Kembali Kemari (3)

Minggu yang berat baru saja kulalui. Bagaimana bisa ringan jika dipenuhi perdebatan denganNya? Namun indah saat akhirnya aku mengaku kalah dan membiarkanNya menang dalam perdebatan ini. Beberapa malam air mata mengalir deras tak terkendali. Ketika keinginanku, hal yang kukira mimpiku, dan perasaanku kusadari tak sejalan dengan rencanaNya.

Aku seperti kehilangan pijakan. Melayang tak menyentuh bumi. Tak tahu apa yang sebenarnya kuinginkan. Aku kalah dengan bocah yang merajuk pada ibunya meminta permen rasa strawberry. Aku tak bisa berpikir sesederhana bocah itu. Jangankan rasa strawberry, aku bahkan tak tahu apa yang kumau? Pundakku terbebani dengan kuatir akan segala hal yang sempat mengetuk kepalaku.

Memang, aku sulit mendengar suara hatiku sendiri karena ada banyak suara lain di sekitarku. Berbisik sahut menyahut pada daun telingaku. Membuatku sulit mengambil keputusan. Tapi justru karena ku masih bisa mendengar, aku harus mendengarnya. Justru karena masih ada suara yang berbisik, aku harus harus menghargainya. Aku memang tak sama. Aku memang diijinkan bukan hanya tuk dengar suara hatiku saja. Inilah aku.

Selama ini dalam setiap nafasku, aku selalu bertanya, ke mana Ia mau membawaku pergi? Setelah beberapa bulan sulit bernafas layaknya tak cukup oksigen kuhirup, jawaban itu diberikan, tapi nyatanya bukan “kembali kemari” seperti yang kubayangkan dan kurencanakan. Pada akhirnya aku baru menyadari, Ia sudah mengincarku, dan diriku tak kuasa menolak panggilanNya.

Pengalaman supranatural yang mungkin tak bisa dipahami oleh mereka yang tak mengenal Bapaku. Ada saat di mana aku harus mengorbankan kepentinganku demi kepentingan lain yang jauh lebih besar. Bagai roti dalam perjamuan yang dipecah-pecahkan untuk menjadi berkat dan dibagikan kepada banyak orang. Bukan tak percaya pada rencana Bapaku. Akan tetapi aku memerlukan kerelaan dan kerendahan hati tuk membiarkanNya memecah-mecahkan aku. Dipecahkan seperti ini itu sakit, kau tahu?!

Aku tak jadi “kembali kemari” tetapi justru ke tempat lain yang lebih jauh dari keramaian, setidaknya untuk saat-saat ini. Ia menagih janji yang pernah terucap setahun lalu. Janji untuk membantu mewujudkan mimpi bapaku. Saat itu aku tak tahu bagaimana caranya tapi sekarang ia menantangku membuktikan dengan tindakan nyata. Mungkin kali ini Bapaku ingin membungkam mulut mereka yang selalu merendahkan bapaku.

Jika Bapa ingin membuatku besar, mengapa aku harus dipecahkan sampai hancur seperti ini? Saat oksigen itu kembali mengalir, aku menyadarinya. Justru dengan dihancurkan sehalus bubuk bukan lagi pasir, Bapa bisa membentukku jadi porselen terindah hasil rancangan tanganNya. Dan aku mau.

Mataku tak bisa melihat apa yang sebenarnya akan kulalui. Daya pun aku tak punya. Hanya mata imanku yang bisa melihat bahwa hal terbesar sudah disediakan Bapa untukku. Dibarengi dengan keberanian untuk tak memikirkan keindahan yang hanya bisa kunikmati sendiri. Tetapi merelakan diri membagi keindahan kepada lebih banyak orang. Keyakinanku berkata, keindahan itu tak akan habis untukku sendiri.

Ia bisa jadikanku Musa, yang dibiarkan hidup di kala bayi lain dibunuh. Yang diasuh oleh putri raja. Lalu dipecah-pecahkan Tuhan dengan pelariannya karena membunuh orang Mesir. Namun Tuhan juga yang memilihnya untuk memimpin Israel keluar dari perbudakan Mesir.

Ia bisa jadikanku Yunus, yang diperintahkanNya ke Niniwe. Tapi melarikan diri ke Tarsis. Sejauh apapun ia berlari, Tuhan biarkan badai dan ikan besar yang membawanya kembali. Bukan Tarsis seperti kehendaknya tetapi Niniwe sesuai kehendakNya.

Ia bisa jadikanku Abraham, yang tak juga punya keturunan sampai masa tuanya. Yang ia punya hanya iman. Kemudian Tuhan melihat imannya itu dan berikan keturunan yang jauh lebih banyak dari yang ia bisa bayangkan.

Ia bisa jadikanku Petrus, yang disuruhnya menjala ikan di siang hari. Hal yang tak masuk akal manusia. Dibiarkannya Petrus berargumen tapi pada akhirnya menurut pada yang Tuhan perintahkan. Jalanya pun robek tak sanggup mengangkut tangkapan sebanyak itu.

Kubiarkan diriku dipecahkan dengan mengingat Bapa. Saat terindah ketika aku telah bisa berkata, “I love You Lord..” di detik yang sama saat hatiku ikhlas dipecah-pecahkan olehNya. Lagipula Bapa tak berkata aku tak akan bisa “kembali kemari”. Aku yakin ini bukan akhir, ini hanya jalan yang Bapa mau aku jalani sekarang. Akhirnya apa? Aku tak tahu tapi imanku berkata, “happy ending..”. I am not a fool by answering YES to His call, because the biggest catch is waiting for my obedience out there.

God never ask you to be successful but He ask you to be faithful..

Sby 130410 – 10:12PM ©BeBe

1 Comment (+add yours?)

  1. Trackback: 2010 « Lukisan Kata Tulisan Warna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

www.widiantigunawan.wordpress.com
%d bloggers like this: