‘Kakek’ku Penjual Buah Keliling

Ia bisa saja tak bekerja tetapi ia memilih bekerja agar ada kesibukan yang dilakukan di hari tuanya. Tak sekedar diam di rumah dan melihat cucu-cucunya berlarian, dan membiarkan usia dan masa renta menggerogotinya. Ia memilih untuk tetap menggenjot sepeda tuanya dan membawa buah-buahan bersamanya..

Siang ini, di tengah kesibukan mengerjakan proposal kolokium, tiba-tiba kakak berteriak, “Pak Sis dateng..!”. Pak Sis, begitu keluargaku biasa memanggilnya, adalah seorang kakek yang menjual buah-buahan dengan berkeliling memakai sepedanya. Aku kaget dan sontak segera ke depan rumah dan melihatnya. Karena jujur saja aku tak menyangka ia masih hidup bahkan eksis dengan sepeda angin khasnya itu. Mungkin reaksi di benakku terdengar tak sopan tetapi sudah lama sekali aku tak melihat beliau.

Ketika aku keluar dan ikut bergabung dengan mama, kakak, serta pembantuku, aku menyapanya dengan riang. Dan Pak Sis membalas, “Walah, cucuku wes gede-gede rek saiki..” (Wah, cucu asaya sudah besar sekarang..) Yah, beliau mengganggap kakak, aku, dan adikku selayaknya cucunya. Maklum saja, karena ia telah menjajakan buah-buahan ke rumah kami ini sejak kakak masih baru lahir. Jadi terang saja ia mengetahui benar waktu demi waktu kami beranjak besar dan berusia 20-an sekarang. Guratan keriput di wajah tuanya terlihat jelas. Kulitnya hitam gelap karena terbakar terik mentari. Dengan topi yang dikenakannya, ia bercerita dan memamerkan deretan giginya yang menyisakan 4 buah gigi ketika ia tertawa.

Di jaman yang sudah semakin maju seperti sekarang ini, makin sulit ditemukan para penjual buah yang dengan mengendarai sepedanya berkeliling dan menghampiri rumah demi rumah langganannya. Ada begitu banyak hypermarket dan swalayan besar bertambah di Surabaya. Makin beragam pula jenis buah-buahan yang dijual, tak hanya buah lokal tetapi juga buah impor yang tak bisa ditumbuhkan di Indonesia. Semua makin memberikan banyak pilihan alternatif bagi konsumen. Di sisi lain, semua itu juga makin mendesak keberadaan para penjual buah seperti Pak Sis ini.

Mungkin di beberapa pemukiman masih bisa ditemukan teman-teman Pak Sis, tapi aku sangat angkat topi untuk ketekunan Pak Sis. Di usianya yang telah menginjak 71 tahun pada tahun ini, ia tetap konsisten menjual buah-buahan. “Aku ket umur 38 dodolan ngene kok Nik..” (Saya berjualan seperti ini sejak berusia 38 tahun..”. Itu jawaban yang diberikannya saat aku menanyakan kisah hidupnya. Sudah lebih dari setahun tak berjumpa dengannya tapi aku sudah mengenalnya sejak masih kecil. Biasanya ia mengijinkan kami bermain-main dengan sepeda tuanya itu.

Ia tetap kakek yang ramah, murah senyum, dan tak pernah memaksa. Kebaikan itu yang membuat keluargaku selalu membeli apapun yang sedang ia bawa di keranjang besar di boncengan sepeda anginnya itu. Hari ini ia datang membawa bentoel. Terkadang ia bergiliran membawa jeruk peras, rambutan, pepaya, melon, dan aneka buah tropis Indonesia lainnya. Satu jenis buah setiap kali datang. Buah yang dibawanya selalu memiliki kualitas bagus sehingga mengapa tak membelinya?

Pak Sis

Memang tak bisa dijagakan untuk membeli buah hanya dari dagangan Pak Sis. Sebab ayah 8 orang anak dan kakek 10 orang cucu ini datang tak menentu. Terkadang menyapa kami sebulan sekali dan tak jarang pula lebih lama dari itu. Harinya pun tak menentu dan biasanya tiba di rumahku siang hari, seperti siang ini sekitar pukul 1 siang. Karena itu pula, aku sudah lama tak bertemu dengannya karena di siang hari biasanya aku ada di kampus. Sambil meminum sirup markisa yang kami berikan, ia bercanda dan melepas lelah di depan rumah kami.

Kali ini ketika ia datang, terbersit ide untuk menulisnya di blogku. Keluargaku selalu kagum akan usahanya. Kami seringkali berkata pada beliau, “Pak Sis udah tua kok ngga di rumah saja toh?”. Bukan bermaksud menyuruhnya diam saja tetapi lalu lintas juga semakin berbahaya sekarang dengan jumlah kendaraan yang makin tak terhitung. Tapi ia selalu berprinsip, “Kalau aku nggak kerjo, malah iso pikun, stress nang omah..” (Kalau saya tidak bekerja, justru bisa pikun dan stress di rumah saja..). Aku pun percaya bukan karena tuntutan ekonomi ia melakoni semua ini, karena anak-anaknya sudah menjadi orang yang berhasil dan bisa membiayai Pak Sis. Namun, mereka pun tak kuasa menahan semangat Pak Sis untuk tetap bergerak dan melakukan sesuatu di usia senjanya.

Mungkin kegiatan seperti ini justru baik untuknya. Karena dengan terus menggenjot sepedanya, ia jadi berolahraga. Dengan berjualan keliling, ia jadi tahu perubahan dan perggerakkan kota ini, tak ketinggalan “jaman”. Dengan menemui para pelanggannya, ia jadi seakan bertemu dengan teman-temannya. Dengan berinteraksi dengan pembelinya, ia dapat berbagi cerita dan keceriaan. Dengan terus bekerja, ia jadi mensyukuri hidup dan kesehatan yang masih ia miliki sekarang. Dan dengan senyumannya, ia jadi inspirasi buat sesamanya termasuk untukku..

Terima kasih yo.. Semoga Tuhan yang bales kebaikan e. Kapan dolan nang omahku yo, takkenalno keluargaku kabeh..” (Terima kasih, semoga Tuhan membalas kebaikan kalian. Lain kali berkunjung ke rumah saya, dan saya kenalkan dengan keluarga besar saya..), itulah salam dari Pak Sis sambil menggenjot sepedanya dan melambaikan tangan, beranjak dari rumah kami ke rumah-rumah lainnya, menjual buah dan menebarkan semangatnya bagi setiap mereka yang mau meneladaninya..

Surabaya – 310309

1 Comment (+add yours?)

  1. Fonny Cayliani
    May 07, 2009 @ 16:25:36

    ealahhh… pak sis toh…
    kira’in kake yg mana…
    kakek kita kan tukang kayu hahaha…

    anyway, salam buat pak sis ya kalo pas ketemu..
    baru2 aku ketemu di rumah,pas siang pulang, tapi buru2 jadi kagak sempet beli buahnya….

    iyap, kakek kita kan tukan kayu handal.. yah belien to jie.. minta yg laen yg d rumah beliin..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

www.widiantigunawan.wordpress.com
%d bloggers like this: