Menjadi Turis di Rumah Sendiri

The other collection of my posts that I made almost a year ago..

 

Menjadi Turis di Rumah Sendiri..

Saturday, March 8th, 2008

 

 

Kamis (28 Feb 08) sore sekitar pukul 3, kakiku melangkah masuk ke lobi Hotel Sahid. Aku datang bersama seorang rekanku, Marissa namanya. Tak kami duga, Panitia JBI 2008 langsung mengenali kami sebagai peserta dari UK Petra tanpa pernah bertemu sebelumnya. “Sambutan” yang cukup mencengangkan itu seolah menandai dimulainya sebuah pengalaman yang berharga buatku.

 

Diawali permintaan PJS LPM Genta yang menghubungiku untuk mengirimkan tulisan human interest dalam waktu 2 hari. Aku mengirimkan tulisan yang kubuat saat internship 1. Tulisan itu tentang Sutris, Si Polisi Cepekan 1000 Wajah yang peliputannya sangat berkesan buatku. Entah apapun yg ada di balik proses penerimaan itu, yang pasti itulah tiket untuk mengikuti diklat jurnalistikku yang pertama.

 

Sejak awal aku merasa sedikit takut bahwa peserta dari daerah lain akan sulit menerima kehadiranku dan Marissa yang memiliki perbedaan latar belakang budaya dengan mereka. Tapi aku singkirkan anggapan itu dan berlaku sebagai diriku apa adanya. Ternyata perbedaan itu tak menjadi sebuah halangan untuk menjalin pertemanan kami. Justru aku bisa belajar banyak hal dari sana. Banyak hal baru, nilai, cerita, serta pengetahuan baru yang kudapat dari mereka.

 

Terlepas dari cukup banyak materi yang telah kuketahui sebelum mengikuti acara ini, tentu ada materi baru yang kuterima dari beberapa pembicara. Memang aku belum pernah mengikuti diklat sebelumnya, tetapi pengetahuan dasar itu kuperoleh di mata kuliah yang telah kulalui di Jurusan Ilmu Komunikasi UKP. Saat materi diberikan, aku menjalankan prinsip dasar komunikasi yaitu 2 telinga dan 1 mulut. Aku mendengarkan setiap materi dari pembicara, yang belum pernah kuterima sebelumnya. Selain itu, aku juga merasa keadaan LPMku sedang kacau. Apalagi dibandingkan dengan LPM teman2 yang lain. Itulah yang membuatku semangat mengikuti sesi dan harus pulang dengan harapan membawa sesuatu untuk Genta yang lebih baik di kemudian hari.

 

Hubungan persahabatan yang terbina dalam 4 hari 3 malam lah yang justru meninggalkan kesan khusus di benakku. Kami datang dari berbagai daerah di Tanah Air, mulai dari Riau, Padang, Makassar, Pamekasan, Mataram, Bandung, Jogja, Solo, dan Malang, serta Surabaya sebagai tuan rumah. Tentu saja setiap daerah mempunyai bahasa, logat, kebiasaan, dan nilai budaya masing-masing. Tetapi pada saat sesi perkenalan, semuanya tampak saling memperhatikan dan berusaha mengenal lebih dekat siapa saja teman-teman baru yang duduk di meja berbentuk U itu. Kami sempat saling mencicipi beberapa makanan khas dari daerah masing-masing peserta.

 

Setelah sesi berakhir, beberapa teman mengajakku untuk berkeliling Surabaya. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dengan segala keterbatasan alat transportasi dan lokasi, aku mengajak mereka berjalan kaki dari Hotel Sahid menuju ke Patung Jendral Sudirman. Kami ber-7 duduk sejenak, mengamati patung dan tulisan yg ada di monumen, kemudian tak lengkap bila tak diabadikan dalam foto. Kami berfoto di monumen itu, di tengah malam ketika Surabaya mulai berangkat tidur.

 

Kemudian menyeberang ke pelataran Kantor Walikota dan bertukar cerita di sana. Sampai jarum jam bersamaan mengarah ke angka 12, kami kembali berjalan menuju hotel, melewati samping Kali Mas. Tampak beberapa ‘gadis-gadisan’ yang berdiri di bawah temaram bayangan pohon.. Mungkin perjalanan menelusuri secuil Surabaya itu yang menjadi awal di mana aku dan beberapa peserta menjadi lebih saling mengenal.

 

Cukup disayangkan karena panitia ternyata tidak memberikan waktu bagi para peserta untuk meng-explore Surabaya. Padahal banyak di antara mereka baru pertama kali ke kota ini, dan uang membeli tiket pun tidak murah. Rasa kesal itu terakumulasi dan membuat kami bertekad untuk keliling Surabaya sendiri tanpa campur tangan panitia.

 

Di malam terakhir, malam ketiga, malam minggu, saat banyak warga kota ini masih menghabiskan waktu malam minggunya, aku bersama Kak Putut mengantarkan 19 teman ke tempat yang ‘bagus’ dan ‘nYurabaya-ni’.. Bukan mall bukan café.. Setelah tawar menawar dengan 2 pengemudi bemo, kami bisa menggunakan 2 buah bemo untuk mengunjungi tempat yang kami inginkan, mulai dari jam 11 malam sampai jam 1 dini hari, dengan 250rb. Cukup mahal tetapi tak ada lagi alternatif lain.

 

Surabaya Midnight City Tour.. Mungkin itu cukup tepat untuk mewakilinya. Dimulai dengan Tugu Pahlawan, tempat kami berfoto dengan patung kedua plokamator.. Kami tak bisa masuk tentunya. Petugas sempat membuka penawaran, “Pagar ini bisa kami bukakan, kalau toleransi sama kami..”. Ke-21 jurnalis tersenyum miris mendengarnya.. Tour berlanjut ke Jembatan Merah. Tak banyak berbeda dengan jembatan lainnya, tetapi kisah sejarahnya sangat kental. Titik peperangan antara arek-arek Suroboyo dengan tentara Belanda puluhan tahun silam. Cukup lama kami merasakan angin malam di jembatan di atas Kali Mas.

 

Kemudian berlanjut ke Hotel Majapahit, dalam sejarah disebut Hotel Yamato, tempat dirobeknya bendera merah putih biru menjadi merah putih.. Petugas keamanan tampak kurang menyukai kehadiran kami, akhirnya kami berjalan kaki sampai Kantor Gubernur Jawa Timur. Di trotoar, kami duduk bersila menyaksikan jalanan yang ramai dengan club-club motor yang beraksi. Beberapa bahkan sempat bermain ‘pancasila 5 dasar’ dan ‘domikado’. Pengalaman menarik bukan?

 

Masuk ke dalam bemo, menuju Patung Bambu Runcing. Sorot lampu menambah keindahannya. Air kolamnya mengandung aliran listrik, begitu yang disebutkan papan peringatan. Kami menyalurkan kegemaran kami yaitu dipotret dan memotret.

Karena tak mau rugi, masih ada sisa waktu 20 menit sebelum tenggat waktu perjanjian kami habis. Sebuah tempat yang terkenal hingga se-Asia Tenggara menjadi lokasi kunjungan yang dinanti. Gang Dolly, lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. Pengemudi bemo sempat terkejut saat aku meminta mereka melewatkan kami ke sana. Tentu saja aku segera meyakinkan mereka bahwa kami tak akan macam-macam. Tapi mereka memahami bahwa teman-temanku ingin melihatnya untuk memuaskan rasa ingin tahu.

 

Entah apa yang ada di benak teman-teman baruku yang mayoritas pria itu.. Tapi hati ini terasa pedih saat kendaraan kami memasuki gang sempit itu. Malam minggu, dini hari, pria-pria berjubel di sana, keluar masuk ‘aquarium’.. Banyak taksi berhenti. Beberapa orang menawarkan ‘dagangan’ mereka.. Di balik tirai yang kebanyakan berwarna merah, perempuan yang tak lagi dihargai duduk menyilangkan kaki di sofa. Aku hanya bisa terdiam. Di dalam hati, ada rasa tidak terima melihat kaumku di sana. Terbesar se-Asia Tenggara, legal, dan difasilitasi. Things happen for a reason.. Semua yang ada di bemo yang aku naiki ternyata merasakan hal yang sama, diliputi rasa tidak nyaman, suasana yang benar-benar tak mengenakan hati.. Namun, paling tidak teman-temanku telah menyaksikan sendiri kejamnya dunia yang mungkin selama ini hanya mereka dengar gaungnya dari mulut ke mulut. Mungkin itulah sisi yang paling human interest yang tampak dari diklat 4 hari 3 malam bertema Human Interest, tetapi kami justru diajak melihat sisi Animal Interest..

 

Aku yang sejak kecil adalah warga Surabaya, tak pernah sekalipun datang secara khusus ke tempat-tempat tersebut untuk menikmati keindahannya. Hanya melintasinya tanpa ada kesan tersendiri. Pengalaman ini membuatku menjadi turis di rumah sendiri.. Kini setalah JBI 2008 berakhir, bila aku melintasi monumen-monumen itu, ada senyum kecil tersungging dari bibirku. Tersenyum karena kenangan menikmatinya bersama teman-teman jurnalisku.. Teringat betapa hebohnya kami berfoto bersama di sana..

 

Dan ada satu hal lagi yang menyentakku untuk tersadar.. Kota kelahiranku ini tak memiliki banyak tempat rekreasi untuk dikunjungi.. Mall makin bertambah, café makin bertebaran, tetapi tidak dengan area publik di tempat terbuka untuk sekedar menikmati angin malam Surabaya yang panas ini.. Dan juga, apa oleh-oleh khas yang dapat dijadikan buat tangan dari Surabaya? Ingatkan aku bila kamu mengetahuinya..

 

Seperti yang dikatakan pepatah, perpisahan adalah sebuah permulaan.. JBI 2008 memang telah berakhir, semua telah kembali ke daerah masing-masing, tetapi meninggalkan tugas baru untuk setiap pesertanya, yaitu menjaga persahabatan yang baru saja dimulai..

 

 

 

 

BeBe.. – 080308 – 10:37PM

 

 

 

3 Comments (+add yours?)

  1. Farrel
    Dec 24, 2008 @ 15:03:09

    Jagalah selalu persahabatan…

    Reply

    • BeBe Gunawan
      Dec 30, 2008 @ 10:17:43

      Andy: Bukan hanya satu gang tapi ada banyak gang-gang kecil yang bercabang dari jalan itu.. semuanya terfasilitasi pula Ndy..

      Farrel: Iyah.. Mempertahankan itu ngga mudah hehe..

      Reply

  2. AnDy
    Dec 23, 2008 @ 21:11:54

    “Animal Interest”, menarik =]

    Ga kebayang deh, ko bisa TERBESAR se ASIA TENGGARA ya?! Padahal klo nda salah cuman 1 gang panjang yang sempit gitu kan. Dan yang ak herankannnn… seringkali liat di koran/tv, penjajanya ko udah pada ‘berumur’?!!

    Bersenjatakan gincu bling2, parfum nyegrak, bedak seadanya.. dan satu lagi.. SUSUK coy +(
    amblas dah pria2 hidung belang yang blusak-blusuk..

    Semoga ada solusi untuk tempat ini di masa depan…

    *nb: informasi dari koran/tv/JKT undercover =p

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

www.widiantigunawan.wordpress.com
%d bloggers like this: