September Rollercoaster

Mungkin tak bisa terpahami betapa penasarannya aku akan September. Bulan yang sering kali memberi kejutan tak terduga. Aku suka kejutan tapi bila boleh memilih, ijinkanlah itu bukan kejutan yang tak menyenangkan.

Ada tawa keceriaan karena mendapat ucapan selamat dan doa. Penuh dengan instropeksi dan evaluasi tahun yang berlalu. Melihat visi dan mengandaikan langkah di tahun yang akan kulalui. Namun, pernah ada pula perpisahan mengejutkan di sana.

Sebenarnya setiap bulan adalah baik. Setiap hari pun begitu. Demikian pula dengan setiap detik yang aku punya. Semuanya baik adanya, setidaknya pada akhirnya.

Misteri kehidupan yang membuatnya bagai bianglala, yang bisa naik ke atas melihat indahnya dunia, lalu ada masanya untuk turun dan yang bisa kulihat hanya kerumunan manusia yang menyesakkan.

Atau seperti mengendarai rollercoaster, aku duduk tertahan oleh sabuk pengaman. Tanpa kutahu kelokan, hentakan, dan semua sudut curam yang akan dilalui. Aku hanya bisa memilih: membuka mata dan merekam semua keasyikan tersebut atau menutup mata dan menangis ketakutan. Aku pun bisa berteriak: memilih meneriakkan ketakutan yang tertahan atau meneriakkan keseruan yang tak tertahankan.

Keduanya objek yang selalu bisa ditemukan di taman hiburan. Bianglala yang besar dan tampak simetris ketika dipotret. Rollercoaster yang tinggi besar tampak rumit dengan lintasan yang meliuk-liuk dan mengeluarkan teriakan-teriakan pengunjung yang memainkannya.

Pada kenyataannya, aku selalu menantang diri mencoba berbagai rollercoaster di berbagai taman hiburan yang aku pernah datangi. Outdoor dan indoor, duduk dan gaya terbang layaknya Superman, di pantai dan di gunung, kemarau dan musim dingin. Namun tak demikian dengan bianglala, karena aku tak begitu menyukai permainan satu itu. Entah mengapa, mungkin aku memang bukan pengunjung untuk bianglala.

Baiklah, bila begitu seharusnya maka aku putuskan aku sedang berada di antrian rollercoaster bernama September, dan bukan bianglala September.

Ketakutan akan kelokan, perut yang terkocok, melihat dunia terbolak balik, mendengar jeritan ketakutan pengunjung lain, ketidakyakinan akan kekuatan pengaman, lalu bagaimana dengan perawatan setiap rel dan bautnya? Well, itu adalah bagian yang membuat mengendarai roller oaster jadi sangat seru dan lebih mengasyikkan. Bagaimana menyelam di antara puluhan alasan yang menakutiku dan tetap bisa rasakan keceriaan pada akhirnya setelah semua itu berakhir.

Toh perancang rollercoaster itu pasti sudah menghitung semuanya dengan baik. Tak mungkin diciptakan untuk membunuh mereka yang mengendarainya. Menakutkan tapi disiapkan pula alat pengaman agar mendarat dengan selamat. Begitu pula Penciptaku dan Pencipta semua hari, semua bulan dalam hidupku, termasuk September.

I am riding a rollercoaster named September, all I know is just: God had made it safe for me to ride..


Krwc – 310811 – 3:40PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

www.widiantigunawan.wordpress.com
%d bloggers like this: