ISBSV kita!

Surabaya – 120809 – 5:13PM

Decicated to all ISBSV..

Indonesia Sampoerna Best student Visit. Acara yang mempertemukanku dengan puluhan anak cerdas dari kota lain, setahun lalu. Anak cerdas yang diberi gelar ‘terbaik’ oleh Sampoerna. Yang bukan lagi hanya sekadar teman untuk menambah kolega di situs pertemanan. Namun, sudah menjadi teman terbaik tempat ku bergantung di satu masa. Kini, tiba-tiba bukan hanya teman seangkatan yang menjadi sebuah jaringan sosial. Tahun ini, empat angkatan lain yang juga ‘terbaik’ ditambahkan menjadi teman atau bahkan saudara dalam sebuah keluarga besar Indonesia Sampoerna Best Student Visit..

Seharusnya saat ini aku harus mengerjakan skripsiku, tapi seketika muncul keinginan menulis sesuatu tentang ISBSV. Minggu lalu, Sampoerna Best Student Visit 2009 diadakan kembali oleh Sampoerna. Perbedaannya kali ini alumni dari SBSV angkatan sebelumnya diundang untuk bergabung bersama. Tanpa tahu tujuan yang sebenarnya, aku berusaha meluangkan waktu. Paling tidak aku bisa bertemu dengan beberapa teman SBSV 2008, lagipula aku sudah kembali ke Surabaya jadi aku harus bisa menyediakan sedikit waktu. Jaringan/network/koneksi itu harus dijaga dan memeliharanya memang tidak pernah mudah.

I’m quite excited ketika mengetahui 2 teman dari Jakarta, dan 1 teman dari Bali rela untuk datang. Meski akhirnya tahu bahwa Sampoerna membantu keperluan akomodasi, tetapi aku salut akan motivasi mereka hingga benar-benar tinggalkan sejenak kesibukan untuk hadir ke Surabaya. Ternyata bukan hanya dari angkatanku, juga ada beberapa alumni dari angkatan lebih awal datang dari Jakarta dan Palembang. Kami pun berkenalan dan jadilah semua berteman.

Sebenarnya untuk teman seangkatan, aku bisa menyebut bahwa kami masih menjaga baik relasi dan ikatan di antara kami. Jujur, di antara beberapa komunitas yang aku punya, ISBSV ku termasuk yang masih hidup dan eksis. Apalagi ketika hidup 6 bulan, magang di Jakarta. Baru pertama kali ke Jakarta, seorang diri berusaha hidup mandiri menaklukkan hati ibukota yang lebih kejam dari ibu tiri. Entah apa jadinya bila tidak ada teman ISBSV Jakarta. 4 dari 5 mahasiswi UK Petra yang menjadi peserta SBSV 2008, memang memutuskan magang di Jakarta. Alhasil kami sering bertemu dengan rekan Jakarta. Mereka membantu mencarikan tempat tinggal di dekat lokasi kantor perusahaan kami. Padahal semua berbeda lokasi. Yang aku masih ingat betul, kami ke Dufan bersama! Ah.. Aku tak akan melupakan moment itu. Aku sangat ingin ke Dufan, maklum bisa dibilang kali pertama ke Jakarta hahaha.. Dan cukup banyak SBSV 2008 yang bergabung kala itu. Bahkan dari Bandung ada yang turun untuk have fun bersama.

Meski aku tak berpuasa, aku ikut ke acara buka puasa bersama di Plaza Semanggi bersama Mbak Fika. Weekend ke Fatahillah. Makan bersama dengan Mas Bima di Pasific Place. Berkumpul di resepsi Mas Bima di Dharmawangsa Hotel. Musicademia Sampoerna di Balai Kartini. Kami jalan ke Grand Indonesia ketika rekan dari Medan akan bermigrasi ke Jakarta, kami rapat mencari cara membantunya. Nonton di PIM. Dinner bersama di Senayan City. Dan sekali lagi, (Celebrating F*cklentine) Dufan menutup masa 6 bulanku tinggal di Jakarta, kali ini dengan personel SBSV 2008 berbeda dengan Dufan pertama. Berlanjut ke Grand Indonesia menyapa rekan dari Bali yang mampir di Jakarta. Semua dokumentasi foto masih tersimpan lengkap di folderku. Terakhir kita berjumpa di resepsi Dwi, yang mendahului kami semua. Bagaimana dengan SBSV 2008 di kota lain?

ISBSV.

Tidak semua peserta SBSV 2008 aktif, kuakui itu. Jujur saja, beberapa nama tak kuingat wajahnya, khususnya yang kurang proaktif atau kurang ‘mengeksiskan diri’. Sebuah relasi tidak bisa hanya diusahakan oleh satu pihak. Relasi itu antara dua pihak. Ide dan inisiatif yang dimunculkan untuk memelihara relasi itu tidak akan bermanfaat bila pihak yang lain tidak mengulurkan tangannya. Hanya mereka yang mau bersama menjaga relasi itu yang akan tetap bertahan dan merasakan manfaat dari relasi yang telah dipertemukan dalam ISBSV. Bukan berarti saling memanfaatkan dan berhenti di sana, tetapi bukan sebuah kebetulan terpilih dan bisa mengikuti SBSV. Oleh karena itu, aku sadari itu, dan ini harus bisa menjadikan sesuatu someday, buatku melangkah ke langkah yang lebih baik.

Jangan katakan relasi itu mantap karena mereka berada di Jakarta. Jakarta justru kota yang lebih besar dan kondisinya seharusnya tidak mudah untuk terus bertemu. Tetapi aku melihat orang-orang ini bisa tetap bertemu, karena ada kebutuhan dan komitmen yang sama. Bila memang tidak ada event, adakanlah event itu. Bukan sekedar berkumpul berfoya-foya hamburkan uang, tetapi esensi di baliknya yang harus disadari. Lebih baik tidak mencari pembenaran diri tetapi mulai bergerak memelihara network ini. Memulai itu mudah, tetapi memelihara itu sulit.

Tidak semua orang mendapatkan privilege ini. Jadi pilihanmu mau merasakan benefit atau membiarkan itu berlalu begitu saja. Mungkin hal seperti ini bukan hanya terjadi di angkatanku saja. Dan merupakan hal yang wajar dalam rimba kehidupan, di mana yang kuat yang akan bertahan. Kini ketika sekat antar angkatan itu dihancurkan, semua akan melebur dan membaur jadi satu. Kesempatan untuk menjadi aktif dibuka kembali, memperbaiki diri. Tetapi berarti semua juga harus mulai berusaha membuka diri untuk mengenal rekan angkatan lain sehingga benar-benar menjadi satu keluarga besar ISBSV.

Ah.. Senang sekali bisa bertemu kembali dengan rekan seangkatanku. Masih banyak dari kalian yang aku ingat meski tak pernah bertemu. Kegilaan 5 hari itu tampaknya cukup berdampak besar buatku haha.. Ijinkan aku kali ini, sekali lagi berterima kasih buat saudara-saudaraku yang sudah mewarnai dan bersedia kurepotkan selama aku di Jakarta. Rya, Endra, Asto, Khiko, Togel, Andit, Vina, Rudy, I can’t forget your support and our togetherness. Nita, Tansil, Vera, Elkana, I can’t imagine Jakarta without you all girls. Roro, Natalie, Arie, Rika, Dwi, MonJes yang masih sempat berjumpa di Jakarta. Kadek, Mimi, Arfa, Sukma, Diana, I’m so appreciate dengan usaha kalian untuk selalu mendekatkan diri menjaga relasi di antara SBSV 2008 selama ini. Mbak Fika, Mas Arif, Mas Bima, terima kasih banyak.

Sekarang aku akan punya beberapa teman baru dari angkatan yang lain, hi all! Beberapa rekan juga terbang ke luar negeri menempuh pendidikan, good luck guys! Kehidupanku pun akan segera beranjak ke jenjang yang lebih serius lagi, menyusul kalian yang sudah terjun lebih dulu. Tapi aku yakin, ke depan, aku masih bisa terbantu oleh ISBSV ini, entah dalam hal apapun nanti. Ini ISBSV kita! Sebelum berpikir terlalu jauh, jagalah apa yang ada sekarang. Kalau telur itu sudah pecah, sampai kapanpun tak akan ada induk ayam yang lahir darinya..

A Warrior knows that his best teachers are the people with whom he shares the battlefield..

Advertisements

Serpihan Ledakan Kuningan

Jakarta – 190709 – 11:52PM

Bom meledak lagi di Mega Kuningan! Bukan yang pertama terjadi di Indonesia, tetapi perasaan seperti ini baru pertama kali kurasakan. Ada yang berbeda ketika mengucapkan, “Hidup mati di tangan Tuhan, tenang saja. Kalau emang saatnya tiba ya sudah..”. Perbedaan itu ada pada: dulu aku menyebutkannya saat berada di Surabaya, dan kali ini aku harus menyebutkannya saat aku memang berada di Jakarta. Aku mengalaminya lebih dekat..

It Just So Close!

Pagi itu, siaran televisi tiba-tiba menayangkan berita adanya ledakan di Ritz Carlton dan JW Marriott. Gambar yang ditayangkan adalah seorang korban bersimbah darah, tengah ditandu ke sebuah mobil mewah. Lokasi penuh dengan asap. Orang berlarian ke lapangan. Beberapa panik shock, terduduk menangis di tepi jalan. Banyak yang menempelkan telepon di telinga. Ada police line kuning terpasang. Dedaunan gugur berantakan di jalan.

Seperti biasanya bila ada kejadian besar menggemparkan, aku terpaku menyaksikannya. Sampai cukup terlambat berangkat mencari data skripsi. Hm, malamnya aku sempat mencari berita tentang kedatangan MU ke Jakarta. Ada teman baikku penggemar MU yang rela akan datang bahkan sudah membeli tiket VIP dan tiket pesawat dari Surabaya. Karena penasaran, maka kucari tahu beritanya. Dan baru kutahu kalau pemain MU akan masuk ke Ritz Sabtu malam. Kupikir kala itu, wajar, Ritz punya kredibilitas bagus dan penjagaan ketat.

Jumat lalu aku baru merasakan ‘seandainya ditempatkan dalam keadaan emergency’ dan kepanikan itu tetap muncul meski ternyata hanya simulasi. Jumat ini, kepanikan benar-benar dialami oleh mereka yang ada di kedua hotel berbintang itu. Teman, sedikit banyak, simulasi itu penting!

Sabtu sebelumnya, aku bersama temanku pergi ke Ambassador. Ia belum lama datang dari Surabaya dan belum tahu banyak tentang Jakarta. Kami makan siang di foodcourt. Ia mengambil duduk di samping jendela kaca. Aku pun menunjukkan kawasan Mega Kuningan yang tampak jelas di depan kami, apalagi dari ketinggian seperti ini. “Itu JW Marriott yang 2003 lalu dibom. Trus tinggi di belakangnya, itu Ritz Carlton..” Kurang lebih seperti itulah pembicaraan kami. Ia bahkan sempat ber-GPS melacak lokasi Mega Kuningan dari handphone barunya. Mengapa topik itu muncul dalam pembicaraan kami saat itu ya?

Beberapa keluarga di Surabaya menelpon menanyakan situasi di Jakarta. Maklum, kali ini 3 anggota keluargaku sedang beraktivitas di Jakarta. Wajar bila mereka cemas karena amat gempar semua media menayangkan berita panas ini. Bila dilihat dan ditarik lurus dari peta Jakarta, tempat tinggalku tak begitu jauh dari Mega Kuningan. Tetapi cukup jauh untuk ditempuh dengan kemacetan Jakarta. Aku berangkat dengan perasaan tak nyaman, bukan tak aman. Karena aku makin menjauhi lokasi kejadian. Hanya saja, bila menu sarapan pagimu adalah berita buruk, bukan kah itu awal yang kurang baik untuk semangat beraktivitas?

Sesampai di kantor, semua wajah tegang, tak ceria seperti biasa. Flat TV yang tergantung di sudut dinyalakan. Aku mengakses d*tik.com dan spontan membaca dengan keras, “Presdir Holc*m tewas jadi korban!”. Kontan, semua mendatangi mejaku dan bereaksi kaget luar biasa. Bagaimana tidak, ternyata Holc*m adalah klien perusahaan ini. CEO tersebut dikenal dekat oleh petinggi di sini. Pantas saja, departemen komunikasi ini terkejut. Tak lama makin banyak karyawan yang mengerumuni TV, bersama ingin melihat daftar nama korban. Ada 2 nama lain yang dikenal oleh Manager External Communicationku. Kebetulan mereka juga rekanan dan benar, turut menjadi korban.

Aku dan beberapa staff miris dan bergidik. Kejadian itu begitu dekat. Proximity itu tercipta bukan hanya karena geografis, tetapi korban itu kami kenal. Bahkan sempat hadir kala perusahaan mengadakan event besar bulan lalu, di Ritz Carlton pula. Minggu depan pun, serangkaian kegiatan penting direncanakan akan diadakan oleh departemen komunikasi ini. Selama beberapa hari dan bertempat di Ritz Carlton. Ruangan yang telah dipesan adalah resto Airlangga yang meledak itu. Di mana ada banyak orang penting, termasuk pers akan hadir. Seketika merinding membayangkannya, akibat campuran rasa syukur dan kengerian.

Ada pula 2 foreign staff yang hampir saja bersinggungan dengan ledakan. Mereka menginap di Ritz, menunggu taxi di lobby untuk ke kantor. Mereka sempat melihat Marriott meledak dan seketika taxi datang mereka segera masuk ke dalam taxi. Ketika taxi beranjak menjauh, BLAR!! Mereka menoleh ke belakang dan melihat tempat mereka berdiri penuh dengan asap. So close!!!

Don't cry

Proximity

Terlepas dari kegeramanku dan kebanyakan orang normal lainnya, aku hanya menyadari proximity bisa memberikan feel berbeda. Ketika isu ledakan di Muara Angke adalah bom, semakin membuat semua rekan di kantor takut. Semua menghubungi keluarga masing-masing, memastikan keberadaannya. Siangnya ditemukan sebuah bom lagi di 1808 Marriott. Biasanya aku orang yang cukup cuek dan yakin saja bahwa jalan hidup setiap orang sudah ditentukan Tuhan. Tapi suasana di sekitar dan di sekelilingmu bisa membuat kalimat itu terbayangkan dengan berbeda. Orang Jakarta yang kukira sudah kebal dengan hal seperti ini pun ternyata tetap takut. Banyak yang membatalkan acara Jumat sore dan memilih pulang.

Salah seorang rekan lain berkata, hidup mati manusia memang sudah di tangan Tuhan. Inilah Jakarta, kalau kamu takut ya jangan hidup di Jakarta. Inilah resiko yang memang harus dihadapi. Kalau tidak berani, mana bisa lakukan aktivitas yang seharusnya kau lakukan..

Hari Jumat kelabu itu, mulai sarapan, lunch, hingga makan malam, bermenukan “bomb Mega Kuningan”. Suasana duka yang tidak mengenakkan seharian penuh. Kegeraman masih berdiam di ujung hati. Sedikit keraguan untuk bepergian, jujur kuakui ada. Namun, saat teduh malam itu justru berkata sedikit berbeda kepadaku.

Belajar dari Rumah Duka

Judulnya ‘Rumah Duka’. Pergi ke rumah duka lebih baik daripada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia (Pengk 7:2). Ya.. Kusadari aku termasuk orang yang memilih menghindari rumah duka karena enggan berhadapan dengan kematian. Tapi justru keadaan itu menyadarkan bahwa hidup itu singkat. Rasa kehilangan mendorongmu lebih bergantung pada Tuhan. Pergunakan kesempatan yang ada selagi bisa. Jadi, di sanalah kau belajar bijak. Bukan di rumah pesta kau bisa belajar hal seperti itu. Yah, tak ada gunanya menghindari kemalangan, karena dari itu imanmu justru terbangun.

Tragedi Mega Kuningan ini mendukakan Indonesia, penggemar MU, perusahaan tertentu, keluarga korban, dan semua masyarakat. Akan tetapi, belajarlah dari kedukaan ini. Belajarlah sesuatu agar kau lebih bijak. Dan aku yakin kali ini, Indonesia akan bangkit. Bangsa ini sudah mengalami kedukaan bertubi-tubi, apalagi yang bisa menjatuhkannya? Bersama tunjukkan pada dunia, Indonesia tak seburuk citra yang berusaha dijatuhkan seperti ini. Tuhan bisa memutarbalikkan kemalangan jadi hal yang indah suatu hari nanti, untuk Indonesia. Tegarlah Indonesiaku!

 

Tuhan membuat hidup kita kaya dengan mengajar kita mencampur canda dan air mata..

Emergency, Emergency!!

Alarm tanda bahaya berbunyi! Bunyi sirine itu memekakkan telingaku! Kusadari aku berada di ketinggian, di lantai 26!! Lift gedung otomatis pasti berhenti! Kepanikan mulai menjalar.. Tangga darurat, hanya itu! Semua orang bangkit dari kursinya dan beranjak cepat ke tulisan EXIT! Berlombalah menuruni gedung setinggi itu dengan ketakutan yang mengejar di belakangmu!

Akhirnya aku kembali ke Jakarta! Kamis lalu aku tiba di Ibukota dan kembali berurusan dengan Shell sejenak. Senin lalu mulai rutin datang ke Talavera Office Park. Dan lucu sekali, aku seperti temu kangen, bernostalgia dengan banyak staff Shell. Mereka kaget melihatku setelah tak nampak sejak Februari. Ternyata banyak yang masih mengingatku, rupanya magang 6 bulan kala itu telah menciptakan relasi yang cukup kuat. Mereka mengira aku telah lulus dan akhirnya bekerja di CX hahaha.. Tidak atau belum! Kali ini aku mengumpulkan data skripsi.

Banyak yang bertanya untuk apa kembali ke Jakarta hanya untuk skripsi? Rela banget sih untuk skripsi doank? Hey, Jakarta tidak begitu jauh dan aku menyukai kota ini beberapa sisi. Mungkin karena aku pernah tinggal cukup lama hingga tak berat untukku sebulan kembali ke Shell dan mengerjakan penelitianku. Bisa saja mengambil judul lain tentang perusahaan di Surabaya, tapi 6 bulan yang kuhabiskan di Shell menunjukkanku banyak hal. Sedikit banyak aku punya pengetahuan tentang perusahaan ini. Selagi kesempatan masih diberikan, aku ambil saja, at least untuk membina relasi yang pernah ada. Selain itu untuk belajar lebih dalam tentang aktivitas Communication. Aku mengambil penelitian di bawah Divisi Media Relations, selama 4 bulan dibimbing oleh Manager Divisi CSR, kini skripsi di bawah Divisi Internal Communication. Lengkap sudah semua bagian dari PR Shell kujelajahi.

Yang mengesankan adalah kejadian hari ini, Jumat, 10 July 2009. Pagi ini, sekitar pukul 9.50AM, aku sedang mengerjakan skripsi di depan laptop sambil ber-ear phone karena mentranskrip hasil interview. Sayup kudengar Emergency Annoucement. Seketika aku dengar sirine berbunyi keras. Pengeras suara di setiap lantai Talavera Office Park ini menyerukan bahwa hari ini tidak ada latihan simulasi kebakaran atau uji coba. Alias, sirine itu berbunyi bukan karena buatan! Suara itu menyuruh kami segera meninggalkan gedung melalui Emergency Exit atau tangga darurat.

 Pic Source : Tata Mulia

Otomatis semua karyawan yang sedang bekerja di meja masing-masing, berdiri, riuh keheranan, dan mulai beranjak meninggalkan meja ke pintu darurat. Aku cukup panik karena berusaha mencerna ini simulasi atau benar ada sesuatu di gedung ini, apapun itu aku harus tetap segera beranjak. Kuambil ranselku dengan laptop di dalamnya, plus dompet dan PDA inside. Aku bersama rekan CX segera keluar lewat Exit Door yang lantai kami, lantai 26! Berdesakan, bergabung dengan orang lain dari lantai atas, kami menuruni anak tangga.

Ini kali pertama aku berada di situasi seperti itu. Melihat orang berbondong menuruni anak tangga darurat. Ketika bergabung dengan rombongan dari lantai bawah, aku terpisah dari temanku. Ada yang hanya bawa badan saja, ada yang membawa tas atau laptop. Kuperhatikan lagi, ada yang tampak panic, ada pula yang santai bercerita dengan rekannya. Saat itulah aku sadar, ini hanya simulasi! Evacuation Drill! Aku ada di perasaan antara merasa sangat bodoh, dengan berusaha mempelajari andai itu bukan simulasi. Anak tangga kuturuni terus, kulihat 25, 22, 19, 15, … Tanpa sengaja aku bertemu dengan staff Shell dari lantai lain, sambil mengobrol kami mengalihkan pikiran dari situasi tidak enak itu. Sampai tak terasa kulihat 11, 9, 6, 2 dan akhirnya, sinar matahari!!

Keluarlah kami dari untaian ribuan anak tangga. Kulihat mobil ambulance. Di beberapa area orang-orang berkumpul. Ada yang ber-safety vest sambil membawa sign bertulis nomor tiap lantai. Petugas keamanan mengarahkan rombongan yang baru keluar ke area lain di belakang gedung, yang disebut dengan Assembly Area. Di sana beberapa staff yang menjadi vocal point HSSE telah mengenakan safety vest. Mereka mengangkat tinggi sign lantai masing-masing. Aku mencari 26 dan berkumpullah dengan rekanku lain. Kaki gemetar! Semua berceloteh dan berkeringat, mengeluhkan kaki gemetar karena jarang berolahraga sehingga ‘kaget’.

Sebenarnya di setiap lantai selalu tersebar denah gedung untuk situasi darurat. Shell memiliki standar safety yang sangat luar biasa baik. Oleh karena itu segala hal yang related dengan safety, sudah menjadi budaya. Staff mengetahui langkah yang harus dilakukan dan tempat yang harus dituju dalam keadaan darurat di dalam gedung. Setelah berkumpul di Assembly Area, tentunya ruang terbuka, kami didata. Dengan jelas disebutkan ini simulasi. Kemudian teriknya matahari ditambah kaki gemetar dengan cepat membubarkan kerumunan massa penghuni Talavera.

Terlepas dari kehebohan, merasa bodoh, kaki gemetar, merasa sial, aku pun belajar dari latihan ini:

  • Bunyi sirine pasti mendatangkan kepanikan! Dan berusahalah focus agar kau tahu apa yang penting untuk kau bawa bila memungkinkan. Tidak mungkin kau bisa membawa semua hartamu di kantor karena kau akan berdesakan di dalam tangga darurat.
  • Selamatkan nyawa, itu yang terpenting. Jangan pusingkan harta, tak kan ada arti bila nyawa tak terselamatkan.
  • Tangga darurat itu sangat pengap. Ditambah dengan banyaknya manusia yang berebut oksigen dalam kepanikan. Jadi, kendalikan diri agar tidak panic.
  • Semakin tinggi lantai, semakin tidak menguntungkan. Bukan hanya karena jumlah anak tangga yang lebih banyak untuk dituruni sampai bawah, tetapi jumlah massa. Turun selantai, kau bertemu puluhan orang yang keluar dari lantai itu, semua berebut menuruni tangga lebih dulu. Turun selantai lagi, berarti jumlah berlipat. Begitu seterusnya. Do you get my point?
  • Alihkan perhatian tetapi tetap focus, agar tidak makin panic.
  • Menuruni banyak anak tangga yang berpola sama, bisa membuatmu pusing.
  • Ikuti arahan dan petunjuk dari petugas.
  • Pelajari dan baca semua peringatan yang telah diberikan sebelum keadaan darurat benar-benar terjadi. So that you’ll have a field of reference before you experience it.
  • Jangan remehkan simulasi, it’s a must and good for us, oneday!

Saat magang, dua kali aku absen dari kegiatan mengepak barang untuk pindah gedung, karena menyelesaikan urusan di Surabaya. Kali ini, hari ke-5 di Shell, aku harus menuruni 26 lantai Talavera. Terbayar sudah rasa tidak puas teman-teman karena dulu aku tak ikut berlelah hahaha.. Andai di Surabaya, mungkin tidak bisa bersimulasi seperti ini. Selain banyak pihak belum aware pentingnya simulasi keadaan darurat, gedung setinggi ini masih langka ditemukan. Sampai beberapa hari ke depan, kakiku pasti sangat sakit dan pegal. Tapi kelelahan ini untuk berjaga-jaga karena bila situasi seperti itu terjadi, mau tidak mau, semua harus siap!

The future has become the present. Anything of importance will remain, while anything useless will disappear..

 

Jakarta/100907/10:57PM                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      

Jakarta: Well Done!!

Sby – 250209 – 00:50AM

 

Tepat seminggu yang lalu, aku meninggalkan Jakarta untuk benar-benar kembali ke Surabaya. Menutup kisah 6 bulan magang, merantau sendiri ke Ibukota dan berusaha mengambil hati Jakarta. Semua kekhawatiran itu masih kuingat betul, malam sebelum meninggalkan Surabaya aku bahkan tak bisa tertidur. Namun ternyata aku berhasil melewatinya.

 

Bunderan HI

 

Sepenggal kisah hidupku yang melekat di ingatanku untuk seterusnya. Bersyukur untuk kesempatan magang di sebuah perusahaan minyak multinasional yang mengerti pentingnya apa yang kupelajari di kampus. Thanks a lot Shell for the lessons.. Bersyukur untuk teman, rekan, sahabat di CX Shell Indonesia. Thanks guys, you teach me what ‘working life balance’ is.. Bersyukur untuk persahabatan dengan teman senasib dan sepenanggungan yang bersama mengadu nasib di Jakarta. Thanks Girls! We are superwomen!! Bersyukur untuk keluarga yang semakin dekat karena jarak yang semakin jauh. Thanks Papi Mami Koko and Cing, I love you.. Bersyukur untuk persahabatan dengan Sampoerna Best Student 2008. Thanks Bro and Sist for accompanied me there.. Bersyukur untuk keras dan beratnya hidup di Jakarta. Thanks God, aku jadi jauh lebih mandiri dan belajar menjaga diri.. Bersyukur untuk hitam putih yang kutemukan di sana, sehingga aku bisa melihat hidup itu memang pilihan.. Bersyukur untuk banyaknya orang baru yang kukenal, aku jadi belajar memahami karakter-karakter manusia.. Bersyukur untuk tinggal sementara di Jakarta, aku jadi beribadah di JPCC dan hari minggu jadi hari yang paling kutunggu karena kekuatan dan berkat yang kubawa pulang. Bersyukur untuk semuanya, setiap bulan, minggu, hari, jam, menit, dan detik yang telah kulewati..

 

Ada begitu banyak hal yang bisa kupelajari dan menjadikanku lebih dewasa dalam berpikir. Ada banyak kesempatan yang terbuka bila kita mau mencoba. Hidup tak akan terus menunggu bila kau terus memilih untuk berada di dalam tempurungmu di zona nyaman. Di tengah kejamnya Jakarta, kejujuran itu tetap perlu. Setiap orang patut untuk dihargai, bahkan dengan seulas senyuman. Kesetiaan sangatlah mahal harganya tetapi kepercayaan itu ada dan harus dijaga. Dan masih banyak sekali nilai kehidupan yang kubawa pulang. Belajar dari segi tersederhana dalam keseharian Jakarta: Bila naik bajaj, hanya Tuhan dan sopirnya yang tahu ongkos sebenarnya haha.. Melihat kompaknya kerjasama sopir dan kernet Kopaja.. Betapa susahnya anak muda memberikan tempat duduk di busway bagi orang yang lebih tua.. Menyukai moment saat pesawat take off dan landing, seakan meninggalkan dunia untuk sesaat dan kembali dengan lembaran yang berbeda..

 

Ada sebuah pertanyaan, sebut saja salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan orang-orang di sekelilingku: Enak mana Jakarta atau Surabaya? Jakarta adalah sebuah kota yang besar, lengkap, dan memiliki fasilitas yang lebih komplit tentunya. Ada banyak mall, entertaninment, sehingga kau tak kan pernah bosan di sana. Jakarta menawarkan banyak pilihan untuk hidup. Mulai paling hitam pekat hingga putih bersih. Tinggal sesuaikan dengan kemampuanmu. Karena itu pula, menurutkku Jakarta adalah tempat yang enak untuk bekerja mencari nafkah dan pengalaman. Tetapi bukan untuk tinggal. Aku masih tetap menyukai Surabaya lebih dari Jakarta, untuk tinggal. Paling tidak sampai hari ini. Tanpa kejauhan, kemacetan, dan kebisingan kota. Suasana jalanan yang masih menyenangkan untuk pelampiasan kesenanganku menyetir mobil. Apalagi semua keluarga dan teman terdekat masih di Surabaya. Suasana Surabaya tetap lebih hommy dan nyaman untukku..

 

Berat badanku meningkat cukup banyak untuk kurun waktu 6 bulan. Itu menandakan aku betah di Jakarta dan target teman-teman CX Shell nyaris tercapai sudah.. Ketika itu mereka bilang aku kurus, paling tidak dibanding mereka. Maka mereka bilang dalam sebulan harus kita naikkan satu kilo! Hahaha.. Bakmi GM tetap jadi tempat makan favoritku selama di Jakarta. Burger King sangat aku rindukan sekarang, mushroom nya, french friesnya, karena di Sby tak ada.. AW dengan paket 2 nya, dulu tak pernah makan sekarang tertular virus ayam dan soupnya.. Ketoprak!! Di sini tak ada yang selezat sarapan ketoprak di kantor di pagi hari.. Dan aku juga jadi lebih sering memasak karena terbiasa masak sendiri di sana.

 

Dengan nilai istimewa yang sangat memuaskan, magang ini dinilai berhasil oleh pihak kampus. Shell pun cukup puas dan semoga kesempatan ada di saat yang tepat nanti bila aku akan kembali ke Jakarta. Dengan cara yang sama pula kututup rangkaian 6 bulan ini. Dua hari setelah aku tiba di ibukota, sebelum magang dimulai, aku dan teman Sampoerna berpuas diri di Dufan. Dan dua hari sebelum aku meninggalkan Jakarta, aku pergi kembali ke Dufan dengan rekan Sampoerna yang berbeda. Yang pertama kali bermain dan puas teriakan kekhawatiran, yang kedua bermain dan meneriakkan kepuasan semuanya telah selesai..

 

Jauh di dalam hati, ada suara yang menangis sedih karena meninggalkan Jakarta dan teman yang sudah seperti keluarga sendiri serta kebiasaan-kebiasaan baruku di sana. Tapi tak ingin air mata ini mengalir di depan mereka ketika aku mengucap salam perpisahan. Semoga keberadaanku sempat menjadi secuil kisah yang menyenangkan juga dalam hidup mereka. Dan ada suara yang berbisik, ingin kembali ke Jakarta lagi suatu hari nanti..

 

Everything is always okey in the end, if it’s not then it’s not the end..

 

intercontinental

Jarak Jauh yang Mendekatkan

Magang setengah tahun di Jakarta ini adalah masa terlamaku tinggal jauh dari keluarga dan tinggal seorang diri. Tetapi hal ini justru membuatku lebih dekat dengan keluarga termasuk dengan keluarga besarku. Cukup aneh karena aku baru menyadari ternyata jarak yang semakin jauh justru bisa mempererat hubungan bukan membuat sebuah hubungan makin berantakan seperti pada umumnya.

 

Suasana keluarga selama ini tenang-tenang saja. Aku dibesarkan di tengah keluarga dengan didikan yang cukup tegas. Bisa dibilang kami tidak terbiasa untuk menyatakan kasih sayang lewat ucapan atau perkataan. Semua melakukan segala sesuatu sesuai peranan masing-masing di tengah keluarga. Papa seorang yang tegas, berpendirian, idealis, akademisi, dan pekerja keras. Mama seorang ibu rumah tangga yang handal menyelesaikan tugas di rumah. Aktivitas dan rutinitas berjalan dengan baik-baik saja tetapi datar. Papa sering bekerja di luar kota sehingga memang tak banyak waktu berkumpul.

 

Begitu pula dengan bibi, paman, dan sepupuku. Dengan keluarga besar Papa yang ada di Surabaya, biasa kami berkomunikasi bila ada kejadian penting atau berkumpul saat perayaan tertentu. Dengan keluarga besar Mama yang ada di Semarang justru komunikasi lebih kurang lagi. Paling tidak pada saat ada hari libur, kami sekeluarga usahakan mengunjungi kakek dan nenek di Semarang. Pada saat itu kami baru bertemu dan berkumpul. Lepas dari itu, jarang sekali komunikasi terjadi.

 

Memang tipikal seperti itu yang dari dulu aku lihat di keluargaku. Tak ada yang salah dengan pola itu, karena semua baik-baik saja. Hanya saja yang ada, tidak berkomunikasi bila tak ada kejadian penting, seakan canggung bila muncul ungkapan perhatian, melakukan aktivitas bersama juga jarang. Salahkah? Mungkin tidak.

 

Satu hari sebelum aku pergi ke Jakarta, aku mengirimkan pesan singkat ke bibi dan sepupu-sepupuku. Waktu persiapan memang sangat singkat sehingga hanya sempat datang ke rumah saudaraku di dua hari terakhir sebelum berangkat. Alhasil mereka pun tahu bahwa seorang keluarganya yang dulu dianggap tidak bisa mandiri ini akan berjuang sendiri di Jakarta selama 6 bulan. Mungkin kurangnya kedekatan itu yang membuat terkadang jadi meremehkan. Kenal hanya karena hubungan darah bukan secara personal.

 

Di antara kesibukan magang dan menjaga diri selama di Jakarta, beberapa kali aku dikejutkan dengan telepon dari bibi yang menanyakan kabar dan sekedar ngobrol. Saat online di chatting, kakak sepupuku mengajak ngobrol berbagai hal termasuk hal sepele. Ketika mereka berkesempatan ke Jakarta karena urusan tertentu, mereka mengunjungiku dan menyempatkan pergi bersama. Terkadang juga ada pesan singkat masuk dari saudara yang tak sekalipun pernah meng-sms ku sebelumnya.

 

Aku sudah merindukan suasana yang lebih hangat di keluargaku sejak lama, bahkan sejak sebelum pergi ke Jakarta. Aku tahu semuanya baik-baik saja tapi dingin dan kaku, ada di sana. Alangkah seru dan indahnya bila ada sedikit kehangatan yang membuktikan keberadaan sebuah keluarga. Bukan hanya karena hubungan darah lalu disebut dengan keluarga. Apalagi aku menyadari selagi masih ada kesempatan, aku akan mencoba melakukan sesuatu untuk memunculkan kehangatan itu. Bukan tak ada maksud bila sejak lahir, Tuhan menetapkan aku sebagai bagian dari mereka, aku dengan segala kelebihan dan kekuranganku serta keberadaanku. Ingin sekali menjalankan peranku.

 

Aku tak akan menunggu perhatian atau kehangatan itu muncul dari yang lain tapi aku yang akan mencoba berinisiatif memulai. Alhasil, aku mulai dengan mengirimkan sms kepada mama bahwa aku kangen padanya dan rindu masakannya. Ternyata mama merespon dan kalimatnya menunjukkan ia pun kangen. Bahkan pesan singkatnya membuatku menangis kala itu. Hal yang sama kucoba kepada papa. Sekalipun tetap dengan gayanya yang keras itu, tapi tampak ia melunak. Saat ada keluarga mama datang dari Semarang ke Jakarta dan menginap di familinya (yang tak kukenal), aku jawab iya ketika diajak berkeliling seharian. Meski aku tipe yang tak nyaman dengan situasi yang membuatku merasa asing. Tapi efeknya, ketika beberapa hari ini Jakarta banjir, bibiku itu cemas dan mengirimi sms menanyakan keadaanku. Aku memberikan keluarga intiku hadiah Natal, papa langsung mengganti dompet lamanya dengan dompet pemberianku di depan kami semua. Ia tipe orang akan menahan kata-kata indah meluncur dari bibirnya, tapi hey.. ada bahasa lain yaitu bahasa non-verbal yang bisa kubaca..

 

Kemudian aku memberanikan mencoba sesuatu yang lebih berani. Setiap pergantian tahun keluarga besar papa pasti berkumpul untuk makan bersama. Aku tak mau melewatkan kesempatan itu dan mengusulkan diadakan beberapa lomba untuk keponakanku dan papa mama mereka masing-masing. Kompetisi kecil-kecilan untuk menghadirkan suasana berbeda. Mereka terkejut tapi menyambut sangat baik usulku. Hasilnya cukup baik untuk pertama kali. Mereka pun tak lagi memandangku seperti dulu haha.. Lewat kompetisi itu jadi lebih mengenal tipikal keluarga yang satu dengan yang lain. Aktivitas yang memacu kekompakan dan menghadirkan tawa ceria di tengah makan malam pergantian tahun 2008 ke 2009.

 

 

 

Malam tahun baru 2008/2009

Malam tahun baru 2008/2009

 

 

Libur Natal dan tahun baru lalu aku pulang ke Surabaya dengan tema besar FAMILY. Berarti kepulanganku kali itu, simply and totally for my family. Saat Natal kami berkumpul di Semarang bersama keluarga besar mama dan layaknya kesempatan langka, semua lengkap! Dan memenuhi permintaan kakek, semua anak dan cucunya pergi bersama ke Bandungan, Ambarawa. Saat itulah akhirnya setelah sekian lama beliau tertekan dengan penyakitnya, kakek pun tersenyum. Aku melihatnya tersenyum. Peranku tak banyak di sana. Aku hanya mengajak mereka foto terus menerus. Aku senang sekali mengabadikan moment karena tak akan bisa terulang. Sementara di malam tahun baru, berkumpul dengan keluarga besar papa. Kepulanganku benar-benar berjalan sesuai tema.

 

My Grandpa smiles

My Grandpa smiles

 

 

Kini kehangatan itu mulai ada di keluargaku sendiri. Dengan tidak hadirnya aku selama ini di tengah papa, mama, kakak, dan adik justru kami jadi makin dekat. Aku jadi lebih dekat dengan papa dengan berusaha memulai cerita keseharianku dan menanyakan hal seputar kegemarannya. Arti kata ‘kangen’ dengan mereka benar baru terasa sejak aku di sini. Seperti yang tertulis di kata pengantar MKN ku, mereka menunjukkan padaku apa arti ‘keluarga’. I love my family.

 

 

I love my family

I love my family

 

 

Berbahagialah bila kehangatan telah hadir di keluargamu. Kipaslah agar bara api tetap menyala di sana. Tapi bila dingin yang kau rasakan, kutantang kau lakukan yang sama dengan yang telah kucoba lakukan. Bukan soal benar atau salah.. Tapi setiap orang pasti merindukan kehangatan itu.. Selagi kesempatan masih ada, selagi masih ada waktumu, selagi mereka masih ada untukmu, jangan biarkan keluarga hanya sebatas ikatan darah. Do something first and you’ll be amazed with what will happen next..

 

 

Jakarta – 170109 – 12:53 AM

Panggilan iPod Shuffle Pink

Semarang – 261208 – 11:45 PM

 

Pernahkah kau merasa sebuah barang berbicara padamu? Hm.. Pada saat-saat tertentu aku mengalaminya. Biasanya aku akan membeli barang itu. Bila kau pernah membaca buku yang berjudul The Alchemist milik Paulo Coelho mungkin akan lebih mudah memahami ceritaku ini.

 

Beberapa waktu lalu, kantor tempatku magang mengadakan year end party dengan tema Boogie Wonderland, 18 Desember 2008, di Dharmawangsa Hotel. Acara itu menjadi pesta kostum pertama untukku. Aku menggunakan gaun ala Spanyol dengan renda bertumpuk dan mengembang. Rambutku yang pendek ini ditata seperti sedang disanggul dengan sekuntum mawar merah asli tertambat di sana, persis seperti yang kumau dan tanpa rambut palsu. Mungkin bila dibanding dengan rekan kantor lain, bajuku agak kurang bertema, tetapi menurutku itu kostum. Bila kau tahu keseharianku, aku lebih suka bergaya kasual dan lincah kesana kemari. Jadi tampilanku malam itu, seperti bukan aku. Tapi karena kostum itu pula, aku diminta membantu kepanitiaan yang hanya berjumlah beberapa orang. Di sanalah cerita ini bermula.

 

Boogie Wonderland 2

 

Aku diminta meng-handle segala yang berhubungan dengan hadiah pada saat hari-H. Panitia sudah berbelanja hadiah untuk doorprize dan best costume. Total ada 13 buah hadiah yang sangat mengagumkan menurut penilaianku dan teman-teman yang bukan panitia. Aku mulai diminta membantu dua hari sebelum pelaksanaan. Aku diberi list hadiah dan kertas kado untuk membungkusnya. Wow.. hadiahnya heboh sekali, Tuhan boleh nih dikasih satu aja, batinku kala itu. Ada handphone, iPod hijau dan pink, voucher bensin, oli Shell tingkat terbaik 8 liter, PSP, dll. Saat aku berniat membungkus, barang yang aku ambil pertama kali adalah iPod Shuffle 2nd generation berwarna pink. Entah mengapa itu yang aku ambil dari dalam laci. iPod itu seakan memberiku sinyal atau tanda, yang mungkin kau akan menganggapku berkhayal.

 

Tapi karena ada urusan mendesak lain, akhirnya aku meminta OB membantuku membungkus semua hadiah tersebut. Sampai pada hari H.. Semua keluarga Shell yang datang harus mengambil nomor di meja registrasi. Nomor itu untuk doorprize dan mengambil foto di wall Boogie Wonderland. Aku bersama tiga orang teman CX datang ke meja itu bersama, dan EO yang bertugas memberiku nomor 61. Lalu aku berujar padanya, “Wah.. Angkanya nggak cantik ya, aku kira tadi 19, Mbak..”. Ia pun menimpali, “Emm.. Tapi 6 ditambah 1 jadi 7 lho..” Ya sudah lah itu kan hanya nomor pikirku. Aku pun larut dalam acara.

 

Boogie Wonderland 1

Selama acara inti dimulai, aku berada di belakang panggung untuk memastikan hadiah itu tidak tertukar dan diberikan pada saat yang tepat. 9 hadiah doorprize dibagi dalam 3 kali penarikan nomor dari fishball. Indra Herlambang dan Terry Putri selaku MC, yang akan mengambil nomor itu. Setelah menghampiri MC dan memastikan urutan penyebutan hadiah yang mereka pegang, sesuai dengan telah diatur, aku stand-by saja di belakang panggung. Rundown kupegang dan aku berkutat bersama Edo, anak EO yang bertanggung jawab atas usher. Saat itu tiba-tiba aku berkata pada Edo, yang kala itu baru kukenal, “Do, entar kalo nomornya 61, panggil gue ya!!”. “Emang nomor lo 61 ya?”, balas Edo. “Iya, nomor doorprize gue, kali aja dapet!”, candaku.

Boogie Wonderland 3

 

Kostum yang kukenakan tak memiliki saku, tetapi aku memakai celana pendek hitam yang bersaku tentunya. Handphone lama kesayanganku 8850ku aku pegang saja, seandainya aku dibutuhkan, aku bisa langsung jawab teleponku. Sesi penarikan doorprize pertama berjalan lancar. Voucher bensin 750ribu, 2 galon Shell Helix Ultra 4 liter, dan sebuah iPod Shuffle ‘terlepas’ dengan mulus. Setelah Mollucas menyanyi 3 buah lagu, aku kembali masuk ke belakang panggung untuk sesi penarikan kedua. Saat itu, sekali lagi, entah mengapa, aku mengambil kupon yang kupegang dari saku dan memasukkan ke bagian belakang 8850ku yang bisa ku-sliding itu. Batinku berujar, “pindah aja, biar mudah ngambilnya..”. Aku hanya menuruti kata batinku. Setelah 8850 kembali kupegang, sayup-sayup kudengar, “enam puluh satu..” Aku menyadari itu nomor yang baru saja kulihat di potongan kupon yang kupindah ke 8850ku! Aku segera keluar dan menuju kedua MC kocak itu. Edo sempat berujar, “Nomor lo tuh! Orangnya ada!!”, sambil berkata ke arah MC. Aku mendapatkan salah satu doorprize yang jelas aku tahu itu iPod!! Setidaknya itu yang telah disusun di rundown!

 

Rasa bahagia? Tentu saja! Aku dapat iPod Shuffle! Sebenarnya sejak iPod muncul, ayahku menawarkan untuk membelikanku pemutar lagu itu. Ia tahu anaknya ini tak bisa hidup tanpa musik! Tapi tipikalku sejak kecil, ketika diberi pilihan entah mengapa aku akan memilih yang tengah, bukan yang paling bagus. Tapi barang itu akan tetap aku terima dan aku jaga. Aku menolak tawaran ayah dan akhirnya diberikan MP4 player buatan negeri nenek moyangku. Namun, aku lebih suka mendengarkan musik dari handphone motorola E1 ku yang ber-iTunes itu. Namun beberapa saat ketika aku sampai Jakarta, handphone pemberian kakakku itu rusak. Aku sedih karena tak lagi bisa mendengar jernihnya suara lagu yang dihasilkan ROKR E1 itu. Karena itu aku kembali ke 8850ku dulu. Baru-baru ini baterai MP4ku sudah drop. Tapi aku bertahan saja dengan apa yang ada. Jadi saatnya serasa tepat aku mendapat iPod.

 

ipod

 

Sesampai di kos, kubuka dan iPod itu berwarna pink!! iPod yang sempat ‘berbicara’ padaku sebelum dibungkus. Memang sejak dulu aku memilih perangkat lunak di komputer atau laptopku adalah iTunes, bukan software lain. Aku sangat suka!! Jadi ketika sekarang aku punya iPod, tinggal colok saja ke laptopku. Entahlah, untuk kesekian kali, ada banyak hal kecil yang mengarah ke ‘pendapatan’ iPod ini. Kau pasti bilang aku terlalu melebih-lebihkan, dan memaksakan kejadian demi kejadian. Hm.. kalau kau sudah membaca The Alchemist mungkin kau akan lebih mengerti. Dulu aku tak pernah paham ketika dibilang ada banyak tanda bila kau peka membacanya bahkan seisi semesta bisa membantumu mendapat yang sebenarnya kau impikan. Aku pikir itu tak masuk akal dan mengada-ada. Ya, aku akan lebih peka lagi membaca dan mendengar mereka ‘bicara’.. Tapi yang pasti, mulai sekarang aku akan selalu mendengar iPod ku yang menemaniku bernyanyi.. Kuanggap itu hadiah Natal dari Tuhan untukku di Natalku tahun ini.. ^^

Road Safety for Kids

Jakarta – 041208

Hari ini aku mengikuti acara kantorku yang unik dan membuatku senang. Shell Road Safety for Elementary School Student. Sebenarnya aku diperbantukan hanya karena akan ada sesi wawancara dari sebuah majalah nasional ternama. Reporter tersebut hendak mewawancarai beberapa anak-anak untuk bahan artikel. Aku datang untuk mem-supervising wawancara tersebut. Ternyata acara itu sangat menarik dan seru!

Shell Road Safety

Shell Road Safety ini merupakan serangkaian kegiatan yang diselenggarakan untuk meningkatkan awareness anak-anak sekolah dasar akan pentingnya menjaga keselamatan berlalu lintas. Berdasar survey terakhir, dalam 1 hari terdapat 30 orang meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Perusahaan berusaha untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sehingga angka tersebut dapat berkurang. Anak sekolah kelas 4, 5, 6 sedang berada dalam taraf belajar, yang saat mereka mengingat banyak hal menarik justru bisa terkenang sampai dewasa nanti. Diciptakan pula maskot Tisa (Think Safety) dan Aksa (Act Safely) untuk mensosialisasikan program Road Safety ini. Perusahaan membagikan ilmu berlalu lintas kepada beberapa sekolah dasar terutama yang berlokasi di sekitar SPBU Shell di Jakarta, khususnya.

12 sekolah dasar dibagi dalam 8 kali kegiatan serupa selama 2008. Mereka didatangkan ke Taman Lalu Lintas Saka Bhayangkara, Cibubur. Pihak kepolisian yang mempunyai program Polisi Sahabat Anak menyambut baik program perusahaan. Mereka turut menemani dan mengajar anak-anak tentang rambu lalu lintas. Perusahaan juga memanggil Kak Ucon, pendongeng cerita anak yang sangat attractive membawakan cerita tentang keselamatan berlalu lintas kepada anak-anak. Setelah itu mereka boleh mencoba mengemudikan fun car di area taman lalu lintas yang lengkap dengan semua rambu layaknya di jalan raya.

Di tahun 2008 ditargetkan 1000 anak telah mengikuti kegiatan ini. Mereka diharapkan menjadi ambassador untuk mengingatkan lingkungan mereka agar berdisiplin dalam berlalu lintas. Acara hari ini adalah kegiatan ke-8 yang berarti penutup dari seluruh rangkaian kegiatan di 2008. Anak-anak tersebut sangat antusias. Mereka berlarian, berteriak, tertawa, apalagi saat mengemudikan fun car. “Asyik sekali menyetir sendiri..”, kata seorang dari mereka. Ekspresi polos dan ceria itu tampak jelas di wajah anak-anak yang seakan belum paham benar akan kejamnya lalu lintas sebenarnya.

Seandainya saja sejak dulu kegiatan sejenis telah diadakan, mungkin kedisiplinan berlalu lintas tidak sampai separah hari ini. Jangan dulu menutup mata dan berkata tidak mungkin, because Difficult YES Impossible NO. Lebih baik berusaha melakukan sesuatu seperti kegiatan Road Safety daripada hanya mengomentari dan mengkritik tanpa melakukan apa-apa. Semoga apa yang anak-anak dapatkan bisa berdampak suatu hari nanti, untuk kebaikan bangsa ini.

 

Taman Saka Bhayangkara, Cibubur

Taman Saka Bhayangkara, Cibubur

Shell Scholarship Days 2008

© BeBe – Surabaya – 291108

 

Lega dan bersyukur.. Itulah yang aku rasakan setelah serangkaian acara Shell Scholarship Days 2008 diselenggarakan. Persiapan sekitar kurang dari dua bulan serasa terbayar setelah peserta dapat kembali pulang ke daerah masing-masing dan LO tercinta juga kembali kepada kesibukan masing-masing. Ada banyak hal yang aku lihat dan pelajari dari event ini. Event di mana aku menjadi merasa dihargai karena diberi kepercayaan untuk membantu mengatur acara besar ini.

 

Luck is a Mystery of Life

ssd1

Dari empat universitas yaitu UI, ITB, ITS, dan UGM hanya terpilih 10 mahasiswa dari setiap universitas untuk mendapatkan beasiswa ini. Mereka mungkin kurang beruntung dalam kehidupan sehari-hari, tetapi mereka sangat beruntung bisa mendapatkan beasiswa hingga mereka lulus kuliah dan siap menapaki jenjang kehidupan selanjutnya. Dari begitu banyak mahasiswa yang ada di tiap universitas hanya 10 orang ini yang mendapat beasiswa dari perusahaan tempatku magang. Aku kembali bertanya pada diriku, apa arti kuliah buatku? Keadaan keluargaku memang tidak berlebih tetapi biaya untuk kuliah memang sudah dipersiapkan, dan thanks God selama ini orangtuaku masih dapat tetap membiayai aku kuliah dan juga tinggal di Jakarta saat ini. Tetapi ketika bisa mendapatkan sesuatu dengan mudah terkadang hal itu justru membuat manusia terlena. Ketika kuliah mulai terasa menjenuhkan, pilihan untuk membolos atau jadi asal-asalan mengikuti kelas bisa datang dengan mudah. Namun bila berkuliah harus dengan susah payah, padahal kau ingin kuliah dengan harapan masa depan yang lebih baik, kau punya kepandaian untuk bisa bersaing dengan mahasiswa pandai lainnya, hanya biaya kuliah yang besar membuat semua itu mustahil untuk diraih, semua bisa jadi berbeda. Tetapi yang aku pelajari, Difficult YES, Impossible NO!! Aku lihat dari para penerima beasiswa ini, teman-teman baruku, mereka berusaha meraih itu dan beasiswa itu memang berhak mereka dapatkan. Aku pun diingatkan kembali untuk memperbaiki diri dan lebih menghargai setiap detik masa kuliahku. Aku sadar betul biaya kuliah tidak murah, jadi bila memang tidak niat kuliah, jangan habiskan uang orang tua untuk kuliah. Prinsip itu sudah kupegang sejak kuputuskan aku akan tetap kuliah. Tapi mungkin arti kuliah untukku selama ini tidak sedalam arti kuliah bagi mereka yang mendapatkannya dengan perjuangan lebih. Teman-teman baruku, nikmatilah dan teruslah menghargai sisa waktumu di kuliah dengan beasiswa yang kau dapat. Tunjukkan pada dunia bahwa kau memang pantas mendapatkannya. Dan bersainglah dengan manusia lain setelah tiba waktunya. Keberuntungan yang kau peroleh tak datang pada setiap manusia di dunia ini, teman..

 

Think about the Future

ssd2

Acara Shell Scholarship Days 2008 juga mengundang Emil Salim dan Anies Baswedan bersama dengan CEO Shell Indonesia, Darwin Silalahi. Mereka orang-orang hebat yang bukan hanya menjadi teladan tetapi membekali para mahasiswa untuk menata langkah menjawab tantangan dunia di depan. Apa yang akan kau lakukan 20 tahun lagi? Bisakah kau membuat CV diri untuk 20 mendatang? Pak Darwin Silalahi membagi kisah dirinya, 23 tahun yang lalu, beliau baru lulus dari bangku kuliah. Berarti 23 tahun setelah lulus kuliah, beliau berhasil menjadi seorang CEO dari perusahaan minyak multinasional. Sangat inspiratif buatku. Apa yang akan terjadi padaku 20 tahun mendatang? Apakah sudah bisa kumiliki flower plantationku? Apakah aku masih tinggal di Indonesia atau pindah ke luar negeri? Bagaimana keluargaku? Hahaha.. Dan akan jadi apa kau 20 tahun lagi, teman? Bermimpilah dari sekarang..

ssd3

Support is the Energy

Mengerjakan acara ini bukan hal mudah untukku. Meski sudah punya pengalaman bermacam organisasi, tapi managerku sempat bilang dengan gaya bercanda, acara ini bisa dibilang sebagai assessment buatku. Pressure cukup berat, terlebih waktu bersamaan dengan jadwal ujian internshipku. Bukan hanya fokus pada tugas tapi juga beradaptasi dengan karakter berbagai orang yang aku harus bersinggungan langsung. Terkadang penyesuaian itu lebih menekan daripada tugas dan detailnya. Namun, aku di-back up oleh teman-teman baikku yang kuusulkan menjadi LO dan diterima oleh managerku. Awalnya sempat takut dengan hasil kerja mereka karena bisa dibilang agak mempertaruhkan namaku yang mengusulkannya. 3 teman baikku dan 1 orang teman baru yang seakan seperti teman lamaku meski baru 2 minggu sebelumnya berkenalan. Mungkin karena aku cukup dekat dengan kakaknya. Mereka ada di sana selama acara itu, mendengarkan curhat dan juga bisa aku percaya membantu mencari jalan keluar saat halangan tak terduga muncul. Acara ini hanya dikerjakan oleh 4 orang panitia dari Shell. Oleh karena itu bantuan 4 orang LO itu sangat membantu. Seperti yang managerku katakan di farewell, chemistry itu sangat terasa. Ya! Mereka seakan punya peranan masing-masing yang saling terbagi dan mendukung kebutuhan acara ini. Aku bersyukur untuk keempat orang LOku tercinta ini. Vera, Nita, Khiko, and Boi. Thanks a lot untuk support nyata kalian. Hope this is not the last project that we do together.. We were great, guys!!

 

Acara ini mungkin telah selesai. Bagi peserta yang membaca tulisanku ini, aku memohon maaf bila terdapat kekurangan dari teknis acara, tetapi jauh lebih bijaksana bila tak hanya melihat kekurangan dan mencelanya. Jauh lebih penting, menyadari apa yang kalian bawa pulang dari Shell Scholarship Days 2008 ini? Kalian punya kenalan lebih banyak lagi sekarang. Wawasan pun bertambah dengan pengetahuan yang tak semua orang bisa mendapatkannya. Semakin besar arti kuliah untuk setiap kalian. Tetaplah jadi diri apa adanya dan berubahlah untuk kebaikkan. Semoga kalian pun tetap mencintai hidup yang telah dianugerahi beasiswa istimewa ini. Beasiswa ini harus bisa menjadi ‘sesuatu’ untuk hidup kalian kelak. Buktikan pada dunia 20 tahun yang akan datang, apa yang dapat kalian berikan bagi negara ini..

Previous Older Entries

www.widiantigunawan.wordpress.com