Bertahan

Inilah bagian dari runtunan peristiwa dalam suatu perkembangan yang disebut proses..


Di kala malam datang, kesunyian menyerbak, pertanyaan itu serasa melayang-layang di antara aku yang terbaring di ranjang dengan langit-langit yang tampak gelap itu, di mana proses ini akan berujung?

Di kala pagi dan siang hari, skill-ku seakan sedang cuti untuk waktu yang cukup panjang, digantikan dengan emosi yang harus bekerja keras. Emosi yang berpacu naik dan turun, labil. Mengasah karakter yang ada di dalam sini, yang mungkin tak akan dapat kau mengerti. Kutahu ini memang akan terjadi, sebuah harga yang harus kubayar. Meski peluh tak mengalir namun tak akan kubolehkan ada air mata yang terteteskan di sini.

Terkadang kubisa lihat dengan jelas semua ini sebagai kesempatan baik untukku menjadi wanita yang lebih matang secara emosi dan kepribadian. Kupunya kesempatan untuk menjadi lebih fleksibel dengan perubahan. Lalu menjadi lulusan komunikasi yang tak hanya handal komunikasi kala mewakili perusahaan, tetapi yang tersulit, berkomunikasi dengan diri dan orang terdekatku. Hanya, gambar itu dengan segera terhapus oleh emosi.

Kuingin bisa mengerti bagaimana cara keluar dari lingkaran tak berujung ini. Masalah kecil menjadi besar dan merusak hari karena nada bicara yang naik terlampau cepat. Betapa sulitnya berkomunikasi dan memahami orang yang dilahirkan sangat dekat denganku. Mengapa menghargai itu sebegitu susahnya? Mengapa menahan emosi itu sesulit ini? Mengapa toleransi itu tak mudah untuk muncul dariku untuknya?

Kuingin bisa salurkan “grace” kepadanya. Hentikan gesekan yang terus menerus melelahkan batinku. Tak akan kubenci dirinya meski ia tak mau berubah, hanya saja kubenci sifat-sifat itu. Tak ada cara lain selain menerima. Menerimanya sebagai keluargaku, menerimanya beserta perannya dalam hidupku, menerimanya apa adanya, termasuk menerima keadaan demi keadaan ini.

Aku mengaku kalah dan aku tak berbangga untuk itu. Aku kalah oleh ego-ku yang terlalu cepat tersulut emosi. Mulut yang tak mau kalah untuk membela diri yang mungkin tidak bersalah tapi ingin membenarkan cara pikirnya jelas salah. Tak ingin aku terus begini. Sebab bila terus menerus seperti ini, aku tak juga bertumbuh secara kedewasaan emosi. Aku tak kan menjadi orang yang lebih baik dari hari kemarin.

Ku bukan malaikat. Bila kau tak mau berubah, ya sudahlah. Namun, aku harus bisa memahamimu dan memahami semua ini. Anggap saja, kau harus ada di sana, menyebalkan buatku, bagi proses ini. Tunggulah, kuakan segera temukan cara untuk beranjak dari lumpur hisap yang tak menguntungkan kita berdua ini. Kuakan tepati janjiku, tujuan awalku kembali kemari. Kusyukuri hadirmu untuk proses ini, kuakan sanggup bertahan dan ditempa demi proses ini, prosesku..

If you want the rainbow, you must to put up with the rain.


Krwci | 140611 | 5:50PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

www.widiantigunawan.wordpress.com
%d bloggers like this: