesekan, atau anggapan miring tentangku. Tak ada luka itu karena semua kuanggap pembelajaran. Anggapan miring tak cukup kuat untuk membuatku pergi karena lebih banyak dari kalian yang bisa melihat maksud baikku. Kadangkala dalam hidup, kita tak bisa selalu menyenangkan semua orang dengan mengorbankan diri sendiri. Saatnya aku menata masa depanku.

Maaf bila aku meninggalkan kalian secepat ini. Bila aku jadi tunas yang tercabut dari tanah ketika akar halus itu mulai makin mencengkeram erat tanah di dalam sana. Mungkin lebih baik sebelum tunas itu menjadi pohon, yang akan mati bila dicabut nanti. Tunas masih bisa dipindahkan ke tempat lain. Aku janji, akan bertahan untuk terus bertumbuh, menjadi pohon yang berbuah, dan suatu hari kelak, buah itu bisa kubagikan dengan kalian.

Ku tak ingin Tuhan ambil kembali talenta mengajarku karena aku tak mengembalikannya untuk kemuliaan namaNya. Masih terus ada mimpi untuk studi lanjut. Kuperlu gali kenyataan di lapangan dan kugabungkan dengan teori yang pernah kupelajari. Pada saatnya nanti saat aku cukup percaya diri karena ranselku telah terisi, aku harap bisa mengajar lagi. Entah kapan dan di mana.

Aku yakin kalian akan tetap bertahan meski tanpaku. Sumber daya yang jadi berkurang ini pasti akan Tuhan cukupkan. Maafkan bila terdapat kesalahanku. Ketegasan prinsip yang mungkin tak setiap kalian dapat menerimanya. Cara mengajar yang mungkin terlalu keras. Senyuman yang masih kurang banyak bagi sebagian orang.

Aku pamit bukan sebagai orang yang kalah karena ini bukan pertandingan. Aku pergi untuk meraih mimpiku, menjadi diriku sendiri, meski itu berarti harus jadi pendekar yang mengembara. Terima kasih kuhaturkan sbab kalian telah dapat memahami alasan di balik semua ini dan mendukungku maju. Terima kasih untuk semuanya.

Tetaplah berintegritas sebab seharusnya itu lebih mudah dilakukan selagi berada di lingkungan yang berlandaskan dasar yang sama. Katakanlah merah bila itu merah, bukan merah muda atau jingga. Hidupilah panggilanmu dan bertahanlah bila kau telah menemukannya. Didik dan ajarlah mahasiswa yang Tuhan titipkan selayaknya di sebuah institusi pendidikan, bukan antara konsumen dan penjual. Jadilah teladan, bukan hanya teori yang dengan mudah dapat dilupakan orang, tetapi dengan sikap yang menginspirasi.

Aku pun telah siap meninggalkan titik amanku di tengah kalian, jurusan dan almamater yang mengantarkanku bermimpi. Kutau Tuhanku, Tuhan yang sama dengan Tuhanmu, tak hanya akan menjagamu, tetapi juga menjagaku. Ku tak tahu kelokan-kelokan rancanganNya, tapi kutau itu indah dan baik untukku.

Warm hug, big smile, and pray for each of you who had read my writing. If you miss me, find me on Lukisan Kata Tulisan Warna, I’ll keep writing about this journey of faith. I’m gonna miss Gedung C, C.104, TU Jurusan, I’m gonna miss you all..

Sometimes moving on with the rest of your life starts with goodbye..

So, goodbye!


Sby|310111|8:24PM


Advertisements

Well Done, Teknik Presentasi A – DKV

Sebuah kelas unik di masa pembelajaranku sebagai dosen baru. Kelas yang sangat amat banyak mahasiswa melebur menjadi satu kelas, yakni DKV – Teknik Presentasi kelas A. Lebih tepatnya 55 nama, dikurangi 1, yap 54 mahasiswa unik ada di kelas ini.

 

Kelas ini mengajarkanku banyak hal. Menengok dan mencoba memahami dunia anak-anak desain yang sosial tapi juga memiliki dunia mereka sendiri yang cukup sulit untuk dibagi dengan orang lain. Mereka memiliki pemikiran yang unik bahkan penuh dengan kejutan. Pada titik tertentu mereka bisa memberikan lebih yang kuharapkan. They’re great in their own way!

 

Kuceritakan secuil rahasia tentang kelas ini di. Sebenarnya bukan aku yang harusnya mengajar kelas ini. Di detik terakhir, aku yang kala itu dosen yang baru bergabung di Jurusan Komunikasi, sedang diaturkan load mengajar sesuai jatah jumlah SKS yang seharusnya. Dan berpindahtanganlah kelas ini ke dalam load mengajarku.

 

Aku ketakutan bukan main, karena dari 5 mata kuliah yang kuajar, hanya kelas ini yang aku sudah dilepas sendiri tanpa team teaching dengan dosen senior lain. Hello?? I’m a newbie here! This class is really fat! 55 names inside. DKV not IlKom. Seems like they drop me in the tiger’s cage. It’s only presentation, why it should be that long, a semester?? What should I teach to them in those 14 sessions?

 

Pertemuan pertamaku terjadi pada Jumat pukul 14.30. Aku baru tahu  pada pukul 13.30 kalau hari itu sudah harus mengajar dan aku sedang di rumah saat itu. Seorang dosen mencariku dan juga kaget karena aku masih di rumah. Maklum, posisiku belum menjadi dosen tetap saat itu. Jadi tak ada keharusan mengantor. Jadilah kuminta mereka presentasi singkat untuk introduce themselves sambil melihat kemampuan awal mereka.

 

During the early time, kulakukan banyak diskusi terkait materi dengan Miss Prima, yang juga mengajar Teknik Presentasi kelas B dan C. Diskusi yang lain dengan alumni DKV dan designer yang sudah presentasi berkali-kali. Brainstorming untuk mendapatkan pola yang pas. Kucoba telusuri alasan kebutuhan mereka akan kelas ini dan hanya itulah yang aku fokuskan. Ini kelasku, maka aku harus bisa membuat mereka mendapatkan yang mereka butuhkan. Mudah? No way, but that’s my responsibility.

 

Masa awal adalah adaptasi yang cukup berat untukku. Kekuranganku dalam menghafal nama cukup terbantu dengan perumpamaan diri mereka. Manusia yang kreatif dan dinamis harus dihadapi dengan dinamis pula. Aku tak mau banyak berceloteh di depan mereka yang berarti bunuh diri karena mereka bosan. Thanks God jarak usia yang tak terlalu jauh, membuatku masih bisa menempatkan diri di posisi mereka. Dan public speaking adalah salah satu materi yang aku suka.

 

Terima kasih 54 mahasiswa TekPres-ku. Terima kasih untuk tidak meledak di kelasku, layaknya LPG 3 kg. Tantangan yang kalian berikan sudah kujawab. Aku menghargai kalian karena kalian menghargaiku. As simple as that. Kalian membuka mataku bahwa ternyata tak semua orang bisa presentasi dengan mudah, jadi aku tak lagi meremehkan kelas yang bernama Teknik Presentasi. Karena itu memang dibutuhkan oleh sebagian orang. Terima kasih untuk kerja sama, terlebih untuk kalian yang sudah memberikan respect dan senyuman dalam sapaan tulus bila kita berjumpa di Jumat-Jumat yang lalu.

 

Dari lubuk terdalam, aku meminta maaf bila ada hal yang kurang berkenan yang pernah terucap atau kulakukan. Hal burukku jadikanlah contoh, tapi contoh yang tak perlu kalian tiru. Hal baik yang masih terlihat dariku jadikanlah itu contoh, ya, contoh yang boleh kalian tiru bila mau. Maaf, aku belum berani menantang kalian presentasi dalam bahasa inggris, bukan karena meng-under estimate, hanya kuingin kalian mempraktekkan tekniknya dahulu. So, asahlah English skill-mu guys sebelum terlambat, dunia nyata pasti menantangmu dengan hal itu, nanti!

 

Sudah kulakukan apa yang bisa kulakukan. Aku yakin, selama mereka mau belajar dan berubah, mereka pasti mendapatkan sesuatu dari kelas ini. Sekecil apapun itu. Presentasi itu tak mudah tapi juga tak sulit. Tak mudah karena musuh terbesarnya adalah diri kita sendiri yang grogi dan memiliki kekurangan masing-masing. Hanya kau sendiri yang tahu penangkalnya. Tetapi juga tak sulit karena ini bagian dari skill yang bisa dipelajari triknya serta hanya membutuhkan practice atau jam terbang lebih. Apa yang kau pikirkan itulah yang akan terjadi.

 

Setelah masa kelas ini berakhir, aku bukan lagi Miss Widi dalam keseharian kalian. Tapi di luar jam belajar mengajar, aku mau menjadi teman diskusi untuk membantu kalian menjadi penyaji presentasi yang lebih handal. Aku tak hebat tapi aku mau berbagi. Tak lain karena aku pernah menjadi Miss Widi kalian di kelas Teknik Presentasi A. Welcome to the jungle, just believe in yourself as I already believed in each of you, you could be a good presenter not just a designer. Keep learning and never stop practicing it!

 

No mountains too high for you to climb. All you have to do is have some climbing faith.. *Celine Dion – I’m Your Angel

So does a presentation!

 

Wd – 111210 – 11:58PM

 

The Second Job

Tuhan memberiku kesempatan untuk berbagi dan menjadi berkat untuk lebih banyak orang. Ini adalah salah satu keputusan yang telah kubuat dengan pergumulan yang sangat panjang dan berat. Air mata tak mampu kubendung. Kulakukan untuk menemukan di mana tempatku yang sebenarnya.

Banyak yang terkejut saat mengetahui hal ini. Ada yang menyebut aku bisa lebih dari ini. Ada yang meyakini aku sudah tak seharusnya di sini. Ada yang menyatakan aku harus menjadi praktisi dan menerapkan ilmuku dulu. Siapa yang tak mau? Siapa yang tak merencakan itu semua? Bahkan egoku pun tak bisa terima kenyataan ini, awalnya.

Aku menjajalnya untuk menghargai kesempatan yang hidup tawarkan. Perlahan, aku coba jalani tahapan demi tahapan. Meraba mencari jawaban. Menantang Yang Kuasa untuk membuka pintu-pintu yang ada. Tiada persiapan satupun yang kulakukan sebagai perwujudan egoku. Perjalanan itu kulalui dalam diam, tak banyak orang yang kuijinkan tahu.

Di sisi lain, perjalanan ini membuatku melihat bahwa setiap keputusan yang kuambil dalam setiap persimpangan hidup, jelas mempengaruhi jalan hidupku yang akan datang. Konsekuensinya adalah jalan hidup yang ikut bergeser. Bisa jadi itu berarti menjauhi mimpi yang pernah kubayangkan. Tapi meskipun menjauh aku masih yakin pergeseran itu menuju sesuatu yang lebih besar yang sudah disiapkan untukku. Sesuatu itu pasti yang terbaik tetapi harus kujalani dengan hati yang bersyukur. Lepaskan bersungut-sungut karena tak boleh ada penyesalan dalam hidup.

Dalam diam itu, aku masih berusaha lari. I can run but I can’t hide. Konsekuensi itu membuatku bimbang dan takut melangkah. Aku ingin diam saja dalam persembunyianku. Tapi tak bisa selamanya..

Kini aku paham, mengapa semua itu tampak berat buatku? Padahal ada banyak orang menginginkan pekerjaan ini. Ada yang mempersiapkannya sampai S3 di luar negeri. Bahkan ada yang mencita-citakannya sejak kecil. Aku merasa tertampar seakan aku tak menghargainya. Kucoba mundur dan melihat ini semua dari jarak lebih jauh.

Persepsiku tentang profesi ini yang tak sama dengan mereka yang mengidam-idamkannya. Karena aku belum bisa melihat apa yang mereka lihat hingga kemudian mereka impikan. Aku belum bisa melihat hal yang membangunku di kemudian hari beserta peluang yang dibawanya. Aku hanya fokus pada beratnya konsekuensi yang menanti. Berat karena aku yang memberinya beban.

Sekarang aku mulai menjalaninya, mulai beradaptasi dengannya sambil membenarkan pemahamanku. Dia adalah sesuatu yang mulia karena pendidikan tak boleh berhenti, pengetahuan butuh disalurkan, dan karena itu dia memegang peranan yang penting. Aku pun membuka mataku untuknya. Dia tak dibatasi oleh gedung megah ini saja. Aku bisa menggunakannya kemanapun hidup akan membawaku kelak.

Yang kutau aku hanya senang berbagi dan belajar. Ini menjadi kesempatan untuk mengobati trauma dan kesalahan yang pernah terjadi dulu saat aku duduk di bangku kampus. Saat untuk mengeksplor kreatifitas yang berkualitas. Kesempatan untuk menjadi berkat untuk lebih banyak orang.

Ini bukan akhir perjalananku. Entah apa yang akan muncul di persimpangan mendatang. Namun, dengan kacamata positive thinking, hal negative dan kekuatiran menjadi penggerak bukan lagi rem, dan Tuhan menggendongku, perjalanan ini akan membawaku ke rencana yang lebih besar. Ia sedang menantiku yang berjalan ke arahnya.

Bila kau terkejut, tak apa ada banyak orang bersamamu yang sudah mempertanyakan. Ada banyak jenis gelas. Gelasmu mungkin berbeda dengan gelasku. Namun, yang terpenting bukan gelas apa yang kita gunakan. Air yang sama yang sedang kita minum dan rasakan itulah esensi menjalani hidup ini.

Surabaya, August 26, 2010

Sincerely,

Miss Widi

Flash Back Memory (2)

Biar ngga dibilang nggacor (baca: mulut besar)! Itulah alasan yang aku pakai ketika tawaran mengkoordinir acara ini diajukan. Tapi tanpa embel-embel sebutan Ketua. Aku tak terlalu menyukainya karena beban tanggung jawab lebih berat ada di baliknya. Ternyata tak semudah itu membuat acara yang tampak simple bahkan diremehkan sebagian pihak. Namun, ini menjadi satu pengalaman luar biasa bekerja bersama sabahat terbaikku selama di Fikom, sebelum kami masuk ke rimba masing-masing.

Ide Flash Back Memory datang dari beberapa teman Fikom 2005 yang berkali-kali ingin bertemu tapi selalu gagal karena satu dan lain hal. Murni tanpa bumbu lain, kami hanya ingin ketemu dan mengenang kekompakan selama bersama di Fikom 2005. That’s it! Bukan sekedar perayaan kelulusan bagi yang lulus di wisuda kali ini. Bukan pula reuni karena belum terlalu lama berpisah. Tetapi mengumpulkan satu angkatan. Berarti semua Fikom 2005 yang sudah lulus, akan wisuda, sedang skripsi, dan yang sudah berhenti di tengah perjuangan.

Pesan yang ingin disampaikan adalah mengingatkan kembali bahwa Fikom 2005 bukan sekedar label ketika masuk menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi Petra 2005. Namun adalah rumah bagi semuanya. Sebuah rumah akan tetap menjadi tempat paling nyaman ketika lelah datang menghampirimu, di level kehidupan manapun kau berada. Seperti yang kutulis di Flash Back Memory (1). Orang-orang rumah bisa mengertimu meski hanya dalam diam. Ada rasa nyaman dan serasa diisi semangat baru saat dikelilingi orang yang kau sayang.

Kau sudah bekerja? Kami semua ingin segera menyusulmu tapi kau memiliki masalahmu sendiri di sela pekerjaan yang tampak nyaman. Kau diwisuda? Kami ingin merasakan senyuman legamu tapi kau memiliki kebingungan apa yang harus kau lakukan sekarang, bekerja di mana, susahnya mencari kerja. Kau masih berjuang skripsi? Kami ingin berbagi perjuangan yang pernah kami alami ketika ada di posisi itu tapi memang tak mudah melewatinya, terlebih secara mental. Kau terlebih dulu menyudahi perjuangan kuliah ini? Kami ingin menanyakan kabarmu sekarang tapi kau tetap keluarga kami karena semua berasal dari rumah yang sama.

Masalah mulai muncul satu per satu. Mulai dari venue yang kurang professional melayani konsumen, long weekend, hingga jadwal peserta. Inilah hidup. Hidup mengharuskanmu memilih dan mengorbankan yang lain. Tanpa imbalan kredit poin, uang, keuntungan sepeser pun, justru harus berkorban waktu untuk meeting, pulsa menelpon 150an FIkom 2005, tenaga untuk mengatur ini dan itu. Komitme diuji, karekter individu terlihat aslinya, gesekan diantara sahabat, kesalahpahaman, semua mewarnai usaha panitia mewujudkan Flash Back Memory ini.

Hal lain yang baru bisa kuterima, mau tidak mau, tidak semua Fikom 2005 memiliki kerinduan sama untuk berkumpul. Itulah kenyataan yang baru terungkap jelas. Tak perlu naïf karena memang begitu adanya. Memang kami tahu ada beberapa yang ingin, tetapi berhalangan karena kesibukan. Namun, ada pula yang merasa tidak memiliki teman untuk hadir. 150 bukan angka yang kecil. Kami hanya bisa tersenyum miris. 4 tahun lebih bersama tetapi mengaku tak punya teman. Aku bersyukur, aku punya banyak sekali teman di Fikom 2005! Bahkan lebih dari teman, sahabat!

Selain itu, apabila acara ini akhirnya berhasil diadakan 5 Maret 2010 lalu, itu semua karena kemurahan Tuhan. Iman memang tidak sejalan dengan kenyataan yang terlihat. Tapi keyakinan itulah yang membuat semua ini berhasil. Tak ada dana, konfirmasi hanya separuh dari jumlah minimum yang diberikan venue sampai dengan H-1. Itu berarti berisiko panitia menanggung kerugian untuk melunasinya. But, taking no risk is the greatest risk of all, isn’t it? Dan kami tidak punya pilihan selain maju dan biar Tuhan yang selesaikan.

Sebagai Coordinator, aku takut teramat sangat. Kerugian jelas akan jadi tamparan yang harus diterima nanti. Tapi aku harus tetap meyakinkan yang lain, bahwa everything will be okay in the end, if it’s not okay then it’s not the end. Meski di dalam, aku sangat takut dan hanya bisa beriman. Aku hanya berdoa minta ampun bila ada tinggi hati di dalam panitia. Memohon supaya hujan tidak menghalangi acara ini dan selesai tanpa “ditampar”. Ada suara yang berkata padaku, bila acara ini harus sampai 3x berganti tanggal, itu tak lepas dari rencana Tuhan; rancangannya adalah rancangan damai sejahtera dan bukan kecelakaan.

Finally, Flash Back Memory Fikom 2005 has its happy ending. Pesan tersampaikan dengan baik. Tidak ada tamparan, justru Tuhan beri lebih dari yang dibutuhkan. Dan ini bukan akhir atau perpisahan tetapi permulaan di tengah lepasnya satu per satu kebersamaan di kampus. Fikom 2005 masih menanti mereka yang belum ingin pulang ke rumah. Tak apa, sejauh apapun kau pergi, kau akan tetap tahu di mana rumahmu. Terima kasih untuk semua dosen yang sudah mendukung dengan hadir dan menyampaikan kecintaannya pada 51405. Keep in touch.. Kalau tidak hadir malam itu, sorry but you’ve missed one of the greatest chances in your life!


Sahabat-sahabatku, Lele, Ella, Ivone, Lili, Couz, Tansil, QingHe, Rama, Ryan, Aan, Tina, Didik, Andy, Aga: Sorry for every mess I did and thank you for showing me who truly you are. It was a great opportunity to work with you once again. Good luck in your life journey! Believe one thing, nothing is impossible with God! J

Sesekali perlu memimpin orang lain supaya kau bisa belajar memimpin dirimu sendiri.. (at) J

Sby – 090310 – 4:24PM

Flash Back Memory (1)

Aku terbangun sekitar 4,5 tahun yang lalu. Berpagarkan nama Fakultas Ilmu Komunikasi UK Petra dan berhalamankan Jurusan Ilmu Komunikasi. Mi Casa Se Casa, kurang lebih itu yang paling kuingat, karena tujuanku ada agar aku menjadi rumah bagi setiap mereka yang berNRP awal 51405..

Aku adalah rumah, ‘home‘ bukan sedangkal ‘house‘. Rumah tempatmu pulang. Tempat beristirahat ketika lelah. Tempat yang akan menerimamu apa adanya dan membiarkanmu jadi dirimu sendiri. Bebas dengarkan lagu yang ingin kau dengar, permainan yang kau suka, melihat gambar diri di cerminmu sendiri, bahkan bermain dengan hewan kesayanganmu. Tempat berlindung ketika kau takut akan badai dan hujan. Aku adalah rumah milik keluarga besar Fikom 2005..

Semua bermula dari kenakalan anak-anak yang baru meninggalkan seragam putih abu-abunya dan berusaha mencari tahu dunia dengan caranya sendiri. Ada banyak suka dan duka. Ada banyak jatuh bangun yang membuat mereka belajar perlahan-lahan tentang makna hidup. Aku paling suka melihat kekompakan mereka mengguncangkan UK Petra. Keunikan dan semangat mereka selalu membekas di setiap dindingku..

Mungkin mereka bukan anak-anak yang sangat pandai, sangat patuh, sangat sopan, atau sangat alim, bukan.. Tapi mereka sangat sempurna dan istimewa, yang diciptakan Tuhan untuk saling membantu dan mewarnai perjalanan hidup yang lainnya..

P3KMABA, Upacara 17 Agustus 2005, Camp Jurusan, Kegemparan Kolam Jodoh, SE Lokal di Surabaya, SE Nasional di Jakarta Bandung, adalah beberapa kebersamaan yang mereka bagikan padaku. Namun, terlepas dari semua kegiatan itu, hari demi hari terukir dengan penuh kenangan dan memori yang menghadirkan tawa maupun air mata..

Kini satu per satu mulai beranjak mengikuti alur kehidupan. Aku rindu pada mereka semua. Aku ingin kembali melihat tawa dan wajah-wajah mereka. Di mana mereka sekarang? Berubahkah mereka? Aaah.. Begitu banyak kenangan itu. Aku yakin mereka juga pasti rindu dengan masa kebersamaan dulu. Ke mana pun hidup membawa mereka sekarang dan nanti, kuyakin masih ada satu tempat di hati mereka untukku. Karena selamanya akulah rumah itu..

Rumah adalah tempat kau menjadi dirimu yang sebenarnya..

Sby – 220110 – 1:00AM

# Description Event FBM in FB

Made by © BeBe

Skripsi Rasa Mangga

Buah tropis itu berkulit hijau. Daging buahnya kuning kejinggaan. Biji buah besar di tengah. Rasanya manis, legit, dan sedikit asam. Ya, rasa itu tentu terasa kuat melekat untukku. Mangga! Memberi warna jingga cerah di perjalanan skripsiku. Seluruh rangkaian skripsiku berakhir pada saat musim mangga dimulai di akhir 2009.

Begadang di bulan-bulan terakhir untuk menganalisa seringkali dimulai dengan sepiring kecil mangga. Maklum, sel-sel saraf yang terjalin di otakku baru bekerja maksimal justru di malam hari, di kala semua orang di rumah mulai terlelap. Meninggalkan aku sendirian terjaga di depan laptop. Itu berarti beberapa jam setelah makan malam usai. Sebuah kebiasaan di rumahku, selalu mencuci mulut dengan buah atau ice cream setelah makan.

Tahun ini mangga mulai banyak ditemui sejak September. Sampai dengan November ini makin melimpah ruah hingga harganya jatuh di pasaran. Di satu sisi aku senang, di Indonesia bisa dengan mudah dan murah mendapatkannya. Di sisi lain, sayang sekali buah seenak itu hanya dihargai rendah.

Mangga berasal dari India. Kemudian banyak tumbuh di Asia Tenggara. Kaya serat dan antioksidan. Mango mengandung sekitar 20 macam vitamin dan mineral. Itu membuatnya menjadi salah satu buah yang paling kaya nutrisi.

Musim ini, mangga selalu saja ada di rumahku. Memang bukan lagi dari pohon mangga di pekarangan yang sudah ditebang ketika awal renovasi rumah setahun ini. Dulu, mangga manalagi itu selalu berbuah bahkan 2-3 kali setahun. Enak sekali tinggal memetik di depan rumah. Kini masih ada satu pohon mangga arum manis tetapi jarang berbuah dan lebih banyak dipetik tetangga lain sebelum sempat menikmati.

Tetapi tetap saja mangga selalu bisa dinikmati. Entah karena diberi, pernah juga mama membeli hasil kebun pekerja yang sedang merenovasi rumah, atau tentu saja membeli di pasar. Semuanya lezat! Terlebih menjadi makanan pembuka untuk begadang skripsi. Dan skripsi berakhir saat musim mangga semakin mencapai puncaknya.

Tak heran bila setelah selesai, berat badan sedikit bertambah. Ternyata manisnya mangga mengandung karbohidrat yang akan mengendap bila tak banyak bergerak. Mangga tahun ini enak dan manis. Sebab banyak yang kami nikmati adalah mangga yang masang di pohon atau suluhan. Matang alami yang cukup dikupas dan dinikmati. Semanis hasil akhir tugas akhirku.

Tugas akhir S-1 kulalui dengan proses yang manis, legit, dan sedikit asam seperti rasa mangga. Berakhir dengan hasil cerah seperti warna daging buah mangga yang kuning jingga cerah. Selesainya seluruh rangkaian ini seiring dengan musim mangga yang sampai mencapai puncaknya. Tampak sepele tetapi musim mangga kali ini cukup berkesan buatku.

Mango are an excellent source of vitamins A and C, and for those who are physically active, whether working out or constantly on the go, mangos are a great way to replenish that lost potassium.

 

Sby – 17/11/09 – 6:05PM

I Love My Skripsi

Sidang mandiri adalah sebuah pra-sidang dari sidang skripsi yang sebenarnya. Harus dihadapi oleh setiap anak Ilmu Komunikasi UK Petra yang hendak maju berperang di sidang skripsi seminggu kemudian. Mempresentasikan hasil penelitian, di hadapan minimal 2 dosen dan lebih dari 10 mahasiswa, lalu menjawab semua pertanyaan yang tak terduga. Simulasi yang mempersiapkan mental sebelum turun ke medan perang. Saat menguji kemampuan Public Speaking yang pernah di-mata kuliah-kan. Mengukur rasa percaya diri dan mencoba mempertanggungjawabkan hasil jerih payah penelitian. Sebuah masa menguji mentalitas dan penguasaan diri terhadap materi skripsi. Sebuah titik dimulainya adrenalin bergejolak. Sebuah fase yang kemarin telah kunikmati setiap detiknya..

Sehari sebelum sidang mandiri, aku bagai kehilangan rasa percaya diri terhadap apa yang telah kuteliti sendiri selama beberapa bulan terakhir ini. Akan tetapi mungkin sisi positifnya adalah dengan demikian, aku jadi mempersiapkan diri dengan sebaik yang kubisa (I slept at 5AM!). Kemudian benar-benar berserah pada Tuhan yang sudah memimpinku sejak masa internship, brain storming topik, pemilihan topik, kolokium, pengumpulan data di Jakarta, bimbingan, begadang, pengumpulan skripsi, dan kuyakin Dia tetap menyertaiku sampai semua proses ini selesai dan aku akan masuk ke babak lain dalam hidupku.

Banyak orang menyebut ini cepat dan bahkan beberapa pihak menyebut ini terlalu cepat, untuk sebuah penelitian kualitatif. Sebenarnya, aku lebih suka bila lama waktu pembuatannya di-kualitatif-kan daripada di-kuantitatif-kan. Secara kuantitatif, pembuatan skripsi ini berjalan sejak lulusnya aku di sidang kolokium tahap 1 (semester lalu) atau sekitar April-Mei 2009 form bimbingan skripsiku baru terisi pertama kali. Dan skripsi kukumpulkan pada awal Oktober 2009. Namun secara kualitatif, selama 1 bulan kuhabiskan di Jakarta untuk mencari data, saja! tanpa bimbingan. Sepulang dari Jakarta, aku selalu begadang, tidur lebih dari jam 2 pagi setiap malamnya, tak ada bersantai sampai skripsi selesai.

Aku hanya ingin menyemangati teman-temanku yang sedang membuat skripsi dan akan maju di periode selanjutnya. Cepat atau lambat, sebentar atau lama, semua itu pilihanmu. Bila yang kau pikirkan positif, itulah yang akan terwujud. Bila kau ‘mencintai’ skripsimu, maka di sanalah hatimu berada. Bila skripsi jadi prioritasmu, maka kau rela curahkan waktu lebih untuk mengerjakannya. Bila kau yakin dan punya passion akan penelitianmu, pembimbingmu pasti akan memahami dengan caranya masing-masing dan akan membantumu. Bila memang semua hal baik akan skripsimu yang kau kuimani, kau akan menikmati masa-masa ini dengan senyum. Dan bila kau jalani semua ini bersama Tuhan, Ia pasti akan buka jalan..

Bukan berarti kulewati semua ini dengan mudah, tanpa masalah, tanpa keluhan, tanpa stress, dan tanpa melewati lembah yang gelap. Berkali-kali aku tak bisa kalahkan kemalasanku, godaan Facebook, beda pendapat dengan pembimbing, kesulitan di Jakarta ketika mencari data, dan berbagai hal teknis lain. Aku seringkali teriak di bawah bantal bahkan berdoa dengan tetesan air mata. Bila semua itu datang, aku seringkali kembali bertanya dan merasa bodoh, “Apa esensi di balik pembuatan skripsi yang serumit dan menguras semangatku ini?”. Karena ini suatu hal yang sangat melelahkan mental dan pikiran. Tapi aku yakin, skripsi pasti ada bukan hanya karena syarat untuk lulus dan menjadi sarjana. Skripsi ada untuk sesuatu yang jauh lebih besar dari semuanya itu, tunggulah waktu yang akan memberitahukannya nanti..

Aku ingin berterima kasih untuk semua nara sumber dari Shell yang sudah rela kuganggu waktu kerjanya dan menjawab puluhan pertanyaan dariku (Totally it has 269 pages, and 91 pages are the transcripts of our interviews!). Special thanks to Dina Setianto for your kindness (Sorry for sending you so many emails and asking too many things ^^). Communications CX Shell Indonesia (You are one of the reasons I took this thesis topic). Dosen penguji di sidang mandiriku kemarin (Miss Des dan Miss Tisya, thanks for the inputs). Dosen pembimbing, Bu Yuli yang sangat awesome dan Bu Inggrit (so sad, both of you don’t have FB account). Dosen lain yang memberi masukan dan support (Pak Nanang, Miss Fe, Miss Grace, Pak Joko). Mrs W a.k.a. Bu Wike yang memberikan ilmu Public Speaking (I really gave out all my skill yesterday, I truly realized how important that class in this thesis thing). Teman-teman terbaikku di Fikom yang kemarin datang ke sidang mandiriku (So glad could did it in front of you all guys).

Kemarin, ada beberapa kekurangan yang harus kuperbaiki. Seketika aku merubah plan dari shortcut version menjadi long dan the real one version. Alih-alih ingin membuat audience paham yang kuteliti, malah membuat mereka bosan. Lega, pertanyaan kemarin masih di dalam jangkauanku, kecuali pertanyaan terakhir =P. Respon dari dosen cukup positif dan menjadi tabungan untuk membuatku lebih yakin.

Sidang mandiriku akan menjadi sebuah penyemangatku untuk lebih percaya diri saat maju sidang nanti. Karena beberapa hal, aku belum benar-benar dapatkan percaya diriku. Oleh karena itu, melalui notes ini, selain berterima kasih untuk bantuan, support sentences, dan doa; kuharap semua pihak sekali lagi, berkenan mendukungku dalam doa untuk sidang yang sebenarnya minggu depan. Doa itulah yang akan menguatkanku. Apapun hasilnya, aku tak mau pusingkan itu sekarang tapi aku janji aku akan beri yang terbaik. Semua proses berat yang telah kujalani ini mungkin adalah ujian yang sebenarnya, Tuhan yang akan menilainya bukan? Dan aku bersyukur diijinkan lewati semua ini bersama dengan orang-orang seperti kalian yang hadir di sepanjang perjalanan pembuatan skripsiku..

Teman yang sama-sama berperang periode ini, enjoy the adrenalin.. =P Teman yang masih berjuang, you could and must do better than me!! Wish you learned something from mine. I’ll always here when you need support guys.. God doesn’t require us to be the best, but He wants us to do our best, and He will take care of the rest..

The battle is not ours, it belongs to the Lord, for God is our victory!

 

 

Sby – 171009 – 1.00AM

A Crazy Photo Outdoor

05 April 2009!! Itulah tanggal yang telah disepakati bersama oleh aku dan teman-teman seperjuanganku di kampus, untuk berfoto bersama. Sebenarnya kami sudah punya banyak sekali foto bersama di bermacam kesempatan, maklum kamera mungkin salah satu teman baik semua orang sekarang ini, dan termasuk kami.. Tapi, kali ini kami ingin sesuatu yang berbeda! Foto outdoor!!

Pengalaman seru ini kutulis di post, karena aku ingin merekamnya selalu sebagai salah satu bagian pengalaman unik dari sebuah persahabatan. Semoga kamu yang membacanya pun jadi teringat sejenak akan persahabatanmu, merindukannya, mensyukurinya, dan akan terus menjaganya. Persahabatan sebuah hal yang indah dalam hidup manusia. Hampalah hidup bila tak ada sahabat-sahabat yang mengitarimu. Waktu yang kau lalui bersama mereka bisa menjadi kenangan terindah yang menghadirkan senyuman dan menjadi cerita tersendiri yang hanya dapat dimaknai olehmu dan sahabat-sahabatmu, serta mereka yang menghargai sebuah persahabatan..

 

 

behind-the-scene-3

Lets start.. Nita, Tanz, Lele, Lili, Couz, aku, Ipon, dan Ella.. Seharusnya ada Elka di sana, tetapi karena ada kesibukan lain mendadak, ia hanya bisa ‘mupeng’ melihat setiap jepretan foto ini nanti. Entah sejak kapan muncul ide itu tetapi yang pasti kami menyetujui dan telah merealisasikannya! Yang pasti hampir semua dari kami melaksanakan Internship II di Jakarta. Kami seringkali terlibat kepanitiaan bersama, ya, mereka adalah wanita-wanita hebat di jurusanku.. Kami saling menunggu ketika sidang Internship II dilakukan. Sementara itu, hidup yang terus berjalan ini, perlahan memaksa kami untuk mulai menata hidup ke depan. Tak dapat dihindari lagi, kebersamaan wanita-wanita hebat ini pun akan jarang ditemukan nanti. Sebuah kenyataan yang nantinya tak mungkin dihindari.

Ella memang membuka usaha jasa pemotretan, dan kami pun menabung, mengumpulkan uang untuk merealisasikan ide gila ini. Termasuk gila karena setelah tanggal disepakati, ternyata tepat esoknya, Couz dan aku mendapatkan giliran untuk maju sidang kolokium. What a jackpot! Namun bagaimanapun kesepakatan sudah dibuat, janji harus ditepati. Maka foto outdoor itupun tetap dilaksanakan hari Minggu lalu, full day, tepat sehari sebelum sidang kolokiumku dan Couz, dan sebelum masa sidang kolokium tahap pertama ini dimulai bagi yang lain. Ya.. Serasa menjadi ajang merelax-kan diri sebelum sidang. Dan percaya atau tidak, taktik itu seringkali jitu untukku. Begitu pula dgn kolokiumku kali ini.. =)

Kami berkumpul di Rumah Aan pukul 10 pagi untuk di-make up dan mempersiapkan kostum dan acsesories yang akan dipakai. Aan dibantu oleh teman ‘dkk’ nya, ada Liong dan Nico. Kemudian dua mobil pun berangkat ke lokasi pertama, di Gr*media Expo. Kami kaget karena ternyata Aan akan memotret kami di tepi Jalan Basuki Rahmat, di trotoar Gr*media Expo, sementara mobil-mobil berlalu lalang di minggu siang itu. Kami pun serasa menjadi tontonan karena ide Aan ini. Lagipula difoto ‘studio’ ataupun outdoor seperti ini adalah pengalaman pertama bagi beberapa di antara kami. Maklum, aku pernah berpendapat bahwa foto seperti ini hanya menunjukkan identitas yang ‘bukan’ sebenarnya karena make-up dan gaya yang diarahkan dan tidak natural. That’s why aku tak rela mengeluarkan uang untuk berfoto seperti ini. Tapi ini berbeda, bukan dari sudut itu aku melihatnya.. Oleh karena itu aku menyetujuinya.

Kegilaan yang lain, Aan meminta kami menyeberang jalan di zebra cross yang ada tepat di depan gedung itu. Dan ia akan memotretnya. What??! Dengan pakaian serba hitam putih dan riasan seperti ini?! Alhasil, kami benar-benar jadi tontonan. Takut + excited-nya serasa menguji mental lebih parah daripada sidang kolokium hahaha.. Sempat didatangi petugas beberapa kali pula haha..

 

behind-the-scene-1

Mengejar waktu, setelah iseng minta difoto di parkiran, kami segera beralih ke lokasi kedua, yaitu lahan di daerah Surabaya Barat. Tantangannya berbeda, semak duri jadi cukup merepotkan. Di lahan kosong, penuh semak dan ilalang, serta jalan setapak berbatu ini para wanita hebat dengan high heels masing-masing, akan dipotret lagi. Sampai senja tiba dan langit kemerahan sempat terekam di potret kami, kami pun beranjak ke lokasi terakhir. Dl*ops! Berganti kostum kedua dengan tema ‘keceriaan’. Perut keroncongan karena belum terisi makanan sejak pagi. Itu termasuk kegilaan yang lain. Mengejar suasana foto sampai tak sempat makan haha..

behind-the-scene-2

Setelah makan di salah satu stand yang ada, dimulailah kegilaan yang semakin malam semakin menggila itu. Ada banyak foto baik yang individu maupun bersama-sama dibuat di sini. So fun and all out!! Untuk Couz dan aku, tak biasa kami berpakaian seperti ini, tapi tak apa, demi.. hahaha.. Bahkan sempat difoto loncat bersama di tengah area tempat hangout yang sangat ramai di minggu malam ini. Cuek saja dengan keheranan pengunjung lain dan akhirnya selesailah sudah. Ohya kegilaan lain adalah kegilaan ini baru berakhir sekitar pukul setengah 9 malam.

Aku, secara pribadi menikmati semua yang terjadi di hari itu. Sebagai pengalaman pertama di foto outdoor dan bersama sahabat di jurusanku sebelum kami akan semakin jarang berkumpul dan menggila bersama. Hasil jepretan sedang diolah dan nantikan saja di Facebo*k.. Semoga ini akan selalu diingat oleh Nita Triwahyuningsih, Tansilia Diliani, Gloria Lady Leony, Liliana Anggreani Lestari, Veravinna Handoko, Yohana Ivone, Ella Pamela, Elkana Lewerissa (meski tak ikut serta tapi ia turut ada di rencana kegilaan ini), dan Widianti Gunawan Wijaya. Special thanks to Andreas Pratama and Elreas. I’ll miss this moment..

 

I went out to find a friend but couldn’t find one there, I went out to be a friend and friends we’re everywhere!!

 

Surabaya – 080409 – 10:16AM

Previous Older Entries

www.widiantigunawan.wordpress.com