Disconnect to Connect

 

 

Pernahkah kau merasa terabaikan oleh sekelilingmu justru di saat kau ada nyata di depan mereka? Pernahkah kau merasa berada di dunia yang berbeda padahal kau yang sedang berada di dunia nyata? Pernahkah kau menjadi asyik menikmati dunia nyatamu sendirian meski sebenarnya kau sedang tak sendiri?

Aku pernah, cukup sering malah. Entah perlu tak bertanya itu benar atau salah, siapa yang benar atau siapa yang salah. Namun yang pasti itu kondisi dunia yang kau tinggali saat ini. Keberadaan blackberry (BB) sebagai wujud kemajuan teknologi, memudahkan manusia dalam berkomunikasi tetapi di sisi lain juga memutarbalikkan semuanya bagai kaki di kepala, kepala di kaki. Karena nyata menjadi semu, semu menjadi nyata. Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.

Situasi di mana aku yang kala itu tak ber-BB, kemudian menjadi pengguna BB, dan kini kehilangan BB memberikan sisi baik tersendiri bagiku. Aku tak lagi menjadi manusia yang selalu lengket dengan benda satu itu. Aku sadar, aku pun pernah menjadi “apatis” sendiri. Aku tak berujar selayaknya dewa yang tak pernah salah, tetapi situasiku saat ini membuat aku menjadi berkaca dan ingin berbagi pemikiran lain.

Aku jadi teringat topik dan pembahasan skripsiku. Kemajuan teknologi dalam bidang komunikasi dalam dekade terakhir ini teramat pesat, bangga kah kita? Tentu saja. Semua seakan dimudahkan dan dimurahkan, tak perlu surat dan perangko, telepon dan pulsa, atau kartu ucapan di hari raya.

Kini ada internet dan semua beres. Melek-lah akan teknologi sedikit, ya hanya itu yang kau perlukan. Email, messenger, webcam, situs jejaring sosial, blackberry messenger semua hanya sejauh tombol yang perlu di-“klik”. Mudah, lebih murah, instan, dan jarak sudah tak lagi berarti. Betapa hebat dan jauhnya perkembangan dunia karenanya.

Tapi berhati-hatilah, kemajuan teknologi beserta peralatan canggih yang dihasilkannya itu bagai koin dengan kedua sisinya atau pedang bermata dua.

Apakah itu berarti hal yang buruk? Buruk bila kita sebagai manusia, tak lagi bijaksana menyikapi semua itu. Semua ada untuk membantu kehidupan jadi lebih baik, syaratnya: digunakan sesuai porsi yang pas. Benda mati tak bisa dikambinghitamkan. Benda bisa jadi baik atau jahat, tergantung manusia yang menggunakannya. BB akan menjadi benda yang menyenangkan ketika kita gunakan untuk hal yang tepat, di saat yang tepat.

Poin lain yang kusarikan dari skripsi kualitatif itu, media komunikasi tradisional tak bisa sepenuhnya tergantikan oleh media komunikasi modern saat ini. Media yang baru, ada untuk mengisi kekurangan yang lama, bukan menggantikan! Ada banyak sisi baik yang dimiliki oleh sarana tradisional dan tak dimiliki oleh yang baru.

Sadarkah di kala teknologi itu sudah ada di tangan, komunikasi tatap muka menjadi jauh berkurang? Face to face communication memiliki kelebihan yang tak tergantikan, ia dapat menyampaikan perasaan yang tak tersampaikan oleh media modern. Bisa saja bahasa nonverbal itu disampaikan secara verbal atau lewat kata-kata yang tertulis, tapi kedekatan perasaan personal jauh lebih terasa ketika tradisional yang digunakan.

Salah satu media modern yang menjadi milik sejuta umat saat ini, BB. Ketika kau menyentuh BB itu, sadarkah kau seakan terhisap masuk ke dalam dunia tersendiri dan meninggalkan dunia nyata tempat kakimu berpijak? Tak apa bila kau sedang sendiri karena tak ada yg kau tinggalkan di dunia nyatamu, justru kesendirian menjadi sirna ketika tombol itu ditekan. Ada BBM, twitter, facebook, dan kawan-kawannya yg selalu siap menyambut.

Ketika kau beralih ke dunia maya sana, di luar sini mungkin hal-hal baik sedang terjadi dan semoga kau tak melewatkannya. Senyuman orang-orang di sekitarmu, tatapan mata mereka yang mengasihimu, orang yang kau kenal mungkin lewat tanpa sapaanmu, orang-orang yang mungkin membutuhkan bantuan dan senyummu, perkataan penting dan penuh arti, sinar mata yang terpancar, dan gerakan nonverbal lainnya.

Mari kembali periksa diri, untuk apa BB kita beli dan gunakan? Untuk membantumu lebih mudah dan murah dalam berkomunikasi mungkin, atau pekerjaan menuntutmu berhubungan dengan teramat banyak orang, atau karena semua orang menggunakannya dan kau tidak? Semoga memang bisa menjawab kebutuhanmu dan digunakan sesuai tujuan, tetapi ingatlah kawan yang bijak, kebutuhanmu bukan hanya terpenuhi karena BB dan jangan biarkan BB justru mengganggu pemenuhan kebutuhanmu yang utama.

Semoga kau dan blackberry-mu bisa menjadi sinergi yang baik, dan justru bukan membuatmu acuh akan sekelilingmu tanpa kau sengaja. Semoga di kala blackberry itu menempel di jemari-jemarimu, tak ada sosok yang tiba-tiba lenyap bagi orang-orang yang mengharapkanmu ada untuknya, bukan hanya ragamu semata. Semoga tak ada senyuman dan tatapan serta perkataan penting yang jadi terabaikan olehmu.

Biarlah orang bijak yang mengendalikan blackberry dan bukan sebaliknya, ia biarkan blackberry yang mengendalikannya. Segala sesuatu yang berlebih porsinya itu tak baik, kawanku.

Semua tombol-tombol peralatan teknologi abad ini adalah pintu ke mana saja. Pintu yang membawamu ke dunia maya. Namun, bijaklah karena pintu yang sama itu juga yang membawamu pergi meninggalkan dunia nyata..

 

 


 

 

 

 

Krwc | 140511 | 10:40PM

7 Comments (+add yours?)

  1. arikuncoro
    Jun 18, 2011 @ 08:24:20

    Jadi BB nya dibuang, sekarang, Be? Sayang banget. Masih ada sisi positif dari Blackberry yang bisa kita ambil.
    Walaupun saya merasa jengah ketika saya lagi ngobrol empat mata tiba-tiba teman ngobrol kita beralih dengan BBM nya yang kurang penting.

    Reply

  2. chory
    Jun 06, 2011 @ 00:29:46

    Nice post Be…
    can’t i share it… banyak orang yg perlu disadarkan… ^^
    thanks before…

    aniwei,agree with ce Ria… they just too busy using it… bukan autis…

    Reply

    • BeBe Gunawan
      Jun 06, 2011 @ 11:34:00

      Yes, Choi! Input dari Ce Ria sudah gw terima dan koreksi jg, jadi lebih “aman” lagi sekarang kalau mau dishare hehe.. Thanks. Miss you Bu Dosen🙂

      Reply

      • chory
        Jun 06, 2011 @ 19:10:19

        Hahaha…ya…ya…
        Agak susah memang mengubah istilah “autis” itu. Termasuk waktu njelasin ke mahasiswa. Banyak yg belum paham kalau ada pihak yg bakal sakit kalau tahu kita agak “sembarangan” ngomong soal autis.. =)
        Miss u 2 be…Miss Jakarta also…kapan ya bisa maen ksana… >_<"

        Reply

        • BeBe Gunawan
          Jun 07, 2011 @ 13:17:58

          Hehehe.. Tak apa, perlu waktu untuk menjelaskan dan mengubah kebiasaan. Thanks to Ce Ria yg kasih input hehe.. Aku ga di Jkt juga haha, di Tangerang Coi. Tetaplah ramai yah di sana.. nanti kl pulang, aku mampir pasti ke Fikom🙂

          Reply

  3. BeBe Gunawan
    Jun 05, 2011 @ 23:13:53

    Noted ce, taganti yah..🙂 Many2 thanks, my bad, not thinking that far. Anw, sudah ada lanjutan storynya ttg operasi itu kah?

    Reply

  4. riawibisono
    Jun 02, 2011 @ 22:10:48

    Be, sebaiknya jgn pake istilah ‘autis’ utk menyebut pengguna  yang sibuk dgn dunianya sendiri. Mending gunakan istilah apatis. Mari kita bersimpati kepada orang2 yg memiliki anak autis dgn tdk menggunakan istilah ‘autis’ sembarangan🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

www.widiantigunawan.wordpress.com
%d bloggers like this: