Tugu Pahlawan & Museum Sepuluh Nopember

Putih tinggi menjulang di tengah lapangan rumput hijau. Bagaikan sebatang pensil putih raksasa berdiri di sana. Ukiran emas menghiasi lingkar bawah dan sekitaran ujung runcingnya. Itulah Tugu Pahlawan, monumen yang sangat penting bagi perjalanan sejarah Kota Surabayaku..

Tahukah kau dahulu di kawasan ini berdiri markas polisi Jepang? Arek-arek Suroboyo kala itu menghancurkan dan mengambil alihnya. Kemudian dijadikanlah Monumen Tugu Pahlawan ini untuk melambangkan kebanggaan arek Suroboyo menang pada pertempuran 10 November 1945. Hero Monument & Tenth November Museum buka mulai puku 08.00 sampai sekitar pukul 14.00. Pada hari Senin dan hari libur nasional, tujuan wisata ini ditutup untuk pemeliharaan.

Masuk pelataran parkir dari sisi jalan Tembaan. Bila dari arah Pasar Turi, harus mengitari kawasan Tugu Pahlawan dan Bank Indonesia lalu mengambil lajur paling kanan untuk berbelok masuk. Seturun dari kendaraan masuk melalui pintu gerbang di sisi samping depan patung Soekarno Hatta. Lapangan rumput hijau luas dikelilingi jalan taman dengan bunga alamanda kuning menjadi kanopinya. Bersih dan tampak terawat. Terdapat patung beberapa pejuang berdiri di dalam kawasan taman.

Di bagian ujung kiri, tampak loket masuk ke dalam Museum Sepuluh Nopember. Hanya 2.000 IDR yang harus dibayar setiap orang. Museum ada di bawah, bertingkat 2 lantai. Beberapa koleksi yang dianggap bernilai sejarah bagi kota kelahiranku bisa dilihat. Beberapa batang bambu runcing. Senapan-senapan kuno hasil rampasan dari para penjajah Belanda, Jepang, maupun Inggris. Foto suasana dan bangunan lawas Surabaya. Diorama sederhana tentang masa penjajahan di Surabaya. Pemutaran film sederhana juga ada di ruangan tersendiri.

Selama 22 tahun lebih dilahirkan dan tinggal di Surabaya, baru kali ini aku masuk ke dalam kawasan Monumen Tugu Pahlawan. Malu? Lumayan. Rumahku memang tak begitu jauh dari sana sehingga hampir selalu melewatinya sebelum mencapai tempat tujuan di tengah kota. Sekitaran 2 tahun lalu, di tengah malam juga sempat mengantarkan rombongan jurnalis kampus berfoto di depan monumen itu. Namun tetap saja bukan masuk ke dalam tembok hijau apalagi museum yang ada di lantai basement. Tanpa pikir panjang, ajakan sepupuku ke Tugu Pahlawan ku-iya-kan. Bersama dengan keempat keponakan, aku membayar rasa ingin tahuku. Mendung dan hujan gerimis menemani wisata singkat kami.

Bila kau warga Surabaya, sudah sepantasnya sekali dalam hidupmu pernah mengunjunginya. Kuakui tidak sebagus yang kubayangkan karena aku membandingkannya dengan Monas yang memiliki diorama sangat banyak dan bagus (read also: Monas). Tetapi, kawasan Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh Nopember yang resmi didirikan di tahun 2000 ini lebih bersih dan terawat dari yang kuduga. Setidaknya ketika bertemu warga dari kota lain yang bertanya tentang si pensil raksasa itu, dengan bangga kau bisa menceritakannya. Sederhana dan apa adanya tetapi harus tetap dijaga bersama sebagai saksi sejarah. Wisata Surabaya bukan hanya mall yang makin bertambah saja jumlahnya, tetapi wisata sejarah sangat kental mewarnai kota ini. Inilah salah satunya.

Rawe-rawe rantas, malang-malang putung..!

Sby – 301209 – 5:55PM

 

Here are some photos that I took while visiting Hero Monument & Tenth November Museum.. Back to my old hobby, there you go..

 

   

   

 

Skripsi Rasa Mangga

Buah tropis itu berkulit hijau. Daging buahnya kuning kejinggaan. Biji buah besar di tengah. Rasanya manis, legit, dan sedikit asam. Ya, rasa itu tentu terasa kuat melekat untukku. Mangga! Memberi warna jingga cerah di perjalanan skripsiku. Seluruh rangkaian skripsiku berakhir pada saat musim mangga dimulai di akhir 2009.

Begadang di bulan-bulan terakhir untuk menganalisa seringkali dimulai dengan sepiring kecil mangga. Maklum, sel-sel saraf yang terjalin di otakku baru bekerja maksimal justru di malam hari, di kala semua orang di rumah mulai terlelap. Meninggalkan aku sendirian terjaga di depan laptop. Itu berarti beberapa jam setelah makan malam usai. Sebuah kebiasaan di rumahku, selalu mencuci mulut dengan buah atau ice cream setelah makan.

Tahun ini mangga mulai banyak ditemui sejak September. Sampai dengan November ini makin melimpah ruah hingga harganya jatuh di pasaran. Di satu sisi aku senang, di Indonesia bisa dengan mudah dan murah mendapatkannya. Di sisi lain, sayang sekali buah seenak itu hanya dihargai rendah.

Mangga berasal dari India. Kemudian banyak tumbuh di Asia Tenggara. Kaya serat dan antioksidan. Mango mengandung sekitar 20 macam vitamin dan mineral. Itu membuatnya menjadi salah satu buah yang paling kaya nutrisi.

Musim ini, mangga selalu saja ada di rumahku. Memang bukan lagi dari pohon mangga di pekarangan yang sudah ditebang ketika awal renovasi rumah setahun ini. Dulu, mangga manalagi itu selalu berbuah bahkan 2-3 kali setahun. Enak sekali tinggal memetik di depan rumah. Kini masih ada satu pohon mangga arum manis tetapi jarang berbuah dan lebih banyak dipetik tetangga lain sebelum sempat menikmati.

Tetapi tetap saja mangga selalu bisa dinikmati. Entah karena diberi, pernah juga mama membeli hasil kebun pekerja yang sedang merenovasi rumah, atau tentu saja membeli di pasar. Semuanya lezat! Terlebih menjadi makanan pembuka untuk begadang skripsi. Dan skripsi berakhir saat musim mangga semakin mencapai puncaknya.

Tak heran bila setelah selesai, berat badan sedikit bertambah. Ternyata manisnya mangga mengandung karbohidrat yang akan mengendap bila tak banyak bergerak. Mangga tahun ini enak dan manis. Sebab banyak yang kami nikmati adalah mangga yang masang di pohon atau suluhan. Matang alami yang cukup dikupas dan dinikmati. Semanis hasil akhir tugas akhirku.

Tugas akhir S-1 kulalui dengan proses yang manis, legit, dan sedikit asam seperti rasa mangga. Berakhir dengan hasil cerah seperti warna daging buah mangga yang kuning jingga cerah. Selesainya seluruh rangkaian ini seiring dengan musim mangga yang sampai mencapai puncaknya. Tampak sepele tetapi musim mangga kali ini cukup berkesan buatku.

Mango are an excellent source of vitamins A and C, and for those who are physically active, whether working out or constantly on the go, mangos are a great way to replenish that lost potassium.

 

Sby – 17/11/09 – 6:05PM

My 22nd..

5 September 2009, genaplah sudah 365 hari dari usia 21ku. So, this is my day, welcome my 22nd!

Pergantian hari kulewatkan di jalan, melajukan mobil menuju rumah dengan kondisi muka, rambut, baju penuh noda black forest. Sambil PDA berdering menerima pesan singkat yang masuk, sambil tertawa kusetir mobilku, sambil kuinjak lebih dalam pedal gas agar sampai di rumah lebih cepat dan kuingin mandi!

Akhirnya tetap ada surprise di ulang tahun ke-22 ini!! Tetap ada ‘cake’ dan lilin untuk kutiup setelah make a wish. Sepulang dari buka puasa bersama, awalnya tak ada rencana lain. Teman-teman beranjak ke PISA Cafe dan aku pun ikut meski berarti lebih jauh dari rumah. Tapi masih jam 8 malam dan terlalu awal untuk pulang. Mengobrol beragam hal dan juga topik yang sangat menarik untuk dijadikan sebuah talk show. Murni tanpa skenario.

Ada Lia, Erlin, Sony, dan Ronny di mejaku. Sementara Ming dan Anam ada di meja sebelah dengan kegemaran mereka yang cukup mengerikan bagiku yang melihatnya haha.. Irwan, Iin, Edo, Erwin, dan Danny ada di meja lain. Pak Hin datang menyusul. Semua asyik mengobrol dan menikmati Jumat malam. Sambil menikmati chocolate fondue, topik panas mengalir sepanas cokelat yang dilelehkan di depan kami. Ketika jarum jam mengarah ke setengah 12 lebih 10 menit, teman-teman mulai beranjak keluar seperti hendak pulang.

Beberapa ‘sok sibuk’ di pelataran parkir malam itu. Tak lama, dari arah belakang terdengar Happy Birthday dinyanyikan. Muncullah Ming membawa black forest berlilin warna warni yang terpasang tidak rapi (hahaha..) dan black forest yang tampak tak karuan. Lembaran cokelat terjatuh di samping. Kemudian mereka berkumpul dan Iin menyanyikan Happy Birthday in Chinese version. Click here to watch the video. Ming memintaku make a wish. Kuteriakkan keinginanku dalam hati dan lilin kutiup. Huff..!!

 

Surprise 22nd

Lalu cake aneh itu berpindah ke Iin dan aku diminta mengambil cokelat dengan mulutku. Tak ada yang bisa kupercaya rasanya dari perintah itu haha.. Kubayangkan saat itu cake itu langsung ditimpukkan di wajahku hahaha.. Belum pernah bersurprise dengan olesan krim.  Iin memang tidak menimpukkan kue itu ke wajahku tapi Anam yang mengeksekusinya haha.. Setelah krim tertambat di sebagian wajah, foto bersama, dan here it comes!  Aku tak bisa lari lagi, black forest aneh itu mampir ke wajah sebelah kanan, ke arah telinga, rambut, dan bagian punggung! Hahaha.. Tak sempat kubalas karena Anam langsung kabur dan pulang.

Dibantu beberapa teman, dengan berlembar-lembar tissue, kubersihkan krim dan cokelat dari wajah, rambut, telinga, leher, dan tanganku. Kulepas blazer dan segera pulang. Kurendam blazer sebelum krim mengering. Mandi dan keramas sampai 3x tuk hilangkan lemak krim itu. Kemudian mengucap syukur dan kurasa tengah malam itu saat yang paling tepat untuk berdoa. Bersyukur dan menceritakan keinginan yang kuharapkan di usia 22 ku dapat terwujud. Itulah esensi terpenting dalam ulang tahunku. Setelah malam sebelumnya bersyukur untuk umur 21, giliran kuserahkan rencana di umur 22 kepada Tuhan.

