Sekolah di Kopaja

Jakarta – 270808 – 10:55 PM

 

 

 

Transportasi yang paling sering aku gunakan untuk bepergian selama di Jakarta ini adalah Kopaja. What is Kopaja looks like? Kopaja is a public transport, a small bus, with not too good (poor) condition inside, no air conditioning inside, its colour is white and green, having special number as its rute, having a driver and an assistant (kernet) that always shouts out their rute. Itulah Kopaja yang hampir semua unit yang kujumpai berada dalam keadaan tidak terawat dan berisik.

 

Public transport yang satu ini menjadi pilihan banyak masyarakat Jakarta khususnya kalangan menengah ke bawah, untuk bepergian. Hanya dengan 3.000 IDR, aku bisa mencapai tempat yang dilewati rute Kopaja. Untuk berangkat ke kantor, aku biasa menjegat Kopaja di depan Kantor Walikota JakSel. Nomor 63 akan mengantarkan aku sampai di perempatan Trakindo. Namun, nomor 19 memiliki rute yang tepat melewati depan kantor, tetapi jarang armadanya yang mau menuju Cilandak pada pagi hari. Tapi dengan nomor 19 ini, aku bisa mencapai Bundaran HI, Plaza Semanggi, sampai ke Tanah Abang. Sepertinya 19 akan menjadi Kopaja favorit.

 

Pulang pergi kantor ke kos aku memilih menggunakan Kopaja. Sekalipun kondisinya cukup memprihatinkan, ditambah dengan tingginya angka kriminalitas di dalam Kopaja, ini tetap menjadi pilihanku. Aku selalu mengenakan jaket dan sandal. Aku lebih memilih duduk di dekat pintu depan, karena bisa melihat jalan dengan lebih jelas. Berdiri bergelantungan dan berdesakan dengan orang-orang pun sudah pernah kualami. Beberapa teman juga memberikan tips untuk aman di dalam Kopaja. Beberapa kali aku mendapat tatapan penuh tanya dari penumpang lain. Merasa taknyaman memang tapi jurus cuek yang aku punya cukup jitu. Di sana, aku bisa melihat ‘the real life’. Inilah hidup masyarakat kita yang sebenarnya. Paling tidak, aku bisa melihat lebih banyak tipe orang.

 

Sebenarnya bisa saja aku memilih taksi. Tapi aku hanya akan menggunakan taksi dalam keadaan tertentu. Bila naik taksi aku tidak akan berjumpa dengan orang lain, tak bisa mengamati gaya orang lain. Dari segi biaya memang 10 kali lebih mahal dari Kopaja untuk rute kantor menuju kos.

 

Entahlah, aku merasa bila naik Kopaja, memang murah.3.000 IDR itu masih akan dikembalikan 500 IDR untuk ruteku. Satu kali, aku pernah memilih untuk tidak menerima kembalian 500 IDR itu dari sang kernet. Reaksinya masih kuingat. Ia berwajah kaku dan tak bersahabat, tetapi ketika aku menolak menerima 500 IDR darinya, ia menatapku dan berujar, “terima kasih, Mbak..” dengan raut wajah yang bersungguh-sungguh tulus. Aku merasa dengan naik Kopaja, bisa membagi sedikit yang kupunya, walau hanya 500 IDR, itu sangat berarti buat mereka. Dibandingkan bila aku harus naik kendaraan umum mewah lain, 5.000 IDR mungkin tak akan seberarti itu.

 

Sebelumnya ketika di Surabaya, kuakui aku bisa dibilang tidak pernah naik bis, dan sangat menghindari naik angkot. Karena setiap bepergian aku diantar atau menyetir sendiri. Aku pun sempat merasa malu jika harus naik kendaraan yang di persepsiku kala itu adalah kendaraan minim dan tidak aman. Sampai satu waktu, aku ikut acara nasional, dan bertemu dengan teman-teman dari kota lain yang lebih menyukai pola hidup masyarakat yang apa adanya. Mereka ingin berkeliling kota dan bertanya padaku, rute angkot yang bisa mereka naiki. Saat itu aku justru merasa malu karena tidak bisa menjawab pertanyaan mereka, karena aku sebagai tuan rumah dari Surabaya kala itu. Dari hari itu, aku mulai berkeinginan untuk belajar naik angkot. Dan inilah aku di Jakarta.. Tak ada mobil, tak ada saudara, tak ada yang bisa kugantungkan selain diriku sendiri. Jadilah public transport yang akan membawaku.

 

Ketakutan sempat melanda karena sebelumnya tak pernah pergi sendiri dengan menggunakan angkot. Pernah tetapi di Malaysia dan Singapore yang notabene sikonnya jauh berbeda. Tapi perlahan aku yakinkan diri bahwa semua ini proses dari adaptasi. Tidak akan ada hal yang aneh-aneh bila kita tidak berlebihan dan kita baik-baik saja pada mereka. Pintar-pintar membawa diri. Aku pun melihatnya sebagai hal baru yang bisa dinikmati, mengobservasi kehidupan masyarakat kecil Jakarta, cara membantu mereka dengan sedikit jatah bulanan hidupku di sini. Lagipula aku tak tahan bila harus berdiam diri di kos saja.

 

Dan juga aku membuktikan diri pada orang tuaku bahwa aku bisa survive di sini sekalipun tanpa mobil pribadi. Biasanya aku dianggap manja karena tak mau naik bus atau angkot. Tetapi sekarang, Kopaja yang membawaku melihat banyak tempat di Jakarta ini akan menjadi ajang pembuktian kepada mereka.

 

Kopaja mengajarkan banyak hal baru, mengajakku membuka mata, membuatku lebih bersyukur dengan apa yang kupunya, belajar berbagi dengan sesama, menghargai 500 IDR, mengembalikan semangat kerja ketika melihat pengamen anak-anak beraksi, menuntutku lebih mandiri dan lebih pintar membawa diri di lingkungan berbeda. Anggap saja sekolah di Kopaja..

5 Comments (+add yours?)

  1. stoboy...
    Oct 16, 2008 @ 22:27:26

    wah…wah…wah…wah…

    ternyata ada juga sekolahan di Kopaja…padahal ya Be…selama aku tinggal di Jakarta mah ga pernah tuh ada skul di Kopaja…paling banter yah skul di bawah kolong jembatan gitu…banyak lho…hehehe

    but onething that i wanna share with u…that there is no happiness in having or in getting, but only in giving…..so kembalian Rp 500,- akan sangat berarti bagi orang lain…apalgi buat kernet itu….

    but giving not just always about materiil…u can give your smile to others in bus or anywhere…coz smiling on your face is very nice for them….and only by giving u can find a road to get the eternal happiness…..

    gud luck galz…..becareful for nothing,but in everything….ga da tempat yang ga rawan di dunia ini..pinter2 kita jaga sikap aja..hehehe…

    Reply

  2. BeBe Gunawan
    Oct 14, 2008 @ 20:17:35

    Hahaha.. thanks ya Ren for coming to my blog and read some of the posts. Yup, maybe some of them are true haha.. And we have to realize that this life is so meaningful, because that’s the way it is, just sometimes we take it for granted.
    Make this as a book? Ow.. So amazed if it so haha..

    Reply

  3. irene an
    Oct 14, 2008 @ 20:09:47

    hey be…. dari tulisanmu banyak tergambar tuh kepribadianmu. So far so good. pasrah dalam artian believe in HIM, suka foto, kreatif, enjoy with life, suka nulis, ekspresif, dicintai temen2 sampek di belani gt buat puzzle fotomu, n ur life’s meaningful….
    just keep writing, sapa tau ada yang bukuin!!!!

    Reply

  4. Aswin
    Sep 16, 2008 @ 02:09:29

    Sama nih, biasa dari kos aku biasa naik kopaja, kalo gak salah inget nomor 615. trus berhenti di Blok M. Baru deh naik Bus way ke Manggarai. Kalo 19 aku naiknnya waktu balik dari Blok M ke Cipete tempat kos ku.
    Kalo di Kopaja ato metromini aku senengnya waktu ada pengamen yang lengkap gitu (ada drumnya juga) rame enak…….. Di malang gak ada yang kayak gini.
    Gak tau nih ya. Kayaknya sama. Di Malang aku lebih suka naik motor. Bawa mobil sekali-kali kalo disuruh anterin adekku sekolah.
    Emang milih transportasi ada plus minusnya. Bawa kendaraan pribadi bisa cepet, adem, tenang, aman. Naik kendaraan umum murah, ketemu dengan banyak orang, gak capek, tapi agak rawan, umpel-umpelan………
    Kalo suruh milih nih..ane lebih suka naik motor. Cepet, relatif murah, capek sih…..cuman yg paling enak bisa berhenti dimana saja en kapan saja semau kita. Kali aja ada momen bagus di tengah jalan. Parkir motor…..shoot the gun!!!!!
    OK Be….taklukkan Jakarta…..

    Reply

  5. khikomunitas
    Sep 05, 2008 @ 13:53:24

    bebe… agak lucu juga deh baca ini heheh..jarang bgt loh ada yang gak mau nerima kembalian angkot haha…

    eh be, ada satu lagi yang harus lo cobain, yakni metromini dan bajaj!! hahaha.. coba deh!!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

www.widiantigunawan.wordpress.com
%d bloggers like this: