The First Job

Bukan gedung tinggi berdinding kaca tapi kantorku adalah alam bebas tanpa dinding. Bukan deru klakson dan bising kota yang membuat kepala ingin pecah tapi kudengar kicauan burung-burung. Bukan mobil beraneka ragam tapi kutemukan landak, ayam hutan, dan elang yang terbang tinggi. Bukan asap dan debu tapi kurasakan kabut dan awan yang menerpa. Bukan manusia kota yang pamer kekayaan dan haus harga diri tapi kujumpai manusia desa yang hidup apa adanya, sederhana dan saling berbagi.

Banyak juga yang menanyakan apa yang kukerjakan sekarang. Terima kasih untuk perhatian kalian kepadaku. Namun, untuk saat ini aku belum ingin berbagi banyak.

Aku ada di dua kota dalam satu minggu. Bahkan terkadang lebih banyak di pelosok sana ketimbang di kota besar ini. Tempat itu berbanding terbalik dengan apa yang dulu kubayangkan dan kuinginkan. Sebisa mungkin telah kuusahakan rencanaku itu tapi restu dari-Nya belum juga turun. Kini, ku dibawa-Nya ke sebuah desa indah di ujung gunung.

Tempat itu layaknya kahyangan. 6 jam perjalanan darat harus ditempuh dari kotaku ini. Sinyal menghilang begitu angin dan kabut datang. Aliran listrik minim. Tempat tidur seadanya. Aroma pupuk kandang terasa. Bercaping dan bersepatu boots. Hawa yang dingin mulai membuatku terbiasa. Air es dari mata air itu belum mau bersahabat denganku. Lolongan sapi dan kambing menyaingi anjing di kota. Sayuran segar dapat dipetik sendiri. Ketela menjadi salah satu makanan rutin. Mendaki bukit di ujung gunung dan sesekali merasakan awan menabrakku, membasahiku dengan titik-titik airnya.

Namun dengan berjuang sedikit lagi, aku bisa menemukan kahyangan kecil di atas sana. Dari ujung bukit tertinggi, kulihat barisan gunung berlipat di seberang sana. Awan jadi sangat dekat menaungiku berdiri. Aku bisa melihat kabut naik menyergap dari bawah sana ke ketinggian. Hamparan punggung gunung hijau tapi berduri seperti landak menjadi pemandangan lain. Pemandangan yang membuatku bersemangat untuk naik ke kahyangan kecil itu, meski lelah dan keterbatasan fasilitas terpampang jelas.

Satu hal yang paling kuinginkan adalah menyanyi sekeras-kerasnya dari ujung kahyangan kecil itu. Sambil membentangkan kedua tanganku dan membiarkan angin dingin menerpa tubuhku. Mengijinkan seluruh bagian diri mensyukuri indahnya semua itu dan menyerahkannya untuk diberkati-Nya. Tanpa ada rasa malu ditatap oleh mata mereka yang mencari nafkah di antara liukan tanaman. Dapatkah kau bayangkan itu? Aku bisa!

Apakah ini yang aku cari? Aku pun belum ingin menjawab banyak. Kuperlu waktu lebih lama tuk temukan jawabnya. Setidaknya ini mendekati mimpiku sejak kecil. Selain itu, di sini kumelatih diri tuk berpikir positif dan belajar ilmu-ilmu yang tak kuperoleh di universitas. Ilmu tentang kehidupan dan menghadapi manusia yang sesungguhnya. Belum pernah terbayang seperti inilah yang akan kukerjakan sekarang tapi aku menikmatinya. Tak tahu seperti apa nantinya, tapi aku tahu ini adalah sesuatu!

Tak perlu risau mencemaskan keadaanku. Tak perlu membandingkannya dengan milikmu atau yang lain. Jalanku bukan jalanmu. Dan di jalan apapun yang kuharus lalui, akan selalu ada 2 pilihan di sana, positive or negative. I chose to walk on this road by being, seeing, and thinking positively. God said, this is not easy and it terrifies me but it always good. By the time, with this faith, never give up hope, His love will find the way..

My "Kahyangan"

God cares about the desires of my heart. He cares about the tiniest details of my life. God is leading me step by step to the good things He has in store for me..

PS: Wanna know my office? Check out on my FB – Green! photo album.

BeBe | 210710 | 12:27AM

Aku Hanya Tamu

Green Journal

Adat istiadat melekat dan menjadi identitas sebuah daerah, bukan hanya bagi daerah itu sendiri tapi menjadi identitas manusia yang hidup menyatu dengannya.

Kuakui kali ini keberadaanku justru lebih banyak dihabiskan sebagai “Miss BeBe” untuk keempat keponakanku. Mengantar mereka bermain di Pantai Prigi kemudian mengajak mereka melihat alam pegunungan Desa Geger keesokan harinya. Keempat anak Taman Kanak-kanak itu terkesima oleh ayam, kambing, sapi perah yang mereka temukan di sini. Topi caping , boots, dan rumput teki menjadi layaknya mainan baru. Area lahan kapri menjadi halaman baru untuk berlarian naik turun relief bumi dengan tongkat batang pohon.

Tak ubahnya mereka, anak-anak kota yang baru melihat alam pedesaan; aku pun gadis kota yang baru melihat alam pedesaan ini dengan nalarku.

Setiap tempat pasti memiliki adat istiadat, nilai yang dianut, gaya hidup, dan kebiasaan yang mempengaruhi pola pikir dan tindakan setiap manusia yang tinggal di sana. Mereka menyatu seiring dengan bertambahnya udara setempat yang dihirup dan dihembuskan. Semua mengakar, mengokoh, dan bertumbuh menjadi budaya.

Aku, mewakili keberadaan Green di desa kecil di ujung Gunung Wilis ini, jujur mengakui bahwa aku hanyalah tamu bagi desa ini, tak lebih! Maka tamu, ingatlah, budaya di sana sudah ada sebelum kau datang perlahan seolah menjadi bagian tempat itu. Kompensasinya adalah, tamu tak berhak mengubah apapun yang sudah ada dan mengakar.

Aku mengamati gesekan pekerja dari antar daerah yang mulai muncul. Ada beberapa kalimat dari pekerja yang bukan asli desa sini yang menyuratkan ketidakpuasan. Mereka lihat realita di lahan, cukup banyak pekerja yang tiba-tiba tidak masuk kerja untuk waktu yang cukup lama tanpa melapor. Sebagai manusia yang merasa diri lebih maju dengan sistem yang lebih modern, hal itu dinilai tidak tepat sehingga patut dilaporkan. Aku berusaha positive di tengah negativity. Mereka berlaku begitu untuk suasana yang lebih adil untuk semua dan bisa tugas tidak terbengkalai.

Lagi-lagi aku belajar dari ayahku. Ia menganalisa dari banyak hal, terutama kelokalan setempat. Bulan-bulan ini dianggap sebagai bulan baik sehingga banyak yang menyelenggarakan pesta perkawinan. Di desa, persiapan dilakukan bukan dengan membayar EO, tapi gotong royong dengan bantuan tetangga. Persiapan itu bisa sampai satu minggu meski hanya untuk membuat jajanan. Cukup tak umum tapi apakah itu salah? Mungkin itu bisa mengganggu tapi itu budaya di sana.

Tamu tak berhak mengubahnya tapi kami harus bisa mencari jalan untuk tidak merubah budaya setempat. Secara mata modern, hal seperti itu tidak masuk akal. Membuat jajanan sampai satu minggu. Padahal bekerja di lahan hanya setengah hari. Namun, bukan semata memarahi mereka karena itu. Bukan mau mereka tapi begitulah kebiasaan setempat.

Ada baiknya memang tak perlu seperti itu, tapi untuk menyadarkan mereka perlu pendekatan perlahan bukan dengan cara frontal. Cara kerja pun bisa disesuaikan untuk meminimalkan dampak budaya setempat yang seperti itu. Ataupun seiring waktu kami pasti akan menemukan budaya mereka yang lain. Ya, aku belajar! Siapa aku? Tamu yang tak boleh berlaku selayaknya penguasa hanya karena mengupahi kerja mereka. Tamu yang sedang belajar bahwa budaya sudah ada sebelum aku datang ke sana. Maka, jadilah tamu yang berbudaya!

By eliminating negatives, you’re letting the positives come through..

Geger, 080710

Negativity VS Positivity

Green Journal

Ini kali keduaku menginap di area lahan.

Bukan untuk dua malam tetapi hanya semalam. Barang yang dibawa sungguh amat banyak, bagian belakang KIA Sportage itu penuh sampai ke atapnya, di bagian kaki kursi penumpang depan dan tengah pun penuh. Tak apa, setidaknya tidak ada aroma bensin memenuhi mobil 😉

Terlalu lama menghabiskan waktu di Kediri membuat kami menanjak gunung di dalam gelap. Satu hal yang cukup menegangkan bukan hanya buat ayah yang menyetir tapi kami bertiga pun terduduk tegak. Semakin tinggi dataran semakin pekat kabut yang menghadang laju mobil. Jarak pandang tak sampai 10 meter di jalan yang cukup kecil menuju puncak Gunung Wilis, dengan penerangan lampu mobil saja. Itu kali pertama kami berkendara di dalam kabut yang terlalu pekat di malam hari. Semak-semak di tepi jalan menjadi patokan, hanya itu yang terlihat.

Akhirnya aku mendapat jatah sepatu boots sendiri untuk dipakai ke lahan keesokan paginya. Boots yang sama seperti yang dipakai oleh para pekerja.

Begitu terjaga, aku segera bersiap keluar kamar karena siang hari sudah harus kembali ke Surabaya. Para pekerja sudah berangkat naik ke lahan. Kabut masih tebal tapi tak separah semalam. Bulan Juli segera tiba dan suhu sedikit lebih dingin dibanding minggu lalu.

Lahan yang dibuka jauh lebih luas lagi minggu ini. Keren sekali! Punggung gunung yang dulu tak terawat dan diabaikan kini berubah menjadi trap demi trap terasering bertunas kapri. Karena relief yang cukup sadis, deretan tunas hijau tampak meliuk mengikuti kontur alam. Di area lahan yang lebih awal dibuka dan ditanami tampak jaring dan bambu sudah berjajar. Tunas kapri yang berusia 3-4 minggu itu sudah mulai menjalari bagian bawah jaring.

Kabut yang lebih tebal daripada di areal kamp memberikan kesan berbeda. Tak bisa melihat secara keseluruhan lahan yang telah digarap. Ayah pun mengajak untuk mendaki ke puncak punggung tertinggi melewati deretan tunas kapri. Pakai boots sangat menyenangkan! Karena aku tak perlu berpikir kemana mau menapakkan kakiku. Aku tak lagi takut dengan tanah becek sisa hujan semalam. Bahkan masih sempat memetik tunas asparagus dan baby corn di lahan sekitar milik pak kades hehehe..

Aku berjalan sambil berdoa in the name of Jesus! Gesekan antar para pekerja mulai muncul. Mungkin benar that’s too much negativity in this world, karena mereka yang tinggal di ujung gunung yang jauh dari kota itupun saling mencurigai warga dari desa yang berbeda. Ditambah tak ada komunikasi yang baik semua mulai merunyam. Di lain sisi, perlahan karakter pekerja mulai terlihat aslinya, mana yang positif dan mana yang negatif. Kabut sepekat apapun di ujung gunung itu, tak kan bisa menutupi keaslian seorang manusia.

Ayah yang sudah mengendusnya segera memanggil key person dari setiap pihak dan meluruskan semuanya di tengah dengar pendapat itu. Tampaknya komunikasi internal harus dibangun meski dengan metode kelokalan. But I observed and learned a point from that and also have a question bout that. How to let the positivity rise up among them instead of letting the negativity filled them up?


Sby | 290610 | 1:21AM

www.widiantigunawan.wordpress.com