Jakarta Oh Jakarta

Jakarta – 120808 – 10:42PM

“Sekejam-kejamnya ibu tiri tetap lebih kejam ibukota”, begitulah ucapan temanku. Aku akan, sedang, dan telah memulai tahapan lain dalam perjalanan hidupku. Aku akan menghabiskan 6 bulan ke depan di ibukota. Sebenarnya lebih banyak modal nyali yang nekat saja yang kupunya. Tetapi aku akan berusaha untuk survive di sini.

Tak pernah ke Jakarta dalam waktu panjang sebelumnya. Buta Jakarta! Kini harus berangkat sendiri, tinggal sendiri, menjalani kehidupan sendiri, selama 6 bulan pula.. Hm.. Aku tinggal di kost untuk pertama kalinya. Aku pakai kesempatan ini untuk belajar mandiri. Banyak sekali hal yang berubah dari pola hidupku di Surabaya. Sekalipun aku di tinggal di Jakarta, aku selalu berusaha tak merepotkan orang lain alias tak akan meminta tolong bila tidak terpaksa. Itu seperti sudah menjadi prinsip.

Biasanya tinggal di rumah sendiri, sekarang di kost. Biasanya pergi dengan menyetir mobil sendiri, sekarang naik kendaraan umum alias angkot setiap hari. Biasanya keluar pintu rumah langsung masuk ke mobil, sekarang keluar pintu kost, harus berjalan kaki sepuluh menit baru bisa menemukan Kopaja untuk ke kantor. Biasanya duduk menyetir sambil mendengar lagu kesayangan, sekarang berdiri berdesakan di Kopaja dan tidak bisa mendengar lagu. Biasanya sekamar dengan adik, sekarang sendirian. Biasanya baju dicucikan, sekarang mulai mencuci sendiri. Biasanya kuliah, sekarang kerja. Biasanya bisa bercerita dengan adik sebelum tidur, sekarang hanya bisa bersms atau menulis e-diary. Biasanya lapar tinggal ke ruang makan atau ambil camilan, sekarang agak kesulitan mencari sesuatu untuk mengisi perut. Biasanya tinggal di lingkungan bahasa jawa campur indonesia, sekarang bahasa Inggris bercampur Indonesia dengan logat Jakarta-an.

Biasanya di kampus makan sekitar 6 ribu, sekarang sekali makan berlipat. Biasanya setiap hari harus makan buah, sekarang tak ada buah sama sekali. Biasanya hanya kaos dan jeans plus selop, sekarang editor pants, hem plus high heels. Biasanya tak pernah mengatur uang jajan, sekarang harus mengatur dan menghemat biaya hidup. Biasanya bikin ramai rumah, sekarang kesepian. Biasanya bergantung internet, sekarang tak ada koneksi internet di kost. Sedih banget deh tanpa internet..

Ada begitu banyak hal yang berubah dan membuatku harus menyesuaikan diri dengan semua keadaan ini. Pergaulan bebas di Jakarta yang kulihat ketika baru sehari tiba di kota ini, cukup membuatku kaget dan sedikit takut. Merokok adalah hal yang umum bagi wanita. Gaya berpakaian yang seksi. Dugem layaknya keharusan. Wawasan pengetahuan plus plus pun dikuasai dengan ‘baik’ oleh cewek seumuranku. Hal-hal itu masih sulit kujumpai di Surabaya.

Aku tak akan mencela mereka, karena aku harus tetap menghargai prinsip dan pilihan hidup orang lain. Selama mereka tak menjerumuskanku, silahkan jalani pilihan hidup itu. Kuakui aku memang kaget dan mengalami semacam culture shock tetapi beberapa cewek yang kutemui itu tak boleh kugeneralisasikan. Tidak semua cewek di Jakarta sebebas itu. Semua berpulang ke tiap pribadi masing-masing.

Jakarta punya gambaran lengkap mulai dari putih sampai paling hitam. Semua ada di ibukota. Jakarta menawarkan lebih banyak pilihan hidup, tetapi juga menambah wawasanmu akan pola kehidupan yang lebih maju daripada di kota-kota lain di Indonesia. Kesempatan juga lebih lebar. Di samping sisi negatif, tentu juga banyak sisi positif yang bisa dicari di sini. Tempat banyak orang mengadu nasibnya.

Bila aku akhirnya berada di Jakarta, itupun bukan kebetulan. Kuyakini prinsipku, ketika aku mengambil kesempatan yang Tuhan berikan, satu kesempatan itu menjadi pintu pertama yang akan membuka pintu-pintu yang lain yang ada di depan. Aku belajar untuk berkorban. Aku harus keluar dari zona nyamanku di Surabaya, beradaptasi di kota yang keras ini. Satu yang kupercaya, Tuhan menghargai setiap usaha yang dilakukan anak-anakNya, karena ia adalah Tuhan yang adil.

Aku berangkat ke Jakarta untuk magang, belajar mandiri, dan membuka mata lebih luas lagi. Mungkin agak sedikit terlambat karena di usia yang hampir 21 tahun, baru belajar hidup sendiri. Tetapi lebih baik daripada lebih terlambat lagi. Melihat lebih banyak lagi tipe orang yang baragam. Ada yang cocok ada yang mungkin tidak cocok denganku. Tetapi aku harus melihatnya dari sudut positif. Aku harus bisa menjaga diri baik-baik agar prinsip-prinsipku itu tak terseret arus hitam ibukota. Tetapi hidup di sini memang dituntut untuk be tough, stronger than yesterday. Extra waspada dan berhati-hati. Aku harus jadi BeBe yang tough. Keluargaku dan mereka yang sayang aku pasti selalu mendoakan aku agar selalu dilindungi Tuhan. Aku percayakan langkahku di Jakarta selama beberapa bulan ke depan pada Tuhan. Aku akan terus membuka mata dan belajar mengambil hati Si Ibukota..

 

Big Wall E at Fx

Big Wall E at Fx

 

1 Comment (+add yours?)

  1. khikomunitas
    Aug 25, 2008 @ 14:49:35

    bebe,,,

    gantian dong comment di blog gue kapan2 yah hahaha,,,

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

www.widiantigunawan.wordpress.com
%d bloggers like this: