Suatu Pagi Bersama Sepatu Hijauku

Di tengah lelapnya tidurku semalam karena efek sekaleng cairan bening itu, tiba-tiba Ia menyapaku dengan lembut. Bahkan sebelum alarm pagiku berbunyi, aku terjaga dengan mata yang masih terpejam. Namun dengan jelas aku mendengar Bapa berkata, “Be, release that grace..”.

Me: “I’m not that strong to do that, Father. I choose to runaway, sorry..” Father: “No, I’ve told you before to stay. You can. Do not hold that grace.” Me: “If only You strengthen me to do that. But why should I?” Father: “…”.

Aku tertidur sebentar lalu kuputuskan menyingkapkan selimutku dan duduk berdoa. Hidupku ini bukanlah milikku, selamanya Ia yang empunya hidupku. Apapun yang Ia mau, aku tak dapat menolaknya, hanya bisa taat meski tak bisa kupahami sama sekali apa maksud dan di mana ujung dari ini semua. Bahkan aku tak mengerti apa yang sedang terjadi padaku.


Akhirnya aku memilih untuk lari pagi, toh Ia telah membangunkanku. Sejuk sekali udara di luar, angin dingin menerpaku, segar. Setelah pemanasan sebentar, mengenakan iPodku, aku mulai berlari perlahan. Indah. Pagi ini segalanya terasa jauh lebih baik dari kemarin, hari di mana bahkan satu kata pun tak bisa kutuliskan untuk pahami diriku.

Mulai kulihat sekelilingku, ada banyak hal yang tertangkap mataku. Mentari di sisi Barat Laut bersinar malu-malu. Langit biru muda berbaur dengan jingga membuatnya bersemu manis. Warna hijau deretan pohon dan rerumputan diselimuti kabut tipis. Kendaraan mulai berlalu lalang di sisi luar ruko ini. Aku terus berlari.

Tak ada yang bisa kupikirkan, yang kutahu aku hanya ingin terus berlari. Aku berpapasan dengan seorang Om dengan rambut yang telah memutih. Ia jalan lalu berlari kecil di deretan ujung ruko sebelah sana. Ketika lariku sampai di depannya, kami sama-sama tersenyum. Tulus sekali senyumnya. Lintasanku jauh lebih panjang darinya. Ketika kembali berpapasan kedua kalinya, tiba-tiba ia mengacungkan jempol ke arahku sambil tersenyum dan kepala menganguk padaku. Om itu membuatku semakin bersemangat untuk terus berlari.

Aku berlari lebih banyak dari sebelumnya. Sampai benar-benar lelah, aku berlari lebih pelan sampai kemudian berjalan. Aneh, kakiku tak mau berhenti. Aku sudah lelah, batinku. Seakan sepatu hijau muda ini ingin terus kukenakan meski hanya berjalan. Aku tak bisa berhenti berjalan. Sampai berapa banyak lagu terlewatkan. Namun kubiarkan saja kaki dan sepatu running “just do it” ini berulah, aku menikmati kesendirian di antara keramaian Karawaci Barat yang mulai bangun perlahan.

Dinginnya udara pagi mulai berkurang. Kendaraan semakin banyak. Jalanan makin ramai. Orang-orang berangkat bekerja. Toko demi toko mulai berbenah. Kulihat dari kejauhan Om yang tadi kutemui berbelok masuk ke kompleks rumahnya. Mentari makin meninggi, mungkin membentuk sudut 30 derajat di atas sana. Sinarnya menyinari dan kumulai rasakan panas. Semakin banyak lagu terlewatkan hingga langkahku benar-benar terhenti.


Kembali ke rumah sementaraku di lantai atas, kutemukan sebuah sudut di ujung belakang sana. Jendela kaca itu kugeser penuh, kulihat pemandangan yang cukup indah, perumahan lain yang belum sesak dengan rumah, masih sepi tanpa banyak aktivitas penduduknya di pagi ini, lapangan kosong berumput tampak jelas dari atas sini. Angin dingin kembali berhembus perlahan. Aku duduk dan meneduhkan diri.

Mencoba meresapi pagi ini. Mengendapkan semua yang kudengar dan kulihat serta kualami. Mungkin itulah grace, kasih karunia. Ada kasih karunia yang terus menyertaiku, ia ada di ujung akhir perjalanan pengharapan dan iman. Aku tak tahu mengapa sepatu hijauku itu terus membuat kakiku melangkah, mungkin karena memang aku harus terus melangkah. Bila belum habis dayaku untuk melangkah, mengapa aku harus berhenti? Ternyata aku masih kuat untuk terus berjalan meski tidak lagi berlari.

Aku tahu dengan pasti, grace menyertaiku ke mana pun aku pergi. Tetapi di saat yang sama grace tak boleh terhenti untukku saja, grace harus terus mengalir. Meski aku tak tahu bentuk nyata grace yang harus kusalurkan padanya, meski aku tak tahu mengapa harus aku, meski aku tak tahu apa gunanya semua ini, yang kutahu aku telah putuskan bila aku mau mencoba melihat semua ini dengan cara berbeda. Karena tak ada yang salah, yang ada hanya manusia yang sedang bermasalah.

Apakah aku sanggup bertahan? Entahlah, yang pasti sepatu hijauku telah menunjukkan padaku bahwa ia sanggup bawa kakiku melangkah jauh lebih jauh dari kuduga. Apalagi Bapaku, Ia pasti sanggup bawa diri, hati, dan pikiranku untuk terus melangkah lebih jauh dari yang kupahami saat ini.


Take my heart, take my soul, I surrender everything to Your control. And let all that is within me, lift up to You and say, I am Yours and Yours alone, completely..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

www.widiantigunawan.wordpress.com
%d bloggers like this: