Serpihan Ledakan Kuningan

Jakarta – 190709 – 11:52PM

Bom meledak lagi di Mega Kuningan! Bukan yang pertama terjadi di Indonesia, tetapi perasaan seperti ini baru pertama kali kurasakan. Ada yang berbeda ketika mengucapkan, “Hidup mati di tangan Tuhan, tenang saja. Kalau emang saatnya tiba ya sudah..”. Perbedaan itu ada pada: dulu aku menyebutkannya saat berada di Surabaya, dan kali ini aku harus menyebutkannya saat aku memang berada di Jakarta. Aku mengalaminya lebih dekat..

It Just So Close!

Pagi itu, siaran televisi tiba-tiba menayangkan berita adanya ledakan di Ritz Carlton dan JW Marriott. Gambar yang ditayangkan adalah seorang korban bersimbah darah, tengah ditandu ke sebuah mobil mewah. Lokasi penuh dengan asap. Orang berlarian ke lapangan. Beberapa panik shock, terduduk menangis di tepi jalan. Banyak yang menempelkan telepon di telinga. Ada police line kuning terpasang. Dedaunan gugur berantakan di jalan.

Seperti biasanya bila ada kejadian besar menggemparkan, aku terpaku menyaksikannya. Sampai cukup terlambat berangkat mencari data skripsi. Hm, malamnya aku sempat mencari berita tentang kedatangan MU ke Jakarta. Ada teman baikku penggemar MU yang rela akan datang bahkan sudah membeli tiket VIP dan tiket pesawat dari Surabaya. Karena penasaran, maka kucari tahu beritanya. Dan baru kutahu kalau pemain MU akan masuk ke Ritz Sabtu malam. Kupikir kala itu, wajar, Ritz punya kredibilitas bagus dan penjagaan ketat.

Jumat lalu aku baru merasakan ‘seandainya ditempatkan dalam keadaan emergency’ dan kepanikan itu tetap muncul meski ternyata hanya simulasi. Jumat ini, kepanikan benar-benar dialami oleh mereka yang ada di kedua hotel berbintang itu. Teman, sedikit banyak, simulasi itu penting!

Sabtu sebelumnya, aku bersama temanku pergi ke Ambassador. Ia belum lama datang dari Surabaya dan belum tahu banyak tentang Jakarta. Kami makan siang di foodcourt. Ia mengambil duduk di samping jendela kaca. Aku pun menunjukkan kawasan Mega Kuningan yang tampak jelas di depan kami, apalagi dari ketinggian seperti ini. “Itu JW Marriott yang 2003 lalu dibom. Trus tinggi di belakangnya, itu Ritz Carlton..” Kurang lebih seperti itulah pembicaraan kami. Ia bahkan sempat ber-GPS melacak lokasi Mega Kuningan dari handphone barunya. Mengapa topik itu muncul dalam pembicaraan kami saat itu ya?

Beberapa keluarga di Surabaya menelpon menanyakan situasi di Jakarta. Maklum, kali ini 3 anggota keluargaku sedang beraktivitas di Jakarta. Wajar bila mereka cemas karena amat gempar semua media menayangkan berita panas ini. Bila dilihat dan ditarik lurus dari peta Jakarta, tempat tinggalku tak begitu jauh dari Mega Kuningan. Tetapi cukup jauh untuk ditempuh dengan kemacetan Jakarta. Aku berangkat dengan perasaan tak nyaman, bukan tak aman. Karena aku makin menjauhi lokasi kejadian. Hanya saja, bila menu sarapan pagimu adalah berita buruk, bukan kah itu awal yang kurang baik untuk semangat beraktivitas?

Sesampai di kantor, semua wajah tegang, tak ceria seperti biasa. Flat TV yang tergantung di sudut dinyalakan. Aku mengakses d*tik.com dan spontan membaca dengan keras, “Presdir Holc*m tewas jadi korban!”. Kontan, semua mendatangi mejaku dan bereaksi kaget luar biasa. Bagaimana tidak, ternyata Holc*m adalah klien perusahaan ini. CEO tersebut dikenal dekat oleh petinggi di sini. Pantas saja, departemen komunikasi ini terkejut. Tak lama makin banyak karyawan yang mengerumuni TV, bersama ingin melihat daftar nama korban. Ada 2 nama lain yang dikenal oleh Manager External Communicationku. Kebetulan mereka juga rekanan dan benar, turut menjadi korban.

Aku dan beberapa staff miris dan bergidik. Kejadian itu begitu dekat. Proximity itu tercipta bukan hanya karena geografis, tetapi korban itu kami kenal. Bahkan sempat hadir kala perusahaan mengadakan event besar bulan lalu, di Ritz Carlton pula. Minggu depan pun, serangkaian kegiatan penting direncanakan akan diadakan oleh departemen komunikasi ini. Selama beberapa hari dan bertempat di Ritz Carlton. Ruangan yang telah dipesan adalah resto Airlangga yang meledak itu. Di mana ada banyak orang penting, termasuk pers akan hadir. Seketika merinding membayangkannya, akibat campuran rasa syukur dan kengerian.

Ada pula 2 foreign staff yang hampir saja bersinggungan dengan ledakan. Mereka menginap di Ritz, menunggu taxi di lobby untuk ke kantor. Mereka sempat melihat Marriott meledak dan seketika taxi datang mereka segera masuk ke dalam taxi. Ketika taxi beranjak menjauh, BLAR!! Mereka menoleh ke belakang dan melihat tempat mereka berdiri penuh dengan asap. So close!!!

Don't cry

Proximity

Terlepas dari kegeramanku dan kebanyakan orang normal lainnya, aku hanya menyadari proximity bisa memberikan feel berbeda. Ketika isu ledakan di Muara Angke adalah bom, semakin membuat semua rekan di kantor takut. Semua menghubungi keluarga masing-masing, memastikan keberadaannya. Siangnya ditemukan sebuah bom lagi di 1808 Marriott. Biasanya aku orang yang cukup cuek dan yakin saja bahwa jalan hidup setiap orang sudah ditentukan Tuhan. Tapi suasana di sekitar dan di sekelilingmu bisa membuat kalimat itu terbayangkan dengan berbeda. Orang Jakarta yang kukira sudah kebal dengan hal seperti ini pun ternyata tetap takut. Banyak yang membatalkan acara Jumat sore dan memilih pulang.

Salah seorang rekan lain berkata, hidup mati manusia memang sudah di tangan Tuhan. Inilah Jakarta, kalau kamu takut ya jangan hidup di Jakarta. Inilah resiko yang memang harus dihadapi. Kalau tidak berani, mana bisa lakukan aktivitas yang seharusnya kau lakukan..

Hari Jumat kelabu itu, mulai sarapan, lunch, hingga makan malam, bermenukan “bomb Mega Kuningan”. Suasana duka yang tidak mengenakkan seharian penuh. Kegeraman masih berdiam di ujung hati. Sedikit keraguan untuk bepergian, jujur kuakui ada. Namun, saat teduh malam itu justru berkata sedikit berbeda kepadaku.

Belajar dari Rumah Duka

Judulnya ‘Rumah Duka’. Pergi ke rumah duka lebih baik daripada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia (Pengk 7:2). Ya.. Kusadari aku termasuk orang yang memilih menghindari rumah duka karena enggan berhadapan dengan kematian. Tapi justru keadaan itu menyadarkan bahwa hidup itu singkat. Rasa kehilangan mendorongmu lebih bergantung pada Tuhan. Pergunakan kesempatan yang ada selagi bisa. Jadi, di sanalah kau belajar bijak. Bukan di rumah pesta kau bisa belajar hal seperti itu. Yah, tak ada gunanya menghindari kemalangan, karena dari itu imanmu justru terbangun.

Tragedi Mega Kuningan ini mendukakan Indonesia, penggemar MU, perusahaan tertentu, keluarga korban, dan semua masyarakat. Akan tetapi, belajarlah dari kedukaan ini. Belajarlah sesuatu agar kau lebih bijak. Dan aku yakin kali ini, Indonesia akan bangkit. Bangsa ini sudah mengalami kedukaan bertubi-tubi, apalagi yang bisa menjatuhkannya? Bersama tunjukkan pada dunia, Indonesia tak seburuk citra yang berusaha dijatuhkan seperti ini. Tuhan bisa memutarbalikkan kemalangan jadi hal yang indah suatu hari nanti, untuk Indonesia. Tegarlah Indonesiaku!

 

Tuhan membuat hidup kita kaya dengan mengajar kita mencampur canda dan air mata..

Advertisements

Emergency, Emergency!!

Alarm tanda bahaya berbunyi! Bunyi sirine itu memekakkan telingaku! Kusadari aku berada di ketinggian, di lantai 26!! Lift gedung otomatis pasti berhenti! Kepanikan mulai menjalar.. Tangga darurat, hanya itu! Semua orang bangkit dari kursinya dan beranjak cepat ke tulisan EXIT! Berlombalah menuruni gedung setinggi itu dengan ketakutan yang mengejar di belakangmu!

Akhirnya aku kembali ke Jakarta! Kamis lalu aku tiba di Ibukota dan kembali berurusan dengan Shell sejenak. Senin lalu mulai rutin datang ke Talavera Office Park. Dan lucu sekali, aku seperti temu kangen, bernostalgia dengan banyak staff Shell. Mereka kaget melihatku setelah tak nampak sejak Februari. Ternyata banyak yang masih mengingatku, rupanya magang 6 bulan kala itu telah menciptakan relasi yang cukup kuat. Mereka mengira aku telah lulus dan akhirnya bekerja di CX hahaha.. Tidak atau belum! Kali ini aku mengumpulkan data skripsi.

Banyak yang bertanya untuk apa kembali ke Jakarta hanya untuk skripsi? Rela banget sih untuk skripsi doank? Hey, Jakarta tidak begitu jauh dan aku menyukai kota ini beberapa sisi. Mungkin karena aku pernah tinggal cukup lama hingga tak berat untukku sebulan kembali ke Shell dan mengerjakan penelitianku. Bisa saja mengambil judul lain tentang perusahaan di Surabaya, tapi 6 bulan yang kuhabiskan di Shell menunjukkanku banyak hal. Sedikit banyak aku punya pengetahuan tentang perusahaan ini. Selagi kesempatan masih diberikan, aku ambil saja, at least untuk membina relasi yang pernah ada. Selain itu untuk belajar lebih dalam tentang aktivitas Communication. Aku mengambil penelitian di bawah Divisi Media Relations, selama 4 bulan dibimbing oleh Manager Divisi CSR, kini skripsi di bawah Divisi Internal Communication. Lengkap sudah semua bagian dari PR Shell kujelajahi.

Yang mengesankan adalah kejadian hari ini, Jumat, 10 July 2009. Pagi ini, sekitar pukul 9.50AM, aku sedang mengerjakan skripsi di depan laptop sambil ber-ear phone karena mentranskrip hasil interview. Sayup kudengar Emergency Annoucement. Seketika aku dengar sirine berbunyi keras. Pengeras suara di setiap lantai Talavera Office Park ini menyerukan bahwa hari ini tidak ada latihan simulasi kebakaran atau uji coba. Alias, sirine itu berbunyi bukan karena buatan! Suara itu menyuruh kami segera meninggalkan gedung melalui Emergency Exit atau tangga darurat.

 Pic Source : Tata Mulia

Otomatis semua karyawan yang sedang bekerja di meja masing-masing, berdiri, riuh keheranan, dan mulai beranjak meninggalkan meja ke pintu darurat. Aku cukup panik karena berusaha mencerna ini simulasi atau benar ada sesuatu di gedung ini, apapun itu aku harus tetap segera beranjak. Kuambil ranselku dengan laptop di dalamnya, plus dompet dan PDA inside. Aku bersama rekan CX segera keluar lewat Exit Door yang lantai kami, lantai 26! Berdesakan, bergabung dengan orang lain dari lantai atas, kami menuruni anak tangga.

Ini kali pertama aku berada di situasi seperti itu. Melihat orang berbondong menuruni anak tangga darurat. Ketika bergabung dengan rombongan dari lantai bawah, aku terpisah dari temanku. Ada yang hanya bawa badan saja, ada yang membawa tas atau laptop. Kuperhatikan lagi, ada yang tampak panic, ada pula yang santai bercerita dengan rekannya. Saat itulah aku sadar, ini hanya simulasi! Evacuation Drill! Aku ada di perasaan antara merasa sangat bodoh, dengan berusaha mempelajari andai itu bukan simulasi. Anak tangga kuturuni terus, kulihat 25, 22, 19, 15, … Tanpa sengaja aku bertemu dengan staff Shell dari lantai lain, sambil mengobrol kami mengalihkan pikiran dari situasi tidak enak itu. Sampai tak terasa kulihat 11, 9, 6, 2 dan akhirnya, sinar matahari!!

Keluarlah kami dari untaian ribuan anak tangga. Kulihat mobil ambulance. Di beberapa area orang-orang berkumpul. Ada yang ber-safety vest sambil membawa sign bertulis nomor tiap lantai. Petugas keamanan mengarahkan rombongan yang baru keluar ke area lain di belakang gedung, yang disebut dengan Assembly Area. Di sana beberapa staff yang menjadi vocal point HSSE telah mengenakan safety vest. Mereka mengangkat tinggi sign lantai masing-masing. Aku mencari 26 dan berkumpullah dengan rekanku lain. Kaki gemetar! Semua berceloteh dan berkeringat, mengeluhkan kaki gemetar karena jarang berolahraga sehingga ‘kaget’.

Sebenarnya di setiap lantai selalu tersebar denah gedung untuk situasi darurat. Shell memiliki standar safety yang sangat luar biasa baik. Oleh karena itu segala hal yang related dengan safety, sudah menjadi budaya. Staff mengetahui langkah yang harus dilakukan dan tempat yang harus dituju dalam keadaan darurat di dalam gedung. Setelah berkumpul di Assembly Area, tentunya ruang terbuka, kami didata. Dengan jelas disebutkan ini simulasi. Kemudian teriknya matahari ditambah kaki gemetar dengan cepat membubarkan kerumunan massa penghuni Talavera.

Terlepas dari kehebohan, merasa bodoh, kaki gemetar, merasa sial, aku pun belajar dari latihan ini:

  • Bunyi sirine pasti mendatangkan kepanikan! Dan berusahalah focus agar kau tahu apa yang penting untuk kau bawa bila memungkinkan. Tidak mungkin kau bisa membawa semua hartamu di kantor karena kau akan berdesakan di dalam tangga darurat.
  • Selamatkan nyawa, itu yang terpenting. Jangan pusingkan harta, tak kan ada arti bila nyawa tak terselamatkan.
  • Tangga darurat itu sangat pengap. Ditambah dengan banyaknya manusia yang berebut oksigen dalam kepanikan. Jadi, kendalikan diri agar tidak panic.
  • Semakin tinggi lantai, semakin tidak menguntungkan. Bukan hanya karena jumlah anak tangga yang lebih banyak untuk dituruni sampai bawah, tetapi jumlah massa. Turun selantai, kau bertemu puluhan orang yang keluar dari lantai itu, semua berebut menuruni tangga lebih dulu. Turun selantai lagi, berarti jumlah berlipat. Begitu seterusnya. Do you get my point?
  • Alihkan perhatian tetapi tetap focus, agar tidak makin panic.
  • Menuruni banyak anak tangga yang berpola sama, bisa membuatmu pusing.
  • Ikuti arahan dan petunjuk dari petugas.
  • Pelajari dan baca semua peringatan yang telah diberikan sebelum keadaan darurat benar-benar terjadi. So that you’ll have a field of reference before you experience it.
  • Jangan remehkan simulasi, it’s a must and good for us, oneday!

Saat magang, dua kali aku absen dari kegiatan mengepak barang untuk pindah gedung, karena menyelesaikan urusan di Surabaya. Kali ini, hari ke-5 di Shell, aku harus menuruni 26 lantai Talavera. Terbayar sudah rasa tidak puas teman-teman karena dulu aku tak ikut berlelah hahaha.. Andai di Surabaya, mungkin tidak bisa bersimulasi seperti ini. Selain banyak pihak belum aware pentingnya simulasi keadaan darurat, gedung setinggi ini masih langka ditemukan. Sampai beberapa hari ke depan, kakiku pasti sangat sakit dan pegal. Tapi kelelahan ini untuk berjaga-jaga karena bila situasi seperti itu terjadi, mau tidak mau, semua harus siap!

The future has become the present. Anything of importance will remain, while anything useless will disappear..

 

Jakarta/100907/10:57PM                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      

www.widiantigunawan.wordpress.com