364 dari 21

Dalam hitungan jam, aku akan segera meninggalkan satu masa terindah dalam perjalanan hidupku, tahun ke-21 aku menghirup udara dan hidup di dunia ini.

Tak ingin membuang hari terakhir ini dengan sia-sia maka aku ingin melambat sejenak beberapa menit ini, tuk menoleh ke belakang dan mensyukuri semuanya. Itu tak sia-sia karena buatku bagaimana caraku bersyukur menentukan seberapa besar Tuhan akan berkarya di hari depanku. Kubuka kembali blogku, kucari tulisanku 364 hari yang lalu yang kuberi judul My 21st, senyum tersimpul di wajahku. Tak kusadari, air mata menggenang di pelupuk mataku..

5 September 2008, kulewati HUT di Jakarta tanpa keluarga dan tanpa teman terdekat. Namun, hari itu sangat unik dan tak tergantikan. 364 hari lalu kutuliskan kala itu, “Mungkin makna dari ulang tahun kali ini adalah belajar mandiri. Jauh dari orang yang kusayang bukan berarti rapuh tapi menjadi berkat buat orang lain. Tak hanya diberi tetapi memberi..”. Dan benar, semua hal itulah yang terjadi selama umurku ke-21. Kurasakan waktu berjalan lebih lambat dari seharusnya. Masa setahun serasa lebih dari setahun. Bukan seperti biasanya ketika waktu terasa cepat berjalan. Kucerna dan kusadari ternyata karena banyak sekali kejadian besar dan penting dalam hidupku yang Tuhan beri dalam satu tahun ini. Kuselalu menikmati dan menyimpan makna dari setiap kejadian yang terjadi dalam hidup karena semua tak akan bisa kuulang lagi.

Tahun ke-21ku adalah masa Tuhan menarikku kembali yang sudah terlalu jauh dariNya. Ia pulihkan dan menumbuhkanku perlahan. Mengajariku memiliki iman dan harapan. Mengajariku untuk selalu berserah ke mana Tuhan akan membawaku. Mengajariku untuk open minded dan menjadi a true worshipper. Membuatku mengerti makna dari ‘letting go’. Membuatku semakin yakin bahwa kemenangan demi kemenangan di depan sudah disediakannya buatku. Beberapa orang menyebutku lucky, tapi buatku semua keberhasilan dan keindahan ini kudapat karena aku punya Tuhan yang memberikan semuanya buat anak-anakNya yang mengandalkanNya.

Tahun ke-21ku adalah masa ‘keluar dari zona nyaman’. Hidup mandiri dan tak boleh mudah mengeluh. Mulai dari masa 6 bulan di Jakarta hidup menjelajah dan belajar menaklukkan Jakarta seorang diri. Merelakan masa kuliah akan berakhir lebih lambat dari jadwal demi masa magang 6 bulan di kerang kuning. Mengambil kolokium dan skripsi di satu semester yang sama, dengan iman kubisa selesaikan kolokium dalam satu tahap. Tuhan menjadikannya demikian dan kubisa langsung teruskan skripsi tanpa membuang waktu lebih banyak. Kembali ke Jakarta mencari data. Semuanya berjalan di dalam kurun waktu sedikit lebih panjang dari satu tahun. Magang, kolokium, dan skripsi.

Tahun ke-21ku adalah masa Tuhan mengembalikan aku ke dalam kehangatan sebuah keluarga. Kejadian demi kejadian dipakaiNya agar kami menjadi lebih dekat, berbicara heart to heart dengan papa dan mama yang selama ini tampak mustahil dilakukan. Semakin dekat dengan keluarga besar papa di Surabaya karena kuberanikan diri memulai mencoba beri kehangatan dan mereka pun merasakan hangat tetap lebih baik. Cukup sering berkunjung ke Semarang dalam tahun ini, tuk tunjukkan perhatian nyata kepada kakek dan nenek dari mama yang sedang sakit. Sebelum waktu mereka berhenti, sebisa mungkin aku berusaha pergi ke sana tuk tunjukkan sayang dan hormatku pada mereka. Tak hanya itu, aku lebih banyak berusaha memahami papa, mama, koko, dan adikku. Kuberusaha menunjukkan sayangku dengan tindakan nyata.

Tahun ke-21ku adalah masa mempersiapkan dan menata masa depan. Tak lagi jalani semuanya dengan asal have fun tetapi mulai bekerja keras. Kuputuskan jalani SYN yang memberanikanku untuk kembali berani bermimpi. Tak ada yang salah dengan mimpi karena bagiku itu sebuah visi yang akan membawaku maju dan melangkah. Mimpi itu pula yang mengawali karya Tuhan lebih luar biasa lagi di dalam hidupku nanti. Aku pun mulai melihat keinginan untuk bersekolah lagi di luar dengan beasiswa. Tahun ini satu per satu per satu petunjuk kulihat pada saat tak terduga. Tapi kusiap bila saatnya Tuhan ijinkanku untuk sekolah lagi suatu hari nanti. Aku ingin Tuhan pakaiku tuk membuat mimpi papa bisa terwujud, begitu pula dengan mimpiku.

Tahun ke-21ku tak mudah dan melelahkan untuk batinku tetapi Tuhan berikan orang-orang terbaik untuk ada di sekelilingku. Sering kali air mata ini mengalir jatuh, bukan rapuh namun lelah. Mereka membuatku kuat bertahan dan memiliki semangat untuk kembali bangkit. Sahabat-sahabat terbaikku. Kupunya banyak teman, dan beberapa teman baik yang muncul setelah diuji waktu dan tempat. Meski untuk bisa dimurnikan menjadi sahabat terbaik masih perlu banyak ujian tetapi sampai hari ini kusadari siapa saja mereka. Some people come, some people go. Ada yang baru kukenal di tahun ini, tetapi ada pula yang makin menjauh. Yang mampu bertahan dan selalu menyediakan diri ada buatku, bagiku merekalah sahabat yang amat berarti untukku..

Dalam hitungan jam tahun ke-21ku akan berlalu. Tak kan pernah bisa diputar kembali tetapi bisa kukenang nanti ketika kubaca kembali tulisan ini. Kubersyukur untuk setiap hal baik dan buruk, tawa dan air mata, keberhasilan dan yang masih tertunda, orang-orang yang datang dan pergi, keluarga dan teman. Inilah 364 hariku dari tahun ke-21ku. I love my 21st and won’t change it with anything else!

A Warrior of the Light celebrates yesterday’s victory in order to gain more strength for tomorrow’s battle..

 

Surabaya – 040909 – 3:13PM

1 Comment (+add yours?)

  1. Couz'
    Sep 04, 2009 @ 20:05:43

    couz’ likes this.. hoho..
    no any else comment.. haha..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

www.widiantigunawan.wordpress.com
%d bloggers like this: