Hows Taiwan, Bei?

I am living in Taiwan now. I want to share some facts about my life in Taipei, Taiwan. Many are based on FAQ that friends asked me. So, if you wonder how am I doing here, now you know that God is really taking care of me.

1. Obey God is the only reason why I am studying Mandarin here.
2. I am Chinese in blood but can’t speak Chinese (before).
3. I had no Chinese lesson preparation before I came to Taiwan.
4. Taipei is one of the safest cities in the world.
5. Almost every Saturday or school break, I travel around Taipei and Taiwan. Check my FB album, maybe you need travel recommendation around Taiwan.
6. I don’t have any family lives in Taiwan.
7. Less than a month since I came here, I had travel alone from Taipei in the North of Taiwan,  to Pingtung County in the South Taiwan, by bus and it took 7 hours. Without any good skill in speaking Chinese.
8. I had experienced Taiwan’s transportation from High Speed Rail (jet train), city bus, domestic bus, TRA Train, local train, MRT, Ubike, crystal floor gondola, boat.
9. Taiwan best spots, so far are Guanyuan and Hehuanshan.
10. My school, MTC NTNU, is the best school to study Chinese in Taiwan, I knew it after being accepted as their student. God’s favor.
10. After 7 months, I move to new room and do part time job from 2 til 10PM.
11. I gained weight few kilos already.
12. Almost everyday I eat fruits,  that’s my promise to my mom.
13. Every morning I used to take bus to go to school, and go home by bus or bike. Now, I am just walking to school.
14. I used to be at school from 8am – 4pm.
15. I am cooking instead of buying food. No rice for dinner. Soy milk for breakfast.
16. I experienced the behind the scene and vote for the Indonesia President Election 2014 from outside Indonesia. Cool experience.
17. I don’t have TV, if I get bored I do YouTube, usually I follow Indonesian politics from Mata Najwa, Satu Indonesia, Aiman Dan, Kompas TV, Indonesia Bagus, Dog Whisper, and some movies.
18. I finally decided to go to ICA Taipei.
19. I am leading worship in ICA Taipei, found out later that they had been praying for months for new worship leader. God is awesome.
20. I joined one mission trip to Hsinchu, with POKI church.
21. Until now, I had only bought Starbucks 1 time and that was on the first day landed at the Taoyuan International Airport.
22. There’s a lot Indonesian students at school but I only have 2 Indonesian friends that I hang out with.
23. My favorite food are redbean, and matcha. My favorite drink are winter melon tea, and buble milk tea. Those are Taiwan specialties.
24. Stinky tofu is nice. The fried one and grill one are nice. But the steam, once is enough for me.
25. I got my hair cut in Taiwan. Pricey but different technique.
26. My nails was never “blank or no color” because I have Japanese and Vietnamese friends who work as nail artists and they manicure me for free, and change it when they think that’s no longer good. I learned their skill.
27. I can smile just by seeing Taiwanese dogs in the street. No fancier dogs then Taiwan dogs.
28. I learned to live with earthquakes and typhoons.
29. I drove car one time, without international driving license, and on the left side driving, contrary with Indonesia, out of town.
30. These past 6 months I had travel to Yehliu National Geopark, Wulai, Tamsui, Yangmingshan National Park, Taroko George National Park, Qixing Beach, Hehuanshan, Beitou, Pingtung, Kaohsiung, Hsinchu, Daxi, Touyuan, Keelung, Hualien, Qingjing Farm, Sun Moon Lake, and many night markets in Taiwan, and Taipei city for sure.
31. My father, mother, brother, and sister had visited me in Taiwan.
32. My dad’s principles is proven right: be skillful in Bahasa and then English, after that another language is allowed. Because of English, I had bunch of foreigner friends..
33. I ate fried cricket for the first time in Kaohsiung night market. Not bad.
34. I used to worship / singing while sitting in the park, or while cycling. That’s my me time.
35. I had 8 pairs of shoes with me now, simply because Taiwan flat shoes are nice, comfortable, and not pricey at all.
36. I do the encouraging-ministry and prayer-warrior ministry to my friends in Indonesia using my Android because I miss giving, share God’s love, do ministry.

37. I experienced 4 seasons in a year here.
38. Being far from my own country, makes me love Indonesia more than before.
39. I ever cried seeing my feet full of black dotes of Taiwan mosquitoes bites. For weeks I couldn’t wear short pants. Itchy for weeks and yes, “a tough Bebe” was defeated by Taiwanese mosquitoes.
40. My works in Indonesia are still on while I am studying here.
41. I admit I was afraid for a week to take MRT after the MRT tragedy happened few months ago but didn’t tell my family bout that tragedy.
42. Free refill drinking water is everywhere.
43. Studying Chinese is not difficult but interesting.
44. Studying Chinese in Taiwan and in mainland China is different. Taiwan use the traditional (original) Chinese character, while China use the simplified one. Which one do you think more difficult?
45. Taiwanese loves cycling, not only for leisure or sport but to work or go somewhere.
46. I miss doing much sports as I had in Indonesia, especially RPM, kranking, body balance, TRX.
47. One of my mission here is can pray for others using Chinese.
48. I feel like this time is a training stage from God.
49. My grandpa who passed away last year, few years ago called my mom from Semarang, and he said he had just had a dream in his sleep that I am studying Chinese abroad.
50. Studying abroad is one of the things I want to do while I am single, for there are times for everything under the sky.
Taipei 300914
Advertisements

D R E A M

Mimpi adalah hal yang kau lihat saat matamu tertutup dan terpejam dalam tidur lelapmu. Mimpi membutuhkan keberanianmu untuk melihatnya dan menjaga gambaran itu untuk tetap jelas ada di sana di kala mata telah terbuka.


Apakah mimpimu? Mimpi atau visi, hal baik yang ingin kau lihat dan capai suatu hari nanti, karena kau pernah melihat gambaran itu bagai film singkat dan membayangkannya terus menerus saat matamu terpejam. Setiap manusia pasti dan harus mempunyai mimpi. Karena itu yang akan membuatmu bergerak dan menarik langkah kakimu menuju ke sana, bagaikan dua kutub magnet Utara dan Selatan.

Banyak orang yang takut bermimpi. Banyak orang yang tak berani menjaga mimpi itu untuk tetap nyata di sana. Banyak orang yang tak berani membagikan mimpinya pada orang lain karena resiko ditertawakan dan dibodoh-bodohkan. Akhirnya banyak mimpi indah yang jadi terbuang dan ditinggalkan.

Aku adalah orang yang sangat menghargai mimpi-mimpi orang lain, terlebih mereka yang kusayangi. Sebab kutau susahnya berani bermimpi. Kumelihat betapa sulitnya mempertahankan mimpi, di kala sekeliling menyebutnya tak masuk akal. Kusaksikan senyum penuh keyakinan menceritakan mimpi yang indah itu, tapi dibalas dengan “cih..” yang sinis. Kurasakan betapa menyakitkannya hati untuk terus berjuang meraih mimpi di dunia nyata, di kala tak ada yang mendukung bahkan mengolok dan menjatuhkan langkah demi langkah kaki itu.

Apakah salah orang bermimpi? Tidak. Apakah semua mimpi pasti bisa terwujud? Tidak. Namun, tak sedikit mimpi tak masuk akal yang sudah terwujud di kehidupan ini. Banyak hal besar yang tercipta karena berawal dari orang-orang yang berani bermimpi.

Dari mana asalnya mimpi-mimpi itu? Aku masih percaya pada alur pemikiranku ini. Setiap manusia diciptakan karena ada tujuan masing-masing. Sebut saja aku. Bagaimana kubisa genapi tujuanku bila aku tak tahu apa itu? Kenalilah dengan senjata yang diperlengkapkan di diri, yaitu talenta. Tak mungkin senjataku yang dibekalkan padaku adalah selang air bila fungsiku adalah memasak di dapur bukan? Talenta yang adalah senjataku itu membuatku tahu di mana ladang potensiku berada. Bila selang air adalah senjataku maka aku harus berada di kebun mungkin, bukan dapur.

Selain “tanda” demi “tanda” untuk memperjelasnya, kuyakini satu hal, Penciptaku sanggup memberiku “desire” dalam hatiku. Kerinduan yang tetap ada di sana sehingga membantuku memahami semuanya. Sulit untuk didefinisikan memang, tapi bila kau telah mendapatkannya makan kau pasti bisa mengerti. Untuk memastikan itu adalah buaianmu belaka atau “desire” yang ditinggalkanNya untukmu, bertanyalah pada dirimu bagaimana hubunganmu denganNya?

Gabungkanlah semua hal yang tampak abstrak ini, asahlah senjatamu, kenali ladangmu, layakkanlah dirimu, dan lakukanlah terbaik yang kau bisa selangkah demi selangkah. Perlahan tak apa-apa asalkan kau tidak berhenti. Tuhan yang akan kerjakan bagianNya kemudian yaitu bukakan pintu-pintu yang akan kau lalui. Selebihnya, bermimpilah yang besar bukan hanya untuk ego diri semata tapi untuk bangsa negaramu, yakinilah dan hidupilah gambaran mimpimu itu.

Bukan hal yang mudah memasukkan mimpi yang belum nyata itu ke dalam kehidupan yang nyata ini. Terlebih jika yang nyata ini berbeda dan serasa jauh dari latar tempat dan waktu mimpi itu. Percaya saja bila kau layak untuk mimpimu itu. Karena dengan mempercayainya, Tuhan bisa menarik orang-orang lain yang bervisi sama mendekat padamu untuk membantumu mewujudkannya.

Jangan menyerah pada keadaanmu. Bertahanlah meski itu berat. Temukanlah orang-orang yang bisa mendukungmu, karena perjalanan itu bisa jadi panjang dan melelahkan. Biarkanlah Tuhan berkarya dalam hidupmu melalui mimpi-mimpi indah yang Ia titipkan. Bila bukan kau yang berani melihat, menjaga, menghidupi, dan mewujudkannya, mungkin mimpi itu akan pergi berlalu mencari mereka yang lebih layak, lebih berani mengambil resiko dan membayar harganya supaya ia tetap terwujud.

No eye has seen, no ear has heard, no mind has imagined, what God has prepared, for those who love Him.. 1 Corinthians 2:9

Krwc | 060611 | 4:31PM

Goodbye

Aku akan melangkah maju ke tempat yang baru, menemukan tempatku yang seharusnya. Mendengarkan jeritan yang telah kuabaikan. Maka, hari ini aku beranikan diri pamit meninggalkan tugas istimewaku.

Bagaimana tidak istimewa bila kau menjadi berkat bagi banyak orang, menjadi inspirasi, menambahkan hal baru bagi mereka yang mau belajar, serta belajar menghadapi berbagai tipe orang yang berbeda-beda. Menjadi dosen fulltime selama sekitar 6 bulan terakhir ini merupakan sebuah proses pembelajaran yang indah. Lengkap dengan suka dukanya. Salah satu hal yang kudapati, ternyata Tuhan beriku talenta untuk mengajar.

Beberapa pihak berpendapat, tidakkah terlalu dini bagiku mengambil keputusan ini. Terlalu terburu-buru mungkin ini masih masa adaptasi, sehingga gejolak itu biasa. Bagiku masa adaptasi sudah berlalu, ini adalah masa percobaan. Dalam satu tahun ini, statusku adalah dosen fulltime kontrak, di mana dalam masa itu kedua belah pihak dapat mencari kecocokan. Aku sudah mencoba dan aku menemukan jawaban untuk jujur pada diri sendiri.

Terlepas dari itu, tak pernah kuanggap ini sebagai permainan. Ini bukan pekerjaan mudah karena bukan hanya mengajar tetapi juga mendidik. Tak hanya teori tetapi juga mengajarkan attitude. Bagiku, dunia public relations tak bisa diremehkan. Kucurahkan waktuku untuk belajar lagi, menyesuaikan diri untuk mata kuliah Pengantar PR, International PR, Manajemen PR, Sosiologi Komunikasi, dan Teknik Presentasi di DKV, serta menjadi Koordinator Internship 1.

Mudahkah? Tidak! Tapi aku tak menyerah saat itu. Aku belajar lagi sebelum mengajarkan teori itu pada mahasiswaku. Mulai merencanakan topik penelitian. Bahkan sudah merencanakan studi lanjut, sampai dengan mulai menghubungi universitas yang menggodaku di luar sana.

Sempat kucari opsi lain sebelum berujung pada keputusan ini. Bekerja sambil mengajar? Sebut berapa tempat di Surabaya ini untuk aku bisa bekerja di dunia public relations atau corporate communication. Bila ada, jam kerjanya adalah office hour, bagaimana aku membaginya dengan dosen fulltime yang harus mengajar 36 jam seminggu?

Sekarang, ini sudah keputusan bukan lagi pergumulan. Pergumulan sudah terjadi sejak 3 bulan lalu. Chemistry itu tak kunjung muncul, hambar. Selama ini aku bertahan dengan memunculkan hal indah. Melihat senyuman mahasiswaku, gairah mereka mengikuti perkuliahan, tertantang menjawab pertanyaan mereka, ucapan terima kasih mereka, kejujuran mereka yang berujar telah terinspirasi, serunya membuat slide mengajar, sampai ketika mereka menungguku berbagi pengalaman. Terima kasih kalian telah membuatku bertahan satu semester ini.

Namun itu tak cukup kuat untuk menahanku sampai 6 atau 7 tahun ke depan. Tak cukup membuatku tuli untuk tidak mendengar jeritan hati. Tak cukup membutakanku yang ingin mempraktekkan ilmu yang pernah kudapat. Jujur, bukan hanya ingin melihat kalian berhasil di bidang yang kalian pelajari, aku pun ingin merasakannya. Ada bagian diri yang tak tersalurkan di sini, serasa hanya 2/3 diri yang kugunakan. 1/3 lain mungkin adalah keinginan untuk implementasi di lapangan dengan tantangan yang semuanya nyata, bukan awang-awang di teori saja.

Mahasiswaku, tak sedikit biaya yang orang tua kalian keluarkan karena ingin putra putrinya mendapat ilmu terbaik dan menjadi lulusan yang matang dan tahan uji. Dan aku tak merasa cukup baik untuk berikan itu, setidaknya belum. Ada rasa bersalah ketika aku hanya bisa tahu teori, dan kasus yang kubagikan hanya tentang kerang kuning itu. Tak kaya dan aku pun tak puas dengan hal tersebut, karena aku tak bisa maksimal bagikan diri untuk kalian. Maksimal secara kualitas bukan kuantitas. Terima kasih, kalian telah mengajarkanku banyak hal dengan keunikan. Lanjutkan perjuanganmu, buktikan kepercayaan dan harapan orang tua kalian.

Rekan dosen dan staff Ilmu Komunikasiku, terima kasih untuk kepercayaan yang kalian berikan. Di luar sana, banyak yang tak percaya aku telah menjadi dosen fulltime di usia semuda ini. Tapi tak pernah sekalipun kalian yang lebih senior meremehkanku. Hanya, aku tak cukup percaya diri untuk mengajar hanya berbekal teori, atau membaca literature, atau mempelajari kisah kasus yang dialami teman praktisi. Butuh praktek yang kujalani sendiri sehingga bisa kubagikan di kelas dengan percaya diri. Tak salah bagi dosen lain yang mampu, hanya, aku berbeda dengan mereka. Dunia public relations bukan hanya tentang teori tetapi perlu banyak contoh kasus tuk dibedah bersama. Dunia yang dinamis.

Percayalah, aku pamit bukan karena luka, penolakan, gesekan, atau anggapan miring tentangku. Tak ada luka itu karena semua kuanggap pembelajaran. Anggapan miring tak cukup kuat untuk membuatku pergi karena lebih banyak dari kalian yang bisa melihat maksud baikku. Kadangkala dalam hidup, kita tak bisa selalu menyenangkan semua orang dengan mengorbankan diri sendiri. Saatnya aku menata masa depanku.

Maaf bila aku meninggalkan kalian secepat ini. Bila aku jadi tunas yang tercabut dari tanah ketika akar halus itu mulai makin mencengkeram erat tanah di dalam sana. Mungkin lebih baik sebelum tunas itu menjadi pohon, yang akan mati bila dicabut nanti. Tunas masih bisa dipindahkan ke tempat lain. Aku janji, akan bertahan untuk terus bertumbuh, menjadi pohon yang berbuah, dan suatu hari kelak, buah itu bisa kubagikan dengan kalian.

Ku tak ingin Tuhan ambil kembali talenta mengajarku karena aku tak mengembalikannya untuk kemuliaan namaNya. Masih terus ada mimpi untuk studi lanjut. Kuperlu gali kenyataan di lapangan dan kugabungkan dengan teori yang pernah kupelajari. Pada saatnya nanti saat aku cukup percaya diri karena ranselku telah terisi, aku harap bisa mengajar lagi. Entah kapan dan di mana.

Aku yakin kalian akan tetap bertahan meski tanpaku. Sumber daya yang jadi berkurang ini pasti akan Tuhan cukupkan. Maafkan bila terdapat kesalahanku. Ketegasan prinsip yang mungkin tak setiap kalian dapat menerimanya. Cara mengajar yang mungkin terlalu keras. Senyuman yang masih kurang banyak bagi sebagian orang.

Aku pamit bukan sebagai orang yang kalah karena ini bukan pertandingan. Aku pergi untuk meraih mimpiku, menjadi diriku sendiri, meski itu berarti harus jadi pendekar yang mengembara. Terima kasih kuhaturkan sbab kalian telah dapat memahami alasan di balik semua ini dan mendukungku maju. Terima kasih untuk semuanya.

Tetaplah berintegritas sebab seharusnya itu lebih mudah dilakukan selagi berada di lingkungan yang berlandaskan dasar yang sama. Katakanlah merah bila itu merah, bukan merah muda atau jingga. Hidupilah panggilanmu dan bertahanlah bila kau telah menemukannya. Didik dan ajarlah mahasiswa yang Tuhan titipkan selayaknya di sebuah institusi pendidikan, bukan antara konsumen dan penjual. Jadilah teladan, bukan hanya teori yang dengan mudah dapat dilupakan orang, tetapi dengan sikap yang menginspirasi.

Aku pun telah siap meninggalkan titik amanku di tengah kalian, jurusan dan almamater yang mengantarkanku bermimpi. Kutau Tuhanku, Tuhan yang sama dengan Tuhanmu, tak hanya akan menjagamu, tetapi juga menjagaku. Ku tak tahu kelokan-kelokan rancanganNya, tapi kutau itu indah dan baik untukku.

Warm hug, big smile, and pray for each of you who had read my writing. If you miss me, find me on Lukisan Kata Tulisan Warna, I’ll keep writing about this journey of faith. I’m gonna miss Gedung C, C.104, TU Jurusan, I’m gonna miss you all..

Sometimes moving on with the rest of your life starts with goodbye..

So, goodbye!


Sby|310111|8:24PM


Wisata Alam Umbul Sidomukti (2)

Di penghujung tahun 2010, aku kembali ke Bandungan, dan mengunjungi Wisata Alam Umbul Sidomukti. Setelah pertama kali datang di April 2009 lalu.

Ini kali keduaku bermain lagi di sana. Banyak hal sudah membaik, meski tetap perlu banyak perbaikan, setidaknya sudah ada progress baik dari tulisan terakhirku tentang tempat ini. We have to appreciate it, don’t we? Tetaplah datang agar semua bisa bersinergi untuk saling mendukung ke arah yang lebih baik.

Cuaca mendung, berawan, berangin. Semua wajar untuk Desember dan tempat setinggi ini. Panoramanya tetap menyejukkan hati. Cukup banyak wisatawan lokal yang berkunjung dan hampir semua berpotret di berbagai sudut yang dirasa indah untuk diabadikan.

Aku tetap tergoda untuk bermain lagi. Kali ini Flying Fox Adrenalin dan Marine Bridge yang jadi target. Sebenarnya Flying Fox Adrenalin tak lagi terlalu menggoda karena aku sudah pernah “menaklukkannya”. Tapi yang berbeda karena kali ini aku mengajak sepupuku untuk berani uji nyali.

Jessica, 11 tahun, tak pernah diijinkan orang tuanya untuk bermain dengan ketinggian. Tetapi hasrat memicunya untuk mencoba. Dan aku sangat mendukung hal itu. Tantangan ada untuk ditaklukkan. Jadi kubelikan tiket untuk Flying Fox dan Marine Bridge bersama-sama. Ia menikmati “terbang” melintasi jurang setinggi 70 meter, sepanjang 110 meter saat Flying Fox Adrenalin. Jadi Flying Fox dilakukan tandem berdua karena ini saat pertamanya uji nyali. Unik karena ternyata bisa berpelukan saat duduk meluncur.

Aku pun senang karena meski dengan wajah pucat dan ketakutan, ia berhasil menyelesaikan Marine Bridge yang harus kuakui, berat! Permainan ini lebih sulit dari yang kubayangkan. Bukan tingginya yang membuat berat, bukan goyangan jembatan jaring yang menakutkan, bukan hanya seutas tali yang jadi pengamannya, tapi besarnya angin lembah menggoyangkan keseimbangan, dan berat badanmu harus kau tarik sendiri sambil berjalan bergantung di seutas tali pengaman itu. Tantangan berbeda justru menarik bukan? Ada trik untuk membuatnya lebih mudah dilalui: jalanlah layaknya peragawati berjalan di simpulnya!

Sedikit info tambahan, beberapa permainan hanya dibuka pada Sabtu dan Minggu. Tetapi Flying Fox Adrenalin, Marine Bridge, ATV, berenang masih bisa dilakukan di hari biasa. Harga tarif juga masih sama dan belum berubah. Datanglah! Memang cukup jauh tetapi perlu pengorbanan untuk melihat hal-hal indah. Panorama Umbul Sidomukti menantimu kawan!

Enjoy the adrenalin!

Surabaya 020111 3:03PM

Well Done, Teknik Presentasi A – DKV

Sebuah kelas unik di masa pembelajaranku sebagai dosen baru. Kelas yang sangat amat banyak mahasiswa melebur menjadi satu kelas, yakni DKV – Teknik Presentasi kelas A. Lebih tepatnya 55 nama, dikurangi 1, yap 54 mahasiswa unik ada di kelas ini.

 

Kelas ini mengajarkanku banyak hal. Menengok dan mencoba memahami dunia anak-anak desain yang sosial tapi juga memiliki dunia mereka sendiri yang cukup sulit untuk dibagi dengan orang lain. Mereka memiliki pemikiran yang unik bahkan penuh dengan kejutan. Pada titik tertentu mereka bisa memberikan lebih yang kuharapkan. They’re great in their own way!

 

Kuceritakan secuil rahasia tentang kelas ini di. Sebenarnya bukan aku yang harusnya mengajar kelas ini. Di detik terakhir, aku yang kala itu dosen yang baru bergabung di Jurusan Komunikasi, sedang diaturkan load mengajar sesuai jatah jumlah SKS yang seharusnya. Dan berpindahtanganlah kelas ini ke dalam load mengajarku.

 

Aku ketakutan bukan main, karena dari 5 mata kuliah yang kuajar, hanya kelas ini yang aku sudah dilepas sendiri tanpa team teaching dengan dosen senior lain. Hello?? I’m a newbie here! This class is really fat! 55 names inside. DKV not IlKom. Seems like they drop me in the tiger’s cage. It’s only presentation, why it should be that long, a semester?? What should I teach to them in those 14 sessions?

 

Pertemuan pertamaku terjadi pada Jumat pukul 14.30. Aku baru tahu  pada pukul 13.30 kalau hari itu sudah harus mengajar dan aku sedang di rumah saat itu. Seorang dosen mencariku dan juga kaget karena aku masih di rumah. Maklum, posisiku belum menjadi dosen tetap saat itu. Jadi tak ada keharusan mengantor. Jadilah kuminta mereka presentasi singkat untuk introduce themselves sambil melihat kemampuan awal mereka.

 

During the early time, kulakukan banyak diskusi terkait materi dengan Miss Prima, yang juga mengajar Teknik Presentasi kelas B dan C. Diskusi yang lain dengan alumni DKV dan designer yang sudah presentasi berkali-kali. Brainstorming untuk mendapatkan pola yang pas. Kucoba telusuri alasan kebutuhan mereka akan kelas ini dan hanya itulah yang aku fokuskan. Ini kelasku, maka aku harus bisa membuat mereka mendapatkan yang mereka butuhkan. Mudah? No way, but that’s my responsibility.

 

Masa awal adalah adaptasi yang cukup berat untukku. Kekuranganku dalam menghafal nama cukup terbantu dengan perumpamaan diri mereka. Manusia yang kreatif dan dinamis harus dihadapi dengan dinamis pula. Aku tak mau banyak berceloteh di depan mereka yang berarti bunuh diri karena mereka bosan. Thanks God jarak usia yang tak terlalu jauh, membuatku masih bisa menempatkan diri di posisi mereka. Dan public speaking adalah salah satu materi yang aku suka.

 

Terima kasih 54 mahasiswa TekPres-ku. Terima kasih untuk tidak meledak di kelasku, layaknya LPG 3 kg. Tantangan yang kalian berikan sudah kujawab. Aku menghargai kalian karena kalian menghargaiku. As simple as that. Kalian membuka mataku bahwa ternyata tak semua orang bisa presentasi dengan mudah, jadi aku tak lagi meremehkan kelas yang bernama Teknik Presentasi. Karena itu memang dibutuhkan oleh sebagian orang. Terima kasih untuk kerja sama, terlebih untuk kalian yang sudah memberikan respect dan senyuman dalam sapaan tulus bila kita berjumpa di Jumat-Jumat yang lalu.

 

Dari lubuk terdalam, aku meminta maaf bila ada hal yang kurang berkenan yang pernah terucap atau kulakukan. Hal burukku jadikanlah contoh, tapi contoh yang tak perlu kalian tiru. Hal baik yang masih terlihat dariku jadikanlah itu contoh, ya, contoh yang boleh kalian tiru bila mau. Maaf, aku belum berani menantang kalian presentasi dalam bahasa inggris, bukan karena meng-under estimate, hanya kuingin kalian mempraktekkan tekniknya dahulu. So, asahlah English skill-mu guys sebelum terlambat, dunia nyata pasti menantangmu dengan hal itu, nanti!

 

Sudah kulakukan apa yang bisa kulakukan. Aku yakin, selama mereka mau belajar dan berubah, mereka pasti mendapatkan sesuatu dari kelas ini. Sekecil apapun itu. Presentasi itu tak mudah tapi juga tak sulit. Tak mudah karena musuh terbesarnya adalah diri kita sendiri yang grogi dan memiliki kekurangan masing-masing. Hanya kau sendiri yang tahu penangkalnya. Tetapi juga tak sulit karena ini bagian dari skill yang bisa dipelajari triknya serta hanya membutuhkan practice atau jam terbang lebih. Apa yang kau pikirkan itulah yang akan terjadi.

 

Setelah masa kelas ini berakhir, aku bukan lagi Miss Widi dalam keseharian kalian. Tapi di luar jam belajar mengajar, aku mau menjadi teman diskusi untuk membantu kalian menjadi penyaji presentasi yang lebih handal. Aku tak hebat tapi aku mau berbagi. Tak lain karena aku pernah menjadi Miss Widi kalian di kelas Teknik Presentasi A. Welcome to the jungle, just believe in yourself as I already believed in each of you, you could be a good presenter not just a designer. Keep learning and never stop practicing it!

 

No mountains too high for you to climb. All you have to do is have some climbing faith.. *Celine Dion – I’m Your Angel

So does a presentation!

 

Wd – 111210 – 11:58PM

 

My Man

Ia sosok manusia yang aneh, unik, tetapi punya tempat tersendiri. Manusia cerdas tanpa aturan tapi selalu bisa menemukan posisi ternyaman di mana pun dia hidup. Ia lakukan apa saja yang ia suka. Hidup seakan tak begitu menyusahkannya.

Bagaimana kumelihatnya mungkin berbeda dengan mata lain yang melihatnya. Sejak awal aku heran dengan hal itu. Tapi itulah yang membuat semua ini menjadi istimewa, karena perbedaan itu. Kekagumanku berbeda dengan kekaguman mereka.

Sebelum aku menyebutkan yang sebenarnya kurasakan, ia seakan tahu isi perasaanku. Perasaan sebagai seorang manusia. Takut, khawatir, membutuhkan bantuan, kesepian, tak tenang, dan lainnya. Ada sonar yang mungkin baru dia yang bisa menangkap dan mengartikannya dengan jelas dan tepat seperti yang kuharapkan.


Kami tak sering bertemu, jarang malah. Tapi kami selalu bertemu di satu masa dengan durasi yang panjang, menumpahkan stok kisah dan pergumulan hidup masing-masing yang sudah tertabung. Ia sosok yang selalu kucari untuk masalah macam itu. Mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi. Mengandaikan langkah kami selanjutnya.

Kadangkala saat aku bermasalah, tak selalu sebuah jalan keluar yang meluncur dari mulut seseorang lah yang aku butuhkan. Tapi kehadirannya di sampingku, menatap tajam mataku, dengarkan ceritaku, menyimaknya dalam diam, ya semua bahasa nonverbal itu sangat melegakan dan membuatku tenang. Kami tak selalu tahu harus menapak seperti apa, tapi setidaknya saat itu, beban berat di pundakku diangkatnya dalam diam. Dibantunya mengangkat beban itu, dan menemaniku melangkah, ke arah yang tak tahu benar salahnya. Namun, seandainya salah pun, ada dia menemani bukan?

Aku tak lemah, kurasa ia sangat tahu itu. Tapi aku tak sekuat itu, dan kurasa ia juga tahu itu. Bukan hanya tahu tapi paham. Entah bagaimana pemahaman itu terbentuk. Semuanya mengalir begitu saja seketika setelah chemistry itu kutemukan bertahun lalu. Dan aku tak meminta dunia sekitarku memahami ini lalu kemudian mengganggu. It’s just part of us so let it be like this.

Bagaimana rupa air mataku, ia sudah tahu. Aku tak perlu bersandiwara menutupi kebodohan diri. Kesalahan dan penyesalan diri pun tak terbungkus di hadapannya. Tanpa perlu ada ucapan kalimat pengakuan atau permohonan tetapi tindakan nyatanya menjawab dan membuktikan nilai relasi ini.

Aku tak takut dicaci maki, asal bersamanya aku tahu ia yang akan maju membelaku. Aku tak takut ada yang menjahatiku, asal bersamanya aku tahu ia melindungiku. Just like my guardian. Setidaknya itulah dia di mataku. Sweet? Probably no. Gentle? Absolutely yes!


Am I grateful for that? Yes, definitely! Entah mengapa hidup hanya memberiku waktu singkat tapi “dalam” dengannya. Kesibukan kah alasannya? It could be, bagaimanapun kami punya hidup masing-masing. Tapi aku masih selalu bisa menemukannya. Guardianku pun selalu tahu kapan saatnya menjagaku.

Bagaimana guardianku melihatku? Seberapa lama gelar itu bertahan untuknya? Let time prove it but hopefully it will last, without hurting anyone else around us.

You pick me up when I fall down. You ring the bell before they count me out. If I was drowning you would part the sea. And risk your own life to rescue me.. Bon Jovi – Thank You For Loving Me

Who is it? It’s “my man” !


©BG|271110|1:25AM

Kembali Kemari (2)

Ini bukan tentang menang atau kalah. Bukan juga tentang siapa yang lebih hebat atau lemah. Tapi masih tentang siapa yang berjuang atau menyerah.

Entah belum saatnya atau mungkin tidak untuk kembali kemari. Tidak bisa dengan mudah untuk mengucap pilihan kedua tentunya. Memang ada banyak sekali tawaran hidup yang mengharuskanku memilih dan bersikap menghadapinya. Aku merasa ada yang juga membutuhkanku.

Kuperlu pertimbangan yang lebih matang. Meski bagaimanapun, semua akan dijadikanNya indah pada akhirnya, pasti! Pun, kubisa jalaninya dengan senang tanpa paksaan. Tapi aku tak bisa biarkan semua mengalir dan menerimanya saja. Hatiku punya hak untuk didengar. Dan aku punya kewajiban mendengarkan dan mempertimbangkannya.

Aku belum berjuang apapun, hanya baru menapakkan langkah pertama di pasir pantai ini. Merasakan kehangatan yang masih terasa panas karena indra perabaku belum terbiasa. Tapi tubuh dan otakku juga tahu bahwa aku masih baik-baik saja. Di pantai itu terhampar luas pasir yang hangat tetapi terasa panas yang menanti pijakan kakiku. Kuhanya harus mencari tahu di sebelah mana sebenarnya aku mau dan bisa berdiri serta menyesuaikan diri. Tapi aku tak akan berdiri selamanya di sana. Aku mau berdiri di pantaiku sendiri, suatu saat nanti..

Bila bicara membuka pintu, masih ada banyak sekali deretan pintu yang akan terbuka dan tertutup serta membuka dan menutup. Aku belum melakukan apapun maka tentu tak bisa bicara lelah karena ini belum masuk ke perjuangan membuka dan menutup pintu-pintu itu. Perjuangan itu akan terjadi bila nantinya kupilih kembali kemari. Akankah?

This is about being the right man, on the right place, at the right time..

© BeBe – sub – 190110 – 01:37AM

Kembali Kemari (1)

Aku kembali ke sebuah tempat yang serasa selalu memberi harapan baru. Sebuah tempat yang membawaku menjauh dari masa lalu. Ada banyak hal baru yang memang tak selalu nyaman tetapi aku mulai belajar terbiasa. Dan rasa itu jauh lebih baik karena aku tak mau terpuruk di kubangan memori lama.

Rasanya belum sampai dua minggu yang lalu aku masih menerka entah kapan aku dapat kembali lagi kemari. Namun, selalu ada yang membuatku kembali. Memanggil-manggil hati kecilku ini. Aku hanya mencoba memenuhi panggilan itu dan menembus awan untuk menggapai cakrawala di ujung sana.

Kali ini panggilan itu datang di saat baru dua hari aku meninggalkannya. Ada keraguan yang cukup lama bertahan di sana. Haruskan aku kembali? Separuh bertaruh akhirnya kuputuskan untuk berangkat. Aku berangkat untuk sesuatu yang aku pun belum tahu jawabnya. Tapi toh tak ada yang berhak menahanku tak kembali kemari.

Aku berpikir, setidaknya ada sebuah perbedaan antara orang yang menyerah dan orang yang berjuang. Orang yang menyerah hanya punya satu pilihan untuk hidupnya, yaitu gagal. Sementara orang yang berjuang akan memiliki dua pilihan untuknya sendiri, yaitu berhasil atau gagal.

Aku ingin melangkah tapi tak tahu pintu mana yang harus kumasuki. Semuanya masih tertutup. Ada sebuah pintu yang ingin sekali kumasuki tetapi tak dibuka untukku, mungkin belum saatnya. Lalu tiba-tiba tanpa terduga sebuah pintu lain terbuka untukku! Kuberanikan untuk mencoba melangkah.. Sebab aku tak bisa diam di tempat dan membiarkan waktu serta hidup menghantamku telak.

Kusadari sejak awal aku kembali untuk sesuatu yang tak pasti. Satu hal yang kutahu, ketika aku kembali kemari, berarti ada harapan untukku berhasil dan bukan hanya gagal. Aku kembali karena aku harus melangkah maju bukan diam di tempat apalagi mundur. Aku kembali sebagai wujud syukurku untuk pintu yang dibuka itu. Aku kembali kemari untuk mencari tahu kemana Tuhan ingin membawaku..

Taking no risk is the greatest risk of all..




090110 – 23:38PM

Previous Older Entries

www.widiantigunawan.wordpress.com