Aku Hanya Tamu

Green Journal

Adat istiadat melekat dan menjadi identitas sebuah daerah, bukan hanya bagi daerah itu sendiri tapi menjadi identitas manusia yang hidup menyatu dengannya.

Kuakui kali ini keberadaanku justru lebih banyak dihabiskan sebagai “Miss BeBe” untuk keempat keponakanku. Mengantar mereka bermain di Pantai Prigi kemudian mengajak mereka melihat alam pegunungan Desa Geger keesokan harinya. Keempat anak Taman Kanak-kanak itu terkesima oleh ayam, kambing, sapi perah yang mereka temukan di sini. Topi caping , boots, dan rumput teki menjadi layaknya mainan baru. Area lahan kapri menjadi halaman baru untuk berlarian naik turun relief bumi dengan tongkat batang pohon.

Tak ubahnya mereka, anak-anak kota yang baru melihat alam pedesaan; aku pun gadis kota yang baru melihat alam pedesaan ini dengan nalarku.

Setiap tempat pasti memiliki adat istiadat, nilai yang dianut, gaya hidup, dan kebiasaan yang mempengaruhi pola pikir dan tindakan setiap manusia yang tinggal di sana. Mereka menyatu seiring dengan bertambahnya udara setempat yang dihirup dan dihembuskan. Semua mengakar, mengokoh, dan bertumbuh menjadi budaya.

Aku, mewakili keberadaan Green di desa kecil di ujung Gunung Wilis ini, jujur mengakui bahwa aku hanyalah tamu bagi desa ini, tak lebih! Maka tamu, ingatlah, budaya di sana sudah ada sebelum kau datang perlahan seolah menjadi bagian tempat itu. Kompensasinya adalah, tamu tak berhak mengubah apapun yang sudah ada dan mengakar.

Aku mengamati gesekan pekerja dari antar daerah yang mulai muncul. Ada beberapa kalimat dari pekerja yang bukan asli desa sini yang menyuratkan ketidakpuasan. Mereka lihat realita di lahan, cukup banyak pekerja yang tiba-tiba tidak masuk kerja untuk waktu yang cukup lama tanpa melapor. Sebagai manusia yang merasa diri lebih maju dengan sistem yang lebih modern, hal itu dinilai tidak tepat sehingga patut dilaporkan. Aku berusaha positive di tengah negativity. Mereka berlaku begitu untuk suasana yang lebih adil untuk semua dan bisa tugas tidak terbengkalai.

Lagi-lagi aku belajar dari ayahku. Ia menganalisa dari banyak hal, terutama kelokalan setempat. Bulan-bulan ini dianggap sebagai bulan baik sehingga banyak yang menyelenggarakan pesta perkawinan. Di desa, persiapan dilakukan bukan dengan membayar EO, tapi gotong royong dengan bantuan tetangga. Persiapan itu bisa sampai satu minggu meski hanya untuk membuat jajanan. Cukup tak umum tapi apakah itu salah? Mungkin itu bisa mengganggu tapi itu budaya di sana.

Tamu tak berhak mengubahnya tapi kami harus bisa mencari jalan untuk tidak merubah budaya setempat. Secara mata modern, hal seperti itu tidak masuk akal. Membuat jajanan sampai satu minggu. Padahal bekerja di lahan hanya setengah hari. Namun, bukan semata memarahi mereka karena itu. Bukan mau mereka tapi begitulah kebiasaan setempat.

Ada baiknya memang tak perlu seperti itu, tapi untuk menyadarkan mereka perlu pendekatan perlahan bukan dengan cara frontal. Cara kerja pun bisa disesuaikan untuk meminimalkan dampak budaya setempat yang seperti itu. Ataupun seiring waktu kami pasti akan menemukan budaya mereka yang lain. Ya, aku belajar! Siapa aku? Tamu yang tak boleh berlaku selayaknya penguasa hanya karena mengupahi kerja mereka. Tamu yang sedang belajar bahwa budaya sudah ada sebelum aku datang ke sana. Maka, jadilah tamu yang berbudaya!

By eliminating negatives, you’re letting the positives come through..

Geger, 080710

2 Comments (+add yours?)

  1. Ennie Kristia
    Jul 15, 2010 @ 12:09:00

    Penduduk desa sarat dgn nilai2 gotong royong dan bertele2.Yah sisi positip yang sudah sangat langka ditemukan di kota. Mungkin bertele2nya harus dirubah ya demi efiensi waktu dijaman yg udah ngenet ini…ha ha tp buat mrk bukan bertele2 tapi kebersamaan berbagi rasa suka dan duka/team work perhelatan. Betul Be ada hal2 dan harus ada orang2 yg mau mengubah hal2 yg tidak perlu lagi dijaman modern ini. Tapi sifat gotong royong barangkali kita yg dikota perlu belajar dari mrk yg didesa, take n give…he he…hanya saja caranya disesuaikan dinamika kota.

    Reply

  2. Ennie Kristia
    Jul 15, 2010 @ 11:55:16

    Tulisan /foto & hasil kerja yg bgs ya.Congrat n GBU. Iya Be menyelami penduduk desa gampang2 sulit kecuali mau menyatu dgn mrk terlebih dulu dan mengubah mind set mrk pelan2. Sebenarnya Sifat nature mrk polos & seringkali dimanfaatkan org2 kota dan itulah yg kadang membuat trauma mrk & akhirnya tercipta makin kuat negatif thingking nya. Seperti terjadi di kediri akhir2 ini petani cengkeh yg lahannya tertipu,di Bali lahan petani tua diembat tanpa ganti rugi berarti pdhal jadi lap golf yg punya nilai jual tinggi.Mrk kehilangan mata pencarian sekaligus mrs tertipu dan hanya bisa meratap tanpa ada yg sudi membela. Ada aja celah yg menyudutkan kasus mrk.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

www.widiantigunawan.wordpress.com
%d bloggers like this: