Negativity VS Positivity

Green Journal

Ini kali keduaku menginap di area lahan.

Bukan untuk dua malam tetapi hanya semalam. Barang yang dibawa sungguh amat banyak, bagian belakang KIA Sportage itu penuh sampai ke atapnya, di bagian kaki kursi penumpang depan dan tengah pun penuh. Tak apa, setidaknya tidak ada aroma bensin memenuhi mobil😉

Terlalu lama menghabiskan waktu di Kediri membuat kami menanjak gunung di dalam gelap. Satu hal yang cukup menegangkan bukan hanya buat ayah yang menyetir tapi kami bertiga pun terduduk tegak. Semakin tinggi dataran semakin pekat kabut yang menghadang laju mobil. Jarak pandang tak sampai 10 meter di jalan yang cukup kecil menuju puncak Gunung Wilis, dengan penerangan lampu mobil saja. Itu kali pertama kami berkendara di dalam kabut yang terlalu pekat di malam hari. Semak-semak di tepi jalan menjadi patokan, hanya itu yang terlihat.

Akhirnya aku mendapat jatah sepatu boots sendiri untuk dipakai ke lahan keesokan paginya. Boots yang sama seperti yang dipakai oleh para pekerja.

Begitu terjaga, aku segera bersiap keluar kamar karena siang hari sudah harus kembali ke Surabaya. Para pekerja sudah berangkat naik ke lahan. Kabut masih tebal tapi tak separah semalam. Bulan Juli segera tiba dan suhu sedikit lebih dingin dibanding minggu lalu.

Lahan yang dibuka jauh lebih luas lagi minggu ini. Keren sekali! Punggung gunung yang dulu tak terawat dan diabaikan kini berubah menjadi trap demi trap terasering bertunas kapri. Karena relief yang cukup sadis, deretan tunas hijau tampak meliuk mengikuti kontur alam. Di area lahan yang lebih awal dibuka dan ditanami tampak jaring dan bambu sudah berjajar. Tunas kapri yang berusia 3-4 minggu itu sudah mulai menjalari bagian bawah jaring.

Kabut yang lebih tebal daripada di areal kamp memberikan kesan berbeda. Tak bisa melihat secara keseluruhan lahan yang telah digarap. Ayah pun mengajak untuk mendaki ke puncak punggung tertinggi melewati deretan tunas kapri. Pakai boots sangat menyenangkan! Karena aku tak perlu berpikir kemana mau menapakkan kakiku. Aku tak lagi takut dengan tanah becek sisa hujan semalam. Bahkan masih sempat memetik tunas asparagus dan baby corn di lahan sekitar milik pak kades hehehe..

Aku berjalan sambil berdoa in the name of Jesus! Gesekan antar para pekerja mulai muncul. Mungkin benar that’s too much negativity in this world, karena mereka yang tinggal di ujung gunung yang jauh dari kota itupun saling mencurigai warga dari desa yang berbeda. Ditambah tak ada komunikasi yang baik semua mulai merunyam. Di lain sisi, perlahan karakter pekerja mulai terlihat aslinya, mana yang positif dan mana yang negatif. Kabut sepekat apapun di ujung gunung itu, tak kan bisa menutupi keaslian seorang manusia.

Ayah yang sudah mengendusnya segera memanggil key person dari setiap pihak dan meluruskan semuanya di tengah dengar pendapat itu. Tampaknya komunikasi internal harus dibangun meski dengan metode kelokalan. But I observed and learned a point from that and also have a question bout that. How to let the positivity rise up among them instead of letting the negativity filled them up?


Sby | 290610 | 1:21AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

www.widiantigunawan.wordpress.com
%d bloggers like this: