My Man

Ia sosok manusia yang aneh, unik, tetapi punya tempat tersendiri. Manusia cerdas tanpa aturan tapi selalu bisa menemukan posisi ternyaman di mana pun dia hidup. Ia lakukan apa saja yang ia suka. Hidup seakan tak begitu menyusahkannya.

Bagaimana kumelihatnya mungkin berbeda dengan mata lain yang melihatnya. Sejak awal aku heran dengan hal itu. Tapi itulah yang membuat semua ini menjadi istimewa, karena perbedaan itu. Kekagumanku berbeda dengan kekaguman mereka.

Sebelum aku menyebutkan yang sebenarnya kurasakan, ia seakan tahu isi perasaanku. Perasaan sebagai seorang manusia. Takut, khawatir, membutuhkan bantuan, kesepian, tak tenang, dan lainnya. Ada sonar yang mungkin baru dia yang bisa menangkap dan mengartikannya dengan jelas dan tepat seperti yang kuharapkan.


Kami tak sering bertemu, jarang malah. Tapi kami selalu bertemu di satu masa dengan durasi yang panjang, menumpahkan stok kisah dan pergumulan hidup masing-masing yang sudah tertabung. Ia sosok yang selalu kucari untuk masalah macam itu. Mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi. Mengandaikan langkah kami selanjutnya.

Kadangkala saat aku bermasalah, tak selalu sebuah jalan keluar yang meluncur dari mulut seseorang lah yang aku butuhkan. Tapi kehadirannya di sampingku, menatap tajam mataku, dengarkan ceritaku, menyimaknya dalam diam, ya semua bahasa nonverbal itu sangat melegakan dan membuatku tenang. Kami tak selalu tahu harus menapak seperti apa, tapi setidaknya saat itu, beban berat di pundakku diangkatnya dalam diam. Dibantunya mengangkat beban itu, dan menemaniku melangkah, ke arah yang tak tahu benar salahnya. Namun, seandainya salah pun, ada dia menemani bukan?

Aku tak lemah, kurasa ia sangat tahu itu. Tapi aku tak sekuat itu, dan kurasa ia juga tahu itu. Bukan hanya tahu tapi paham. Entah bagaimana pemahaman itu terbentuk. Semuanya mengalir begitu saja seketika setelah chemistry itu kutemukan bertahun lalu. Dan aku tak meminta dunia sekitarku memahami ini lalu kemudian mengganggu. It’s just part of us so let it be like this.

Bagaimana rupa air mataku, ia sudah tahu. Aku tak perlu bersandiwara menutupi kebodohan diri. Kesalahan dan penyesalan diri pun tak terbungkus di hadapannya. Tanpa perlu ada ucapan kalimat pengakuan atau permohonan tetapi tindakan nyatanya menjawab dan membuktikan nilai relasi ini.

Aku tak takut dicaci maki, asal bersamanya aku tahu ia yang akan maju membelaku. Aku tak takut ada yang menjahatiku, asal bersamanya aku tahu ia melindungiku. Just like my guardian. Setidaknya itulah dia di mataku. Sweet? Probably no. Gentle? Absolutely yes!


Am I grateful for that? Yes, definitely! Entah mengapa hidup hanya memberiku waktu singkat tapi “dalam” dengannya. Kesibukan kah alasannya? It could be, bagaimanapun kami punya hidup masing-masing. Tapi aku masih selalu bisa menemukannya. Guardianku pun selalu tahu kapan saatnya menjagaku.

Bagaimana guardianku melihatku? Seberapa lama gelar itu bertahan untuknya? Let time prove it but hopefully it will last, without hurting anyone else around us.

You pick me up when I fall down. You ring the bell before they count me out. If I was drowning you would part the sea. And risk your own life to rescue me.. Bon Jovi – Thank You For Loving Me

Who is it? It’s “my man” !


©BG|271110|1:25AM

Flash Back Memory (2)

Biar ngga dibilang nggacor (baca: mulut besar)! Itulah alasan yang aku pakai ketika tawaran mengkoordinir acara ini diajukan. Tapi tanpa embel-embel sebutan Ketua. Aku tak terlalu menyukainya karena beban tanggung jawab lebih berat ada di baliknya. Ternyata tak semudah itu membuat acara yang tampak simple bahkan diremehkan sebagian pihak. Namun, ini menjadi satu pengalaman luar biasa bekerja bersama sabahat terbaikku selama di Fikom, sebelum kami masuk ke rimba masing-masing.

Ide Flash Back Memory datang dari beberapa teman Fikom 2005 yang berkali-kali ingin bertemu tapi selalu gagal karena satu dan lain hal. Murni tanpa bumbu lain, kami hanya ingin ketemu dan mengenang kekompakan selama bersama di Fikom 2005. That’s it! Bukan sekedar perayaan kelulusan bagi yang lulus di wisuda kali ini. Bukan pula reuni karena belum terlalu lama berpisah. Tetapi mengumpulkan satu angkatan. Berarti semua Fikom 2005 yang sudah lulus, akan wisuda, sedang skripsi, dan yang sudah berhenti di tengah perjuangan.

Pesan yang ingin disampaikan adalah mengingatkan kembali bahwa Fikom 2005 bukan sekedar label ketika masuk menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi Petra 2005. Namun adalah rumah bagi semuanya. Sebuah rumah akan tetap menjadi tempat paling nyaman ketika lelah datang menghampirimu, di level kehidupan manapun kau berada. Seperti yang kutulis di Flash Back Memory (1). Orang-orang rumah bisa mengertimu meski hanya dalam diam. Ada rasa nyaman dan serasa diisi semangat baru saat dikelilingi orang yang kau sayang.

Kau sudah bekerja? Kami semua ingin segera menyusulmu tapi kau memiliki masalahmu sendiri di sela pekerjaan yang tampak nyaman. Kau diwisuda? Kami ingin merasakan senyuman legamu tapi kau memiliki kebingungan apa yang harus kau lakukan sekarang, bekerja di mana, susahnya mencari kerja. Kau masih berjuang skripsi? Kami ingin berbagi perjuangan yang pernah kami alami ketika ada di posisi itu tapi memang tak mudah melewatinya, terlebih secara mental. Kau terlebih dulu menyudahi perjuangan kuliah ini? Kami ingin menanyakan kabarmu sekarang tapi kau tetap keluarga kami karena semua berasal dari rumah yang sama.

Masalah mulai muncul satu per satu. Mulai dari venue yang kurang professional melayani konsumen, long weekend, hingga jadwal peserta. Inilah hidup. Hidup mengharuskanmu memilih dan mengorbankan yang lain. Tanpa imbalan kredit poin, uang, keuntungan sepeser pun, justru harus berkorban waktu untuk meeting, pulsa menelpon 150an FIkom 2005, tenaga untuk mengatur ini dan itu. Komitme diuji, karekter individu terlihat aslinya, gesekan diantara sahabat, kesalahpahaman, semua mewarnai usaha panitia mewujudkan Flash Back Memory ini.

Hal lain yang baru bisa kuterima, mau tidak mau, tidak semua Fikom 2005 memiliki kerinduan sama untuk berkumpul. Itulah kenyataan yang baru terungkap jelas. Tak perlu naïf karena memang begitu adanya. Memang kami tahu ada beberapa yang ingin, tetapi berhalangan karena kesibukan. Namun, ada pula yang merasa tidak memiliki teman untuk hadir. 150 bukan angka yang kecil. Kami hanya bisa tersenyum miris. 4 tahun lebih bersama tetapi mengaku tak punya teman. Aku bersyukur, aku punya banyak sekali teman di Fikom 2005! Bahkan lebih dari teman, sahabat!

Selain itu, apabila acara ini akhirnya berhasil diadakan 5 Maret 2010 lalu, itu semua karena kemurahan Tuhan. Iman memang tidak sejalan dengan kenyataan yang terlihat. Tapi keyakinan itulah yang membuat semua ini berhasil. Tak ada dana, konfirmasi hanya separuh dari jumlah minimum yang diberikan venue sampai dengan H-1. Itu berarti berisiko panitia menanggung kerugian untuk melunasinya. But, taking no risk is the greatest risk of all, isn’t it? Dan kami tidak punya pilihan selain maju dan biar Tuhan yang selesaikan.

Sebagai Coordinator, aku takut teramat sangat. Kerugian jelas akan jadi tamparan yang harus diterima nanti. Tapi aku harus tetap meyakinkan yang lain, bahwa everything will be okay in the end, if it’s not okay then it’s not the end. Meski di dalam, aku sangat takut dan hanya bisa beriman. Aku hanya berdoa minta ampun bila ada tinggi hati di dalam panitia. Memohon supaya hujan tidak menghalangi acara ini dan selesai tanpa “ditampar”. Ada suara yang berkata padaku, bila acara ini harus sampai 3x berganti tanggal, itu tak lepas dari rencana Tuhan; rancangannya adalah rancangan damai sejahtera dan bukan kecelakaan.

Finally, Flash Back Memory Fikom 2005 has its happy ending. Pesan tersampaikan dengan baik. Tidak ada tamparan, justru Tuhan beri lebih dari yang dibutuhkan. Dan ini bukan akhir atau perpisahan tetapi permulaan di tengah lepasnya satu per satu kebersamaan di kampus. Fikom 2005 masih menanti mereka yang belum ingin pulang ke rumah. Tak apa, sejauh apapun kau pergi, kau akan tetap tahu di mana rumahmu. Terima kasih untuk semua dosen yang sudah mendukung dengan hadir dan menyampaikan kecintaannya pada 51405. Keep in touch.. Kalau tidak hadir malam itu, sorry but you’ve missed one of the greatest chances in your life!


Sahabat-sahabatku, Lele, Ella, Ivone, Lili, Couz, Tansil, QingHe, Rama, Ryan, Aan, Tina, Didik, Andy, Aga: Sorry for every mess I did and thank you for showing me who truly you are. It was a great opportunity to work with you once again. Good luck in your life journey! Believe one thing, nothing is impossible with God! J

Sesekali perlu memimpin orang lain supaya kau bisa belajar memimpin dirimu sendiri.. (at) J

Sby – 090310 – 4:24PM

Flash Back Memory (1)

Aku terbangun sekitar 4,5 tahun yang lalu. Berpagarkan nama Fakultas Ilmu Komunikasi UK Petra dan berhalamankan Jurusan Ilmu Komunikasi. Mi Casa Se Casa, kurang lebih itu yang paling kuingat, karena tujuanku ada agar aku menjadi rumah bagi setiap mereka yang berNRP awal 51405..

Aku adalah rumah, ‘home‘ bukan sedangkal ‘house‘. Rumah tempatmu pulang. Tempat beristirahat ketika lelah. Tempat yang akan menerimamu apa adanya dan membiarkanmu jadi dirimu sendiri. Bebas dengarkan lagu yang ingin kau dengar, permainan yang kau suka, melihat gambar diri di cerminmu sendiri, bahkan bermain dengan hewan kesayanganmu. Tempat berlindung ketika kau takut akan badai dan hujan. Aku adalah rumah milik keluarga besar Fikom 2005..

Semua bermula dari kenakalan anak-anak yang baru meninggalkan seragam putih abu-abunya dan berusaha mencari tahu dunia dengan caranya sendiri. Ada banyak suka dan duka. Ada banyak jatuh bangun yang membuat mereka belajar perlahan-lahan tentang makna hidup. Aku paling suka melihat kekompakan mereka mengguncangkan UK Petra. Keunikan dan semangat mereka selalu membekas di setiap dindingku..

Mungkin mereka bukan anak-anak yang sangat pandai, sangat patuh, sangat sopan, atau sangat alim, bukan.. Tapi mereka sangat sempurna dan istimewa, yang diciptakan Tuhan untuk saling membantu dan mewarnai perjalanan hidup yang lainnya..

P3KMABA, Upacara 17 Agustus 2005, Camp Jurusan, Kegemparan Kolam Jodoh, SE Lokal di Surabaya, SE Nasional di Jakarta Bandung, adalah beberapa kebersamaan yang mereka bagikan padaku. Namun, terlepas dari semua kegiatan itu, hari demi hari terukir dengan penuh kenangan dan memori yang menghadirkan tawa maupun air mata..

Kini satu per satu mulai beranjak mengikuti alur kehidupan. Aku rindu pada mereka semua. Aku ingin kembali melihat tawa dan wajah-wajah mereka. Di mana mereka sekarang? Berubahkah mereka? Aaah.. Begitu banyak kenangan itu. Aku yakin mereka juga pasti rindu dengan masa kebersamaan dulu. Ke mana pun hidup membawa mereka sekarang dan nanti, kuyakin masih ada satu tempat di hati mereka untukku. Karena selamanya akulah rumah itu..

Rumah adalah tempat kau menjadi dirimu yang sebenarnya..

Sby – 220110 – 1:00AM

# Description Event FBM in FB

Made by © BeBe

Behind The Scene of My Skripsi

Pada hari ini Rabu, 21/10/2009, telah dilangsungkan ujian skripsi atas:
   Nama: Widianti Gunawan Wijaya
   NRP: 51405118
   Judul: Pemanfaatan Shell Wide Web sebagai Media Komunikasi Internal PT. Shell Indonesia
Para penguji memutuskan bahwa yang bersangkutan dinyatakan LULUS..

Itulah secuil bukti dari lulusnya seorang mahasiswi biasa yang menyerahkan setiap detik perjuangannya kepada Tuhan dan hanya menjalankan yang Tuhan minta, yaitu melakukan yang terbaik yang ia mampu berikan. Tuhan masih memberikan bonus, yaitu nilai A. Bukan karena kemampuannya karena kemampuan itupun Tuhan yang berikan. Bila ada kesempatan yang dimanfaatkan, itupun berasal dari Tuhan. Tuhan berikan yang terbaik untuk setiap hal yang dibutuhkan anakNya. Ia hanya minta agar mereka datang, mendahulukanNya, berharap, dan mengimaniNya..

Saat kaki melangkah masuk ke ruangan, aku berkata dalam hati “Tuhan, mari kita berperang..”. Grogi hilang seketika dan ruangan terasa hangat. Tuhan memilihkan Bpk Dekan Ido dan Bu Asye sebagai penguji. Bu Yuli dan Bu Inggrit ada di sana sebagai dosen pembimbing. Cukup unik karena materi bab 4 dan 5 sama sekali tidak dipertanyakan. Sidang berlangsung cukup cepat, tidak sampai satu jam. Pertanyaan lebih banyak berupa masukan. Setelah dinyatakan lulus, aku keluar dan sekali lagi berdoa bersama teman-teman yang sudah menungguiku. Kalimat pertama terucap, “Tuhan, terima kasih..” dan air mata mengalir seketika.. Itu kata terima kasih yang penuh arti dan penuh ucapan syukur. Seketika kelegaan terasa dan melihat Tuhan telah memimpinku menang dalam peperangan bernama skripsi ini. Bukan hanya selesai tetapi menang..

Sms support yang terus masuk itu membuat PDA bergetar dan senyum tersungging. Aku senang banyak sekali yang peduli padaku. Semakin banyak yang mendoakan makin baik. Itu pesan salah seorang temanku. Dan betapa luar biasanya kuasa doa itu. Ada banyak sekali orang-orang yang mendoakanku sebelum aku maju sidang bahkan pada saat aku masuk dan berjuang sidang. Mama tidak keluar kamar dan mendoakanku selama sidang (doa ibu memang besar kuasanya ^^). Mrs. Liz, my Pastor’s wife also pray for me. Dan tentu ada banyak doa lainnya, yang baru kuketahui setelah sidang selesai. Dan itulah yang membuat rasa percaya diriku muncul dan kupenuhi janjiku untuk beri yang terbaik yang aku bisa.

Sebenarnya sempat takut akan respon pembimbing-2 ku. Kami sempat ada beda pendapat. Beliau merasa aku terburu-buru memaksakan skripsi selesai di periode II ini. Ada hal yang membuatnya tidak puas dengan penelitianku tapi aku pun tak tahu di mana itu (Bu Inggrit, this is my confession hahaha..). Namun aku berhasil meyakinkan bahwa memang harus selesai di waktu ini hingga ACC kuperoleh, “tapi saya tidak tanggung akibatnya pas sidang nanti..”. Aku down dan sempat kusebutkan di Notes sebelumnya bahwa aku jadi tidak yakin dengan penelitianku sendiri (This is  the reason why). Takut bila pembimbingku sendiri tidak memihakku. Hal positifnya adalah aku tidak menjadi over confident (Bu, apakah ini bagian dari taktik? haha..) dan malam sebelum sidang, dalam doaku aku tetap mensyukuri kedua pembimbingku. Dengan kelebihan dan kekurangan mereka, aku yakin itulah yang terbaik yang Tuhan sediakan untuk membimbingku. Dan aku memohon agar Tuhan melunakkan hati Bu Inggrit (It’s true..). Dan kau tahu? Bu Inggrit memberi nilai tertinggi di antara 4 dosen yang ada di ruangan itu.. (Thanks Bu, it means a lot..) Isn’t it awesome? My biggest fear become the highest score..

Papa begitu senang saat kuberitahu hasil sidangku (Mom and Dad, this is for you..). Kalau hasilnya secara nilai dosen memberi nilai A, aku sendiri menilai A untuk prosesnya. Papa adalah dosen pembimbingku yang pertama dan pembimbing pribadi tentunya (dulu ia memang Dosen Sipil). Sejak awal pemilihan topik, aku brainstorming bersamanya di Jakarta. Kala itu aku punya beberapa ide, dan jujur topik yang kumajukan ini adalah yang paling sederhana. Itu karena papa yang sangat idealis berujar, “Be, kamu ini skripsi untuk S1, dosenmu pun tau kapasitas anak S1. Kalau mau meniliti yang rumit, nanti saja setelah kamu kerja. Lebih baik topik sederhana tapi kamu maksimal daripada topik mulia tetapi kamu biasa aja..”. Aku jadi tersadar! Papa sangat idealis tapi bisa berpesan seperti itu?

Lalu waktu Lebaran aku tetap harus ikut mengunjungi kakek nenek ke Semarang. Pagi berlibur, malam buka laptop. Papa bantu rapikan format penulisan. Adik memeriksa salah ketik dari transkrip interview. Saat dekat deadline, papa bantu mengeprint. Ia yang tetap menyuruhku tidak takut maju meski ada beda pendapat dengan pembimbing. Mama selalu membuatkan makanan minuman dengan campuran chinese herbal medicine agar aku tetap sehat meski begadang setiap malam (Beneran loh haha..). Mereka berdua mengantarkanku ke fotocopy di daerah Petra malam itu. Ketika koko datang dari Jakarta, ia bantu membawakan 7 bendel skripsi dari penjilidan ke TU jurusan. Hahaha.. Hal itu terakhir kali kualami waktu SD mungkin. Semua itu bisa kulakukan sendiri, tetapi kubiarkan mereka ‘ikut sibuk’. Lucu bukan? Inilah yang membuatku memberi nilai A untuk proses skripsiku. Karena aku membiarkan keluargaku membantu dan aku sangat menikmati setiap detail di dalamnya.

Dina Setianto, Sri Endah, Fathia Syarif, adalah para manager Communications Shell yang memberi semangat sebelum aku maju sidang. Begitu pula dengan 10 informan dari Shell. Wah wah wah.. Indah bukan? Itulah yang aku maksudkan bila kau cintai skripsimu, ambience positif itu bisa menarik semua yang positif mendekat padamu. Sehingga ada banyak hal baik yang memayungiku. Aku yakin itu bukan ‘hogi’ atau ‘luck’. Guys, I’m not a lucky lady. I’m just an ordinary lady. But I have faith and Awesome God! As I said, God is my victory! Sejak awal tahun, aku melihat diriku akan menyelesaikan skripsi tahun ini dengan hasil yang bagus. That’s my vision. Say what you mean and mean what you say!!

Tulisan ini kutujukan bagi mereka yang berpikiran POSITIF dan mau bersikap POSITIF untuk menyelesaikan perjuangan skripsimu atau apapun yang sedang dihadapi. Cari tahu apa yang kau mau. Bila memang ingin skripsimu selesai di periode selanjutnya maka kau sudah tau apa yang akan kau lakukan. Bagaimana kau harus bimbingan dan membagi waktu. Bagaimana kompromi dengan waktu main-mainmu. Dan sudah bisa membayangkan wisuda 20 Februari 2010 (liburan bareng ya guys..). Tapi bila kau sudah berjaga-jaga ambil pra perwalian dan hal lain, boleh memang untuk antisipasi tetapi juga terlihat mungkin kau pun tak yakin untuk MAU selesaikan skripsimu di semester ini. Oleh karena itu lebih banyak lakukan hal seperti itu alih-alih menekuni skripsi agar bisa selesai. Langkah iman. Sekali lagi, semua itu pilihan! Salahkah pilihan itu? Tidak. Hanya saja, be careful with what you wish for.. Tuhan selalu bisa mendengarnya dan berkata “So be it..”.

Bukannya aku menghakimi. Hanya saja dari apa yang kuamati dari teman yang sekarang sedang berjuang, aku makin bisa melihat skripsi adalah ujian mental. Menyaring mereka yang beriman dan bermental positif untuk bisa selesaikan pertarungan dengan baik. Ada perbedaan yang muncul dari perkataan dan perbuatan mereka terhadap pengerjaan skripsi masing-masing. Ada perbedaan respon yang muncul saat menanggapi masalah yang tiba-tiba menghambat. Yang satu memacu diri dan belajar dari yang berhasil, yang lain justru mencari excuse dan justifikasi mengapa dirinya tidak bisa menjadi berhasil. Yang satu mencari dosen dan menyelesaikan masalahnya, yang lain justru menyalahkan dosen. Hahaha.. Kan semua itu pilihan. Pilihan punya konsekuensinya dan juga ‘hadiah’ masing-masing hehehe.. Kalian di sebelah mana? =P

Aku sudah memilih mau hasil yang luar biasa sejak awal. Oleh karena itu aku mengimaninya dan berjuang lebih berat. Bahkan kuterima ancaman taruhan teman baikku agar aku bisa berlari lebih kencang. Kucari semua cara untuk memacu dan menjaga agar tetap POSITIF. Nilai itu hanya bonus. Seperti yang kubilang di Notes lalu, ujian sebenarnya adalah proses pembuatan skripsi itu dan Tuhan yang menilainya. Kalau ternyata Tuhan memberiku A, itu sebuah hadiah dariNya and let His name be honored as long as I live. Untuk Corporate Communication Fikom, kusumbangkan 1 lagi A ini untukmu. Semoga keinginanku untuk bisa membanggakan papa mama dan semua orang yang sayang padaku boleh terwujudkan sekali lagi.

Thanks to Cliff, Lili, Tans, Nita, Couz, Lele, Ella, Ryan yang menemani saat aku berjuang sidang. Tuhan yang sama yang akan buat kalian berhasil! Be positif guys! I’m here to help you ktika butuh semangat. Teman CC yang lain, pecahkan telur A untuk CC lebih banyak lagi. Harus ada yang pecahkan dan itu harus kalian! Semua yang masih berjuang, sekarang saatnya lari sekencang-kencangnya kalau tidak mau menyesal.. Tahukah kau Word bisa membuatkan Daftar Isi otomatis dari skripsimu?? Semua dosen Ilkom, kalian lah yang terbaik di posisi masing-masing..

God leAd me through bAtlles won becAuse He is my victory!
nb: Kalau kamu bertanya “Habis gini mo ngapain Be?”. Jawabannya “Thanks for your care and tunggu kabar baik selanjutnya dariku.. ^^”

Also published on Widianti’s Note on FB

Sby – 231009 – 2:16PM

364 dari 21

Dalam hitungan jam, aku akan segera meninggalkan satu masa terindah dalam perjalanan hidupku, tahun ke-21 aku menghirup udara dan hidup di dunia ini.

Tak ingin membuang hari terakhir ini dengan sia-sia maka aku ingin melambat sejenak beberapa menit ini, tuk menoleh ke belakang dan mensyukuri semuanya. Itu tak sia-sia karena buatku bagaimana caraku bersyukur menentukan seberapa besar Tuhan akan berkarya di hari depanku. Kubuka kembali blogku, kucari tulisanku 364 hari yang lalu yang kuberi judul My 21st, senyum tersimpul di wajahku. Tak kusadari, air mata menggenang di pelupuk mataku..

5 September 2008, kulewati HUT di Jakarta tanpa keluarga dan tanpa teman terdekat. Namun, hari itu sangat unik dan tak tergantikan. 364 hari lalu kutuliskan kala itu, “Mungkin makna dari ulang tahun kali ini adalah belajar mandiri. Jauh dari orang yang kusayang bukan berarti rapuh tapi menjadi berkat buat orang lain. Tak hanya diberi tetapi memberi..”. Dan benar, semua hal itulah yang terjadi selama umurku ke-21. Kurasakan waktu berjalan lebih lambat dari seharusnya. Masa setahun serasa lebih dari setahun. Bukan seperti biasanya ketika waktu terasa cepat berjalan. Kucerna dan kusadari ternyata karena banyak sekali kejadian besar dan penting dalam hidupku yang Tuhan beri dalam satu tahun ini. Kuselalu menikmati dan menyimpan makna dari setiap kejadian yang terjadi dalam hidup karena semua tak akan bisa kuulang lagi.

Tahun ke-21ku adalah masa Tuhan menarikku kembali yang sudah terlalu jauh dariNya. Ia pulihkan dan menumbuhkanku perlahan. Mengajariku memiliki iman dan harapan. Mengajariku untuk selalu berserah ke mana Tuhan akan membawaku. Mengajariku untuk open minded dan menjadi a true worshipper. Membuatku mengerti makna dari ‘letting go’. Membuatku semakin yakin bahwa kemenangan demi kemenangan di depan sudah disediakannya buatku. Beberapa orang menyebutku lucky, tapi buatku semua keberhasilan dan keindahan ini kudapat karena aku punya Tuhan yang memberikan semuanya buat anak-anakNya yang mengandalkanNya.

Tahun ke-21ku adalah masa ‘keluar dari zona nyaman’. Hidup mandiri dan tak boleh mudah mengeluh. Mulai dari masa 6 bulan di Jakarta hidup menjelajah dan belajar menaklukkan Jakarta seorang diri. Merelakan masa kuliah akan berakhir lebih lambat dari jadwal demi masa magang 6 bulan di kerang kuning. Mengambil kolokium dan skripsi di satu semester yang sama, dengan iman kubisa selesaikan kolokium dalam satu tahap. Tuhan menjadikannya demikian dan kubisa langsung teruskan skripsi tanpa membuang waktu lebih banyak. Kembali ke Jakarta mencari data. Semuanya berjalan di dalam kurun waktu sedikit lebih panjang dari satu tahun. Magang, kolokium, dan skripsi.

Tahun ke-21ku adalah masa Tuhan mengembalikan aku ke dalam kehangatan sebuah keluarga. Kejadian demi kejadian dipakaiNya agar kami menjadi lebih dekat, berbicara heart to heart dengan papa dan mama yang selama ini tampak mustahil dilakukan. Semakin dekat dengan keluarga besar papa di Surabaya karena kuberanikan diri memulai mencoba beri kehangatan dan mereka pun merasakan hangat tetap lebih baik. Cukup sering berkunjung ke Semarang dalam tahun ini, tuk tunjukkan perhatian nyata kepada kakek dan nenek dari mama yang sedang sakit. Sebelum waktu mereka berhenti, sebisa mungkin aku berusaha pergi ke sana tuk tunjukkan sayang dan hormatku pada mereka. Tak hanya itu, aku lebih banyak berusaha memahami papa, mama, koko, dan adikku. Kuberusaha menunjukkan sayangku dengan tindakan nyata.

Tahun ke-21ku adalah masa mempersiapkan dan menata masa depan. Tak lagi jalani semuanya dengan asal have fun tetapi mulai bekerja keras. Kuputuskan jalani SYN yang memberanikanku untuk kembali berani bermimpi. Tak ada yang salah dengan mimpi karena bagiku itu sebuah visi yang akan membawaku maju dan melangkah. Mimpi itu pula yang mengawali karya Tuhan lebih luar biasa lagi di dalam hidupku nanti. Aku pun mulai melihat keinginan untuk bersekolah lagi di luar dengan beasiswa. Tahun ini satu per satu per satu petunjuk kulihat pada saat tak terduga. Tapi kusiap bila saatnya Tuhan ijinkanku untuk sekolah lagi suatu hari nanti. Aku ingin Tuhan pakaiku tuk membuat mimpi papa bisa terwujud, begitu pula dengan mimpiku.

Tahun ke-21ku tak mudah dan melelahkan untuk batinku tetapi Tuhan berikan orang-orang terbaik untuk ada di sekelilingku. Sering kali air mata ini mengalir jatuh, bukan rapuh namun lelah. Mereka membuatku kuat bertahan dan memiliki semangat untuk kembali bangkit. Sahabat-sahabat terbaikku. Kupunya banyak teman, dan beberapa teman baik yang muncul setelah diuji waktu dan tempat. Meski untuk bisa dimurnikan menjadi sahabat terbaik masih perlu banyak ujian tetapi sampai hari ini kusadari siapa saja mereka. Some people come, some people go. Ada yang baru kukenal di tahun ini, tetapi ada pula yang makin menjauh. Yang mampu bertahan dan selalu menyediakan diri ada buatku, bagiku merekalah sahabat yang amat berarti untukku..

Dalam hitungan jam tahun ke-21ku akan berlalu. Tak kan pernah bisa diputar kembali tetapi bisa kukenang nanti ketika kubaca kembali tulisan ini. Kubersyukur untuk setiap hal baik dan buruk, tawa dan air mata, keberhasilan dan yang masih tertunda, orang-orang yang datang dan pergi, keluarga dan teman. Inilah 364 hariku dari tahun ke-21ku. I love my 21st and won’t change it with anything else!

A Warrior of the Light celebrates yesterday’s victory in order to gain more strength for tomorrow’s battle..

 

Surabaya – 040909 – 3:13PM

ISBSV kita!

Surabaya – 120809 – 5:13PM

Decicated to all ISBSV..

Indonesia Sampoerna Best student Visit. Acara yang mempertemukanku dengan puluhan anak cerdas dari kota lain, setahun lalu. Anak cerdas yang diberi gelar ‘terbaik’ oleh Sampoerna. Yang bukan lagi hanya sekadar teman untuk menambah kolega di situs pertemanan. Namun, sudah menjadi teman terbaik tempat ku bergantung di satu masa. Kini, tiba-tiba bukan hanya teman seangkatan yang menjadi sebuah jaringan sosial. Tahun ini, empat angkatan lain yang juga ‘terbaik’ ditambahkan menjadi teman atau bahkan saudara dalam sebuah keluarga besar Indonesia Sampoerna Best Student Visit..

Seharusnya saat ini aku harus mengerjakan skripsiku, tapi seketika muncul keinginan menulis sesuatu tentang ISBSV. Minggu lalu, Sampoerna Best Student Visit 2009 diadakan kembali oleh Sampoerna. Perbedaannya kali ini alumni dari SBSV angkatan sebelumnya diundang untuk bergabung bersama. Tanpa tahu tujuan yang sebenarnya, aku berusaha meluangkan waktu. Paling tidak aku bisa bertemu dengan beberapa teman SBSV 2008, lagipula aku sudah kembali ke Surabaya jadi aku harus bisa menyediakan sedikit waktu. Jaringan/network/koneksi itu harus dijaga dan memeliharanya memang tidak pernah mudah.

I’m quite excited ketika mengetahui 2 teman dari Jakarta, dan 1 teman dari Bali rela untuk datang. Meski akhirnya tahu bahwa Sampoerna membantu keperluan akomodasi, tetapi aku salut akan motivasi mereka hingga benar-benar tinggalkan sejenak kesibukan untuk hadir ke Surabaya. Ternyata bukan hanya dari angkatanku, juga ada beberapa alumni dari angkatan lebih awal datang dari Jakarta dan Palembang. Kami pun berkenalan dan jadilah semua berteman.

Sebenarnya untuk teman seangkatan, aku bisa menyebut bahwa kami masih menjaga baik relasi dan ikatan di antara kami. Jujur, di antara beberapa komunitas yang aku punya, ISBSV ku termasuk yang masih hidup dan eksis. Apalagi ketika hidup 6 bulan, magang di Jakarta. Baru pertama kali ke Jakarta, seorang diri berusaha hidup mandiri menaklukkan hati ibukota yang lebih kejam dari ibu tiri. Entah apa jadinya bila tidak ada teman ISBSV Jakarta. 4 dari 5 mahasiswi UK Petra yang menjadi peserta SBSV 2008, memang memutuskan magang di Jakarta. Alhasil kami sering bertemu dengan rekan Jakarta. Mereka membantu mencarikan tempat tinggal di dekat lokasi kantor perusahaan kami. Padahal semua berbeda lokasi. Yang aku masih ingat betul, kami ke Dufan bersama! Ah.. Aku tak akan melupakan moment itu. Aku sangat ingin ke Dufan, maklum bisa dibilang kali pertama ke Jakarta hahaha.. Dan cukup banyak SBSV 2008 yang bergabung kala itu. Bahkan dari Bandung ada yang turun untuk have fun bersama.

Meski aku tak berpuasa, aku ikut ke acara buka puasa bersama di Plaza Semanggi bersama Mbak Fika. Weekend ke Fatahillah. Makan bersama dengan Mas Bima di Pasific Place. Berkumpul di resepsi Mas Bima di Dharmawangsa Hotel. Musicademia Sampoerna di Balai Kartini. Kami jalan ke Grand Indonesia ketika rekan dari Medan akan bermigrasi ke Jakarta, kami rapat mencari cara membantunya. Nonton di PIM. Dinner bersama di Senayan City. Dan sekali lagi, (Celebrating F*cklentine) Dufan menutup masa 6 bulanku tinggal di Jakarta, kali ini dengan personel SBSV 2008 berbeda dengan Dufan pertama. Berlanjut ke Grand Indonesia menyapa rekan dari Bali yang mampir di Jakarta. Semua dokumentasi foto masih tersimpan lengkap di folderku. Terakhir kita berjumpa di resepsi Dwi, yang mendahului kami semua. Bagaimana dengan SBSV 2008 di kota lain?

ISBSV.

Tidak semua peserta SBSV 2008 aktif, kuakui itu. Jujur saja, beberapa nama tak kuingat wajahnya, khususnya yang kurang proaktif atau kurang ‘mengeksiskan diri’. Sebuah relasi tidak bisa hanya diusahakan oleh satu pihak. Relasi itu antara dua pihak. Ide dan inisiatif yang dimunculkan untuk memelihara relasi itu tidak akan bermanfaat bila pihak yang lain tidak mengulurkan tangannya. Hanya mereka yang mau bersama menjaga relasi itu yang akan tetap bertahan dan merasakan manfaat dari relasi yang telah dipertemukan dalam ISBSV. Bukan berarti saling memanfaatkan dan berhenti di sana, tetapi bukan sebuah kebetulan terpilih dan bisa mengikuti SBSV. Oleh karena itu, aku sadari itu, dan ini harus bisa menjadikan sesuatu someday, buatku melangkah ke langkah yang lebih baik.

Jangan katakan relasi itu mantap karena mereka berada di Jakarta. Jakarta justru kota yang lebih besar dan kondisinya seharusnya tidak mudah untuk terus bertemu. Tetapi aku melihat orang-orang ini bisa tetap bertemu, karena ada kebutuhan dan komitmen yang sama. Bila memang tidak ada event, adakanlah event itu. Bukan sekedar berkumpul berfoya-foya hamburkan uang, tetapi esensi di baliknya yang harus disadari. Lebih baik tidak mencari pembenaran diri tetapi mulai bergerak memelihara network ini. Memulai itu mudah, tetapi memelihara itu sulit.

Tidak semua orang mendapatkan privilege ini. Jadi pilihanmu mau merasakan benefit atau membiarkan itu berlalu begitu saja. Mungkin hal seperti ini bukan hanya terjadi di angkatanku saja. Dan merupakan hal yang wajar dalam rimba kehidupan, di mana yang kuat yang akan bertahan. Kini ketika sekat antar angkatan itu dihancurkan, semua akan melebur dan membaur jadi satu. Kesempatan untuk menjadi aktif dibuka kembali, memperbaiki diri. Tetapi berarti semua juga harus mulai berusaha membuka diri untuk mengenal rekan angkatan lain sehingga benar-benar menjadi satu keluarga besar ISBSV.

Ah.. Senang sekali bisa bertemu kembali dengan rekan seangkatanku. Masih banyak dari kalian yang aku ingat meski tak pernah bertemu. Kegilaan 5 hari itu tampaknya cukup berdampak besar buatku haha.. Ijinkan aku kali ini, sekali lagi berterima kasih buat saudara-saudaraku yang sudah mewarnai dan bersedia kurepotkan selama aku di Jakarta. Rya, Endra, Asto, Khiko, Togel, Andit, Vina, Rudy, I can’t forget your support and our togetherness. Nita, Tansil, Vera, Elkana, I can’t imagine Jakarta without you all girls. Roro, Natalie, Arie, Rika, Dwi, MonJes yang masih sempat berjumpa di Jakarta. Kadek, Mimi, Arfa, Sukma, Diana, I’m so appreciate dengan usaha kalian untuk selalu mendekatkan diri menjaga relasi di antara SBSV 2008 selama ini. Mbak Fika, Mas Arif, Mas Bima, terima kasih banyak.

Sekarang aku akan punya beberapa teman baru dari angkatan yang lain, hi all! Beberapa rekan juga terbang ke luar negeri menempuh pendidikan, good luck guys! Kehidupanku pun akan segera beranjak ke jenjang yang lebih serius lagi, menyusul kalian yang sudah terjun lebih dulu. Tapi aku yakin, ke depan, aku masih bisa terbantu oleh ISBSV ini, entah dalam hal apapun nanti. Ini ISBSV kita! Sebelum berpikir terlalu jauh, jagalah apa yang ada sekarang. Kalau telur itu sudah pecah, sampai kapanpun tak akan ada induk ayam yang lahir darinya..

A Warrior knows that his best teachers are the people with whom he shares the battlefield..

Menerima

Surabaya –  170609 – 12:46AM

Menerima dalam bahasa inggris adalah accept, yang mempunyai persamaan: receive, agree, say yes, take on, believe, admit, tolerate, etc. Isn’t funny? Accept adalah verb atau kata kerja. Namun, arti kata menerima identik dengan setuju, sepaham, percaya, mengakui, dan kata-kata yang mengindikasikan pasrah pada keadaan. Akan tetapi, verb / kata kerja berarti subjeknya melakukan suatu usaha, do something. Kata benda apapun yang ditambahkan di belakangnya tetap membuatnya berperan sebagai verb. Jadi menerima / accept tetap membutuhkan usaha oleh subjeknya untuk dilakukan, sepasif dan sepasrah apapun kesan yang ditimbulkannya..

Kata ini bisa menimbulkan banyak masalah hidup bagi manusia. Seringkali banyak hal yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan atau kita harapkan. Tak ada yang salah bila manusia selalu mengatur, membuat rencana, mengharapkan sesuatu dalam menjalani hari-harinya. Justru harus mengatur demikian agar waktu tidak terbuang sia-sia. Harus membuat rencana supaya tahu apa yang akan dikerjakan hari ini. Harus mengharapkan sesuatu agar hidup jadi termotivasi karena berusaha mewujudkan harapan tersebut. Namun, bagaimana bila tak demikian keadaannya? Maka menerima bisa jadi masalah..

Tidak semua terjadi demikian rapi dan tepat sesuai keinginan. Kita hidup berhubungan dengan banyak orang. Setiap orang sama dengan kita, punya keinginan dan kepentingan masing-masing. Tak semuanya sama dan kata sebagian orang justru harus demikian. Karena tanpa perbedaan kita tak akan berkembang untuk belajar. Tapi bagi yang belum terbiasa ber-positive thinking, aku pun demikian, gesekan itu bisa memercik bunga api. Gesekan pendapat, keinginan, dan pola pikir bisa menjadi masalah. Dan itu bisa membuat kita kecewa, benar tidak? Menerima penolakan. Menerima kegagalan. Menerima bad feeling. Menerima perpisahan. Anak-anak menerima keinginan atau menurut mau orang tua. Ada kalanya orang tau harus menerima keinginan anak-anak yang mungkin berbeda dari yang mereka inginkan. Seringkali semua itu selalu mengecewakan.

Mengapa menerima keadaan tampak sangat sulit untuk dijalani?

Bolehkan aku berbagi.. Aku pun tidak mudah untuk bisa menerima bila keinginanku tidak terjadi seperti yang kukehendaki. Bila sudah seperti itu, aku perlu waktu untuk menenangkan diri dan meredakan emosi yang bisa jadi sudah naik, atau bahkan hilang mood. Kemudian mencari orang untuk berbagi itu juga tidak buruk. Itu perlu karena aku butuh instropeksi. Untuk itu butuh sudut pandang dari orang lain yang lebih netral, bisa menjadi pendengar yang baik, dan memberi masukan bila aku salah. Yang lebih penting, tak lelah memberiku semangat baru. Karena tak jarang, aku yang jadi emosi berlebihan alias lebay dari yang seharusnya. Emosi itu sangat menguras tenaga dan melelahkan. Jadi keberadaan orang lain bisa menetralkan emosi yang berlebihan itu. Lalu kemudian berusaha berpikir bahwa Tuhan punya rencana yang lebih baik dari rencanaku yang manusia ini. Karena tak jarang manusia suka sok tahu, merasa paling oke, paling benar atas hidupnya sendiri dan kadang merasa demikian juga atas hidup orang lain.

Itu yang terjadi denganku. Maka aku pun belajar memahami dan mencerna bahwa menerima itu tidak sulit tapi tidak mudah. Tidak sulit diucap tak mudah dijalani. Tapi aku mau memaksa diri menjalani dan menerima meski kadang penolakan bisa menghadirkan air mata. Dalam hal ini menerima hal yang tidak sesuai harapan. Bila itu hal indah, tentu mudah menerimanya. Siapa yang tidak mau menerima, bila hidup tiba-tiba memberikanmu hal indah? Hanya orang bodoh mungkin yang menolaknya. Tapi sadarkah bahwa hidup itu adil? Tuhan itu adil. Ada + ada -. Justru karena ada – maka + jadi bernilai. Tak selamanya semua indah karena manusia akan terlena. Oleh karena itu, ada pula hal buruk, supaya belajar berjuang dan dapat lebih menghargai keindahan. Semuanya harus seimbang. Tapi manusia tidak mau yang buruk pasti, bila boleh memilih. Hanya hal indah yang mau diterima. Hey! Bukan itu cara memainkan perananmu sebagai mahkluk yang diciptakan oleh Tuhanmu..

Jadi dalam hidup, mau tidak mau harus bisa menerima. Kau mau atau tidak mau, hidup akan memaksamu untuk menerima. Detikan jarum jam tidak akan berhenti hanya karena kau tidak bisa menerima hal buruk yang hidup bawa padamu. Dunia ini tetap akan terus berotasi apapun yang terjadi oleh manusia yang mendiaminya. Angin akan tetap berhembus. Tunas daun berwarna hijau muda akan terus bercukulan ke arah datangnya sinar mentari, meski kau emosi dan tak mau menerima yang telah terjadi. Di sisi lain, manusia lain tetap tersenyum dan meraih mimpinya di kala kau berdiam diri marah pada keadaan yang tidak berpihak padamu.

Menerima keadaan buruk tidak sulit karena yang dibutuhkan adalah saling memahami semua aspek keadaan itu. Take a deep breath. Untuk membantunya, dibutuhkan waktu. Seiring berjalannya waktu, emosi mereda, pikiran lebih jernih, maka memahami akan jadi lebih mudah, dan semangat akan kembali diperoleh. Menerima keadaan juga lebih mudah dengan mencari hal yang masih bisa disyukuri. Cara lainnya, melihat orang-orang yang pernah mengalami hal yang sama lalu telah berhasil melewatinya. Dan selalu ingat satu hal, hidup ini selalu berusaha mengajarkanmu sesuatu. Tak terkecuali pula, mengharapmu memetiknya dari keadaan buruk yang kau atau aku alami. Dan yakinlah, bahwa kau akan bisa melewati dan mengatasinya dengan baik. Menerima keadaan apapun itu, membuat dirimu semakin matang dan kuat menghadapi cobaan hidup yang akan datang.

God grant me the serenity to accept the things I cannot change; courage to change the things I can; and wisdom to know the difference.. (The Serenity Prayer – Reinhold Niebuhr)

Cinta & Persahabatan yang Teruji

Surabaya – 210509 – 8:15PM

..based on true story..

Kemarin aku menemani mama melayat ayah dari teman papa yang telah meninggal. Tak hanya melayat tapi juga mengikuti prosesi pemakaman dengan kremasi. Jujur saja, aku tak begitu menyukai berkunjung ke tempat peristirahatan terakhir karena penuh dengan atmosfer kesedihan dan dukacita di sana. Tapi kali ini, aku mau menemani mama dan aku pun bilang pada diriku sendiri, mungkin ada sesuatu yang bisa kupelajari dari sana. Dan, cukup banyak pelajaran yang kulihat dan kutemukan di sana. Kakek yang meninggal ini meninggal dengan tenang dan mudah jalannya. Aku tak tahu bagaimana harus mengatakannya. Keluarganya tak pernah mengira, karena justru sang nenek lah yang sedang sakit. Tetapi kakek ini tak menderita penyakit yang mengharuskannya dirawat di rumah sakit atau menderita karena sakit sampai akhirnya meninggal. Ia tak membutuhkan sakit terlebih dulu, untuk kemudian beranjak ke kehidupan selanjutnya. Ia tak perlu terlibat dalam sebuah kecelakaan atau dicelakai siapapun untuk mengakhiri lembar hidupnya.

1. Aku semakin percaya bahwa ‘the power of love’ itu ada. Cinta bisa tetap ada dan akan terus ada bahkan sampai maut memisahkan. Ia meninggal saat ingin menemui istrinya yang sedang dirawat di rumah sakit. Ketika ia berjalan di koridor rumah sakit menuju ke kamar tempat istrinya dirawat, jantungnya berhenti berdetak, lalu ia terjatuh. Suster rumah sakit segera membopongnya ke kamar terdekat, mencoba memacu jantungnya, tapi ia telah pergi terlebih dulu. Namun, sehari sebelumnya, ia telah menjenguk istri kesayangannya, dan kata teman papa, mereka berdua tampak tak biasa. Bahkan anak mereka pun melihat kedua orang tua mereka sangat mesra. Sang nenek, yang biasa cerewet karena ia sedang sakit, kali ini bisa membelai mesra suami yang datang membesuknya. Mereka berpegangan tangan, dan sang istri mencium suami yang sudah tua tetapi tetap sehat itu, seakan telah mengetahui bahwa hal itu tak akan bisa lagi mereka lakukan. Keluarga yang menyaksikannya pasti mendapatkan teladan luar biasa. Setelah detak jantung kakek itu berhenti, istrinya tak diberitahu, karena keluarganya tak ingin memperburuk kondisi kesehatannya. Esoknya ketika di Adi Jasa dilakukan penutupan peti, di saat yang sama di rumah sakit, terjadi kejadian mengharukan tetapi nyata. Rekan sekamar nenek itu mengatakan, nenek seperti sedang berbicara dengan seseorang, mereka berpamitan, dan nenek itu melambaikan tangan sambil berucap, “Tunggu aku ya..” Matanya melihat ke arah depan lalu ke atas sambil terus melambaikan tangan. Tanpa sempat diberitahu oleh anak-anaknya, ia telah mengetahui sang suami yang tak sakit apa-apa itu telah pergi terlebih dahulu mendahuluinya.. Aku ingin tak percaya, tapi aku justru jadi makin percaya indahnya cinta yang terjalin antara dua manusia, yang saling setia seumur hidup menjaga dan memberikan cinta seutuhnya untuk pasangannya itu, mempunyai kekuatannya sendiri. Kekuatan untuk tetap abadi dan menginspirasi semua yang mempercayainya..

2. Ketika peti jenazah serta rombongan tiba di krematorium Eka Praya, Kembang Kuning, prosesi demi prosesi dilakukan dengan tata cara Taoisme. Itulah kepercayaan kakek ini dan anak laki-laki pertamanya. Di antara sanak famili yang hadir, aku melihat ada 4 orang kakek yang usianya sepantaran. Mereka berambut putih, berkeriput, ada yang memakai baju safari, ada pula memakai hem selayaknya kakek pada umumnya. Tapi persamaan mereka, mereka sama-sama hadir untuk memberikan penghormatan terakhir bagi salah seorang sahabat mereka yang telah mendahului mereka untuk berangkat dari dunia ini. Ada seorang yang menangis dan terus menangis sampai rekannya memeluknya dan mengambilkan air minum untukknya. Ternyata ia adalah sahabat terdekat dari kakek ini, bahkan beberapa hari sebelum kakek ini meninggal, mereka sempat pergi bersama ke Trawas. Dari cerita yang kudengar, mereka berlima adalah sahabat. Di kala masa tua datang, dan tubuh tak lagi kuat bekerja layaknya di masa muda, mereka melewatkan masa tua bersama. Justru mereka jadi tetap sehat dan tegap karena bersosialisasi bersama, bepergian bersama, tak hanya menyerah pada usia dan raga yang menua. Aku tersentuh oleh indahnya persahabatan para kakek ini. Betapa indahnya persahabatan yang tetap kukuh dan ditutup oleh hal yang bernama “kematian”. Kematian itu jadi tak menyeramkan ketika ada dalam konteks ini. Kematian itu jadi sebuah pengukuhan akan indahnya arti ‘persahabatan’. Mereka melewatkan kejadian indah dalam hidup ketika muda, bepergian bersama ketika masih sehat, berbagi kisah hidup ketika tua, dan meninggalkan satu dengan yang lain ketika kematian itu tiba..

3. Jenazah kakek ini dikremasi bukan dikuburkan. Aku sendiri tak berusaha mencari tahu apakah itu memang permintaannya atau karena alasan lain. Tapi kemudian aku tergelitik, apakah perbedaan jasad dikubur dengan dikremasi? Selain prosesnya, tentu saja. Kremasi ini pun memiliki prosesinya sendiri. Setelah penghormatan terakhir, peti dipindahkan ke pembaringan dan nantinya peti akan dimasukkan ke ruang pembakaran. Setelah peti ada di pembaringan, pintu ditutup sehingga keluarga dan semua orang tak bisa melihatnya. Kemudian setelah peti masuk ke ruang pembakaran, sanak keluarga diminta bersama menekan tombol yang menyalakan tungku pembakaran. Esoknya abu akan diberikan kepada keluarga untuk dilarungkan di laut. Saat nenek dari papaku meninggal, ia pernah berpesan tak mau dikremasi, karena takut membayangkan badannya dibakar. Tapi ada pula yang memilih dibakar agar tak merepotkan keluarga yang ditinggalkan. Ketika ada pilihan antara dikremasi atau dikuburkan, bagaimana memilihnya? Terkadang mungkin bagi yang meninggal sendiri, mereka tak kan lagi merasa apapun baik menjadi abu karena kremasi atau lapuk terurai karena dikuburkan. Namun bagi keluarga yang ditinggalkanlah beban pilihan itu ada. Banyak kutemukan mereka memilih keluarga yang meninggal dikuburkan saja karena tak tega membayangkan panasnya api membakar jasad dari orang tercinta. Tak ada maksud buruk dari tulisanku tentang topik ini. Aku hanya tergelitik, bagaimana orang yang meninggal itu dapat kuat berpesan agar ia dikremasikan bukan dikuburkan? Entah, tak perlu kuketahui lebih lanjut tetapi pasti ada pergolakan batin yang cukup besar untuk memutuskan tubuh duniawi ini akan kembali menjadi debu dengan cara yang mana..

Kematian selalu meninggalkan banyak hal, mengajarkan banyak hal, dan juga menyadarkan akan banyak hal. Namun, tak selalu hanya dipenuhi dengan kesedihan yang meninggalkan sejuta kisah kenangan dan tak akan bisa berjumpa lagi. Namun, kematian pun bisa menjadi bukti kokohnya kekuatan kesetiaan dan keabadian cinta, serta mengukuhkan indahnya arti sebuah persahabatan..

Immortality, I make the journey through eternity, keep the memory of you and me inside, and we don’t say good bye..

Previous Older Entries

www.widiantigunawan.wordpress.com