Skripsi Rasa Mangga

Buah tropis itu berkulit hijau. Daging buahnya kuning kejinggaan. Biji buah besar di tengah. Rasanya manis, legit, dan sedikit asam. Ya, rasa itu tentu terasa kuat melekat untukku. Mangga! Memberi warna jingga cerah di perjalanan skripsiku. Seluruh rangkaian skripsiku berakhir pada saat musim mangga dimulai di akhir 2009.

Begadang di bulan-bulan terakhir untuk menganalisa seringkali dimulai dengan sepiring kecil mangga. Maklum, sel-sel saraf yang terjalin di otakku baru bekerja maksimal justru di malam hari, di kala semua orang di rumah mulai terlelap. Meninggalkan aku sendirian terjaga di depan laptop. Itu berarti beberapa jam setelah makan malam usai. Sebuah kebiasaan di rumahku, selalu mencuci mulut dengan buah atau ice cream setelah makan.

Tahun ini mangga mulai banyak ditemui sejak September. Sampai dengan November ini makin melimpah ruah hingga harganya jatuh di pasaran. Di satu sisi aku senang, di Indonesia bisa dengan mudah dan murah mendapatkannya. Di sisi lain, sayang sekali buah seenak itu hanya dihargai rendah.

Mangga berasal dari India. Kemudian banyak tumbuh di Asia Tenggara. Kaya serat dan antioksidan. Mango mengandung sekitar 20 macam vitamin dan mineral. Itu membuatnya menjadi salah satu buah yang paling kaya nutrisi.

Musim ini, mangga selalu saja ada di rumahku. Memang bukan lagi dari pohon mangga di pekarangan yang sudah ditebang ketika awal renovasi rumah setahun ini. Dulu, mangga manalagi itu selalu berbuah bahkan 2-3 kali setahun. Enak sekali tinggal memetik di depan rumah. Kini masih ada satu pohon mangga arum manis tetapi jarang berbuah dan lebih banyak dipetik tetangga lain sebelum sempat menikmati.

Tetapi tetap saja mangga selalu bisa dinikmati. Entah karena diberi, pernah juga mama membeli hasil kebun pekerja yang sedang merenovasi rumah, atau tentu saja membeli di pasar. Semuanya lezat! Terlebih menjadi makanan pembuka untuk begadang skripsi. Dan skripsi berakhir saat musim mangga semakin mencapai puncaknya.

Tak heran bila setelah selesai, berat badan sedikit bertambah. Ternyata manisnya mangga mengandung karbohidrat yang akan mengendap bila tak banyak bergerak. Mangga tahun ini enak dan manis. Sebab banyak yang kami nikmati adalah mangga yang masang di pohon atau suluhan. Matang alami yang cukup dikupas dan dinikmati. Semanis hasil akhir tugas akhirku.

Tugas akhir S-1 kulalui dengan proses yang manis, legit, dan sedikit asam seperti rasa mangga. Berakhir dengan hasil cerah seperti warna daging buah mangga yang kuning jingga cerah. Selesainya seluruh rangkaian ini seiring dengan musim mangga yang sampai mencapai puncaknya. Tampak sepele tetapi musim mangga kali ini cukup berkesan buatku.

Mango are an excellent source of vitamins A and C, and for those who are physically active, whether working out or constantly on the go, mangos are a great way to replenish that lost potassium.

 

Sby – 17/11/09 – 6:05PM

Advertisements

Sate – Kelinci – Batu

Minggu 08/11/09, akhirnya aku mampir ke Batu setelah sekian tahun. Aku malu belum pernah benar-benar berwisata dan menjelajah habis kota apel ini. Hari ini aku dibuat ‘mupeng’ oleh pesonanya dan aku berencana segera kembali dengan seabrek target haha.. Paralayang, BNS, peternakan kelinci, penangkaran lebah madu, dan gule kambing! Who’s with me?

 

Tadi aku tak sempat berlama-lama. Bersama keluargaku kami melihat-lihat beberapa kebun pisang di daerah Pujon. Memanjakan mata menatap hijaunya alam. Menikmati dinginnya Batu yang diguyur hujan di sore hari. Membeli berkilo-kilo wortel segar di pasar induk. Dan tentu saja, mencicipi kuliner Batu! I recommended you to try this one and I bet you’re gonna like it!

 

Sate Kelinci! Itulah nama rumah makan lesehan di Jalan Patimura yang menjadikan sate kelinci sebagai menu andalannya. Tusukan daging yang besar, empuk, merasuk, dan disajikan di atas hot plate bersama bumbu kacang dengan topping irisan bawang merah plus rawit! Harganya 20.000 IDR untuk 10 tusuk.

Sate Kelinci

Selain itu menu unik yang juga kucoba adalah kelinci goreng! Penasaran dengan wujudnya dan ternyata memang tersaji setengah ekor kelinci seperti ayam goreng lengkap dengan lalapan. Aku memang penyuka kelinci termasuk hasil olahannya. Tak hanya lucu bila dipelihara tapi tekstur dagingnya mirip dengan ayam dan bebas kolesterol. Beberapa kali di beberapa tempat mencoba sate kelinci tetapi biasa saja. Malah seringkali tidak lezat karena dagingnya jadi terlalu alot karena salah olah.

Kelinci Goreng

Resto unik yang berdiri sejak 1997 ini meyakinkanku bahwa kelinci memang bisa diolah dengan lezat! More than my expectation. Harga pun terjangkau dan reasonable. Sepertinya bagi yang belum pernah makan daging kelinci, kau takkan kecewa untuk pengalaman pertama bahkan will give you a nice first impression. Bagi yang gemar, maka patut di-rating apakah selera lidah kita sama hihihi.. Kuberi nilai 8.5 untuk lezatnya dan 1.5 lain karena nuansanya terlalu gelap.

 

Letaknya mudah ditemukan. Ada di sisi kanan dari arah Surabaya menuju Batu. Cukup jauh sebelum berbelok kiri untuk ke BNS, Jatim Park, dll. Bernuansa kayu dan berpalangkan tulisan Sate Kelinci berwarna kuning. Lagipula pasti semua warga Batu mengetahuinya. Begitu pula denganku yang tahu bila aku pasti akan kembali wisata kuliner ke sana while having my vacation to Batu, soon!

 

..badanku bulat tak bisa tinggi, persis kaya anak kelinci.. (Gang Kelinci)

 

 

Sby – 09/11/09 – 00.44AM

www.widiantigunawan.wordpress.com