The 1st Mission Trip: A Heart for Merapi

“Here it comes again and it should be my turn to go!”, a voice whispering in my heart.

Sunday afternoon in the middle of service, there’s an announcement about Merapi Mission Trip. ICA open 20 seats for those who want to go to Jogja, bring the 1000 packages, and distribute each of them directly to the Merapi Mountain eruption victims. The team will leave from Surabaya on the next day, Monday, at 5 AM. And will depart from Jogja a day after, Tuesday, at 5 PM. So, they will be back here at Wednesday dawn.

Wow! The trip is quite short and must be tight. Something’s telling me to go this time. I admit that I kept myself updated about Merapi eruption since its first eruption, long before this mission trip announced. Few years ago, I ever went to Jogja, stayed in Kaliurang and have a good memory with it. My uncle took my family to the nearest Merapi monitoring post in Magelang. On that cold night, without any telescope, I still could saw the lava run out from the top of mountain. Yeah, Merapi is never sleep. Maybe because of that proximity, I do want to go.

My brother was here, he came from Jakarta and we went to church together. I’m joking, “if you pay the 750 thousand, then I’ll go!”. He replied, “Ok, just if mom and dad allow you.”. Well, my mom and dad always hold back if their daughter wants to go to a mission trip. Sidikalang and Nias mission trip: I didn’t get the permission to join. I texted mom, it’s around 2 PM, and she said no, you don’t have to go there. Ok then, I am not going. But, suddenly 30 minutes later, Mom text me again and said I could go if I really want to. “You’ll never get there without being in a mission team”, mom said. I could go if my office let me go, since I still don’t get any leave periode during this contract.

There were only 5 seats left. Struggling to get the permit and finally at 5 PM, I say yes to join the team! It’s hard to get the permission but I want to go, so lets try to make it happen! I don’t even know the transportation or accommodation, or is there anyone in the team that I knew, and what to bring. All I know, I’ll be with ICA mission team who’s really reliable for mission trip. Actually, my heart and mind was indecisive beacuse of a problem. So this could be my short sanctuary to think and more of it, I could help the others.

So, I only have less than 12 hours to get ready. I come at church around 5 AM in Nov 8, 2010. Only some faces that I knew before. I am the one and only ICA East member on that trip! The rest is from ICA West member. For many of them, the Merapi Mission Trip is the 5th or more mission trip they ever joined. So, I’m a freshly newbie. A little bit frightened mixed with excitement. Afraid because I don’t know what to do. I just try to say YES for the opportunity that comes to me.

If you asked me, don’t you afraid? You’re going to an area when the disaster is stil happening. Hmm.. No! Really, I’m afraid more about what I have to do there rather than the possibility of the eruption itself. God knows my heart, my motivation, I just want to share God’s love to the victims. So, God will take care of me, He won’t let any bad things happen to me and the team. But it doesn’t mean being silly! ICA requires each of us to fully covered with special mask, special goggles, long sleeves, trousers, shoes, cap, raincoat, and another safety tools.


Our team visited 6 refugee camps in suburb of Jogja, those are around Prambanan, Sleman, and Muntilan. We droped and distributed the packages. In some refugees camp we also do the medical service, complete with doctor and free medicine. I tried to communicate with the local residents and Merapi victims who’s lost their properties. For the mission trip itself, I’ll write the details report on the next post. I’m glad that God gave me opportunity to listen to their stories. Stories which I won’t get it from the media. And the most important, I hold their hand, saw their faces, and prayed for them. Isn’t it beautiful?

I felt different about this disaster while I’m in Jogja by myself; and with what I knew from the media. Not saying that media was lying and over published, but it’s just different. A feeling that I can’t deny. Moreover, what I saw along the way to Muntilan refugee camps makes me felt “it”. Something that I can’t explain but I can feel it. Houses left by the owner, desolated city, roof collapsed, road covered with volcano ash and perforated because of it, rain made you see the milky water, sulfur odor filled the air, trees knocked down by the ashes and water. Terrible..


The refugee needs our support, pure smiles that strengthen them, help, and pray from us. I realize now, why I don’t even worry about the accommodation and so on? Because all I knew just following my heart that told me to go. I won’t never be ready to go, until I take the chance to go and make myself ready! Maybe what the team and I did, doesn’t mean anything for you here, but I already took and let my heart visited the refugees due to this Merapi eruption. How beautiful the chance that I’ve got: I could give a heart for Merapi..

Life is not about what you’ve done or what you should have done. It’s about what you can do and what you will do. – Anonymous


©BG|Sby|131110|11:38PM

Advertisements

The First Job

Bukan gedung tinggi berdinding kaca tapi kantorku adalah alam bebas tanpa dinding. Bukan deru klakson dan bising kota yang membuat kepala ingin pecah tapi kudengar kicauan burung-burung. Bukan mobil beraneka ragam tapi kutemukan landak, ayam hutan, dan elang yang terbang tinggi. Bukan asap dan debu tapi kurasakan kabut dan awan yang menerpa. Bukan manusia kota yang pamer kekayaan dan haus harga diri tapi kujumpai manusia desa yang hidup apa adanya, sederhana dan saling berbagi.

Banyak juga yang menanyakan apa yang kukerjakan sekarang. Terima kasih untuk perhatian kalian kepadaku. Namun, untuk saat ini aku belum ingin berbagi banyak.

Aku ada di dua kota dalam satu minggu. Bahkan terkadang lebih banyak di pelosok sana ketimbang di kota besar ini. Tempat itu berbanding terbalik dengan apa yang dulu kubayangkan dan kuinginkan. Sebisa mungkin telah kuusahakan rencanaku itu tapi restu dari-Nya belum juga turun. Kini, ku dibawa-Nya ke sebuah desa indah di ujung gunung.

Tempat itu layaknya kahyangan. 6 jam perjalanan darat harus ditempuh dari kotaku ini. Sinyal menghilang begitu angin dan kabut datang. Aliran listrik minim. Tempat tidur seadanya. Aroma pupuk kandang terasa. Bercaping dan bersepatu boots. Hawa yang dingin mulai membuatku terbiasa. Air es dari mata air itu belum mau bersahabat denganku. Lolongan sapi dan kambing menyaingi anjing di kota. Sayuran segar dapat dipetik sendiri. Ketela menjadi salah satu makanan rutin. Mendaki bukit di ujung gunung dan sesekali merasakan awan menabrakku, membasahiku dengan titik-titik airnya.

Namun dengan berjuang sedikit lagi, aku bisa menemukan kahyangan kecil di atas sana. Dari ujung bukit tertinggi, kulihat barisan gunung berlipat di seberang sana. Awan jadi sangat dekat menaungiku berdiri. Aku bisa melihat kabut naik menyergap dari bawah sana ke ketinggian. Hamparan punggung gunung hijau tapi berduri seperti landak menjadi pemandangan lain. Pemandangan yang membuatku bersemangat untuk naik ke kahyangan kecil itu, meski lelah dan keterbatasan fasilitas terpampang jelas.

Satu hal yang paling kuinginkan adalah menyanyi sekeras-kerasnya dari ujung kahyangan kecil itu. Sambil membentangkan kedua tanganku dan membiarkan angin dingin menerpa tubuhku. Mengijinkan seluruh bagian diri mensyukuri indahnya semua itu dan menyerahkannya untuk diberkati-Nya. Tanpa ada rasa malu ditatap oleh mata mereka yang mencari nafkah di antara liukan tanaman. Dapatkah kau bayangkan itu? Aku bisa!

Apakah ini yang aku cari? Aku pun belum ingin menjawab banyak. Kuperlu waktu lebih lama tuk temukan jawabnya. Setidaknya ini mendekati mimpiku sejak kecil. Selain itu, di sini kumelatih diri tuk berpikir positif dan belajar ilmu-ilmu yang tak kuperoleh di universitas. Ilmu tentang kehidupan dan menghadapi manusia yang sesungguhnya. Belum pernah terbayang seperti inilah yang akan kukerjakan sekarang tapi aku menikmatinya. Tak tahu seperti apa nantinya, tapi aku tahu ini adalah sesuatu!

Tak perlu risau mencemaskan keadaanku. Tak perlu membandingkannya dengan milikmu atau yang lain. Jalanku bukan jalanmu. Dan di jalan apapun yang kuharus lalui, akan selalu ada 2 pilihan di sana, positive or negative. I chose to walk on this road by being, seeing, and thinking positively. God said, this is not easy and it terrifies me but it always good. By the time, with this faith, never give up hope, His love will find the way..

My "Kahyangan"

God cares about the desires of my heart. He cares about the tiniest details of my life. God is leading me step by step to the good things He has in store for me..

PS: Wanna know my office? Check out on my FB – Green! photo album.

BeBe | 210710 | 12:27AM

Kembali Kemari (2)

Ini bukan tentang menang atau kalah. Bukan juga tentang siapa yang lebih hebat atau lemah. Tapi masih tentang siapa yang berjuang atau menyerah.

Entah belum saatnya atau mungkin tidak untuk kembali kemari. Tidak bisa dengan mudah untuk mengucap pilihan kedua tentunya. Memang ada banyak sekali tawaran hidup yang mengharuskanku memilih dan bersikap menghadapinya. Aku merasa ada yang juga membutuhkanku.

Kuperlu pertimbangan yang lebih matang. Meski bagaimanapun, semua akan dijadikanNya indah pada akhirnya, pasti! Pun, kubisa jalaninya dengan senang tanpa paksaan. Tapi aku tak bisa biarkan semua mengalir dan menerimanya saja. Hatiku punya hak untuk didengar. Dan aku punya kewajiban mendengarkan dan mempertimbangkannya.

Aku belum berjuang apapun, hanya baru menapakkan langkah pertama di pasir pantai ini. Merasakan kehangatan yang masih terasa panas karena indra perabaku belum terbiasa. Tapi tubuh dan otakku juga tahu bahwa aku masih baik-baik saja. Di pantai itu terhampar luas pasir yang hangat tetapi terasa panas yang menanti pijakan kakiku. Kuhanya harus mencari tahu di sebelah mana sebenarnya aku mau dan bisa berdiri serta menyesuaikan diri. Tapi aku tak akan berdiri selamanya di sana. Aku mau berdiri di pantaiku sendiri, suatu saat nanti..

Bila bicara membuka pintu, masih ada banyak sekali deretan pintu yang akan terbuka dan tertutup serta membuka dan menutup. Aku belum melakukan apapun maka tentu tak bisa bicara lelah karena ini belum masuk ke perjuangan membuka dan menutup pintu-pintu itu. Perjuangan itu akan terjadi bila nantinya kupilih kembali kemari. Akankah?

This is about being the right man, on the right place, at the right time..

© BeBe – sub – 190110 – 01:37AM

Kembali Kemari (1)

Aku kembali ke sebuah tempat yang serasa selalu memberi harapan baru. Sebuah tempat yang membawaku menjauh dari masa lalu. Ada banyak hal baru yang memang tak selalu nyaman tetapi aku mulai belajar terbiasa. Dan rasa itu jauh lebih baik karena aku tak mau terpuruk di kubangan memori lama.

Rasanya belum sampai dua minggu yang lalu aku masih menerka entah kapan aku dapat kembali lagi kemari. Namun, selalu ada yang membuatku kembali. Memanggil-manggil hati kecilku ini. Aku hanya mencoba memenuhi panggilan itu dan menembus awan untuk menggapai cakrawala di ujung sana.

Kali ini panggilan itu datang di saat baru dua hari aku meninggalkannya. Ada keraguan yang cukup lama bertahan di sana. Haruskan aku kembali? Separuh bertaruh akhirnya kuputuskan untuk berangkat. Aku berangkat untuk sesuatu yang aku pun belum tahu jawabnya. Tapi toh tak ada yang berhak menahanku tak kembali kemari.

Aku berpikir, setidaknya ada sebuah perbedaan antara orang yang menyerah dan orang yang berjuang. Orang yang menyerah hanya punya satu pilihan untuk hidupnya, yaitu gagal. Sementara orang yang berjuang akan memiliki dua pilihan untuknya sendiri, yaitu berhasil atau gagal.

Aku ingin melangkah tapi tak tahu pintu mana yang harus kumasuki. Semuanya masih tertutup. Ada sebuah pintu yang ingin sekali kumasuki tetapi tak dibuka untukku, mungkin belum saatnya. Lalu tiba-tiba tanpa terduga sebuah pintu lain terbuka untukku! Kuberanikan untuk mencoba melangkah.. Sebab aku tak bisa diam di tempat dan membiarkan waktu serta hidup menghantamku telak.

Kusadari sejak awal aku kembali untuk sesuatu yang tak pasti. Satu hal yang kutahu, ketika aku kembali kemari, berarti ada harapan untukku berhasil dan bukan hanya gagal. Aku kembali karena aku harus melangkah maju bukan diam di tempat apalagi mundur. Aku kembali sebagai wujud syukurku untuk pintu yang dibuka itu. Aku kembali kemari untuk mencari tahu kemana Tuhan ingin membawaku..

Taking no risk is the greatest risk of all..




090110 – 23:38PM

Living Abroad

Akhir-akhir ini semakin terpikir untuk tinggal di luar negeri. Sebenarnya dari dulu aku selalu berimajinasi bagaimana rasanya tinggal di luar negeri. Namun karena banyak hal aku hanya menganggapnya khayalan asal lalu saja. Sesekali muncul gambaran diriku berkostum winter haha.. Tentu saja bukan di Indonesia kan bila berpakaian seperti itu? Tetapi imajinasi yang satu itu bisa benar-benar cukup jelas tergambarkan. Coat, boots, dan scarf menghangatkan leherku. Negara mana? Emm, sepertinya sesuatu berbau barat hihihi..

Mungkin semua muncul karena keinginanku. Akhir-akhir ini ketika semua orang bertanya hal yang sama, “Mau ngapain sekarang Be?”, pemikiran itu kembali muncul. What about living abroad? Sepertinya seru.. Hidup cuma sekali, jadi aku ingin dan (sepertinya) harus pernah merasakan tinggal di luar negeri. Pasti akan ada banyak sekali hal baru yang aku pelajari. Mencintai Indonesia bukan berarti tidak boleh membuka mata melihat dunia luar bukan? Mencari suasana baru. Lagipula untuk saat ini, tidak alasan yang menahanku untuk tetap bertahan di Surabaya. Tidak seseorang atau sesuatu..

Lalu kalau ingin living abroad, bisa dengan tinggal seterusnya suatu hari nanti di luar sana atau merasakan tinggal dalam waktu yang cukup lama lalu kembali lagi kemari. Kalau liburan tentu berbeda dengan tinggal. Karena liburan akan mengunjungi tempat-tempat ‘wisata’. Tak terlintas dan tak bisa kubayangkan kalau berpasangankan orang asing hahaha.. Jadi untuk living aboard, bagaimana kalau sekolah saja di luar?? Berarti scholarship. Wew..

Jujur saja pikiranku yang satu ini membuatku makin bingung untuk menjawab pertanyaan yang sedang trend dipertanyakan oleh semua orang ketika melihat wajahku muncul di hadapan mereka. Agak hiperbola memang, se-hiperbola aku yang bingung menjawabnya. But, hopefully oneday I could make it happen, living abroad! Lets see ya..

Sby – 081109 – 2:22AM

Serpihan Ledakan Kuningan

Jakarta – 190709 – 11:52PM

Bom meledak lagi di Mega Kuningan! Bukan yang pertama terjadi di Indonesia, tetapi perasaan seperti ini baru pertama kali kurasakan. Ada yang berbeda ketika mengucapkan, “Hidup mati di tangan Tuhan, tenang saja. Kalau emang saatnya tiba ya sudah..”. Perbedaan itu ada pada: dulu aku menyebutkannya saat berada di Surabaya, dan kali ini aku harus menyebutkannya saat aku memang berada di Jakarta. Aku mengalaminya lebih dekat..

It Just So Close!

Pagi itu, siaran televisi tiba-tiba menayangkan berita adanya ledakan di Ritz Carlton dan JW Marriott. Gambar yang ditayangkan adalah seorang korban bersimbah darah, tengah ditandu ke sebuah mobil mewah. Lokasi penuh dengan asap. Orang berlarian ke lapangan. Beberapa panik shock, terduduk menangis di tepi jalan. Banyak yang menempelkan telepon di telinga. Ada police line kuning terpasang. Dedaunan gugur berantakan di jalan.

Seperti biasanya bila ada kejadian besar menggemparkan, aku terpaku menyaksikannya. Sampai cukup terlambat berangkat mencari data skripsi. Hm, malamnya aku sempat mencari berita tentang kedatangan MU ke Jakarta. Ada teman baikku penggemar MU yang rela akan datang bahkan sudah membeli tiket VIP dan tiket pesawat dari Surabaya. Karena penasaran, maka kucari tahu beritanya. Dan baru kutahu kalau pemain MU akan masuk ke Ritz Sabtu malam. Kupikir kala itu, wajar, Ritz punya kredibilitas bagus dan penjagaan ketat.

Jumat lalu aku baru merasakan ‘seandainya ditempatkan dalam keadaan emergency’ dan kepanikan itu tetap muncul meski ternyata hanya simulasi. Jumat ini, kepanikan benar-benar dialami oleh mereka yang ada di kedua hotel berbintang itu. Teman, sedikit banyak, simulasi itu penting!

Sabtu sebelumnya, aku bersama temanku pergi ke Ambassador. Ia belum lama datang dari Surabaya dan belum tahu banyak tentang Jakarta. Kami makan siang di foodcourt. Ia mengambil duduk di samping jendela kaca. Aku pun menunjukkan kawasan Mega Kuningan yang tampak jelas di depan kami, apalagi dari ketinggian seperti ini. “Itu JW Marriott yang 2003 lalu dibom. Trus tinggi di belakangnya, itu Ritz Carlton..” Kurang lebih seperti itulah pembicaraan kami. Ia bahkan sempat ber-GPS melacak lokasi Mega Kuningan dari handphone barunya. Mengapa topik itu muncul dalam pembicaraan kami saat itu ya?

Beberapa keluarga di Surabaya menelpon menanyakan situasi di Jakarta. Maklum, kali ini 3 anggota keluargaku sedang beraktivitas di Jakarta. Wajar bila mereka cemas karena amat gempar semua media menayangkan berita panas ini. Bila dilihat dan ditarik lurus dari peta Jakarta, tempat tinggalku tak begitu jauh dari Mega Kuningan. Tetapi cukup jauh untuk ditempuh dengan kemacetan Jakarta. Aku berangkat dengan perasaan tak nyaman, bukan tak aman. Karena aku makin menjauhi lokasi kejadian. Hanya saja, bila menu sarapan pagimu adalah berita buruk, bukan kah itu awal yang kurang baik untuk semangat beraktivitas?

Sesampai di kantor, semua wajah tegang, tak ceria seperti biasa. Flat TV yang tergantung di sudut dinyalakan. Aku mengakses d*tik.com dan spontan membaca dengan keras, “Presdir Holc*m tewas jadi korban!”. Kontan, semua mendatangi mejaku dan bereaksi kaget luar biasa. Bagaimana tidak, ternyata Holc*m adalah klien perusahaan ini. CEO tersebut dikenal dekat oleh petinggi di sini. Pantas saja, departemen komunikasi ini terkejut. Tak lama makin banyak karyawan yang mengerumuni TV, bersama ingin melihat daftar nama korban. Ada 2 nama lain yang dikenal oleh Manager External Communicationku. Kebetulan mereka juga rekanan dan benar, turut menjadi korban.

Aku dan beberapa staff miris dan bergidik. Kejadian itu begitu dekat. Proximity itu tercipta bukan hanya karena geografis, tetapi korban itu kami kenal. Bahkan sempat hadir kala perusahaan mengadakan event besar bulan lalu, di Ritz Carlton pula. Minggu depan pun, serangkaian kegiatan penting direncanakan akan diadakan oleh departemen komunikasi ini. Selama beberapa hari dan bertempat di Ritz Carlton. Ruangan yang telah dipesan adalah resto Airlangga yang meledak itu. Di mana ada banyak orang penting, termasuk pers akan hadir. Seketika merinding membayangkannya, akibat campuran rasa syukur dan kengerian.

Ada pula 2 foreign staff yang hampir saja bersinggungan dengan ledakan. Mereka menginap di Ritz, menunggu taxi di lobby untuk ke kantor. Mereka sempat melihat Marriott meledak dan seketika taxi datang mereka segera masuk ke dalam taxi. Ketika taxi beranjak menjauh, BLAR!! Mereka menoleh ke belakang dan melihat tempat mereka berdiri penuh dengan asap. So close!!!

Don't cry

Proximity

Terlepas dari kegeramanku dan kebanyakan orang normal lainnya, aku hanya menyadari proximity bisa memberikan feel berbeda. Ketika isu ledakan di Muara Angke adalah bom, semakin membuat semua rekan di kantor takut. Semua menghubungi keluarga masing-masing, memastikan keberadaannya. Siangnya ditemukan sebuah bom lagi di 1808 Marriott. Biasanya aku orang yang cukup cuek dan yakin saja bahwa jalan hidup setiap orang sudah ditentukan Tuhan. Tapi suasana di sekitar dan di sekelilingmu bisa membuat kalimat itu terbayangkan dengan berbeda. Orang Jakarta yang kukira sudah kebal dengan hal seperti ini pun ternyata tetap takut. Banyak yang membatalkan acara Jumat sore dan memilih pulang.

Salah seorang rekan lain berkata, hidup mati manusia memang sudah di tangan Tuhan. Inilah Jakarta, kalau kamu takut ya jangan hidup di Jakarta. Inilah resiko yang memang harus dihadapi. Kalau tidak berani, mana bisa lakukan aktivitas yang seharusnya kau lakukan..

Hari Jumat kelabu itu, mulai sarapan, lunch, hingga makan malam, bermenukan “bomb Mega Kuningan”. Suasana duka yang tidak mengenakkan seharian penuh. Kegeraman masih berdiam di ujung hati. Sedikit keraguan untuk bepergian, jujur kuakui ada. Namun, saat teduh malam itu justru berkata sedikit berbeda kepadaku.

Belajar dari Rumah Duka

Judulnya ‘Rumah Duka’. Pergi ke rumah duka lebih baik daripada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia (Pengk 7:2). Ya.. Kusadari aku termasuk orang yang memilih menghindari rumah duka karena enggan berhadapan dengan kematian. Tapi justru keadaan itu menyadarkan bahwa hidup itu singkat. Rasa kehilangan mendorongmu lebih bergantung pada Tuhan. Pergunakan kesempatan yang ada selagi bisa. Jadi, di sanalah kau belajar bijak. Bukan di rumah pesta kau bisa belajar hal seperti itu. Yah, tak ada gunanya menghindari kemalangan, karena dari itu imanmu justru terbangun.

Tragedi Mega Kuningan ini mendukakan Indonesia, penggemar MU, perusahaan tertentu, keluarga korban, dan semua masyarakat. Akan tetapi, belajarlah dari kedukaan ini. Belajarlah sesuatu agar kau lebih bijak. Dan aku yakin kali ini, Indonesia akan bangkit. Bangsa ini sudah mengalami kedukaan bertubi-tubi, apalagi yang bisa menjatuhkannya? Bersama tunjukkan pada dunia, Indonesia tak seburuk citra yang berusaha dijatuhkan seperti ini. Tuhan bisa memutarbalikkan kemalangan jadi hal yang indah suatu hari nanti, untuk Indonesia. Tegarlah Indonesiaku!

 

Tuhan membuat hidup kita kaya dengan mengajar kita mencampur canda dan air mata..

Merangkak, Berjalan, Lari!!

Surabaya – 010609 – 9:09 PM

Setiap kali mendengar kisah seorang ayah yang seumuran ayahku meninggal, pikiran dan hatiku seolah disentil. Meski sentilan itu tak meninggalkan luka tapi tetap saja ada hentakan kecil yang sedikit memerah di kulit. Berulang kali aku tersentil, tetapi kali ini aku tak ingin hanya biarkan bekas merah itu memudar begitu saja.

Teman baik ayah sejak kuliah yang kemudian bersama menjadi dosen di Teknik Sipil, baru saja meninggal. Tipe lelaki pekerja keras, yang kurang peduli akan kondisi tubuh. Ia meninggal karena penyakit lever yang diketahui 7 tahun silam. Bukan cara meninggalnya yang menyentilku, tetapi masa depan keluarganya. Anak tertua terlahir dengan fisik kurang sempurna. Anak kedua seumuranku dan masih berkuliah. Istrinya tak bekerja.

Kondisi itu selalu mengajakku berkaca akan kondisi keluargaku di cermin kehidupan. Ibuku seorang ibu rumah tangga yang baik. Kakak laki-lakiku baru saja lulus kuliah dan sedang mulai mencari pijakan yang pas untuk bekerja. Adik perempuanku masih memakai seragam putih abu-abu. Aku, seorang mahasiswi tahun terakhir yang tak pernah punya pengalaman mencari uang sendiri. Ayah bekerja sesuai dengan bidang kuliahnya dulu, di bidang jasa pembangunan, dan tak ada satupun dari kami yang mempelajari itu. Dengan kata lain, tak ada yang bisa melanjutkan, mungkin..

Tak pernah mau dan tak akan berharap kejadian seperti itu, tetapi harus ada sesuatu yang mulai dilakukan tanpa harus menunggu hal buruk menimpa. Aku harus mulai dari sekarang, mencari tahu apa yang bisa kulakukan. Selama ini tak pernah mencari uang sendiri bukan berarti tak kompeten, tetapi keadaan nyaman cukup membuat aman. Aku wanita dan bukan anak tertua. Ditambah dengan beban beri prestasi yang baik kepada ayah ibu.

Wafatnya teman baik ayah ini memberitahuku satu hal. Saat ini ada sebuah pilihan yang telah kupilih untuk mulai kucoba jalani. Aku harus bisa tekun menjalani pilihanku agar sedikit demi sedikit tabunganku mulai terisi. Aku harus mandiri meski ayah hanya memintaku menimba ilmu dengan baik. Prestasiku akan tetap kuberikan karena itu tanggung jawabku untuk membanggakannya.

Mungkin ini bisa menjadi motivasi, aku akan selalu berusaha merangkak, berjalan, hingga berlari bila sudah saatnya. Mandiri bukan hanya dari tindakanku selama ini, tetapi juga dari segi financial. Mensyukuri kehadiran ayah ibuku sampai sekarang bukan berarti cukup sampai di titik ini. Bukan di titik sekolah dan prestasi saja. Tetapi saat inilah belum terlambat bagiku untuk berusaha mandiri sedikit demi sedikit. Aku akan berusaha tanpa harus menunggu hidup menyatakan misterinya!

Tak masalah seberapa lambat kamu berjalan, asalkan kamu tidak berhenti..

Jakarta: Well Done!!

Sby – 250209 – 00:50AM

 

Tepat seminggu yang lalu, aku meninggalkan Jakarta untuk benar-benar kembali ke Surabaya. Menutup kisah 6 bulan magang, merantau sendiri ke Ibukota dan berusaha mengambil hati Jakarta. Semua kekhawatiran itu masih kuingat betul, malam sebelum meninggalkan Surabaya aku bahkan tak bisa tertidur. Namun ternyata aku berhasil melewatinya.

 

Bunderan HI

 

Sepenggal kisah hidupku yang melekat di ingatanku untuk seterusnya. Bersyukur untuk kesempatan magang di sebuah perusahaan minyak multinasional yang mengerti pentingnya apa yang kupelajari di kampus. Thanks a lot Shell for the lessons.. Bersyukur untuk teman, rekan, sahabat di CX Shell Indonesia. Thanks guys, you teach me what ‘working life balance’ is.. Bersyukur untuk persahabatan dengan teman senasib dan sepenanggungan yang bersama mengadu nasib di Jakarta. Thanks Girls! We are superwomen!! Bersyukur untuk keluarga yang semakin dekat karena jarak yang semakin jauh. Thanks Papi Mami Koko and Cing, I love you.. Bersyukur untuk persahabatan dengan Sampoerna Best Student 2008. Thanks Bro and Sist for accompanied me there.. Bersyukur untuk keras dan beratnya hidup di Jakarta. Thanks God, aku jadi jauh lebih mandiri dan belajar menjaga diri.. Bersyukur untuk hitam putih yang kutemukan di sana, sehingga aku bisa melihat hidup itu memang pilihan.. Bersyukur untuk banyaknya orang baru yang kukenal, aku jadi belajar memahami karakter-karakter manusia.. Bersyukur untuk tinggal sementara di Jakarta, aku jadi beribadah di JPCC dan hari minggu jadi hari yang paling kutunggu karena kekuatan dan berkat yang kubawa pulang. Bersyukur untuk semuanya, setiap bulan, minggu, hari, jam, menit, dan detik yang telah kulewati..

 

Ada begitu banyak hal yang bisa kupelajari dan menjadikanku lebih dewasa dalam berpikir. Ada banyak kesempatan yang terbuka bila kita mau mencoba. Hidup tak akan terus menunggu bila kau terus memilih untuk berada di dalam tempurungmu di zona nyaman. Di tengah kejamnya Jakarta, kejujuran itu tetap perlu. Setiap orang patut untuk dihargai, bahkan dengan seulas senyuman. Kesetiaan sangatlah mahal harganya tetapi kepercayaan itu ada dan harus dijaga. Dan masih banyak sekali nilai kehidupan yang kubawa pulang. Belajar dari segi tersederhana dalam keseharian Jakarta: Bila naik bajaj, hanya Tuhan dan sopirnya yang tahu ongkos sebenarnya haha.. Melihat kompaknya kerjasama sopir dan kernet Kopaja.. Betapa susahnya anak muda memberikan tempat duduk di busway bagi orang yang lebih tua.. Menyukai moment saat pesawat take off dan landing, seakan meninggalkan dunia untuk sesaat dan kembali dengan lembaran yang berbeda..

 

Ada sebuah pertanyaan, sebut saja salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan orang-orang di sekelilingku: Enak mana Jakarta atau Surabaya? Jakarta adalah sebuah kota yang besar, lengkap, dan memiliki fasilitas yang lebih komplit tentunya. Ada banyak mall, entertaninment, sehingga kau tak kan pernah bosan di sana. Jakarta menawarkan banyak pilihan untuk hidup. Mulai paling hitam pekat hingga putih bersih. Tinggal sesuaikan dengan kemampuanmu. Karena itu pula, menurutkku Jakarta adalah tempat yang enak untuk bekerja mencari nafkah dan pengalaman. Tetapi bukan untuk tinggal. Aku masih tetap menyukai Surabaya lebih dari Jakarta, untuk tinggal. Paling tidak sampai hari ini. Tanpa kejauhan, kemacetan, dan kebisingan kota. Suasana jalanan yang masih menyenangkan untuk pelampiasan kesenanganku menyetir mobil. Apalagi semua keluarga dan teman terdekat masih di Surabaya. Suasana Surabaya tetap lebih hommy dan nyaman untukku..

 

Berat badanku meningkat cukup banyak untuk kurun waktu 6 bulan. Itu menandakan aku betah di Jakarta dan target teman-teman CX Shell nyaris tercapai sudah.. Ketika itu mereka bilang aku kurus, paling tidak dibanding mereka. Maka mereka bilang dalam sebulan harus kita naikkan satu kilo! Hahaha.. Bakmi GM tetap jadi tempat makan favoritku selama di Jakarta. Burger King sangat aku rindukan sekarang, mushroom nya, french friesnya, karena di Sby tak ada.. AW dengan paket 2 nya, dulu tak pernah makan sekarang tertular virus ayam dan soupnya.. Ketoprak!! Di sini tak ada yang selezat sarapan ketoprak di kantor di pagi hari.. Dan aku juga jadi lebih sering memasak karena terbiasa masak sendiri di sana.

 

Dengan nilai istimewa yang sangat memuaskan, magang ini dinilai berhasil oleh pihak kampus. Shell pun cukup puas dan semoga kesempatan ada di saat yang tepat nanti bila aku akan kembali ke Jakarta. Dengan cara yang sama pula kututup rangkaian 6 bulan ini. Dua hari setelah aku tiba di ibukota, sebelum magang dimulai, aku dan teman Sampoerna berpuas diri di Dufan. Dan dua hari sebelum aku meninggalkan Jakarta, aku pergi kembali ke Dufan dengan rekan Sampoerna yang berbeda. Yang pertama kali bermain dan puas teriakan kekhawatiran, yang kedua bermain dan meneriakkan kepuasan semuanya telah selesai..

 

Jauh di dalam hati, ada suara yang menangis sedih karena meninggalkan Jakarta dan teman yang sudah seperti keluarga sendiri serta kebiasaan-kebiasaan baruku di sana. Tapi tak ingin air mata ini mengalir di depan mereka ketika aku mengucap salam perpisahan. Semoga keberadaanku sempat menjadi secuil kisah yang menyenangkan juga dalam hidup mereka. Dan ada suara yang berbisik, ingin kembali ke Jakarta lagi suatu hari nanti..

 

Everything is always okey in the end, if it’s not then it’s not the end..

 

intercontinental

Previous Older Entries

www.widiantigunawan.wordpress.com