Langkawi, Malaysia

A small island located at the north tip Malaysia. It’s hot and not too much populated. If Indonesia has Lombok Island, then Malaysia has this island, Langkawi.

Here are some nice spots to go if you’re going to Langkawi:

Langkawi Sky Bridge

It is located 705 metres (2,300 ft) above sea level at the peak of Gunung Mat Chinchang on Pulau Langkawi. Langkawi Sky Bridge is a – 125 metres (410 ft) curved pedestrian cable-stayed bridge. It’s accessible by the Langkawi Cable Car. Nice view from up there!


Telaga Harbour

Want to see yachts? Or you want to rent it? It’s located on Pantai Kok, in the northwest of Langkawi. It takes 45 minutes from Kuah town by car. This harbour is a scenic spot to take some photos and enjoying the marina’s view.

Dataran Lang

Eagle square is a giant sculpture of a reddish brown eagle, facing toward the sea. It’s situated near the Kuah Jetty. This is the most famous landmark of Langkawi.


The road links various areas around the island, were built in very good condition by the government. Wide and smooth, seemed empty enough with small number of vehicles that cross it. You can’t find any public transportation, except taxi. But there are many car rentals that you can choose from the airport. Remember to bargain, yet they aren’t too expensive actually.

Look like that this island has been designed as a tourist destination. Many tourism spots are quite attractive on the map. In fact, the natural beauty of Indonesia remains undefeated!

You can find almost all of them in Indonesia, but I have to admit, they are successful in creating stories that attract tourists to come. Those stories were created to increase the selling value of the nature itself. That’s not bad, and we can learn from that. It’s about creating the story!

You don’t need too many days to spend here, 2-3 days is enough. For hotel, quite much type of hotel that can choose to stay. One of recommended 2 stars hotel is Azio Hotel in Kuah town. It’s new, cheap, comfortable bed, hot water, shower, and the most important is clean! You can go online to book the reservation. Don’t worry if you’re hungry, you just need 1-2 minutes in distance walking to the Water Garden Hawker Center (in the morning) and it changes to Rootian Seafood Restaurant at night. Yummy taste and cheap!!

Touring in Langkawi, you just need to rent a car, bring the map, and driving around the island. There’re many duty free stores around the Kuah town. So, if you like chocolates, I’m telling you, it’s cheaper here! Not only chocolate but also perfume, wine, cigar, and so on. Are you ready to go? Bring your sun block lotion with you always!

To see more photos of Langkawi just click this link.

Karawaci | 300311 | 6:10PM

Tai O, Lantau Island, Hong Kong

Hong Kong has so many interesting places to be visited. Besides the shopping destination, if you like to find a local, different, natural, and yet full with Hong Kong culture and daily life, this place could be another suggestion for you. Please welcome, Tai O!

Tai O is a local fishing village, which is located in the western side of Lantau Island, Hong Kong. It is known for the pang uks, sort of stilt houses built right over the waterway. The bottoms of the 3-4 meters wooden stilt already become the habitat for small oysters. So unique scenery! You can’t find cars or motorbikes in front of the stilt houses but small ships or boats.

Although those are stilt houses, some also have air conditioning, big screen television, nice kitchen and restroom inside, small “garden” and more of it, balcony! You can do your own tour on foot, going around the village. There are some pedestrian bridges which are good enough for photo shoots.

If you love seafood, no worries you’ll love Tai O. Although, currently the fishing lifestyle is dying out, many residents still continue to fish. They sell fresh seafood, dried or salted seafood, and many type of delicious local snacks! Try their smoked salted fish-egg and shrimp, without any spice it’s just smoked over charcoal, but oh.. it smells so good! Keep walking and you’ll find baked oysters, prawn, and scallop, with melted cheese on top. Don’t miss to drink the sweet sour red tea.

The village is placed mostly on the bank of the river but you can see the rocky mountains standing at the back of the village. You can join the resident’s boat by paying the fee, just sit and prepare your camera; they will take you down along the river. Or ask them to drive you to the sea where you can see Chinese white dolphins, if you’re lucky.

I was going there by bus (11) from Tung Chung terminal and it took around 45 minutes. Try not to fall asleep or you’ll missing interesting spots to see along the trip. You may reach Tai O by bus from other locations, like Mui Wo (1) and Ngong Ping (21). But if you want to take ferry, just try to depart from Tuen Mun, Tung Ching, and Sha Lo Wan ferry piers.

Enjoy experiencing a different side of Hong Kong! Feel free to check another photos of Tai O.

 


Welcome to Tai O

Tai O

Small oysters covered the stilt

The stalls

Smoked Salted Seafood

Which one do you want?

Pufferfish!

Wisata Alam Umbul Sidomukti (2)

Di penghujung tahun 2010, aku kembali ke Bandungan, dan mengunjungi Wisata Alam Umbul Sidomukti. Setelah pertama kali datang di April 2009 lalu.

Ini kali keduaku bermain lagi di sana. Banyak hal sudah membaik, meski tetap perlu banyak perbaikan, setidaknya sudah ada progress baik dari tulisan terakhirku tentang tempat ini. We have to appreciate it, don’t we? Tetaplah datang agar semua bisa bersinergi untuk saling mendukung ke arah yang lebih baik.

Cuaca mendung, berawan, berangin. Semua wajar untuk Desember dan tempat setinggi ini. Panoramanya tetap menyejukkan hati. Cukup banyak wisatawan lokal yang berkunjung dan hampir semua berpotret di berbagai sudut yang dirasa indah untuk diabadikan.

Aku tetap tergoda untuk bermain lagi. Kali ini Flying Fox Adrenalin dan Marine Bridge yang jadi target. Sebenarnya Flying Fox Adrenalin tak lagi terlalu menggoda karena aku sudah pernah “menaklukkannya”. Tapi yang berbeda karena kali ini aku mengajak sepupuku untuk berani uji nyali.

Jessica, 11 tahun, tak pernah diijinkan orang tuanya untuk bermain dengan ketinggian. Tetapi hasrat memicunya untuk mencoba. Dan aku sangat mendukung hal itu. Tantangan ada untuk ditaklukkan. Jadi kubelikan tiket untuk Flying Fox dan Marine Bridge bersama-sama. Ia menikmati “terbang” melintasi jurang setinggi 70 meter, sepanjang 110 meter saat Flying Fox Adrenalin. Jadi Flying Fox dilakukan tandem berdua karena ini saat pertamanya uji nyali. Unik karena ternyata bisa berpelukan saat duduk meluncur.

Aku pun senang karena meski dengan wajah pucat dan ketakutan, ia berhasil menyelesaikan Marine Bridge yang harus kuakui, berat! Permainan ini lebih sulit dari yang kubayangkan. Bukan tingginya yang membuat berat, bukan goyangan jembatan jaring yang menakutkan, bukan hanya seutas tali yang jadi pengamannya, tapi besarnya angin lembah menggoyangkan keseimbangan, dan berat badanmu harus kau tarik sendiri sambil berjalan bergantung di seutas tali pengaman itu. Tantangan berbeda justru menarik bukan? Ada trik untuk membuatnya lebih mudah dilalui: jalanlah layaknya peragawati berjalan di simpulnya!

Sedikit info tambahan, beberapa permainan hanya dibuka pada Sabtu dan Minggu. Tetapi Flying Fox Adrenalin, Marine Bridge, ATV, berenang masih bisa dilakukan di hari biasa. Harga tarif juga masih sama dan belum berubah. Datanglah! Memang cukup jauh tetapi perlu pengorbanan untuk melihat hal-hal indah. Panorama Umbul Sidomukti menantimu kawan!

Enjoy the adrenalin!

Surabaya 020111 3:03PM

Reruntuhan Gereja Tua Menemukan Bahasa yang Hilang

Sebuah bahasa baru yang lampau, ditemukan di Peru. Di balik kertas usang berusia 400 tahun, tercatat kata-kata yang belum pernah diketahui sebelumnya. Penemuan ini melengkapi kepingan teka-teki sejarah kebudayaan Peru.

Salah satu gereja kuno di bagian Utara negara yang pernah dijajah Spanyol ini runtuh. Akan tetapi hal itu justru menjadi sebuah keuntungan tersendiri bagi sejarah dan budaya. Reruntuhan gereja Magdalena de Cao Viejo menjadi lokasi penemuan penting ini.

Pada tahun 2008, ratusan kertas kuno bersejarah terawetkan oleh iklim yang kering ditemukan di area tersebut. Namun, justru di balik salah satu lembaran kertas itulah terdapat coretan tulisan yang baru-baru ini diyakini arkeolog sebagai bahasa yang baru diketahui dan diduga digunakan penduduk setempat di masa silam.

Coretan penting tersebut berisi tulisan angka Spanyol, seperti uno, dos, dan tres; dan angka-angka Arab yaitu 4-10, 21, 30, 100, dan 200; yang diterjemahkan ke dalam bahasa yang belum pernah diketahui. Beberapa kata dikenali sebagai bahasa Quechua, namun selebihnya tidak diketahui sebelumnya.

Coretan di balik kertas memuat kata-kata yang belum dikenal sebelumnya.

Courtesy: Jeffrey Quilter

Masyarakat Peru menggunakan bahasa Spanyol dan sebagian penduduk masih memakai Quechua dalam berkomunikasi. Namun dalam masa lampau, terdapat pula bahasa Quingnam dan Pescadora yang disebut sebagai bahasa para nelayan setempat.

Dr. Jeffrey Quilter, pemimpin proyek sekaligus arkeolog Peabody Museum of Archaeology and Ethnology milik Harvard menyatakan meski belum banyak informasi yang dapat diambil tetapi catatan lampau tersebut penting dan menarik. Quilter menyebutkan, “Ini adalah petunjuk pertama akan adanya penggunaan sistem angka desimal dalam bahasa yang sebelumnya tidak dikenal.”

Penemuan di kompleks El Brujo Archaeological di Chicama Valley meyakinkan Quilter bahwa bahasa adalah petunjuk keragaman warisan budaya. Interaksi antara penduduk pribumi dengan penjajah jauh lebih kompleks dari yang pernah dipikirkan. “Semua ini menunjukkan betapa kaya dan beragamnya dunia,” ujarnya.

©BG – Sby – 031010

Candi Gedong Songo, Bandungan, Semarang

Bila kau menyukai berwisata dengan alam atau memiliki perhatian dengan warisan budaya, pergilah ke tempat ini, Candi Gedong Songo. Selain candi besar yang sudah dikenal secara internasional, Indonesia masih memiliki segudang candi untuk dijaga dan dikenal. Salah satunya Candi Gedong Songo yang berdiam di ketinggian hampir 1.300 meter di atas permukaan laut ini.

Letaknya ada di lereng Gunung Ungaran, Desa Sumowono, Bandungan, Semarang, Jawa Tengah. Kompleks candi ini berada 15 km dari Ambarawa menuju ke Desa Sumowono atau sekitar 40 menit perjalanan. Bila sedang berencana berlibur ke Bandungan, harus mampir ke kompleks candi yang satu ini.  Karena selain Wisata Alam Umbul Sidomukti, candi ini juga layak didatangi. Hanya 10 menit untuk mencapainya dari pasar Bandungan. Mobil harus menanjak cukup tajam di jalanan pegunungan. Jalannya bukan jalan besar tetapi sudah beraspal sehingga tetap nyaman dilalui. Panorama cantik akan kau temukan di sepanjang jalannya. Saranku, matikanlah pendingin mobil dan bukalah jendela. Bukalah mata dan tengok kanan kiri, perhatikanlah anugerah Tuhan di luar sana.

 

View on the way to Candi Gedong Songo

Udara di sana dingin, sejuk di kisaran 20o Celsius. Tek heran bila kabut sesekali menemani. Dan tak terasa bila matahari menyerang, yang tersisa adalah kulit yang terbakar di siang hari. Terdapat barisan rapi pepohonan pinus di sisi kanan kompleks candi. Hijaunya gunung sangat bersahabat dan menemtramkan hati.

Candi Hindu ini dinamakan Candi Gedong Songo karena terdapat 9 bangunan candi yang dibangun pada 927 masehi. 9 bangunan itu tersebar di lereng-lereng yang telah dibangunkan rute jalan setapak untuk mencapainya satu per satu sampai habis dengan membayar 6.000 IDR. Ada juga kuda-kuda yang siap disewa untuk mengelilingi kompleks candi.

Saat itu aku mengira terlalu mahal harga yang ditawarkan joki kuda, dan karena sudah terbiasa hash, kami pasti sanggup menghabiskan track candi ini. Ternyata kami salah dan menyesal di tengah jalan karena tak mau menyewa kuda. Jalannya sangat menanjak untuk beberapa rute dan jalur yang harus ditempuh pun panjang. Terlebih para joki kuda akan menjelaskan kisah di balik setiap candi dan memberikan waktu sejenak untuk berpotret. Namun, bila tetap ingin menantang diri untuk berjalan, saranku bawalah air minum.

Bagi para pemuja di masa lampau, gunung adalah tempat tinggalnya para dewa. Oleh karena itu mereka membangun deretan candi ini di puncak perbukitan. Bentuk ruangnya persegi dan persegi panjang. Setiap area bangunan candi di Gedong Songo cukup kecil, tak terlalu besar. Di setiap areal bangunan selalu ada hamparan lapang meski tak terlalu luas. Tak seperti Borobudur yang utuh tunggal dan sangat besar. Atau Prambanan yang beberapa tetapi besar. Walau kecil tetap unik karena setiap candi memiliki kisah sendiri. Beberapa candi tampak sudah runtuh sebagian.

Keunikan lain, di tengah rute terdapat sumber air panas. Pemandiannya tak terlalu besar karena terdapat di lembah. Asap yang terus mengepul menyebarkan aroma belerang yang khas. Beberapa bebatuan besar menjadi spot untuk berpose “gila” yang jarang sekali akan dilakukan ayah ibuku. Sebuah memori unik buat keluargaku.

Sedikit berbagi, awalnya alasanku ke sana karena ayah dan ibu ingin bernostalgia mengenang masa pacaran mereka dulu. Kini setelah anak-anak besar, mereka mau menempuh kembali rute dari candi pertama sampai habis bersama-sama. Sepanjang rute pun kami menggoda ayah ibu dan beberapa kali meminta mereka berpose bersama. Pada akhirnya, kami sukses menyikat habis rute dari candi pertama sampai selesai dengan berjalan kaki. Lelah karena tanjakan. Lama karena banyak berfoto. Tetapi puas menemani ayah ibu bernostalgia dan menikmati indahnya pemandangan dan candi ini.

A recommended tourism attraction to visit..

Another post about Candi Gedong Songo link1 and link2.

BeBe | 290710 | Sby

Prigi Beach (Pantai Prigi)

Which one you’ll choose, beach or mountain?

If I’m looking for freedom, I’ll go to the beach. If I’m looking for tranquility, then I’ll go to the mountain..

I’ve found a place where mountains and beach joined together. That could draw smile on my face because of gratitude feeling inside me. This is a cool spot for escaping from all burdens in life.

Pantai Prigi in Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, East Java. How to get there? Depart from Kediri – Tulungagung – Trenggalek – and you’ll reach Pantai Prigi.

Prigi is a beautiful God’s handmade beach which He presented as a gift for Indonesia.

Although at that moment the sky was as gloomy as my heart, but I could still smell the salty wind and saw the green hills surround me. Without too many words, just let your eyes describe it to your senses, through these photos..

 

Wanna feel the warm breeze, sleeping under palm tree, feel the rush of the ocean, far away and breakaway. I’ll spread my wings and learn how to fly, I gotta take a risk, take a chance, make a change, and breakaway.. (Kelly Clarkson – Breakaway)
 

Sub 100410 © BeBe

Tugu Pahlawan & Museum Sepuluh Nopember

Putih tinggi menjulang di tengah lapangan rumput hijau. Bagaikan sebatang pensil putih raksasa berdiri di sana. Ukiran emas menghiasi lingkar bawah dan sekitaran ujung runcingnya. Itulah Tugu Pahlawan, monumen yang sangat penting bagi perjalanan sejarah Kota Surabayaku..

Tahukah kau dahulu di kawasan ini berdiri markas polisi Jepang? Arek-arek Suroboyo kala itu menghancurkan dan mengambil alihnya. Kemudian dijadikanlah Monumen Tugu Pahlawan ini untuk melambangkan kebanggaan arek Suroboyo menang pada pertempuran 10 November 1945. Hero Monument & Tenth November Museum buka mulai puku 08.00 sampai sekitar pukul 14.00. Pada hari Senin dan hari libur nasional, tujuan wisata ini ditutup untuk pemeliharaan.

Masuk pelataran parkir dari sisi jalan Tembaan. Bila dari arah Pasar Turi, harus mengitari kawasan Tugu Pahlawan dan Bank Indonesia lalu mengambil lajur paling kanan untuk berbelok masuk. Seturun dari kendaraan masuk melalui pintu gerbang di sisi samping depan patung Soekarno Hatta. Lapangan rumput hijau luas dikelilingi jalan taman dengan bunga alamanda kuning menjadi kanopinya. Bersih dan tampak terawat. Terdapat patung beberapa pejuang berdiri di dalam kawasan taman.

Di bagian ujung kiri, tampak loket masuk ke dalam Museum Sepuluh Nopember. Hanya 2.000 IDR yang harus dibayar setiap orang. Museum ada di bawah, bertingkat 2 lantai. Beberapa koleksi yang dianggap bernilai sejarah bagi kota kelahiranku bisa dilihat. Beberapa batang bambu runcing. Senapan-senapan kuno hasil rampasan dari para penjajah Belanda, Jepang, maupun Inggris. Foto suasana dan bangunan lawas Surabaya. Diorama sederhana tentang masa penjajahan di Surabaya. Pemutaran film sederhana juga ada di ruangan tersendiri.

Selama 22 tahun lebih dilahirkan dan tinggal di Surabaya, baru kali ini aku masuk ke dalam kawasan Monumen Tugu Pahlawan. Malu? Lumayan. Rumahku memang tak begitu jauh dari sana sehingga hampir selalu melewatinya sebelum mencapai tempat tujuan di tengah kota. Sekitaran 2 tahun lalu, di tengah malam juga sempat mengantarkan rombongan jurnalis kampus berfoto di depan monumen itu. Namun tetap saja bukan masuk ke dalam tembok hijau apalagi museum yang ada di lantai basement. Tanpa pikir panjang, ajakan sepupuku ke Tugu Pahlawan ku-iya-kan. Bersama dengan keempat keponakan, aku membayar rasa ingin tahuku. Mendung dan hujan gerimis menemani wisata singkat kami.

Bila kau warga Surabaya, sudah sepantasnya sekali dalam hidupmu pernah mengunjunginya. Kuakui tidak sebagus yang kubayangkan karena aku membandingkannya dengan Monas yang memiliki diorama sangat banyak dan bagus (read also: Monas). Tetapi, kawasan Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh Nopember yang resmi didirikan di tahun 2000 ini lebih bersih dan terawat dari yang kuduga. Setidaknya ketika bertemu warga dari kota lain yang bertanya tentang si pensil raksasa itu, dengan bangga kau bisa menceritakannya. Sederhana dan apa adanya tetapi harus tetap dijaga bersama sebagai saksi sejarah. Wisata Surabaya bukan hanya mall yang makin bertambah saja jumlahnya, tetapi wisata sejarah sangat kental mewarnai kota ini. Inilah salah satunya.

Rawe-rawe rantas, malang-malang putung..!

Sby – 301209 – 5:55PM

 

Here are some photos that I took while visiting Hero Monument & Tenth November Museum.. Back to my old hobby, there you go..

 

   

   

 

Pantai Lombang, Sumenep, Madura

Deretan pohon cemara udang hijau tua di sepanjang bibir pantai, butiran pasir putih kekuningan terhampar luas bermain di sela jemari kakimu, suara desiran ombak menjadi alunan musik alam yang langka terdengar, kilauan riak ombak membaur dengan biru kehijauan laut, sinar matahari menghangatkan kulitmu dan mulai menggelitiknya, dinaungi biru cerahnya langit disapu helaian awan putih tipis. Welcome to Pantai Lombang..


Sambutan pemandangan alam yang masih sangat alami dan tampak jelas belum tersentuh banyak tangan jahil manusia yang tak mensyukuri alam. Semua masih bisa tertangkap apa adanya di sana, ujung Sumenep, Madura. Keunikan tumbuhnya vegetasi cemara udang di tepian pantai dan bukan pohon kelapa seperti pantai pada umumnya menjadikan pasir pantai masih terhampar luas bahkan sangat luas di sana. Angin laut yang bisa menerbangkan sedikit demi sedikit butiran halus pasir tertahan dan teruraikan oleh pasukan cemara udang.

Indah, bebas, seakan lupa waktu dan beban hidup ketika menikmati pantai yang serasa milik sendiri itu. Bagiku, gunung memberikan rasa damai sementara pantai memberikan kebebasan. Saat itu, kebebasan itulah yang ingin kucurahkan sekaligus kudapatkan kembali. Maka Lombang (baca: Lombéng / Lombhéng) yang sudah lama kuincar akhirnya berhasil kudatangi bersama teman-temanku. Tercurahlah semua ekspresi kebebasan dari skripsi itu.

Demi mencapainya, dibutuhkan sekitar 4 jam dengan pengemudi yang handal, sabar, terbiasa mengemudi jalur antar kota, serta kondisi kendaraan yang optimal. Selepas Jembatan Suramadu, jalur yang harus ditaklukkan cukup menantang. Permukaan jalan berombak, hanya ada satu lajur untuk masing-masing arah, dan pengendara motor yang bisa tiba-tiba muncul dari perkampungan sekitar. Bukit kapur, bebatuan, tanah merah, pohon siwalan, pantai, nisan di pemakaman kecil, bata putih, puluhan warga berjejalan dalam satu bak pick up, bergantian muncul mewarnai perjalanan di Pulau Garam. Sesampai di Sumenep, perhatikan setiap petunjuk arah berwarna hijau itu. ‘Pantai Wisata Lombang’ begitulah yang tertera. Jalan menuju kawasan pantai juga tetap jalan kecil sehingga kewaspadaan tetap diperlukan.

Wisata alam ini berpotensi untuk digarap lebih baik dan lebih serius lagi. Kompleks memang, karena melibatkan banyak hal berkaitan. Bila turis melihat sarana prasarana di Lombang baik adanya pasti dengan sendirinya 4 jam perjalanan pun rela ditempuh. Sementara bila banyak turis yang datang, pendapatan pengelola bertambah, maka kondisi jalan bisa diperbaiki dan dengan sendirinya menarik pihak lain untuk membangun fasilitas. Namun, tetap saja semua membutuhkan kedewasaan dan dukungan warga lokal untuk membuka diri terhadap hal baik untuk kemajuan bersama.

Rugi rasanya bila pantai yang begitu indah hanya disimpan sendiri. Bukankah seharusnya cara manusia bersyukur adalah memanfaatkannya dengan benar dan melestarikannya? Lagipula saatnya tunjukkan pada dunia pantai-pantai Indonesia yang eksotis. Agar jangan hanya menyalahkan pihak luar ketika satu per satu bagian kekayaan negera kepulauan ini diakui mereka, tetapi justru kitalah yang harus mengakuinya terlebih dulu.

Saranku, datanglah beramai-ramai karena pantai ini begitu sepi. Bukan hanya demi kenyamanan dan keamanan, pantai ini masih sangat sederhana tanpa ada persewaan alat snorkeling atau lebih dari itu. Bawalah penganan karena jaraknya masih sekitar 45 menit dari Kota Sumenep. Bila mempunyai teman yang menguasai dialek madura, itu akan lebih baik lagi.

Lombang, pantai yang memadukan hadiah alam, kesederhanaan, dan wujud sifat dasar masyarakat setempat..

See more photos of Lombang Beach

Jakarta – 211209 – 22:12

Previous Older Entries

www.widiantigunawan.wordpress.com