A Goodbye to the Compass of My Life

Setiap kehidupan memiliki cerita. Cerita yang baik untuk diteladani, dan cerita yang buruk untuk dipelajari agar tak perlu terulang kembali dan dijauhi. Tergantung pola pikir manusia yang melihatnya. Aku memilih untuk menjadi seorang pembelajar, karena hal buruk hanya akan menjadi trauma bila tidak diterima dan dihadapi. Dan setiap cerita bersama dengan Tuhan, akan selesai dengan baik pada akhirnya.

com·pass [kúmpəss, kómpəss]

noun (plural com·pass·es)

1. direction finder: a device for finding directions, usually with a magnetized needle that automatically swings to magnetic north

2. personal direction: a sense of personal direction

3. scope: the scope of something such as a subject or area of study

4. hinged device for drawing circles: a device for drawing circles or measuring distances, e.g. on a map, that consists of two rods, one pointed, the other often holding a pencil, joined by an adjustable hinge (often used in the plural)

Microsoft® Encarta® 2006. © 1993-2005 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Ia seorang laki-laki yang suka kutemui saat kecil. Setiap liburan sekolah tiba, aku dan kakak selalu siap untuk packing lalu pergi ke Semarang. Bahkan kami yang masih SD pernah pergi berdua dengan travel karena papa dan mama sedang ada kesibukan lain. Saat mudanya, ia pernah belajar fotografi dan bertemu dengan sang istri karenanya. Kemudian ia menjadi seorang pengusaha kayu jati yang sukses. Menjelajah Jawa Tengah untuk mencari kayu yang terbaik, setidaknya itu yang diceritakan anak-anaknya.

Bila kami ada di Semarang, ia mengajak kami pergi bermain ke Sri Ratu, mengantar kami makan nasi ayam, loenpia gang Lombok, pergi menginap di Bandungan, pergi ke pabrik tahu favoritnya di Bandungan, membawa kami ke Museum Kereta Api Ambarawa, membelikan hadiah, mengijinkan kami memanjat pohon belimbing di halaman rumahnya, mengajariku kebiasaannya di pagi hari yaitu memetik daun yang sudah menguning di pohon di belakang kamarnya. Aku mencoba mengingat berbagai hal menyenangkan yang pernah kulalui bersamanya dulu.

Lalu ada satu masa di mana kepahitan itu muncul. Ia seorang pengusaha kayu jati dan suatu kali ia ditipu dalam jumlah besar oleh seorang pelanggan, yang tak lain adalah seorang pelayan di gereja. Sejak itu kepahitan muncul dan kekecewaan itu tidak terobati, hingga tak tersembuhkan. Ia menolak untuk kembali datang ke gereja sejak saat itu karena ia melihat kemunafikan di sana. Sampai puluhan tahun kemudian, Ia tak pernah mau kembali lagi ke gereja.

Kepahitan yang tak terobati itu menjadi sebuah kondisi hati yang tidak sehat. Pemberontakan menjadi pintu masuk untuk hal tidak baik lainnya. Kekecewaan membuatnya lari dari kebenaran. Sebuah batu sandungan membuatnya pergi menjauh dari Kasih yang sejati. Entah sadar atau khilaf, tapi aku percaya bahwa manusia selalu bisa memilih untuk tidak dikalahan dengan keadaan.

Ya, ia tidak menghiraukan pasangan sejatinya. Ia pernah memilih jalan yang lain. Melukai yang mencintainya. Berlari terlalu jauh hingga tak sanggup kembali. Menjauhi terang dan membiarkan kegelapan menguasai hidupnya. Keselamatan adalah anugerah, tetapi respon terhadap keselamatan itu adalah tugas dan tanggung jawabmu. Aku belajar darinya, untuk tidak akan pernah mau jauh dari Tuhan. Agar tidak ada kesempatan bagi dosa untuk menjauhkanku semakin jauh dan tersesat.

Selama bertahun-tahun, Bebe remaja pernah sangat marah dan tak mau lagi pergi ke Semarang untuk menemuinya. Aku malu. Aku membencinya. Bahkan tak mau menyebut namanya dalam doaku. Namun, wanita luar biasa itu yang tak lain adalah istrinya, justru berpesan: “Jangan membencinya, Be. Bantu aku untuk mendoakannya. Aku percaya Tuhan memanggilnya kembali pulang, dan ia akan kembali.” Masa yang sulit. Cinta nyata wanita ini, dan kasih Tuhan yang membuatku bisa memberikan pengampunan baginya. Ya, aku sudah memaafkan kakekku. Benar, laki-laki ini adalah kakekku.

Aku belajar untuk mendoakannya. Karena bila nenekku yang disakiti sedemikian dalam bisa mengampuninya, aku tak pantas membencinya. Aku berdoa agar Tuhan melembutkan hatinya dan mau menerima Tuhan kembali. Suatu hari Kong-Kong bisa menyadari cinta sejati Bobo untuknya. Aku ingin Bobo bisa berjumpa dengan Kong-Kong di Surga nanti. Aku minta Tuhan menyapanya lewat sinar matahari pagi yang masuk ke jendela kamarnya, melalui hijaunya dedaunan di halaman rumahnya, Tuhan menyapa di dalam mimpi-mimpinya. Bila kondisi ingatannya semakin menurun, biarlah hanya hal baik bersama Tuhan saat muda dulu yang tertinggal di sana.

Beberapa tahun ini, ketika kondisi kesehatannya menurun, setiap kali ke Semarang, aku selalu menyempatkan waktu untuk berdoa bersama denganNya. Aku sangat bersyukur, karena Ia mau berdoa. Aku masih ingat, saat itu sekitar Natal 3 tahun lalu, malam sebelum aku kembali ke Surabaya, aku memberanikan diri untuk bertanya, “Kong-Kong, apa yang mau Bebe doakan?”, di depan Bobo ia menjawab, “Doakan biar selamet.” Aku mengartikannya sebagai keselamatan. Bagaimanapun, ia tetap menginginkan keselamatan. Air mata pun tak tertahankan..

Satu hal yang aku selalu yakini, Tuhan mencatat semua doa yang tak pernah henti dinaikkan oleh Bobo dengan iman, bahwa suatu saat ia bisa berjumpa dengan suaminya di Surga. Tuhan melihat cinta dan kesetiaan luar biasa yang Bobo miliki. Tuhan pasti menjawab doa yang kami naikkan untuk keselamatan Kong-Kong.

Setelah saat itu, daya ingatnya semakin menurun. Suatu pagi, Bobo menelepon ke Surabaya dan berkata, Kong-Kong bermimpi bahwa aku bersekolah di luar negeri. Aku hanya kaget karena ia sudah mulai lupa akan cucu-cucunya. Namun, aku tersenyum dan mengamininya.

Ia sudah tidak lagi mengingatku saat bulan Juni lalu aku mengunjunginya di Semarang. Tak apa, karena saat itu aku menyaksikan sebuah pemandangan yang jauh lebih berarti. Saat itu Bobo sakit, di saat yang sama kondisi kesehatan Kong-Kong menurun. Meski ketika bersama selalu muncul pertengkaran, saat itu Kong-Kong berujar, “Aku mau lihat istriku di ICU!”. Sesulit apapun itu, aku dan adikku membawanya yang sudah tak lagi bisa berjalan, untuk bisa masuk ke ICU. Dengan perkataan yang terbata-bata, Ia masih bisa bilang, “Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit yang terbaik?”. Ya, cinta itu masih ada di sana. Dari tatapan itu aku tahu, cinta itu masih ada.


Lie Yauw Tjoen atau Mulyono Budi Santoso, adalah kakekku yang mengajarkan banyak hal penting untuk kehidupan ini. Bagiku, ia adalah kompas yang menunjukkan arah yang benar, dan juga arah yang tak perlu untuk kutuju. Seperti kompas yang mempunyai dua ujung jarum. Tepat 10 hari setelah ulang tahunku ke 26, Tuhan memanggilnya ke sisiNya. 15 September 2013, Minggu pagi, tepat saat aku dan adik harus melayani di tim musik di gereja.

Darinya aku belajar bahwa dengan bekerja keras, kesuksesan itu bisa diraih meski usia masih muda. Dari kisah hidupnya aku mengingatkan diri untuk tidak munafik, bahwa kekristenan itu bukan hanya agama atau di gereja semata, kekristenan itu seluruh aspek kehidupanmu yang disaksikan oleh dunia. Dari perjalanan hidupnya, aku jadi sangat membenci perselingkuhan dan menghargai benar arti kesetiaan. Aku membenci lelaki yang main tangan terhadap wanita. Aku harus mengunjungi berbagai tempat di belahan dunia lain selama aku punya kesempatan.

Aku belajar untuk memberikan pengampunan, karena bagaimanapun tanpa Kong-Kong, Bebe tidak akan ada di hari ini. Aku belajar untuk menyadari siapa yang patut dicintai, yaitu mereka yang mencintaimu dengan tulus, selalu menyebutkanmu dalam doanya, sanggup menerimamu apa adanya, dan selalu menantimu kembali. Cintailah mereka yang mencintaimu. Waktu hidup ini tak panjang, jangan ada penyesalan di sana.

Selamat jalan Kong-Kong. Tidak ada penyesalan yang tertinggal di hatiku, justru kedamaian karena sebelum menutup mata, Kong-Kong berujar: “Aku mau pulang ke Rumah Bapaku.” Itu meyakinkanku bahwa Tuhan melihat iman Bobo dan menjawab ribuan doa yang dinaikkan untuk suami tercintanya.

Tuhan memanggilmu kembali padaNya di Minggu pagi, bahkan kau tahu tepat kapan perjalanan hidupmu akan tiba di garis akhir pertandingan, jam 7 pagi. Semoga itu pagi yang paling indah buat Kong-Kong. Tuhan sangat sayang Kong-Kong. Terima kasih sudah menjadi sebuah kompas bagi hidupku. Aku akan meneruskan kisahmu ke anak cucuku. Sampai jumpa di Surga nanti. Mungkin bukan cerita yang luar biasa, namun yang pasti ini adalah akhir yang teramat baik. I love you, Kong-Kong.

Ecclesiastes 3:1-2 | To everything there is a season, and a time to every purpose under the heaven: A time to be born, and a time to die; a time to plant, and a time to pluck up that which is planted.

Surabaya, 150913, 21:15 PM.

This post is the sequel of The Legend of My Superwoman.

Advertisements

D R E A M

Mimpi adalah hal yang kau lihat saat matamu tertutup dan terpejam dalam tidur lelapmu. Mimpi membutuhkan keberanianmu untuk melihatnya dan menjaga gambaran itu untuk tetap jelas ada di sana di kala mata telah terbuka.


Apakah mimpimu? Mimpi atau visi, hal baik yang ingin kau lihat dan capai suatu hari nanti, karena kau pernah melihat gambaran itu bagai film singkat dan membayangkannya terus menerus saat matamu terpejam. Setiap manusia pasti dan harus mempunyai mimpi. Karena itu yang akan membuatmu bergerak dan menarik langkah kakimu menuju ke sana, bagaikan dua kutub magnet Utara dan Selatan.

Banyak orang yang takut bermimpi. Banyak orang yang tak berani menjaga mimpi itu untuk tetap nyata di sana. Banyak orang yang tak berani membagikan mimpinya pada orang lain karena resiko ditertawakan dan dibodoh-bodohkan. Akhirnya banyak mimpi indah yang jadi terbuang dan ditinggalkan.

Aku adalah orang yang sangat menghargai mimpi-mimpi orang lain, terlebih mereka yang kusayangi. Sebab kutau susahnya berani bermimpi. Kumelihat betapa sulitnya mempertahankan mimpi, di kala sekeliling menyebutnya tak masuk akal. Kusaksikan senyum penuh keyakinan menceritakan mimpi yang indah itu, tapi dibalas dengan “cih..” yang sinis. Kurasakan betapa menyakitkannya hati untuk terus berjuang meraih mimpi di dunia nyata, di kala tak ada yang mendukung bahkan mengolok dan menjatuhkan langkah demi langkah kaki itu.

Apakah salah orang bermimpi? Tidak. Apakah semua mimpi pasti bisa terwujud? Tidak. Namun, tak sedikit mimpi tak masuk akal yang sudah terwujud di kehidupan ini. Banyak hal besar yang tercipta karena berawal dari orang-orang yang berani bermimpi.

Dari mana asalnya mimpi-mimpi itu? Aku masih percaya pada alur pemikiranku ini. Setiap manusia diciptakan karena ada tujuan masing-masing. Sebut saja aku. Bagaimana kubisa genapi tujuanku bila aku tak tahu apa itu? Kenalilah dengan senjata yang diperlengkapkan di diri, yaitu talenta. Tak mungkin senjataku yang dibekalkan padaku adalah selang air bila fungsiku adalah memasak di dapur bukan? Talenta yang adalah senjataku itu membuatku tahu di mana ladang potensiku berada. Bila selang air adalah senjataku maka aku harus berada di kebun mungkin, bukan dapur.

Selain “tanda” demi “tanda” untuk memperjelasnya, kuyakini satu hal, Penciptaku sanggup memberiku “desire” dalam hatiku. Kerinduan yang tetap ada di sana sehingga membantuku memahami semuanya. Sulit untuk didefinisikan memang, tapi bila kau telah mendapatkannya makan kau pasti bisa mengerti. Untuk memastikan itu adalah buaianmu belaka atau “desire” yang ditinggalkanNya untukmu, bertanyalah pada dirimu bagaimana hubunganmu denganNya?

Gabungkanlah semua hal yang tampak abstrak ini, asahlah senjatamu, kenali ladangmu, layakkanlah dirimu, dan lakukanlah terbaik yang kau bisa selangkah demi selangkah. Perlahan tak apa-apa asalkan kau tidak berhenti. Tuhan yang akan kerjakan bagianNya kemudian yaitu bukakan pintu-pintu yang akan kau lalui. Selebihnya, bermimpilah yang besar bukan hanya untuk ego diri semata tapi untuk bangsa negaramu, yakinilah dan hidupilah gambaran mimpimu itu.

Bukan hal yang mudah memasukkan mimpi yang belum nyata itu ke dalam kehidupan yang nyata ini. Terlebih jika yang nyata ini berbeda dan serasa jauh dari latar tempat dan waktu mimpi itu. Percaya saja bila kau layak untuk mimpimu itu. Karena dengan mempercayainya, Tuhan bisa menarik orang-orang lain yang bervisi sama mendekat padamu untuk membantumu mewujudkannya.

Jangan menyerah pada keadaanmu. Bertahanlah meski itu berat. Temukanlah orang-orang yang bisa mendukungmu, karena perjalanan itu bisa jadi panjang dan melelahkan. Biarkanlah Tuhan berkarya dalam hidupmu melalui mimpi-mimpi indah yang Ia titipkan. Bila bukan kau yang berani melihat, menjaga, menghidupi, dan mewujudkannya, mungkin mimpi itu akan pergi berlalu mencari mereka yang lebih layak, lebih berani mengambil resiko dan membayar harganya supaya ia tetap terwujud.

No eye has seen, no ear has heard, no mind has imagined, what God has prepared, for those who love Him.. 1 Corinthians 2:9

Krwc | 060611 | 4:31PM

Disconnect to Connect

 

 

Pernahkah kau merasa terabaikan oleh sekelilingmu justru di saat kau ada nyata di depan mereka? Pernahkah kau merasa berada di dunia yang berbeda padahal kau yang sedang berada di dunia nyata? Pernahkah kau menjadi asyik menikmati dunia nyatamu sendirian meski sebenarnya kau sedang tak sendiri?

Aku pernah, cukup sering malah. Entah perlu tak bertanya itu benar atau salah, siapa yang benar atau siapa yang salah. Namun yang pasti itu kondisi dunia yang kau tinggali saat ini. Keberadaan blackberry (BB) sebagai wujud kemajuan teknologi, memudahkan manusia dalam berkomunikasi tetapi di sisi lain juga memutarbalikkan semuanya bagai kaki di kepala, kepala di kaki. Karena nyata menjadi semu, semu menjadi nyata. Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.

Situasi di mana aku yang kala itu tak ber-BB, kemudian menjadi pengguna BB, dan kini kehilangan BB memberikan sisi baik tersendiri bagiku. Aku tak lagi menjadi manusia yang selalu lengket dengan benda satu itu. Aku sadar, aku pun pernah menjadi “apatis” sendiri. Aku tak berujar selayaknya dewa yang tak pernah salah, tetapi situasiku saat ini membuat aku menjadi berkaca dan ingin berbagi pemikiran lain.

Aku jadi teringat topik dan pembahasan skripsiku. Kemajuan teknologi dalam bidang komunikasi dalam dekade terakhir ini teramat pesat, bangga kah kita? Tentu saja. Semua seakan dimudahkan dan dimurahkan, tak perlu surat dan perangko, telepon dan pulsa, atau kartu ucapan di hari raya.

Kini ada internet dan semua beres. Melek-lah akan teknologi sedikit, ya hanya itu yang kau perlukan. Email, messenger, webcam, situs jejaring sosial, blackberry messenger semua hanya sejauh tombol yang perlu di-“klik”. Mudah, lebih murah, instan, dan jarak sudah tak lagi berarti. Betapa hebat dan jauhnya perkembangan dunia karenanya.

Tapi berhati-hatilah, kemajuan teknologi beserta peralatan canggih yang dihasilkannya itu bagai koin dengan kedua sisinya atau pedang bermata dua.

Apakah itu berarti hal yang buruk? Buruk bila kita sebagai manusia, tak lagi bijaksana menyikapi semua itu. Semua ada untuk membantu kehidupan jadi lebih baik, syaratnya: digunakan sesuai porsi yang pas. Benda mati tak bisa dikambinghitamkan. Benda bisa jadi baik atau jahat, tergantung manusia yang menggunakannya. BB akan menjadi benda yang menyenangkan ketika kita gunakan untuk hal yang tepat, di saat yang tepat.

Poin lain yang kusarikan dari skripsi kualitatif itu, media komunikasi tradisional tak bisa sepenuhnya tergantikan oleh media komunikasi modern saat ini. Media yang baru, ada untuk mengisi kekurangan yang lama, bukan menggantikan! Ada banyak sisi baik yang dimiliki oleh sarana tradisional dan tak dimiliki oleh yang baru.

Sadarkah di kala teknologi itu sudah ada di tangan, komunikasi tatap muka menjadi jauh berkurang? Face to face communication memiliki kelebihan yang tak tergantikan, ia dapat menyampaikan perasaan yang tak tersampaikan oleh media modern. Bisa saja bahasa nonverbal itu disampaikan secara verbal atau lewat kata-kata yang tertulis, tapi kedekatan perasaan personal jauh lebih terasa ketika tradisional yang digunakan.

Salah satu media modern yang menjadi milik sejuta umat saat ini, BB. Ketika kau menyentuh BB itu, sadarkah kau seakan terhisap masuk ke dalam dunia tersendiri dan meninggalkan dunia nyata tempat kakimu berpijak? Tak apa bila kau sedang sendiri karena tak ada yg kau tinggalkan di dunia nyatamu, justru kesendirian menjadi sirna ketika tombol itu ditekan. Ada BBM, twitter, facebook, dan kawan-kawannya yg selalu siap menyambut.

Ketika kau beralih ke dunia maya sana, di luar sini mungkin hal-hal baik sedang terjadi dan semoga kau tak melewatkannya. Senyuman orang-orang di sekitarmu, tatapan mata mereka yang mengasihimu, orang yang kau kenal mungkin lewat tanpa sapaanmu, orang-orang yang mungkin membutuhkan bantuan dan senyummu, perkataan penting dan penuh arti, sinar mata yang terpancar, dan gerakan nonverbal lainnya.

Mari kembali periksa diri, untuk apa BB kita beli dan gunakan? Untuk membantumu lebih mudah dan murah dalam berkomunikasi mungkin, atau pekerjaan menuntutmu berhubungan dengan teramat banyak orang, atau karena semua orang menggunakannya dan kau tidak? Semoga memang bisa menjawab kebutuhanmu dan digunakan sesuai tujuan, tetapi ingatlah kawan yang bijak, kebutuhanmu bukan hanya terpenuhi karena BB dan jangan biarkan BB justru mengganggu pemenuhan kebutuhanmu yang utama.

Semoga kau dan blackberry-mu bisa menjadi sinergi yang baik, dan justru bukan membuatmu acuh akan sekelilingmu tanpa kau sengaja. Semoga di kala blackberry itu menempel di jemari-jemarimu, tak ada sosok yang tiba-tiba lenyap bagi orang-orang yang mengharapkanmu ada untuknya, bukan hanya ragamu semata. Semoga tak ada senyuman dan tatapan serta perkataan penting yang jadi terabaikan olehmu.

Biarlah orang bijak yang mengendalikan blackberry dan bukan sebaliknya, ia biarkan blackberry yang mengendalikannya. Segala sesuatu yang berlebih porsinya itu tak baik, kawanku.

Semua tombol-tombol peralatan teknologi abad ini adalah pintu ke mana saja. Pintu yang membawamu ke dunia maya. Namun, bijaklah karena pintu yang sama itu juga yang membawamu pergi meninggalkan dunia nyata..

 

 


 

 

 

 

Krwc | 140511 | 10:40PM

The Legend of My Superwoman

This is a legend about Imanuel Herowaty Santoso..

Wanita ini bukan wanita biasa. Ia salah seorang wanita terhebat yang pernah kujumpai dalam hidupku.

Aku cukup jarang berjumpa dengannya, karena ia ada di belahan dunia yang berbeda denganku. Saat aku masih remaja, mungkin liburan sekolah adalah saat aku bisa berjumpa, bermain dan menghabiskan hari-hari di kediamannya.

Wanita ini lahir dengan nama, Imanuel Herowaty Santoso, lahir pada 12 November 1927. Ia cantik, pintar memasak, pintar menjahit, pintar merangkai bunga, dan menguasai English, Chinese, and Dutch. Di masa mudanya, ia membuka florist dan studio foto bernama VAVA di Jalan Pemuda, di kotanya. Berbagai-bagai tipe karangan bunga pernah dihasilkannya, hand bouquet, karangan bunga pernikahan, dukacita, dll, sayang aku belum lahir kala itu. Konon, pada zaman penjajahan Belanda itu, studio dan florist-nya cukup terkenal di kota itu. Bertemu dengan Lie Yauw Tjoen – Mulyono Budi Santoso yang belajar fotografi di studio foto milik ayahnya tersebut, hingga akhirnya menikah.

Aku masih ingat, ia sering memasakkanku sosis babi, berwana cokelat kehitaman, dengan manisnya kecap, ya aku menyukainya sejak kecil. Salah satu hal lain yang aku masih ingat betul ia suka memandikanku, menggaruk bagian punggungku dengan kukunya yg runcing rapi itu, aku selalu berteriak kegelian, tapi ia berkata dengan begitu mandi jadi benar-benar bersih.

Bila sampai hari ini aku jadi pecinta tanaman, itu adalah salah satu pengaruh besarnya. Bermacam jenis tanaman pasti hidup subur di pekarangannya. Beberapa bisa dipetiknya dan dimasak bersama masakan kami. Setiap sore aku diajaknya berbasah-basah menyiram tanaman. Bebe kecil juga diijinkan memanjat pohon belimbing yang berbuah banyak sekali kala itu. Teorinya tentang air seni yang bisa menyuburkan tanaman selalu kuketawakan, tapi akhirnya aku tau bahwa itu benar adanya.

Aku yang tak pernah merasa rajin tetapi Tuhan selalu beri hadiah rangking yang baik saat sekolah, membuatku selalu diberinya kado karena prestasi itu. Ia bangga aku pandai. Bebe kecil tak tahu apa arti semua itu, hanya kado yang kuterima, bermain di Sriratu, dan pergi ke Bandungan lah yang kutahu saat itu.

Saat aku beranjak lebih besar, aku melihat kenyataan akan kejamnya dunia. Begitu pula dengan dunia yang dihidupinya. Pertengkaran yang harus dihadapi setiap hari dengan orang yang paling dicintai. Rasa disakiti bertahun-tahun oleh orang yang paling dicintai. Diperlakukan tak adil dan tak semestinya oleh orang yang paling dicintai dalam hidup. Meski dengan lebam dan pengkhiatan ia tetap bertahan.

Aku yang kala itu sedang tumbuh secara emosi, melihat kenyataan itu dari kacamata seorang remaja. Sebagai wanita remaja aku ingin berteriak, ingin membantunya, tapi aku tak bisa lakukan apapun kala itu. Aku hanya bisa melihat dan mendengar dari jauh, dan menangis dalam hati. Aku tak henti terus bertanya pada Tuhan tentang ketidakadilan yang kulihat kala itu.

Pernah dalam satu masa, ia berpindah ke rumahku. Aku cukup senang seakan bisa mengasingkannya dari penjara dunia. Aku berusaha lakukan hal-hal apapun yang bisa menyenangkannya. Beri kejutan kecil di hari ulang tahunnya. Aku terus berusaha banggakan dirinya melalui prestasiku. Berharap itu bisa menjadi secuil penghiburan baginya. Aku masih ingat, saat itu aku menjuarai salah satu kompetisi menyanyi dan saat itu ia ada di sana, ia datang saat pengumuman pemenang. Masih terekam jelas gambar itu bagai film yang terputar di bayanganku, hampir semua orang yang datang di sana, menyalaminya karena aku juara 1. Dari jauh, aku mengamati dalam diam dan tersenyum puas, aku melihatnya tertawa dan tersenyum bangga saat orang-orang tau siapa dia bagi si juara 1 ini.

Ingin sekali tetap menahannya di Surabaya, aku tak rela hidup terus menerus jahat padanya. Tapi ia hanya bertahan beberapa minggu dan berujar bahwa dirinya tak bisa berada jauh dari orang yang ia cinta. Ia mau kembali ke tempatnya, meski itu berarti harus kembali kepada kenyataan yang menyakitkan. Namun, ia bilang ia rindu pada kekasih hatinya itu. Ia bilang padaku, “Saat menikah, aku sudah berjanji di hadapan Tuhan, bahwa apa yang telah disatukan Tuhan tidak boleh dipisahkan oleh manusia..”. Tak ada yang bisa menahannya, dan aku hanya bisa bertanya dalam hati pada diriku sendiri, di mana batasan antara setia dan bodoh? Beri tahu aku di manakah bedanya??!

Aku marah sekali pada sosok yang menyakitinya. Jujur saja, aku bahkan pernah membencinya karena terbutakan dunia sehingga tak melihat wanita luar biasa ini, mungkin sedetik pun tidak. Tapi wanita itu hanya berujar, “Jangan begitu Be, tapi kamu harus terus mendoakan dia. Bantu aku berdoa untuknya. Aku yakin Tuhan akan merubahnya suatu hari nanti. Kamu juga harus percaya. Aku tak apa-apa.”. Aku hanya tahu hidup dari kacamata anak remaja yang beranjak dewasa, tak sampai logika untuk berpikir demikian. Mungkin aku akan lari karena tak tahan dengan kejamnya dunia yang bahkan bisa mengancam keselamatanku. Namun, wanita hebat ini membuat pilihan untuk tetap ada di sana.

Baginya, semenyakitkan apapun, ia tak bisa jauh dari sosok itu. Ia ingin bisa selalu di dekatnya meski itu berarti harus siap disakiti. Cinta tulusnya membuatnya bertahan di neraka dunia. Cinta membuatnya tampak bodoh bagi manusia, tapi tidak demikian di mata Tuhan. Cintanya mampu kalahkan dendam dan kebencian. Cintanya mengajarkanku arti kesetiaan bukan kebodohan seorang wanita. Cintanya menjadi bukti bahwa setia dengan iman di dalam Tuhan tidak akan sia-sia. Cintanya membuatnya jadi wanita terhebat di mataku.

Semua itu membuatku bangga, di dalam hidupku, Tuhan beri aku kesempatan yang tak kan tergantikan. Aku boleh menjadi saksi hidup dari wanita yang luar biasa mengagumkan ini. Penderitaan yang ia alami mengubahnya jadi permata yang berkilau bagiku. Hidupnya mengajarkanku arti kesetiaan dan iman. Aku bangga bisa memanggil wanita ini Bobo. Indah sekali kalimat yang pernah disebutnya itu, “Bobo bangga punya cucu seperti Bebe..”.

Ya, dia nenekku, dia Boboku, Ibu dari Ibuku. Satu-satunya nenekku yang masih ada setelah Tuhan panggil nenek dari ayahku kala aku masih SMP. Kakekku pernah melakukan kesalahan fatal dalam hidupnya, yaitu tak bisa menyadari bahwa ia memiliki wanita luar biasa ini yang teramat sangat mencintainya. Namun, karena itu pula, Bobo jadi indah dan semakin indah seperti ini. Aku pun sudah bisa mengampuninya karena tanpa Kong-Kong ku, tak akan ada Bebe di hari ini. Yang terpenting, aku tahu Tuhan pasti mengampuninya.

Kini, masa tua menahan mereka berdua di rumah yang sama. Raga yang tak lagi cukup kuat menikmati indahnya dunia di luar sana. Mereka hanya bisa habiskan waktu berdua di rumah itu. Tak apa Bobo, nikmatilah masa-masa ini. Lakukan apa yang Bobo ingin lakukan, aku ingin Bobo bahagia, karena Bobo sangat layak mendapatkannya. Aku hanya ingin engkau tahu, aku bersyukur Tuhan beriku kakek nenek yang luar biasa. Mengajarkan padaku tentang ilmu kehidupan melalui lika-liku hidup kalian. Aku tahu, Bobo tak pernah berhenti berdoa untuk cucu-cucunya dan mengharapkan masa depan yang terbaik buatku dan yang lainnya. Terima kasih, Bo..

Maaf, hidup membawaku jauh di belahan dunia yang lain lagi sekarang. Hanya dalam doa setiap malam aku bisa menjumpai kalian. Namun, aku janji setiap kali kesempatan itu datang, aku akan menengok kalian di Semarang sana. Aku tak ingin ada penyesalan apapun nanti, jadi kukatakan yang harus kukatakan, kutuliskan yang harus diketahui anak cucuku nanti, kuucapkan yang harus kalian dengar sekarang, bahwa cucumu ini menyayangi dan selalu merindukan kalian. Aku akan terus menulis surat dan mengirimkannya, setiap kali ada waktu untuk itu. Seperti yang sering kulakukan saat aku kecil dulu, menulis surat untuk Bobo dan Kong-Kong. Semoga surat-suratku dapat menjadi sedikit penghiburan ketika Bobo dan Kong-Kong membacanya sambil berbaring di tempat tidur.

Terima kasih untuk ketangguhan yang kau tunjukkan, Bobo.. Aku tahu bahwa di balik lelaki hebat pasti ada wanita hebat di belakangnya. Bobo, kau tahu, hidupmu adalah inspirasi untukku. Aku ingin menjadi wanita hebat, agar aku bisa membuat pasanganku kelak jadi lelaki yang lebih hebat.

Ingin rasanya aku berlari ke sana sekarang, memeluk Bobo dan bisikkan, “Bebe sayang Bobo..”. Ingin masuk ke kamar Kong-Kong, berlutut di samping ranjangnya dan bisikkan, “Bebe sayang Kong-Kong dan ada Tuhan yang akan selalu menunggu Kong-Kong kembali..”. Ik hou van je, Ik hou van je..

Some people want diamond rings, some just want everything, but everything means nothing, if I ain’t got you.. (Alicia Keys – If I Ain’t Got You)


Bebe | Karawaci | 090411 | 12:59PM

BB Tak Ber-BB, lagi!

Pagi tadi, di kala langit masih gelap, rasanya aku masih sempat memutar God of My Days by Gateway Worship di BlackBerry setelah alarmnya kumatikan. Benda itu telah membangunkanku dan membantu mengumpulkan butir-butir kesadaranku. Mungkin itu salah satu hal baik yang telah dilakukannya sebelum berpisah denganku dan hilang di siang harinya.


Ya, BlackBerry warisan ayahku yang baru kupakai resmi menjelang kepindahanku ke Jakarta itu hilang karena kecerobohanku. Ya, aku mengakuinya, dengan alasan apapun itu, benda itu hilang karenaku.

Di taxi express itu, aku duduk di depan untuk mengurangi rasa pusing. Siang itu aku, kakakku, dan rekan kerja kami sedang berpindah tempat dari pertemuan yang satu menuju janji yang lain di Pasific Place. Setelah membalas YM dari salah seorang teman, Storm tak kumasukkan langsung ke dalam tas seperti biasanya, tapi di pangkuanku. Sementara aku mengeluarkan peralatan berbenah diri sebelum bertemu orang penting lainnya. Ketika tiba di PP, aku beranjak dari taxi, dengan hanya melihat kursi itu kosong. Sepertinya Storm terpelosok ke karpet di bawah sana dengan posisi “silent” yang belum berubah.

Kaget dan cemas itu yang pertama kali merasukiku. 1-2 menit setelah beranjak dari taxi, melangkah di lobby, melewati mesin keamanan, aku tahu sesuatu tidak beres terjadi. Kuhentikan langkahku, memeriksa isi tas, dan yap! Si 9500 itu lenyap.

Sehari yang lalu kotbah di JPCC mengingatkan bahwa 96% dari kecemasan kita tidak ada sisi positifnya untuk diri. Aku segera memaksa diri untuk hanya cemas dengan kadar paling mendekati 4% yang kubisa. Aku duduk, dan menyadari apa yang bisa kulakukan. Dengan segera semua bagai film berputar cepat di pandanganku. Taxi telah pergi. Aku tak ingat nomor taxi itu. Baik kakak ataupun rekanku juga tak ingat. Storm silent. Kutahu tipis kemungkinan untuk menemukannya kembali. Lalu?

Coba telepon! Kutelepon berharap ada yang mengangkatnya, ada nada tapi tak terjawab. Berkali-kali bahkan BBM dari temanku juga delivered. Ke-silent-an mu berhasil Storm! Lalu?

Semua akun social networkku masih sign in dan bisa berbahaya di tangan orang tak bertanggungjawab. Tapi tak ada laptop. Cari teman yang bisa mengaksesnya. Tak ada satupun nomor teman kusimpan di PDA yang baru ter-restart dengan kartu baru berumur 4 hari. Adik kuhubungi tak tersambung. Kubongkar dompet dan kutemukan slip pengiriman barang ke salah satu teman baikku dan ada nomornya di sana. Kutelpon dan dia berujar yang akan mengurus penggantian semua passwordku. Oke, what more can I do then?

Nothing..! And I don’t like it. I’m finding myself feel guilty. Half of me blaming the rest of me because of the foolishness I just did. I don’t blame anyone else because I clearly see that it’s my fault. So I need time to relax and controlling the dilemma inside me. I need to pray!

I don’t feel bad for the lost because I know that every single thing that I have in this world, is never mine. Those all belong to Him, the One who give me the responsibility to take a good care of them. I’ve learned to not attach too much with them, because they were given and they will be taken away by the Owner. But I apologize; I didn’t take care of it nicely so that it’s gone now. If God want it back to me, it’s too easy for Him to make it happen. But maybe, there’s another person needs Storm more than me now. Just, forgive him because taking something which not his.

I know it’s a precious lesson for me. I learn to let go. And learn to forgive myself. Aku telah ceroboh meski aku bukan orang yang ceroboh. Sangat jarang kecerobohan itu terjadi tapi sekali-kalinya terjadi, akibatnya cukup fatal. Aku yang setiap kali naik taxi selalu menyapa nama pengemudinya dan menghafal nomor, saat itu terlewatkan meski info tersebut tertempel di depanku persis. BB yang selalu kumasukkan tas, tak langsung dengan sadar kulakukan. What’s ALWAYS means? Once you are not, it could never be said as ALWAYS.

Aku menyesal tapi aku pun harus sadar bahwa aku bukan manusia super yang tak pernah lalai. Aku perfeksionis tapi tetap manusia biasa. Bisa salah dan harus mengakui bila memang salah lalu berbenah.

Ini terjadi di kala aku sedang memulai lembaran baru, merangkak dari nol di ibukota, di duniaku yang baru. Daripada berlarut menyayangkannya, maka aku harus bekerja lebih keras lagi untuk menggantinya. Memasukkannya ke dalam daftar rencana keuanganku untuk mencukupkan diri sehingga bisa membeli yang baru tanpa merusak tatanan financial.

Aku pun berterima kasih, beberapa teman-teman Date Karawaci 1 masih memberikan perhatian mereka. Meski sederhana di twitter dan mengajakku hangout, menghubungi pihak express, sampai memastikanku fine, itu semua menyemangatiku. Meski aku masih newbie di tengah mereka.

Wow, ku telah mempraktekkan ilmu baru yang kudapat di gereja kemarin. Aku bisa mengurangi rasa cemasku lebih cepat dari biasanya karena hal yang di luar kontrolku sebagai manusia itu bukanlah bagianku. Ku sudah lakukan terbaik yang kubisa dan aku berdoa. Sebanyak-banyaknya hal yang kupelajari, aku tuliskan, karena uang sekolahku kali ini cukup mahal, BlackBerry 9500 Storm. Dan BB kembali tak ber-BB lagi.. 🙂

You give and take away, but my heart will choose to say: Lord blessed be Your name!

Karawaci | 280311 | 11:45 PM

Well Done, Teknik Presentasi A – DKV

Sebuah kelas unik di masa pembelajaranku sebagai dosen baru. Kelas yang sangat amat banyak mahasiswa melebur menjadi satu kelas, yakni DKV – Teknik Presentasi kelas A. Lebih tepatnya 55 nama, dikurangi 1, yap 54 mahasiswa unik ada di kelas ini.

 

Kelas ini mengajarkanku banyak hal. Menengok dan mencoba memahami dunia anak-anak desain yang sosial tapi juga memiliki dunia mereka sendiri yang cukup sulit untuk dibagi dengan orang lain. Mereka memiliki pemikiran yang unik bahkan penuh dengan kejutan. Pada titik tertentu mereka bisa memberikan lebih yang kuharapkan. They’re great in their own way!

 

Kuceritakan secuil rahasia tentang kelas ini di. Sebenarnya bukan aku yang harusnya mengajar kelas ini. Di detik terakhir, aku yang kala itu dosen yang baru bergabung di Jurusan Komunikasi, sedang diaturkan load mengajar sesuai jatah jumlah SKS yang seharusnya. Dan berpindahtanganlah kelas ini ke dalam load mengajarku.

 

Aku ketakutan bukan main, karena dari 5 mata kuliah yang kuajar, hanya kelas ini yang aku sudah dilepas sendiri tanpa team teaching dengan dosen senior lain. Hello?? I’m a newbie here! This class is really fat! 55 names inside. DKV not IlKom. Seems like they drop me in the tiger’s cage. It’s only presentation, why it should be that long, a semester?? What should I teach to them in those 14 sessions?

 

Pertemuan pertamaku terjadi pada Jumat pukul 14.30. Aku baru tahu  pada pukul 13.30 kalau hari itu sudah harus mengajar dan aku sedang di rumah saat itu. Seorang dosen mencariku dan juga kaget karena aku masih di rumah. Maklum, posisiku belum menjadi dosen tetap saat itu. Jadi tak ada keharusan mengantor. Jadilah kuminta mereka presentasi singkat untuk introduce themselves sambil melihat kemampuan awal mereka.

 

During the early time, kulakukan banyak diskusi terkait materi dengan Miss Prima, yang juga mengajar Teknik Presentasi kelas B dan C. Diskusi yang lain dengan alumni DKV dan designer yang sudah presentasi berkali-kali. Brainstorming untuk mendapatkan pola yang pas. Kucoba telusuri alasan kebutuhan mereka akan kelas ini dan hanya itulah yang aku fokuskan. Ini kelasku, maka aku harus bisa membuat mereka mendapatkan yang mereka butuhkan. Mudah? No way, but that’s my responsibility.

 

Masa awal adalah adaptasi yang cukup berat untukku. Kekuranganku dalam menghafal nama cukup terbantu dengan perumpamaan diri mereka. Manusia yang kreatif dan dinamis harus dihadapi dengan dinamis pula. Aku tak mau banyak berceloteh di depan mereka yang berarti bunuh diri karena mereka bosan. Thanks God jarak usia yang tak terlalu jauh, membuatku masih bisa menempatkan diri di posisi mereka. Dan public speaking adalah salah satu materi yang aku suka.

 

Terima kasih 54 mahasiswa TekPres-ku. Terima kasih untuk tidak meledak di kelasku, layaknya LPG 3 kg. Tantangan yang kalian berikan sudah kujawab. Aku menghargai kalian karena kalian menghargaiku. As simple as that. Kalian membuka mataku bahwa ternyata tak semua orang bisa presentasi dengan mudah, jadi aku tak lagi meremehkan kelas yang bernama Teknik Presentasi. Karena itu memang dibutuhkan oleh sebagian orang. Terima kasih untuk kerja sama, terlebih untuk kalian yang sudah memberikan respect dan senyuman dalam sapaan tulus bila kita berjumpa di Jumat-Jumat yang lalu.

 

Dari lubuk terdalam, aku meminta maaf bila ada hal yang kurang berkenan yang pernah terucap atau kulakukan. Hal burukku jadikanlah contoh, tapi contoh yang tak perlu kalian tiru. Hal baik yang masih terlihat dariku jadikanlah itu contoh, ya, contoh yang boleh kalian tiru bila mau. Maaf, aku belum berani menantang kalian presentasi dalam bahasa inggris, bukan karena meng-under estimate, hanya kuingin kalian mempraktekkan tekniknya dahulu. So, asahlah English skill-mu guys sebelum terlambat, dunia nyata pasti menantangmu dengan hal itu, nanti!

 

Sudah kulakukan apa yang bisa kulakukan. Aku yakin, selama mereka mau belajar dan berubah, mereka pasti mendapatkan sesuatu dari kelas ini. Sekecil apapun itu. Presentasi itu tak mudah tapi juga tak sulit. Tak mudah karena musuh terbesarnya adalah diri kita sendiri yang grogi dan memiliki kekurangan masing-masing. Hanya kau sendiri yang tahu penangkalnya. Tetapi juga tak sulit karena ini bagian dari skill yang bisa dipelajari triknya serta hanya membutuhkan practice atau jam terbang lebih. Apa yang kau pikirkan itulah yang akan terjadi.

 

Setelah masa kelas ini berakhir, aku bukan lagi Miss Widi dalam keseharian kalian. Tapi di luar jam belajar mengajar, aku mau menjadi teman diskusi untuk membantu kalian menjadi penyaji presentasi yang lebih handal. Aku tak hebat tapi aku mau berbagi. Tak lain karena aku pernah menjadi Miss Widi kalian di kelas Teknik Presentasi A. Welcome to the jungle, just believe in yourself as I already believed in each of you, you could be a good presenter not just a designer. Keep learning and never stop practicing it!

 

No mountains too high for you to climb. All you have to do is have some climbing faith.. *Celine Dion – I’m Your Angel

So does a presentation!

 

Wd – 111210 – 11:58PM

 

Aku Hanya Tamu

Green Journal

Adat istiadat melekat dan menjadi identitas sebuah daerah, bukan hanya bagi daerah itu sendiri tapi menjadi identitas manusia yang hidup menyatu dengannya.

Kuakui kali ini keberadaanku justru lebih banyak dihabiskan sebagai “Miss BeBe” untuk keempat keponakanku. Mengantar mereka bermain di Pantai Prigi kemudian mengajak mereka melihat alam pegunungan Desa Geger keesokan harinya. Keempat anak Taman Kanak-kanak itu terkesima oleh ayam, kambing, sapi perah yang mereka temukan di sini. Topi caping , boots, dan rumput teki menjadi layaknya mainan baru. Area lahan kapri menjadi halaman baru untuk berlarian naik turun relief bumi dengan tongkat batang pohon.

Tak ubahnya mereka, anak-anak kota yang baru melihat alam pedesaan; aku pun gadis kota yang baru melihat alam pedesaan ini dengan nalarku.

Setiap tempat pasti memiliki adat istiadat, nilai yang dianut, gaya hidup, dan kebiasaan yang mempengaruhi pola pikir dan tindakan setiap manusia yang tinggal di sana. Mereka menyatu seiring dengan bertambahnya udara setempat yang dihirup dan dihembuskan. Semua mengakar, mengokoh, dan bertumbuh menjadi budaya.

Aku, mewakili keberadaan Green di desa kecil di ujung Gunung Wilis ini, jujur mengakui bahwa aku hanyalah tamu bagi desa ini, tak lebih! Maka tamu, ingatlah, budaya di sana sudah ada sebelum kau datang perlahan seolah menjadi bagian tempat itu. Kompensasinya adalah, tamu tak berhak mengubah apapun yang sudah ada dan mengakar.

Aku mengamati gesekan pekerja dari antar daerah yang mulai muncul. Ada beberapa kalimat dari pekerja yang bukan asli desa sini yang menyuratkan ketidakpuasan. Mereka lihat realita di lahan, cukup banyak pekerja yang tiba-tiba tidak masuk kerja untuk waktu yang cukup lama tanpa melapor. Sebagai manusia yang merasa diri lebih maju dengan sistem yang lebih modern, hal itu dinilai tidak tepat sehingga patut dilaporkan. Aku berusaha positive di tengah negativity. Mereka berlaku begitu untuk suasana yang lebih adil untuk semua dan bisa tugas tidak terbengkalai.

Lagi-lagi aku belajar dari ayahku. Ia menganalisa dari banyak hal, terutama kelokalan setempat. Bulan-bulan ini dianggap sebagai bulan baik sehingga banyak yang menyelenggarakan pesta perkawinan. Di desa, persiapan dilakukan bukan dengan membayar EO, tapi gotong royong dengan bantuan tetangga. Persiapan itu bisa sampai satu minggu meski hanya untuk membuat jajanan. Cukup tak umum tapi apakah itu salah? Mungkin itu bisa mengganggu tapi itu budaya di sana.

Tamu tak berhak mengubahnya tapi kami harus bisa mencari jalan untuk tidak merubah budaya setempat. Secara mata modern, hal seperti itu tidak masuk akal. Membuat jajanan sampai satu minggu. Padahal bekerja di lahan hanya setengah hari. Namun, bukan semata memarahi mereka karena itu. Bukan mau mereka tapi begitulah kebiasaan setempat.

Ada baiknya memang tak perlu seperti itu, tapi untuk menyadarkan mereka perlu pendekatan perlahan bukan dengan cara frontal. Cara kerja pun bisa disesuaikan untuk meminimalkan dampak budaya setempat yang seperti itu. Ataupun seiring waktu kami pasti akan menemukan budaya mereka yang lain. Ya, aku belajar! Siapa aku? Tamu yang tak boleh berlaku selayaknya penguasa hanya karena mengupahi kerja mereka. Tamu yang sedang belajar bahwa budaya sudah ada sebelum aku datang ke sana. Maka, jadilah tamu yang berbudaya!

By eliminating negatives, you’re letting the positives come through..

Geger, 080710

Cing’s 17th Surprise Birthday – English Version

“Surprise makes your life more colourful..”, that’s what I always think and try to make for those, my beloved. Cing’s 17th birthday on May 8, 2010 was another chance for me to give her surprise (again) because she is my beloved sister.. J

For some reasons that I don’t know exactly, people usually thinks that 17th birthday is special for girls. So they celebrate it with such a big party at an expensive restaurant or hotel, invite so many friends, and spend a lot of money as the compensation. But that’s invalid in my family. 6 years ago, when my turn came, my parents asked me about party but I said no! Too much money spends for a celebration without knowing the meaning indeed just seemed unwise in my eyes. So, maybe that way of thinking also influencing my sister, she just wanted to treat her best friends. But wait what if I give her surprises as much as I can on that day? Let’s begin the excitement! 😉

“Making surprise as many as Cing may get”, that’s the theme for this birthday. As usual, the most important in making surprise is don’t let the victim sniffing and guessing. My challenges are: we stay in the same bedroom, we always sharing anything happened along the day, I often make surprise for my family, and I start busy to go out of town 3 times a week.

Strategy is arranged. I divided Saturday, May 8, 2008 into 3 parts. Morning: She will be destroyed in her friends’ hands. Noon: Our schedule to teach in Kembang Kuning Ministry. Night: Surprise party. I’ve been preparing it from 3 weeks ago. For surprise in KK Ministry, I trust it to KC and team. And for the surprise party, I pick up Luci and DS as my secret agents.

I prepared the details of the plan and took Luci and DS to help me in acting. After I got my dad’s permit by offering the lowest budget to make the party, I looked for the suitable venue, collecting guest names, contacting them one by one (helped by my secret agents), contacting Ps. Scott and Ps. Witanto, brain storming party concept, picturing the decoration, making lampions form paper bag, ordering an unique birthday cake in the shape of Cacing (worm), and I doing it all with hiding from Cing. So did with the KK meeting, I left Cing at home.

To make it easier, I have to persuade Cing inviting her friends to dinner on May 15, 2010. Actually she said it will be meaningless if not celebrating it on the big day, but I provoking her with “combine the birthday celebration with thanks giving night for your baptism” as my reason. She believed it, although actually that’s just my hanky panky. 😛 She asked me to survey some venues but I was so busy. Do you know that I coordinating my secret agents with bad signal from the top of Wilis Mountain? Hahaha..

Here is the May 8, 2010:

Morning: Her best friends took revenge by showering her rotten milk, cold water, spray paint, and other nasty things. All I know just she was totally wet and stinky while got into my car when I picked her up from school. I think her friends really waiting on that day to come because Cing always does pitiless on their birthdays. Gotcha!

Noon: On the last session on KK ministry, Cing lead the closing prayer, just as we planned it before. But 4-6th grade kids still stood up back there. While Cing prayed, they tiptoeing and making a line behind her, bringing colorful origami papers, written on there: CINGCING, made by KC; and my happy birthday banner that I had left in Carrie’s house few days before. Gama was ready with the camera. Amien! And then Rico played happy birthday song, Cing turned back, SURPISE!!! I’m so grateful could saw that pure surprise expression on her face. Almost 60 kids gathered singing loudly. Elise asked them to pray for Cing by turned their hands on her, Cing cried! We made it!! That “ignorant and gawky Cing” is crying hahaha.. On the way back home, Cing admitted how glad she was with that cute little surprise and it means a lot to her.

Evening: The event should be started at 5, but delayed until 6 PM. After got the command from Eric, we depart from our house. My alibi is: we’ll have a dinner at Fu Yuan but visiting Hallo Surabaya first to get further info as one of our venue option for May 15. Nothing’s perfect though! My dad parked at the wrong place, right in the middle of her friends’ cars. When talking with the marketing, my niece came closer and Cing saw her! Kyaaaa!! Danger mode ON! But I tried to be as cool as I could and took her to walk to the front side of the resto, where all the guest were ready. While Cing step out, SURPRISE!!! Almost 25 friends, Ps Scott and Witanto were yelling and screaming to her hahaha.. She was really surprised!! Ps Scott brought the “Worm Bday Cake” and we all moved to the left side of the fountain. Since 2 o’clock, DS and Lusi decorated that place with white and red balloons, Cing’s fave colors.

The outdoor party was started with Cha-Cha games and buble gum games as an icebreaker from Ps Scott. Some guests also surprised because there’s a foreign people among them and lead the party hahaha.. Dad gave a short speech. Family came and then dinner time! Oh yeah, another imperfections was on the music team. They said they’re ready but in fact, they didn’t bring any guitar, but the show must go on! Hm.. It may be affecting the mood but couldn’t reduce the meaning of that special day for Cing. Once more her best friends gave her a surprise. Continued with Fear Factor games that require them to eat raw vegetables, such as pete, leeks, long bean, bitter melon, boiled pumpkin. For Cing’s portion, her friends adding hot sauce since she can’t eat spicy food at all. Time for sharing! Soft acoustic songs set as the back sound, I asking her friends and family about impressions, the good and bad characters, also message for Cing. Many of them wished, Cing could be not ignorant anymore. Comes to Cing’s time to speak then! And once more, she cried while said thank you to mom and dad, and how much she loves mom, dad, my brother, and me, and then Cing hug them. Sweet moment to be remembered, isn’t it? And her friends became the witnesses.

The informal, relaxed, and warm ambience really emerged on that night. Although there was many mistakes here and there hehe.. Those who live in Surabaya maybe realize on that day it was raining all day long. Hallo Surabaya management had asked us many times, they thought we’re insane because we were so sure to make an outdoor party in middle of rainy season. My dad just said, it won’t be raining on that day! Yeah, God grew up our faith. The rain stop just before the party started.

Thus, represent my family, I really want to say thank you so much for each of you who helped us. In other party usually the birthday girl is the one who prepare the party with EO and the guest just need to come and enjoy. But this time, the guests prepared the party and the birthday girl just enjoy it all. But believe me, Cing won’t forget this!

I wish these surprises will always live in your memory and truly leaving a deep meaning for you Cing. That testifying how much we loving you, youngest. See, how many people care of you and then helped me to make these surprises for you. So beautiful, wasn’t it? Thus, you can’t be an ignorant girl anymore but you have to care to others then. Now, you’re ready to finding the meaning of your 17th birthday. Life won’t be easier, but God has proved to us on that day, when you have that faith, He’ll give what you ask for. Besides, we’re always here for you. I hope the May 8th, 2010 could be one of most meaningful days in your life. Prepare yourself to give God a present on your 17th birthday, your baptism on May 13th, 2010. Happy surprised birthday my beloved sister..

Surprise works when your beloved didn’t expect it and surprise succeeds when you see that surprised expression combined with the most beautiful smile on your beloved’s face..

PS: Cing, I think I’m success this time, because you didn’t even sniff any of these surprise from me, but Lusi and DS, both of you have to learn more in making surprise hahahaha.. Anyway, this is another blessing that I could give after decided to not go to Jakarta.. 😛


Previous Older Entries

www.widiantigunawan.wordpress.com