Taiwan Trip 2: Single Traveler Attitude

Perjalanan ini kulalui seorang diri, tanpa keluargaku seperti biasanya. Seru dan menegangkan. Aku harus waspada dan memastikan semuanya sendiri. Termasuk waktu boarding, membawa 4 jenis mata uang berbeda, perlengkapan dan senjata perang. Namun, yang lebih menantang adalah menikmati kesendirian.

Aku meyakini setiap manusia bisa menguasai, mengendalikan, dan mengontrol emosi atau mood nya sendiri. Bukan yang sebaliknya. Aku berkata pada diriku, selama 14 hari ke depan, tidak boleh ada bete atau bad feeling. Just be thankful and stay positive no matter what the circumstance will look like.

Tak ada rencana spesifik yang kubuat untuk trip ini. Tak ada plan detail seperti yang kulakukan biasanya. No list of things to do or see. Let God makes it for me. I give my creative God full permission to be my tour leader. I expect the unexpected. Hanya penasaran apa yang ingin Ia tunjukkan atau ajarkan kepadaku. I feel it’s God who wants to show and tell me something. This trip will lead me to somewhere.

Surabaya ke Kuala Lumpur hanya sekitar 2 jam perjalanan. Kursi di samping di deret F kosong jadi aku pindah ke dekat jendela. Sisi jendela adalah tempat favoritku di pesawat. Grateful for that ‘common grace’ karena saat check in aku berharap dapat sisi jendela tetapi tidak. Lalu, 3 penumpang di deret belakang tepat, make loud noise during the trip. Aku bersyukur, orang tuaku mengajarkan sikap yang baik di tempat umum. Di deret seberang, anak kecil menangis tanpa lelah, meraung-raung tanpa ada niat orang tuanya untuk menghentikan tangisannya sejak terbang hingga mendarat. Aku bersyukur untuk iPod. Kemudian I made a wish, semoga Tuhan beriku anak kelak yang naturally born menyukai traveling dan bisa menikmatinya, sama seperti ibunya.

Kuala Lumpur ke Taipei, akhirnya aku mencoba Air Asia X. Lagi-lagi tidak mendapat sisi jendela tapi tak apa mungkin saatku mencoba menyukai sisi jalan. Tiba-tiba setelah duduk, dua orang nenek di samping menawarkan bertukar tempat duduk. Haha.. Thanks God! Tak lama, nenek asal Malaysia ini mengeluarkan senjatanya semacam minyak gosok dengan aroma menyengat. Stay grateful, Bei. Aku jadi teringat nenekku yang telah meninggal. Mungkin ketika ia masih sekuat nenek ini dan bepergian ke luar negeri, ya ini yang ia lakukan. Yang aku ingat saat pulang, ia bawa oleh-oleh jelly banyak sekali. Saat itu yupi belum ada di Indonesia sepertinya.

Well, this is just the beginning but God had given me surprises. Excited about what will happen next. And yes, we can control our emotions and attitude. Don’t let your attitude ruins your day and your trip. Moreover if you do it alone like me, as a single traveler.

If life is a choice then you can always choose. – me

Air Asia X, in the sky between Kuala Lumpur and Taipei, 19:32, 240513, Bei

Advertisements

Taiwan Trip 1: Dream Comes True

Aku sedang berada di perjalanan dari Kuala Lumpur, Malaysia menuju ke Taipei di Taiwan. Aku sedang menghidupi mimpiku. Bukan mimpi besar tapi tetap saja mimpi itu jadi kenyataan.

Sekitar dua tahun lalu, aku yang berstatus single beberapa tahun mulai terganggu dengan pertanyaan orang-orang yang sangat perhatian padaku, tentang status single ini. Perlahan mulai merasuk ke pikiranku yang awalnya aman dan menikmati waktu ini. Pertanyaan mulai kutanyakan pada Tuhan. Melihat teman di sekeliling bukan hanya sudah berpacar tapi menikah. Kapan saatku tiba?

Aku kemudian menyadari, semua pertanyaan itu hanya Tuhan yang bisa menjawabnya. Siapa dia? Di mana? Kapan? Dan seterusnya. Hanya Tuhan yang bisa menjawab 5W1H sekaligus menuliskan cerita cinta itu. Bagianku adalah percaya saja dan menjalani serta menikmati setiap musim yang Tuhan izinkan aku alami saat ini. Because there’s season for everything.

Kemudian aku berpikir, selagi aku belum ditemukan oleh pasanganku, apa saja yang ingin dan bisa kulakukan selagi berstatus single? Selagi belum ada komitmen dan beban tanggung jawab. Apa yang bisa kulakukan di musim ini? Hal yang hanya bisa dilakukan di musim ini?

Aku pun membuat daftar. Aku sangat suka traveling. Jadi aku berujar pada Tuhan: 1. Aku ingin pergi backpack ke luar negeri hanya berdua dengan adikku. 2. Lalu aku ingin pergi ke Taiwan mengunjungi teman baik yang memiliki kelokan hidup sangat mirip denganku, habiskan waktu di sana selagi kami berdua masih single. 3. Be in a better shape body through work out. 4. Find a settle job. 5. Preparing myself to be a good godly woman for my future godly man. 6. Sekolah di luar negeri.

Nomor 1 sudah terwujud di 2012, aku pergi ke Penang hanya berdua dengan Cing, dengan ransel, city map and free map, and camera, kami habiskan 5 hari 4 malam. Nomor 3 sedang kujalani dengan fitness di sebuah gym sejak awal Februari lalu. Nomor 4 Mungkin BYZ adalah jawabnya, entah tapi aku memaksimalkan diri dengan membuka lapangan pekerjaan baru melalui bisnis kecil ini. Nomor 5, I’m still on the way, God is keep teach and train me a lot these past two years. Nomor 2, this is it!

Satu per satu Tuhan jawab. Jadi daripada meratapi nasib karena kesendirian ini, aku memilih untuk live life to the fullest. Karena waktu tak pernah bisa mundur, hanya berjalan maju. Aku tak khawatir akan status ini, bukan juga berarti aku bangga karenanya. Aku hanya tak mau membandingkan musim yang satu dengan musim lainnya. Tak mau membandingkan hidupku dengan hidup orang lain. Aku ingin menikmati dan tak ingin ada penyesalan.

Toh aku percaya, waktuku akan tiba karena lagi-lagi waktu berjalan maju. Satu hari berlalu berarti menambah panjang durasi status single ku, tapi hey di sisi lain satu hari berlalu berarti satu hari lebih dekat dengannya. Terlebih lagi melihat satu per satu wishes ini terpenuhi, hmm.. God is writing my love story even before I realized it, I guess. We’ll see.

Every season has its signs when it’s going to change..

In the sky between Kuala Lumpur and Taipei, Air Asia X D7 376,17:59, 240513, Bei

www.widiantigunawan.wordpress.com