Selebihnya tak ada yang luar biasa. Bahkan hanya menghabiskan waktu menikmati rumah karena tahun lalu aku di Jakarta. Kubuka FB yang berisi ratusan comment. Aku bertanya pada beberapa teman yang cukup dekat tentang persepsi mereka tentangku. Aku butuh mengevaluasi diri supaya dapat menjadi lebih baik lagi. Aku mengirimkan email kepada sahabatku. Menyanyi dan menghafalkan lagu di kamar. Menonton DVD. Dan terakhir menuliskan post ini sebelum berdoa dan tidur.

Aku merasakah satu tahun ini aku sudah berhasil menjadi orang yang lebih positive thinking. Benar-benar berhati-hati dalam menaruh hal di pikiranku. Say what you mean, mean what you say. Beberapa jawaban mengatakan demikian. Semoga aku akan terbiasa dengan kebiasaan baru yang baik ini.  Hal yang perlu kuperbaiki adalah emosiku yang masih sangat labil, mudah naik turun dan menyerah. Lalu kecenderungan untuk mencari excuse yang tanpa sadar membatasi kemampuanku. Setahun ke depan, 2 hal itu harus bisa kuperbaiki.

Dalam doaku semalam, kumaknai 22 tahunku ini sebagai tahun untuk bekerja keras. Ada banyak masa ketidakpastian untuk masa depanku tetapi pada saatnya nanti orang akan melihat bahwa God is BeBe’s victory. Keberhasilan demi keberhasilan dipersiapkan di sana olehNya buatku. Ketika keberhasilan itu hadir, semua bukan karena kuatku tapi hanya anugerah Tuhan dan diberikanNya buat mereka yang mengandalkanNya.

Usia ke-22 diawali dengan surprise dari teman-teman ‘penting’ di SYN. Kuyakini itu bahwa setahun ke depan, aku punya teman-teman hebat yang akan maju bersama denganku. Siap membantu dan mendukung di sekelilingku seperti ketika mereka memberikan surprise kecil itu untukku.

Aku pun akan terus berserah untuk masa hidup yang akan datang. Ke mana Tuhan akan membawaku. Apa lagi yang akan Dia bawa kepadaku. Siapa yang Tuhan sediakan untuk jadi warriors-ku. Langkah setelah kuliah ini selesai. Semua kuserahkan dengan iman bahwa God is my victory.

Selamat datang 22.. Angka cantik 22, seakan menunjukkan cantiknya perjalanan di tahun ke-22ku.. Because God is my victory!

The battle is not ours, the battle belongs to the Lord..

 

Surabaya – 050987

ISBSV kita!

Surabaya – 120809 – 5:13PM

Decicated to all ISBSV..

Indonesia Sampoerna Best student Visit. Acara yang mempertemukanku dengan puluhan anak cerdas dari kota lain, setahun lalu. Anak cerdas yang diberi gelar ‘terbaik’ oleh Sampoerna. Yang bukan lagi hanya sekadar teman untuk menambah kolega di situs pertemanan. Namun, sudah menjadi teman terbaik tempat ku bergantung di satu masa. Kini, tiba-tiba bukan hanya teman seangkatan yang menjadi sebuah jaringan sosial. Tahun ini, empat angkatan lain yang juga ‘terbaik’ ditambahkan menjadi teman atau bahkan saudara dalam sebuah keluarga besar Indonesia Sampoerna Best Student Visit..

Seharusnya saat ini aku harus mengerjakan skripsiku, tapi seketika muncul keinginan menulis sesuatu tentang ISBSV. Minggu lalu, Sampoerna Best Student Visit 2009 diadakan kembali oleh Sampoerna. Perbedaannya kali ini alumni dari SBSV angkatan sebelumnya diundang untuk bergabung bersama. Tanpa tahu tujuan yang sebenarnya, aku berusaha meluangkan waktu. Paling tidak aku bisa bertemu dengan beberapa teman SBSV 2008, lagipula aku sudah kembali ke Surabaya jadi aku harus bisa menyediakan sedikit waktu. Jaringan/network/koneksi itu harus dijaga dan memeliharanya memang tidak pernah mudah.

I’m quite excited ketika mengetahui 2 teman dari Jakarta, dan 1 teman dari Bali rela untuk datang. Meski akhirnya tahu bahwa Sampoerna membantu keperluan akomodasi, tetapi aku salut akan motivasi mereka hingga benar-benar tinggalkan sejenak kesibukan untuk hadir ke Surabaya. Ternyata bukan hanya dari angkatanku, juga ada beberapa alumni dari angkatan lebih awal datang dari Jakarta dan Palembang. Kami pun berkenalan dan jadilah semua berteman.

Sebenarnya untuk teman seangkatan, aku bisa menyebut bahwa kami masih menjaga baik relasi dan ikatan di antara kami. Jujur, di antara beberapa komunitas yang aku punya, ISBSV ku termasuk yang masih hidup dan eksis. Apalagi ketika hidup 6 bulan, magang di Jakarta. Baru pertama kali ke Jakarta, seorang diri berusaha hidup mandiri menaklukkan hati ibukota yang lebih kejam dari ibu tiri. Entah apa jadinya bila tidak ada teman ISBSV Jakarta. 4 dari 5 mahasiswi UK Petra yang menjadi peserta SBSV 2008, memang memutuskan magang di Jakarta. Alhasil kami sering bertemu dengan rekan Jakarta. Mereka membantu mencarikan tempat tinggal di dekat lokasi kantor perusahaan kami. Padahal semua berbeda lokasi. Yang aku masih ingat betul, kami ke Dufan bersama! Ah.. Aku tak akan melupakan moment itu. Aku sangat ingin ke Dufan, maklum bisa dibilang kali pertama ke Jakarta hahaha.. Dan cukup banyak SBSV 2008 yang bergabung kala itu. Bahkan dari Bandung ada yang turun untuk have fun bersama.

Meski aku tak berpuasa, aku ikut ke acara buka puasa bersama di Plaza Semanggi bersama Mbak Fika. Weekend ke Fatahillah. Makan bersama dengan Mas Bima di Pasific Place. Berkumpul di resepsi Mas Bima di Dharmawangsa Hotel. Musicademia Sampoerna di Balai Kartini. Kami jalan ke Grand Indonesia ketika rekan dari Medan akan bermigrasi ke Jakarta, kami rapat mencari cara membantunya. Nonton di PIM. Dinner bersama di Senayan City. Dan sekali lagi, (Celebrating F*cklentine) Dufan menutup masa 6 bulanku tinggal di Jakarta, kali ini dengan personel SBSV 2008 berbeda dengan Dufan pertama. Berlanjut ke Grand Indonesia menyapa rekan dari Bali yang mampir di Jakarta. Semua dokumentasi foto masih tersimpan lengkap di folderku. Terakhir kita berjumpa di resepsi Dwi, yang mendahului kami semua. Bagaimana dengan SBSV 2008 di kota lain?

ISBSV.

Tidak semua peserta SBSV 2008 aktif, kuakui itu. Jujur saja, beberapa nama tak kuingat wajahnya, khususnya yang kurang proaktif atau kurang ‘mengeksiskan diri’. Sebuah relasi tidak bisa hanya diusahakan oleh satu pihak. Relasi itu antara dua pihak. Ide dan inisiatif yang dimunculkan untuk memelihara relasi itu tidak akan bermanfaat bila pihak yang lain tidak mengulurkan tangannya. Hanya mereka yang mau bersama menjaga relasi itu yang akan tetap bertahan dan merasakan manfaat dari relasi yang telah dipertemukan dalam ISBSV. Bukan berarti saling memanfaatkan dan berhenti di sana, tetapi bukan sebuah kebetulan terpilih dan bisa mengikuti SBSV. Oleh karena itu, aku sadari itu, dan ini harus bisa menjadikan sesuatu someday, buatku melangkah ke langkah yang lebih baik.

Jangan katakan relasi itu mantap karena mereka berada di Jakarta. Jakarta justru kota yang lebih besar dan kondisinya seharusnya tidak mudah untuk terus bertemu. Tetapi aku melihat orang-orang ini bisa tetap bertemu, karena ada kebutuhan dan komitmen yang sama. Bila memang tidak ada event, adakanlah event itu. Bukan sekedar berkumpul berfoya-foya hamburkan uang, tetapi esensi di baliknya yang harus disadari. Lebih baik tidak mencari pembenaran diri tetapi mulai bergerak memelihara network ini. Memulai itu mudah, tetapi memelihara itu sulit.

Tidak semua orang mendapatkan privilege ini. Jadi pilihanmu mau merasakan benefit atau membiarkan itu berlalu begitu saja. Mungkin hal seperti ini bukan hanya terjadi di angkatanku saja. Dan merupakan hal yang wajar dalam rimba kehidupan, di mana yang kuat yang akan bertahan. Kini ketika sekat antar angkatan itu dihancurkan, semua akan melebur dan membaur jadi satu. Kesempatan untuk menjadi aktif dibuka kembali, memperbaiki diri. Tetapi berarti semua juga harus mulai berusaha membuka diri untuk mengenal rekan angkatan lain sehingga benar-benar menjadi satu keluarga besar ISBSV.

Ah.. Senang sekali bisa bertemu kembali dengan rekan seangkatanku. Masih banyak dari kalian yang aku ingat meski tak pernah bertemu. Kegilaan 5 hari itu tampaknya cukup berdampak besar buatku haha.. Ijinkan aku kali ini, sekali lagi berterima kasih buat saudara-saudaraku yang sudah mewarnai dan bersedia kurepotkan selama aku di Jakarta. Rya, Endra, Asto, Khiko, Togel, Andit, Vina, Rudy, I can’t forget your support and our togetherness. Nita, Tansil, Vera, Elkana, I can’t imagine Jakarta without you all girls. Roro, Natalie, Arie, Rika, Dwi, MonJes yang masih sempat berjumpa di Jakarta. Kadek, Mimi, Arfa, Sukma, Diana, I’m so appreciate dengan usaha kalian untuk selalu mendekatkan diri menjaga relasi di antara SBSV 2008 selama ini. Mbak Fika, Mas Arif, Mas Bima, terima kasih banyak.

Sekarang aku akan punya beberapa teman baru dari angkatan yang lain, hi all! Beberapa rekan juga terbang ke luar negeri menempuh pendidikan, good luck guys! Kehidupanku pun akan segera beranjak ke jenjang yang lebih serius lagi, menyusul kalian yang sudah terjun lebih dulu. Tapi aku yakin, ke depan, aku masih bisa terbantu oleh ISBSV ini, entah dalam hal apapun nanti. Ini ISBSV kita! Sebelum berpikir terlalu jauh, jagalah apa yang ada sekarang. Kalau telur itu sudah pecah, sampai kapanpun tak akan ada induk ayam yang lahir darinya..

A Warrior knows that his best teachers are the people with whom he shares the battlefield..

Delight Berdua is Our Fave

Surabaya – 180509 – 1:39PM
Pernahkah kamu punya rutinitas atau kebiasaan, yang mungkin tampak aneh bagi sebagian orang tapi unik dan menyenangkan untuk dilakukan bersama orang terdekat yang kamu sayang? Aku punya satu kebiasaan seperti itu. Berhubung belum ada seseorang yang kupilih untuk jadi tempatku bersandar, kebiasaan ini kubagi dengan adik yang juga merangkap teman baikku. Kebiasaan itu adalah bersantap delight berdua di Pizza Hut. Tanpa bermaksud mempromosikan gerai pizza tersebut, aku hanya ingin menceritakan kebiasaanku ini melalui post di blogku.
Setiap bulan, pasti ada satu kali di mana kami berdua pergi makan, berdua atau plus-plus, di tempat favorit kami untuk makan dan melarikan diri dari kepenatan. Dan selalu menu delight berdua yang kami pilih tanpa pikir panjang. Mengapa delight berdua? Karena ada menu-menu tertentu yang hanya bisa dipilih bila memesan menu delight dan tidak bisa dipesan reguler. Delight pun ada beberapa pilihan, tapi kami sudah memastikan, pasti – selalu – akan – dan tetap memilih, delight spagheti. Jadi akan disajikan satu pizza pan kecil, seporsi spagheti, roti bawang alias garlic bread, dan 2 gelas coke. Tampak tak mengenyangkan bukan? Rasakan saja sendiri.. Karena kami selalu tetap kekenyangan setelah berjuang menghabiskan semuanya.
Mengapa selalu delight yang itu yang menjadi pilihan? Karena spagheti krim tomat lah jawabannya. Rasa unik tapi sangat mantap di lidah kami berdua, apalagi disantap begitu disajikan. Garlic bread akan selalu seperti itu, tidak special hanya pelengkap saja. Pizza pun biasanya kami selalu memilih egg sunshine. Tapi sedih sekali, sepulang dari Jakarta, ketika aku kembali meneruskan kebiasaan ini, egg sunshine sudah tidak dimasukkan dalam daftar pilihan pizza delight. Ia sudah naik pangkat ke pilihan reguler rupanya. Jadi kami mencoba rasa pizza yang lain dan belum menemukan yang terfavorit untuk jadi pengganti egg sunshine. Terkadang bila sangat lapar, kami menambah seporsi salad dengan berusaha menata salad sebanyak-banyaknya menampung isi favorit kami berdua hahaha.. Entahlah, bisa saja tak perlu berlebihan, tetapi rasa seru karena menatanya bersama jadi kelucuan tersendiri. Akhirnya kami jadi lebih lama lagi nongkrong, untuk menghabiskan salad sebanyak itu haha..

Bagaimana kebiasaan ini muncul? Awalnya tidak sengaja, ketika berjalan berdua di sebuah mall, lapar menyerang, apalagi adikku suka sekali makan. Untung sekali dia tidak mudah gemuk, jadi tak pusing makan banyak. Pilihan pun jatuh di Pizza Hut. Wah, tampaknya delight tidak terlalu buruk untuk dicoba, apalagi budget sesuai kantong, sangat sesuai malah. Dan tanpa disadari itu jadi kebiasaan setiap bulan dan sudah berjalan lebih dari 1,5 tahun. Terkadang kami berdua juga suka mengajak mama atau kakak untuk keluar dan berpizza bersama. Tetapi tetap tidak mau melewatkan spagheti krim tomat itu, jadi delight tetap dipilih.

Salah satu yang aku paling ingat, ketika aku masih stay di Jakarta, adik menanyakan, “Kapan Ce pulang? Ngga ada yang ngajak aku delight berdua lagi lho sekarang..” Hahaha.. Kalimat polos yang lucu, namun bermakna dalam buatku. Ternyata kebiasaan itu telah menjadi hal yang simple tapi berkesan dan selalu dinanti olehnya. Ya, memang ketika kami pergi berdua itulah, ada banyak sekali cerita, keisengan, dan kekonyolan yang bisa kami bagi. Sebenarnya bisa cerita kapan saja tanpa harus delight berdua, tapi entahlah ini seakan menjadi kesempatan bagi adik untuk bisa keluar dari rumah. Tak ada tanggal khusus jadi kadang ketika aku stress ataupun adik jenuh dengan sekolahnya, siang itu akan muncul sms, “Nanti malam Pizza Hut!”. Jarak usia kami memang berbeda cukup jauh, 6,5 tahun. Tapi seiring dengan bertambahnya usia adikku, arah pembicaraan makin sama. Kadang kami menjadi sekutu di rumah. Terkadang aku sempat merasa takut, ia akan jadi dewasa sebelum waktunya, dalam artian pola pikirku mempengaruhinya. Tapi ternyata tidak, justru itu bisa jadi hal cukup positif, karakternya tak kekanakan dibanding teman-temannya, tapi masih gemar menonton kartun haha.. That’s why I call her ‘my best friend’.

 
 

 

Pizza Hut

Dan dari situ pun kami jadi menemukan tidak di semua cabang Pizza Hut bisa menyajikan spagheti sup krim tomat yang sangat lezat. Garlic bread Pizza Hut sekarang makin tak terasa garlic-nya. Salah satu kekonyolan yang masih sangat kuingat yang terjadi adalah ketika itu kami bersantap, selagi menunggu pesanan, kami berdua melihat pemandangan yang sama. Ada seorang waiter yang sangat gemulai. Jujur saja, aku dan adik sangat tidak menyukai gaya-gaya yang seperti itu. Alhasil, tanpa mengatakan satu patah kata pun, kami langsung tertawa geli sekeras-kerasnya. Setiap kali waiter itu bersliweran di depan kami, tawa itu meledak seketika. Sampai makan pun terganggu karena ingin terus tertawa. Sepertinya waiter itu pun merasa. Tak lama tampak pula seorang waiter lain yang gayanya tak kalah gemulai dengan waiter pertama tadi. Ya ampun, ada satu saja kami sudah tertawa kelewat batas, mengapa harus ada dua yang seperti itu? Hahaha.. Agak kurang sopan, tapi mungkin jadi keuntungan buat gerai pizza ini, jadi ada canda tawa bukan di sana? Hahaha..

Bagaimana denganmu? Kebiasaan apa yang biasa kau lakukan dengan orang terdekat yang kau sayang? Apapun itu, semoga itu kebiasaan baik, dan memiliki arti dalam relations kalian. Orang lain tak perlu mengerti meaning atau maknanya, tapi selama kalian dan orang-orang terkasih tetap merasakan kehangatan dari aktivitas itu, then teruskanlah.. Semoga menginspirasi untuk memunculkan kebiasaan-kebiasaan unik yang berarti..

Terkadang yang terpenting bukan apa, di mana, kapan, atau bagaimana tetapi yang lebih penting bagi siapa yang terlibat dalam kegiatan itu adalah mengapa.. 

 

 

nb: Cing, dengan dipostingkannya artikel ini, maka janji nulis topik ini di blogku lunas.. =D

‘Kakek’ku Penjual Buah Keliling

Ia bisa saja tak bekerja tetapi ia memilih bekerja agar ada kesibukan yang dilakukan di hari tuanya. Tak sekedar diam di rumah dan melihat cucu-cucunya berlarian, dan membiarkan usia dan masa renta menggerogotinya. Ia memilih untuk tetap menggenjot sepeda tuanya dan membawa buah-buahan bersamanya..

Siang ini, di tengah kesibukan mengerjakan proposal kolokium, tiba-tiba kakak berteriak, “Pak Sis dateng..!”. Pak Sis, begitu keluargaku biasa memanggilnya, adalah seorang kakek yang menjual buah-buahan dengan berkeliling memakai sepedanya. Aku kaget dan sontak segera ke depan rumah dan melihatnya. Karena jujur saja aku tak menyangka ia masih hidup bahkan eksis dengan sepeda angin khasnya itu. Mungkin reaksi di benakku terdengar tak sopan tetapi sudah lama sekali aku tak melihat beliau.

Ketika aku keluar dan ikut bergabung dengan mama, kakak, serta pembantuku, aku menyapanya dengan riang. Dan Pak Sis membalas, “Walah, cucuku wes gede-gede rek saiki..” (Wah, cucu asaya sudah besar sekarang..) Yah, beliau mengganggap kakak, aku, dan adikku selayaknya cucunya. Maklum saja, karena ia telah menjajakan buah-buahan ke rumah kami ini sejak kakak masih baru lahir. Jadi terang saja ia mengetahui benar waktu demi waktu kami beranjak besar dan berusia 20-an sekarang. Guratan keriput di wajah tuanya terlihat jelas. Kulitnya hitam gelap karena terbakar terik mentari. Dengan topi yang dikenakannya, ia bercerita dan memamerkan deretan giginya yang menyisakan 4 buah gigi ketika ia tertawa.

Di jaman yang sudah semakin maju seperti sekarang ini, makin sulit ditemukan para penjual buah yang dengan mengendarai sepedanya berkeliling dan menghampiri rumah demi rumah langganannya. Ada begitu banyak hypermarket dan swalayan besar bertambah di Surabaya. Makin beragam pula jenis buah-buahan yang dijual, tak hanya buah lokal tetapi juga buah impor yang tak bisa ditumbuhkan di Indonesia. Semua makin memberikan banyak pilihan alternatif bagi konsumen. Di sisi lain, semua itu juga makin mendesak keberadaan para penjual buah seperti Pak Sis ini.

Mungkin di beberapa pemukiman masih bisa ditemukan teman-teman Pak Sis, tapi aku sangat angkat topi untuk ketekunan Pak Sis. Di usianya yang telah menginjak 71 tahun pada tahun ini, ia tetap konsisten menjual buah-buahan. “Aku ket umur 38 dodolan ngene kok Nik..” (Saya berjualan seperti ini sejak berusia 38 tahun..”. Itu jawaban yang diberikannya saat aku menanyakan kisah hidupnya. Sudah lebih dari setahun tak berjumpa dengannya tapi aku sudah mengenalnya sejak masih kecil. Biasanya ia mengijinkan kami bermain-main dengan sepeda tuanya itu.

Ia tetap kakek yang ramah, murah senyum, dan tak pernah memaksa. Kebaikan itu yang membuat keluargaku selalu membeli apapun yang sedang ia bawa di keranjang besar di boncengan sepeda anginnya itu. Hari ini ia datang membawa bentoel. Terkadang ia bergiliran membawa jeruk peras, rambutan, pepaya, melon, dan aneka buah tropis Indonesia lainnya. Satu jenis buah setiap kali datang. Buah yang dibawanya selalu memiliki kualitas bagus sehingga mengapa tak membelinya?

Pak Sis

Memang tak bisa dijagakan untuk membeli buah hanya dari dagangan Pak Sis. Sebab ayah 8 orang anak dan kakek 10 orang cucu ini datang tak menentu. Terkadang menyapa kami sebulan sekali dan tak jarang pula lebih lama dari itu. Harinya pun tak menentu dan biasanya tiba di rumahku siang hari, seperti siang ini sekitar pukul 1 siang. Karena itu pula, aku sudah lama tak bertemu dengannya karena di siang hari biasanya aku ada di kampus. Sambil meminum sirup markisa yang kami berikan, ia bercanda dan melepas lelah di depan rumah kami.

Kali ini ketika ia datang, terbersit ide untuk menulisnya di blogku. Keluargaku selalu kagum akan usahanya. Kami seringkali berkata pada beliau, “Pak Sis udah tua kok ngga di rumah saja toh?”. Bukan bermaksud menyuruhnya diam saja tetapi lalu lintas juga semakin berbahaya sekarang dengan jumlah kendaraan yang makin tak terhitung. Tapi ia selalu berprinsip, “Kalau aku nggak kerjo, malah iso pikun, stress nang omah..” (Kalau saya tidak bekerja, justru bisa pikun dan stress di rumah saja..). Aku pun percaya bukan karena tuntutan ekonomi ia melakoni semua ini, karena anak-anaknya sudah menjadi orang yang berhasil dan bisa membiayai Pak Sis. Namun, mereka pun tak kuasa menahan semangat Pak Sis untuk tetap bergerak dan melakukan sesuatu di usia senjanya.

Mungkin kegiatan seperti ini justru baik untuknya. Karena dengan terus menggenjot sepedanya, ia jadi berolahraga. Dengan berjualan keliling, ia jadi tahu perubahan dan perggerakkan kota ini, tak ketinggalan “jaman”. Dengan menemui para pelanggannya, ia jadi seakan bertemu dengan teman-temannya. Dengan berinteraksi dengan pembelinya, ia dapat berbagi cerita dan keceriaan. Dengan terus bekerja, ia jadi mensyukuri hidup dan kesehatan yang masih ia miliki sekarang. Dan dengan senyumannya, ia jadi inspirasi buat sesamanya termasuk untukku..

Terima kasih yo.. Semoga Tuhan yang bales kebaikan e. Kapan dolan nang omahku yo, takkenalno keluargaku kabeh..” (Terima kasih, semoga Tuhan membalas kebaikan kalian. Lain kali berkunjung ke rumah saya, dan saya kenalkan dengan keluarga besar saya..), itulah salam dari Pak Sis sambil menggenjot sepedanya dan melambaikan tangan, beranjak dari rumah kami ke rumah-rumah lainnya, menjual buah dan menebarkan semangatnya bagi setiap mereka yang mau meneladaninya..

Surabaya – 310309

(Tak) Ingin Segera Lulus Kuliah

Sby – 070309 – 11:22PM

 

Dua hari ini, aku merasa sedang jadi melankolis. Aku sangat ingin waktu berhenti atau melambat. Ini minggu ketigaku kembali ke aktivitasku di Surabaya. Tapi apa yang kutemukan? Tampaknya hidupku sedang bergerak menuju ke tahapan kehidupan yang lain. Dan mulai meninggalkan satu per satu kisah hidup, kebiasaan, dan pola hidup dari tahapan yang tak lama lagi akan berlalu. Tahapan itu adalah masa kuliahku..

 

Kuakui sebelum ke Jakarta, aku benar-benar seorang mahasiswa lengkap dengan kuliah dan organisasi di kampus. Bukan mahasiswa yang pasif karena aku tak bisa berdiam diri menganggur. Rasa bosan itu ada tentunya, karena aku manusia biasa. Rasa stress karena tekanan di organisasi pun sempat membuatku ingin segera lari dari masa-masa itu. Lalu aku ke Jakarta selama 6 bulan. Menjalani kehidupan yang totally different! Ternyata 6 bulan itu lama juga ya.. Ternyata satu semester bisa mengajarkanmu banyak pelajaran hidup.. Ternyata satu semester bisa menyadarkanmu bahwa banyak hal sudah berubah.. dan ternyata satu semester telah meninggalkan satu per satu indahnya masa kuliahku..

 

Sekembalinya aku dari Jakarta, sempat ada perasaan ‘kaget’ dan harus perlahan menyesuaikan diri dengan kondisi saat ini, kebiasaan yang sudah banyak berubah selama 6 bulan, menikmati senangnya menyetir, dan kembali menginjakkan kaki di kampus dengan rutinitas yang sudah berubah. Aku sedih karena masa yang kujalani di kampus sekarang bukan lagi masa yang dulu. Kusadari, aku sedang dibawa perlahan meninggalkan satu per satu moment dari fase kuliah dan akan berganti dengan moment yang berbeda. Karena itu aku ingin waktu berhenti atau melambat saja.. Aku masih ingin ada di fase itu..

 

Kini di selasar gedung perkuliahanku, sulit menemukan teman seangkatanku padahal biasa kami menghebohkan Selasar C itu dan menikmati kegilaan habiskan waktu di sana. Kini aku tak begitu nyaman lagi berada di sana karena serasa bukan lagi tempat untukku, sejauh mata memandang mahasiswa angkatan bawah yang ada. Bukannya aku tak kenal, mereka akrab dengan kelompok masing-masing, lalu di mana gerombolanku? Sibuk dengan skripsi dan aktivitas lain. Serasa sepi di tengah riuhnya markas Ilkom. Banyak saat di mana aku bingung akan apa yang ingin aku lakukan. Dulu aku selalu berkuliah setiap hari sampai bosan harus ke kampus setiap pagi sampai sore bahkan malam bila ada kepanitiaan. Sekarang hanya Kamis dan Jumat saja, sisanya aku bingung dan tak kerasan dengan itu.

 

Di mana kehebohan angkatanku di tengah selasar C? Di mana kejayusan yang menggaring itu? Kini wajah-wajah mereka aku rindukan.. Kini aktivitas kepanitiaan beserta stress nya ku pun rindukan.. Semakin susah ingin bercerita dan berceloteh hal penting dan tak penting dengan mereka. Semua mulai sibuk dengan bekerja, pengerjaan skripsi, kolokium, di tempat masing-masing. Aku yang baru memasuki minggu ketigaku jadi terhenyak dan tersadar, fase kuliah ini akan segera berlalu.. Perlahan mulai berubah, kebiasaan-kebiasaan yang dulu telah berlalu..

 

Paling tidak aku tidak menyesal, karena aku benar-benar menikmati setiap kegiatan yang telah kulakukan selama kuliah. Semua jadi kisah yang mengukir senyuman di bibir ketika mengingatnya kembali. Ospek, tutorial, kelas, camp Mi Casa Se Casa, SE nasional, ComPar 07, Outbond PSU di Wonosari, Camping di Sempu, Show Your Inner Strength Camp, ComPar 08, dan semuanya..

 

Ketika minggu lalu melihat kakakku diwisuda, hm.. tak lama lagi aku akan merasakannya. Pasti lega tanggung jawab sebagai mahasiswa telah selesai. Namun, aku tak (begitu) suka perpisahan. Jadi aku juga akan sedih berpisah dengan kampus dan segala aktivitasnya, terlebih berpisah dengan teman-temanku yang masih akan berkuliah atau telah lulus dan bekerja. Tapi itu proses hidup yang harus kulalui nanti. Ingin rasanya tak segera selesaikan kuliah ini, namun itu akan jadi hal bodoh.. Huff.. Nikmatilah stress kolokium dan skripsi, walau susah tapi akan dirindukan nanti..

 

Inilah hidup.. Ia membawamu, memaksamu, menyeretmu, atau bahkan meninggalkanmu maju karena ia tak pernah bisa menunggu..

Kaitan Suka-Duka

Jakarta – 110209 – 12:22 AM

Setelah beberapa hari cooling down dari kejadian yang mengilhamiku untuk menulis post “Persimpangan Kemarin Hari Ini dan Esok“, perlahan aku mulai bisa menerima keadaan bila memang harus ini yang terjadi. Ketika berserah itulah perlahan aku mulai bisa melihat sedikit demi sedikit jawaban dari berbagai pertanyaan yang berkecamuk.

 

Salah satunya aku bertanya berulang kali, “Tuhan, Kau ingin aku belajar apa?”. Itu pertanyaan yang selalu aku lontarkan ketika aku dihadapkan pada satu masalah yang mengguncang emosiku. Tapi itu juga jadi senjata ampuh untuk menahanku agar tak semakin terperosok. Dan setidaknya jauh lebih baik daripada aku berujar, “Mengapa aku harus begini Tuhan?”.

 

Minggu ini aku kembali bersaat teduh tapi tak lagi di malam hari melainkan di pagi hari, sebelum aku beraktivitas. Aku ingin membuat diriku tenang menjalani hari karena telah terlebih dulu menyingkirkan semak belukar yang tumbuh. Pagi ini, aku mendapat salah satu jawaban dari saat teduhku, yang membuat aku tak dapat berkata-kata..

 

Di balik setiap musibah kerap tersimpan berkat. Sebaliknya, di balik berkat tidak jarang tersembunyi kesusahan.. Jangan kecil hati ketika tertimpa musibah, sebab dari sana dapat dituai kebahagiaan. Namun jangan pula lupa diri saat bergelimang berkat, sebab bisa saja kemudian akan mengalami kesusahan..

 

Beragam perkataan mutiara dari mulut manusia seringkali hanya berani dan senang mengucapkan kalimat pertama saja. Ketika ada sesamanya yang sedang berduka selalu muncul kalimat penghiburan, “.. pasti ada hikmahnya di balik semua ini..”. Salahkah? Tidak. Tapi jangan melupakan kenyataan yang bisa muncul, yang ada di kalimat kedua. Di balik berkat tak jarang tersimpan kesusahan..

 

Aku merenung sejenak dan kemudian tersungging senyum kecil nan tulus di bibirku. Aku stress mencari tempat magang sampai nyaris cuti kuliah di kala teman lain sudah tahu pasti langkah mereka selanjutnya. Tapi kemudian aku justru dapat magang di perusahaan minyak yang multinasional ini. Ketika aku senang bukan kepalang menikmati magang di Jakarta ini, aku tak tahu di kampus ada pengumuman tentang kelas yang tak akan dibuka itu. Sehingga sekarang aku terancam menambah satu semester untuk kelas ini.

 

Apakah kemudian aku menyalahkan peristiwa sebelumnya? Apakah lantas aku menyalahkan kepergianku ke Jakarta yang membuatku kehilangan informasi? Bukan dari sisi itu kulihat semua rangkaian kejadian ini. Konyol bila hanya bisa menyalahkan keadaan. Tapi memang semua telah disusun seperti itu oleh Tuhan. Segala sesuatu ada waktunya sendiri. Mengapa harus disusun kesusahan, berkat, kesusahan, berkat lagi, dan seterusnya seperti itu?

 

Karena Ia ingin aku belajar bahwa:

Apabila duka menimpamu, ingat saat suka supaya kau tidak kecil hati..

Apabila suka menghampirimu, ingat saat duka supaya kau tidak lupa diri..

Previous Older Entries

www.widiantigunawan.wordpress.com