Merangkak, Berjalan, Lari!!

Surabaya – 010609 – 9:09 PM

Setiap kali mendengar kisah seorang ayah yang seumuran ayahku meninggal, pikiran dan hatiku seolah disentil. Meski sentilan itu tak meninggalkan luka tapi tetap saja ada hentakan kecil yang sedikit memerah di kulit. Berulang kali aku tersentil, tetapi kali ini aku tak ingin hanya biarkan bekas merah itu memudar begitu saja.

Teman baik ayah sejak kuliah yang kemudian bersama menjadi dosen di Teknik Sipil, baru saja meninggal. Tipe lelaki pekerja keras, yang kurang peduli akan kondisi tubuh. Ia meninggal karena penyakit lever yang diketahui 7 tahun silam. Bukan cara meninggalnya yang menyentilku, tetapi masa depan keluarganya. Anak tertua terlahir dengan fisik kurang sempurna. Anak kedua seumuranku dan masih berkuliah. Istrinya tak bekerja.

Kondisi itu selalu mengajakku berkaca akan kondisi keluargaku di cermin kehidupan. Ibuku seorang ibu rumah tangga yang baik. Kakak laki-lakiku baru saja lulus kuliah dan sedang mulai mencari pijakan yang pas untuk bekerja. Adik perempuanku masih memakai seragam putih abu-abu. Aku, seorang mahasiswi tahun terakhir yang tak pernah punya pengalaman mencari uang sendiri. Ayah bekerja sesuai dengan bidang kuliahnya dulu, di bidang jasa pembangunan, dan tak ada satupun dari kami yang mempelajari itu. Dengan kata lain, tak ada yang bisa melanjutkan, mungkin..

Tak pernah mau dan tak akan berharap kejadian seperti itu, tetapi harus ada sesuatu yang mulai dilakukan tanpa harus menunggu hal buruk menimpa. Aku harus mulai dari sekarang, mencari tahu apa yang bisa kulakukan. Selama ini tak pernah mencari uang sendiri bukan berarti tak kompeten, tetapi keadaan nyaman cukup membuat aman. Aku wanita dan bukan anak tertua. Ditambah dengan beban beri prestasi yang baik kepada ayah ibu.

Wafatnya teman baik ayah ini memberitahuku satu hal. Saat ini ada sebuah pilihan yang telah kupilih untuk mulai kucoba jalani. Aku harus bisa tekun menjalani pilihanku agar sedikit demi sedikit tabunganku mulai terisi. Aku harus mandiri meski ayah hanya memintaku menimba ilmu dengan baik. Prestasiku akan tetap kuberikan karena itu tanggung jawabku untuk membanggakannya.

Mungkin ini bisa menjadi motivasi, aku akan selalu berusaha merangkak, berjalan, hingga berlari bila sudah saatnya. Mandiri bukan hanya dari tindakanku selama ini, tetapi juga dari segi financial. Mensyukuri kehadiran ayah ibuku sampai sekarang bukan berarti cukup sampai di titik ini. Bukan di titik sekolah dan prestasi saja. Tetapi saat inilah belum terlambat bagiku untuk berusaha mandiri sedikit demi sedikit. Aku akan berusaha tanpa harus menunggu hidup menyatakan misterinya!

Tak masalah seberapa lambat kamu berjalan, asalkan kamu tidak berhenti..

5 Comments (+add yours?)

  1. Andy
    Jul 19, 2009 @ 01:17:05

    Judul tulisan kali ini mengingatkan rencana tulisanku di blog nantinya (yang masih terus menjadi sebuah rencana karena keterbatasan waktu, huh!), yang berjudul (inginnya sih) :

    “Dulu, Sekarang, dan Kelak Nanti…”

    Berbicara tentang KEMANDIRIAN, mencoba sedikit ikut bercerita tentang keluargaku.. Aku adalah anak kedua dari 4 bersaudara, yang kebetulan.. COWOK sendiri. Ayah adalah seorang pekerja keras di bidang Konveksi-Garment, sedangkan Ibu adalah seorang Ibu rumah tangga dan pekerja juga yang sejenis dengan bidang Ayah, namun dengan nama usaha yang berbeda.

    Sejak kecil, aku dididik untuk bisa dan harus mandiri. Mulai dari tidak dibiasakan gendong2 waktu balita, makan tidak disuapi ketika TK, bebas bersepeda kemana-mana asal hati-hati serta tahu waktu ketika SD, dan lain sebagainya.

    Semakin besar, tepatnya memasuki umur kepala 2, ada perasaan menekan waktu itu (sekarang umur 22), sejumlah pertanyaan sering menyusup di tengah kesibukan kuliah, antara lain:

    *Kamu ini siapa, dan mau menjadi siapa kelak?
    *Apa rencana yang kamu punya dalam umur 20-30thn?
    *Apa pilihanmu, menikmati hidup seperti air mengalir, menikmati ‘comfort zone’ seperti teman-teman seusiamu, atau berjuang sedari awal seperti Ayah yg sudah bekerja di usia belasan tahun?
    *TK ke SD, SD ke SMP, SMP ke SMA, SMA ke Kuliah, lantas?
    *dsb.

    Dari pertanyaan2 itu, aku bertekad, selepas kuliah harus sudah jelas pekerjaanku, minimal sudah mantap jalan pekerjaan yang aku pilih – selain meneruskan usaha ayah, karena aku tidak mau menjadi anak laki-laki satu2nya, yang dikenal hanya bisa berdiri di belakang orang-tua.

    Satu hal yang aku sukai adalah sharing pengalaman dan cerita sukses dari orang-orang yang jauuh lebih tua dari aku. Maka berbicara tentang MASA DEPAN, aku coba sharing ya tentang:

    *PLANNING
    Menyadari bahwa hidup itu ada kalanya NAIK dan TURUN, dengan pasti menyadari, perencanaan SANGAT PENTING untuk dipetakan, jangka pendek dan jangka panjang. Aku menyadari sebagai laki-laki, kelak ada seorang perempuan yang bersandar di sampingku, terlepas dari apakah dia juga bisa bekerja, tanggung-jawab ini harus selalu aku camkan di hati, sebagai salah satu motivasi dalam bekerja =]

    *TARGET
    Menurutku, hidup harus punya target. Dan target ini, semakin jelas dan spesifik, akan sangat baik. jika tidak, tahu-tahu anda akan kehilangan arah di usia tertentu, dan sadar telah terlambat untuk kembali ke belakang. Karena bagaimanapun juga, WAKTU terus MENDORONG anda menuju MASA DEPAN =]

    *ACTION
    Seperti slogan salah satu merk sepatu ternama, “JUST DO IT”, atau seperti salah satu buku yang aku baca, “JUST DUIT”.. Ternyata melakukan itu tak kalah penting dari merencanakan. Kita bisa belajar banyak hal dari sebuah ACTION. Learning by doing, trial by error, pembentukan mental, kedewasaan, keberanian, sikap, dsb. Lakukan apa yang harus kamu lakukan… sekarang! =]

    *3B (Berdoa, Beramal, dan Bersyukur)
    Seberapa keras kita berusaha dan bekerja, hendaknya tidak melupakan 3 hal diatas, SANGAT PENTING!

    Kesimpulannya, sayangi WAKTU kita, menurutku, waktu akan benar-benar terasa BERJALAN ketika kita sudah MENIKAH.. saat itu, kalau kita menoleh ke belakang, WAKTU akan menatapmu dengan tajam dan terus mendorong ke depan. Jangan sampai.. ‘terdorong-dorong’ oleh waktu.

    Satu tips lagi, cobalah memetakan pekerjaan ke dua jalur:
    *BE AN ENTREPRENEUR?
    *BE A PROFESSIONAL?

    Karena menurutku ENTREPRENEUR butuh banyak action dan pengalaman, sedangkan PROFESSIONAL butuh gelar untuk menapaki jenjang karir. Perempuan jaman sekarang, juga harus bisa mandiri lo.. apalagi tuntutan mertua jaman sekarang juga agak rewel biasanya hehe.

    SUKSES ya sob! YOU CAN/MUST DO IT (something)!
    Just call me if you need something.. ^^,

    (Pendapat berdasarkan pemikiran seorang mahasiswa berusia 22 tahun, yang masih terus menimba ilmu dan pengalaman, serta tak luput dari kekurangan atas kepribadiannya, peace!)

    Reply

  2. wewewewewewewewe
    Jun 13, 2009 @ 15:41:48

    sejutah!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    Reply

  3. wewewewewewewewe
    Jun 13, 2009 @ 15:40:51

    sejuta!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    Reply

  4. Raden Mas Angki
    Jun 12, 2009 @ 19:56:39

    Tulisan kamu bener-bener buat aku naek turun. Btw aku sendiri masih merangkak. Mencoba jalan yang berbeda dari kakak-kakakku. Membuka usaha dengan harapan bisa bekerja dengan kemauan dan keinginan.

    *angkat empat jempol*

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

www.widiantigunawan.wordpress.com
%d bloggers like this: