Jarak Jauh yang Mendekatkan

Magang setengah tahun di Jakarta ini adalah masa terlamaku tinggal jauh dari keluarga dan tinggal seorang diri. Tetapi hal ini justru membuatku lebih dekat dengan keluarga termasuk dengan keluarga besarku. Cukup aneh karena aku baru menyadari ternyata jarak yang semakin jauh justru bisa mempererat hubungan bukan membuat sebuah hubungan makin berantakan seperti pada umumnya.

 

Suasana keluarga selama ini tenang-tenang saja. Aku dibesarkan di tengah keluarga dengan didikan yang cukup tegas. Bisa dibilang kami tidak terbiasa untuk menyatakan kasih sayang lewat ucapan atau perkataan. Semua melakukan segala sesuatu sesuai peranan masing-masing di tengah keluarga. Papa seorang yang tegas, berpendirian, idealis, akademisi, dan pekerja keras. Mama seorang ibu rumah tangga yang handal menyelesaikan tugas di rumah. Aktivitas dan rutinitas berjalan dengan baik-baik saja tetapi datar. Papa sering bekerja di luar kota sehingga memang tak banyak waktu berkumpul.

 

Begitu pula dengan bibi, paman, dan sepupuku. Dengan keluarga besar Papa yang ada di Surabaya, biasa kami berkomunikasi bila ada kejadian penting atau berkumpul saat perayaan tertentu. Dengan keluarga besar Mama yang ada di Semarang justru komunikasi lebih kurang lagi. Paling tidak pada saat ada hari libur, kami sekeluarga usahakan mengunjungi kakek dan nenek di Semarang. Pada saat itu kami baru bertemu dan berkumpul. Lepas dari itu, jarang sekali komunikasi terjadi.

 

Memang tipikal seperti itu yang dari dulu aku lihat di keluargaku. Tak ada yang salah dengan pola itu, karena semua baik-baik saja. Hanya saja yang ada, tidak berkomunikasi bila tak ada kejadian penting, seakan canggung bila muncul ungkapan perhatian, melakukan aktivitas bersama juga jarang. Salahkah? Mungkin tidak.

 

Satu hari sebelum aku pergi ke Jakarta, aku mengirimkan pesan singkat ke bibi dan sepupu-sepupuku. Waktu persiapan memang sangat singkat sehingga hanya sempat datang ke rumah saudaraku di dua hari terakhir sebelum berangkat. Alhasil mereka pun tahu bahwa seorang keluarganya yang dulu dianggap tidak bisa mandiri ini akan berjuang sendiri di Jakarta selama 6 bulan. Mungkin kurangnya kedekatan itu yang membuat terkadang jadi meremehkan. Kenal hanya karena hubungan darah bukan secara personal.

 

Di antara kesibukan magang dan menjaga diri selama di Jakarta, beberapa kali aku dikejutkan dengan telepon dari bibi yang menanyakan kabar dan sekedar ngobrol. Saat online di chatting, kakak sepupuku mengajak ngobrol berbagai hal termasuk hal sepele. Ketika mereka berkesempatan ke Jakarta karena urusan tertentu, mereka mengunjungiku dan menyempatkan pergi bersama. Terkadang juga ada pesan singkat masuk dari saudara yang tak sekalipun pernah meng-sms ku sebelumnya.

 

Aku sudah merindukan suasana yang lebih hangat di keluargaku sejak lama, bahkan sejak sebelum pergi ke Jakarta. Aku tahu semuanya baik-baik saja tapi dingin dan kaku, ada di sana. Alangkah seru dan indahnya bila ada sedikit kehangatan yang membuktikan keberadaan sebuah keluarga. Bukan hanya karena hubungan darah lalu disebut dengan keluarga. Apalagi aku menyadari selagi masih ada kesempatan, aku akan mencoba melakukan sesuatu untuk memunculkan kehangatan itu. Bukan tak ada maksud bila sejak lahir, Tuhan menetapkan aku sebagai bagian dari mereka, aku dengan segala kelebihan dan kekuranganku serta keberadaanku. Ingin sekali menjalankan peranku.

 

Aku tak akan menunggu perhatian atau kehangatan itu muncul dari yang lain tapi aku yang akan mencoba berinisiatif memulai. Alhasil, aku mulai dengan mengirimkan sms kepada mama bahwa aku kangen padanya dan rindu masakannya. Ternyata mama merespon dan kalimatnya menunjukkan ia pun kangen. Bahkan pesan singkatnya membuatku menangis kala itu. Hal yang sama kucoba kepada papa. Sekalipun tetap dengan gayanya yang keras itu, tapi tampak ia melunak. Saat ada keluarga mama datang dari Semarang ke Jakarta dan menginap di familinya (yang tak kukenal), aku jawab iya ketika diajak berkeliling seharian. Meski aku tipe yang tak nyaman dengan situasi yang membuatku merasa asing. Tapi efeknya, ketika beberapa hari ini Jakarta banjir, bibiku itu cemas dan mengirimi sms menanyakan keadaanku. Aku memberikan keluarga intiku hadiah Natal, papa langsung mengganti dompet lamanya dengan dompet pemberianku di depan kami semua. Ia tipe orang akan menahan kata-kata indah meluncur dari bibirnya, tapi hey.. ada bahasa lain yaitu bahasa non-verbal yang bisa kubaca..

 

Kemudian aku memberanikan mencoba sesuatu yang lebih berani. Setiap pergantian tahun keluarga besar papa pasti berkumpul untuk makan bersama. Aku tak mau melewatkan kesempatan itu dan mengusulkan diadakan beberapa lomba untuk keponakanku dan papa mama mereka masing-masing. Kompetisi kecil-kecilan untuk menghadirkan suasana berbeda. Mereka terkejut tapi menyambut sangat baik usulku. Hasilnya cukup baik untuk pertama kali. Mereka pun tak lagi memandangku seperti dulu haha.. Lewat kompetisi itu jadi lebih mengenal tipikal keluarga yang satu dengan yang lain. Aktivitas yang memacu kekompakan dan menghadirkan tawa ceria di tengah makan malam pergantian tahun 2008 ke 2009.

 

 

 

Malam tahun baru 2008/2009

Malam tahun baru 2008/2009

 

 

Libur Natal dan tahun baru lalu aku pulang ke Surabaya dengan tema besar FAMILY. Berarti kepulanganku kali itu, simply and totally for my family. Saat Natal kami berkumpul di Semarang bersama keluarga besar mama dan layaknya kesempatan langka, semua lengkap! Dan memenuhi permintaan kakek, semua anak dan cucunya pergi bersama ke Bandungan, Ambarawa. Saat itulah akhirnya setelah sekian lama beliau tertekan dengan penyakitnya, kakek pun tersenyum. Aku melihatnya tersenyum. Peranku tak banyak di sana. Aku hanya mengajak mereka foto terus menerus. Aku senang sekali mengabadikan moment karena tak akan bisa terulang. Sementara di malam tahun baru, berkumpul dengan keluarga besar papa. Kepulanganku benar-benar berjalan sesuai tema.

 

My Grandpa smiles

My Grandpa smiles

 

 

Kini kehangatan itu mulai ada di keluargaku sendiri. Dengan tidak hadirnya aku selama ini di tengah papa, mama, kakak, dan adik justru kami jadi makin dekat. Aku jadi lebih dekat dengan papa dengan berusaha memulai cerita keseharianku dan menanyakan hal seputar kegemarannya. Arti kata ‘kangen’ dengan mereka benar baru terasa sejak aku di sini. Seperti yang tertulis di kata pengantar MKN ku, mereka menunjukkan padaku apa arti ‘keluarga’. I love my family.

 

 

I love my family

I love my family

 

 

Berbahagialah bila kehangatan telah hadir di keluargamu. Kipaslah agar bara api tetap menyala di sana. Tapi bila dingin yang kau rasakan, kutantang kau lakukan yang sama dengan yang telah kucoba lakukan. Bukan soal benar atau salah.. Tapi setiap orang pasti merindukan kehangatan itu.. Selagi kesempatan masih ada, selagi masih ada waktumu, selagi mereka masih ada untukmu, jangan biarkan keluarga hanya sebatas ikatan darah. Do something first and you’ll be amazed with what will happen next..

 

 

Jakarta – 170109 – 12:53 AM

9 Comments (+add yours?)

  1. Farrel
    Jan 30, 2009 @ 17:01:08

    Gong Xi Fat Cai…

    Reply

  2. anditceria
    Jan 29, 2009 @ 19:39:07

    beeeeeee..lo home sick ye…waduh jgn dung di JKT kan banyak anak2 yg pada nemenin lo,ape lagi best student hahahahaha masih aj peke kata2 best student..

    Reply

  3. evatarida
    Jan 27, 2009 @ 15:53:42

    bebe..
    hobi nulis juga yah..
    napa ga masuk Jurnalistik?
    heheheee..
    emang cuma hobi nulis lantas harus masuk jurnalistik!
    hehehehheheheee…
    yah..
    Keep Writing!!!🙂

    Reply

  4. desi
    Jan 25, 2009 @ 07:48:49

    nice post Be!
    memang begitulah, saat sudah berjauhan, kita justru merasakan kehilangan dan menyadari betapa berartinya mereka buat kita. selama masih dekat, biasanya kita take it for granted.
    so, kalo ntar udah ngumpul lagi, pererat kedekatan itu ya ^o^

    Reply

  5. Farrel
    Jan 24, 2009 @ 11:00:49

    Jadi inget keluarga nun jauh disana…

    Reply

  6. AnDy
    Jan 21, 2009 @ 23:18:35

    Kakak-beradik.. semangat terus yach ^^d

    Reply

  7. CinGcin9..
    Jan 20, 2009 @ 20:45:28

    Hoe ce.. Baru kali ini aku baca blog km setelah sekian lama ga pernah mau baca. Hahaha..
    Yaa.. Emang.. Papi gitu.. Ga bisa omong ga bisa ungkapin kayak kesi” gt. Hahahaha.. Tp ya dah kebiasaan aku. Jadi juga dah ga pusingin.
    Aneh memang di fam kita omong something like,mom dad i miss you.. Kalo itu barang,it’s a limited edition I think. Hahaha..
    Waktu di bandungan itu aku juga seneng banget pas liat foto yang kong” ama cucu”nya. Karna aku ga pernah liat kong” bisa senyum kayak gitu. Aku waktu liat foto itu pertama kali di rumah lusi,karena aku liat by email. Aku terharu banget ampe hampir nangis. Aku seneng banget. Kayak lega gitu bisa liat kong” senyum kayak gitu. It’s limited edition!! Kapan ya isa liat kong” senyum kayak gitu lagi?
    Tapi memang entah kenapa, keadaan di rumah sekarang semakin deket aku rasa. Salah satu alasan ku kenapa aku ajak papi makan luar waktu hari minggu itu? Karena aku pikir dengan makan luar kita bisa lebih deket 1 kluarga. Karena kalo di rumah, kita ga akan pernah bisa makan bareng n fun kayak kita makan di luar. Ya kan? Meskipun aku tahu aku pasti yang kena marah n bener. Waktu di mobil, aku yang kena ceramah. Tapi mungkin karena dah sering jadi nya ya uda. Aku si ga kebanyakan mikir aja. Toh akhirE papi seneng juga kok. Hehe..
    N kemarin sore aku ke kamar papi pas pulang sekolah. Papi ajak aku ke delta. Katanya mau beli kabel data. Aku bilang kalo aku mau potong poni karena dah kena mata. Papi bilang,’sini papi yang potongin aja. Dulu waktu kamu kecil papi juga yang potong’. Ok.. Aku tahu hasilnya mungkin tidak akan sememuaskan yang aku ingin. Tapi aku pikir,ya ga papa lah.. Selaen ga kena biaya, biar papi seneng juga bisa nostalgia, motong rambut anaknya. Hahaha.. Aku pikir, jarang banget papi mau. Motongnya si menurutku kacau. Pake gunting gede itu, n kacau la kayak nya. Aku bilang kalo poniku dulu dipotong miring. “Papi bisa.” kata nya gitu. Tapi ya uda, aku bilang aja,”ya uda kalo papi bisa gapapa. Tapi kalo bingung, dipotong trap biasa juga gapapa.”. Akhirnya dicoba potong miring, kacau menurutku. Sekarang ini poniku ga jelas modelnya gimana. Hahaha.. Tapi ya gapapa la.. Hasil karya papa ndiri gitu. Limited edition!! Hahaha..

    Reply

    • BeBe Gunawan
      Jan 21, 2009 @ 22:54:42

      Cing: Akhirnya Dek.. satang juga kau ke blog ku hehe.. Bagus deh.. Keep the good work dek! Berkorban dikit, selagi ada kesempatan buat semuanya jadi lebih deket.. kan rambutmu masih panjang tuh, jd masi ada kesempatana byk untuk dipotong ma papi haha.. =P

      Andy: Yup.. tak ada yg salah memang dgn memperhatikan kepentingan sendiri, tapi kesempatan yg sama tak bisa terulang itu bener juga.. hehe.. thanks anyway sdh dtg ke TKP..

      Reply

  8. AnDy
    Jan 20, 2009 @ 01:08:56

    Hemmm, dunia yang kadangkala identik dengan tantangan hidup dan kerasnya perjuangan ini, seringkali melupakan esensi dari kebersamaan..

    Pagi ini bersama si A melakukan meeting, siang nanti bersama si B makan siang, dan malam nanti hang-out bersama si C.. Tapi ketika tidur, pernahkah kita bayangkan, ‘kesempatan yg sejenis bisa saja terulang, namun kesempatan yang sama persis tidak akan datang 2x’. Maka yang terjadi, kebersamaan hanya seperti peran di atas panggung, setelah selesai, kita turun pentas dan masing-masing ‘melepaskan’ diri dari kesatuan itu.

    Apakah individualis itu salah? tidak juga. Apakah kebersamaan berarti keterikatan? Aku lebih suka menyebutnya sebagai rasa saling memiliki..

    Tampaknya dunia memang akan terus membutuhkan orang-orang yang bisa mencairkan suasana, penyebar semangat, dan pembawa motivasi, sepertimu. Dunia mungkin sudah bosan dengan rutinitas tiap hari yg melelahkan. Jadi, mari.. dimulai dari individu (kita), untuk berbagi kehangatan pada siapapun di dekat kita.. kapanpun itu.. Nice story palz =]

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

www.widiantigunawan.wordpress.com
%d bloggers like this: