Cinta & Persahabatan yang Teruji

Surabaya – 210509 – 8:15PM

..based on true story..

Kemarin aku menemani mama melayat ayah dari teman papa yang telah meninggal. Tak hanya melayat tapi juga mengikuti prosesi pemakaman dengan kremasi. Jujur saja, aku tak begitu menyukai berkunjung ke tempat peristirahatan terakhir karena penuh dengan atmosfer kesedihan dan dukacita di sana. Tapi kali ini, aku mau menemani mama dan aku pun bilang pada diriku sendiri, mungkin ada sesuatu yang bisa kupelajari dari sana. Dan, cukup banyak pelajaran yang kulihat dan kutemukan di sana. Kakek yang meninggal ini meninggal dengan tenang dan mudah jalannya. Aku tak tahu bagaimana harus mengatakannya. Keluarganya tak pernah mengira, karena justru sang nenek lah yang sedang sakit. Tetapi kakek ini tak menderita penyakit yang mengharuskannya dirawat di rumah sakit atau menderita karena sakit sampai akhirnya meninggal. Ia tak membutuhkan sakit terlebih dulu, untuk kemudian beranjak ke kehidupan selanjutnya. Ia tak perlu terlibat dalam sebuah kecelakaan atau dicelakai siapapun untuk mengakhiri lembar hidupnya.

1. Aku semakin percaya bahwa ‘the power of love’ itu ada. Cinta bisa tetap ada dan akan terus ada bahkan sampai maut memisahkan. Ia meninggal saat ingin menemui istrinya yang sedang dirawat di rumah sakit. Ketika ia berjalan di koridor rumah sakit menuju ke kamar tempat istrinya dirawat, jantungnya berhenti berdetak, lalu ia terjatuh. Suster rumah sakit segera membopongnya ke kamar terdekat, mencoba memacu jantungnya, tapi ia telah pergi terlebih dulu. Namun, sehari sebelumnya, ia telah menjenguk istri kesayangannya, dan kata teman papa, mereka berdua tampak tak biasa. Bahkan anak mereka pun melihat kedua orang tua mereka sangat mesra. Sang nenek, yang biasa cerewet karena ia sedang sakit, kali ini bisa membelai mesra suami yang datang membesuknya. Mereka berpegangan tangan, dan sang istri mencium suami yang sudah tua tetapi tetap sehat itu, seakan telah mengetahui bahwa hal itu tak akan bisa lagi mereka lakukan. Keluarga yang menyaksikannya pasti mendapatkan teladan luar biasa. Setelah detak jantung kakek itu berhenti, istrinya tak diberitahu, karena keluarganya tak ingin memperburuk kondisi kesehatannya. Esoknya ketika di Adi Jasa dilakukan penutupan peti, di saat yang sama di rumah sakit, terjadi kejadian mengharukan tetapi nyata. Rekan sekamar nenek itu mengatakan, nenek seperti sedang berbicara dengan seseorang, mereka berpamitan, dan nenek itu melambaikan tangan sambil berucap, “Tunggu aku ya..” Matanya melihat ke arah depan lalu ke atas sambil terus melambaikan tangan. Tanpa sempat diberitahu oleh anak-anaknya, ia telah mengetahui sang suami yang tak sakit apa-apa itu telah pergi terlebih dahulu mendahuluinya.. Aku ingin tak percaya, tapi aku justru jadi makin percaya indahnya cinta yang terjalin antara dua manusia, yang saling setia seumur hidup menjaga dan memberikan cinta seutuhnya untuk pasangannya itu, mempunyai kekuatannya sendiri. Kekuatan untuk tetap abadi dan menginspirasi semua yang mempercayainya..

2. Ketika peti jenazah serta rombongan tiba di krematorium Eka Praya, Kembang Kuning, prosesi demi prosesi dilakukan dengan tata cara Taoisme. Itulah kepercayaan kakek ini dan anak laki-laki pertamanya. Di antara sanak famili yang hadir, aku melihat ada 4 orang kakek yang usianya sepantaran. Mereka berambut putih, berkeriput, ada yang memakai baju safari, ada pula memakai hem selayaknya kakek pada umumnya. Tapi persamaan mereka, mereka sama-sama hadir untuk memberikan penghormatan terakhir bagi salah seorang sahabat mereka yang telah mendahului mereka untuk berangkat dari dunia ini. Ada seorang yang menangis dan terus menangis sampai rekannya memeluknya dan mengambilkan air minum untukknya. Ternyata ia adalah sahabat terdekat dari kakek ini, bahkan beberapa hari sebelum kakek ini meninggal, mereka sempat pergi bersama ke Trawas. Dari cerita yang kudengar, mereka berlima adalah sahabat. Di kala masa tua datang, dan tubuh tak lagi kuat bekerja layaknya di masa muda, mereka melewatkan masa tua bersama. Justru mereka jadi tetap sehat dan tegap karena bersosialisasi bersama, bepergian bersama, tak hanya menyerah pada usia dan raga yang menua. Aku tersentuh oleh indahnya persahabatan para kakek ini. Betapa indahnya persahabatan yang tetap kukuh dan ditutup oleh hal yang bernama “kematian”. Kematian itu jadi tak menyeramkan ketika ada dalam konteks ini. Kematian itu jadi sebuah pengukuhan akan indahnya arti ‘persahabatan’. Mereka melewatkan kejadian indah dalam hidup ketika muda, bepergian bersama ketika masih sehat, berbagi kisah hidup ketika tua, dan meninggalkan satu dengan yang lain ketika kematian itu tiba..

3. Jenazah kakek ini dikremasi bukan dikuburkan. Aku sendiri tak berusaha mencari tahu apakah itu memang permintaannya atau karena alasan lain. Tapi kemudian aku tergelitik, apakah perbedaan jasad dikubur dengan dikremasi? Selain prosesnya, tentu saja. Kremasi ini pun memiliki prosesinya sendiri. Setelah penghormatan terakhir, peti dipindahkan ke pembaringan dan nantinya peti akan dimasukkan ke ruang pembakaran. Setelah peti ada di pembaringan, pintu ditutup sehingga keluarga dan semua orang tak bisa melihatnya. Kemudian setelah peti masuk ke ruang pembakaran, sanak keluarga diminta bersama menekan tombol yang menyalakan tungku pembakaran. Esoknya abu akan diberikan kepada keluarga untuk dilarungkan di laut. Saat nenek dari papaku meninggal, ia pernah berpesan tak mau dikremasi, karena takut membayangkan badannya dibakar. Tapi ada pula yang memilih dibakar agar tak merepotkan keluarga yang ditinggalkan. Ketika ada pilihan antara dikremasi atau dikuburkan, bagaimana memilihnya? Terkadang mungkin bagi yang meninggal sendiri, mereka tak kan lagi merasa apapun baik menjadi abu karena kremasi atau lapuk terurai karena dikuburkan. Namun bagi keluarga yang ditinggalkanlah beban pilihan itu ada. Banyak kutemukan mereka memilih keluarga yang meninggal dikuburkan saja karena tak tega membayangkan panasnya api membakar jasad dari orang tercinta. Tak ada maksud buruk dari tulisanku tentang topik ini. Aku hanya tergelitik, bagaimana orang yang meninggal itu dapat kuat berpesan agar ia dikremasikan bukan dikuburkan? Entah, tak perlu kuketahui lebih lanjut tetapi pasti ada pergolakan batin yang cukup besar untuk memutuskan tubuh duniawi ini akan kembali menjadi debu dengan cara yang mana..

Kematian selalu meninggalkan banyak hal, mengajarkan banyak hal, dan juga menyadarkan akan banyak hal. Namun, tak selalu hanya dipenuhi dengan kesedihan yang meninggalkan sejuta kisah kenangan dan tak akan bisa berjumpa lagi. Namun, kematian pun bisa menjadi bukti kokohnya kekuatan kesetiaan dan keabadian cinta, serta mengukuhkan indahnya arti sebuah persahabatan..

Immortality, I make the journey through eternity, keep the memory of you and me inside, and we don’t say good bye..

5 Comments (+add yours?)

  1. Valen-CIA
    Nov 14, 2009 @ 22:06:08

    wah… what a really nice sharing Be!!!!!
    really touchful…
    the -until die- ‘love’ and ‘friendship’ point…

    really got ur message!!!!!
    and ur description was really really gr8888!!!!!

    nice home, btw!🙂

    Reply

  2. angki
    May 28, 2009 @ 08:00:17

    Tulisan yang bener-bener bagus, menyentuh sangat (speechless euy).

    Memang kematian ada di tangan Tuhan. Begitupun dengan kejadian mendiang bapakku. Tetangga, mamaku tidak ada yang mengira akan dipanggil sore itu juga.

    Eh aku share di Facebook-ku tulisanmu ini.

    Reply

    • BeBe Gunawan
      May 28, 2009 @ 13:21:01

      Makasih sudah memenuhi undangan mampir hehe.. nanti aku baca juga de itu link nya. Jangan bersedih, ngga da maksud ngingetin apa2 kok, hny berbagi indahnya ikatan cinta – persahabatan.. Thanx!!
      Monggo..

      Reply

  3. AnDy
    May 27, 2009 @ 00:51:23

    NICE POST!

    Kalau boleh berbagi, ada banyak sejarah dibalik proses ‘kelahiran’ dan ‘kematian’… di antara dua hal tersebut, manusia sewajarnya akan mengalami ‘tua’ dan ‘sakit’. Dan yang menarik, ada banyak misteri meliputi masing-masing hal tersebut.

    Berbicara tentang ‘kelahiran’ dan ‘kematian’, sebenarnya.. roh itu masuk atau keluar pada saat kapan ya? apakah ketika dalam bentuk janin ia sudah ada, lalu ketika nafas telah ‘putus’ itu berarti seketika itu telah pergi? Lantas bagaimana dengan mati suri? Bukankah Lazarus dibangkitkan Yesus beberapa hari setelah kematiannya?

    *INFO!
    Webster’s Unabridged Dictionary menyebutkan bahwa kata “kremasi” berasal dari bahasa Latin crematio yang berasal dari cremo yang mempunyai arti membakar, secara khusus pembakaran orang mati menurut adat istiadat bangsa-bangsa kuno.

    Sedikit berbagi, dalam tradisi cina, dipercaya roh manusia yang telah meninggal, akan tetap berada di dunia dalam waktu tertentu. Aku lupa apakah 7 hari pertama ataukah 40 hari semenjak hari kematiannya. Ada banyak-banyak sekali aturan dan hitungan yang meliputi prosesi pemakanan adat cina.

    Terlepas dari aturan-aturan itu, ada satu keyakinan dalam masyarakat tionghoa, mereka yang telah meninggal, jika ada suatu ‘masalah’ atau ‘hal yang tertinggal’ atau ‘kesalahan fatal dalam prosesi pemakanan’, ada kalanya ‘tidak sadar’ jika telah meninggal, dan ADAKALANYA kembali ke rumah! Baru setelah ‘urusan’ tadi selesai, mereka dijemput malaikat maut untuk ‘diadili’.

    Orang-orang desa jaman dulu, untuk mendapat pembuktian ini, mereka menabur bedak di lantai kamar orang yang telah meninggal. Dengan berbagai doa/ritual mungkin, besoknya akan ada jejak-jejak kaki. SERAM ya, terlepas dari apakah memang roh yang datang itu adalah orang yang benar, lebih baik jangan dilakukan!

    Membaca cerita di atas membuat aku berpikir, rasanya, cinta dan persahabatan di jaman dulu lebih ‘murni’ daripada saat ini. Kalau sekarang, banyak terkotori oleh materi mungkin, atau alasan-alasan kompleks karena perubahan gaya hidup saat ini. Percaya atau tidak, aku yakini.. iya.

    *INTERMEZO
    Video menarik tentang ETERNAL LOVE

    Kisah seorang kakek tua yang masih melakukan janjinya kepada istrinya yang telah meninggal cukup lama. Sayangnya, ini adalah cerita yang dipermak menjadi sebuah iklan, BAH! (sekali lagi, BAH!). Tapi layak ditonton! two thumps up lah..

    Back to topic. Terpikir juga, perdebatan untuk proses kremasi atau penguburan memang sering terjadi. Satu sisi, kremasi dianggap wajar karena menyangkut kepraktisan dan wasiat yang ‘telah pergi’, atau merupakan tradisi dalam suatu masyarakat tertentu, Ngaben di masyarakat Bali misalnya. Di sisi lain, kremasi dianggap mempercepat proses pembusukan jasad secara paksa, berpengaruh terhadap roh yang akan meninggalkan badan tersebut, hingga simbol kesesatan dan lain sebagainya.

    Seorang tokoh Kristen,Jusuf B.S. menegaskan hal ini dengan menyatakan bahwa kremasi adalah perkara yang jahat (Am 2:1), bentuk penghukuman Allah yang dahsyat (Yos 7:25, 1Raj 13:2) dan peniruan matinya perempuan sundal (Im 21:9). Itu katanya – kremasi = simbolik perkara yang jahat.

    Dari apa yang aku ketahui, mereka yang hendak ‘pergi’, ada yang berpesan untuk dikremasi agar tidak menjadi sebuah ‘tanggungan’ bagi keluarga yang sudah hidup, semisal merawat kuburannya, memberikan penghormatan pada hari-hari tertentu, dan lain sebagainya. Menurutku? Musyawarah keluarga dalam atau berpegang dari wasiat yang meninggal sajalah. Toh yang meninggal belum tentu terlibat perkara jahat, atau sedang dilaknat Allah, atau perempuan sundal.

    **********************************************

    Secara prinsipal, aku (AnDy) adalah orang yang sulit untuk kehilangan sesuatu yang punya kesan mendalam bagi diriku, apapun itu, baik barang, momen, pertemanan, atau yang berkaitan dengan ‘nyawa’.

    *Untuk barang misalnya, hal kecil (dibanding ‘nyawa), misalkan dompet tiba-tiba hilang, jantung ini tiba-tiba serasa makin cepat, keringat dingin mulai keluar, berbisik berkali-kali dalam hati berharap bisa menemukan barang tersebut.

    *Untuk momen/pertemanan? Lebih parah lagi.. meski aku terlahir sebagai cowok, air mata tak jarang menetes menemani sebuah kenangan. Dimulai dari nafas yang menjadi sedikit sesak, keringat dingin, sulit berbicara dengan nada tegas dan lantang, perasaan mual atau sulit menelan karena menahan tangis, dan diakhiri dengan berbisik pelan di hati, “Thx God untuk semua yang telah kita lalui bersama..”. Hal ini terjadi seperti perpisahan OSIS SMA, perpisahan dengan mantan pacar, perpisahan HIMA, dan lain sebagainya. (intermezo – dear Tansilia, menjadi satu divisi denganmu sangat berkesan, teorimu tentang “SEIMBANG” antara work & fun, mantap bu! Gelas penghargaan kita sebagai The Best Performance Department, masih ada lo bu.. LitBangStud? ngeRock abis!).

    *Untuk berkaitan dengan ‘nyawa’… selain beberapa gejala seperti sebelumnya, masih ditambah sindrom sulit tidur, hambar saat makan dan minum, hingga flashback memori masa lalu sering muncul kembali.

    IT’S ME… AnDy.
    Seorang Kolerik-Melan yang sometimes bisa bicara “take it easy bro”, atau kadang2 justru menyamar menjadi “anak dramatisir”. Apapun itu, ‘kehilangan’, bagiku adalah sesuatu yang spesial dan perlu diberi ruang khusus di dalam otak. Karena suatu hal atau mereka yang telah ‘pergi’, akan tetap hidup.. dalam kenangan di otak kita.

    Reply

    • BeBe Gunawan
      May 27, 2009 @ 08:45:25

      Thanks Ndy for sharing a lot.. Cepet diresmiin tuh blogmu, biar semua juga bisa saling sharing hehe.. Yang ngga nyangka, tyt km spt yg km bilang di akhir comment mu ya? hehehe.. penyamaran yg cukup oke kyaknya ya selama ini hahaha.. Tanz, dapet oleh2 tuh dari andy.
      btw, commentmu kali ini kuomplit bgt deh, ada videonya, ada definisi2, pernyataan dr sono sini, komplit tenan.. hehehe.. kamsya ndy!

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

www.widiantigunawan.wordpress.com
%d bloggers like this: